Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 26 of light in the cities
Stats:
Published:
2026-06-19
Words:
2,279
Chapters:
1/1
Kudos:
4
Bookmarks:
1
Hits:
37

antipode

Summary:

Di masa kecilnya yang berpindah-pindah, ibunya sering mendongengkan cerita tentang Putri Gunung Api untuknya. Putri itu tertidur di bawah bumi, ia tidak pernah mengganggu manusia; hanya jika manusia berbuat kerusakan maka ia akan menunjukkan kemarahannya melalui gunung yang meletus.

Berangkat dari dongeng masa kecil dan melanjutkan perjalanan pencarian jejak tersebut, ia seringkali memandang dunia dengan rasa kagum yang janggal sekaligus takjub: betapa kecil manusia di atas lempeng-lempeng raksasa yang merangkak dalam hitungan eon-eon yang seakan tak terjangkau, sekaligus bagaimana ternyata dongeng itu akan mengantarkannya pada belahan jiwanya.

Notes:

genshin impact © hoyoverse.
penulis tidak mengambil keuntungan komersial apapun dari pembuatan cerita ini. cerita ini adalah murni fiksional, tidak ada kaitannya dengan orang-orang di dunia nyata—jika terjadi persamaan maka hal itu adalah hal yang tidak disengaja.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Di masa kecilnya yang berpindah-pindah, ibunya sering mendongengkan cerita tentang Putri Gunung Api untuknya. Putri itu tertidur di bawah bumi, ia tidak pernah mengganggu manusia; hanya jika manusia berbuat kerusakan maka ia akan menunjukkan kemarahannya melalui gunung yang meletus. Ibunya kemudian menunjukkan peta bumi dengan relief yang lengkap milik ayahnya; deretan gunung api yang mengelilingi bumi di sepanjang Samudera Pasifik dan berbaris seperti tulang belakang manusia. Semua adalah demi menghiburnya yang harus selalu mengikuti pekerjaan ayahnya yang selalu berpindah-pindah, sehingga sang ibu membuat cerita bahwa ia sedang mencari jejak Putri Gunung Api. Dari Chile di mana ia terbiasa melihat Andes setiap pagi, kemudian di Hawaii di mana mereka kembali ke tempat kelahiran ibunya dan banyak mendengar cerita dari guru-guru masa kecilnya tentang gunung-gunung di kepulauan tersebut, kemudian merasakan awal masa remaja yang tenang di Tonga tanpa tahu bahwa ada bagian dari Putri Gunung Api di dekat tempat tinggalnya.

Bertahun-tahun, ia tumbuh dengan mempercayai cerita itu, kemudian cerita itu menjadi bagian dari pelajaran yang disukainya di sekolah, dan berkembang menjadi spesialisasi yang ia dalami selama masa dewasanya. Berangkat dari dongeng masa kecil dan melanjutkan perjalanan pencarian jejak tersebut, ia seringkali memandang dunia dengan rasa kagum yang janggal sekaligus takjub: betapa kecil manusia di atas lempeng-lempeng raksasa yang merangkak dalam hitungan eon-eon yang seakan tak terjangkau. Betapa mendidihnya ruang-ruang di bawah sana meskipun kita semua tertidur dengan nyaman di kota-kota, berlindung seakan-akan aman dan tak tersentuh.

Hari ini, ketika menginjakkan kaki di Vatnajökull dan membayangkan gelegak yang terjadi di bawah kakinya, Mavuika mengingat kembali dongeng ibunya; lihatlah barisan gunung ini, mereka adalah kerangka dari Putri Gunung Api. Mavuika sedang berkhayal ia sedang berada di bagian kerangka sayapnya karena Eslandia bukan terletak di jalur tulang belakang dalam dongeng yang diajarkan ibunya.

Vatnajökull adalah hamparan gletser yang luas, Mavuika Kecil akan menolak menyebut ini gunung api karena tidak ada satupun puncak yang terlihat. Hanya ketika ia belajar keras demi sebuah ujian di sekolahnya ia baru menyadari bahwa tak semua gunung terlihat di permukaan.

Di sana, tim peneliti tuan rumah sudah menunggu, menyalami mereka satu per satu dan memperkenalkan diri. Ada lima orang termasuk warga lokal yang akan mendampingi sekaligus mengarahkan, dua peneliti senior yang sudah pernah Mavuika temui beberapa kali di beberapa proyek, dan dua orang peneliti lain yang baru dikenalnya, yang akan menemani tim-tiga-orangnya selama mengerjakan penelitian dan mengambil sampel di Vatnajökull.

Jika dongeng Putri Gunung Api itu adalah pengantar tidurnya dan penghibur dirinya yang tidak pernah berdiam terlalu lama di suatu kota, maka perjalanannya menjejak kota-kota di atas aliran magma itu akan mengantarkannya pada belahan jiwanya—yang suatu saat akan ditengoknya kembali dengan rasa takjub yang sama.

 


 

Mavuika masih mengambil sampel lava yang membeku menjadi batu itu ketika salah satu kenalan barunya mendekatinya, berbicara dengan sopan dari balik maskernya,

“Mari istirahat dulu.”

Suaranya berat dan tegas, kontras dengan ajakan lembutnya. Mavuika mengangguk, tetapi menolak dengan halus, “Silakan duluan. Aku bisa menyusul. Aku masih perlu sampel.”

“Apakah perlu kubantu?”

“Tidak usah, terima kasih. Istirahat saja. Kamu sudah menikmati kopi pagimu?” ia berkelakar sedikit, karena salah satu pembicaraan awal mereka setelah berkenalan adalah komentar Mavuika pada tumbler pria itu yang begitu mungil, menggantung terlupakan di ranselnya.

Pria itu tampaknya tersenyum, hanya terlihat dari sudut matanya. Dia tidak melepaskan maskernya sejak awal, dan bukannya membuat keberadaannya samar; Mavuika malah semakin penasaran dengan wajahnya. “Kami tunggu.”

Mavuika menepati janjinya, dan ikut menikmati brunch di van milik para peneliti tuan rumah. Pria itu tidak membuka maskernya, tetapi tumbler-nya berada di tangannya dalam keadaan terpisah dari tutupnya. Sepertinya ia telah melewatkan kesempatan menarik.

 


 

Tim tuan rumah tersebut meminjamkan sebuah rumah merangkap kantor di Höfn, kota yang membentang di fiord Hornafjörður dan jendela ruang kerjanya menghadap padang gletser Vatnajökull. Mavuika, yang selalu ingin tahu, mengamat-amati bagian-bagian dari rumah tersebut, dan salah satu dari mereka pun akhirnya mendampinginya untuk sebuah tur kecil di sela-sela pekerjaan mereka: pria dengan masker itu, yang tidak juga melepaskan maskernya meski mereka tidak lagi berada di ruang terbuka yang berangin dingin.

“... Ruang yang ini,” dia membuka sebuah kamar yang ditutup ala kadarnya tanpa kunci, “hanya ruang kerjaku.”

Mavuika menengok ke dalam ruangan tersebut, kamar empat kali tiga yang furnitur besarnya hanya sebuah kabinet dari besi, meja dan kursi kerja tua, tetapi dindingnya dipenuhi oleh kertas-kertas baik yang berupa cetakan foto maupun hasil coretan tangan. Foto-foto sampel, simpul Mavuika ketika mendekati kertas-kertas tersebut, dan juga hasil perhitungan yang penuh revisi. Kertas paling besar berada di dekat meja, sebuah gambar yang tampak berasal dari belasan tahun yang lalu, dilihat dari lusuhnya kertasnya dan banyaknya coretan serta tintanya yang memudar.

Pria itu tertawa kecil ketika Mavuika memandangi kertas tersebut seperti mengagumi sebuah pajangan di museum, “Pedoman lapisan es dari profesor pertamaku.”

Mata Mavuika berbinar saat ia melirik, “Ah, ya. Penyelidikan iklim kuno melalui lapisan es.”

Pria itu menunjukkan garis-garis yang berwarna gelap pada gambar silinder tersebut, “Dan tentu saja. Letusan gunung berapi kuno.”

Mavuika turut meraba gambar tersebut, jari-jari mereka hampir bertemu, dan ketika ia mengerling, pria itu juga sedang menatapnya dengan sudut mata sedikit terangkat. Dia tersenyum, Mavuika berani bertaruh. Ia juga balas tersenyum, kemudian di masa depan nanti ia akan sama takjubnya ketika menyadari bahwa meskipun mereka saling menemukan ketika mereka sama-sama melihat jauh ke masa lalu.

 


 

Pada malam kedua, Mavuika baru mengetahui bahwa Höfn adalah kota kelahiran Thrain. Pria itu menceritakannya ketika mereka turun bersama dari mobil setelah pulang dari Vatnajökull, dan tiba-tiba saja menunjukkan, “Di situ rumah masa kecilku.”

“Oh—jadi kamu besar di sini?”

Dia tersenyum sampai mencapai matanya lagi, “Aku lahir di sana, dan baru ke Reykjavík untuk bersekolah.”

Dan tak seberapa lama kemudian, mereka mendapati diri mereka berada di jalan yang cukup jauh dari kantor, dan bermuara langsung ke dermaga yang ramai. Pelabuhan adalah jiwa Höfn, karena artinya adalah pelabuhan secara harfiah, jelas Thrain. Thrain menunjuk sebuah rumah kecil bercat biru tua, tempat dia menghabiskan tujuh tahun pertama hidupnya. Kapal-kapal menambat, masih terlihat kecil dibandingkan dengan pegunungan yang membayang-bayangi di belakangnya.

“Apa ibumu pernah mendongengkan sesuatu tentang es atau gunung-gunung itu padamu?” Mavuika tersenyum kecil mengingat cara ia menghabiskan masa kecilnya mempercayai dongeng yang sangat dekat dengan alam yang sekarang setiap hari ia pelajari.

Kening Thrain berkerut halus. “Ibuku tidak terlalu pandai berbicara. Kenapa?”

“Hanya ingin tahu. Aku jadi suka gunung berapi karena dongeng ibuku yang berusaha menghiburku karena kami terlalu sering berpindah kota.”

“Oh. Sepertinya menarik.”

“Ayahku bekerja di kantor diplomat. Kami berkeliling Pasifik sampai aku besar.” Ia tertawa renyah. “Ibuku bilang bahwa kami bertualang mencari jejak Putri Gunung Api, karena di setiap kota yang kami tinggali pasti punya gunung berapi.”

“Ibumu pintar membuat dongeng, hm.”

“Beliau guru geografi.”

“Sampaikan salamku padanya.”

“Ah, baik. Kurasa aku belum menghubunginya seminggu,” ia meringis canggung.

Thrain mengalihkan pembicaraan ketika mereka melewati sebuah kedai yang menghadap langsung ke dermaga, “Apa kamu ingin mencoba makanan Höfn?”

Mavuika mengulum senyuman, “Beri aku kejutan.”

Dua porsi besar langoustine dihidangkan untuk mereka di kedai itu—lobster yang ukurannya lebih kecil daripada lobster biasa, disajikan dengan roti dan sayuran. Pemandangan pada jendela di sisinya adalah laut dan sebagian dari fiord yang tenang dengan camar-camar yang berburu makanan, tetapi Mavuika tidak begitu memperhatikannya. Thrain, akhirnya membuka maskernya, memperlihatkan bekas luka yang membentang diagonal dari pipi hingga dagunya, melewati bibirnya sehingga ada bagian dari bibirnya yang berbeda warna, putih dan jauh lebih pucat daripada warna alami bibir pada umumnya.

Thrain menyadari tatapan Mavuika padanya, dan dengan janggalnya meminta maaf.

“Kenapa harus minta maaf?”

“Karena kau harus melihat ini.”

“Bekas luka adalah trofi seorang penyintas, Thrain,” jawab Mavuika. “Boleh aku tahu apa yang terjadi?”

“Serigala salju,” dia menahan tawa seakan-akan hal itu adalah kejadian lucu; permainan dengan kucing peliharaannya saja. “Tahun pertama kuliah, aku nekat keluar sendiri saat di lapangan. Aku agak kurang beruntung, serigala itu menganggapku musuhnya karena aku mengejutkannya. Dua puluh jahitan, untung saja aku lekas diselamatkan. Kalau tidak, mungkin aku tidak berada di sini.”

Aroma udang itu sangat menggoda, Mavuika pun mulai mencicipinya. “Syukurlah kamu selamat.”

“Aku berutang nyawa pada seniorku yang itu.”

“Di mana dia sekarang?”

“Menetap di Kanada. Baru musim panas tahun lalu aku mengunjunginya.” Thrain pun makan, memulainya dari mencelupkan roti di mayones dengan wijen di wadah kecil di dalam piringnya. “Selamat makan.”

Pembicaraan saat makan itu lebih banyak tentang pekerjaan, saling mengisi cerita satu sama lain seperti dua kawan yang sudah lama tidak bertemu, meskipun mereka baru mengenal dua hari. Thrain juga mengajaknya pulang melalui jalan yang berbeda, untuk mengenalkan Höfn pada Mavuika, menelusuri jalan-jalan kecil di antara rumah-rumah.

Malam harinya, saat Mavuika mengerjakan analisis hingga tengah malam sendirian, Thrain yang segan mengetuk pintu kamarnya pun mengiriminya pesan,

bisakah keluar sebentar? aku di depan pintu belakang rumah kalian.

Mavuika disambut bukan hanya oleh Thrain; tetapi juga tarian cahaya di angkasa yang tipis, tetapi sesaat kemudian berubah menjadi ledakan yang lebih besar untuk sepersekian detik—mengingatkannya pada kembang api tahun baru yang semarak, hanya saja jauh lebih indah. Sudah lama sekali sejak ia terakhir kali melihatnya, dan Thrain pun mengajaknya untuk duduk di tepian fjord yang tak jauh dari rumah itu.

“Tidak biasanya di bulan ini mereka sudah muncul.”

“Mungkin mereka mau menyambutku,” Mavuika pun tergelak. “Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihat aurora. Dua jam setengah naik mobil dari rumahku di Selandia Baru biasanya jadi tempat tujuan para pemburu aurora australis, tetapi aku baru pulang saat bukan musimnya. Atau saat aku terlalu sibuk sampai tidak bisa keluar rumah.” Ia pun menoleh pada Thrain. “Terima kasih sudah memberi tahu.”

“Menikmatinya dengan seseorang selalu lebih menyenangkan.” Thrain mengangguk, dan mereka sama-sama mengerti bahwa kalimat itu sama-sama bermakna lebih dalam daripada yang terdengar.

 


 

Mavuika dan timnya meninggalkan Höfn setelah sepuluh hari. Hanya Thrain yang mengantarkan mereka sampai ke bandara Reykjavík, dan dia menjabat tangan Mavuika lebih lama daripada yang lain,

“Sampai ketemu lain kali.”

Mavuika enggan melepaskannya. “Terima kasih. Pengalaman yang sangat indah.” Ia sengaja mengeratkan genggaman tangannya. “Kita bisa atur pertemuan berikutnya, oke?”

Ia juga menoleh untuk terakhir kali sebelum berjalan menuju gate, melambaikan tangan kepada Thrain dan berharap ini bukan yang terakhir kali.

 


 

Awalnya, semua terasa mustahil. Mereka berada di belahan dunia yang berbeda bukan hanya dari perspektif barat dan timur, tetapi juga utara dan selatan. Thrain mempelajari es dan Mavuika selalu berkawan dengan api dari perut bumi. Mavuika pernah berkelakar bahwa kota mereka adalah antipode untuk satu sama lain, walaupun klaim itu tidak akurat karena meleset kurang lebih dua ribu kilometer, tetapi cukup mewakili betapa berlawanannya dunia mereka.

Namun pesan-pesan sapaan sederhana tidak pernah putus sejak kedatangan Mavuika ke Eslandia. Kadang-kadang Thrain mengabarinya saat dia pergi ke kota atau negara lain, dan Mavuika memperlihatkan draft artikel-artikel yang berusaha ditulisnya atau proyek yang dikerjakannya bersama seniornya. Yang awalnya hanya foto-foto sederhana tentang pekerjaan lama-kelamaan bertambah dengan foto-foto makanan, kucing atau anjing di jalanan, sebongkah batu yang sengaja Mavuika buat seperti teka-teki atau bongkahan es yang meleleh dari sampel yang gagal milik Thrain. Dari Reykjavík ke Queenstown, tujuh belas ribu kilometer tidak berarti apa-apa kalau yang terhubung adalah hati dengan hati.

 


 

Pada musim gugur berikutnya yang terjadi di belahan bumi selatan, Thrain mengabari Mavuika bahwa dia akan mendampingi rombongan peneliti muda yang mendapatkan sponsor untuk mengeksplorasi Alps Selatan. Mereka mencocokkan jadwal, menemukan waktu yang tepat untuk Mavuika menyusulnya setelah tim Thrain menyelesaikan tugas mereka. Saat tim itu berkemas setelah menyelesaikan semua agenda, Mavuika baru tiba, dan Thrain membiarkan mereka untuk pulang lebih dulu.

Mavuika menawarkan Thrain beberapa pilihan kota untuk dikunjungi sebagai ‘hadiah selamat datang’, tetapi Thrain hanya menjawab sesederhana, “Boleh aku mengunjungi rumahmu?”

Mavuika menyetir mobilnya sendiri, dan mengajak Thrain untuk mengambil rute berbeda dari arah berangkatnya untuk menambahkan sedikit kejutan, katanya.

“Teman-temanku pernah berburu aurora di Twizel. Apa kau membawa peralatan berkemah?”

“Ah, untung saja tidak kutitipkan dengan junior-juniorku tadi. Masih ada di tas yang warna hitam,” Thrain menunjuk ke kursi penumpang di belakang yang dipenuhi oleh barang-barang mereka.

“Bagus! Ayo kita menginap di sana!”

 


 

Saat ia masih kecil, ibunya menjelaskan tentang letusan gunung-gunung berapi. Salah satu gambar menunjukkan letusan gunung yang terjadi di puncak bersalju. Saat itu ia berkomentar, kasihan sekali saljunya, apakah Putri Gunung Api jahat?

Tidak, jawab ibunya, ini adalah saat Putri Gunung Api terbangun karena selimut Pangeran Salju begitu dingin. Putri terkejut, tetapi ketika mereka bertemu, mereka saling berbagi. Pangeran Salju mendinginkan kemarahan Putri, dan apa yang meleleh dari pertemuan mereka akan menjadi tanah yang subur untuk makhluk-makhluk hidup lainnya.

Bagian dari dongeng itu akan menjadi pemahaman untuknya kelak saat ia mulai mempelajari bidang kesukaannya. Dan, suatu waktu yang jauh setelahnya, di sebuah kota kecil yang jauh dari keramaian ibukota, Mavuika mengingatnya lagi, dan tersenyum karenanya. Melihat bahwa fragmen dongeng itu seperti sebuah ramalan kecil yang diselipkan sebelum Mavuika kecil tertidur, kemudian terlupakan, dan bangkit lagi ke ingatan setelah mewujud.

Mavuika mengajak Thrain untuk menyusuri jalan alami di Twizel setelah meninggalkan barang-barang mereka di area berkemah. Kota kecil yang sempurna untuk mengamati langit, begitu klaim yang dipromosikan oleh Mavuika yang langsung disetujui oleh Thrain. Berbeda dengan Höfn yang menyuguhkan pemandangan dermaga pada laut lepas (yang melabuhkan satu hati ke hati yang lain), Twizel adalah ruang yang tersembunyi di antara pegunungan yang tenang (yang pada akhirnya menumbuhkan keberanian yang hangat).

Di bawah aurora selatan, yang samar dan tenang tidak seperti kejutan yang ia terima tahun lalu di Höfn, Thrain untuk pertama kali meraih tangannya; bukan untuk jabat tangan formalitas atau perpisahan. Dia melakukannya saat meniti jalan di Danau Ruataniwha, sentuhan malu-malu yang tidak ingin dilewatkan Mavuika. Perempuan itu hanya mengerling padanya saat menautkan tangan mereka, dan Thrain terbatuk pelan, canggung.

“Sudah berapa kali ke Selandia Baru sebelumnya?”

“Ini yang pertama kali.” Thrain melempar pandangan ke sekitar. “Terima kasih karena langsung mengajakku ke tempat terbaik.”

Mavuika tertawa kecil. “Baiklah, karena ini kali pertamamu—dari mana dulu kita memulai?”

Thrain pun mengangkat mereka yang masih saling menggenggam, memperlihatkannya ke depan wajah Mavuika—dan Mavuika bisa melihatnya tersenyum pada matanya. “Dari sini.”

Notes:

a/n: oh i am so in love with their dynamics. ice and fire. glacier and volcano. a character based on norse mythology (thrain) and māori deity (mahuika). north and south. nerbener dua kutub yang berlawanan, but yet here they are. ga bisa bersatu di canon? gw yang nyatuin. beres.

and this work concluded the whole series! terima kasih atas segala perhatian dan kudos untuk 26 karya yang merentang di sepanjang separuh 2026 ini!!!! sampai jumpa di series selanjutnya!!

Series this work belongs to: