Actions

Work Header

kalut marut

Summary:

Stelle kalut. Perasaannya campur aduk. Antara senang dan agak malu, tapi senang sekali rasanya bertemu Dan Heng, si teman hidup (atau hanya Stelle yang beranggapan seperti itu).

Notes:

Honkai: Star Rail 崩坏:星穹铁道 © 2023 by Hoyoverse
Copyright all rights reserved. This story was written in 2024 and has been published on other platforms. Any similarities are purely coincidental and not intentional.

Work Text:

Di penghujung libur musim panas, Stelle pergi ke alun-alun sambil membawa biola kesukaannya. Ia berencana untuk bermain di halaman toko roti yang menjual teh dan croissant dengan wujud donat yang akhir-akhir ini dikenal dengan nama cronut. Di tengah jalan, ia bertemu dengan sosok yang paling ia kenal visualisasinya.

Itu Dan Heng.

Oh, my... pikir Stelle. Ia hanya sedang jalan-jalan biasa, tapi tanpa disangka-sangka justru bertemu dengan crush-nya sedari usianya menginjak kepala dua baru-baru ini. Tanpa disadari, Stelle justru membalikkan badannya, berlawanan arah dengan Dan Heng yang sepertinya tidak memperhatikannya. Ia berusaha menyembunyikan biolanya. Akan memalukan jika dengan wajah lusuh dan baju tidak senada yang digunakannya malah ia pamerkan terhadap sang pujaan hati. Ia kalut. Astaga.

"Stelle?"

Itu suara Dan Heng. Stelle kenal betul dengan suara seindah alunan lagu My Love My All Mine karya Mitski yang selalu ia setel tiap akhir pekan sambil berkebun. Caelus, saudaranya, sering bertanya-tanya, apa bagusnya, sih, lagu itu? Penuh dengan nada duka nestapa seperti terpisah selamanya dari belahan jiwa. Namun Stelle tidak menganggap serius perkataan saudaranya waktu itu, atau setidaknya sampai ia bertemu dengan Dan Heng yang memiliki kesukaan pada musik instrumental khas studio Ghibli.

"Kita berteman di Spotify, yuk?" ajak Stelle waktu mereka tengah duduk berdua dan kepala si gadis dipenuhi dengan segala macam kemungkinan perkara topik apa yang harus ia lontarkan agar Dan Heng tetap duduk di sebelahnya sore itu. Dan Heng tidak ragu-ragu mengambil ponsel Stelle dan mengetikkan nama penggunanya, yang bagi Stelle sangat memiliki estetika sebab nihilnya penggunaan angka atau karakter selain alfabet.

"Kamu sedang apa di sini?" tanya Dan Heng.

Ais, rupanya Dan Heng tangkap perangainya sekalipun ribuan manusia berlalu-lalang di jalanan tersebut. Stelle balikkan badannya kikuk. Perasaannya campur aduk, antara senang dan agak malu, tapi senang sekali rasanya bertemu teman hidup (atau hanya Stelle yang beranggapan seperti itu).

"Oh, hanya jalan-jalan." Suara Stelle lebih terdengar seperti tikus yang mencicit dibandingkan suara makhluk hidup lain yang memiliki frekuensi yang dapat ditangkap oleh telinga manusia. Ia kalut. Astaga.

Dan Heng hanya diam selagi Stelle menantikan satu dua kata yang keluar dari mulutnya. Dalam hati Stelle membatin, sialan. Mau taruh di mana mukaku? Ia memalingkan wajahnya, ke mana saja, asalkan bukan menatap Dan Heng yang jelas-jelas ada di hadapannya.

Tanpa Stelle sadari, Dan Heng tarik kurva ke atas sedikit, mengindikasikan rasa ketertarikan yang mulai bergejolak dalam dirinya. Lantas tangkap biola yang ada di belakang tubuh Stelle.

"Kamu bisa main biola?" Suaranya Dan Heng naik satu oktaf.

Stelle kaget setengah mati, bagaimana bisa ia temukan biolanya yang sudah ia simpan mati-matian? Ketika Stelle mengangguk canggung, Dan Heng segera ambil kesimpulan sendiri.

"Oh ya? Aku suka sekali nonton orkestra. Kabarnya pekan depan akan ada yang tampil di Barbican Centre," ujarnya bersemangat.

Wait, Dan Heng pikir Stelle bisa main orkestra? Gerakan tangan kondektur saja tidak bisa Stelle baca. Apakah Dan Heng mengira dirinya bermain di orkestra? Stelle hanya bermain biola di waktu senggang, sambil berjalan-jalan untuk menghindari pekerjaan kebun yang ayahnya berikan tiap akhir pekan yang sangat menguras energi dan melelahkan. Apa Dan Heng akan ilfeel jika dia bilang bahwa dia tidak bermain di orkestra?

Selagi Stelle sibuk dengan dunianya, Dan Heng justru ambil ponsel miliknya dari saku celana jeans yang ia gunakan, lantas mengetik sesuatu di sana. Tak berapa lama, sebuah bunyi notifikasi keluar dari ponsel Stelle. Si gadis segera buyarkan lamunannya.

Sabtu pekan depan pukul 5 sore. Aku yang traktir. Kemudian si pujaan hati tampilkan seulas senyuman pada bibirnya.

Tak lama, Dan Heng membalikkan tubuhnya dan melesat begitu saja di antara lautan manusia pada jalan tersebut. Wangi aroma orange blossom yang sedari tadi buat Stelle mabuk kepayang hilang begitu Dan Heng berjalan menjauh.

Itu wangi kesukaan Stelle. Pernah sekali sewaktu March 7th, sahabatnya, bertanya bau apa yang paling Stelle suka, dengan cepat ia jawab orange blossom karena itu mengingatkannya akan segala hal baik di alam. Waktu itu, sebenarnya Stelle hanya asal sebut saja. Akan tetapi, sewaktu wangi tersebut menghilang dari indra penciumannya dan bayangan Dan Heng melesat jauh begitu saja, barulah Stelle sadari perkataan Dan Heng di akhir pembicaraan mereka.

Stelle kalut. Astaga.

Fin.