Work Text:
Malam ini, tepat lima menit sebelum hari berganti, lelaki kecil yang akrab disapa Wisha berusaha memantapkan langkahnya masuk ke kediaman sang kekasih. Senyum lima jari dan kerutan cantik di ujung mata tak luput menghiasi wajah eloknya seharian penuh. Lelaki cantik itu menggenggam paper bag kemasan bento cake berdiameter 10 x 10 sentimeter di tangan kanannya tak lupa menggenggam paper bag berisi buket bunga dan kartu ucapan yang ia buat sendiri—mengingat Wisha senang membuatkan sesuatu dari hasil tangannya untuk orang terkasih, termasuk pacarnya—di tangan kirinya. Sejenak Wisha buka kemasan kue yang ia bawa dan memasangkan lilin angka satu dan sembilan, tak lupa ia rogoh saku celananya dan menyalakan korek untuk mematik api di ujung lilin ulang tahun. Tangan mungil itu masih gemetar, mengingat Wisha sengaja mengabaikan Rakha seharian penuh demi kejutan yang sudah ia siapkan dari lama. Maka dari itu, tak heran bila sekarang rasanya Wisha enggan masuk ke pintu rumah Rakha yang terbuka, ia perlu kembali mengontrol degup jantungnya yang semakin cepat untuk menghadapi wajah rupawan sang kekasih di hari spesialnya. Ah, Wisha sudah tidak sabar untuk mengoles krim kue ke hidung pacarnya itu, berbagi tawa dengan orang yang ia cintai.
Maka di detik berikutnya, langkah kecil Wisha tapakkan memasuki rumah Rakha. Binar matanya yang menyala tiba-tiba mulai meredup. Wisha pikir, kekasihnya itu akan sibuk bermain play station dengan suara minimal seperti biasanya. Wisha pikir, ia adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kedua puluh pada lelakinya. Wisha pikir, keadaan sudah seperti yang ia mau dan rencanakan. Namun, tak pernah terlintas di pikiran Wisha untuk menyaksikan kekasihnya memeluk raga orang lain. Bukan, ralat, bukan orang lain. Binar redup di kedua mata Wisha masih kenali sosok lelaki di pelukan Rakha. Binar redup di kedua mata Wisha masih kenali rupa si lelaki berkulit putih susu, lengkap dengan rambut hitamnya yang lembut dan sedikit ikal, serta postur tegap lelaki cantik itu. Tak lain dan tak bukan ia adalah Kala, sepupu Wisha yang ironinya selalu ada di benak lelaki bernama Rakhamiel.
Tak bisa dipungkiri pula bahwa binar redup Wisha lama-lama mulai membasah. Binarnya tak lagi berasal dari iris coklatnya yang cantik, tetapi kali ini karena pantulan cahaya yang mengenai likuid yang terbendung di kelopak bawah matanya. Pun kali ini dadanya mulai terasa sesak. Hawa di sekitarnya mulai mencekik dan membuatnya sulit bernapas teratur. Wisha gigit bibir bawahnya yang kering karena sebelumnya ia lupa untuk mengoleskan pelembab di permukaannya. Udara terasa menusuk pangkal hidungnya dan makin membuat perih bola matanya. Sial, amigdalanya terlalu cepat memberikan respons pada peristiwa dari yang dilihat oleh matanya. Sial, rasanya dopamin di celah sinaps sel saraf otaknya mulai tergerus perlahan-lahan. Sial, nyeri mulai jalari hatinya dan kacaukan sistem limbik otaknya.
Sekali lagi, biar dapat diingat kembali, Wisha bukanlah orang yang selemah ini. Hal yang ia alami bukan yang pertama kali. Seharusnya, Wisha sudah terbiasa. Wisha dengan sadar menerima Rakha yang masih susah untuk tertuju pada satu orang saat mendekatinya, maka dari itu Wisha lakukan juga hal yang sama. Apa yang Rakha lakukan, biasanya akan selalu Wisha lakukan. Jika Rakha terlalu dekat dengan lawan jenis atau mungkin orang yang menyukainya, maka Wisha juga akan lakukan yang sama. Mereka tahu betul perangai itu dan masih memilih untuk bersama. Namun kiranya, Wisha tak pernah berani untuk membalas perlakuan Rakha pada cinta pertamanya. Mungkin saja Wisha miliki posisi yang aman di hubungan ini bersama Rakha, tapi perlakuan sang kekasih masih saja berkutat pada Kala. Melihat itu, langkah kakinya mundur perlahan. Pelan-pelan ia keluar dari kediaman Rakha, segera memesan ojek online dan pergi dari sana.
Sesampainya di kamar, Wisha tutup pintu kamarnya menggunakan telapak kakinya, menaruh kemasan kue yang lilinnya sudah mati ditiup angin malam serta buket bunga di lantai sembarangan, dan mengunci pintunya. Raga ringkihnya dihamburkan ke kasur yang belum ia ganti spreinya, tepat saat Rakha sempat tidur di sampingnya kala ia sakit sebulan lalu. Dalam tangis sedu nan pilu yang tak bersuara itu Wisha benamkan wajahnya ke bantal. Kalau dipikir lagi, Wisha tahu ia akan selalu kalah dari Kala, selalu begitu. Bukan hanya soal Rakha, tapi dalam hal apapun. Wisha selalu kurang dibandingkan dengan Kala di mata keluarga besarnya. Kala yang cantik, putih, tinggi semampai, dan berotak cerdas sejak kecil membuat Wisha merasa kecil, terlebih Wisha saat itu hanya dikenal sebagai anak kelewat aktif dan terkesan nakal. Kendati Wisha amat menyayangi kakak sepupunya itu, ia selalu merasa seberapa besarpun usahanya untuk mengejar apa yang Kala raih, hasilnya tak akan bisa saingi pencapaian sang kakak. Program percepatan di sekolah menengah atas sudah ia jalani dan lolos perguruan tinggi di jurusan yang sama sekali tak pernah ia minati melalui jalur tes sudah ia lakukan. Namun, rasanya ia tak pernah sebanding dengan Kala yang lolos di perguruan tinggi dengan reputasi kampus lebih tinggi darinya di jurusan yang sama melalui jalur undangan.
Wisha kira, kali ini ia bisa menang dari Kala, setidaknya untuk miliki Rakha yang sempat Kala sukai untuk dirinya sendiri. Nyatanya, mimpi besar Wisha hanya angan yang tak akan pernah bisa ia raih. Menjadi pelukis, masuk di jurusan teknik pertambangan, dan yang terbaru, menjadi satu-satunya di hati kekasih adalah mimpi yang harus ia kubur dalam-dalam. Wisha tak pernah suka les dan ikut kompetisi biologi, Wisha tak pernah mau kuliah kedokteran, Wisha tak pernah mau terima orang yang pernah Kala suka, tetapi semuanya justru ia lakukan. Untuk bertahan hidup. Untuk melindungi reputasi Papa dan Mama. Untuk melindungi kedua adiknya dari beban masuk di jurusan yang tak mereka mau. Untuk hatinya, yang entah mengapa memilih Rakha di antara banyaknya orang yang menyukainya. Wisha rela kehilangan dirinya untuk kesekian kali, dan seharusnya ia sudah terbiasa. Tetapi, mengapa ketika ia kehilangan Rakha—meskipun sejak lama—rasanya berat sekali? Sampai kapan Wisha harus tanggung rasa sakit kehilangan apa yang ia mau?
Wisha lelah. Wisha benar-benar lelah. Mungkin ini saatnya Wisha akhiri hubungannya dan melepas lelaki Rakhamiel bebas. Tak lagi menyakitinya. Tak lagi anggapnya sebagai anak kecil yang hanya dambakan kasih sayang dengan status yang jelas. Wisha mantapkan hatinya bahwa akan ia putuskan kekasihnya di pagi hari ini juga.
Maka dari itu di sinilah Wisha, mengirim pesan singkat kepada Rakha lima menit lalu. Malam sebelumnya Wisha akhiri dengan jejak air matanya yang mengering seiring waktu membawanya terlelap. Kini, Wisha kembali membawa kemasan kue dan buket bunga yang seharusnya ia berikan tadi malam, menunggu sang kekasih tiba di kafe yang sudah ditentukan oleh Wisha. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi kala sosok yang didamba Wisha telah masuk pintu depan kafe. Sepasang mata tajamnya bersibobok dengan sepasang binar kabur sosok yang lebih cantik, sunggingkan senyum simpul pada yang dituju. Setelah memesan ice americano double shot dan red velvet cake yang sudah pasti belum Wisha pesan sebelumnya karena menunggu, lelaki Rakhamiel lalu mendekat ke arah Wisha, duduk di kursi seberang pacar kecilnya. Sang lawan bicara tersenyum lebar seperti biasa, walaupun kini Rakha perhatikan bahwa kedua binar mata itu tak secerah biasanya. Wisha tersenyum, lantas membuka kemasan kue, memasang lilin, dan memantik api di ujungnya. Bibir mungilnya lantunkan sajak-sajak harapan di ulang tahun Rakha yang kedua puluh ini, lalu dibalas Rakha dengan tiupan di lilin dan senyum yang hiasi fitur wajahnya yang tampan rupawan.
“Makasih banyak, Sayang. Makasih ya udah ada buat aku selama ini,” ujar Rakha sambil mencolek krim kue dan membawanya ke ujung hidung si cantik, “Thank you for waiting me and stay with me.”
“Kembali kasih, Kak Rakha. Selamat ulang tahun, semoga kesehatan, kebahagiaan, dan segala hal baik selalu Tuhan berikan untuk kamu. Terima kasih juga sudah ada buat aku,” timpal Wisha lembut, “Kak, ada yang harus aku omong–”
Rakha mengernyit. Panggilan yang Wisha berikan tak biasanya menyapa rungunya, ”Hey, what’s wrong?” Kok tumben manggil aku ngga kayak biasanya?”
Ah. Rupanya kekasihnya itu menyadari hal yang tidak beres dari kalimat yang ia lontarkan. Setidaknya, masih ada satu hal yang membuat Wisha berusaha mempertahankan hubungannya. Semoga dugaannya benar. Semoga semuanya akan baik saja. Semoga ia tak jadi putus dengan Rakha.
“Permisi, atas nama Kak Rakha, pesanannya ada ice americano double shot dan red velvet cake. Pesanannya sudah lengkap semua ya, Kak?”
Sial, benar-benar sial. Ternyata masih kue red velvet yang lelaki itu selalu pesan untuknya. Memangnya sejak kapan Wisha gemari kue sepekat darah dan berkrim asam gurih itu? Runtuh. Sudah runtuh benar pertahanan Wisha yang baru saja ia bangun. Wisha diselimuti kecewa yang makin mencekik jiwanya erat.
“Ah iya, makasih, Kak,” jawab Rakha, kembali fokus ke Wisha yang kini menatap kosong potongan kue di depannya, “Tetep kakak tagih loh ya kenapanya? Nah, ini kuenya dimakan dulu ya, Sha. Kuenya baru aja restock, masih fresh, pasti kamu suka.”
Wisha membuka mulutnya sedikit ketika garpu dengan potongan kue berwarna merah pekat dengan krim keju itu disodorkan Rakha di depannya, membuat lelaki berwajah tegas itu sumringah, “I know you’re not usually eat breakfast, but I don’t want your stomach acid hurts you again so please eat it, ya?”
Bukan perih di lambung yang Wisha rasakan akibat perut kosong, melainkan perih Wisha rasakan di hatinya. Mau sampai kapan Rakha lihat dirinya sebagai orang lain? Wisha tak pernah punyai asam lambung yang menyakiti selama hidupnya. Hanya Kala yang punyai itu. Hanya Kala yang deritai itu. Maka yang sekarang Wisha rasakan hanya hambar, mungkin karena perihnya kecewa membuat seluruh tubuhnya mati rasa.
“Mhm, iya,” timpal Wisha sekenanya, kemudian ia melanjutkan, “Kak, but seriously, I need to talk about this with you. Do you mind to listened to me completely without interrupting me?”
Mendengar nada serius dari sang kekasih, Rakha mulai memusatkan perhatiannya ke Wisha, “Okay, sure, Babe.”
“Pinky promise?”
“Pinky promise.”
Mendengar persetujuan Rakha dengan kelingking yang tertaut di kelingkingnya, Wisha mulai mengembuskan napasnya berat dan melanjutkan, “Kak, let’s break up.”
Sejenak Rakha hentikan kegiatan mengaduk dasar gelas es kopinya dengan ujung sedotan, kaget dengan penuturan dari bilah bibir kekasihnya, “Hah? All of sudden? Why? Did I do something wrong?”
Reaksi yang sesuai dugaan Wisha. Lelaki itu tersenyum tipis dan kembali melanjutkan, “Kak, you promised me earlier that you won’t interrupted me, right?”
“Well, okay, I’m sorry.”
“That’s okay. Okay, let me continue,” ucap Wisha, kali ini sedikit menahan pecah tangisnya agar tak tumpah ruah kala ia tatap manik tajam yang melembut ketika bertemu maniknya yang kini binarnya rapuh.
“To be frank, I still, well, I am loving you all this time, Kak. But I just can’t let myself drown into a love that would make me sunk and never float again. It hurts me more if we keep this relationship for a long term.”
Raut bingung Rakha bisa Wisha tangkap dari jarak kurang dari empat puluh sentimeter dari mukanya. Mungkin saja Rakha pikirkan apa yang membuat kekasihnya berpikir untuk berpisah daripada memperbaiki semuanya. Wisha maklum, selalu memaklumi. Kapan Wisha tak pernah mengerti? Tapi mungkin hari ini Wisha tak lagi memaklumi. Maka dengan sisa logika yang masih Wisha sisakan untuk mencintai Rakha yang masih menjadi miliknya, ia lanjutkan kalimatnya.
“Kak, harus berapa kali aku bilang aku gak pernah suka kue red velvet dan gak pernah suka taro bubble tea. Berapa kali aku harus bilang aku sukanya tiramisu dan seasalt cloud matcha latte less sugar?”
Ah. Rakha sadari hal ini sudah yang ke berapa kali, ya? Tak terhitung sepertinya. Rakha memang hanya mengingat kedua hal itu sebagai kesukaan Wisha, tetapi baru mengingatnya betul-betul bahwa kedua hal itu adalah kesukaan Kala, masa lalunya setelah Wisha memasang raut muka cemberutnya. Rakha mengepalkan tangan kanannya erat, meredam kesalnya pada diri sendiri. Padahal malam itu ia sudah berjanji untuk lupakan Kala. Padahal malam itu ia sudah berjanji untuk lihat Wisha sebagai dirinya. Padahal malam itu ia sudah merasa pelukan terakhirnya dengan Kala sebagai titik baliknya menjejaki hidup baru untuk mulai mencintai Wisha. Nyatanya, Rakha belum sepenuhnya hapus Kala dari hidupnya.
“Sebenarnya ngga sesimple itu juga, sih. Aku tahu dari awal kamu memang gak pernah siap sama komitmen. I know it the damn well and still want to be with you. Kamu deket sama orang-orang yang bisa aja suka sama kamu, I don’t mind it, aku tetep mau sama kamu.”
Ah, iya. Benar bahwa Rakha masih sering menempatkan presensinya tetap dekat dengan orang-orang yang menyukainya secara romantis. Yah, Wisha selalu maklumi hal itu karena ia tahu bahwa Rakha tak benar-benar menyukai mereka. Jadi, tak mungkin Wisha harus khawatir Rakha akan jatuh ke lain hati. Hanya saja, Wisha tahu betul bahwa masih ada Kala di hati kecil pemuda Rakhamiel itu. Wisha tahu betul bahwa Kala masih jadi satu-satunya orang yang dicintai lelakinya itu.
“But at some point, aku tahu satu hal,” ucap Wisha, kali ini dengan isakan yang lebih jelas terdengar walaupun sudah ia tahan-tahan, “Aku tahu kalau kamu selalu lihat aku sebagai orang lain. You’re projecting me into someone else. So, jujur aja Kak Rakha, do you still love Kak Kala?”
Rakha membeku total. Ia sudah tertangkap basah. Seketika lidahnya kelu, bibirnya turut kaku untuk jawab pertanyaan sederhana dari sang lawan bicara yang kini binar rapuhnya sudah retak. Hancur berkeping-keping, bahkan mungkin tak bisa lagi Rakha perbaiki.
“Sayang…,” lirih Rakha. Ia mengembuskan napas berat seraya tatap kedua mata Wisha lekat-lekat. Binar rapuh itu Rakha coba perbaiki, tetapi masih saja runtuh berkali-kali. Dengan perasaan berat lelaki itu lanjutkan, “Okay, let me explain to you. Aku di awal-awal kita pacaran memang masih menganggap kamu itu Kala. It felt guilty to behave like that but the feelings were still there at that moment.”
“I’ve ever hurted Kala before. Kala sayang banget sama aku, begitupun aku. Tapi dulu aku clueless, Sha. I wish I could treat him better and be brave to take the risks to be in a relationship with him. So when I have it for the first time, I feel like I should pay it with the treat I supposed to gave to him at the first place.”
Rakha akui semuanya. Pada akhirnya, lelaki itu muntahkan segala perasaan yang bercokol di hatinya. Tanpa sadar Wisha makin sakit dibuatnya. Pada akhirnya semuanya hanya tentang Kala, Kala, dan Kala. Tak pernah tentang dirinya.
“Oh… so you really see me as Kak Kala, ya Kak?” tanya Wisha retoris, “Jadi kamu ikut virtual blind date itu untuk pengalihan kamu karena Kak Kala lepas dari kamu? Kamu deketin aku dan nganggep aku itu Kak Kala? Kamu kejar aku, kamu usahain aku, kamu yakinin aku, kamu pacarin aku, semua cuma buat seakan-akan kamu pacaran sama Kak Kala?”
Wisha tak kuasa tahan tangisnya. Kedua matanya redup, kelopak matanya memerah dan bengkak, tetapi ia masih berusaha berbicara, “Kak, aku bukan pelampiasan kamu. I know I really love you but… kenapa baru sekarang kamu bilang? Kak, Kak Kala itu kakak sepupuku… kenapa harus kakakku?”
Getar pada nada bicara Wisha membawa kepala Rakha yang tertunduk lemah sedikit mendongak. Tatapan nanar Wisha berikan kepada Rakha, berusaha mencari secercah kebohongan yang ada pada sepasang mata itu. Nihil, Wisha tertawa getir dan membelitkan lidahnya di sisi kanan pipi tirusnya. ‘Sialan, kenapa rasanya seperti ditusuk belati?’ menjadi gumaman Wisha berulang kali.
Ia melanjutkan, “Not only Kak Kala, you hurt me too, Kak, you hurt me the most. Asal kamu tahu, aku udah lama kehilangan diri aku sendiri. Wisha yang kamu lihat sekarang, yang awalnya cuma mahasiswa di bawah kepemanduan kamu pas orientasi kampus dan suka kamu dari awal ini udah hancur dari lama, Kak. Wisha yang kamu tahu lulusan akselerasi dan masuk jurusan yang orang-orang impikan itu cuma polesan keluargaku supaya ngga direndahin Kakek dan dibandingin lagi dan lagi sama Kak Kala. Kalau Kak Kala bisa masuk kedokteran di kampus yang lebih baik dari aku dengan senang hati, aku engga, Kak. Aku sama sekali ngga mau di sini. Aku ngga punya pilihan. Aku ngga akan pernah bisa memilih apa yang aku mau dari awal. Orang-orang selalu lebih suka sama Kak Kala, of course he’s pretty and smart and has soft temper, while I am quite on the opposite. Aku cuek, semaunya sendiri, dan harus belajar setengah mati cuma buat bisa dianggap sama kayak Kak Kala. Walaupun begitu aku tetep sayang sama Kak Kala. Kak Kala ngga pernah nyakitin aku secara personal, justru dia sayang banget sama aku. Tapi, aku juga ngga menyangkal kalau aku juga bisa capek, cemburu, bahkan benci sama Kak Kala di saat-saat tertentu. Aku juga ngga mau semakin benci sama Kak Kala, but you somehow make me hate him even more.”
Pengakuan panjang itu sontak terlontar dari bilah bibir Wisha. Seharusnya, Rakha buat bilah bibir itu tertarik ujung ke ujung sampai menipis membentuk kurva di wajah kecilnya, kalau perlu hingga si lelaki Janithra memamerkan deret gigi putih rapihnya. Sebaliknya, justru Rakhalah alasan mengapa kini bibir itu membengkak dan penuh luka akibat pemiliknya yang sering menggigit bibir bawahnya sebab merasa kecewa. Nyeri makin dirasakan pemuda Rakhamiel, membuatnya tak mampu temukan kedua maniknya pada sepasang manik lawan bicara.
“Begitupun sekarang, aku juga ngga bisa milih orang lain untuk dicintai selain kamu yang udah jelas bakal nyakitin aku. Aku dengan sadar milih kamu, menyayangi kamu, mencintai kamu sampai aku ngga tahu lagi gimana caranya aku bisa benci sama kamu setelah aku tahu kalau pada akhirnya semua bakal sama aja. Semua orang bakal melihat aku sebagai Kala, bukan aku sebagai Wisha, termasuk kamu.”
“Wisha… Say-”
“Don’t even dare to call me ‘Sayang’ again if you don’t mean it, Rakhamiel,” jawab Wisha dengan nada tinggi. Pertengkaran itu membuat banyak pasang mata tertuju ke arah mereka. Kedua insan itu bergeming, sama sekali tak memedulikan presensi selain mereka berdua. Kali ini, tangan Rakha yang semula hendak menggenggam tangan yang lebih kecil mendadak ditepis sang lawan bicara. Sorot mata hampa itu menatap Rakha nyalang, begitupun suara serak dan bergetar memenuhi liang telinga Rakha, perlahan ikut mengiris hatinya, “Don’t call me that, if you still hug him on your twentieth birthday and still make him important part of your life.”
“Sha, please this time listen to me. I-”
Diam menguasai dua insan yang sedang bergelut dalam pikiran masing-masing. Rakha masih berusaha pikirkan kalimat yang mampu untuk membantunya menjelaskan kronologi sebenarnya pada Wisha. Rakha sebal dengan dirinya sendiri yang hanya bisa terdiam kaku tanpa mengucap satu kata pun.
“I hugged him platonically,” cicit Rakha, mencoba menjelaskan segalanya satu persatu pelan-pelan, “Aku peluk Kala karena aku sudah mulai berdamai dengan pandanganku baik itu ke dia maupun ke kamu. Wisha, I do apologize I already saw you as Kala, treated you like Kala, and love you like I loved Kala. I know it’s all my fault, I feel guilty for doing that. I’m trying to know you as you are, Wisha. So let me do it for you, for us, this time I promise. Give me one more chance to fix everything I’ve been broken, okay? Please?”
Rayuan Rakha mengundang tawa sumbang yang kini memenuhi rungu Rakha. Tawa yang tidak tulus, terkesan meremehkan dan menyudutkannya, “Kenapa giliran gini kamu mau perbaiki semua deh, Kak? Kamu ke mana aja selama ini? Kenapa balik ke aku? Mending balik ke Kak Kala, kan? He’s your first love, tho.”
”Kala already have someone he loved, Sha. His boyfriend, Naka, even appeared last night and gave me permission to hugged Kala for the last time, Sha.”
“Oh, so you failed him twice and choose me because you don’t have any option, right? You don’t want to lose anything so you stay with me, right?”
“Wisathya. Jangan pelintir kata-kata aku. I’m trying to be honest.”
Tawa miris keluar dari bibir Wisha, kembali ia tatap nanar sorot mata tajam itu, “Lucu banget kamu, Kak. Baru milih aku pas Kak Kala udah gabisa sama kamu. Dari awal harusnya kamu ngga usah pacarin aku kalau kamu emang belum selesai sama perasaan kamu. Bahkan harusnya dari awal aku ngga kenal kamu di orientasi kampus, suka sama kamu, bahkan kirim coklat ke kamu diem-diem cuma buat kamu ketawain sama kembaran kamu karena udah balesin surat aku dengan pengakuan pacar kamu sebagai penerimanya.”
“Wait, what? What choc–oh…” Rakha sadari satu hal. Ada seseorang yang pernah mengiriminya sebatang coklat dengan hiasan pita merah muda serta surat anonim. Isinya bukan pengakuan cinta klise, tetapi hanya harapan supaya hidupnya lebih baik dari sebelumnya. Rakha merasa kikuk dan mencicit, “Sha… jadi coklat itu kamu yang kasih?”
Memang pernah ada coklat misterius yang ia terima setahun lalu. Coklat itu kemudian diterima oleh saudara kembarnya, Mikhaila atas suruhannya. Rakha pikir, coklat itu hanya perbuatan iseng dari teman satu jurusannya, jadi ia minta Mikhaila untuk menerima coklat itu dari pengantarnya dan menyuruhnya untuk membalas surat yang menyertainya seolah Rakha sudah punyai pasangan. Rakha memang sudah pernah ceritakan ini kepada Wisha dengan tawa terlepas di udara, tanpa mengetahui bahwa pengirim coklat tersebut adalah lelaki yang selama ini ia dekati dan pacari.
“Kalau iya memang kenapa? You seemed to laugh loudly back then about it, right? Kamu kira aku ngga tahu?”
Mati, Rakhamiel. Harga dirimu benar-benar mati karena kesalahanmu sendiri.
”Aku malu setengah mati, Rakha. Aku ngga pernah mau ngerasa jadi pelakor and you made me like I am one of them.”
“Sha, no, I don’t mean it bu-”
“Enough, Kak. Mau berapa kali kamu bikin aku ngerasa worthless lagi?”
Kalah telak. Kali ini, Rakhamiel mutlak alami kekalahan dalam argumennya. Tak ada satu hal pun yang mampu bela dirinya. Mati, Rakhamiel. Harga dirimu benar-benar mati karena kesalahanmu sendiri. Di sisi lain, Wisha hapus kasar air matanya yang masih mengalir di pipi memerahnya dengan kedua telapak tangannya. Lega menyergap dirinya. Akhirnya semua ini akan ada akhirnya, ia bisa pastikan setelah ini ia akan hidup dengan lebih ringan dari sebelumnya walaupun melupakan Rakha adalah salah satu penderitaan yang harus menyertai nantinya.
Wisha tersenyum tipis dan melanjutkan tekadnya, “Jadi, lebih baik memang kita putus aja. Kamu bisa fokus ke studi kamu, akupun begitu, mengingat dari awal kita sepakat untuk komitmen asal ngga mengganggu akademik masing-masing. Kamu ngga perlu lagi maksain diri buat sayang dan cinta sama aku. Kamu ngga perlu merasa bersalah lagi tiap ngeliat aku. Aku juga sudah maafin kamu, Kak Rakha. Anggap aja apa yang terjadi di antara kita bukan apa-apa, cuma hal yang sudah seharusnya dilupakan. Aku juga minta maaf selama ini aku melakukan kesalahan baik sengaja atau ngga disengaja ke kamu. Maaf belum bisa jadi seseorang yang mudah kamu cintai, maaf belum bisa jadi seseorang yang bisa sepenuhnya menerima kamu lagi.”
“So,” Wisha kembali dengan nada ceria yang Rakha tahu itu hanya dibuat-buat. Binar matanya perlahan kembali, cerah seperti cahaya mentari yang mengenai embun pagi. Bagaimana bisa Rakha baru menyadari betapa indahnya Wisha? ‘Memang lelaki bodoh kamu, Rakha,’ batinnya, “Dengan ini aku nyatakan bahwa kamu, Gladion Rakhamiel Agastya, resmi putus dengan aku, Janithra Wisathya Jarasena. Congrats! Setelah ini jangan ada sedih-sedih di antara kita, ya, Kak?”
Pernyataan itu menggema di rungu Rakha. Ia tak sepenuhnya rela karena sejujurnya, Rakha sudah mulai mencintai Wisha sebagai dirinya sendiri. Tapi nasi sudah menjadi bubur, maka dari itu ia raih jabat tangan mungil Wisha dan tersenyum sebisanya, mencoba menerima dengan lapang dada, “Setelah ini aku izin blok semua akses kamu ke aku, okay? Indeed, you’ve taught me a lot of things, thank you for that. And don’t worry, I’ll catch up with you some other time when our paths crossed again, I promise!”
Binar mata Rakha meredup, mencoba peruntungan dengan menanyakan hal bodoh kepada Wisha si pendirian teguh, “Jadi… kita bakal beneran asing ya?”
Wisha tertawa geli, tersenyum lebar dengan cantiknya, menangkup kedua sisi rahang Rakha di kedua telapak tangan sempitnya, menyatukan dahi keduanya dan menatap sorot mata tajam kesukaannya sekali lagi, “Iyaaaaa, Kak Rieeeeeel. Ayo ketemu di versi terbaik kita masing-masing, ya?”
Panggilan sayang itu kembali terdengar di rungu Rakha. Wisha menepati janji atas tagihannya beberapa menit lalu. Yah, selama ini memang Wisha yang selalu mengerti dan Rakha yang tak mau mengerti. Nanar Rakha masih di sana sebelum Wisha mulai gesekkan ujung hidungnya yang tercolek krim kue ulah Rakha ke ujung hidungnya, kemudian memeluk tubuh Rakha yang lebih besar dengan erat untuk terakhir kalinya. Ia sembunyikan wajahnya di ceruk leher sang mantan selama beberapa detik dan melepasnya. Rakha membalas menangkup wajah Wisha dengan kedua tangannya, menghapus jejak air mata yang mengering dari pipi tirus Wisha dan memeluknya lagi untuk terakhir kali. Beribu lantunan maaf terdengar di rungu Wisha, dibarengi dengan belaian sayang dari belakang punggung sempitnya dan jari-jari Rakha yang terselip di surai lembutnya. Wisha nyamankan dirinya dan nikmati waktu yang tersisa berdua saja dengan Rakha saat ini.
Karena setelah ini, Wisha tak akan mencari Rakha lagi.
Karena setelah ini, Rakha harus memperbaiki diri untuk kembali ke Wisha lagi.
