Actions

Work Header

I Feel Like I'm Cheating on You

Summary:

Rakha tarik kembali masa di mana ia kehilangan Kala, pun dengan dirinya yang turut kehilangan Wisha. Baginya, Kala dan Wisha adalah hamparan pasir yang tak pernah benar-benar baik ia genggam sehingga keduanya lepas darinya.

Ryul as Rakha
Woojin as Wisha
Ohyul as Kala
Woonhak as Naka
Jihoon as Jinan
Carmen as Amel

Notes:

Halo, guys! Welcome back to my writings. Kali ini aku mau bawa kalian ke sudut pandang Rakha kenapa kok dia lost contact sama Kala dan bisa putus dari Wisha (and why he deserves dimampus-mampusin) (ToT) To be honest, aku mau disclaimer aja, narasi ini bakal berat (aku sampe bingung ini tagnya ke rated T atau M saking drainingnya) so please siapkan hati dan be wise dalam membacanya ya. Selamat membaca and enjoy! ><

Work Text:

Selepas dari pertemuannya dengan Wisha untuk yang terakhir kali—entah nanti akan bertemu lagi atau tidak—Rakha kini melangkah gontai ke arah mobil sedan hitam kesayangannya yang terparkir tak jauh dari kafe yang sebelumnya ia datangi. Lelaki Rakhamiel lantas membuka pintu di kursi kemudi dan merangsek ke dalamnya. Suara bantingan pintu mobil terdengar keras di rungunya dari sisi samping kanan, harap-harap bisa tenangkan riuh yang ada di kepalanya. Baru satu jam yang lalu Wisha benar-benar meninggalkannya lebih dulu, tetapi hampa ssudah betah bercokol dalam pikiran Rakha. Lelaki yang baru saja berusia dua puluh tahun itu kehilangan pacarnya di hari ulang tahunnya, pun dengan dirinya yang ternyata banyak menorehkan luka menganga lebar di hati Wisha. Ia pandangi kap dalam mobilnya sembari jari-jarinya menari membentuk pola abstrak di depan pandangan. Tak lama telapak tangan kanannya jatuh tepat di atas kelopak matanya, berangsur-angsur usap wajahnya kasar. Pusing menggerogoti benak Rakhamiel yang tengah kalut sendirian. Ia coba raba ingatan di benaknya, barangkali ia temukan alasan untuk bisa memperbaiki apa yang salah darinya, termasuk caranya mencintai Kala dan Wisha di waktu yang berbeda. Kalau di tarik kembali ke masa lampau, Rakha sadar bahwa dirinya terlalu banyak melakukan kesalahan ketika ia menjalin hubungan dengan seseorang. Rakha bingung untuk membalas sebab sebelumnya ia tak pernah dicintai seseorang sebegitunya. Baik Kala maupun Wisha mencintai dirinya dengan cara yang berbeda, pun sifat keduanya berbeda saat hadapi dirinya. 

Rakha merasa bahwa Kala pernah mencintai dirinya dengan hati-hati. Setiap usaha Kala untuk mencurahkan perhatian untuk Rakha hadir perlahan di celah waktu yang pernah mereka habiskan bersama. Dua tahun kiranya Rakha kenali Kala untuk pertama kali di tempat bimbingan belajar. Kala yang dulu ia kenal adalah seseorang yang tak akan ragu untuk berikan perhatian penuh kepada Rakha. Kala yang dulu selalu bertutur kata lembut dan tenang ketika menanggapi celotehan Rakha. Kala yang dulu tak pernah ragu untuk rasakan malu untuk mengajaknya ke mal hanya untuk berikan hadiah handmade dan beberapa barang yang Rakha suka walaupun harus berakhir malu karena Jinan, teman satu kelas mereka di tempat bimbingan belajar memergoki mereka. Kala yang dulu tak pernah ragu untuk lakukan apapun yang Rakha butuhkan. Pernah saat itu Kala tak ragu untuk berbohong ke kakak tutor untuk izin ke kamar mandi, padahal dirinya turun ke lantai bawah dan keluar untuk membeli dua botol air mineral enam ratus mililiter untuk Rakha yang tengah kepedasan sebab tertukarnya makanan yang ia pesan dengan milik temannya. Kala sengaja membeli dua supaya perhatiannya pada Rakha tak begitu ketara dengan dalih botol satunya untuk dirinya sendiri. Kendati Kala yang berusaha untuk menutupi perhatiannya, Rakha mampu rasakan sayang tiap Kala berada di dekatnya. Ia mulai perhatikan cara Kala tersenyum, mencari tahu apa saja kesukaan Kala, bahkan mencintai Kala sebagai diri yang sempurna.

Sampai suatu hari lelaki cantik itu buatkan tautan formulir online untuk ulang tahun Rakha kedelapan belas. Di dalamnya Kala panjatkan doa-doa baik untuk menyambut usia Rakha yang bertambah. Di dalamnya Kala juga berterus terang akan perasaannya untuk Rakha, bagaimana lelaki itu mencintai Rakha terlepas dari hal-hal yang mampu sakiti dirinya. Di dalamnya Kala sampaikan kesediaannya untuk turut mendengar apa yang dirasakan Rakha dengan menyediakan kolom isian dengan pernyataan, ‘Rakha, after all I have said to you, please let me know about your feelings, okay? Kamu ngga perlu merasa terbebani dengan pilihan untuk menerima aku, kamu juga sangat boleh untuk menolak aku. We’re friends no matter what. Mau adanya status atau engga, as long as I know about your feelings clearly, aku bakal selalu sayang kamu. But please, I beg you, let me know about your feelings, kamu suka aku romantically atau engga.’

Rakha hanya membalas dengan apa yang ia tahu dan rasakan. Ia ceritakan bagaimana Kala sedikit banyak mengisi hari-harinya. Ia ceritakan rasa senangnya bisa berkabar dengan seseorang sampai dini hari tanpa bosan. Ia ceritakan rasa senangnya bisa mengenal Kala yang bisa menanggapinya untuk membahas apapun mulai dari hal random sampai ke ranah deep talk hanya berdua. Semua hal asing Rakha rasakan seiring ia mengenal Kala lebih dalam. Sayangnya, Rakha tak mampu bedakan batasan antara hubungan platonik dan romantis di antara keduanya.

Tiba saat Kala mengonfrontasi dirinya dengan kalimat, ‘Rakha, kamu tuh sebenernya suka sama aku ngga, sih?’ Lawan bicara Kala hanya terdiam sejenak dan membalas, I kinda did’ sebagai jawaban. Rakha benar-benar bingung apa jawaban yang tepat selain apa yang terlontar dari bilah bibirnya barusan. Pernyataan Rakha terasa seperti layangan putus yang melayang-layang entah sampai ke mana angin membawanya. Maka hari-hari setelah konfrontasi tersebut, Rakha merasa bahwa Kala mulai berubah. Kala tak lagi menanyakan tentangnya. Di tengah jauhnya jarak yang membentang, Kala mulai banyak membicarakan sosok asing yang sebelumnya tak pernah ada di antara mereka, terutama Kafarel Wiranaka. Lelaki tersebut sering Kala sebut dalam ruang obrolan mereka, membuat Rakha sedikit demi sedikit mulai menjauh dan seolah bersikap biasa saja. Rakha merasa bahwa Kala tak lagi memiliki perasaan yang sama, padahal niat Kala hanya mencoba untuk membuat Rakha cemburu buta. Sebab dari awal, Rakha tak pernah secara jelas menyatakan batasan antara keduanya. Sebab dari awal, Rakha tak pernah secara gamblang mengakui perasaan sayangnya kepada Kala. Maka dari itu, tak salah bukan jika Kala telaah hal tersebut sebagai penolakan halus dan kembali menganggap Rakha sebagai teman, bukan sebagai seseorang yang pernah ia damba?

Nyatanya dibandingkan cemburu, muak yang Rakha rasakan justru membuatnya melontarkan kata-kata yang tak sepantasnya. Masih terngiang di benak Rakha tatkala orang yang pernah ia cinta memenuhi ruang obrolan mereka dengan segala amarah yang terbendung, salah satunya, 'Tak ada seorang pun yang mau kamu sebut gampangan, murahan, bahkan kamu tuduh sana-sini mau hanya karena berusaha untuk membuat kamu cemburu, Rakhamiel. Termasuk aku, orang yang pernah sangat menghormati dan mencintai kamu'. Rakha tak menyangka bahwa perkataannya mampu membuat jarak di antara mereka semakin jauh—benar-benar membawa Kala ke ujung dunia—di luar jangkauan Rakha. Kala tutup segala aksesnya kepada Rakha. Kecewa menyeruak di dalam diri Kala, sampai-sampai Kala pinta Jinan dan Amel—teman mereka—untuk menegur Rakha yang sudah melampaui batas. Mungkin memang benar bahwa Rakha adalah tak lebih dari bajingan yang hanya berusaha mempertahankan egonya dengan melukai orang lain. Mungkin memang benar bahwa Rakha adalah sosok yang tak mampu membuat orang yang ia sayang merasa dicintai olehnya. Maka dari itu, sebisa mungkin ia tak mau berurusan dengan percintaan.

Mengingat apa yang ia lakukan di masa lalu membuat pemuda Rakhamiel semakin membenci dirinya sendiri. Ia berusaha tegakkan postur tubuhnya dan kembali memegang setir mobilnya yang tak sadar ia cengkeram kuat oleh kedua tangannya. Tatapan tajamnya tampak nanar, tanda bahwa emosi menyelimuti dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rakhamiel bawa mobilnya keluar dari area parkir dan melajukan kendaraannya ke persimpangan jalan raya yang tampak padat dan macet. Pikirannya mulai melayang kepada Wisha yang mengisi hari-harinya selama seratus sembilan puluh empat hari ini, menggali apa saja yang pernah Rakha lakukan untuk menyakitinya tanpa sengaja.

Di sela-sela penghindaran yang Rakha lakukan, Wisha muncul bagai oasis di tengah Gurun Sahara. Ia kembali ingat sosok Wisha yang cerdas luar biasa hingga mampu membuatnya segan untuk mengajak adik tingkatnya itu untuk sekedar berbincang. Sudah lama Rakha perhatikan keberadaan Wisha di dalam dinamika kelompok yang ia pimpin, pun yang bersangkutan turut hadir dan bertemu tatap dengannya di waktu senja pasca kegiatan orientasi kampus selesai. Wisha hadir sebagai sosok yang bersinar di bawah langit jingga, membuat cahaya lembut menerpa legam rambutnya, turut dipercantik ketika lelaki kecil itu menyisipkan helai rambutnya ke belakang telinga hingga membuat pipi tirus itu terekspos, pahatan Tuhan yang nyaris sempurna. Sayangnya semenjak hari itu, Rakha tak bisa bertemu Wisha lagi sebab perbedaan kesibukan keduanya. Yah, mungkin saja Wisha benar-benar oasis yang hadir sebagai ilusi di Gurun Sahara.

Namun takdir berkata lain. Dua tahun berlalu, tetapi keterkejutan besar menyambangi Rakha saat partisipan yang menjadi partner di kencan butanya bertukar username Instagramnya untuk berteman. Nyatanya, akun pemuda Janithralah yang muncul di berandanya. Rasa senang sedikit muncul di dalam pemuda Rakhamiel, membuatnya menggoda Wisha habis-habisan di ruang obrolan virtual mereka. Di sisi lain, Wisha malu setengah mati, terlebih saat ia mengingat bahwa ia menyebut tipenya secara spesifik saat mengisi formulir pendaftaran kepada Rakha. Padahal tadinya, Wisha ingin dapatkan partner dari universitas lain untuk melupakan Rakhamiel, akan tetapi justru dirinya yang terjebak dalam muara pertemuan dengan sosok yang ingin dilupakan.

Sejak insiden memalukan itu—setidaknya hanya bagi Wisha—keduanya menjadi lebih akrab dan mulai mengenal satu sama lain. Wisha paham betul bahwa Rakha sama sekali tak ingin berada dalam hubungan yang serius. So that, Wisha really mean it too. Wisha lakukan hal serupa dengan Rakha, tak lain tak bukan adalah masih dekat dengan beberapa orang yang pernah disukainya. Kalau Rakha saja bisa berkilah dengan mengucap, ‘Dia temen aku aja, aku cuma nganterin dia pulang supaya ngga berurusan panjang sama abang-abang kating,’ maka Wisha juga bisa melakukan hal yang sama. Rakha benar-benar dibuat frustrasi dengan akumulasi rasa cemburu yang ia punya acap kali Wisha selalu diantar oleh orang lain, berinteraksi intens dengan orang lain, bahkan tertawa bersama orang lain pula. Maka dari itu perlahan Rakha bangun batas yang tegas antara dirinya dengan orang lain. Rakha mulai bisa belajar untuk menjaga hati orang yang ia sayangi, pun Wisha yang kerap kali memantik api cemburu berkobar di hati Rakha mulai mengurangi sikap tarik ulurnya. Perlahan tapi pasti, keduanya berakhir pada keputusan untuk memberikan satu sama lain label kekasih.

Menurut Rakha, mengenal Wisha sedikit banyak mendistraksi pikirannya dari Kala. Wisha yang ia kenal dua tahun yang lalu adalah sosok yang ceplas ceplos, sarkas, keras kepala, tetapi menyenangkan dalam waktu yang sama. Mengenal Wisha lebih dalam membawa Rakha pada sudut pandang yang berbeda. Rakha bisa merasakan presensi Wisha yang perhatian tiap kali dekat dengannya. Rakha bisa merasakan presensi Wisha yang hangat dan nyaman ketika berada di dekatnya. Rakha bisa rasakan adrenalin mengalir deras di dalam tubuhnya ketika Wisha bermain tarik ulur saat ia dekati. Semua tentang Wisha benar-benar mendistraksinya dari Kala, Rakha yakin akan hal itu sehingga setelah tiga bulan pendekatan, ia mengajak Wisha untuk menjalin hubungan dengannya. Tetapi bukan Wisha namanya jika mudah untuk ditaklukkan. Wisha selalu menolak Rakha di setiap ajakannya untuk berpacaran. Berkali-kali Wisha tolak Rakha, sampai pada akhirnya Rakha harus sujud di depannya hanya untuk pinta Wisha menjadi miliknya. Mau bagaimanapun, Wisha masih manusia yang punyai kasih untuk pemuda Rakhamiel sehingga ia terima pinta lelaki untuk menjadi kekasihnya, tepat di hari ulang tahunnya yang kedelapan belas.

Mungkin memang benar bahwa pada akhirnya, Rakha tak lebih dari seonggok bajingan yang tak pernah mengerti cara mencintai pasangannya sebagaimana seharusnya. Baik Kala maupun Wisha memiliki caranya sendiri untuk mencintai Rakha, tetapi Rakha hanya mulai pahami caranya mencintai Kala dengan rasa bersalah. Entah sejak kapan, Rakha yang awalnya memandang Wisha sebagai oasis di tengah pilunya kehilangan Kala justru membuatnya memperlakukan dan mencintai Wisha selayaknya ia mencintai Kala. Rasa cintanya pada Wisha yang tadinya berakar pada kekaguman watak kini telah sepenuhnya bergeser makna. Permintaan maaf yang tak pernah sampai kepada Kala membuatnya dirundung rasa bersalah. Tiap kali waktunya ia habiskan bersama Wisha, rasanya Rakha harus membayarnya dengan beribu pinta maaf di dalam hati kepada Kala sebab ia merasa dirinya mengingkari Kala dengan mencintai Wisha.

Maka untuk mengurangi rasa bersalahnya, Rakha mulai meminta Wisha untuk melakukan macam-macam hal, mulai dari memainkan rubik hingga memainkan biola yang semula tak pernah Wisha kuasai. Semua hal yang Rakha pinta untuk Wisha adalah keahlian yang Kala miliki. Apapun tentang Kala ia selalu pintakan kepada Wisha. Ia ingin Kala hadir di antaranya dan Wisha sehingga ia tak perlu lagi khawatir Kala akan hilang. Rakha mulai melihat Wisha sebagai Kala dan seakan menghapus eksistensi Wisha secara utuh. Perlakuan tersebut disadari oleh Wisha yang rupanya menyimpan luka mendalam terhadap sang kakak sepupu.

Pernah Wisha ajukan protes terhadap hal-hal yang Rakhamiel beri untuknya. Dari dulu, selera Wisha dan Kala selalu berkebalikan. Lebih tepatnya, Wisha pernah mengaku dirinya dipaksa berkebalikan karena kakek tak pernah suka dengan Wisha yang ia anggap selalu merebut kesukaan Kala. Maka tiada hal lain selain Wisha yang selalu mengalah dan kalah. Apa yang Wisha suka adalah hal yang Kala benci, begitu pula sebaliknya. Maka ketika pertama kali Rakha pesankan kue red velvet beserta taro milk tea untuk Wisha, sisi ceplas ceplos Wisha hadir dan menyambar, ‘Kak Riel, for your information, aku ngga pernah suka sama taro milk tea dan kue red velvet. Aku benci. Lain kali, tolong pesankan saja tiramisu dan seasalt cloud matcha latte less sugar atau aku bakal tolak mentah-mentah.’

Kiranya tegur Wisha tak pernah benar-benar Rakha camkan di dalam pikirnya. Rakha selalu saja lupa, lupa, dan lupa sampai mereka pernah bertengkar hebat akan hal ini, berakhir Rakha bersujud di kaki Wisha dan berjanji untuk takkan mengulangi. Kendati demikian, janji Rakha seolah hanya menggantung di udara, tak pernah ia cengkeram kuat-kuat dan tanamkan hal itu dalam benaknya. Pikirnya, kalaupun nanti tak sengaja diulangi, aku hanya tinggal memohon ampunan lagi. Tak ada yang bisa Wisha lakukan selain memendam semuanya seperti halnya yang biasa ia lakukan. Rakha tak benar-benar mengetahui bahwa Wisha mati-matian bertahan untuknya. Setidaknya, rasa sayangnya kepadanya saat itu masih melebihi logika. Tak heran jika mau diulang ratusan kalipun, Wisha tetap akan memaafkan Rakha.

Semua terlihat sebagaimana mestinya sampai pada satu waktu Rakha keceplosan menceritakan momen ia mendapatkan coklat dari orang tak dikenal beserta surat yang menurutnya klise dan membosankan. Rakha dengan jenaka menertawai keisengannya dengan menyuruh kembarannya, Mikhaili, untuk membalas surat itu seolah Rakha sudah punyai kekasih. Semua itu rupanya diketahui oleh Wisha yang rupanya sudah menguping pembicaraan Rakha dengan teman-temannya saat ia hendak mengantarkan bekal untuk kekasihnya—atas permintaan lelaki itu tentunya—siang itu. Tanpa Rakha ketahui bahwa kala itu hati Wisha hancur berkeping-keping. Rasanya Wisha ingin akhiri ini semua secepatnya, tetapi hatinya seperti tak membolehkannya untuk putuskan sang kekasih. Bagaimana kalau nanti ia benar-benar kehilangan Rakha? Bagaimana kalau nanti orang yang ia perjuangkan mati-matian justru kembali pada sosok yang ia benci? Bagaimana kalau nanti pada akhirnya ia kalah dari Kala lagi? Dengan demikian, Wisha putuskan untuk tetap mempertahankan Rakha, walaupun pada nyatanya ia harus mulai merasakan jati dirinya terkikis habis secara perlahan.

Tak pernah Wisha sangka ia berada pada puncak kekecewaan tepat di malam ulang tahun sang kekasih yang kedua puluh. Wisha lihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa sang kekasih memeluk erat kakak sepupu yang diam-diam ia benci, seolah apa yang Wisha usahakan selama ini memang tak pernah berarti. Mau sampai kapan ia terima Rakha? Mau sampai kapan jati dirinya dirampas? Mau sampai kapan Wisha bertahan dan kehilangan dirinya? Kali ini, belas kasih yang tersisa di dalam diri Wisha harus sirna. Kali ini, demi dirinya sendiri, ia harus bangkit dan hapus eksistensi Rakha dari hidupnya. Kali ini, ia harus berani untuk rebut kembali Wisha yang lama. Kali ini, ia harus tega untuk berpisah dengan kekasihnya. Maka dari itu, Wisha harus berhasil merebut kembali jati dirinya di esok pagi, walaupun kini rasanya belati masih betah untuk bersemayam di hati.

Sialan. Kalau saja kesadaran Rakha tak kembali pada raganya, mungkin saja dirinya akan habis dicaci maki oleh pengendara di belakangnya. Lampu lalu lintas dengan nyala hijau sudah pada hitungan mundur kurang dari sepuluh detik saat akhirnya Rakha kembali melajukan mobilnya dan berusaha fokus ke jalanan yang sialnya semakin padat bak pikirannya saat ini. Mobilnya sudah entah membawanya ke mana, sebab saat ini fokus Rakha benar-benar buyar dan digantikan dengan rasa bersalah yang teramat berat membebani benak, hati, dan pikirannya. Rakha frustrasi setengah mati, pipinya sudah basah oleh air mata yang sialnya tak mau berhenti jatuh dari ujung matanya. 'Rakhamiel, you are such a bastard', batinnya. Padahal baru tadi malam ia mantapkan dirinya untuk benar-benar melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang orang yang sudah temukan hidupnya di orang lain, bukan dirinya. Rakha usak kasar rambutnya, kembali mencengkeram kemudi dan menyetir ke sembarang arah sampai akhirnya ia kembali ingat-ingat apa yang terjadi padanya dan hidupnya yang mengalami perubahan secara drastis hanya dalam beberapa jam.

Di sisi lain, kesadaran Rakha sebenarnya sudah mulai muncul tatkala Kala membuka blokir kontaknya dua hari sebelum hari ulang tahunnya. Saat itu Kala mengatakan bahwa ia telah memiliki kekasih. Nama kekasih Kala masih sama dengan nama yang selalu Kala gaungkan di ruang obrolan mereka sebelumnya. Tujuan Kala menghubungi kembali Rakha adalah untuk menegaskan bahwa perasaannya kepada Rakha sudah benar-benar usai. Kala ingin berdamai dengan hal-hal yang pernah menyakitinya di masa lalu, termasuk menerima permintaan maaf dari Rakha dan menerimanya kembali sebagai sahabat. Mengetahui hal tersebut, Rakha dengan hati lapang mengajak Kala untuk berkunjung ke rumahnya, tentu didampingi sang kekasih. 

Lusa malamnya, kedua sejoli itu tiba di kediaman pemuda Rakhamiel. Air mata tak kuasa bertahan di kelopak mata bawah Rakha setelah melihat kembali presensi Kala di hadapannya. Rakha memeluk Kala dengan erat, merasakan lelaki cantik  itu di dalam rengkuhnya untuk yang pertama dan terakhir kali. Semua atas persetujuan pemuda Wiranaka tentu saja. Lelaki itu bahkan turut menepuk pundak Rakha, seolah memberikan kekuatan untuk melepas Kala sepenuhnya. Selesai dengan pelukan itu, Rakha kembali tatap kedua bola mata Kala yang sempat hilang dari ingatannya. Masih dengan tatapan yang sama, tetapi dengan perasaan yang sudah jauh berbeda. Melihat bahagia terpatri di raut wajah Kala, Rakha merasa lega sekaligus turut senang dengan hubungan Kala dan Naka. Perasaan bersalahnya kepada Kala luruh oleh pelukan Kala. Beribu terima kasih ia ucapkan kepada Kala yang sudah bersedia memaafkannya dan kepada Naka yang sudah bersedia membiarkan Rakha selesai dengan perasaannya. Tak lama setelah kedua sejoli itu pergi dari kediamannya, seketika ia ingat kembali eksistensi Wisha sebagai kekasihnya. Kini, Rakha mulai bisa melihat Wisha sebagai dirinya sendiri. Kini, Rakha mulai belajar untuk kembali mencintai Wisha sebagai dirinya sendiri. 

Naasnya, Rakha tak sengaja pesankan Wisha makanan yang Kala suka. Demi Tuhan, Rakha sama sekali tak sadari hal tersebut sampai tiba-tiba Wisha menyampaikan maksudnya di kafe pagi itu. Pada akhirnya, hubungan Rakha dan Wisha tak bisa diselamatkan, pun dengan Rakha yang kalah telak pada semua hal yang Wisha ucapkan. Benar, baru kali ini ia rasakan perihnya Wisha. Benar, baru kali ini ia menerima sebutan bajingan tersemat pada dirinya. Semua hal yang pernah Wisha rasakan benar-benar tertuang di tanggal delapan belas September pagi itu. Kalau seluruh kisah Rakha dan Wisha berawal dari hari ulang tahun Wisha, maka Rakha harus terima jika kebersamaan keduanya harus berakhir tepat di hari ulang tahunnya.

Rakha bawa mobilnya ke arah jalan tol. Ia putuskan untuk pulang setelah sekian lama ia menghindar dari keluarganya yang tak pernah ia sambangi setelah hampir tiga tahun berkuliah di Yogyakarta. Rakha hanya ingin pulang saat ini, memeluk Mikhaili dan menceritakan semua perbuatan sampahnya kepada saudaranya. Mungkin saja tamparan Mikhaili bisa redakan rasa bersalahnya saat ini. Rakha hanya ingin pulang saat ini, memeluk Bundanya yang sudah lama menunggunya untuk kembali dari segala penghindaran yang entah mengapa Rakha lakukan. Rakha hanya ingin pulang, memesan tiket pesawat dan pergi bersama Mikha dan Bunda untuk mengunjungi Ayah yang tak pernah benar-benar hadir di hidupnya dengan alasan mencari nafkah ke Jepang. Rakha hanya ingin tenang dan merasa aman dari segala emosi yang mencekiknya di tenggorokan, emosi yang mengaduk isi perutnya sampai mual luar biasa, emosi yang membuat Rakha ingin segera pecahkan kepalanya lantaran pusing yang mendera.

Omong-omong, Janithra Wisathya benar-benar menepati ucapannya. Selepas kepergiannya dari kafe langganan Rakha pagi itu, ia benar-benar memblokir semua akses sang mantan kepadanya sore harinya. Mulai dari kontak pesan, media sosial—dengan memblokir serta mengunci akunnya—sehingga pemilik nama Rakhamiel tak perlu susah-susah untuk menghapus Wisathya dari hidupnya. Lelaki yang dua tahun lebih muda dari Rakha itu terbilang sangat teguh pendirian dibandingkan orang-orang seusianya. Wisha teramat paham untuk mempertahankan harga dirinya. Wisha teramat paham kapan untuk melepas sesuatu yang tak mampu membuatnya bahagia. Wisha teramat paham untuk melindungi dirinya sendiri dari kecewa yang semakin menggerogotinya. Pun Rakha juga tak berhak untuk marah atas apa yang dilakukan Wisha, tentu sebab semua ini memang salahnya sendiri.

Ditinggalkan oleh dua orang yang pernah mencintainya membuat hampa kembali menyeruak di dalam diri Rakha. Berawal saat kakak sepupu sang mantan—yang pernah mengungkapkan perasaannya tetapi tidak ia berikan kepastian—meninggalkannya karena sikap kekanakan Rakha yang melampaui batas. Kepergian Kala membuat lubang di hatinya kian membesar dan membuatnya kosong melompong tak bermakna. Rakha pikir dengan menyibukkan dirinya di berbagai kegiatan organisasi dan kepanitiaan, ia mampu menghapus Kala dari benaknya. Namun nihil, bayang-bayang Kala senantiasa ada di mana-mana. Maka dengan mencoba peruntungannya, ia daftarkan dirinya ke dalam acara kencan buta secara virtual. Tak disangka, ia bertemu kembali dengan adik tingkat dari gugus orientasi kampus yang pernah ia bimbing—yang ternyata adik sepupu Kala—tak lain dan tak bukan adalah Wisha. Bodohnya, Rakha selalu menyia-nyiakan kesempatan untuk mencintai mereka dengan caranya sendiri. 

Rakha ingin kembali ke Okinawa, menghabiskan jatah bolosnya yang tak seberapa untuk nikmati hamparan pasir putih di sana. Rakha ingin kembali melihat lazuardi bertemu dengan sang laut di tengah cerahnya hari, harap-harap perasaannya bisa membaik dari sengsaranya hari ini. Ia inginkan amis makanan laut menyapa indera pengecapnya, harap-harap bisa gantikan pahit yang membakar lidahnya hari ini. Semoga segala perasaan bersalah ini bisa segera hilang. Semoga segala rindu menggebu yang diam-diam Rakha simpan untuk Wisha bisa menghilang. Sebab kata Bundanya, waktu akan menyembuhkan. Semoga perkataan Bundanya seperti doa yang senantiasa ia lantunkan untuknya dan Mikha. Pun dengan Ayah yang ia harap bisa sembuhkan lukanya dengan eksistensinya yang sudah lama ia damba untuk menyayangi sebagaimana semestinya.

Tiga hari sudah Rakha lampaui sejak perpisahannya dengan Janithra Wisathya. Rakha benar-benar pergi ke Okinawa bersama kakak kembar dan Bundanya. Bersama Ayahnya pula, ia kunjungi pantai yang dulu pernah ia jejaki. Senjanya masih sama, pasir putihnya masih sama, laut tenangnya masih sama. Ia menggenggam pasir putih di sekitarnya dan sibuk dengan pikirannya. Bagi Rakha, Kala dan Wisha seperti hamparan pasir pantai yang berusaha ia raih dengan genggaman tangannya. Keduanya terlepas dari genggamannya yang terkadang terlalu erat atau bahkan terlalu renggang. Ketika telapak tangannya terlalu renggang, pasir akan dengan mudah lepas dari genggamnya, sama seperti Kala. Ketika telapak tangannya terlalu erat, pasir juga akan lepas dari sela-sela ruang yang menjebaknya, sama seperti Wisha. Kedepannya, Rakha harus mampu menggenggam pasir dengan kedua telapak tangannya. Supaya tak ada lagi yang tersakiti karenanya. Supaya tak ada lagi yang merasa rendah diri karenanya. Supaya tidak ada siapapun lagi yang hilang darinya.

Sehabis ini, Rakha perlu sibukkan dirinya lagi

Sehabis ini, Rakha perlu tata dengan rapih perasaannya lagi

Sehabis ini, Rakha harus benar-benar berbenah diri

Series this work belongs to: