Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Anonymous
Stats:
Published:
2026-05-19
Words:
3,230
Chapters:
1/1
Comments:
11
Kudos:
51
Bookmarks:
4
Hits:
354

into you

Summary:

“You love me too, right?” tanya Keonho dengan lirih, di antara deru nafas terengah yang saling bersambut begitu mereka melepas ciumannya.

Meski Keonho jelas dapat merasakan dari bagaimana Seonghyeon balas menciumnya, tapi ia juga tetap perlu untuk mendapatkan affirmasi secara verbal.

“I do,” jawab Seonghyeon pasti, yang kemudian disusul dengan sebuah kecup singkat tepat di bibir Keonho.

atau; mereka berdua dijodohkan tapi sama-sama gengsi buat saling mengakui perasaan.

Work Text:

Lelaki dengan tubuh atletis yang begitu proporsional itu dikenal bernama lengkap Ahn Keonho, dan kini ia tengah mengamati tiap inci sudut ruangan dalam hunian pribadinya itu dengan seksama.

Something is off, pikirnya. Ia merasa seperti tidak sedang jadi satu-satunya orang yang ada di dalam hunian ini. Tapi rasanya cukup mustahil kalau sampai ada orang bertamu ke sini, sebab Keonho baru saja membeli apartemen ini sekitar sebulan yang lalu dan ia yakin kalau informasi ini juga tidak pernah dibocorkan pada siapa pun.

Keonho melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya dengan cukup kasar. Merasa tidak nyaman karena satu alasan yang langsung melintas di pikiran.

Apakah mungkin ada pencuri masuk? Oh, shit. Umpatnya keras dalam hati. Sia-sia sudah ia keluarkan nominal sampai dua puluh satu milyar hanya untuk satu unit penthouse yang ternyata sistem keamanannya bisa diterobos dengan semudah ini? Keonho lantas melirik jam tangan mahal seharga ribuan dollar di pergelangan tangannya. And, God. Ini bahkan baru jam sepuluh malam, tapi dirinya sudah akan kebobolan.

Tolong ingatkan Keonho supaya lain kali lebih teliti dan berhati-hati untuk tidak lagi tertarik membeli tempat murah seperti ini.

 

Satu langkah.

 

Dua langkah.

 

Tiga langkah.

 

Kemudian ditambah langkah lain yang dengan sangat pelan dan hati-hati dilangkahkan ke arah ruang kamar utama, kamar pribadinya. Itu menjadi tujuan yang pertama sebab sebuah insting, yang kemudian didukung oleh fakta ketika semakin ia mendekat semakin ia bisa lihat ada temaram lampu menyala dari dalam celah pintu yang sedikit terbuka di sana. Seingatnya, Keonho sudah menutup rapat pintu kamar pribadinya itu dan ia juga tidak menyalakan lampu apapun sejak terakhir kali dirinya meninggalkan tempat ini.

Lalu pintu kamar dibuka pelan supaya semakin lebar, dan hal pertama yang Keonho tangkap adalah aroma familiar dari parfum yang secara tanpa sadar telah tersimpan baik di memorinya. Netranya pun membola, lantas dengan segera ia edarkan pandangan ke setiap sudut ruang kamar sampai apa yang ia tangkap selanjutnya begitu sukses membuat sepersekian detik kerja otaknya jadi berhenti. Situasi ini bahkan terasa lebih menakutkan dari kemungkinan Keonho harus berhadapan dengan seorang kriminal.

“Apa-apaan?” tanyanya kaget. Pandangan sama sekali tidak beralih dari sosok mungil yang sedang duduk membelakanginya di kursi meja rias yang berjarak sekitar satu meter dari hadapan Keonho berdiri saat ini. “Kenapa bisa kamu ada disini?”

Tapi sosok itu tidak bergeming, ia tetap fokus pada aktivitas yang sedari awal sudah dilakukannya; melakukan skincare routine di paras cantiknya, seolah eksistensi Keonho tidak ada artinya.

Siapa pun tolong Keonho sekarang. Lebih baik dirinya berhadapan dengan pencuri saja sekalian, daripada ia harus menghadapi ini semua.

Kemudian kontak mata terjalin di antara keduanya selama beberapa detik melalui pantulan cermin, sebelum akhirnya si lawan di seberang sana memutus kontaknya duluan. Lantas pandangan Keonho pun jadi berakhir jatuh dan terfokus pada bagaimana sosok itu ternyata mengenakan salah satu kemeja putih miliknya yang entah kenapa kini terlihat cukup kebesaran untuk dipakai oleh sosok itu. Panjangnya sebatas setengah paha dan menutupi celana pendek yang dikenakannya, lengan kemeja dilipat asal, serta tiga kancing teratas dibiarkan terbuka sehingga memberikan lebih banyak ruang untuk kulit mulus dan indah di balik kain kemeja itu tertampil dengan begitu menggoda.

Tanpa sadar Keonho menelan ludahnya sendiri. “I’m asking you a question, Eom Seonghyeon,” ucapnya kemudian, penuh penekanan. Beruntungnya, ia masih punya cukup kekuatan untuk mengendalikan diri.

Setelah dipanggil dengan nama lengkapnya begitu, sosok itu akhirnya memberikan reaksi signifikan seperti yang Keonho harapkan. Ia berbalik, posisi duduknya kini menjadi berhadapan secara langsung dengan lelaki yang kini masih berdiri di depannya. Kedua tangan terlipat di depan dada, dan sebelah kaki yang lantas ditumpukan di satu kaki lainnya—menampilkan pemandangan kaki indah yang mulus tak tertutup helai apa pun dari setengah paha sampai ujung kakinya.

Eom Seonghyeon duduk dengan angkuh. Bibirnya mengulas senyum kecil yang terlihat seksi, dan Keonho tidak bisa untuk menampik kalau dirinya sudah terdistraksi sejak tadi.

“Welcome home, mon fiancé,” ucap Seonghyeon dengan tenang, seolah ia tidak tiba-tiba muncul entah dari mana dan tiba-tiba menyambut kepulangan Keonho seperti mereka adalah pasangan manis dan harmonis.

Apa lagi ini? Pikir Keonho mulai pening. Belum juga satu kejanggalan berhasil ia pecahkan, kini sudah muncul lagi kejanggalan lain yang muncul tanpa berhenti. Kenapa ini semua tiba-tiba terjadi padanya? Keonho mengurut kecil pangkal hidungnya. “Are you drunk or something?” tanyanya tak habis pikir.

Seonghyeon ini, kalau mereka sedang berdua seperti sekarang biasanya dia enggan untuk mengakui status hubungan mereka. Sejak awal sepertinya sudah ada semacam kesepakatan verbal secara tidak langsung kalau keduanya akan mengabaikan status pertunangan mereka.

A classic political marriage arrangement. Keluarga Keonho adalah konglomerat yang menguasai satu pertiga perekonomian negara, dan ayah Seonghyeon adalah salah satu menteri ternama dengan reputasi terbaik yang punya pengaruh besar di mata masyarakat. Maka menyatukan kekuatan antara dua keluarga ini jelas adalah satu keuntungan yang kesempatannya tidak akan muncul dua kali.

“I should be the one asking that,” jawab Seonghyeon balas menatap Keonho, kepalanya mendongak tak gentar meski lelaki yang tengah bediri itu kini menunduk menatapnya seolah ia ingin mengintimidasi dirinya. “Are you drunk? Kan di antara kita, cuma kamu satu-satunya yang habis pulang dari buang-buang waktu dengan party abis-abisan di club malam punya temen selebriti kamu itu.”

Lagi. Keonho kembali dibuat merasa janggal. “How did you know?”

Seonghyeon mendengus ringan, kemudian bangkit dari duduknya. Pandangannya tidak lepas untuk tetap balas menantang Keonho. “Jadi gimana party-nya? Are you having fun, mon fiancé?” sarkasnya.

“Ain’t gonna answer your question, before you answer mine,” tegasnya. “Gimana bisa kamu tahu?”

Mulai jengah dengan persistensi yang Keonho tunjukkan, Seonghyeon pun berdecak. “Yang punya banyak teman dan koneksi di dunia ini gak cuma kamu aja ya, Young Master Ahn. Gak susah buat aku untuk bisa tahu informasi sereceh itu.”

“Oh? So are you invited? Kamu datang ke sana dan lihat sendiri? Atau…?”

“Now it’s your turn to answer my question.”

“Fine.” Lantas Keonho menunjuk pada jam tangan yang masih melingkar di pergelangannya. “Ini masih jam sepuluh dan aku sudah ada di sini sekarang. Do you think I am having fun, or I am having fun? balasnya.

Rasanya sudah seperti jadi habitat mereka, ketika sedang berdua maka tidak ada yang akan terjadi selain saling melempar sarkas pada satu sama lainnya.

“Tapi tadi gak kelihatan begitu tuh?”

“So you come.” Keonho tersenyum kecil, merasa puas karena Seonghyeon tanpa sadar menjawab rasa penasarannya. “What did you see then? I’m having fun and enjoying the whole party?”

“That’s my question,” tegas Seonghyeon. “Are you having fun letting another person sit on your lap? Flirting and such. Seru gak? Seru ya pasti?”

Oh. This is getting interesting. “Eom Seonghyeon,” panggil Keonho yang semakin dibuat penasaran. “Kamu cemburu?” tebaknya kemudian.

Ha, sial. Seonghyeon lupa dengan siapa ia tengah berhadapan. Keonho ini, dia sudah terlatih untuk punya kemampuan menganalisa yang cermat dan kepekaan yang tinggi. Dia tidak bisa punya pertahanan yang lemah ketika banyak orang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya bahkan mengincar untuk menjatuhkannya. Keonho harus selalu bisa membaca pergerakan, minimal dua langkah lebih cepat dari lawannya. Maka sekecil apapun Seonghyeon lengah dalam menutupi ekspresi dan menekan emosinya, Keonho pasti akan dengan mudah menyadarinya.

“Me? Jealous?” Tidak, tidak. Seonghyeon enggan untuk mengaku kalah. Ia harus mempertahankan harga dirinya sampai akhir. “In your fucking dream, Keonho.”

Memang dasar aneh. Bukannya terjebak dalam hubungan harmonis yang romantis, sepasang tunangan ini malah cenderung kompetitif satu sama lainnya seolah mereka tengah berlomba dalam permainan yang justru mereka ciptakan sendiri.

“Oh. You’re a such a terrible liar, Seonghyeon.”

“I am not.”

“Yes you are, Seonghyeon.” Keonho enggan mengalah. Tentu saja. “Dan kamu cemburu. Admit it.”

“You’re the one who should admit everything first,” balas Seonghyeon mendesak. Ia masih menyimpan satu senjata pamungkas yang sepertinya mampu membunuh salah satu, atau bahkan mereka berdua sekaligus. Fuck it. “Kamu suka sama aku, ya? Kamu tertarik,” tegasnya.

God damn it. Keonho membeku di tempat, tidak sedikit pun memperhitungkan kalau dirinya akan terjebak dalam situasi ini; ditanya sampai tepat sasaran seperti ini. Pikirnya, selama ini ia sudah berhasil menyembunyikan perasaan yang sebenarnya baru ia sadari telah muncul belakangan ini.

“Oh, Seonghyeon. C’mon???” Keonho juga enggan kalah, atau kalaupun harus kalah maka tidak akan ia biarkan dirinya kalah dengan mudah tanpa mendapatkan keuntungan apa-apa. Telunjuknya terangkat untuk merapikan ujung poni rambut Seonghyeon yang sudah panjang sampai hampir menutupi mata cantiknya. Satu aksi sederhana, sukses buat pupil si empunya bergetar—tanda kalau ia cukup dibuat ambyar. “You’re pretty, cute, and funny. A genius. Kamu hampir punya semua hal yang banyak orang impikan. Sekarang coba kamu pikir, siapa yang mungkin enggak akan tertarik sama kamu?”

“Ah.” Seonghyeon mengangguk-angguk kecil. “So you really have an interest in me, huh?” tantangnya.

And, fuck it. It’s now or never. Toh, Keonho sudah masuk perangkap ‘kan? Menjadi kalah juga sudah masuk dalam perhitungan. Lalu hal apa lagi memangi yang tersisa dan bisa ia pertahankan? Lagi pula, peluang untuk mengembalikan hubungan mereka supaya berada pada jalur yang seharusnya itu juga ada. Mana tahu mereka sungguhan berjodoh ‘kan?

“Well, if you really think so... try to guess, then?” tantangnya balik. “Dalam skala satu sampai sepuluh, memangnya udah sebanyak apa aku tertarik sama kamu?”

“Delapan.”

“Delapan?”

“Kenapa? Masih kurang?” Seonghyeon menyeringai kecil, sedikitnya ia tengah merasa menang sekarang. “Harusnya dikasih sembilan ya? Atau sembilan koma lima? Koma tujuh?”

“Wow. Seems to me, someone is overly confident out here. No?”

“Then you explain. Buat apa beli apartemen atas namaku di sini? Lokasinya cuma sepuluh menit dari kantor aku, bahkan sampai sandi pintunya pakai tanggal lahir aku yang formatnya cuma dibalik aja?”

Telak. Di titik ini sebenarnya Keonho sudah kalah telak. Tidak ada lagi sisa ruang baginya untuk mengelak. “Kenapa bisa kamu tahu semua itu?”

“Jangan alihkan pembicaraannya. Itu gak penting sekarang. We can talk about that later,” elak Seonghyeon. “Jadi aku kasih nilai delapan itu masih kurang, atau enggak? Atau memang harusnya di atas sembilan? So, on what scale do you really have interest in me?”

Dan Keonho justru malah menggoda Seonghyeon dengan tak tahu malunya, “Yang sabar dong, Cantik…”

“I hate you,” hardik Seonghyeon kemudian. Mood-nya seketika menjadi buruk karena ia merasa Keonho terus-terusan mempermainkannya  sejak awal. “Kalau memang gak mau jawab, then you better shut up and get outta here?!”

“Oke. Hahaha…” Tawa Keonho mengudara, dan Seonghyeon mati-matian untuk tidak menampar bibir menyebalkan itu. “Galak banget sih?”

Dan Seonghyeon sudah tidak tahan ada berlama-lama berdua dengan Keonho sekarang. “Pergi gak? Aku malas lihat muka kamu.”

“Wow. Kamu serius baru aja ngusir aku dari apartemenku sendiri? Mana bisa begitu?”

Seonghyeon menggeleng, sambil berkacak pinggang. “Nope. This is mine. Apartemen ini tertulis atas nama Eom Seonghyeon, bukan Ahn Keonho.”

“Apartemen ini dibeli pakai uang Ahn Keonho, bukan Eom Seonghyeon.”

“Perhitungan banget? Ngapain juga akhirnya pakai atas nama aku, kalau kamu ujungnya juga pelit begini?” protes Seonghyeon tidak habis pikir. None of them are realized, they both sounds like an old married couple who bickered over unnecessary things right now. “Lagian harganya juga cuma dua puluh milyar aja.”

“Dua puluh satu milyar, Seonghyeon,” koreksi Keonho.

“Beda sedikit do—aduh, sumpah ya. Kamu nih udah ngeselin, pelit banget pula. Pergi gak?!” usirnya lagi, kali ini benar-benar terdengar sudah sangat jengkel.

“Kalau aku diusir sekarang, kamu mungkin jadi enggak akan pernah tahu jawaban atas seberapa besar aku tertarik sama kamu. Are you sure you want me to leave now?”

“Just tell me, then?!” Seonghyeon sungguhan gregetan. Ia tidak mau menampik rasa penasarannya, karena menurutnya sekarang mereka sudah di titik dimana dirinya lah yang akan memenangkan semua permainan ini. “Kalau kamu masih tetep nyebelin gini, yaudah mending kamu pergi. I don’t give a fuck about your interest anymore,” ancamnya kemudian.

Keonho tersenyum puas. Kini telunjuknya mengacung, bergerak maju mundur sebagai gestur untuk meminta Seonghyeon supaya mau semakin medekat padanya. “Sini maju. Deketan lagi.”

Dengan sisa kesabaran yang hanya tinggal sedikit, Seonghyeon menurut. Matanya berotasi jengah begitu ia selesai melangkah ke depan sampai ujung ibu jari kakinya bersentuhan dengan milik Keonho. “Puas?” tanyanya galak.

Keonho menggangguk. “Ok now kiss me. C’mon.”

“E—?! Excuse me, what?!”

Keonho menjepit dagu Seonghyeon dengan ibu jari dan telunjuknya. Matanya menatap intens pada paras cantik di hadapannya, pandangannya jatuh turun dari kedua bola mata menuju bibir si cantik. “Kiss me, Seonghyeon. And figure it out all by yourself,” godanya.

And there’s no turning back. Kalau Seonghyeon menolak, Keonho mungkin akan berpikir ia seperti seorang remaja SMA lugu yang tengah malu-malu kucing menghindar dari crush-nya sendiri karena baru pertama kali dirayu. Maka dalam satu tarikan nafas, Seonghyeon memantapkan hati. Lantas ia singkirkan tangan Keonho dari dagunya, dan Keonho jelas jadi sangat mengantisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kemudian Seonghyeon coba semakin mengikis jarak di antara keduanya. Namun Keonho dan jiwa usilnya bergerak lebih cepat, ia dengan kurang ajarnya justru menegadahkan kepala sehingga bibir Seonghyeon hanya berakhir mencium sudut bibirna saja.

Seonghyeon langsung memaki, “Asshole.”

Tawa Keonho kembali mengudara, dan Seonghyeon sudah berada di titik batas kesabarannya. Tubuhnya lantas hendak berbalik pergi tapiㅡ

Grep!

ㅡdalam satu tarikan, Keonho bergerak lebih cepat dengan melingkarkan satu lengannya begitu sempurna di pinggang Seonghyeon, membuat tubuh keduanya jadi tidak mengenal apa itu yang namanya jarak.

“Seonghyeon, sorry. Seems like you won't find the answer,” ungkap Keonho. “Aku enggak tertarik sama kamu.”

Seonghyeon mengigit sudut bibirnya—mengalihkan rasa sakit yang langsung menyeruak di dalam dadanya begitu ia dengar ucapan Keonho. Kedua tangannya terkepal erat sampai buku-buku jarinya memutih. “Ahn Keonho, you fucking asshole,” makinya sekali lagi.

“Interested in you? No, I am not,” tegas Keonho sekali lagi. “But I surely am in love with you,” koreksinya kemudian.

Dan Seonghyeon sama sekali tidak diberi ruang untuk bereaksi, ketika satu lengan Keonho yang lain yang sejak tadi menganggur itu seketika langsung meraih tengkuk Seonghyeon dan membawanya ke dalam sebuah ciuman.

Ciuman itu tidak berlangsung lama karena Keonho kemudian memutus kontaknya duluan. Rangkulannya di pinggang Seonghyeon pun terlepas, begitu pula dengan tangan yang berada di tengkuknya. Lantas kini kedua tangan itu berada di kedua sisi paras cantiknya, menangkup hangat sambil ibu jarinya mengusap lembut pipi yang entah sejak kapan sudah terhiasi rona cantik kemerahan.

Sangat sulit bagi Keonho untuk mengendalikan dirinya sekarang, sampai secara tanpa sadar ia menunduk lagi hanya untuk mengecup manis sekilas di bibirnya lagi.

Seonghyeon is just so pretty. He’s too hard to resist.

Sementara Seonghyeon sendiri akhirnya makin larut dalam suasana, terhanyut dalam nikmat dari sentuhan yang Keonho berikan. Kedua kelopak matanya tertutup, sementara tangannya bergerak menurut insting—naik ke atas sampai berhenti di dada yang lebih bidang, kemudian meremat permukaan kerah jas yang bahkan belum sempat lelaki itu lepaskan.

Tangan Keonho pun bergerak turun ke rahang. Ibu jarinya sengaja menyentuh lembut permukaan bibir bawah Seonghyeon, mengirimkan sinyal supaya si yang lebih muda mau beri izin untuk kembali balas menciumnya. Tentu saja, Seonghyeon tidak punya pilihan selain menurut sebab sejak awal ia sudah terhanyut. 

Ciumannya masih terasa ringan dan manis, sebagaimana ciuman mereka sebelum ini. Tapi kemudian semakin lama waktu bergulir, semakin keduanya terbuai dalam nikmat dan nafsu sehingga pangutan mereka sukses berubah menjadi semakin dalam dan menuntut.

“Hmhh—“

Satu lenguhan berhasil lolos dari bibir manis yang lebih muda. Keonho seperti tahu bagaimana ia harus menciumnya, dan kepalanya dibuat pusing karenanya. Kakinya melemas, seiring dengan bagaimana ia bisa rasakan hangat telapak tangan Keonho yang bergerak menelusur turun ke leher dan bahunya. Entah kapan pula kini satu kancingnya kemejanya yang lain telah ikut terbuka lagi, memberikan lebih banyak ruang bagi Keonho untuk terus menelusuri kulit manis di bawah telapak tanganya dengan lembut dan sensual.

Sementara bagi Seonghyeon, ada tenang yang bisa ia rasa dari bagaimana Keonho menyentuhnya. Rasanya seperti air di padang oasis yang seketika membawa kesejukan; segala pikiran negatif dan kekhawatirannya sial Keonho kini telah menguap begitu saja entah kemana.

Keonho tahu bagaimana harus menciumnya, ia tahu bagaimana menyampaikan perasaan bahwa seluruh perhatiannya hanya terpusat pada Seonghyeon yang kini tengah disentuhnnya.

It’s you. It’s always been you.

“You love me too, right?” tanya Keonho dengan lirih, di antara deru nafas terengah yang saling bersambut begitu mereka melepas ciumannya.

Meski Keonho jelas dapat merasakan dari bagaimana Seonghyeon balas menciumnya, tapi Keonho juga tetap perlu untuk mendapatkan affirmasi secara verbal.

“I do,” jawab Seonghyeon pasti, yang kemudian disusul dengan sebuah kecup singkat tepat di bibir Keonho.

Keonho tidak kuasa menahan lagi gemasnya maka ia mengeratkan rangkulannya di pinggang Seonghyeon yang sejak tadi memang belum terlepas, lantas satukan dahi keduanya untuk kemudian malah menggesekkan ujung hidungnya ke ujung hidung Seonghyeon dengan gemas, buat si empunya jadi terkikik geli.

Tak lama setelahnya Seonghyeon melepas rangkulan Keonho, untuk kemudian ia berusaha melepas jas Keonho kenakan. “Jadi mulai sekarang, jangan berani-beraninya kamu biarin orang lain buat ngegodain bahkan sampai duduk di pangkuan kamu lagi ya. Aku marah.”

Keonho tersenyum kecil seraya ia bergerak memudahkan supaya jas itu lebih cepat terlepas. “Enggak lah. I’ve got you already. I don’t need anyone else.” Dan jawaban itu sukses Seonghyeon tersenyum puas, begitu kontradiktif dengan Keonho yang masih belum cukup puas. Maka ia bertanya kembali, “Jadi tadi itu kamu beneran cemburu ya?” 

Jas Keonho kini sudah berhasil dilepas Seonghyeon sepenuhnya. “Shut up,” tukasnya seraya ia lempar asal pakaian tersebut dengan kasar ke arah dimana walked in closet berada.

“Kok dilempar? Harusnya kamu pakai aja barusan.”

“Buat apa?”

“Dingin.” Telapak tangan Keonho kembali bersentuhan langsung dengan kulit bahu setengah telanjang Seonghyeon. “Kamu pakai baju terbuka begini, nanti bikin masuk angin.”

“So you don’t like it?”

Keonho mengerutkan kening bingung. “Apanya?”

“Penampilan akunya.”

“Ya suka. You’re so damn pretty... it’s driving me crazy.”

Wajah Seonghyeon kembali bersemu merah. Agaknya ia baru menyadari kalau ini pertama kalinya dirinya mendengar Keonho secara terang-terangan memujinya dengan tulus tanpa alasan di balik kepura-puraan karena harus bersandiwara sebagai pasangan harmonis di hadapan orang-orang.

“Thank you…” ungkapnya malu-malu. “Aku memang sengaja berpenampilan begini buat kamu…”

Ha, Keonho bisa benar-benar gila dibuatnya. Seonghyeon sekarang jadi berkali lipat lebih memikat dari biasanya. “Seonghyeon…” panggilnya rendah.

“Apa…”

“Jangan gemes-gemes….”

Seonghyeon terkekeh. “Memangnya kenapa…?” tanyanya yang disertai dengan kerlingan nakal di ujung kalimatnya.

Keonho kini mencoba melepaskan dasi longgar yang masih melingkar di lehernya. “Nanti aku enggak akan bisa tahan.”

“Keonho…”

Wow. Ini pertama kalinya Keonho dengar Seonghyeon memanggilnya dengan setulus dan selembut itu. “Iya?” jawabnya.

“Remember that you’re mine, right?”

“I’ve always been yours since day one, mon fiancé,” jawab Keonho tegas.

Seonghyeon kemudian melingkarkan lengan di leher si yang lebih tua. “Then I’m all yours too,” jawabnya penuh menggoda. Lantas ia bergerak semakin mendekat untuk berbisik tepat di samping telinga Keonho, “Jadi gak apa-apa, enggak perlu kamu tahan-tahan.”

It’s a fucking green light.

Dasi di leher seketika kembali terabaikan. Seluruh atensi Keonho sudah terlanjur teralihkan untuk melingkarkan kedua lengannya di pinggang Seonghyeon lagi, menggendongnya sampai mereka berdua berakhir di atas ranjang king size yang biasanya hanya dikuasai oleh Keonho seorang.

“K-Keonho?!” pekik Seonghyeon kaget. Semua terjadi dalam waktu yang terlalu cepat.

“Such a pity…” komentar Keonho tiba-tiba. “Kamu kayaknya pakai kemeja favorit aku deh.”

“Eh… kenapa?”

Keonho akhirnya berhasil melempar dasi yang tadi sempat dia abaikan itu ke sembarang arah. Pun dengan sabuk yang melingkar di pinggangnya.

It was hot. He's so fucking hot.

Seonghyeon yang melihatnya tanpa sadar sampai meneguk ludahnya sendiri sebab tiba-tibanya tenggorokannya jadi terasa kering.

“Nevermind. Kemeja masih bisa dibeli lagi.”

Seonghyeon sebenarnya bisa menebak, ia tahu kemana arah dari semua ini akan berakhir. Muncul sebuah ketegangan yang terasa menyenangkan, membuat perasaannya jadi terpacu oleh adrenalin yang buat ketagihan. Ada keinginan di antara keduanya yang sama-sama terbangun sampai pada ambang batasnya.

“Ya memang kenapa sih sama kemejanya…?”

Kemeja Keonho sudah terbuka sampai di kancing ketiga. “Gak akan bisa aku pakai lagi. I’m going to rip it off sooner or later. For sure.”

Well, untuk pertama kalinya sejak keduanya saling ditemukan, tidak ada satu pun di antara mereka yang merasa perlu untuk menang mulai dari sekarang.