Actions

Work Header

Loser

Summary:

Pada suatu musim semi, Riku akhirnya sanggup bernafas lega. Bersama dengan Daeyoung, hari-hari yang dipenuhi oleh cacian, makian, dan paksaan yang selalu mereka terima itu akhirnya resmi berakhir. Ia tak sabar untuk segera menutup lembar buku tahunan dan menanti tahun-tahun mendatang.

Notes:

soooo i was very much inspired by j-lit translation (you'll find it later)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

“Maaf, tapi aku tidak bisa jadi pacarmu, Daeyoung.”

Dengan demikian, ember yang digantung dengan tali itu akhirnya terbalik sempurna, menumpahkan seluruh isinya. Sebelum Riku sempat mencerna apa yang terjadi, seorang murid yang berdiri tepat di bawah ember itu basah kuyup dan jadi tontonan seisi kantin sekolah.

Ia juga masih mengingat isi pikirannya kala itu yang cuma berputar-putar ‘bagaimana ini? Aku harus bagaimana?’ tanpa henti.

Riku bahkan sama sekali tidak mengenalnya. Murid itu awalnya ditarik paksa—atau didorong—oleh sekumpulan murid lain menuju kantin. Sayup-sayup terdengar suara pentolan angkatan kala itu, Sato Hiragi, yang tiba-tiba naik ke atas podium di muka kantin. “Dimohon untuk tenang sebentar semuanya! Aku punya teman yang akan menyatakan cintanya, loh. Mari kita saksikan momen krusial ini dengan khidmat dan penuh dukungan. Silakan, Kim Daeyoung!”

Seketika semua mata tertuju pada seseorang yang didorong Hiragi ke muka kantin. Terdengar pula cekikikan para gadis dan lolongan para lelaki. Mendengar keramaian itu, Hiragi berkacak pinggang, “Hayo, aku baru bilang bagaimana? Jangan sampai kita merusak kisah cinta pertama Kim Daeyoung dengan ramai seperti itu. Mohon diam dulu semuanya, ya. Nah, begini kan lebih enak. Kalau sudah selesai baru boleh ramai-ramai. Ayo, kamu juga maju ke sini, dong!”

Yang Riku yakini sebagai ‘Kim Daeyoung’ itu kemudian berjalan pelan ke atas podium. Dengan tubuh jangkung dan sangat kurus seperti itu tentu ia akan cepat jadi pusat perhatian. Meskipun jelas untuk saat itu Hiragi-lah yang memusatkan atensi semua orang kepada Kim Daeyoung. Untuk beberapa saat, Riku tidak memperhatikan mereka, sampai ketika namanya dipanggil dengan lantang.

“Maeda Riku!”

Riku langsung menoleh pada suara yang sama sekali asing baginya itu.

“Wah, wah, jadi ini ya cinta pertamamu? Ayo, dong, Maeda, cepat berdiri.”

Suara Hiragi sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan seruan murid-murid di sekitar. Seakan apa pun yang keluar dari mulutnya adalah perintah mutlak. Dan Riku sendiri juga heran kenapa dirinya menuruti perintah lelaki itu dan ikut berdiri sesuai instruksinya.

Kalau dilihat dari dekat, sebenarnya Sato Hiragi sangat pendek dibandingkan Kim Daeyoung. Namun, kekuatan karisma Hiragi yang dimanfaatkannya secara ‘salah’ jelas membuat Daeyoung tidak berkutik. Riku langsung berdiri dan berjalan beberapa langkah ke depan. Ia tidak dapat menolak karena tahu akibatnya; perundungan yang lebih hebat lagi. Kalau cuma dikucilkan, sih, tidak apa-apa. Tapi perundungan? Riku tidak mau naik level mengingat apa yang sudah menimpanya sejauh ini. Jadi, tanpa banyak alasan, ia berdiri menuruti.

Menjadi pusat perhatian rasanya sangat aneh. Kamu berjalan perlahan dan banyak mata mengikutimu. Untuk beberapa saat Riku menikmati sekaligus ngeri dengan banyaknya perhatian yang ia dapat. 

“Ini bagian terbaiknya,” Sato Hiragi menepuk kedua tangannya dan lanjut berujar, “Maeda, kamu cuma perlu melakukan satu hal lagi saja, kok. Enggak sulit sama sekali. Bahkan kamu cuma perlu berdiri di tempatmu itu saja ketika memberikan jawabanmu.”

Jawaban?

“Ma-Maeda Riku … maukah kamu jadi pacarku?”

Kim Daeyoung bertanya dengan wajah takut-takut. Sementara Riku berteriak dalam hati ‘Apa-apaan ini?’

Murid yang sama sekali tidak ia kenal menyatakan cintanya di tengah keramaian. Murid yang sepertinya juga satu ‘kalangan’ dengannya itu jelas dipaksa untuk melakukan hal yang sudah pasti tidak akan ia lakukan sendiri. Di detik itu, Riku tidak tahu harus berbuat apa. Ia sendiri pun tidak berusaha meminta tolong dengan memberikan ‘jawaban’ mana yang sebaiknya dilontarkan supaya terbebas dari Hiragi.

Kemudian Riku memutuskan untuk mengikuti arah pandang murid itu, ia mendongak ke atas dan menemukan ember kecil yang tiap ujungnya diberi tali panjang—untuk memudahkan orang lain menariknya dari bawah. Melihat itu Riku langsung terpaku. Apa pun jawaban yang ia berikan, sepertinya tidak akan menyelamatkan mereka berdua.

Maka pilihannya kala itu adalah menolaknya. Dengan opsi terjelas; entah apa yang akan Sato Hiragi dan gengnya lakukan pada mereka berdua yang ‘terpaksa’ pacaran. Saat itu Riku tidak memikirkan apakah pilihannya egois atau tidak. Karena bagaimanapun, mereka berdua tetap akan dirundung, di tempat atau waktu yang berbeda. 

Byuuur!!

“Wah, wah, sayang sekali! Kim Daeyoung ditolak oleh cinta pertamanya, nih. Sudah begitu jadi basah kuyup, deh. Kan, sudah kubilang dari awal, coba nyatakan cintamu pakai bunga atau cokelat. Siapa tahu Maeda Riku ini jadi kelepek-kelepek denganmu.”

Setelah kejadian di kantin sekolah hari itu, Riku jadi lebih sering menemukan keberadaan Kim Daeyoung. Mungkin karena Riku sudah menyadari eksistensinya. Berbeda dengannya yang biasa dikunci di toilet hingga jam pelajaran berakhir, Kim Daeyoung sering ia temui keluar dari ruangan alat olahraga dengan seragam kucel. Kadang Riku sengaja menghindari kontak mata karena takut Daeyoung akan membalasnya. Namun, anehnya, lelaki itu pun juga tidak berusaha menemui Riku setelah itu.

 

Hingga pada akhirnya ia bertemu lagi dengan Daeyoung di hari kelulusan.

Karena mereka sama-sama  sampah yang bahkan tidak sudi dibuang di pos daur ulang — secara naluri mereka saling menarik. Atau mungkin orang-orang sudah memasang semacam antena ‘anti Kim-Maeda’. Maka tersisalah mereka berdua di kursi auditorium gedung setelah acara seremonial selesai.

Mereka hanya duduk dalam keheningan, seperti saling mengerti mengapa cuma mereka saja yang ditinggalkan. Hingar-bingar keceriaan khas masa muda itu tertelan lorong, semakin lama semakin menjauh. Menyisakan kekosongan. Menyisakan mereka berdua.

Riku mengintip seikat bunga yang digenggam Daeyoung; tiga tangkai krisantemum berbalut kertas putih. Persis miliknya. Itu berarti mereka tidak mendapat bunga dari siswa lain, karena krisan-krisan ini dibagikan sama rata dari pihak sekolah. Riku tersenyum pahit.

“Kancingmu masih utuh juga?”

Riku sedikit berjengit sebelum menoleh pada Daeyoung. Ia menunjuk kancing blazer Riku yang masih bertaut kuat satu sama lain. “Seharusnya kita janjian saling copot kancing,” Daeyoung tertawa kecil. “Biar kelihatan enggak cupu-cupu amat.”

Daeyoung berjalan pelan ke arahnya dan menarik kursi lain. Banyolannya dibalas dengan senyuman.

“Kita bahkan lebih parah daripada cupu.”

“Iya ya … lalu apa dong namanya?” tanya Daeyoung sambil berpose ‘berpikir keras’. Riku turut meniru pose anehnya itu.

“Apa ya? Jujur saja aku tidak tau level di atas cupu itu apa.”

“Mungkin memang tidak ada. Jadi kita bisa jadi pionirnya. Level di atas cupu pertama di dunia HAHAHA!”

“Kalau begitu kita ini cupu kuadrat.”

“Ya! Betul, cupu kuadrat. Terus kita bikin hak paten buat sebutannya.”

“Biar jangan sampai dipakai nama merek baju atau kafe.”

“Betul. Kalau tidak mau bayar hak cipta ke kita.”

Kemudian mereka tergelak bersama. Di tengah-tengah auditorium yang tidak ada siapa pun, suara mereka menggema hingga koridor.

Riku yang pertama berhenti tertawa. Ia pandangi Daeyoung yang belum juga menghentikan tawanya, mungkin karena masih terus-terusan membayangkan berbagai macam ‘cupu’ dan turunannya. Raut wajahnya terlihat lebih bersinar dan berbeda daripada biasanya. Bahkan Riku baru menyadari beberapa tanda lahir mungil di sekitar mata dan tangannya. Mungkin Daeyoung juga—akhirnya—merasakan sedikit kelegaan setelah kelulusan ini. Kelegaan yang berarti bebas dari segala rasa terpuruk yang ia jalani sehari-hari.

“Kim Daeyoung, salam kenal, ya,” Riku menyodorkan tangan kanannya. “A-Aku ... mungkin kamu ingat aku waktu kejadian itu. Aku cuma mau minta maaf.”

Daeyoung berhenti tertawa pada akhirnya. Tapi ia cuma memandang tangan tersebut, seperti menduga Riku akan lanjut mengatakan hal lain.

“Aku benar-benar merasa bersalah setelah hari itu. Tapi masih juga tidak punya keberanian untuk minta maaf langsung setiap ketemu.”

“Cupu kuadrat,” gumamnya.

Riku langsung menundukkan kepala. Ironis sekali.

“Aku enggak betul-betul mengejekmu, lho.”

Daeyoung menyambut tangan kanan itu dan menjabatnya erat, “sesama cupu kuadrat.” Ia menggoyangkan tangannya sekuat tenaga dan tersenyum lebar, seolah apa yang Riku utarakan tidak benar-benar tulus dari hati dan ia menanggapinya dengan sama tidak tulusnya.

“Aku serius, Daeyoung! Apa yang dilakukan Hiragi dan gengnya itu tidak bisa dimaafkan!”

Dahinya sedikit berkerut melihat Riku berseru secara tiba-tiba. “Aku juga serius. Kita kan sama-sama tidak bisa berkutik di depan mereka. Memangnya kamu mau bagaimana?”

“Menerimamu?”

“Dan kita dirundung berdua? Bukannya lebih baik kalau kamu bebas dari Hiragi?”

Hati Riku langsung mencelos mendengar nama itu. Terputar lagi bagaimana Hiragi mempermalukan Daeyoung di muka kantin.

“Begitu, ya ....”

Namun, entah kenapa Riku masih juga belum merasa puas. “Kalau tidak keberatan, aku mau tau tentang hari itu. Hiragi dan kelompoknya itu ... memaksamu melakukan apa lagi setelah aku menolakmu?”

Air wajah Daeyoung berubah perlahan. Senyumnya memudar dan kilat matanya menghilang. Seketika Riku merutuki diri sendiri.

“Tidak ada yang aneh-aneh, sih. Seperti biasa. Cuma mengepel ruangan pakai seragam. Maksudku, aku pernah dijahili yang lebih parah daripada itu.”

“Maaf, Daeyoung ....”

“Eh, kenapa? Kan kamu enggak ikutan menjahili?”

Riku mengutuk Daeyoung dan rasa positifnya. Bukan, mungkin itu sama sekali bukan rasa positif. Ia pasti sangat naif atau bodoh. Daeyoung tidak seharusnya memaafkannya semudah itu.

“Kamu enggak berhutang apa pun. Eh, namamu Maeda Riku, kan? Boleh kupanggil Riku saja? Nah, Riku, maksudku adalah kita sedang terpojok waktu itu, kalau kamu ingat.”

Riku benar-benar enggan mengingat hari itu. Selain karena rasa bersalah yang menjalar, ada rasa benci yang mendalam pada geng Hiragi. Rasa benci itu memang sudah ada sebelumnya, tapi makin menjadi-jadi setelah melihat apa yang mereka lakukan pada Daeyoung.

“Padahal kalau dipikir lagi, mereka itu jauh lebih cupu daripada kita. Mereka merundung kita dengan keroyokan begitu. Sementara kita menerima semuanya sendirian. Itu berarti kita lebih kuat, lho.”

Seperti itukah? Atau jangan-jangan ini juga semacam cara pikir positif yang melihat segalanya dari sisi terangnya saja? Tapi ucapan Daeyoung ada benarnya juga ....

“Kamu ... bagaimana bilangnya ya, ah, kamu juga dirundung anak-anak perempuan kan? Yang salah satunya pacar Hiragi juga?”

Riku mengangguk. Anak-anak perempuan di kelasnya memang sering menguncinya di toilet tiap jam pelajaran olahraga atau semata-mata tiap kali Riku pergi ke toilet. Beberapa kali Riku terpaksa duduk di sana sampai ada yang membantunya keluar. Kalau memang sedang apes Riku harus keluar lewat kolong bawah pintu, tapi seragamnya jadi kotor karena terkena permukaan lantai kamar mandi. Ketika Riku kembali ke kelas, mereka bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Fakta bahwa ia dirundung oleh murid perempuan itu saja sudah cukup membuatnya makin disepelekan oleh geng Hiragi. Mereka menganggapnya laki-laki yang lemah.

“Aku juga seharusnya minta maaf karena tidak bisa membantumu. Kalau itu bisa bikin perasaanmu membaik.”

Benar juga. Untuk apa Riku mempermasalahkan hal semacam itu? Pada akhirnya mereka bisa terbebas dari semuanya setelah hari ini. Mereka bebas melakukan apa saja sesuai dengan kemauan mereka.

Riku membuka buku tahunan yang dibagikan bersama buket bunga, lalu membuka halaman demi halaman sampai terlihat foto Hiragi.

“Masa bodoh dengan Sato Hiragi dan gengnya. Persetan!” serunya sambil merobek kertas di halaman itu.

Daeyoung terbelalak dan tertawa, lalu mengikuti tindakannya. Riku tidak hanya berhenti pada foto Hiragi, tapi juga teman-temannya.

“Mati kau, Hiragi!”

Daeyoung berseru dengan gaya karakter Goku yang mengeluarkan jurus Kamehameha, kemudian ia menginjak-injak buku tahunannya dengan tak kalah brutal.

“Hei, hei! Disitu kan juga ada fotomu. Jangan dirusak dulu, dong.”

“Haha! Benar juga. Eh, iya, Riku, mau menandatangani buku tahunanku, tidak? Nanti kita gantian. Aku lihat banyak anak saling menandatangani begitu.”

“Ah, begitu ya? Boleh, deh.”

“Anu, kenapa agak malu bilangnya, ya ... kalau boleh, tulis nomormu juga ya.”

Riku melihat wajah Daeyoung yang semerah tomat. Kebiasaan menulis nomor telepon di buku tahunan memang jadi ajang ‘mengungkapan rasa’ pada seseorang yang disukai. Tapi Riku tidak menyangka Daeyoung akan dengan gamblang seperti itu.

“Argh, aku minta maaf. Tolong jangan salah sangka!” ucap Daeyoung sambil menangkupkan kedua tangannya.

“Wah, padahal aku betulan mau menulis nomor teleponku, loh. Aku gede rasa, ya?”

“Eh?!”

“HAHAHA!”

Riku terbahak-bahak melihat mimik wajah lelaki di depannya yang berpadu antara malu dan kesal. Daeyoung kelimpungan sendiri sebelum akhirnya menandatangani buku tahunan itu. Bolpoin Tsukino Usagi milik Riku yang dipinjamnya untuk menulis jadi ikutan bergetar, entah karena ia kesulitan menahan tawa atau murni karena salah tingkah.

Saat itu, Riku mengamatinya cukup dalam. Meski punya postur tubuh yang jangkung, Daeyoung menulis dengan agak membungkuk—mungkin ini asal mula julukan ‘Si Bongkok Daeyoung’ yang kerap kali didengarnya dari geng Hiragi. Poni panjangnya seperti sengaja dibiarkan menjuntai untuk menutupi satu-dua jerawat puber yang muncul di dahinya (yang mana menurut Riku cukup kecil untuk dapat dilihat). Ada dua gigi taring yang menyembul lucu di barisan giginya, membentuk gingsul yang cukup manis. Kalau dilihat-lihat, Daeyoung ternyata jauh lebih tampan daripada Sato Hiragi, atau bahkan semua lelaki di sekolah ini.

Kelopak-kelopak bunga berwarna merah jambu terbang masuk ke jendela auditorium, kemudian hinggap di ujung rambut Daeyoung. Ketika ia sibuk mengoceh tentang Mamoru Chiba, diam-diam Riku mengambil kelopak bunga itu dan menyelipkannya pada bagian tengah buku tahunan. Mengapitnya di antara lembar-lembar foto murid yang tidak ia kenal.

“Ah, jendelanya terbuka, ya. Tapi jadi kelihatan bagus begini ya? Kesannya seperti sudah lulus betulan. Nih, gantian!”

Riku menerima buku tahunannya kembali dan mengamati coret-coretan Daeyoung yang ia tulis dengan tinta warna biru.

 

XXX-XXX-XXX

Kim Daeyoung, 1999, Auditorium C

Telepon aku!

 

“Kenapa? Jangan diam saja, dong.”

Riku hanya tersenyum dan meraih bolpoin dari tangan kanannya. “Omong-omong, Daeyoung, kenapa kamu memilihku waktu mau menembak di kantin? Kamu iseng pilih orang, ya?”

Dapat ia dengar Daeyoung tersedak air liurnya sendiri hingga terbatuk. Riku mendongak untuk melihat wajahnya, yang lagi-lagi serupa tomat di kebun sekolah. “Kalau memang iseng, kamu sama jahatnya dengan Hiragi, tau.”

“Eh?! Itu sama sekali bukan iseng, kok!” Tengkuknya diusap berulang kali, “sebelumnya aku memang lagi memperhatikanmu. Lalu Hiragi dan kawanannya datang, mungkin mereka juga ikut melihat siapa yang aku perhatikan waktu itu ....”

Riku samar-samar mengingat bagaimana reaksi tubuhnya saat mendengar pengakuan itu; pipinya terasa panas.

“Anu ... setelah ini, kamu mau lanjut ke mana? Ke perguruan tinggi atau bekerja?” tanya Riku berusaha mengganti topik pembicaraan.

“Belum kepikiran sampai situ, sih. Yang jelas aku mau balas dendam.” Seperti membaca kerutan dahinya, Daeyoung melanjutkan, “aku harus balas dendam. Jadi orang hebat, atau terkenal. Yang sering muncul di televisi atau iklan. Aku harus sering muncul di papan iklan toko sampai Hiragi dan gengnya muak! Sampai mereka enggak bisa ke mana pun karena jijik melihat rupaku. Menurutmu bagaimana?”

Riku terdiam. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk balas dendam. Ia pikir, dengan lulus dan melanjutkan hidup yang normal saja sudah cukup untuk menghilangkan ingatan masa lalu yang kelam. Riku tidak mengira Daeyoung punya tekad sebesar itu untuk merencanakan masa depannya, yang ternyata belum terlepas dari masa sekolah.

“Ah, sepertinya kalau berusaha keras dan jadi orang hebat, bakal jadi banyak yang suka, sih. Tapi aku ragu mereka bakal peduli.”

“Mereka pasti akan peduli. Lihat saja deh, Riku. Lihat saja! HAHAHA!”

Setelah percakapan yang dimulai dari pembahasan hak paten ‘cupu kuadrat’, lalu berlanjut pada perundungan yang pernah mereka alami (Riku bercerita tentang perundungan di toilet dan para siswi yang kerap kali menjadikan kaus olahraganya kain lap papan tulis, Daeyoung bercerita tentang seragamnya yang sering ditukar dengan seragam siswa lain yang kotor dan Riku hampir menangis pada cerita saat Daeyoung dipaksa menelan kapur papan tulis), ternyata Riku tak pernah bertemu Daeyoung lagi.

Selain beberapa dering telepon diantara musim panas, yang mana hanya berlangsung selama satu jam dan diisi dengan cerita kegiatannya menanam sawi dan dirinya yang pergi ke Tokyo, Riku tidak pernah benar-benar bertemu lagi.

 

Oh, mungkin hanya sekali.

Saat itu Riku menemukan papan reklame digital raksasa di Shibuya. Sebuah iklan merek fesyen terkemuka satu dekade belakangan ini. Daeyoung tampil separuh badan dengan jaket kulit yang bernilai jutaan. Di bawahnya tertulis besar-besar: ‘HAPPY BIRTHDAY, AKARI!’ dengan tanda tangannya yang super aneh itu.

Riku ingat hanya tertawa kecil. Bahkan setelah ia sukses menjadi seorang entertainer, Daeyoung masih setia menggunakan tanda tangan yang dipakainya di buku tahunan. Tanda tangan yang serupa ceker ayam dan dihiasi dengan bintang.

“Aku mau nama panggungku keren. Mungkin seperti Hikari atau Hoshi, atau mungkin Star? Sekarang banyak artis pakai nama kebarat-baratan.” ujarnya lewat telepon di suatu musim panas, sebelum ia resmi menjadi peserta pelatihan bintang idola di salah satu agensi hiburan.

“Terserah. Di mataku kamu tetap Kim Daeyoung.”

“Ah, namaku kurang menjual. Kalau mau jadi pengusaha ayam kios itu masih cocok.”

“Loh, Daeyoung kan juga keren! Memang kenapa kalau jadi pengusaha ayam kios? Itu kan juga pekerjaan bagus.” protesnya. Tapi memang agak sia-sia juga kalau wajah Daeyoung yang punya potensi menarik investor lewat televisi itu cuma dimanfaatkan untuk menarik perhatian ibu-ibu.

“Karena ayam juga boleh bermimpi jadi bintang, Riku.”

“Ayam jenis apa itu? Yang pakannya dicampur kecubung?”

“Aku. Aku ayamnya.”

Karena mau sesering apapun Riku mengejek perumpamaannya, Daeyoung tetap yakin kalau dirinya adalah ayam yang bermimpi menjadi bintang. Ceker ayam dan bintang miliknya itu bukan cuma identitas, tetapi juga pengingat dirinya di setiap waktu; bahwa tiap kali ia membubuhkan tanda tangan adalah sebuah penanda untuknya agar terus maju.

Sekalipun Riku mengatainya mabuk kecubung.

Happy birthday, Daeyoung ....” bisiknya sambil memotret papan iklan itu.


Empat tahun kemudian Riku merasakan perubahan atas dirinya. Di permukaan, Riku terlihat baik-baik saja. Tetap berangkat kerja pukul 07.00 dan masih menyapa pegawai kantor lainnya. Namun, di apartemen ketika tidak ada siapa pun, dalam keheningan, Riku merasakan keanehan yang muncul secara konstan. Riku mengalami stres dan sering menyakiti diri sendiri. Keluarganya marah besar ketika menemukan gulungan plester yang biasa digunakan untuk membalut luka di pergelangan tangan. Lucunya, Riku tetap takut disuntik dan masih juga jantungan ketika terpeleset. Perasaannya bisa begitu campur aduk di suatu hari dan mati rasa keesokan harinya. Ia bahkan lupa sejak kapan mulai merasa sedih yang berkepanjangan, hingga kemudian terlalu larut dalam kesepian. 

Di waktu-waktu kritis seperti itu, entah kenapa sosok yang terlintas di benaknya adalah Daeyoung. Bagaimana kehidupannya saat ini? Apakah ia sudah berhasil membalaskan dendamnya pada cecunguk sekolah itu dengan menjadi artis yang wara-wiri di televisi nasional? Apakah ia sudah merasa puas dan mulai betul-betul merencanakan masa depannya yang murni keinginannya sendiri?

 

Ternyata kehidupan selebriti sama sekali tidak dapat diprediksi.

Suatu waktu Riku tengah memilih-milih pisang di sebuah minimarket, membandingkan harga yang tertera pada papan dengan harga jual pasaran di internet. Televisi yang terpasang di tengah toko menayangkan berita artis terkini: aktor, model dan anggota grup band terkenal, Akari, ditemukan tak bernyawa di apartemen pribadinya pagi itu.

Riku menghela napas.  

Ia kembalikan pisang-pisang itu pada tempat semula, lalu mendorong troli menuju meja kasir. Sisa belanjaan hari itu ternyata tidak ada yang kena diskon, kecuali ayam potong bumbu kari. Riku membawa kresek belanja ke parkiran minimarket, lalu terduduk dekat Toyota Prius keluaran tahun itu. Sambil mengeluarkan rokok dari saku, tak henti-hentinya ia berpikir: apakah balas dendam memang cara terbaik untuk mengakhiri kisah?

Satu-dua gadis remaja yang baru tiba memakai Mary Jane yang dipasangkan dengan kaus kaki longgar. Roknya sedikit dipangkas di atas lutut dan mereka berbicara tentang idola tampan yang sedang digandrungi dan sulitnya ujian masuk perguruan tinggi.

Riku menghela napas. Ternyata banyak sekali hal di dunia ini yang mudah tergantikan.

Kalau sudah seperti itu, menurutmu bagaimana, Kim Daeyoung?

 

Notes:

you can send me questions/comments/yaps here or find me on twitter