Work Text:
Sakura tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kesabarannya menunggu informasi dari Endo dan strategi dari Bofurin itu sendiri sudah sampai pada batasnya. Maka dengan tekad (dan nekat) yang kuat, Sakura memutuskan untuk pergi seorang diri mencari keberadaan Suo dengan secuil informasi yang dia dapatkan dari Endo pada saat mereka berbincang di atap gedung Furin.
Ketika bulan purnama sudah sampai pada puncak di kelamnya malam, Sakura telah sampai di wilayah yang disebut sebagai wilayah yang dijaga oleh Tiga Naga. Tempat asli yang Suo tinggali, atau bisa disebut kampung halamannya? Heh- memangnya Suo ke Bofurin untuk kerja.
…
Sebenarnya itu menjadi salah satu pertanyaan yang mengganggu Sakura akhir-akhir ini. Apa maksud dari perkataan Suo ke Nirei saat itu? Jadi selama ini mereka bukan teman? Lalu..
Apa tujuan Suo sebenarnya datang ke Bofurin.
Didorong oleh motivasi (dari nekat) maka Sakura memutuskan untuk mendatangi Suo sendirian. Meminta penjelasan langsung dari orangnya. Dan kalau bisa, menghajarnya hingga Sakura puas. Tidak mungkin Sakura membiarkan Suo pergi begitu saja seperti tidak pernah ada hubungan dengannya.
Tunggu.
Ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hubungan tanpa status yang terjadi di antara mereka. Tujuan utama Sakura datang ke wilayah ini adalah untuk menarik Suo kembali menjadi anggota Bofurin.
Mungkin.. meminta penjelasan atas hubungan mereka juga.
Saat Sakura hampir melangkah masuk melewati gerbang megah di depannya, dia merasa tangannya ditarik kencang hingga dia kehilangan keseimbangan. Untung saja orang yang menariknya, menahan tubuh Sakura dengan menyelipkan tangan di pinggang Sakura sehingga dia tidak jatuh ke tanah.
Kepala yang menghalangi cahaya rembulan itu membuat Sakura menjadi ragu atas identitas orang yang memeluknya saat ini. Rambut berwarna maroon, mata merah dengan penutup mata hitam yang menghiasi mata kanannya, anting panjang nuansa china, baju merah seperti seragam Kung Fu.
Suo.. China?
Orang itu tersenyum dengan lembut, genggamannya pada lengan dan pinggang Sakura sangat kuat seperti menyuruh Sakura untuk tetap diam di posisi itu dan jangan membuat gerakan tiba-tiba. Sakura pun paham, kekuatan orang di depannya bukan lah lawan yang sepadan untuk dia adu dengan duel. Sakura bisa merasakan sesuatu yang protektif tapi mengancam di saat yang bersamaan. Rasanya sangat berbeda dengan Suo biasanya.
Sakura jadi agak merinding.
Sepertinya orang di depannya sangat betah memandangi wajah Sakura yang terlihat memerah sedikit berkat bantuan cahaya rembulan yang menyinari langsung. Dia terkekeh sedikit sebelum membuka mulutnya.
“Kenapa mencariku sampai sejauh ini, Sakura?”
Suaranya terdengar lebih serak dari Suo yang dia kenal. Tapi berat suaranya tepat seperti yang Sakura kenal. Sakura berusaha untuk menjauh secara perlahan sebelum menjawab tetapi Suo tidak melepaskan genggaman pada pergelangan tangannya sehingga Sakura hanya bisa berdiri tegak dengan jarak yang minim di antara mereka.
“Aku sudah terbiasa jalan sejauh ini.”
Sakura tidak merasa kalau jawaban dia patut ditertawakan tetapi Suo terkekeh tepat setelah Sakura menjawabnya. Memangnya jawaban Sakura salah ya?
“Kenapa datang sendirian? Memang kamu tidak takut dihajar sampai babak belur di sini? Tanpa ada yang bisa membantu.”
Memang Sakura belum sekuat Umemiya atau Chika, atau bahkan Endo. Tetapi dia juga tidak begitu lemah sampai babak belur hanya karena beberapa orang yang jago bela diri.
Ya, kalau orang-orang itu tidak sekuat orang di depannya, sih.
Sakura terdiam sejenak. Memerhatikan wajah yang sangat dia rindukan dengan rasa penasaran yang kuat, sebelum membuka mulutnya.
“Kamu.. tidak merasa bersalah sedikit pun, ya?”
Sakura tidak bermaksud untuk bertanya dengan suara gemetar, tapi tenggorokannya terasa panas dan mencekik. Seperti berbagai emosi yang dia pendam selama ini mendorong keluar begitu saja secara bersamaan. Sakura tidak paham emosi macam apa yang harus ditunjukan pada Suo. Senang akhirnya bertemu? Marah karena Suo pergi begitu saja?
Sedih karena Suo tidak pernah menganggap mereka dekat?
Sakura bingung. Dia tidak tahu harus memulai dari mana dulu. Tapi keinginannya untuk menghajar Suo sangat besar.
Sosok di depannya berhenti mengulirkan senyum lembut. Terganti dengan mata tajam yang berusaha menggali sesuatu di jiwa Sakura. Rasanya sangat dingin dan tidak nyaman.
Sakura tidak suka.
“Memangnya apa yang aku lakukan?”
Apa?
Omong kosong apa yang dia katakan sekarang.
“Apa maksudmu? Kamu meninggalkan Furin tanpa penjelasan apa-apa. Kamu meninggalkanku!”
Emosi Sakura sudah tidak dapat terbendung lagi. Rasa marah dan sedih mendominasi pikirannya saat ini.
“Aku? Aku tidak pernah meninggalkanmu, Sakura.”
Sepertinya Sakura benar-benar harus menghantam mulut orang di depannya ini.
“Jangan berlagak bodoh. Aku juga sudah tahu identitas asli mu.. Sun Fei.”
Oh?
Lelaki di depannya tertawa pelan, kemudian semakin keras hingga memenuhi gendang telinga Sakura di malam ini. Apakah ini sifat asli Suo?
“Aku tidak menyangka kalau kau akan segera mengetahuinya, Sakura. Tapi sepertinya aku paham maksudmu, karena aku memang lah Sun Fei.”
Kan, memang itu yang Sakura katakan?
Sebelum orang di depannya membuka mulutnya kembali, Sakura merasakan wajahnya ditarik ke samping untuk melihat orang yang di belakangnya. Menahan wajah Sakura di tempat dan menahan pinggang Sakura sehingga Sakura terhimpit di antara mereka.
“Karena Suo yang kamu kenal adalah kembaranku.”
…
Apa?
'Suo' yang asli tersenyum lembut tetapi matanya sama tajam seperti Sun Fei.
“Hai, Sakura.”
