Work Text:
Lagi-lagi Sungho bangun dengan perasaan terkejut. Mimpinya kali ini membawanya ke Central Park, dimana dia sedang dikejar-kejar petugas imigrasi dari USCIS yang berlari mengikutinya dengan tumpukan map di tangan hingga akhirnya dia jatuh terjerembab dengan wajah duluan—menyentak membangunkannya lengkap dengan keringat dingin.
Jaehyun, memang orang yang gampang terganggu tidurnya, ikut tersentak kaget karena gerakan Sungho yang tiba-tiba. "Apa?!" soraknya hampir secara instan.
Sungho melirik selimut yang lagi-lagi sudah dia "curi" untuk dirinya sendiri lalu diam-diam berusaha meperbaikinya agar lembaran kain itu kembali menutupi tungkai Jaehyun yang terekspos, kecuali kakinya yang dibalut kaos kaki.
Sebenarnya Jaehyun bukan seseorang yang tidur sambil mengenakan kaos kaki, namun sudah setengah tahun sejak Sungho tinggal bersamanya—berbagi kasur king size-nya itu—sehingga ia sudah hafal kalau at one point of the night Sungho akan mencuri selimutnya, jadi dia beradaptasi.
"Stress dreams?" jawab Sungho tidak yakin. Melirik ke jendela, matahari belum naik sama sekali. Namun melihat jam digital yang dipajang di nakas sampingnya, Sungho mendapati kalau sekarang adalah pukul 4.50 pagi.
Interview mereka tidak sampai jam 10 nanti. This is way too early for waking up, tetapi terlalu siang untuk tidur lagi. Karena kemungkinan mereka bakal ketiduran terlalu lama sangat tinggi. Sungho dan Jaehyun berkendara dari Ithaca semalaman dan baru sempat tidur jam 1 pagi, kalau mereka terbuai hasrat kembali tidur itu sekarang, sekalian saja mereka tidak datang interview.
Jaehyun menghela napas dan menghempaskan badannya kembali ke kasur. "Aku masih nggak kebiasa sama mimpi-mimpimu itu," gumam Jaehyun dengan mata tertutup, sepertinya masih hendak berusaha untuk kembali ke alam bawah sadar.
Lucunya Sungho ikut merebahkan dirinya kembali ke kasur dan berguling hingga posisinya setengah tengkurap, menyandarkan dagunya di lengan Jaehyun yang ia lipat untuk menyokong kepalanya sendiri di atas bantal.
Salah satu mata Jaehyun memicing terbuka, mengintip melihat Sungho yang menatapnya intens dari jarak yang hanya beberapa sentimeter itu.
Jaehyun menyesuaikan posisi lengannya agar Sungho bisa bersandar dengan lebih nyaman (dan agar bisepnya sendiri tidak tertindih nyeri karena dagu suaminya yang lancip itu), meregangkan lengannya hingga panjang lengan itu mencapai sisi bantal Sungho. Yang menindih ikut memperbaiki posisinya agar pipinya yang bersandar pada suaminya kali ini. Namun ia belum melepas pandangannya dari Jaehyun.
"Kenapa?" tanya Jaehyun, merasakan tatapan Sungho padanya bahkan tanpa perlu membuka kelopak mata kembali.
"Aren't you freaking out?"
"Nope."
Jaehyun bisa merasakan hembusan napas Sungho yang baru saja mengendus kesal, tetapi dia kekeuh membiarkan matanya tertutup. He needs all the sleep he can get.
Kemarin ia harus bekerja seharian sebelum menyetir ke Manhattan malamnya. Karena sama dengan Sungho, bulan Agustus ini—dengan dimulainya tahun ketiga mereka sebagai mahasiswa PhD Cornell—dia juga dihantui comprehensive exam. Kalau Sungho mengambil format ujian tertulis, Jaehyun adalah orang gila yang memilih untuk melakukan oral defense—yang berarti dia harus mengkurasi 3 proyek penelitiannya dua tahun belakangan sebagai portfolio yang akan dibabat habis oleh komite disertasinya nanti. So his work started way earlier than Sungho's.
Dengan sibuknya mereka belakangan, ujian ini telah mereka taruh sebagai backburner cukup lama. Tahu-tahu sekarang sudah pertengahan akhir Juli dan mereka terpaksa mempersiapkan ujian komprehensif itu bersamaan dengan mempersiapkan diri untuk wawancara dengan pihak imigrasi ini. Alias bersiap membohongi pemerintah.
At least that's how Sungho refers to it. Bagi Jaehyun, hampir tidak ada kebohongan dari segala hal yang ia ekspresikan selama ia menikah dengan Sungho—bahkan termasuk segala barang bukti yang ia kirimkan ke Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi Amerika Serikat. He liked to live in delusion like that.
Merasakan kalau Sungho tidak puas dengan jawaban pendeknya itu, Jaehyun menggumamkan pernyataan tambahan. "Satu-satunya hal yang kita karang itu timeline kita… hmm, apa bahasanya… courting."
Dengan jawaban itu, Sungho bergeser dari posisinya lagi, sekarang menyandarkan belakang kepalanya di lengan Jaehyun—yang mengambil kesempatan untuk menariknya lebih dekat lagi. Sungho tidak menolak, malah memperbaiki posisi badannya hingga kakinya bertaut dengan milik Jaehyun di bawah selimut.
"Mereka gak bakal nanya yang aneh-aneh kok."
"Bukan kamu yang terancam ditendang dari New York ya."
"Kan kita udah baca-baca pengalaman orang dari kemarin. Mereka cuma tanya apa coba… When did we meet? And where? Dari kapan kita punya hubungan?"
Sungho menggeliat dalam pelukan Jaehyun. Bahkan contoh pertanyaan yang dilemparkan Jaehyun dengan santai itu cukup membuat Sungho gelisah.
"Minggu orientasi Cornell 2023 buat kandidat PhD, in Ithaca. You liked me since then, tapi aku ga ada waktu buat berhubungan so I only started liking you back around last year…"
Jaehyun mengacak-acak rambut Sungho seperti ia mengelus hewan piaraan berbulu. "Tuh, udah jago."
"Our defense sounds so fake though," ujar Sungho, menatap langit-langit kamar masa kecil Jaehyun itu. Ada beberapa stiker glow-in-the-dark yang menggambarkan sebuah konstelasi entah apa, meskipun sekarang stiker-stiker itu sudah kehilangan pijarnya. Sungho membuat catatan mental untuk menanyakan hal itu ke Jaehyun nanti.
"Temen-temen kita aja ga ada yang curiga, kamu pikir orang asing di imigrasi lebih kenal kita daripada mereka?" Jaehyun kembali melipat tangannya, kali ini untuk merengkuh bahu Sungho. Kepalanya ia miringkan, membenamkan hidungnya ke rambut sang suami.
"Justru karena temen-temen kita saksi kamu jadi a lovesick fool ga sih? That it makes sense? To a stranger you'd just seem insane."
Ujung bibir Jaehyun naik, not that Sungho could feel it. "Kamu manggil aku lovesick fool?"
Sungho ikut memiringkan kepalanya. Daripada menjawab, dia memilih untuk perlahan menempelkan bibirnya ke leher Jaehyun, peppering feather-like kisses by the side of his veins.
"Jangan iseng," ujar Jaehyun malas, sebagian dirinya masih memikirkan keinginan untuk kembali tidur.
"Gak iseng," balas Sungho. Ciumannya berubah lebih basah, followed by more fervor, bahkan sepertinya ia sudah meninggalkan bekas. "Pengen."
Jaehyun hanya tertawa, dadanya ikut bergetar mengikuti tawa tersebut. "Sweets," bisiknya dengan suara berat khas bangun tidurnya itu (which already drives Sungho crazy), menambah rasa tidak nyaman dibalik celana tidur Sungho. "Do you really wanna have sex before meeting a bunch of government officials?"
"Bad idea?" tanya Sungho, menyapukan ujung jari telunjuknya dari buah Adam Jaehyun turun ke tulang sternumnya di dada.
Bahkan tanpa melihat wajahnya, Sungho merasakan seringai nakal di wajah Jaehyun ketika dia membalas pertanyaan Sungho. "I'm not opposed to it."
Now hovering over Jaehyun, Sungho menatapnya dari atas selama sepersekian detik, hanya untuk kembali turun dan meninggalkan ciuman lagi di rahangnya. "Yaudah, ayo," ucapnya di sela sibuknya bibir itu menggerayangi rahang Jaehyun.
Mengangkat kedua alisnya, Jaehyun actually looks amused. "Hmm, ngga ah."
"Oh?" Keterkejutan di mata Sungho nyata, tetapi dia memilih untuk bergurau. "Bisa kamu nolak aku sekarang?"
"Kamu godainnya aja setengah hati gitu."
Sungho menarik bibirnya dari rahang Jaehyun, melepaskan tautan kakinya dengan Jaehyun, menyingkirkan balutan selimut dari badannya, lalu ia beranjak dari kasur mereka. Jaehyun merasakan kekosongan dari bangkitnya Sungho dari kasur, ia ikut mengangkat badannya sehingga ia setengah terduduk dan bersandar siku.
"Kemana?" tanya Jaehyun, still with his amused smirk.
Sungho mendengus lagi, "Mandi."
"Baru jam 5 loh."
"Well if you're not gonna jerk me off, I'm gonna do it myself."
Ada dua hal favorit bagi Sungho dari kegiatan menginap di rumah Eomma. Satu adalah pemandangan dari jendela living area yang menghadap ke halaman belakang, dimana jendelanya menyatu dengan railing tangga darurat. Khas New York sekali. Ini lah yang Sungho sering lihat dari vlog-vlog "Life in NYC" para influencer itu. Or you know… just what you'd see in a Spider-Man comic.
Hal nomor dua adalah masakan rumah Eomma. Sungho benar-benar merasa pulang tiap kali ia menyuap nasi di rumah itu. Sungho sudah begitu lama tinggal sendiri, dia sudah lupa rasanya dibangunkan dengan bau nasi baru masak dari rice cooker dan duduk di depan meja makan penuh banchan.
Tinggal bersama Jaehyun, kadang ada pagi yang seperti itu, meskipun biasanya lebih sering Sungho yang membangunkan Jaehyun. Namun di sarapan di rumah Eomma, oh—Sungho serasa kembali ke Seoul dari sepuluh, dua puluh tahun yang lalu.
Pagi itu tidak terlalu banyak obrolan di meja makan. Sebagian karena Jaehyun dan Sungho dua-duanya sibuk membolak-balik dokumen formulir dan barang bukti mereka di atas meja. Tampang mereka begitu serius pagi itu, bahkan Eomma tidak menasehati mereka untuk makan dengan table manner yang benar. Woonhak pun tahu untuk tidak mengganggu, padahal biasanya dia tidak pernah mau melepaskan kesempatan mengganggu kakak (dan kakak ipar) nya itu.
"Kita baru harus file joint taxes mulai tahun depan, kan?" tanya Sungho di antara suapan makan paginya.
"Mm-hmm," Jaehyun membalik halaman dokumen di hadapannya. "Tapi you've been on my rent lease kok."
"Bayarnya lewat akunmu terus. Ngga ngebantu credit-ku. Kita belum ada joint bank account."
"Nah, kapan sih mau bikin? Aku udah bilang ini dari kemarin."
"Malu tau, I make like $60,000 a year."
"Ya terus? Kan sama."
"Baby, no offense, you're a trust fund kid."
Woonhak dan Eomma tertawa mendengarnya, dan Sungho menangkap Jaehyun dengan senyum penuh dibalik ratusan lembaran kertas resmi yang berisi deklarasi cinta Jaehyun kepadanya.
Gedung kantor distrik USCIS terletak di Lower Manhattan. Rumah Eomma ada di Midtown—lebih dekat ke Central Park dibanding ke sisi lain borough yang itu. Awalnya mereka hendak berkendara dengan mobil saja, tetapi mengikuti spirit seorang New Yorker, mereka berakhir mengejar subway, meskipun harus transit.
Ketika mereka turun di City Hall, Sungho sempat bergeming sebentar sebelum merasakan pergelangan tangannya digeret Jaehyun.
Begitu kedua kaki mereka menginjak trotoar, keluar dari tangga bawah tanah, Sungho sempat menggumam pada dirinya sendiri. Namun cukup keras hingga Jaehyun mendengarnya, bahkan diantara kebisingan pedestrian New York City.
"We should get married for real."
