Actions

Work Header

the joy of rediscovering you

Summary:

"Gimana kalo darling?"

"No."

"Honey?"

"No."

"Peaches?"

"Stop sebelum aku siram mukamu pake susu."

"Yeobo?"

Sungho tidak langsung menunjukkan penolakan, seemingly taken aback by the word.

"Oh? Yang itu boleh?"

Notes:

Bagian dari AU ini di Twitter!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jaehyun mengetuk pintu apartemennya sekali, dua kali, tiga kali, ketika tidak indikasi kalau ada yang akan menjawab ketukannya itu, baru Jaehyun mengeluarkan kunci yang terkait ke gantungan akrilik bergambar kucing calico dari saku jaketnya. Suara click! dari mekanisme pintu itu memecah keheningan di lorong apartemen.

Lampu di ruang tengah, dapur, dan lorong yang mengarah ke kamar tidur tidak ada satupun yang menyala. Namun dari entry-way apartemen itu pun, Jaehyun bisa melihat kalau lampu yang ada di kamar tidur memancarkan cahaya karena pintunya agak terbuka sedikit.

Meniti langkah perlahan, Jaehyun bergerak menuju kamar tersebut. Ia mendorong pintu yang sudah terbuka itu dengan hati-hati, berusaha tidak membuat suara nyaring tipikal dari engsel pintu. Benar saja, dia menemukan Sungho sedang tertidur—dibalut selimut yang tiap malam selalu dia curi untuk dirinya sendiri. Laptopnya masih terbuka, tergeletak di sisi kasur milik Jaehyun.

Carry-on yang menemani Jaehyun dalam perginya kemarin ia letakkan di samping dipan. Ia melepaskan jaketnya, lalu ia sandingkan ke kursi yang merupakan bagian dari meja kerjanya. Jaehyun sempat berpikir untuk langsung ke kamar mandi dan berganti baju terlebih dulu, namun pemikiran itu langsung dia buang jauh-jauh ketika ia melihat Sungho menggeliat dalam tidurnya—membalikkan badannya yang tadi menghadap ke sisi dalam kasur ke sisi lainnya.

Jaehyun mengambil laptop Sungho dari atas kasur dan memindahkan benda itu ke atas meja. Lalu, dengan sama hati-hatinya ia memanjat ke atas kasur, berusaha tidak mengganggu tidur Sungho.

Begitu ia sudah terbaring, Jaehyun mengalungkan lengannya ke badan suaminya, menariknya mendekat. Sungho yang merasakan sentuhan tersebut mengerjapkan matanya, terbangun. Menoleh ke arah Jaehyun, yang sekarang sedang menguburkan wajahnya ke ceruk diantara bahu dan leher Sungho.

"Jae?" ucapnya, suaranya serak.

"Mmhm."

"Kapan—?"

"Barusan."

Jaehyun meninggalkan ciuman-ciuman remang di leher Sungho, menghirup aroma Sungho yang merupakan campuran pewangi pakaian dan sabun.

Sungho memperbaiki posisi tidurnya, memudahkan Jaehyun untuk sepenuhnya memeluk badannya dari belakang. Like a little spoon.

"I got the mail," gumam Jaehyun, suaranya teredam karena bibirnya masih menempel dengan kulit Sungho. "Mau dibuka kapan?"

Mendengar kata 'mail' itu, Sungho seakan terjaga kembali. "Oh…" ujarnya penuh kesadaran, dia berpikir sebentar. "Besok aja."

"Okay," jawab Jaehyun, menguburkan wajahnya ke tengkuk Sungho lagi. Ndusel seperti binatang piaraan kepada pemiliknya.

Sungho menyentuh tangan Jaehyun yang melingkari badannya, eclipsing them in his own. "How's Massachusetts?"

"Could be better."

Terkekeh kecil, Sungho menggeliat lagi dalam pelukan Jaehyun—memutar badannya 180 derajat hingga ia menghadap suaminya itu. "How? Better kalo balikan sama mantanmu itu kah?"

Jaehyun yang sekarang berhadap-hadapan dengan dada Sungho malah mengerang tidak suka. "Jangan diungkit deh, malesin banget…"

Seperti menikmati reaksi kekanakan Jaehyun, Sungho lanjut menggodanya. "Kamu jahat banget sih, masa ngenalin pacarmu selama dua tahun as a hoobae ke Eomma."

"Mau tau yang lucu gak?" Jaehyun menggumam, menyesuaikan posisinya di pelukan Sungho. Kaos oblong yang dikenakannya cukup tipis sampai Jaehyun merasa dahinya menyentuh Sungho langsung as he could feel his warmth so well. Saat Sungho menggumam sebagai jawabannya, Jaehyun bisa juga merasakan getaran di dadanya. "He is still furious at me for that."

"Good for him."

Jaehyun mengangkat kepalanya—memudahkan Sungho yang sedang menyelipkan helaian rambut Jaehyun yang mulai panjang ke belakang telinga. "It would've been better if I don't have to be apart from you, sweetheart."

"Iyaa, makanya jangan pergi mulu."

"Lah, kamu loh yang udah niat ke Kanada?"

"Oh, I heard back days ago. They rejected me."

Yang dipeluk seperti berusaha menyembunyikan ekspresi senang di wajahnya—to a total failure karena suaminya bisa membaca perubahan mikro di garis muka Jaehyun semudah membaca seri Biology for Dummies. Sungho mengerlingkan bola matanya, tangan yang tadi digunakan untuk mengelus pelipis suaminya sekarang ia gunakan untuk menyapu wajah Jaehyun.

"Apa sih," komentarnya.

Jaehyun menggeleng kecil, sebuah ceringan menggoda mulai terbentuk di sudut bibirnya. "You don't seem that disappointed."

Sungho tidak langsung menjawab, namun tangannya kembali sibuk memainkan rambut Jaehyun. Semoga dia ngga ada niat potong rambut, batinnya.

"I like New York," aku Sungho pada akhirnya. Meskipun dia tidak memberi jawaban eksplisit, Jaehyun paham arti sebenarnya dari pengakuannya itu. "Makanya aku mau dapet grant aku sendiri."

Mengencangkan pelukannya, Jaehyun mengubur wajahnya di dada Sungho—yang tujuan sebenarnya adalah untuk menyembunyikan seringai bodohnya itu. "You'll get it."

Sungho juga tersenyum bodoh, it's not like Jaehyun can see it, tapi dia juga memilih untuk menyembunyikan wajahnya di rambut Jaehyun. Padahal entah kapan terakhir kali suaminya itu keramas.

"I know."


Jaehyun terbangun bahkan sebelum ada alarm yang berbunyi, namun dia menemukan dirinya tidak berada di pelukan suaminya lagi. Ia mengusap wajahnya dan menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar.

Ketika tidak ada indikasi kalau Sungho masih di dalam, ia menurunkan kakinya perlahan dari kasur. Bangkit untuk menuju kamar mandi, karena contrary to popular belief, dia nggak suka tidur dalam keadaan belum mandi seperti semalam.

Menyalakan shower, Jaehyun mengatur suhu air ke lukewarm, merasa tidak perlu "beku" hari ini.

"Myung Jaehyunnn!"

Jaehyun buru-buru mematikan keran, membalas panggilan Sungho dari luar pintu kamar mandi. "Ya?"

"Buruan ya, aku perlu ke kampus in like an hour. Biar sarapan bareng dulu."

"Yes, sir."

Bahkan air yang menghujani wajahnya tidak bisa menghapus senyumannya.


"Kirain masak," komentar Jaehyun, mengambil tempat duduk di counter marmer dapur.

"Gak serajin itu aku."

"I didn't say that you are."

"Mean."

"Jadi cuma pengen sarapan bareng aku aja nih konsepnya?" goda Jaehyun, menyendok satu suapan sereal ke mulutnya.

Sungho lagi-lagi memutar bola matanya. "Terserah kamu lah, babe."

"Oh! That's new," ungkit Jaehyun, menunjuk ke arah Sungho dengan sendoknya. "Artinya aku boleh bikin nickname baru."

"Nggak."

"Gimana kalo darling?"

"No."

"Honey?"

"No."

"Peaches?"

"Stop sebelum aku siram mukamu pake susu."

"Yeobo?"

Sungho tidak langsung menunjukkan penolakan, seemingly taken aback by the word.

"Oh? Yang itu boleh?"

Mengernyitkan dahinya, Sungho menggigit bibir sebelum lanjut berbicara. "Lama aja gak denger kata itu," Sungho mengangkat cangkir cappuccino buatannya mendekati bibir, namun tidak langsung ia minum. "That's how my parents call each other."

Sendok di tangan Jaehyun ia letakkan perlahan ke dalam mangkuk, tidak menyangka Sungho untuk mengungkit orang tuanya. Selama berteman (dan berhubungan) dengan Sungho, mungkin Jaehyun masih bisa berhitung dengan jari-jarinya the amount of times Sungho menyebut orang tuanya yang sudah lama tiada itu.

"Ah, berarti jangan ya."

Sungho menyeruput kopinya sambil menggeleng. "I don't think I mind," jawabnya. "Yeobo."

Cara Sungho menyebutkan kata tersebut dengan begitu hati-hati, seakan satu kata sederhana itu sebuah makanan asing yang belum pernah dirasakan lidahnya. Setiap kali ada "corak" baru di wajah Sungho, Jaehyun menangkap gambar tersebut di otaknya, menyimpannya di sudut khusus untuk suaminya itu di istana memorinya. Bersyukur kalau setiap harinya dia masih bisa menemukan hal baru yang bisa ia cintai dari pria itu.

"I like the sound of that," Jaehyun memberanikan diri bicara setelah detik-detik penuh hening yang terasa lama sekali. Lama namun tidak canggung.

Suaminya bergeming, menggenggam cangkir kopi dengan kedua tangannya, seperti hendak mencuri hangat dari minuman itu. "Me too."


Jaehyun lari terbirit-birit mengejar Sungho yang baru saja melangkah keluar dari apartemen mereka tidak ada satu menit yang lalu, terburu-buru meniti tangga yang menuju basement gedung tersebut.

"Sungho!"

Yang dipanggil berhenti dengan posisi agak canggung, setengah terduduk di bangku pengemudi dengan satu kaki yang masih menginjak lantai garasi. Ia menatap suaminya yang sedang terengah-engah karena kegiatan kardio yang tidak dia rencanakan itu. "Ngapain lari-lari?" tanya Sungho dengan ekspresi linglung.

"The mail."

Notes:

You can say hi to me di Tello!