Work Text:
Sungho masih cekikikan ketika ia melangkah keluar dari taksi. Supir mereka cuma menggeleng-gelengkan kepala ketika dua sejoli itu akhirnya enyah dari kendaraannya, sepanjang jalan mereka tidak bisa berhenti tertawa karena hal-hal kecil seperti seekor tupai yang mereka lewati di jalan atau orang-orang mabuk lain yang sedang berjalan pulang.
Jaehyun menyerahkan selembar $100 ke sang supir, meskipun argometernya menunjukkan $37.50 dan dia punya pecahan $50. Sebuah tip karena sudah meladeni sepasang suami yang rusuh itu di jok belakangnya.
“Keep the change, Pak. Thank you,” seru Jaehyun sambil memukul pelan pintu belakang taksi itu, menandakan kalau ia boleh pergi.
Sungho belum berhenti tertawa ketika Jaehyun merangkulnya dari belakang, mendorongnya agar ia mulai berjalan ke arah rumah. “Bisa-bisanya salah alamat,” kekeh Sungho, menyenderkan punggungnya ke bahu Jaehyun.
Sebenarnya mereka sudah tidak mabuk, tetapi entah kenapa Sungho masih belum sembuh dari giggling spell-nya. “Syukur aku bawa kunci rumah ini tau,” ungkit Jaehyun, merogoh saku dalam jaket kulit tebalnya untuk mengambil kunci rumah baru mereka di Cayuga Heights itu.
“We could've told the driver,” ujar Sungho selagi Jaehyun berusaha membuka pintu.
“Gapapa, kan ini rumah kita juga.”
Giliran Sungho yang merangkul Jaehyun dari belakang ketika ia berhasil membuka pintu tersebut, mendorong suaminya masuk ke dalam rumah.
Hawa hangat dari central heater yang otomatis menyala ketika jam menunjukkan pukul 18.00 rumah itu menyambut kedua sejoli dari dingin angin Oktober di wilayah Upstate New York. Kadang Sungho lupa bisa sampai betapa dingin kota ini, bahkan sebelum kepingan salju pertama jatuh menyentuh hijau di tanah.
“Selimut, bed cover, seprai masih di kardus semua,” komplain Sungho, mengikuti Jaehyun mencari saklar lampu.
Cahaya menyeruak dari kandil sederhana berbentuk tabung pendek yang terbuat dari teralis besi, membingkai kaca beraksen mirip genangan air, menyinari ruang tengah rumah itu dengan binar hangat.
“Tinggal ngga usah tidur,” balas Jaehyun, melepaskan lengan Sungho dari rangkulan di bahunya. Sungho menanggalkan mantel yang ia kenakan, melesehkannya outer berbahan wol itu di atas sebuah meja kopi.
Ia berjalan menuju dapur, membuka salah satu kabinet di atas bak cuci piring. Dia menghela napas lega ketika menemukan beberapa gelas kaca di dalamnya. Dia tidak yakin kalau gelas itu milik mereka, tetapi tampaknya masih bersih. Ia membasuh gelas itu di bawah air mengalir beberapa kali, sebelum mengisinya hingga penuh.
Ia mengambil beberapa tegukan sebelum menyerahkan gelas itu kepada Sungho, yang mengambilnya dengan senang hati.
“Aneh gak sih,” mulai Sungho sambil menyeruput minuman itu. “Minggu depan kita udah full-time tinggal disini?”
Jaehyun menggeleng, mengangkat badannya hingga ia terduduk di counter dapur. Matanya menyapu ruangan itu dengan cermat. Plain and undecorated. Sungho lah yang paling menarik di ruangan itu.
Lalu Jaehyun berpikir sebentar. Regardless rumah itu sudah selesai di dekorasi pun, sepertinya Sungho akan tetap jadi view terbaik.
“I don't think so,” aku Jaehyun. “Liat aja, belum selesai pindahan pun kamu udah salah sebut alamat kan?”
Sungho tersenyum, meletakkan gelas itu di atas kitchen island. Ia meniti langkahnya hingga akhirnya ia berdiri di hadapan Jaehyun, posisinya higher than usual, karena elevasi dari meja counter.
“Well, baby, I look ahead.”
Jaehyun membuka kaki, memungkinkan Sungho menyenderkan pinggulnya ke counter hingga ia dijepit di antara lutut Jaehyun.
Sungho merangkup wajah Jaehyun dengan kedua tangannya, menarik kepala suaminya hingga bibir mereka bertemu. Ciuman mereka lambat, Sungho merasakan Jaehyun bergiliran melumat bibir bawah dan atasnya, menikmati waktunya merasakan manis yang ditinggal espresso martini minuman Sungho tadi ketika mereka masih dikepung lautan manusia di Studio8.
He wouldn't admit it, tapi Sungho menemukan Jaehyun yang semalaman “menggonggongi” orang-orang supaya menjauh dari Sungho di pub tadi sangat, amat… menggoda. Musik yang dimainkan hampir memekakan telinga, dan Sungho terkejut mendengar Kak Bobby menyanyikan lagu-lagu orisinilnya yang begitu… risqué. Atau mungkin itu perasaannya saja. Atmosfer dari kelab malam yang penuh orang, sibuk dengan hiburannya masing-masing. Dan hiburan bagi Sungho malam ini adalah Jaehyun yang tidak pernah meninggalkan sisinya, berdansa malas ke irama lagu yang tidak familiar sembari dihimpit kerumunan—his body glued to Sungho's so naturally like they were tree barks held together by the sap.
Sungho sempat mencuri satu atau dua ciuman dari bibir Jaehyun di lantai dansa itu, but it was not enough.
And now—lidah Jaehyun melesak masuk tanpa peringatan, memaksa Sungho membuka lebar mulutnya. Tangan yang tadinya merangkup wajah, kini turun ke bahu, perlahan lengannya merengang hingga sikunya bersandar di ujung bahu dan jari kedua tangannya saling bertaut. Seakan memerangkap Jaehyun dalam sebuah segitiga bermuda, and he's not getting out.
Sungho tau dia membuat suara-suara tidak senonoh, but it's his house, jadi dia tidak peduli.
“Is this your idea of not sleeping?” tanya Sungho the second Jaehyun menarik diri untuk bernapas. Ketika ia maju untuk mengunci bibir Sungho dalam pagutan lagi, yang hendak dicium menghindar—sedikit berjinjit hingga bibir Jaehyun bertemu rahangnya.
Jaehyun mengikuti keinginan Sungho, peppering kisses down his jugular vein ke tulang selangkanya.
“I'm not mad about it,” jawab Jaehyun, agak teredam karena bibirnya yang masih sibuk.
Jaehyun ikut menyibukkan kedua tangannya, yang mulai meraba dada Sungho, mencengkram sisi torsonya, menanamkan sisi telapak dari jari-jarinya di sela-sela tulang rusuk Sungho—a tight grip, yang mungkin meninggalkan bekas esok hari.
Sungho menarik dirinya mundur, melepaskan cengkraman Jaehyun dari tubuhnya. Jaehyun hampir mengurung Sungho dengan kakinya, but decided on letting go. Dia menyeka bibir dengan bagian dalam pergelangan tangannya, sambil menonton Sungho yang masih terengah-engah.
“No?” tanya Jaehyun pendek.
Sungho menyenderkan panggulnya ke kitchen island yang ia punggungi, menggeleng pelan.
“Aku laper.”
“Sweetie, nothing's open at this hour, ini bukan Manhattan.”
“Should I eat you then?”
Secercah ekspresi sumringah muncul di wajah Jaehyun. “I'd like that very much.”
Sungho berdecak remeh. “Itu sih kamu yang kesenengan.”
“Alright, let's sleep it off.”
Sungho terbangun ketika cahaya matahari dari jendela yang tirainya agak tersibak itu jatuh hampir persis di matanya.
Ia mengernyit kesal, yang sepertinya ditujukan kepada matahari. Mau tidak mau, Sungho bangkit, dengan hati-hati melepaskan diri dari pelukan Jaehyun—mengangkat lengan kanan Jaehyun dari rengkuhannya ke torso Sungho.
Semalam mereka berhasil mengeluarkan sebuah bed cover dan sepasang selimut dari salah satu kontainer barang mereka. Meskipun pada akhirnya mereka berakhir terlalu malas untuk menggali seprai yang ada di tumpukan paling bawah dan hanya meletakkan bed cover serampangan di atas kasur lalu buru-buru membungkus badan mereka dengan selimut dan jatuh tertidur tidak sampai lima menit kemudian.
And to think they'd have enough energy for a love making session.
Jaehyun sepertinya sedang benar-benar lelah, dia bahkan tidak menggeliat terganggu karena gerak-gerik Sungho dalam usahanya melepaskan diri, padahal dia aslinya light sleeper.
Sungho di sisi kasur, memunggungi Jaehyun serta jendela yang jadi sumber masuknya cahaya matahari yang membangunkan Sungho barusan. Ia setengah memutar badannya untuk memandangi Jaehyun—kelopak matanya masih tertutup rapat di balik helai-helai rambut panjangnya (Sungho jarang berdoa tetapi tiap kali ia ingat kalau masih ada Tuhan—Sungho memohon agar Jaehyun tidak akan pernah memotong rambutnya pendek), bibirnya agak mengerucut ke depan dan terbuka sedikit, bagi Sungho ia terlihat beberapa tahun lebih muda saat tidur.
Tangannya bergerak merapikan helaian rambut yang jatuh tepat di atas kelopak mata Jaehyun, menyelipkannya di balik daun telinga. Dia ragu (dan agak malu) dengan pikirannya sendiri, meskipun common sense-nya berkata kalau tidak ada yang salah dengan mengecup dahi suamimu sendiri yang sedang tertidur. Apalagi di kasur kalian sendiri. The one that you share.
Sungho sudah agak mencondongkan kepalanya mendekat, dia sampai bisa mendengar, merasakan tarikan dan helaan napas Jaehyun yang berat—ritmenya seragam. Dari dekat, Sungho baru sadar kalau Jaehyun punya tan lines di antara bahu dan lehernya. Samar. Samar sekali. Sungho sampai tidak pernah menyadarinya kalau dia tidak memerhatikan Jaehyun sedekat ini, dengan pencahayaan seterang matahari pagi yang mengintip dari selipan tirai.
Darimana tan lines itu? Apa dari kebiasaannya lari pagi sejak awal musim panas ini? Apakah sinar matahari pagi di Upstate New York yang terkenal dingin ini bahkan begitu tertariknya pada gravitasi Jaehyun sampai bisa meninggalkan bekas samar itu?
Sungho mengibakkan beberapa helai poni Jaehyun, membuka celah kecil mirip tirai jendela kamar mereka saat itu, lalu meninggalkan kecupan yang sama samarnya dengan tan lines di badan Jaehyun di dahinya.
Jaehyun tidak bereaksi. Tarikan napasnya masih menunggangi ritme yang sama. Namun kerutan tipis yang tadi sempat tampak di antara alisnya hilang. And Sungho wishes they’d stay away for the rest of time.
Ada moka pot di sebuah kardus yang diberi label ‘KITCHEN’ itu, begitu pula dengan beragam panci, wajan, dan spatula serta tetek bengek memasak lainnya. Tetapi tentu saja tidak ada kopi atau bahan makanan apapun di dapur itu. Kulkas saja belum dicolok ke stop kontak!
Sungho memijat pelipisnya dengan ibu jari dan jari tengahnya. Morning routine-nya terganggu.
Laparnya dari semalam sudah hilang, tetapi dia butuh kafein untuk menarik sisa-sisa buzz yang ia masih sedikit rasakan dari minumannya semalam.
Ia tidak ingin membangunkan Jaehyun, namun dia juga tidak ingin keluar rumah. Bengis memang musim dingin di New York, Sungho pantang keluar rumah sebelum (paling tidak) pukul 12 siang kalau tidak sangat harus. Ini akhir pekan, he shouldn’t have to, no?
Pandangannya dia alihkan dari tumpukan alat masak yang sudah jadi tumpukan berantakan di atas konter dapur ke arah ruang tamu. Ia teringat kalau lampu teras dan kandil itu masih menyala, jadi ia meniti langkahnya kesana. At least he should get something done.
Di salah satu sudut ruang tamu itu, tumpukan kontainer dan kardus yang masih tertutup rapi berderet sepanjang setengah dari lebar ruangan itu. Dari label yang sudah dituliskan jelas-jelas di kardus, Sungho tahu kalau ada dua kardus cukup besar yang berisi koleksi buku miliknya dan milik Jaehyun (sebagian besar milik Jaehyun, karena Sungho tidak pernah punya begitu banyak tempat untuk menyimpan buku di apartemen lamanya).
Menandai kalau ada sebuah rak kayu sederhana berbahan mahogani yang merupakan peninggalan pemilik rumah sebelumnya (yang kebetulan adalah Dr. Stokes alias Adviser Sungho sendiri), Sungho memutuskan untuk membongkar salah satu kardus itu.
Kardus buku yang berada di tumpukan paling atas, adalah koleksi buku fiksi Jaehyun. Sungho ingat Jaehyun menaruhnya di atas karena kebanyakan buku-buku itu memiliki soft cover, jaga-jaga bila saja apabila kotak itu tidak sengaja tersenggol maka tidak akan menimbulkan suara dentuman sesangar buku-buku hardcover dari silabus biologi itu. Less painful too, if it happened to be dropped on you.
Meskipun penuh, kardus itu tidak terasa begitu berat. Sungho tidak kesulitan menurunkannya, maupun mengangkutnya ke sudut lain ruangan letak rak tersebut.
Sungho menggunakan kunci rumah yang masih tergeletak di atas kitchen island sejak semalam untuk merobek perekat dari kardus tersebut. Ia disambut beragam novel fiksi, dari bacaan level middle-grade sampai tipikal buku young-adult dystopia yang ramai ketika mereka masih remaja dulu. Jujur saja, Sungho tidak tahu kenapa Jaehyun membawa semua buku ini sampai ke Ithaca, it’s not like he still actively reads them, dan jelas-jelas ini koleksi bukunya dari masa itu.
Menata buku-buku itu satu persatu, berusaha menyesuaikan buku-buku tersebut sesuai seri dan urutan terbitnya. Beberapa buku itu tidak memiliki penanda di sampulnya, dan Sungho kurang familiar, jadi dia bergantung pada instingnya saja.
Tidak butuh lama untuk menyusun buku-buku itu, tahu-tahu Sungho sudah menyisakan satu buku saja yang sepertinya dari awal sudah salah tempat. Sebuah buku catatan bersampul kulit hitam, tebal bukan karena jumlah halamannya, tetapi karena lembarannya sudah mulai mengembang karena penggunaan berkali-kali, dibubuhi tulisan tangan Jaehyun yang pasti dari goresan tinta hitam pulpen Parker mahalnya itu.
Sungho tidak membacanya. Dia tidak mau menginvasi privasi Jaehyun seperti itu, but his cat-like curiosity won’t let him go on until at least he flipped through it.
Sialnya, ada sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari sela lembaran itu.
Sungho mengernyit, memandangi benda gepeng kecoklatan berbentuk lingkaran yang sekarang tergeletak di lantai. Dia tidak mengenakan kacamatanya, jadi ia harus berjongkok untuk mengidentifikasi benda asing tersebut. Meletakkan buku catatan tersebut di samping kakinya.
Ketika Sungho memungut benda itu, baru ia menyadari kalau yang ada di tangannya adalah sebuah cincin dari batang bunga dandelion yang ia buat beberapa minggu yang lalu ketika ia berhasil dihasut Jaehyun untuk ikut lari pagi. Sudah layu, dan gepeng (obviously) karena diapit lembaran buku yang ditindih puluhan buku lain, yet it still retained the shape.
Sungho terjerembab ke belakang dengan suara bruk yang cukup keras, entah kenapa kakinya tiba-tiba kehilangan kekuatan untuk menahan posisinya.
Ia biarkan cincin “mainan” yang ringkih itu tergeletak di atas telapak tangannya, ia takut kalau terlalu banyak dipegang, bisa-bisa kaitannya lepas.
Melipat kakinya, Sungho duduk bersila di samping rak dan kardus yang sekarang kosong itu, matanya masih melotot memandangi bunga kering itu. Pikirannya tiba-tiba kalut. Dia senang. Dia tahu dia senang. Tapi Sungho juga takut. Entah sejak kapan Jaehyun sudah diam-diam menjelajah masuk ke labirin Sungho, sampai-sampai Sungho baru sadar kalau ia sudah sedalam itu. Sungho tidak ingat pernah memberinya benang merah yang menunjukkan jalan keluar dari seluk-beluk, lorong pelik itu tetapi Jaehyun tetap berani menerjangnya.
Sungho tahu persis apa yang ada di jantung labirin itu. Sudah sepuluh tahun ia tidak mau keluar. Terkurung penuh rasa takut atas labirin ciptaannya sendiri, tidak punya keberanian Daedalus untuk paling tidak berusaha membuat sayap bulu-lilin itu untuk membebaskan diri.
Sungho sudah kehilangan banyak hal, banyak orang—orang-orang yang paling penting di hidupnya. Ia mengurung bagian dirinya yang ingin memiliki itu jauh di dalam labirin tersebut—di hari ibunya pergi, menyusul ayahnya yang tanah makamnya bahkan belum sempat menyambut rumput musim semi.
Benci dirinya mengakui ini, tetapi ia tidak terkejut dengan kepergian ayahnya—beliau sudah jadi teman lama klinik onkologi, sejak Sungho baru tahu caranya berjalan. He kept pulling through, again and again, until he didn’t.
Tapi Sungho diberi waktu lama untuk mempersiapkan perpisahan. Tiap harinya sudah diisi ketakutan kalau besok adalah hari dimana ayahnya akan tersenyum kepadanya untuk terakhir kali, memanggilnya “아들” untuk terakhir kali, menyanyikan lagu ballad 90-an bersama gitar tuanya dengan sumbang untuk terakhir kali, begitu banyak terakhir kali sampai akhirnya rasa takut itu sudah jadi bagian dirinya.
Of course, he cried when it finally happened. He cried for days. He mourned. He let himself break down, and he lets his mom gather up the pieces and put him together again.
“Humpty-dumpty, sat on a wall, right? 우리 아들?” kisahnya setiap kali Sungho merasa dirinya sudah remuk. Berbicara lembut dan penuh dengan kasih sayang, bahkan lebih sabar dan telaten daripada ketika ia berkisah tentang sajak anak-anak ke siswa sekolah dasar yang ia ajar Bahasa Inggris.
Beliau bukan Ibu Angsa, tetapi beliau selalu mengambil kebebasan artistik dan mengubah-ubah sajak anak itu sesuka hatinya. All the king’s horses and all the king’s men, couldn’t put Humpty together again adalah lanjutan dari sajak itu, tetapi ibunya selalu berkata: “I’m the king’s women, I would totally put Humpty together again.”
Untuk membela ibunya, beliau selalu berhasil menyusun Sungho hingga utuh kembali.
The only time she didn’t is when she left, too.
Sungho mendorong memori tentang sajak Ibu Angsa dan kisah negeri dongeng beliau begitu dalam masuk ke tengah labirin, bahkan lebih dalam daripada ingatannya kehilangan sang ayah. At one point, he realized happier memories hurt more.
Bagi Sungho, losing his father was grief. Tetapi, losing his mother was earthquake where the epicenter was ocean’s away. Tidak ada yang memberi peringatan, tahu-tahu Sungho sudah rubuh.
Kak Minjeong, yang dulunya hanya putri sepupu ibunya, tiba-tiba jadi orang terdekat Sungho. A biology major at Yonsei, studying in Seoul all on her own. Sungho disini sekarang, di New York, di Ithaca, di Cornell, di departemen Biologi, bahkan di samping seorang Myung Jaehyun merupakan dampak dari kehadiran Kak Minjeong ke hidupnya saat itu. Ya Tuhan, Sungho kurang sering menelepon kakaknya itu.
Karenanya, frasa Polycystic Kindey Disease berubah dari rentetan kata kosong yang digunakan seorang dokter untuk menjelaskan brain aneurysm yang tiba-tiba terjadi pada sang ibu menjadi kata kunci dari seluruh thesis-nya sejak ia masih undergraduate, hingga saat ini.
Sungho merogoh kembali buku catatan Jaehyun itu, membalik-balikkan halamannya, berusaha mencari pasangan cincin bunga itu. Sungho ingat menyerahkan cincin miliknya kepada Jaehyun juga ketika mereka pulang dari Mulholland Wildflower Preserve.
Sungho menemukannya di antara halaman yang berisi catatan tentang memperbaiki sebuah perhitungan di thesis-nya, dan sebuah sajak? Puisi? Sungho tidak tahu apakah itu tulisan orisinal Jaehyun. But the title reads, If I Was a Love Poet.
Jari Sungho meraba tinta pada halaman itu, menandai beberapa kalimat yang berakhir di ikrar Jaehyun kepadanya di ruangan kecil di City Hall waktu itu, di depan keluarganya. Membuat janji Sungho waktu itu terdengar payah.
Sialan.
I love you the same way I learned how to ride a bike, scared.
But reckless.
With no training wheels or elbow pads so my scars can tell the story of how I fell for you.
Jaehyun tidak berbohong. Benar, dia reckless. Tidak mungkin dia menjadikan penjara di tengah labirin Sungho itu singgasananya kalau Jaehyun bukan orang yang reckless.
Sungho membaca puisi itu sampai habis. Lucu, witty. Sungho tidak kaget kalau ternyata memang buatan Jaehyun.
Sungho is lucky. Very lucky. Understatedly so.
Tapi dia tahu dia menyayangi Jaehyun. Bahkan lebih dari itu, Sungho menginginkannya. Sungho wanted to be his and Sungho wanted him to feel the same way.
Jaehyun sudah terlanjur masuk ke labirinnya, and he’s not getting out soon.
Salah Sungho membukakan pintu. So he has to live with the consequences. And Sungho doesn’t mind it.
Sungho takut. Takut kalau membiarkan Jaehyun masuk, Sungho berisiko kehilangan sesuatu lagi. After 10 years of not having anything worth risking.
“Sung?”
Menutup buku tersebut buru-buru, Sungho menoleh ke sumber suara.
Jaehyun baru bangun. Rambutnya berantakan, kaosnya kusut, dan dia masih menggosok-gosok sebelah matanya.
Menaruh buku catatan itu ke slot kosong di antara buku-buku fantasi di rak, Sungho memutar badannya dalam posisi duduk itu untuk menghadap arah Jaehyun datang.
“Hi,” sapanya.
“Kok nggak bangunin aku?” tanya Jaehyun, mendekat.
Matanya berakhir pada kedua cincin bunga itu di tangan Sungho yang terbuka, langsung menandainya.
“Oh, you found those.”
Sungho mengangguk. “Jae,” ucapnya.
Jaehyun seperti hendak ikut duduk di samping Sungho, tapi ia menghentikannya. Menahan dengan mendorong pinggul Jaehyun.
Bingung, Jaehyun memiringkan kepalanya.
“Kena—?”
“Stay there,” perintah Sungho. “I have something to say.”
Ada keterkejutan yang berkedip di mata Jaehyun, dia memandang sekitarnya, seakan mengecek kalau-kalau ada kamera tersembunyi.
Sungho mengambil kedua tangan Jaehyun dengan miliknya, menaruh salah satu cincin bunga itu di telapak tangannya. Jaehyun tidak menggunakan cincin nikahnya di jari manisnya, cincin itu menggantung sebagai liontin di sebuah kalung rantai di lehernya. He’s always scared of losing them at random restrooms.
“Sweetheart, what are you trying—?”
Jaehyun menyentuh kembali tangan Sungho, eclipsing it carefully.
“And I know this sounds strange,” mulai Sungho, berusaha mengingat-ngigat puisi yang baru dia baca itu sebaik yang dia bisa. Narrating it back to his husband, agak malu-malu bahkan. “But every now and then... I pray to God that he turns you back into one of my ribs just so I would never have to spend an entire day without you.”
Jaehyun sepertinya mengenali puisi yang Sungho baca, he looks almost amused. Tetapi ekspresi di wajahnya lebih dominan dengan ekspresi terkejut.
“Myung Jaehyun.”
“Park Sungho.”
“Thank you for being patience with me. And for not giving up half-way, I know I’m... very indifferent—”
“Hell yes, you are,” Jaehyun mengonfirmasi, stifling a laugh.
“Kamu sudah ngelamar aku sekali,” Sungho memperbaiki posisinya, menumpukan berat tubuhnya ke lutut kanannya. “But it was a shit proposal.”
Tawa Jaehyun pecah, diikuti kekehan Sungho. “Setuju,” aku Jaehyun.
“Do you mind if I do one?” tanya Sungho, retorikal.
Jaehyun menggeleng. “Engga.”
“Myung Jaehyun. Aku bukan orang yang bisa ngebayangin masa depanku, you know,” mulai Sungho, menimang-nimang tangan Jaehyun untuk menghindari rasa canggung yang menggerayanginya.
God, this is so cheesy, pikir Sungho, tersipu. But Jaehyun makes him want to do cheesy, stupid things.
“Tapi kamu bikin aku mikir jauh-jauh terus, kamu lari masuk pas aku lengah kaya mencit-mencitku di lab. It’s stupid. Stupid, dan ngerusuhin hidupku tahu. Even as a friend. Damn you for that.
“Damn you, aku jadi pengen bangun rumah sama kamu. Damn you, aku jadi lebih sering mikirin kamu daripada grant-ku itu sekarang. Damn you juga aku jadi pengen masang pagar putih di depan rumah ini, tau? Kaya imigran tahun 70-an yang ketipu American Dream.
“Damn you, aku sampe ngebayangin kamu main baseball di halaman depan sama anak kecil—our kid, maybe? I don’t know? Because for once in my life, aku beneran gak tahu aku sebenernya mau apa.
“But I know I want you. Bahkan tanpa iming-iming green card itu anymore, I still want you. And I like you. I damn love you and it’s not for show.
“So, please marry me. Again. Let me know how it feels to marry the love of my life.”
Jaehyun tersenyum, polos seperti anak kecil. Padahal Sungho sudah hampir terisak.
Kali ini, usahanya untuk turun agar tatapan mata mereka sejajar tidak dihentikan Sungho.
Jaehyun mengalihkan perhatian mereka ke tangan yang saling merangkup itu. Ia memasang cincin bunga dandelion yang sudah layu dan kering kerontang itu, setengah berdoa semoga cincin itu tidak jadi debu di tangannya.
But it fits, as well as it did when it was still a freshly picked flower, menghiasi jari Jaehyun yang biasanya bebas dari aksesori apapun.
“I would marry you in every lifetime.”
