Work Text:
Dengan netra yang jengah, Sky memandangi jalan yang dirintiki oleh hujan. Ia mendesah pelan. Sky melihat seseorang berdiri di sebelahnya. Sama dengan nya, memandang jalanan yang basah genangan air. “It’s been an hour we here, Kamal” jengah Sky meratapi awan yang gelap. Yang satu nya menjawab dengan gumaman pelan. “Yaudah, terobos aja hujan nya, gimana?” Awalnya Sky ragu. Namun ia mengiyakan usulan Kamal untuk menerobos hujan di sore hari itu.
“Yaudah ayo” ajak Kamal sambil mengulurkan tangan nya untuk Sky. Entah bagaimana, interaksi seperti itu sudah seperti sehari-hari diantar Sky dan Kamal.
Sky menyadari nya, mungkin ia menyadari nya. Entah, kepala nya terlalu pusing untuk menamai apa yang terjadi di antara mereka. Ia sendiri tidak yakin bagaimana Kamal menamai hubungan mereka. Yang pasti mereka berdua adalah teman. Itu yang mereka berdua ketahui.
Kamal menarik tangan nya, memecah lamunan nya sesaat. Membawa nya ke tengah rintikan hujan. Mereka berdua berlari kecil di trotoar yang basah oleh rintikan hujan. Entah kenapa, dada Sky berdegup lebih cepat saat itu. Sky coba tidak menghiraukan hal itu.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berteduh di pemberhentian bus yang mereka temukan di sekitar.
Dengan seragam yang mereka kenakan menjadi basah kuyup, Kamal dan Sky terduduk di kursi pemberhentian itu. Tawa ringan dari Sky dan Kamal memenuhi pembehentian itu di tengah hujan. Menertawai betapa konyol mereka berdua yang basah kuyup tertimpa oleh air hujan.
Suasana dingin mengelilingi mereka berdua, hanya membuat Sky fokus menatap jalanan yang basah. Hingga Sky tidak sadar kapan Kamal bergerak mendekat. Tahu-tahu sudah menyibakkan poni basah nya yang menyentuh alis nya. “Ganggu” gumam Kamal singkat. Membuat mata mereka saling bertaut. Mata hitam legam Kamal dan iris cokelat pekat milik Sky saling mengunci dengan hembusan nafas pelan kedua nya yang memanaskan pipi kedua nya. Untuk sesaat, mereka menjauhkan diri. Kamal hanya berhendam pelan, mencoba tidak menghiraukan apa yang barusan tengah terjadi.
Tanpa terasa hujan telah berhenti, awan gelap telah sirna. Kedua nya memutuskan untuk mengunjungi rumah Kamal.
Memasuki kamar Kamal yang sangat familiar bagi Sky, tembok nya yang berwarna hijau zamrud. Disekitar nya tertata rapih figuran yang katanya telah ia koleksi sejak sekolah dasar. Di sebelah nya ada meja komputer yang Sky tahu, untuk menemani kegiatan bermain game setiap malam dengan diri nya.
Mengganti baju menjadi baju yang lebih hangat, mengeringkan rambut yang menetes akibat air hujan. Sky selalu suka aroma baju Kamal, lembut, seperti ada kesan woody dari aroma nya. Jika dibayangkan, seperti dalam rumah kayu di tengah hutan pinus yang damai. Perasaan yang ia akui sama jika bersama dengan Kamal.
Sky membuka laptop nya dan menaruh diatas meja kecil sebelah kasur. “I look lowkey good after getting bashed by the rain, don’t you think?” Ujar Sky menatap diri nya dari layar kamera laptop sambil mengusak rambut nya.
“You always look good to me Sky, don’t you worry” Kamal menimpali. Menatap netra nya dalam. Sky dengan cepat menutup layar laptop nya, lupakan dengan memandangi diri nya dari layar laptop.
Sekarang yang mereka lakukan adalah menggunakan pelembap wajah, saran dari Sky. Diiringi oleh lantunan lagu yang memenuhi kamar Kamal. Sky bersila diatas kasur, Kamal tertidur diatas paha nya. Menenggak ke arah mata Sky. Jari-jari Sky tengah sibuk meratakan krim wajah di muka Kamal. Dengan memberi pijatan pelan di muka nya. Untuk sesaat mata Kamal terpejam, menikmati pijatan pelan di muka nya. Ia bergumam pelan “kalau gini gua ke lu aja ya, dipakein terus” entah apa maksudnya, dasar Kamal aneh.
Mata Sky dengan refleks tertuju pada bibir ranum Kamal yang lembap. Sky mengalihkan pandangan nya dengan cepat, berusaha menahan reaksi nya yang berdegup kencang. Pikiran nya terasa kabur. “Mal, lu pernah hooked up sama orang lain?” Bodoh, kutuk Sky dari dalam hati karena membiarkan ucapan itu keluar dari mulut nya.
Dari raut nya yang Sky tangkap, Kamal sedikit terkejut dengan pertanyaan yang Sky lontarkan. “Hah, enggak. Kan gua selama ini sama lu doang main nya kan.” Ujar Kamal. Terjadi kecangguan diantara mereka untuk sesaat.
“Kenapa memang? Lu pernah?” Ujar Kamal menimpali berusaha mencairkan suasana. “Enggak sih…” ujar Sky pelan. “Kenapa? Lu mau ya Sky? HAHAHAH” Kamal terbahak-bahak menggoda Sky. “Ya gua aja sama lu terus, gimana sih?” Sky berusaha menutupi diri nya yang tersipu, terus mengutuk dalam hati bagaimana ia bisa bertanya begitu.
“Hmm, kalau gitu..” Sesaat Kamal menarik lengan Sky, membawa Sky kedalam kukungan Kamal. Dari bawah kukungan Kamal, ia melihat senyum tengil dari muka nya. Sky berusaha memalingkan wajah, berusaha mengurangi degupan dada nya yang kencang.
“Sky, liat mata gua” ujar Kamal dengan nada rendah. Sky memalingkan wajah nya pelan, menatap Kamal yang sedaritadi menatap diri nya. Entah apa isi pikiran Kamal, ia mendekati wajah Sky. Hembusan nafas beradu diantara mereka. Situasi ini membuat Sky gila setengah mati. Ia tidak bisa kabur, kukungan Kamal membuat nya tidak bisa menggerakan badan nya.
Kamal hendak menundukan wajah nya, membuat ujung hidung kedua nya bersentuhan, nahas mereka beradu. Kamal memejamkan mata nya, memegang sprei kasur dengan remat. Namun yang terjadi setelah nya Kamal memalingkan wajah nya dari Sky. Mengusap kasar muka nya, tampak frustasi.
Dalam waktu singkat, dalam intuisi Sky yang tengah kacau. Darah muda yang penuh impulsivitas. Sky mengecup pelan bibir Kamal. Sensasi baru yang tak pernah ia duga, seperti ada sengatan listrik diantara mereka berdua. Kamal sedikit melotot dan menatap Sky. Entah apa ya ia rasakan. Kamal menjatuhkan diri nya diatas dada Sky. Menutupi muka nya yang merah padam.
Kamal kembali mengakat badan nya, kembali mengukung Sky dibawah nya. “Sky, you feel that too, right?” Ujar nya. Belum sempat Sky menjawab, dengan cepat Kamal menyahut “you wanna try that with me, Sky?” Isi kepala Sky tidak bisa berpikir dengan jernih, hanya bisa menganggukan kepala nya.
Kini Kamal dengan rasa pasti namun ragu yang bercampur aduk, ia mencium dengan lembut bibir yang berada di kukungan nya. Di selingi dengan kedua nya memejamkan mata, merasakan sensasi ketika bibirnya nya dan Kamal bertemu. Rasa nya aneh, namun menumbuhkan rasa ingin. Lirik Sky berucap “lagi” dengan pipi nya yang merah padam seperti ia akan meledak kapan saja. Kamal menjawab dengan kekehan dan kembali memberikan kecupan ringan yang sama seperti sebelum nya.
Kamal akhirnya menidurkan diri nya diatas Sky. Kedua nya sambil terkekeh. Dengan jari-jemari Sky mengusap rambut Kamal. Kamar itu mendadak terasa terlalu sunyi.Sky masih bisa merasakan hangat napas Kamal di dekat lehernya, sementara detak jantungnya sendiri belum juga melambat.
“Kita barusan…”
“Iya,” potong Kamal cepat sambil menutup muka dengan bantal. Sky malah tertawa kecil. “Lu malu ya?”
“Diem lu.”
Entah bagaimana hubungan Kamal dan Sky setelah nya. Namun mereka berdua menyadari itu nyata diantara mereka berdua di sore itu
