Actions

Work Header

fallin' flower

Summary:

Jeongin tidak yakin bisa menghadapi Seungmin dengan acuh tak acuh setelah menelanjangi hatinya sendiri dan memberitahu sahabatnya bahwa benar kalau ia berada di ambang kematian karena jatuh cinta pada laki-laki itu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jeongin biasanya bukan tipe orang yang suka ambil pusing soal hidup orang lain, tapi saat Seungmin tiba-tiba bilang akan bekerja paruh waktu selama liburan musim panas dan meminta Jeongin mengantarnya ke tempat wawancara, ia tidak mendapati dirinya langsung mengiyakan permintaan sahabatnya.

“Buat apa?” Jeongin bertanya, sumpitnya yang barusan mengambil sepotong tteokbokki tertahan di udara.

Seungmin sekarang sudah memasuki kelas tiga, belum lama ini ia bahkan bilang akan sibuk belajar dan mengerjakan latihan soal mengingat ujian masuk perguruan tinggi sudah di depan mata.

“Cuma coba-coba aja. Ibu bilang aku harus cari kegiatan lain selama liburan, biar nggak suntuk katanya.”

Ok. Masuk akal.

Sejak awal tidak pernah ada alasan mendesak yang membuat Seungmin harus bekerja maupun mencari uang sendiri. Keluarga Kim jelas mampu membiayai semua keperluan anak bungsu kesayangan mereka tanpa perlu bersusah payah.

Jadi Jeongin tidak bertanya lebih lanjut, dan membiarkan bocah itu menyeretnya ikut.

Tempat kerja paruh waktu yang dimaksud Seungmin ternyata bangunan dua tingkat yang disulap jadi toko bunga. Jaraknya delapan menit naik sepeda dari rumah.

“Tunggu di sini.”

“Ok.”

Seungmin masuk sendirian, lalu Jeongin melihatnya berbicara dengan seorang laki-laki berambut panjang yang berdiri di balik meja kasir.

Mereka berbincang cukup lama entah soal apa, lalu ada satu pertanyaan yang Jeongin tangkap sebagai, “Apa bunga kesukaanmu?” yang membuat Seungmin gelagapan (karena tentu saja Jeongin tahu Seungmin bukan penggemar bunga! Mereka sahabat dari kecil dan tidak pernah sekalipun laki-laki itu menyinggung soal bunga di hadapannya.) sebelum ia menujuk asal ke suatu bunga yang tidak Jeongin ketahui namanya.

Awalnya Jeongin berpikir Seungmin hanya membual soal bekerja paruh waktu.

Bisa saja ini hanyalah hukuman yang harus bocah itu jalani karena kalah main taruhan dengan teman sekelasnya, dan Seungmin butuh saksi mata makanya ia membawa Jeongin bersamanya—tapi benar-benar ada iklan untuk mencari pekerja paruh waktu ditempel di jendelanya yang membuktikan kalau lowongan pekerja paruh waktunya memang nyata.

Walau begitu, toko bunga tidak pernah masuk dalam daftar pekerjaan yang mungkin Seungmin lakukan. Karena sekali lagi, Seungmin bahkan tidak suka bunga. Bukannya kafe dan toserba biasanya jadi pilihan yang paling umum untuk kerja paruh waktu bagi pelajar?

Apa jangan-jangan karena pegawainya manis makanya Seungmin ingin bekerja di sana? Pegawai yang berbicara dengan Seungmin jelas kelihatan masih muda, mungkin bahkan seumuran dengan mereka. Ada keanggunan dalam cara si pegawai berinteraksi dengan sahabatnya. Mata laki-laki itu menyerupai bulan sabit setiap kali Seungmin berbicara—dan ada lesung di pipinya. Seorang pemikat sejati.

Diam-diam Jeongin membandingkan dirinya dengan si pegawai toko bunga. Maksudnya ia juga punya lesung pipi—di kedua pipinya—dan matanya juga berbentuk bulan sabit saat tersenyum loh! Tapi ia tidak tahu apakah Seungmin pernah berpikir kalau ia menawan, mengingat sahabatnya itu lebih sering menjadikan ledekan sebagai cara menunjukan afeksi.

Saking sibuknya dengan pikiran sendiri, Jeongin tidak sadar kalau Seungmin sudah keluar dari toko dan berdiri di sampingnya. Wajahnya secerah bunga warna kuning di dalam toko.

“Aku diterima! Katanya aku bisa datang mulai besok,” ucap Seungmin antusias. Memamerkan pin bunga dengan kelopak warna ungu, yang katanya dipakai pegawai The Bloomerie—nama toko bunga tersebut—sebagai tanda pengenal alih-alih papan nama biasa.

Jeongin jelas ikut senang karena Seungmin kelihatan begitu menyukai pin bunga barunya dan menggenggam benda itu seakan itu adalah hadiah besar dari undian yang baru ia menangkan.

Seandainya ia tahu kalau The Bloomerie akan membawa malapetaka dalam hidupnya, Jeongin pasti akan membawa Seungmin pergi jauh dari sana.


Seungmin menghabiskan semua waktunya di toko bunga di pagi hari, lalu pulang ke rumah dan belajar sampai larut malam. Setiap kali Jeongin berusaha mengajaknya bermain, atau sekedar makan siang bersama, Seungmin akan menolak ajakannya.

Sekalinya Seungmin punya waktu untuk berbicara panjang lebar dengan Jeongin di telepon, ia hanya membicarakan Hyunjin.

Hyunjin adalah pegawai yang mewawancarai Seungmin waktu itu.

Hyunjin adalah anak pemilik The Bloomerie.

Hyunjin seumuran dengan Seungmin.

Hyunjin menekuni seni dan berencana melanjutkan studinya di Universitas Hongsik.

Hyunjin tinggal beberapa blok dari toko bunga—lima menit dengan berjalan kaki, berdasarkan pencarian tidak penting Seungmin. (Kau seperti orang aneh! hardik Jeongin waktu itu.)

Hyunjin suka semua jenis bunga—tapi kesukaannya adalah mawar. (Terutama warna biru, Seungmin menambahkan. Seakan Jeongin peduli.)

Hyunjin ini, dan Hyunjin itu.

Jeongin mencoba menanggapinya dengan hati yang lapang. Tapi saat ia mengirim pesan kepada Seungmin untuk mengundangnya makan malam bersama, karena ibunya kebetulan memasak semua makanan kesukaan sahabatnya itu, Jeongin mendapatinya tertidur dan terbangun tanpa balasan sama sekali. Bagian terburuknya adalah ketika ia juga tidak datang saat jam makan, tapi Jeongin melihatnya membuat unggahan di media sosial dan menandai akun lain yang ia ketahui sebagai Hyunjin.

Untuk pertama kalinya, Jeongin berhenti menghubungi Seungmin lebih dulu.


“Katanya kau sakit.”

Jeongin menurunkan selimutnya sampai dagu, mendapati Seungmin bersandar pada pintunya sambil bersedekap. Kemarin laki-laki itu menghilang tanpa peringatan, Jeongin tidak tahu kenapa sekarang ia peduli.

Jeongin menjawab dengan berdeham seadanya, lalu menaikkan kembali selimutnya. Ia tidak bisa berhenti batuk setelah makan malam, seakan ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya dan meninggalkan rasa terbakar. Ibunya sudah mencekokinya dengan teh jahe dan lemon, tapi Jeongin rasa ramuan ajaib ibunya sudah kehilangan kekuatan magisnya.

“Sudah minum obatmu?”

Jeongin lagi-lagi berdeham singkat, seakan takut pita suaranya rusak, meskipun ini bukan pertama kalinya ia sakit.

Seungmin menghela napas kasar melihat Jeongin tidak menggubrisnya. Ia tahu Jeongin bukan hanya sakit, tapi juga sedang merajuk karena mereka sudah jarang menghabiskan waktu bersama. Meski begitu ia memberanikan diri untuk mendekat dan duduk di pinggir ranjang, lalu menyingkap selimut dan menempelkan telapak tangannya. Tubuh Jeongin jelas lebih hangat dari biasanya, tapi setidaknya bocah itu kelihatan tidak seburuk bayangannya.

“Aku akan pulang cepat hari ini, kalau sudah lebih baik datang saja ke toko bunga, nanti kutraktir makan malam.”

“Ya, ya. Terserah.” Lalu Seungmin benar-benar pergi. Rasa kesal terbesit dalam hati Jeongin karena temannya bahkan tidak membujuknya seperti biasa.

Persetan dengan Seungmin, Jeongin akan makan malam di rumah.

Nyatanya setelah berguling ke sana ke mari, rasa bosan mengalahkan egonya. Lagi pula Jeongin tahu dirinya tidak sakit separah itu. Ibunya bilang batuknya akan sembuh sendiri kalau saja ia menghabiskan teh jahe dan lemonnya dengan benar.

Setelah menimbang-nimbang, Jeongin akhirnya meraih jaketnya dan naik sepeda lalu mengambil tikungan ke kanan menuju ke The Bloomerie.

Cuacanya bagus untuk makan naengmyeon dan es krim, Jeongin bersiul-siul sepanjang jalan sambil membayangkan bagimana ia akan menghabiskan semua uang Seungmin dalam rangka balas dendam.

Saat sampai di depan toko bunga, Jeongin dapat melihat Seungmin tengah bekerja sendirian di balik meja kasir lewat jendela. Toko sedang sepi, dan sepertinya bocah itu sedang beres-beres sebelum pulang. Senyum simpul terlukis di wajah Jeongin.

Namun, sebelum Jeongin sempat meraih gagang pintu, ia melihat Hyunjin yang muncul dari balik punggung Seungmin dan mengecup pipinya kemudian mereka tertawa bersama.

Saat itu, Jeongin baru menyadarinya. Oh. Sejak awal ini bukan soal mencoba hal baru, menemukan hobi lain—apalagi aktivitas produktif untuk membunuh waktu.

Seungmin hanya tengah jatuh cinta.

Dengan Hyunjin.


Katanya Jeongin terkena penyakit langka.

Jeongin bahkan tidak ingat bagaimana itu terjadi. Awalnya ia pikir demam musim panas akhirnya menemukannya karena ia hidup serampangan selama liburan. Tapi, karena batuk dan demamnya tak kunjung membaik, ibunya menyeretnya ke rumah sakit untuk diperiksa.

Jeongin sendiri tidak terlalu percaya. Siapa juga yang bisa percaya kalau ada penyakit mematikan karena cinta yang tak berbalas?

Sampai ia melihat sendiri bagaimana paru-parunya kini sudah penuh ditumbuhi organisme yang familiar.

Sebuah bunga.

Bunga yang hidup, dengan akar yang merambat dan membelenggu sistem pernapasannya.

Bunga yang mencuri pasokan udara dan mengoyak tubuhnya dalam diam.

Bunga yang sama dengan yang ia muntahkan selama dua pekan belakangan.

Bunga yang sama dengan pin tanda pengenal khusus pegawai The Bloomerie yang Seungmin pamerkan padanya beberapa minggu lalu.


Batuknya makin parah, tapi sepulang dari rumah sakit, Jeongin justru berhenti makan dan mengurung diri.

Katanya kalau tidak ditangani Jeongin bisa mati, sebaliknya kalau ia melakukan operasi untuk mengangkat bunga yang tumbuh di paru-parunya, Jeongin tidak akan memiliki kesempatan untuk merasakan apapun lagi.

Apa itu artinya dia akan jadi cacat? Jeongin bahkan tidak dicintai saat masih normal, apa yang harus ia lakukan kalau dirinya cacat?

Ibunya jelas khawatir. Bahkan Seungmin yang biasanya sibuk di toko bunga, malam itu mampir. Ketukan demi ketukan kerap kali menyambangi pintunya yang setia terkunci, tapi Jeongin tak menghiraukan satu pun dan memilih untuk pergi ke alam mimpi berharap mimpi buruknya ini akan segera berakhir.


“Jangan.. bilang apa-apa,” ucap Jeongin susah payah begitu Seungmin berhasil membobol pintunya di hari kelima. Meski dalam kondisi memunggunginya, Jeongin tahu, hanya Seungmin yang selalu semena-mena melewati batasnya (Seungmin begitu karena Jeongin selalu membiarkannya).

Melihat tak ada penolakan lain, Seungmin akhirnya beringsut mendekat dan berbaring di samping Jeongin yang semakin hari justru jadi makin tidak berdaya—mungkin bahkan sekarat.

“Boleh nggak aku memelukmu?” Jeongin mengangguk pelan. Sebagai orang yang paling mendambakan kehangatan dari laki-laki itu, Jeongin tidak mungkin menolak.

Tapi saat lengan Seungmin melingkari pinggangnya dan wajahnya terbenam di balik punggungnya, perasaan kosong yang Jeongin pendam diam-diam justru digantikan dengan rasa bersalah yang membanjirinya tanpa ampun.

“Lakukan saja operasinya—”

“Nggak mau.”

“Masih ada waktu—”

“Kubilang nggak mau.”

“Jeongin—”

“Kubilang nggak mau, kan?” Jeongin menyentak Seungmin kasar.

Tiba-tiba Jeongin batuk dan beberapa lembar kelopak bunga bercampur darah jatuh tepat di hadapan Seungmin dan membuatnya terkesiap. Jemarinya meraih sebuah bunga yang meskipun ternodai dengan darah, masih berbentuk utuh, dan memperhatikan bentuknya.

Selama bekerja di The Bloomerie, Seungmin sudah banyak belajar tentang jenis bunga dan juga artinya. Saat itu juga hatinya mencelos begitu mengenali bunga warna ungu dalam genggamannya.

“Apa kau sakit karena aku?”

”....”

“Jawab aku, Jeongin!”

“Bukan urusanmu!”

“Kalau begitu operasi saja.”

“Nggak segampang itu!”

"Terus kenapa kau biarkan hal ini terjadi kepadamu, Jeongin-ah? Kau tahu—kau tahu aku nggak bisa.. mencintaimu. Nggak dalam artian itu."

"Kau nggak kenal aku sebanyak itu!"

“Lalu kau pikir lebih baik mati? Kau nggak memikirkan ibumu? Ayahmu? Kau nggak memikirkan.. aku?”

Sebagai sahabatnya, Seungmin pasti akan melakukan apa saja untuk membuat Jeongin bahagia. Sekarang ia justru dihantam realitas bahwa ia penyebab Jeongin paling menderita selama hidupnya.

Tapi Seungmin bahkan tidak berada di posisi Jeongin. Bagaimana bisa ia berkata semudah itu meski tahu apa yang akan terjadi jika ia memilih untuk melakukan operasinya. 

Bagaimana bisa Jeongin menghadapi Seungmin dengan acuh tak acuh setelah menelanjangi hatinya sendiri dan memberitahu kepada laki-laki itu bahwa benar kalau ia berada di ambang kematian karena jatuh cinta padanya. 

Apa Seungmin akan mengerti bagaimana sakitnya dimangsa dan mati berkali-kali bahkan dalam lelapnya?

“Kau.. egois,” Seungmin bergumam lebih kepada dirinya sendiri begitu melihat Jeongin yang diam seribu bahasa. Meski begitu Jeongin tetap dapat mendengarnya, dan rasa sakit yang selama ini ia rasakan ternyata tidak ada apa-apanya.

Rasanya tidak adil ketika Seungmin dapat merasakan kebahagiaan penuh magis seperti di cerita dongeng bersama orang yang dicintainya, sedangkan Jeongin akan mati karena jatuh cinta dengan... sahabatnya sendiri.

“Keluar.”

“Jeongin, maaf aku—”

Tapi di antara mereka berdua, Jeongin selalu merasa dialah yang paling kejam. Karena lebih baik Jeongin membuat Seungmin menghadiri pemakamannya besok pagi, selama itu artinya Jeongin bisa tetap menyimpan laki-laki itu di hatinya semalam lagi.

“Keluar.”


Seungmin berlari terseok-seok dari The Bloomerie saat ibunya bilang Jeongin dilarikan ke rumah sakit karena tidak sadarkan diri.

Saat ia sampai di ruang rawat inap, Seungmin melihat kondisi Jeongin jauh lebih parah dari terakhir kali mereka bertemu. Kelopak bunga dan darah bertebaran di atas ranjang, sedangkan kedua orang tuanya hanya bisa menangis sambil menggenggam tangan putra mereka.

“Jeongin..”

Entah sejak kapan, pandangan Jeongin mulai buram, dan sulit untuk membuat dirinya sendiri terjaga karena muntah bunga bukan pengalaman yang romantis maupun menyenangkan. Tapi bahkan di ranjang pesakitannya, Jeongin masih mengenali orang yang dicintainya.

“Hai, hyung..”

Airmata Seungmin bocor seperti keran rusak.

“Maaf—maaf, Jeongin. Maaf aku salah bicara, maaf aku bilang kau egois.” Napas Seungmin tersenggal, airmata mengaburkan pandangannya. “Aku cuma.. aku cuma mau kau hidup dan tetap jadi temanku.”

Jeongin yang tubuhnya lemah mencoba meraih wajahnya, dan Seungmin balik menggenggamnya erat-erat.

“Maaf karena aku egois. Aku nggak yakin bisa terus hidup dan bertingkah seolah semua ini nggak pernah terjadi.”

Jeongin mencoba menghibur Seungmin yang kacau dengan sedikit candaan, “Tolong jangan bawakan aku bunga kalau aku mati, aku sudah punya banyak. Bawakan yang lain saja, ok? Kau tahu kan apa yang kusuka?”

Seungmin menggeleng keras-keras, “Aku tahu, maaf karena memaksamu. Tapi jangan mati, Jeongin. Aku sudah berhenti kerja paruh waktu untuk main denganmu. Kau bilang mau pergi ke pantai, kita bisa menghabiskan musim panas di pantai seperti maumu.”

Setetes airmata ikut turun di saat Jeongin yakin ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata lagi.

Sejujurnya Jeongin takut mati. Ia takut membuat orang tuanya dan juga Seungmin bersedih.  Begitu juga dengan hal-hal yang belum ia lakukan di kehidupan ini. Namun semua pilihan yang dapat dia ambil nyatanya tidak lebih baik daripada bunuh diri.

“Jangan menangis, aku hanya berharap kau mengingatku setidaknya sebanyak kau menyukai bunga di The Bloomerie." (Dan sebanyak kau mencintai Hyunjin.)

Jeongin memang bukan ahli bunga seperti Hyunjin—atau juga Seungmin yang belajar dengan bekerja di toko bunga, tapi setidaknya ia tahu kalau bunga memang sewajarnya tidak bertahan lama. Tugas mereka adalah membantu kita untuk tinggal di masa kini. Mereka mekar, berkembang lalu layu dan menghilang.

Seperti halnya bunga-bunga yang tumbuh memenuhi rongga dada Jeongin. Meski akar-akar kecil terus meregang dan mengoyak paru-parunya, membuatnya terengah-engah, kehabisan napas, juga meninggalkan rasa pahit sekaligus manis dan menyekat tenggorokkannya.

Mereka pun akan berlalu dan menghilang dengan sendirinya.

Aku mencintaimu, tapi ini pun akan berlalu. "Aku harap cuacanya bagus saat aku keluar dari sini."


Jeongin dimakamkan di hari Selasa yang kelabu, Seungmin membawakannya dua kotak stroberi segar alih-alih sebuket bunga.

Notes:

highly inspired from "flowers are not supposed to last. their job is to help us to stay in the present. they grow, fhey blossom, they thrive and theyre gone." by kristen griffith

Series this work belongs to: