Work Text:
Jeongin bermimpi aneh semalam.
Di dalam mimpinya Jeongin terbangun sendirian, di sebuah tanah lapang yang berkabut. Ada tiga jalan yang membentuk cabang: jalan pertama menuju sebuah hutan yang gelap, yang kedua menuju tempat bernama ladang bunga mematikan, sedangkan yang terakhir menuju tempat bertuliskan Rumah.
Sejujurnya Jeongin takut gelap, dan entah apakah ladang bunga mematikan bisa jadi tempat yang aman bagi anak berusia delapan tahun sepertinya. Ibunya sendiri bilang, kalau seandainya ada hal buruk yang terjadi, maka ia harus langsung pulang ke rumah. Meski ia tidak tahu apakah rumah yang dimaksud adalah rumahnya atau bukan, setidaknya ada orang dewasa yang tinggal di sana yang bisa menolongnya untuk pulang.
“Seungmin hyung?”
Namun, sebelum Jeongin sempat memilih jalan ketiga, tiba-tiba ia melihat ada Seungmin di jalan menuju ladang bunga mematikan. Walaupun temannya kelihatan agak berbeda, Jeongin yakin kalau itu Seungmin yang berdiri di ujung jalan sana.
Tanpa sadar ia sudah menelusuri jalan setapak yang ada di tengah, tapi semakin ia melangkah rasanya Seungmin justru makin menjauh. Ia mencoba memanggil namanya lagi, dan mulai berlari kecil, berharap dapat mengejar temannya di depan sana. Jeongin berjalan makin jauh, tapi rasanya justru seperti sedang lari di tempat.
Jalan setapak yang penuh kerikil berubah jadi tanah yang lembab, jemarinya mengenai sesuatu yang lembut. Sosok Seungmin yang dikejarnya kini berada tepat di depan mata, berdiri membelakanginya, dikelilingi oleh bunga dengan kelopak warna ungu yang lembut. Mereka berdiri tepat di tengah ladang bunga mematikan.
“Seungmin hyung?” Jeongin memanggilnya lagi, tapi Seungmin tidak menjawab. Mungkin suaranya terlalu kecil, jadi ia mencoba mendekat.
Tangannya menepuk pelan bahu Seungmin yang sekarang dua kali lebih tinggi dari yang diingatnya. Namun, saat temannya berbalik, tiba-tiba tubuhnya berubah jadi bunga raksasa, begitu pula dengan bunga-bunga yang mengelilinginya. Saat semua yang di sekelilingnya berubah jadi raksasa, Jeongin merasa dirinya justru dibuat menyusut jadi sekecil semut. Seperti hal nya yang terjadi saat Alice makan kukis ajaib di Wonderland.
Bedanya bunga-bunga yang ini punya wajah yang menyeramkan dengan taring seperti vampir. Sulur-sulurnya berusaha meraih Jeongin yang spontan berteriak dan berusaha lari, tapi salah satu dari mereka lebih dulu menangkap kaki kanannya, dan membuatnya jatuh terjerembab. Jeongin yang kewalahan karena kepalanya terbentur, membiarkan dirinya diangkat ke udara.
Kuntum bunga beludru itu tersenyum bengis padanya, senang karena berhasil menangkap si mangsa. Lalu salah satu sulurnya menghujam dadanya dengan keras, menembus paru-paru. Saat Jeongin kelihatan tak berdaya, bunga dengan kelopak ungu itu menjatuhkannya dari ketinggian. Tapi alih-alih tanah, Jeongin terbenam di dalam kolam yang penuh kelopak. Ia mengayuh kakinya mencoba naik ke permukaan, tapi justru makin tenggelam. Jauh, jauh ke dalam. DItelan kegelapan.
“Lalu aku mati,” kata Jeongin santai, mengakhiri cerita soal mimpi buruknya semalam. Tangannya mengambil segenggam penuh keripik kentang dan menjejalkan semuanya ke dalam mulut. Seungmin bangun dari tidurnya yang beralaskan pasir pantai, lalu menyentil dahinya keras-keras.
“Awh! Kemapha akhu dhiphukhul?”
“Karena kau nggak pernah dengar perkataanku. Sudah kubilang jangan nonton film horor kalau kau sedang demam, mereka bisa mengacaukan otakmu.”
Keluarga Jeongin dan Seungmin memutuskan untuk pergi ke Busan selama liburan musim panas, tapi begitu sampai di tempat tujuan, tiba-tiba Jeongin terkena demam. Semua rencana kunjungan dibatalkan, dan mereka memutuskan untuk menggelar aktivitas yang bisa dilakukan di sekitar area penginapan agar tidak perlu meninggalkan si bungsu.
Jeongin yang melewatkan banyak kegiatan seru karena harus beristirahat, tambah merajuk saat mereka bilang akan mengadakan acara nonton film bersama dan tidak ada yang mengundangnya.
Setelah kompromi yang panjang, Jeongin akhirnya dibolehkan bergabung alih-alih dipaksa tidur cepat. Ia mengambil tempat di antara Seungmin dan para laki-laki di sofa yang paling panjang. Selimut gambar beruangnya dipakai bersama dengan Seungmin, sedangkan boneka rubah kesayangannya yang perlu dicuci didudukkan di pangkuannya seperti bayi.
Sayangnya Jeongin hanya menyimak sebagian dari film pertama yang diputar. Obat demam yang diminumnya setelah makan malam membuatnya mengantuk berat. Sebelum benar-benar terlelap, ia menyempatkan diri untuk membenarkan posisinya dan menjadikan paha sahabatnya sebagai bantalan. Jemari Seungmin yang bermain di rambutnya mengantarkannya ke alam mimpi tak lama kemudian.
Lalu mimpi itu terjadi.
Pukul empat pagi, Ibunya membangunkannya yang mengingau parah. Semua orang masih berkumpul di ruang tengah, mengelilinginya dengan wajah terkejut.
“Nggak apa-apa, cuma mimpi. Mungkin karena demamnya,” kata ayah Jeongin yang dengan sigap menggendongnya dari sofa. Setelah memastikan kalau ia baik-baik saja, yang lain ikut membubarkan diri untuk beristirahat.
Jeongin yang masih setengah sadar, bersembunyi dalam perlindungan ayahnya. Sedangkan Seungmin yang awalnya hanya berdiri kikuk di sampingnya, dengan sigap mengambil selimut juga boneka rubahnya lalu ikut ke tempat Jeongin dibawa dan menawarkan untuk menemaninya. Sepanjang malam, Seungmin memastikan Jeongin tetap hangat dan aman dengan mengenggam jemari Jeongin di bawah selimut motif beruang.
Ajaibnya demamnya sembuh ketika pagi menyapa. Jadi mereka pergi ke pantai yang jadi tujuan awal mereka pergi ke sana di sore hari.
“Tapi, hyung..”
“Hm?”
“Menurutmu kenapa hanya kau yang ada di sana?” Jeongin bertanya lagi. Tapi Seungmin hanya mengedikkan bahu, sama herannya. “Aku nggak tahu, itu 'kan mimpimu.”
Jeongin tahu kematian adalah topik yang berat bagi anak usia delapan tahun. Tapi melihat sahabat baiknya membiarkannya mati sendirian, meskipun hanya di dalam mimpi, membuatnya sedih.
Melihat Jeongin yang tiba-tiba jadi hening karena terhanyut dalam pikirannya sendiri, Seungmin pun menyenggol bahunya. Ia beranjak lalu mengulurkan tangannya pada Jeongin.
“Jangan khawatir, itu hanya mimpi. Ayo kita main saja,” katanya meyakinkan, tapi Jeongin tak kunjung menyambut tangannya.
Seungmin menghela napasnya, ia berjongkok di hadapan Jeongin. dan menawarkan kelingkingnya kali ini. “Ayo sumpah kelingking! Aku nggak akan membiarkan bunga-bunga itu menangkapmu lagi. Kalau mereka kembali, kau boleh ambil semua mainanku dan.. dan memotong kelingkingku!” katanya antusias.
“Benar?”
“Benar!”
Jeongin terkekeh geli, lalu menautkan kelingking mereka. Gestur kekanakan yang populer di antara teman sepermainan, Meski ia tidak tahu apakah ia benar-benar berhak atas kelingking Seungmin, tapi setidaknya Seungmin yang ini tidak akan meninggalkannya sendirian.
Jeongin pernah dengar sebuah cerita, saat seseorang mengalami kematian, otak mereka tetap bekerja dan memutar memori terindah pemiliknya selama tujuh menit lamanya.
Seungmin yang bersinar di bawah langit senja. Suara tawa orang-orang yang menyatu dengan deburan ombak. Aroma manis laut dan gelombang panasnya yang membuatnya kepayahan—meski Jeongin tak yakin apakah tujuh menit akan cukup, ia penasaran apakah momen ini akan jadi yang pertama diputar oleh otaknya saat ia mati nanti.
“Mulai sekarang kelingkingmu milikku, ok?”
“Ya, ya. Ayo sekarang kita main!” Kali ini Jeongin menyambut uluran tangannya tanpa ragu.
