Actions

Work Header

Love you.

Summary:

Tentang keduanya yang tengah memadu kasih dengan cara mereka sendiri.

Notes:

Warning!
โ€ข ShoeSpark not the way around!
โ€ขOOC and typos

Hope u guys enjoy this fic~ And may ShoeSpark enjoyer find their ShoeSpark fanfiction

Work Text:

Hujan deras yang mengguyur kota sedari pagi buat Eray bosan setengah mati. Akhir pekan seperti ini buat dirinya tak ada pekerjaan, keluar rumah pun ia tak sudi. Cuaca sedingin ini paling cocok dihabiskan dengan bergelung di bawah selimut.

Sembari satu tangan sibuk mengelus Wahid, kucing ๐˜ต๐˜ถ๐˜น๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฐ yang ia besarkan bagai anak sendiri, tangan yang lain sibuk menggulir lini masa salah satu platform sosial media. Entah asal muasalnya bagaimana, namun halaman yang biasanya dipenuhi celotehan akun-akun yang diikutinya itu tergantikan oleh postingan berbagai macam pasangan kekasih yang tengah memamerkan kemesraan mereka.

Eray geram. Padahal tak ada yang salah dengan postingan penuh cinta mereka, tapi entah mengapa hatinya gondok.

Belum sempat ia matikan ponsel pintarnya, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari belakang, meraih benda pipih tersebut.

"Lihatin apa, sih, kamu?" Suara serak yang lebih muda terdengar, baru saja bangun tidur saking bosannya dirinya.

"Nggak tahu."

"Lah? Ngambek kenapa lagi kamu?" Ryoutaa melirik sekilas ponsel pintar yang lebih tua, "Mau keluar?"

Eray menggeleng, "Hujan gini."

"Tidur aja kalau gitu?" lagi, Ryoutaa menyarankan.

"Nggak ngantuk aku."

"๐˜“๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฐ, ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜บ๐˜ถ?!" Jangan salahkan Ryoutaa, ia juga ingin memahami isi hati tersayangnya, tapi jika dihadapkan dengan jawaban demikian, kesal juga ia.

"Ciuman sampai dipisah warga, kah?"

"Ngawur!" gebukan cintaโ€”tidak cinta-cinta juga, tenaga Eray tak main-mainโ€”diberikan oleh yang lebih tua ke lengan atas pacar yang lebih mudanya itu. Wahid yang sedari tadi merebahkan diri di sisinya langsung berlari keluar, agaknya terkejut dengan gerakan tiba-tiba Eray.

Meskipun demikian, Ryoutaa tetap menangkap bagaimana telinga yang lebih tua memerah. Manik merah muda gandanya membola, "Lah beneran pengen ciuman?"

"Berisik, Yota!"

"Telingamu merah loh itu," hmm asik juga menjahili kakak sayangnya ini.

"Ini karena dingin!"

Ryoutaa menebar senyum, "Oke, oke, karena dingin." Ia tak mendesak, tahu betul yang lebih tua benar-benar akan ngambek jika ia jahili lebih jauh lagi. Jadi, ia hanya menyingkirkan ponsel pintar milik Eray sebelum memeluknya erat dari belakang.

Tepat setelahnya, kamar Eray hanya diisi suara hujan dan deru napas keduanya.

Manik cokelat ganda milik Eray menatap layar komputer di atas meja, sedikit tenggelam dalam lamunan. Namun, telinganya masih merah, makin memerah saat ia berujar dengan suara setara bisikan angin di luar jendela.

"Mau."

Ryoutaa masih terdiam, sebelum satu tangannya menelesak masuk ke dalam selimutโ€”dingin. "Mau apa, Kak?" Tanyanya balik, sengaja, meskipun ia tahu pasti apa yang diinginkan oleh yang lebih tua.

Eray terdiam, jari-jemarinya sibuk menelusuri pola pada selimutnya, "โ€ฆnggak jadi."

Pacar mudanya, si jamet Barbieโ€”Eray yang menamainyaโ€”terkekeh. Butuh tenaga ekstra untuk membalikkan tubuh tinggi Eray, bongsor memang kakak sayangnya ini.

"๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฐ?" Mendapati tanda tanya di kedua manik yang lebih tua, Ryoutaa langsung ๐˜ด๐˜ธ๐˜ช๐˜ต๐˜ค๐˜ฉ bahasa, "Beneran nggak jadi?"

Raut bingung Eray langsung tergantikan oleh wajah kesalnya, "Gue tendang lo, Yot."

Ryoutaa tertawa lepas, "Jangan. Aku nggak mau ciuman sambil nahan sakit," ujarnya sembari menutup jarak di antara mereka. "Kita ciumannya nggak sampai dipisahkan warga, sih, Kak. Tapi minimal sampai lu sesek napas dikit."

"๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญโ€”"

ย 

Ryoutaa menyugar surai keunguannya. Kembali segar tubuhnya seusai mandi. Pandangnya mengedar sebelum akhirnya terfokus pada sang tercinta yang tengah sibuk menggulir ponsel pintar.

Ia agak mendesis, jarak antara ponsel dengan mata kakak tersayangnya itu terlalu dekat. Belum lagi ia bermain ponsel sembari tiduran.

๐˜•๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ถ, ๐˜ค๐˜ช๐˜ฌ.

"Kak, deket banget itu HP?" ujarnya, kedua kaki ia bawa untuk menaiki kasur yang lebih tua. Agak sempit, sih, untuk dua orang pria dewasa. Tapi bukan masalah besar, Ryoutaa malah senang karena bisa leluasa peluk-peluk si kakak sayangnya ini.

Eray meliriknya sekilas, lalu buang muka dan berbalik memunggunginya.

Ryoutaa: ???

๐˜•๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ lagi ini kakak sayangnya.

"Masih marah kamu, Kak?"

"Nggak. Siapa yang marah?"

๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.

๐˜ž๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ, kali ini bukan salahnya kakak sayangnya ini ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ. Ia marah-marah pun demi kebaikan kesayangannya.

โ€œKalau nggak marah coba balik badan. Nggak sopan, Kak, kamu ngobrol tapi munggungi lawan bicara.โ€

Diam, yang lebih tua hanya diam tak bergeming.

โ€œKak?โ€

โ€œโ€ฆโ€

โ€œKakak sayang?โ€

โ€œโ€ฆโ€

Oke, yang ini jelas bukan salahnya ia habis kesabaran.

Diraihnya lengan Eray yang tak tertutup selimut. Ia tarik paksa kesayangannya, buat yang lebih tua menghadap sepenuhnya ke arahnya.

โ€œEray Ryuki, ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ธ ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ค๐˜ฉ ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ?โ€

Eray, yang pemandangan di hadapannya berganti dari layar ponsel mati ke wajah garang Ryoutaa, tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya. Tapi peduli apa dia? Yang lebih muda kini benar-benar marah.

โ€œJawab, seneng kamu buat aku marah gini?โ€

Lengan Eray digenggam erat dengan satu tangan, sementara tangan yang lain berada di sisi kepala yang lebih tua. Menahan beban tubuhnya agar tak sepenuhnya menindih pria dengan manik cokelat tersebut.

Mampus sudah ia. Bukan keinginannya untuk buat yang lebih muda marah, ia hanya sedikit kesal dengan omelan pacar mudanya tersebut dan ingin terlebih dahulu menghilangkan kekesalannya.

Buat Ryoutaa marah tak pernah ada dalam daftarnya. Ya, ๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜จ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ฆ'๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ฆ'๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฅ.

๐˜–๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต, ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ด ๐˜Œ๐˜ณ๐˜ข๐˜บ!

Berpikir, ayo cepat berpikir, kira-kira apa yang harus ia lakukan agar amarah yang lebih muda mereda. ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ, meminta maaf, ia harus segera meminta maaf.

Tapi yang benar saja, ditatap tajam demikian oleh Ryoutaa buat dirinya tak sanggup berkutik.

Jadi, sebelum membuka mulut, ia terlebih dahulu memutus kontak mata dengan yang lebih muda.

โ€œโ€ฆMaaf.โ€

โ€œGue nggak menerima permintaan maaf dengan lo lihat kemana-mana.โ€

Susah payah Eray meneguk ludah. Ia beranikan diri untuk menatap yang lebih muda, buat manik cokelat dan merah muda keduanya beradu pandang.

โ€œMaaf, Ryoutaa.โ€

Yang dimintai maaf tak bergeming untuk beberapa saat. Tak membalas, hanya diam memandangi Eray yang hampir kehabisan napas di bawahnya.

Sementara Eray juga tak berani bertindak, ia hanya diam saat yang lebih muda lepaskan genggaman pada lengannya sebelum bubuhkan kecupan ringan.

โ€œTidur, Kak.โ€

Tak jelas setelahnya. Ryoutaa, yang memilih untuk tak langsung memberi maaf, merebahkan diri di atas kasur single Eray, memberi jarak seadanya di antara mereka. Berbanding terbalik dengan sebelum-sebelumnya, di mana yang lebih muda akan memeluk serta mendusal yang lebih tua walaupun sumpah serapah dan protesan dilontarkan oleh pria bermanik cokelat tersebut.

Di sisi lain, Eray tak sanggup memejamkan mata, punggungnya masih saja dingin setelah ditatap demikian oleh yang lebih muda. Manik cokelat gandanya melirik sang pacar muda yang tidur membelakanginya.

๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด.

ย 

โ€œ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ?โ€

โ€œBukan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, sih, Al.โ€

โ€œ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ ๐˜ญ๐˜ถ karena itu doang, ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.โ€

Sampai dini hari ia tak bisa tertidur, berputar berulang kali kecemasan yang dirasakannya setelah dimarahi Ryoutaa. Eray, berbekal sandal dan kaos tipis, memutuskan untuk keluar kamar kosnya.

Dengan ditemani oleh kucing oren jantan yang berkali-kali menemui anak manisnya, Eray menelpon Alarich yang tengah sibuk berkelana di alam mimpi.

Suara serak serta bingung yang lebih muda pertama terdengar, Eray mulanya berbasa-basi terlebih dahulu sebelum menceritakan secara detail pertengkaran antara dirinya dengan Ryoutaa.

โ€œ๐˜“๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ ๐˜ค๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ณ.โ€

โ€œMโ€™m.โ€

โ€œ๐˜ž๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข live streaming ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข even though ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ?โ€

โ€œYa.โ€

โ€œ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ? ๐˜•๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ?โ€

โ€œIya.โ€

โ€œโ€ฆโ€

โ€œโ€ฆโ€

Eray mengernyit, curiga si bungsu di seberang sambungan telepon sana sudah kembali tertidur. Namun, baru juga ingin membuka mulut, Alarich kembali berbicara.

โ€œ๐˜“๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ?โ€

โ€œPacaran lah, gila.โ€

โ€œ๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜™๐˜ข๐˜บ. ๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ.โ€

โ€œ๐˜š๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ช๐˜บ๐˜ข!โ€

Terdengar suara gesekan kain dari seberang sana, sepertinya Alarich berganti posisi agar lebih nyaman mengomentari kakak tertuanya tersebut.

โ€œ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ. ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ โ€˜๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜บ๐˜ข? ๐˜™๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜™๐˜ข๐˜บ?โ€

โ€œYa, gue juga berterima kasih,โ€ Eray mengusap lengannya, dingin juga di luar sini, โ€œCuma, kan, nggak perlu sambil ngomel-ngomel.โ€

โ€œ๐˜ ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ? ๐˜๐˜ฉ, ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ.โ€

โ€œBocah kurang ajar!โ€

โ€œ๐˜“๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ญ๐˜ถ? ๐˜œ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ!โ€

Kini, kakak pertama dan si bungsu malah bertengkar. Tak mau mengalah, sembari melemparkan celotehan ke satu sama lain. Kegiatan biasa keduanya sebenarnya.

Eray mencoba menahan suaranya, takut mengganggu tidur nyenyak tetangganya. Tak mau juga ia dilaporkan kepada ketua rukun tetangga setempat, bisa habis ditertawai kawan-kawannya ia.

Masih sambil bertengkar dengan Alarich di seberang sana, ia berulang kali mengusap kulit yang terekspos udara dingin. Sialnya lagi, banyak sekali nyamuk di luar sini, habis jadi makanan mereka Eray kali ini.

โ€œEmang dasar bocah, gue minta saran malah bikin naik darah aja. Tau gitu gue nggak nelponโ€”wow, anjing bodoh!โ€

Refleks ia menyumpah serapah, terkejut bukan main ketika ada yang menepuk pundaknya padahal jelas-jelas ia sendirian. Takut-takut ia berbalik sembari merapal berbagai macam doa dalam benak, horor juga kalau ternyata yang menegurnya tak menapak.

Tapi bukan wajah rusak dihiasi dendam macam film-film yang pernah ditontonnya yang ia jumpai, tapi wajah familiar pacar mudanya yang menatapnya aneh.

๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฉ, Eray mau menghilang saja. Alien, tokek, atau makhluk dunia lain, tolong sekarang juga klaim dirinya.

โ€œ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ?! ๐˜š๐˜ณ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช?! ๐˜๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ?โ€ Sementara Alarich heboh memanggilnya dari seberang sambungan. โ€œ๐˜™๐˜ข๐˜บ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ! ๐˜Ž๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ!โ€

Bajingan memang fury satu ini. Akan ia botaki saat keduanya berjumpa lain kali.

Ryoutaa mengangkat sebelah alis, meraih ponsel pintar milik yang lebih tua yang digenggamnya erat akibat terkejut.

โ€œCil, nanti lagi telponannya. Kak Eray mau tidur dulu.โ€

โ€œ๐˜๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜“๐˜ฐ๐˜ฉ, ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ตโ€”โ€

Secara sepihak ia matikan panggilan. Tombol daya ia tekan sebelum barang milik yang lebih tua ia kantongi. โ€œNgapain di luar?โ€

โ€œโ€ฆLagi cari angin.โ€

๐˜ž๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ, sepertinya benar apa dikata Alarich, jatuh cinta berhasil membuat orang menjadi bodoh. Padahal jelas-jelas ia menggigil di tengah dinginnya udara dini hari.

Eray alihkan pandangan manakala Ryoutaa menatapnya seakan-akan dirinya sudah gila. ๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.

Dari ujung matanya, ia dapati yang lebih muda menggeleng heran, tangannya terulur, โ€œAyo, masuk.โ€

Ia tatap lamat-lamat tangan tersebut sebelum ragu-ragu meraihnya, โ€œโ€ฆYa.โ€

ย 

โ€œ๐˜’๐˜ช๐˜ณ๐˜ข-๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช.โ€

โ€œOke, ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ด, Al.โ€

โ€œ๐˜ ๐˜ข, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.โ€

โ€œTergantung, sih,โ€ Ryoutaa membalas sembari mengelus bulu halus Wahid, sementara ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ kandung kucing itu tengah berada di dalam kamar mandi, membasuh muka serta mencari ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ gatal yang disimpannya.

โ€œ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.โ€

Ryoutaa terkekeh mendengar nada merajuk yang lebih muda, memang asik mengisengi si bungsu satu ini.

โ€œUtututu, jangan marah, dong. Permen mau permen?โ€

โ€œ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ!โ€

๐˜›๐˜ถ๐˜ตโ€”

Ingin sebenarnya ia tertawa terbahak-bahak sekarang juga, namun, ada masalah yang harus diselesaikannya terlebih dahulu dengan kakak sayangnya tersebut. Setelah menyambungkan kabel pengisi daya ke ponsel pintar, Ryoutaa duduk di tepian kasur, memandangi pintu kamar mandi di mana Eray berada.

๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ โ€˜๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ?

Seakan membantah tuduhan tak masuk akal Ryoutaa, Eray keluar dari sana sembari menggaruk-garuk kulitnya yang memarah dan bintul akibat gigitan nyamuk.

Hampir kelepasan tertawa ia saat manik yang lebih tua membola dan tubuh bongsornya berjengit saat Eray sadar tengah diperhatikan. Dengan kikuk ia beranjak mendekati Ryoutaa, ragu-ragu untuk dudukkan dirinya di dekat yang lebih muda.

Kali ini Ryoutaa sungguhan tertawa, geli dan gemas melihat tingkah laku kakak sayangnya yang tak biasa. Ia mengulurkan tangan, melingkari pinggang Eray sebelum ia menjatuhkan diri di atas kasur yang lebih tua dengan si kesayangan di dalam rengkuhan.

โ€œAduh!โ€

Bukan Eray yang mengaduh, namun Ryoutaa yang kini sibuk mengelus-elus belakang kepalanya yang terantuk ponsel pintar Eray yang ia letakkan sembarang. Belum lagi rasa sakit di tulang rusuk ketika siku Eray tak sengaja membenturnya. Sudah gagal romantis ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ pula.

โ€œKamu nggak papa?โ€ Eray bertanya khawatir. Sadar betul bahwa ia bisa saja meremukkan yang lebih muda dengan tubuh bongsornya.

Ryoutaa menggeleng, hatinya menghangat mendengar nada khawatir kakak sayangnya. ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ.

โ€œKakak nggak marah lagi?โ€ ditanyainya yang lebih tua sembari menatap manik cokelat gandanya.

Bisa dilihatnya kakak sayangnya itu kelabakan sebelum buru-buru meremat kaus yang dikenakannya dan memalingkan wajah.

โ€œNengok sini dong, ganteng. โ€˜Kan aku lagi ngomong?โ€

Menuruti permintaannya dengan patuh, Eray menjawab dengan sedikit cemberut, โ€œโ€˜Kan yang marah kamu?โ€

โ€œMana ada aku marah?โ€

โ€œBohong.โ€

โ€œSedikit.โ€

โ€œIh,โ€ dengan kesal Eray mendusal pada ceruk leher yang lebih muda. Melenceng jauh dari kebiasaan tsunderenya.

๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฉ, Ryoutaa menghela napas dalam-dalam, ๐˜›๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜•๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช.

โ€œTapi kamu juga marah โ€˜kan, Kak?โ€

Pria di dalam rengkuhannya kini menggeleng, โ€œAku cuma kesel doang ke kamu tadi. Sedikit,โ€ rematan pada kausnya makin mengerat, Ryoutaa kini sembari mengelus rambut halus yang lebih tua.

โ€œSekarang aku lebih kesel ke si bocah semangka itu, nyamuk, sama si Joko.โ€

โ€œSiapa itu?โ€

โ€œKucing oren tadi, nggak tahu namanya, tapi kita panggil dia Joko aja.โ€

Ryoutaa benar-benar tertawa lepas, diciuminya ujung kepala yang lebih tua dengan gemas, โ€œBilang apa Al sama kamu sampai kesel gini?โ€

โ€œLupain aja, nggak penting dia sekarang,โ€ Eray membalas dengan nada merajuk. Kepalanya ia angkat dari ceruk leher yang lebih muda dan secara kilat mencium pipi pacar mudanya tersebut.

โ€œTerus kenapa kesel sama nyamuk?โ€ Ryoutaa menahan yang lebih tua, dibawanya wajah rupawan tersebut untuk mendekat.

โ€œMereka jadiin aku makan dini hari, badanku gatel semua.โ€

โ€œJangan digaruk.โ€

โ€œTapi gatel.โ€

โ€œNgeyel, nih. Nanti malah luka.โ€

Eray merengut, โ€œMaaf.โ€

โ€œBaru dimaafin kalau kita ciuman,โ€ adalah apa yang diucapkannya, nyatanya hanya butuh sedikit dorongan sebelum bibir keduanya bertemu.

โ€œโ€ฆAyo.โ€

ย 

Alarich yang dibangunkan di tengah tidur indahnya tak dapat lagi masuk untuk menjelajahi mimpi. Ia hanya dapat tersenyum kecut ketika sinar sang mentari yang terhalang tirai tipis mulai memasuki kamar. Alarm yang bertugas untuk membangunkannya pun jadi tak berguna.

Dalam hati ia merutuki habis-habisan si kakak pertama dan ketiga yang buat dia kurang tidur. ๐˜—๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข.

Bagai menjawab gerutuan dalam benaknya, ponselnya berdering. Si kakak ketiga, Ryoutaa, menelpon.

โ€œ๐˜ˆ๐˜ญ, ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ?โ€

โ€œMenurut lu?โ€

Makin gondok hatinya ketika tawa puas Ryoutaa mengudara, baru ingin memaki, yang lebih tua terlebih dahulu menyela.

โ€œ๐˜Š๐˜ฆ๐˜ฌ, ๐˜ฎ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜Š๐˜ช๐˜ญ.โ€

โ€œKenapa?โ€

โ€œ๐˜Š๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข.โ€

Menurut, Alarich mengecek akun m-banking miliknya. Awalnya ia tak terlalu memperhatikan, namun bertambahnya nominal saldo miliknya buat kedua manik hijaunya membola sempurna.

โ€œ๐˜’๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜Œ๐˜ณ๐˜ข๐˜บ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ซ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ.โ€

โ€œBilangin ke Eray gue sayang banget sama dia. Dia mau apa? Kerikil gunung Everest pun akan gue jabanin sebagai bungsu yang berdedikasi kepada kakak pertama,โ€ Alarich berujar dramatis. Senyumnya mengembang lebar, nyaris tertarik dari telinga satu ke telinga yang lain.

Mendengar sahutan dramatis Alarich, Ryoutaa mendengus, โ€œ๐˜ ๐˜ข๐˜ข, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ.โ€

โ€œNanti? Emang sekarang dia kemana?โ€

Ryoutaa jelas terkekeh dari seberang sambungan, โ€œ๐˜›๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข.โ€

โ€œHa?โ€ Alarich melongo, โ€œTepar kenapa, dah? Dia ada lemburan?โ€

Tawa Ryoutaa makin mengeras, Alarich jadi curiga.

โ€œ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ.โ€ Dari seberang sana, terdengar suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup, โ€œ๐˜ ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ. Thanks ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.โ€

Walaupun masih curiga, Alarich hanya mengangguk, padahal Ryoutaa jelas-jelas tak akan mengetahuinya, โ€œYoi. Bilangin kalau perlu curhat lagi, tunggu ayam tetangga berkokok dulu.โ€

โ€œ๐˜–๐˜ฌ๐˜ฆ, ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ˆ๐˜ญ.โ€

โ€œYa.โ€

๐˜›๐˜ถ๐˜ตโ€”

Sambungan terputus, Alarich kembali merebahkan diri di atas kasur. Senyumnya tak juga pudar setelah mendapat uang jajan dari kakak pertama.

Tapi tak berselang lama kemudian senyumnya tergantikan dengan ekspresi bingung sebelum pemahaman menghantamnya keras di wajah.

โ€œ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ! Maksudnya tepar tuh ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ? Aelah, goblok! Gue tarik simpati gue anjing!โ€

Buru-buru ia bangkit dari posisi berbaringnya, jendela kamar ia tatap tajam, โ€œPasangan goblok! Jelas aja mereka pacaran, sial!โ€

ย 

Saat masuk ke dalam kamar, Ryoutaa mendapati bahwa Eray masih berada di posisi yang sama dengan saat ia keluar untuk mencari sarapan tadi. Terkubur di bawah selimut hanya dengan sedikit area wajahnya yang terlihat. Rambut cokelat dengan gradasi ungu miliknya terlihat berantakan, berbanding terbalik dengan keadaan semalam akibat ulah liarnya.

Ryoutaa tersenyum hangat. Diletakkannya di meja kantung plastik berisi sarapan mereka. Tangannya mengelus-elus rambut kakak sayangnya, berusaha untuk merapikannya sebelum kesayangannya ini protes.

Namun, aksi tersebut malah membangunkan yang lebih tua.

Eray mengerjap beberapa saat, mencoba untuk memproses pemandangan di hadapannya. Ia sedikit menggeliat, mengejar tangan Ryoutaa yang hendak ditarik.

โ€œ๐˜Ž๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ฆ. Gimana tidurnya?โ€

โ€œ๐˜”๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ,โ€ Eray membalas. Suaranya serak akibat baru saja bangun tidur dan kegiatan yang mereka lakukan dini hari tadi, โ€œBadanku sakit semua.โ€

โ€œ๐˜š๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ณ๐˜บ, lain kali lebih pelan-pelan.โ€

โ€œNggak papa.โ€ Ryoutaa perhatikan saat rona merah menyebar dari ujung telinga kakak sayangnya, pria yang lebih tua juga makin menelesak masuk ke dalam selimut, โ€œโ€ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ.โ€

Oh.

๐˜–๐˜ฉ.

Ryoutaa terkekeh geli, โ€œMau lagi?โ€

Kepala Eray yang sudah terkubur di bawah selimut menggeleng kuat-kuat.

โ€œKatanya ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ?โ€

โ€œSakit.โ€

Ia berhasil dibuat terhibur dengan tingkah laku kakak sayangnya, selimut yang menutupi wajah rupawan kesayangannya ia sibak, penampilan Eray yang berantakan masih dengan rona merah terpampang nyata untuk dwi netranya semata.

Eray merengut, kaus yang dikenakannya berusaha ia naikan di bagian kerah, mencoba menutupi ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ yang ditinggalkan oleh Ryoutaa. Tapi tangan pria bermanik merah muda itu lebih cepat, digenggamnya telapak tangan kesayangannya untuk ia ciumi tiap jengkalnya. Perlahan ia lingkarkan lengan Eray di lehernya, ciumannya kini berpindah ke sisi wajah pemilik manik cokelat.

Cukup lama mereka berada di posisi tersebut, Eray juga menikmati bagaimana yang lebih muda memberinya afeksi. Tanpa disadari, senyumnya mengembang sempurna.

Ryoutaa menyudahi kegiatannya dengan membubuhkan ciuman singkat di kedua netra Eray. Ia bawa tubuh yang lebih tua untuk bangkit dari kegiatan berbaringnya. Kemudian tangannya meraih kantung plastik yang hampir terlupakan.

โ€œSarapan dulu, ya? Aku beli maem di depan.โ€

Anggukan didapatinya sebagai bentuk persetujuan. Ia kemudian beranjak, mengambil piring dan alat makan lain sebelum kembali duduk di dekat kasur.

Sibuk berkutat dengan bungkus makanan, ia tak sadar bahwa Eray tengah menatapnya dalam.

โ€œ๐˜“๐˜ฐ๐˜ท๐˜ฆ ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ.โ€

Ryoutaa buru-buru berbalik, maniknya membola. Namun, tak berselang lama senyumnya mengembang,

โ€œ๐˜“๐˜ฐ๐˜ท๐˜ฆ ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ, ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ฆ. ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ธ๐˜ข๐˜บ๐˜ด."

โ€”fin.

Series this work belongs to: