Work Text:
Hujan deras yang mengguyur kota sedari pagi buat Eray bosan setengah mati. Akhir pekan seperti ini buat dirinya tak ada pekerjaan, keluar rumah pun ia tak sudi. Cuaca sedingin ini paling cocok dihabiskan dengan bergelung di bawah selimut.
Sembari satu tangan sibuk mengelus Wahid, kucing ๐ต๐ถ๐น๐ฆ๐ฅ๐ฐ yang ia besarkan bagai anak sendiri, tangan yang lain sibuk menggulir lini masa salah satu platform sosial media. Entah asal muasalnya bagaimana, namun halaman yang biasanya dipenuhi celotehan akun-akun yang diikutinya itu tergantikan oleh postingan berbagai macam pasangan kekasih yang tengah memamerkan kemesraan mereka.
Eray geram. Padahal tak ada yang salah dengan postingan penuh cinta mereka, tapi entah mengapa hatinya gondok.
Belum sempat ia matikan ponsel pintarnya, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari belakang, meraih benda pipih tersebut.
"Lihatin apa, sih, kamu?" Suara serak yang lebih muda terdengar, baru saja bangun tidur saking bosannya dirinya.
"Nggak tahu."
"Lah? Ngambek kenapa lagi kamu?" Ryoutaa melirik sekilas ponsel pintar yang lebih tua, "Mau keluar?"
Eray menggeleng, "Hujan gini."
"Tidur aja kalau gitu?" lagi, Ryoutaa menyarankan.
"Nggak ngantuk aku."
"๐๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐จ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ฆ ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ฑ๐ฐ ๐ต๐ฐ, ๐ค๐ข๐ฉ ๐ข๐บ๐ถ?!" Jangan salahkan Ryoutaa, ia juga ingin memahami isi hati tersayangnya, tapi jika dihadapkan dengan jawaban demikian, kesal juga ia.
"Ciuman sampai dipisah warga, kah?"
"Ngawur!" gebukan cintaโtidak cinta-cinta juga, tenaga Eray tak main-mainโdiberikan oleh yang lebih tua ke lengan atas pacar yang lebih mudanya itu. Wahid yang sedari tadi merebahkan diri di sisinya langsung berlari keluar, agaknya terkejut dengan gerakan tiba-tiba Eray.
Meskipun demikian, Ryoutaa tetap menangkap bagaimana telinga yang lebih tua memerah. Manik merah muda gandanya membola, "Lah beneran pengen ciuman?"
"Berisik, Yota!"
"Telingamu merah loh itu," hmm asik juga menjahili kakak sayangnya ini.
"Ini karena dingin!"
Ryoutaa menebar senyum, "Oke, oke, karena dingin." Ia tak mendesak, tahu betul yang lebih tua benar-benar akan ngambek jika ia jahili lebih jauh lagi. Jadi, ia hanya menyingkirkan ponsel pintar milik Eray sebelum memeluknya erat dari belakang.
Tepat setelahnya, kamar Eray hanya diisi suara hujan dan deru napas keduanya.
Manik cokelat ganda milik Eray menatap layar komputer di atas meja, sedikit tenggelam dalam lamunan. Namun, telinganya masih merah, makin memerah saat ia berujar dengan suara setara bisikan angin di luar jendela.
"Mau."
Ryoutaa masih terdiam, sebelum satu tangannya menelesak masuk ke dalam selimutโdingin. "Mau apa, Kak?" Tanyanya balik, sengaja, meskipun ia tahu pasti apa yang diinginkan oleh yang lebih tua.
Eray terdiam, jari-jemarinya sibuk menelusuri pola pada selimutnya, "โฆnggak jadi."
Pacar mudanya, si jamet BarbieโEray yang menamainyaโterkekeh. Butuh tenaga ekstra untuk membalikkan tubuh tinggi Eray, bongsor memang kakak sayangnya ini.
"๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข ๐ด๐ช๐ฅ๐ฐ?" Mendapati tanda tanya di kedua manik yang lebih tua, Ryoutaa langsung ๐ด๐ธ๐ช๐ต๐ค๐ฉ bahasa, "Beneran nggak jadi?"
Raut bingung Eray langsung tergantikan oleh wajah kesalnya, "Gue tendang lo, Yot."
Ryoutaa tertawa lepas, "Jangan. Aku nggak mau ciuman sambil nahan sakit," ujarnya sembari menutup jarak di antara mereka. "Kita ciumannya nggak sampai dipisahkan warga, sih, Kak. Tapi minimal sampai lu sesek napas dikit."
"๐๐ฉ๐ช๐ฃ๐ข๐ญโ"
ย
Ryoutaa menyugar surai keunguannya. Kembali segar tubuhnya seusai mandi. Pandangnya mengedar sebelum akhirnya terfokus pada sang tercinta yang tengah sibuk menggulir ponsel pintar.
Ia agak mendesis, jarak antara ponsel dengan mata kakak tersayangnya itu terlalu dekat. Belum lagi ia bermain ponsel sembari tiduran.
๐๐จ๐ช๐ญ๐ถ, ๐ค๐ช๐ฌ.
"Kak, deket banget itu HP?" ujarnya, kedua kaki ia bawa untuk menaiki kasur yang lebih tua. Agak sempit, sih, untuk dua orang pria dewasa. Tapi bukan masalah besar, Ryoutaa malah senang karena bisa leluasa peluk-peluk si kakak sayangnya ini.
Eray meliriknya sekilas, lalu buang muka dan berbalik memunggunginya.
Ryoutaa: ???
๐๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฌ lagi ini kakak sayangnya.
"Masih marah kamu, Kak?"
"Nggak. Siapa yang marah?"
๐๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฌ ๐ซ๐ถ๐ฅ๐ฆ๐ด๐ฏ๐บ๐ข.
๐๐ฆ๐ญ๐ญ, kali ini bukan salahnya kakak sayangnya ini ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฌ. Ia marah-marah pun demi kebaikan kesayangannya.
โKalau nggak marah coba balik badan. Nggak sopan, Kak, kamu ngobrol tapi munggungi lawan bicara.โ
Diam, yang lebih tua hanya diam tak bergeming.
โKak?โ
โโฆโ
โKakak sayang?โ
โโฆโ
Oke, yang ini jelas bukan salahnya ia habis kesabaran.
Diraihnya lengan Eray yang tak tertutup selimut. Ia tarik paksa kesayangannya, buat yang lebih tua menghadap sepenuhnya ke arahnya.
โEray Ryuki, ๐ฏ๐ฆ๐ท๐ฆ๐ณ ๐ฌ๐ฏ๐ฆ๐ธ ๐บ๐ฐ๐ถ ๐ธ๐ฆ๐ณ๐ฆ ๐ด๐ถ๐ค๐ฉ ๐ข ๐ฃ๐ณ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฆ?โ
Eray, yang pemandangan di hadapannya berganti dari layar ponsel mati ke wajah garang Ryoutaa, tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya. Tapi peduli apa dia? Yang lebih muda kini benar-benar marah.
โJawab, seneng kamu buat aku marah gini?โ
Lengan Eray digenggam erat dengan satu tangan, sementara tangan yang lain berada di sisi kepala yang lebih tua. Menahan beban tubuhnya agar tak sepenuhnya menindih pria dengan manik cokelat tersebut.
Mampus sudah ia. Bukan keinginannya untuk buat yang lebih muda marah, ia hanya sedikit kesal dengan omelan pacar mudanya tersebut dan ingin terlebih dahulu menghilangkan kekesalannya.
Buat Ryoutaa marah tak pernah ada dalam daftarnya. Ya, ๐ฆ๐ท๐ฆ๐ฏ ๐ต๐ฉ๐ฐ๐ถ๐จ๐ฉ ๐ฉ๐ฆ'๐ด ๐ฌ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ฉ๐ฐ๐ต ๐ธ๐ฉ๐ฆ๐ฏ ๐ฉ๐ฆ'๐ด ๐ฎ๐ข๐ฅ.
๐๐ฉ, ๐ด๐ฉ๐ช๐ต, ๐ง๐ฐ๐ฌ๐ถ๐ด ๐๐ณ๐ข๐บ!
Berpikir, ayo cepat berpikir, kira-kira apa yang harus ia lakukan agar amarah yang lebih muda mereda. ๐๐ฉ, ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ, meminta maaf, ia harus segera meminta maaf.
Tapi yang benar saja, ditatap tajam demikian oleh Ryoutaa buat dirinya tak sanggup berkutik.
Jadi, sebelum membuka mulut, ia terlebih dahulu memutus kontak mata dengan yang lebih muda.
โโฆMaaf.โ
โGue nggak menerima permintaan maaf dengan lo lihat kemana-mana.โ
Susah payah Eray meneguk ludah. Ia beranikan diri untuk menatap yang lebih muda, buat manik cokelat dan merah muda keduanya beradu pandang.
โMaaf, Ryoutaa.โ
Yang dimintai maaf tak bergeming untuk beberapa saat. Tak membalas, hanya diam memandangi Eray yang hampir kehabisan napas di bawahnya.
Sementara Eray juga tak berani bertindak, ia hanya diam saat yang lebih muda lepaskan genggaman pada lengannya sebelum bubuhkan kecupan ringan.
โTidur, Kak.โ
Tak jelas setelahnya. Ryoutaa, yang memilih untuk tak langsung memberi maaf, merebahkan diri di atas kasur single Eray, memberi jarak seadanya di antara mereka. Berbanding terbalik dengan sebelum-sebelumnya, di mana yang lebih muda akan memeluk serta mendusal yang lebih tua walaupun sumpah serapah dan protesan dilontarkan oleh pria bermanik cokelat tersebut.
Di sisi lain, Eray tak sanggup memejamkan mata, punggungnya masih saja dingin setelah ditatap demikian oleh yang lebih muda. Manik cokelat gandanya melirik sang pacar muda yang tidur membelakanginya.
๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ด.
ย
โ๐๐ข๐ฅ๐ช, ๐ญ๐ฐ ๐ฏ๐ฆ๐ญ๐ฑ๐ฐ๐ฏ ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ฐ๐ข๐ฏ๐จ?โ
โBukan ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ฐ๐ข๐ฏ๐จ, sih, Al.โ
โ๐๐ข๐จ๐ช ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ฃ๐ญ๐ฆ๐ฎ ๐ญ๐ถ karena itu doang, ๐ด๐ช๐ฉ, ๐๐ข๐ฏ๐จ.โ
Sampai dini hari ia tak bisa tertidur, berputar berulang kali kecemasan yang dirasakannya setelah dimarahi Ryoutaa. Eray, berbekal sandal dan kaos tipis, memutuskan untuk keluar kamar kosnya.
Dengan ditemani oleh kucing oren jantan yang berkali-kali menemui anak manisnya, Eray menelpon Alarich yang tengah sibuk berkelana di alam mimpi.
Suara serak serta bingung yang lebih muda pertama terdengar, Eray mulanya berbasa-basi terlebih dahulu sebelum menceritakan secara detail pertengkaran antara dirinya dengan Ryoutaa.
โ๐๐ฆ๐ต ๐ฎ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฆ ๐ต๐ฉ๐ช๐ด ๐ฐ๐ฏ๐ฆ ๐ค๐ญ๐ฆ๐ข๐ณ.โ
โMโm.โ
โ๐๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ญ๐ฐ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข live streaming ๐ต๐ข๐ฅ๐ช, ๐ ๐ฐ๐ต๐ข ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฏ ๐ญ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข ๐ญ๐ถ ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ค๐ข๐ฎ๐ข๐ต๐ข even though ๐ญ๐ฐ ๐ณ๐ข๐ฃ๐ถ๐ฏ ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ?โ
โYa.โ
โ๐๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ญ๐ถ ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฌ? ๐๐จ๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฅ๐ช๐ข ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ?โ
โIya.โ
โโฆโ
โโฆโ
Eray mengernyit, curiga si bungsu di seberang sambungan telepon sana sudah kembali tertidur. Namun, baru juga ingin membuka mulut, Alarich kembali berbicara.
โ๐๐ฐ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ, ๐ด๐ช๐ฉ?โ
โPacaran lah, gila.โ
โ๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ช๐ญ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฉ, ๐๐ข๐บ. ๐๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ซ๐ข๐ต๐ถ๐ฉ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ช๐ญ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐จ๐ช๐ญ๐ข, ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข, ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต ๐จ๐ถ๐ฆ.โ
โ๐๐ฉ๐ฆ๐ฌ๐ฌ๐ช๐บ๐ข!โ
Terdengar suara gesekan kain dari seberang sana, sepertinya Alarich berganti posisi agar lebih nyaman mengomentari kakak tertuanya tersebut.
โ๐๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ, ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ. ๐๐ช๐ข ๐ฏ๐บ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ญ๐ฐ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏ โ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐บ๐ข? ๐๐ฆ๐ด๐ฑ๐ฐ๐ฏ ๐ธ๐ข๐ณ๐ข๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ญ๐ฐ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ, ๐ด๐ช๐ฉ, ๐๐ข๐บ?โ
โYa, gue juga berterima kasih,โ Eray mengusap lengannya, dingin juga di luar sini, โCuma, kan, nggak perlu sambil ngomel-ngomel.โ
โ๐ ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ฎ๐ฆ๐ญ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ญ๐ฐ ๐ฃ๐ข๐ต๐ถ? ๐๐ฉ, ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ ๐ฐ๐ต๐ข ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ช๐ฏ ๐ญ๐ฐ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ต๐ช๐ต๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฏ๐บ๐ช๐ฏ๐จ.โ
โBocah kurang ajar!โ
โ๐๐ข๐ฉ, ๐ญ๐ถ? ๐๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ถ๐ข, ๐ฃ๐ข๐ต๐ถ!โ
Kini, kakak pertama dan si bungsu malah bertengkar. Tak mau mengalah, sembari melemparkan celotehan ke satu sama lain. Kegiatan biasa keduanya sebenarnya.
Eray mencoba menahan suaranya, takut mengganggu tidur nyenyak tetangganya. Tak mau juga ia dilaporkan kepada ketua rukun tetangga setempat, bisa habis ditertawai kawan-kawannya ia.
Masih sambil bertengkar dengan Alarich di seberang sana, ia berulang kali mengusap kulit yang terekspos udara dingin. Sialnya lagi, banyak sekali nyamuk di luar sini, habis jadi makanan mereka Eray kali ini.
โEmang dasar bocah, gue minta saran malah bikin naik darah aja. Tau gitu gue nggak nelponโwow, anjing bodoh!โ
Refleks ia menyumpah serapah, terkejut bukan main ketika ada yang menepuk pundaknya padahal jelas-jelas ia sendirian. Takut-takut ia berbalik sembari merapal berbagai macam doa dalam benak, horor juga kalau ternyata yang menegurnya tak menapak.
Tapi bukan wajah rusak dihiasi dendam macam film-film yang pernah ditontonnya yang ia jumpai, tapi wajah familiar pacar mudanya yang menatapnya aneh.
๐๐ฅ๐ถ๐ฉ, Eray mau menghilang saja. Alien, tokek, atau makhluk dunia lain, tolong sekarang juga klaim dirinya.
โ๐๐ข๐ฏ๐จ, ๐ญ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข, ๐๐ข๐ฏ๐จ?! ๐๐ณ๐บ๐ถ๐ฌ๐ช?! ๐๐ข๐ญ๐ฐ, ๐ฉ๐ข๐ญ๐ฐ?โ Sementara Alarich heboh memanggilnya dari seberang sambungan. โ๐๐ข๐บ, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ! ๐๐ถ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ซ๐ข๐ซ๐ข๐ฏ!โ
Bajingan memang fury satu ini. Akan ia botaki saat keduanya berjumpa lain kali.
Ryoutaa mengangkat sebelah alis, meraih ponsel pintar milik yang lebih tua yang digenggamnya erat akibat terkejut.
โCil, nanti lagi telponannya. Kak Eray mau tidur dulu.โ
โ๐๐ข๐ฉ, ๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ฐ๐ฉ, ๐ ๐ฐ๐ตโโ
Secara sepihak ia matikan panggilan. Tombol daya ia tekan sebelum barang milik yang lebih tua ia kantongi. โNgapain di luar?โ
โโฆLagi cari angin.โ
๐๐ฆ๐ญ๐ญ, sepertinya benar apa dikata Alarich, jatuh cinta berhasil membuat orang menjadi bodoh. Padahal jelas-jelas ia menggigil di tengah dinginnya udara dini hari.
Eray alihkan pandangan manakala Ryoutaa menatapnya seakan-akan dirinya sudah gila. ๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ด ๐ญ๐ข๐ฉ.
Dari ujung matanya, ia dapati yang lebih muda menggeleng heran, tangannya terulur, โAyo, masuk.โ
Ia tatap lamat-lamat tangan tersebut sebelum ragu-ragu meraihnya, โโฆYa.โ
ย
โ๐๐ช๐ณ๐ข-๐ฌ๐ช๐ณ๐ข ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฐ๐ฃ๐ณ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ข๐ฅ๐ช.โ
โOke, ๐ต๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ด, Al.โ
โ๐ ๐ข, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ฑ๐ฐ๐ฏ ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ญ๐ข๐จ๐ช.โ
โTergantung, sih,โ Ryoutaa membalas sembari mengelus bulu halus Wahid, sementara ๐ฃ๐ข๐ฃ๐ถ kandung kucing itu tengah berada di dalam kamar mandi, membasuh muka serta mencari ๐ญ๐ฐ๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ gatal yang disimpannya.
โ๐๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ฏ๐ต๐ฆ๐ด ๐ญ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ๐ข๐ฏ, ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.โ
Ryoutaa terkekeh mendengar nada merajuk yang lebih muda, memang asik mengisengi si bungsu satu ini.
โUtututu, jangan marah, dong. Permen mau permen?โ
โ๐๐ฉ๐ช๐ฃ๐ข๐ญ!โ
๐๐ถ๐ตโ
Ingin sebenarnya ia tertawa terbahak-bahak sekarang juga, namun, ada masalah yang harus diselesaikannya terlebih dahulu dengan kakak sayangnya tersebut. Setelah menyambungkan kabel pengisi daya ke ponsel pintar, Ryoutaa duduk di tepian kasur, memandangi pintu kamar mandi di mana Eray berada.
๐๐ข๐ฎ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ด ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ โ๐ฌ๐ข๐ฉ?
Seakan membantah tuduhan tak masuk akal Ryoutaa, Eray keluar dari sana sembari menggaruk-garuk kulitnya yang memarah dan bintul akibat gigitan nyamuk.
Hampir kelepasan tertawa ia saat manik yang lebih tua membola dan tubuh bongsornya berjengit saat Eray sadar tengah diperhatikan. Dengan kikuk ia beranjak mendekati Ryoutaa, ragu-ragu untuk dudukkan dirinya di dekat yang lebih muda.
Kali ini Ryoutaa sungguhan tertawa, geli dan gemas melihat tingkah laku kakak sayangnya yang tak biasa. Ia mengulurkan tangan, melingkari pinggang Eray sebelum ia menjatuhkan diri di atas kasur yang lebih tua dengan si kesayangan di dalam rengkuhan.
โAduh!โ
Bukan Eray yang mengaduh, namun Ryoutaa yang kini sibuk mengelus-elus belakang kepalanya yang terantuk ponsel pintar Eray yang ia letakkan sembarang. Belum lagi rasa sakit di tulang rusuk ketika siku Eray tak sengaja membenturnya. Sudah gagal romantis ๐ฅ๐ฐ๐ถ๐ฃ๐ญ๐ฆ ๐ฌ๐ช๐ญ๐ญ pula.
โKamu nggak papa?โ Eray bertanya khawatir. Sadar betul bahwa ia bisa saja meremukkan yang lebih muda dengan tubuh bongsornya.
Ryoutaa menggeleng, hatinya menghangat mendengar nada khawatir kakak sayangnya. ๐๐ฅ๐ถ๐ฉ, ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ ๐ค๐ช๐ถ๐ฎ.
โKakak nggak marah lagi?โ ditanyainya yang lebih tua sembari menatap manik cokelat gandanya.
Bisa dilihatnya kakak sayangnya itu kelabakan sebelum buru-buru meremat kaus yang dikenakannya dan memalingkan wajah.
โNengok sini dong, ganteng. โKan aku lagi ngomong?โ
Menuruti permintaannya dengan patuh, Eray menjawab dengan sedikit cemberut, โโKan yang marah kamu?โ
โMana ada aku marah?โ
โBohong.โ
โSedikit.โ
โIh,โ dengan kesal Eray mendusal pada ceruk leher yang lebih muda. Melenceng jauh dari kebiasaan tsunderenya.
๐๐ฅ๐ถ๐ฉ, Ryoutaa menghela napas dalam-dalam, ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ. ๐๐จ๐ฐ๐ฃ๐ณ๐ฐ๐ญ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ถ๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช.
โTapi kamu juga marah โkan, Kak?โ
Pria di dalam rengkuhannya kini menggeleng, โAku cuma kesel doang ke kamu tadi. Sedikit,โ rematan pada kausnya makin mengerat, Ryoutaa kini sembari mengelus rambut halus yang lebih tua.
โSekarang aku lebih kesel ke si bocah semangka itu, nyamuk, sama si Joko.โ
โSiapa itu?โ
โKucing oren tadi, nggak tahu namanya, tapi kita panggil dia Joko aja.โ
Ryoutaa benar-benar tertawa lepas, diciuminya ujung kepala yang lebih tua dengan gemas, โBilang apa Al sama kamu sampai kesel gini?โ
โLupain aja, nggak penting dia sekarang,โ Eray membalas dengan nada merajuk. Kepalanya ia angkat dari ceruk leher yang lebih muda dan secara kilat mencium pipi pacar mudanya tersebut.
โTerus kenapa kesel sama nyamuk?โ Ryoutaa menahan yang lebih tua, dibawanya wajah rupawan tersebut untuk mendekat.
โMereka jadiin aku makan dini hari, badanku gatel semua.โ
โJangan digaruk.โ
โTapi gatel.โ
โNgeyel, nih. Nanti malah luka.โ
Eray merengut, โMaaf.โ
โBaru dimaafin kalau kita ciuman,โ adalah apa yang diucapkannya, nyatanya hanya butuh sedikit dorongan sebelum bibir keduanya bertemu.
โโฆAyo.โ
ย
Alarich yang dibangunkan di tengah tidur indahnya tak dapat lagi masuk untuk menjelajahi mimpi. Ia hanya dapat tersenyum kecut ketika sinar sang mentari yang terhalang tirai tipis mulai memasuki kamar. Alarm yang bertugas untuk membangunkannya pun jadi tak berguna.
Dalam hati ia merutuki habis-habisan si kakak pertama dan ketiga yang buat dia kurang tidur. ๐๐ฐ๐ฌ๐ฐ๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ญ ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ฑ๐ฐ๐ณ๐ฐ๐ต๐ช ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข.
Bagai menjawab gerutuan dalam benaknya, ponselnya berdering. Si kakak ketiga, Ryoutaa, menelpon.
โ๐๐ญ, ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ?โ
โMenurut lu?โ
Makin gondok hatinya ketika tawa puas Ryoutaa mengudara, baru ingin memaki, yang lebih tua terlebih dahulu menyela.
โ๐๐ฆ๐ฌ, ๐ฎ-๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ช๐ฏ๐จ, ๐ฅ๐ฆ๐ฉ, ๐๐ช๐ญ.โ
โKenapa?โ
โ๐๐ฆ๐ฌ ๐ข๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข.โ
Menurut, Alarich mengecek akun m-banking miliknya. Awalnya ia tak terlalu memperhatikan, namun bertambahnya nominal saldo miliknya buat kedua manik hijaunya membola sempurna.
โ๐๐ข๐ต๐ข ๐๐ณ๐ข๐บ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ซ๐ข๐ซ๐ข๐ฏ.โ
โBilangin ke Eray gue sayang banget sama dia. Dia mau apa? Kerikil gunung Everest pun akan gue jabanin sebagai bungsu yang berdedikasi kepada kakak pertama,โ Alarich berujar dramatis. Senyumnya mengembang lebar, nyaris tertarik dari telinga satu ke telinga yang lain.
Mendengar sahutan dramatis Alarich, Ryoutaa mendengus, โ๐ ๐ข๐ข, ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ.โ
โNanti? Emang sekarang dia kemana?โ
Ryoutaa jelas terkekeh dari seberang sambungan, โ๐๐ฆ๐ฑ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ข๐จ๐ช ๐ช๐ด๐ต๐ช๐ณ๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช๐ข.โ
โHa?โ Alarich melongo, โTepar kenapa, dah? Dia ada lemburan?โ
Tawa Ryoutaa makin mengeras, Alarich jadi curiga.
โ๐๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฐ๐ฌ๐ฐ๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ถ๐ฌ๐ข ๐ถ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ช๐ญ.โ Dari seberang sana, terdengar suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup, โ๐ ๐ข ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ, ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ฐ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ถ๐ฆ. Thanks ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช๐ค๐ถ๐ณ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ข๐จ๐ช.โ
Walaupun masih curiga, Alarich hanya mengangguk, padahal Ryoutaa jelas-jelas tak akan mengetahuinya, โYoi. Bilangin kalau perlu curhat lagi, tunggu ayam tetangga berkokok dulu.โ
โ๐๐ฌ๐ฆ, ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ๐ข๐ฏ, ๐๐ญ.โ
โYa.โ
๐๐ถ๐ตโ
Sambungan terputus, Alarich kembali merebahkan diri di atas kasur. Senyumnya tak juga pudar setelah mendapat uang jajan dari kakak pertama.
Tapi tak berselang lama kemudian senyumnya tergantikan dengan ekspresi bingung sebelum pemahaman menghantamnya keras di wajah.
โ๐๐ฉ๐ช๐ฃ๐ข๐ญ! Maksudnya tepar tuh ๐ช๐ต๐ถ? Aelah, goblok! Gue tarik simpati gue anjing!โ
Buru-buru ia bangkit dari posisi berbaringnya, jendela kamar ia tatap tajam, โPasangan goblok! Jelas aja mereka pacaran, sial!โ
ย
Saat masuk ke dalam kamar, Ryoutaa mendapati bahwa Eray masih berada di posisi yang sama dengan saat ia keluar untuk mencari sarapan tadi. Terkubur di bawah selimut hanya dengan sedikit area wajahnya yang terlihat. Rambut cokelat dengan gradasi ungu miliknya terlihat berantakan, berbanding terbalik dengan keadaan semalam akibat ulah liarnya.
Ryoutaa tersenyum hangat. Diletakkannya di meja kantung plastik berisi sarapan mereka. Tangannya mengelus-elus rambut kakak sayangnya, berusaha untuk merapikannya sebelum kesayangannya ini protes.
Namun, aksi tersebut malah membangunkan yang lebih tua.
Eray mengerjap beberapa saat, mencoba untuk memproses pemandangan di hadapannya. Ia sedikit menggeliat, mengejar tangan Ryoutaa yang hendak ditarik.
โ๐๐ฐ๐ฐ๐ฅ ๐ฎ๐ฐ๐ณ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ, ๐ฎ๐บ ๐ญ๐ฐ๐ท๐ฆ. Gimana tidurnya?โ
โ๐๐ฐ๐ณ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ,โ Eray membalas. Suaranya serak akibat baru saja bangun tidur dan kegiatan yang mereka lakukan dini hari tadi, โBadanku sakit semua.โ
โ๐๐ฐ๐ณ๐ณ๐บ, lain kali lebih pelan-pelan.โ
โNggak papa.โ Ryoutaa perhatikan saat rona merah menyebar dari ujung telinga kakak sayangnya, pria yang lebih tua juga makin menelesak masuk ke dalam selimut, โโฆ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ.โ
Oh.
๐๐ฉ.
Ryoutaa terkekeh geli, โMau lagi?โ
Kepala Eray yang sudah terkubur di bawah selimut menggeleng kuat-kuat.
โKatanya ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ?โ
โSakit.โ
Ia berhasil dibuat terhibur dengan tingkah laku kakak sayangnya, selimut yang menutupi wajah rupawan kesayangannya ia sibak, penampilan Eray yang berantakan masih dengan rona merah terpampang nyata untuk dwi netranya semata.
Eray merengut, kaus yang dikenakannya berusaha ia naikan di bagian kerah, mencoba menutupi ๐ซ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ-๐ซ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ yang ditinggalkan oleh Ryoutaa. Tapi tangan pria bermanik merah muda itu lebih cepat, digenggamnya telapak tangan kesayangannya untuk ia ciumi tiap jengkalnya. Perlahan ia lingkarkan lengan Eray di lehernya, ciumannya kini berpindah ke sisi wajah pemilik manik cokelat.
Cukup lama mereka berada di posisi tersebut, Eray juga menikmati bagaimana yang lebih muda memberinya afeksi. Tanpa disadari, senyumnya mengembang sempurna.
Ryoutaa menyudahi kegiatannya dengan membubuhkan ciuman singkat di kedua netra Eray. Ia bawa tubuh yang lebih tua untuk bangkit dari kegiatan berbaringnya. Kemudian tangannya meraih kantung plastik yang hampir terlupakan.
โSarapan dulu, ya? Aku beli maem di depan.โ
Anggukan didapatinya sebagai bentuk persetujuan. Ia kemudian beranjak, mengambil piring dan alat makan lain sebelum kembali duduk di dekat kasur.
Sibuk berkutat dengan bungkus makanan, ia tak sadar bahwa Eray tengah menatapnya dalam.
โ๐๐ฐ๐ท๐ฆ ๐บ๐ฐ๐ถ.โ
Ryoutaa buru-buru berbalik, maniknya membola. Namun, tak berselang lama senyumnya mengembang,
โ๐๐ฐ๐ท๐ฆ ๐บ๐ฐ๐ถ ๐ฎ๐ฐ๐ณ๐ฆ, ๐ฎ๐บ ๐ญ๐ฐ๐ท๐ฆ. ๐๐ญ๐ธ๐ข๐บ๐ด."
โfin.
