Work Text:
Pukul 02.29 dini hari. Eray terbangun.
Lampu kamar yang memang sengaja dimatikan buat jarak pandangnya berkurang banyak. Suara kendaraan sesekali terdengar, ngeongan kucing, bahkan suara obrolan mendalam tetangga memasuki gendang telinganya.
Pening dirasa, belum lagi lelah dan letih. Namun, kantuknya hilang seketika. Ada bisikan jahat yang menghampiri benaknya.
“Kok Yota mau sama gue?” Ia menyuarakan tanya. Entah pada siapa, pada yang tak terlihat netra, atau akal sehatnya.
Hatinya gundah gulana sedari pulang bekerja. Obrolan-obrolan rahasia yang tak sengaja terdengar mengusik warasnya.
Ia harusnya tak mendengarnya, tak menghiraukannya. Ia harusnya melupakannya.
Sebersit keinginan untuk meladeni mereka pun pernah numpang lalu. Tapi ia berhenti tepat pada waktunya. Beri senyum dan tanya singkat ketika satu di antara mereka sadar akan presensinya.
“Belum pulang kalian?”
Ada yang terkejut bukan main melihatnya, ada yang menyiku yang lainnya, dan ada pula yang ikut tersenyum bersamanya.
“Loh, Ray, kamu juga belum pulang?”
“Belum. Belum dapet ojol, nih, aku.” Eray menjawab sekenanya, senyumnya tak tergoyahkan.
“Oh, kirain dijemput cowokmu.” Satu di antaranya berujar. Nadanya tak mengenakkan, kekehan di akhir kalimatnya lebih lagi.
Eray abai, ia harus abaikan mereka.
“Enggak, ada kerjaan lain dia,” ia menjeda, menunjuk keluar sebelum melanjutkan, “Ya, udah. Aku duluan, ya. Sampai ketemu besok.”
“Yoi, sampai besok juga, Ray.”
Tak ingat apa yang hinggap di kepala saat ia pulang. Tak ingat pula apa yang dipikirkannya saat dirinya terlelap.
Satu-satunya hal adalah tidurnya tak tenang. Bisikan-bisikan yang dikiranya akan seketika berhenti ikut mengikuti lelapnya.
Mereka bilang ia terlalu galak, yang lain menambahkan bahwa ia buat orang-orang tak nyaman, dan yang tersisa mengimbuhi dengan tawa bahwa pacarnya, Ryoutaanya, hanya melihat tubuhnya.
Sebenarnya bukan sekali ia mendengar mereka bicara demikian, apalagi mengenai kisah asmaranya. Tapi mungkin karena sudah terlalu lama tertumpuk, hari ini batinnya menjerit. Akalnya terbagi menjadi menyetujui mereka dan menyumpah serapahi dirinya.
Ryoutaa tak akan berpikir demikian.
Ryoutaa bukan orang seperti bagaimana mereka pikirkan.
Ryoutaa tak mendekati, tak membisikkan cinta, tak menyayanginya sekadar untuk raganya.
Ryoutaa, Ryoutaa…
“Yota…” Eray berbisik, serak, sesak.
Kepalanya berputar, ia merasa tercekik.
Kedua tangannya gemetaran hebat ketika ponsel pintar di meja diraih. Ruang obrolan antara dirinya dengan yang dicintainya adalah tujuan.
Yot.
| Yota…
| Pernah kepikiran nyesel sama aku nggak
Hapus.
| Kamu ngerasa kalau aku ngebosenin nggak?
Hapus.
| Hubungan kita…
Hapus, dan hapus.
Eray terlalu fokus mengetik dan menghapus hingga tak sadar bahwa di bawah nama kontak yang dicintainya, kata online muncul.
Ndak tidur po kamu? |
Kebangun kah? |
Mau call aja? |
Tiga bubble chat tersebut biasanya bawa senyum manis untuk hinggap pada bibir tipisnya. Tapi ada yang berbeda dengannya hari ini.
Kepalanya seakan berkabut. Benang yang tak diketahui darimana asalnya tampak menjeratnya, membingungkannya.
Ia harusnya membalas pesan Ryoutaanya, bukan malah mengirim pesan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan apa yang ditanyakan oleh tersayangnya.
| Aku terkadang merasa enggak pantas bersanding sama kamu.
Ah, ia terkejut bukan main saat pesan tersebut tak sengaja terkirim. Buru-buru ia menghapusnya.
Tapi terlalu terlambat.
Kekasihnya di seberang sana sudah membacanya.
?? |
The fvck?? |
Terlambat. Terlambat.
Eray terlambat.
Ia makin gemetaran. Netranya berembun. Apa yang tertera di ponselnya hampir tak terbaca.
Kakak, lagi capek, ya? |
Soalnya nggak mungkin cantikku kepikiran aneh-aneh gini. |
Atau ada yang ngomong aneh-aneh? |
Ah, Eray dibuat terdiam, Ryoutaa tahu.
“Nggak adil.”
Air matanya tumpah. Kepalanya menelesak bantal.
“Ryoutaa, kamu nggak adil.”
Bagi Eray, Ryoutaa sungguh tak adil.
Ryoutaa tak adil karena ia pahami dirinya hanya dari pesan yang tak sengaja terkirim. Kekasihnya tahu hatinya dilanda gundah gulana dan mencoba mengerti dirinya.
Eray menangis sejadi-jadinya. Isak tangisannya sempat ditahan sebelum akhirnya ia lepaskan. Sarung bantal tempat ia mengubur wajahnya diremas kuat-kuat.
Kamar temaram dan sepi Eray menjadi saksi ketidakberdayaannya hari ini. Dan entah kemana perginya Wahid pagi ini, tapi untungnya kucing itu tak menengok bagaimana manusia yang menjaganya kini terbaring tak berdaya dengan air mata yang tak berhenti keluar.
Drrt drrt
Ponselnya berdering, seseorang memanggilnya. Ryoutaa pastinya.
Tapi Eray terlalu lemas untuk berbicara. Ia hanya mampu terdiam saat deringnya berhenti dan rentetan pesan masuk.
Dengan kepala yang lebih bersih dari sebelumnya, ia baca satu persatu. Resapi, pahami, dan tersenyum bagai orang pertama dimabuk asmara.
Beneran ada yang ngomong aneh-aneh? |
Wah, minta dilempar stang motornya Al |
Kak?? |
Jawab, Kak |
Sayang |
Sayangku |
3 panggilan telepon tak terjawab
Eray |
Please, don't scare me like this |
Sayang |
Please answer me |
Okay, we don't need to talk if you don't wanna |
But answer me, sayang |
My love, please |
Okay, then, my love kalau kamu nggak mau jawab |
Let me say this, my dear sparkling |
Kalau ada yang bilang macam-macam jangan dengerin mereka |
Kalau udah terlanjur, abaikan aja |
Aku tahu nggak gampang, aku nggak menuntut pula agar kamu langsung lupa |
Tapi kalau kamu merasa bener-benr jengah dan nggak tahu apa yang harus dilakuin |
Then tell me, my love |
Bilang sama aku, telpon aku, kirim aku chat |
I'll listen, aku bakal ngomong kalau kamu mau |
Yang pasti aku nggak mau kamu menanggung semuanya sendirian. |
Ada aku. |
Aku disini, buat kamu. |
Selalu, my dearest. |
Tampak sepenuhnya seperti orang bodoh, Eray tersenyum membaca satu persatu pesan dari Ryoutaa. Tangannya dengan ogah-ogahan meraih tissue di sebelah charger, hidungnya mampet.
Sedang asyik-asyiknya dengan bacaannya, pesan lainnya masuk.
Untuk pesanmu itu, kamu salah. |
Ora ono sing ngakon sandingan, cah ayu. |
Kene tak pangku. |
Eray beberapa kali mengerjap. Ia yakin sedikit banyak tahu beberapa kata dalam bahasa Jawa, mungkin. Tapi entah sudah berapa kali ia memutar otak, tak juga ia dapati arti dari pesan Ryoutaa.
Hah? Apa itu ngakon? Kene? Kerne kah?
Aduh, kendala bahasa ini lagi.
Firasat Rizu sudah tak enak dari semenjak ia ingin memejamkan netra. Segala doa sudah dipanjatkan, tapi rasa tak enak itu masih singgah di batinnya.
Maka tak kaget ia saat berbalik, ada pesan yang tiba-tiba masuk.
Nama kontak Eray tertera. Bunyi pesannya juga tak aneh-aneh.
Pria yang lebih tua itu bertanya apa arti dari kata “ngakon”. Rizu pun menjawab.
| Nyuruh artinya.
| Emang kalimat aslinya gimana, Ray?
Bencana besar.
Rizu bungkam total sembari menatap layar. Beberapa bubble chat dari Eray terpantul di kacamatanya.
Tahu dengan pasti ia siapa yang mengirim pesan itu kepada Eray.
SouRizu menarik napas dalam-dalam.
| “Nggak ada yang nyuruh bersanding, cantik”
| Sini aku pangku”
| Gitu.
| Dari Yota, ya?
Empat puluh detik penuh Eray tak menjawab. Empat puluh detik itu pula Rizu merasa ada baiknya untuk melanjutkan mimpi indahnya.
Makasih, Riz. |
Tapi kok tahu? |
Malah lebih aneh jika dia tidak tahu, kan?
Ah, tumben sekali Rizu merasa kesal.
Transportasi umum sudah jalan belum, ya, sekarang? Rizu ingin sekali bepergian ke rumah masing-masing temannya itu dan menggetok kepala mereka satu-persatu.
Aduh, sabar Rizu-chan. Kamu pasti punya kesempatan, kok.
| Nebak aja, Ray.
Adalah balasan singkatnya sebelum ponsel ia matikan dayanya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Sudahlah, masa bodoh ia dengan pasangan kelebihan semangat itu.
Ra urus.
Sparkling.
Emang kamu kuat mangku aku? |
Pesan balasan dari Eray disambut senyum lebar oleh Ryoutaa. Hmm, kakak sayangnya itu berarti sudah membaca semua pesannya. Sudah pula ia kembali dari pikiran gelapnya itu.
| Kuat lah.
| Kadang kan, juga tak pangku.
| Tapi kamu langsung lemes.
Kekehan dengan leluasa ia loloskan. Yakin 100% bahwa kesayangannya sudah merah merona di seberang sana.
Ia sudah terbangun sepenuhnya. Tidak tidur tepatnya. Sibuk bermain game dengan Alarich dan lanjut mengerjakan komisi.
Penanda waktu di pojok ditengoknya, 03.12. Waktu yang cukup untuk menempuh perjalanan ke rumah kesayangannya itu. Tak apalah tidur ia korbankan, asalkan senyum senantiasa menghiasi bibir tersayangnya.
Drrt
Getaran ponsel membuyarkan lamunan Ryoutaa, pesan balasan dari kakak sayangnya akhirnya tiba.
Bisa enggak jangan bahas itu? |
| Ya udah
| Mau bahas apa cantikku?
Enggak. |
Udah jam segini |
Kamu tidur aja, kemarin katanya kamu kurang tidur |
| Kamu sendiri mau lanjut tidur?
Mungkin? |
Kalau bisa tidur ya tidur |
| Udah mulai ngelantur nih cantikku
| Tidur sana, nanti kerja
Yaa |
Kamu juga |
Tidur |
| Iyaaa sayangku
Yah, bohong sedikit tak apa, kan?
Ryoutaa beranjak dari tempat tidur. Handuk yang tersampir di atas kursi diambilnya, ia hendak membasuh muka sebelum memulai perjalanan menuju rumah tercintanya.
Ah, tak sabar hati dirinya melihat kesayangannya.
Eray mengerjapkan dwi netranya perlahan.
Ia benar-benar tertidur setelah obrolannya dengan Ryoutaa. Pundaknya kini ringan, kepalanya kembali bekerja dengan semestinya.
Oleh karenanya ia malu bukan kepalang.
“Mampus, Eray! Bisa-bisanya lo malah bikin Yota khawatir!”
Selimut dengan warna favoritnya itu jadi pelampiasan rasa malu Eray. Ditarik, digigit dengan ganas sebelum akhirnya mendapat ampunan karena empunya hendak menggosok gigi.
Sembari menuju kamar mandi, Eray juga ingat bagaimana ia bertanya kepada SouRizu arti pesan Ryoutaa.
“Ah, kalau gitu Rizu tahu dong pick up line garing Yota? Lagian kenapa gue nanya Rizu, sih?!” Serunya sebelum dengan kasar mengeringkan rambut.
Eray tatap pantulannya di cermin kamar mandi. Rambut berantakan ala orang baru bangun tidur, mata bengkak, dan muka merah. Tampangnya sudah macam remaja yang baru dilanda cinta, belum lagi dengan senyum yang tak sengaja lolos setelah dengan keras kepala ia tahan.
“Arrrgggh!” Erangannya kini bergema di kamar mandi, tertahan tapi tetap berhasil membangunkan Wahid.
Wahid menggerakkan ekornya dengan malas. Ia mengeong sekali sebelum kembali membaringkan kepalanya di atas tempat tidur pemiliknya. Sudah biasa ia dengan tingkah aneh pemiliknya itu.
Selang beberapa saat, Eray keluar dengan tampilan yang lebih segar. Netra cokelatnya mengedar, menatap sejenak Wahid yang terlelap sebelum berpindah ke nakas tempat ia meletakkan ponsel pintarnya.
Sebaik apapun perasaannya sekarang, ia masih agak enggan untuk kembali bekerja. Sesak kemarin masih menghantui. Dan entah bagaimana ia nanti menghadapi mereka.
Ia menimbang-nimbang antara mengambil cuti atau memilih untuk bekerja dari rumah. Yang satu untuk menenangkan hati dan yang lain untuk sekedar menghindari rekan kerjanya.
Walaupun condong untuk mengambil cuti, Eray akhirnya dengan berat hati memilih untuk bekerja dari rumah.
Helaan napas panjang dikeluarkannya, Ah, in this economy yang penting itu dapet duit.
Namun belum juga tangan berhasil meraih ponsel, ketukan pintu depan merebut atensinya. Sebelah alisnya terangkat, siapa pula yang berkunjung ke rumahnya sepagi ini?
Eray kemudian mengubah arah langkahnya. Kaki jenjangnya beranjak menuju pintu depan sembari sebelah tangan meraih jaket yang tersampir di belakang pintu. Well, seperti pagi-pagi sebelumnya, hari ini benar-benar dingin.
Dengan malas-malasan ia membuka pintu, sesekali sambil menggerutu karena ia tak mengharapkan tamu akan datang pagi-pagi begini.
Tapi ketika surai ungu masuk dalam jarak pandangnya, gerutuan serta kerutan di antara kedua alisnya seketika lenyap. Senyum lebar dan binar mata hangatnya menggantikan. Yang disambut dengan hangat juga balas dengan senyum yang sama sebelum pelukan erat diberikannya.
“Surprises! Kaget nggak, sayangku?”
Eray, dalam pelukan Ryoutaa, mengangguk sebelum kemudian menggeleng kuat-kuat.
“Cringe.”
“Aduh, sedih banget dikatain cringe sama si cantik. Mau nangis di pucuk Monas ajalah aku.”
Sepertinya emosinya pagi tadi masih menguasai dirinya. Buktinya bukannya mendorong Ryoutaa atau lemparkan pukulan ringan, ia malah tergelak sebelum akhirnya balas memeluk erat yang lebih muda.
“Kangen kamu.”
Dapat ia rasakan tubuh yang menempel erat pada dirinya itu sempat kaku untuk beberapa saat sebelum bantingan keras pada pintu dan disusul dorongan kuat diberikan oleh pacar mudanya itu. Hanya dalam beberapa kedipan mata, Eray temukan dirinya kembali terbaring di kasur dengan Ryoutaa yang berada di atasnya.
Ia berkedip dan dibuat salah tingkah dengan usapan sayang yang tiba-tiba diberikan oleh Ryoutaa pada satu sisi wajahnya. Eray fokuskan atensinya pada kalung yang dikenakan oleh yang lebih muda.
“Apaan tiba-tiba didorong gini aku?”
Tatapan intens Ryoutaa melunak sebelum yang lebih muda merendahkan dirinya. Tak lama dapat Eray rasakan seluruh permukaan wajahnya dibubuhi kecupan ringan. Ia merona hebat.
“Yotaaa,” rengekannya malah buat yang di atasnya makin bersemangat untuk mencium dirinya.
Tangannya yang hendak ikut memprotes dicekal sebelum tiap jarinya diciumi. Ciuman terakhir berhenti di jari manisnya sebelum merambat ke pergelangan tangan Eray. Ryoutaa menetap sejenak sebelum ia menancapkan giginya di sana.
“Akh! Yota!” Eray tersentak, ingin ia tarik kembali tangannya tetapi cekalan Ryoutaa menghentikannya.
“Eray~” si pelaku penggigitan malah merengek. Bagai bayi besar ia malah menelesak di dada yang lebih tua. “Sayangku, kakak sayang, cantikku.”
Protesan Eray tak jadi mengudara. Mulutnya tertutup rapat dengan rona merah menghiasi wajah.
“Cah ayu, ojo meneng wae,” Ryoutaa merengut, “Saltingnya tahan dulu, aku juga kangen kamu, loh.”
“Siapa yang salting!” Eray menyanggah. Ia menggeliat di bawah Ryoutaa, mencoba melepaskan diri, “Kamu minggir. Bawaanmu ito, loh, berat!”
Ryoutaa, yang masih dengan backpack tersampir di sebelah pundak, hanya lemparkan senyum lebar ke arahnya sebelum ciuman final dibubuhkan di atas bibirnya.
Eray menghela napas lega, ia berusaha duduk namun gagal karena lagi-lagi Ryoutaa menindihnya.
“Minggir, Ryoutaa!”
“Matamu bengkak.”
Eray kicep, ia balas menatap Ryoutaa yang memperhatikan kondisinya lamat-lamat. Sentuhan ringan penuh kehati-hatian, penuh kasih sayang, diberikan oleh yang lebih muda.
Dan gestur kecil ini berhasil meluluhkan sisi keras kepala Eray. Ia mengangguk sebelum mengalungkan lengannya di leher Ryoutaa.
“It's okay now.”
“It's should be okay, kalau enggak ku acak-acak orang yang bikin kamu nangis,” Ryoutaa berujar sungguh-sungguh, perut terekspos Eray diusapnya perlahan. “You must be hungry now, considered you cry all night along.”
“Nggak semalaman juga, ah,” yang lebih tua memprotes. “Tapi aku beneran laper, sih.”
Ryoutaa mengangguk, “Ayo maem, katamu ada warung soto enak, ‘kan?”
“Soto banget, nih?”
“Bubur kalau gitu? Biar kamu gampang nyernannya.”
Si pemilik manik cokelat mendelik kesal, “Kamu pikir aku balita apa?!”
“Anak kecik, sih, kamu. Perutnya aja kelihatan gini,” yang lebih muda berujar lalu dengan santainya menciumi perut rata Eray, “Wangi minyak kayu putih. Nggak kepanasan, kah, adek? Ganti minyak telon aja, ya?”
“Yota!” rona merah yang sebelumnya padam kini kembali membara. Telinganya pun ikut dirambati merah. Kaki Eray kini menangkring di bahu Ryoutaa, mencoba menjauhkan pria yang kini gemas dengan perutnya itu.
“Perutmu, loh, wangi banget.”
“Jangan kayak om-om mesum, ah!”
Ryoutaa tergelak. Ia akhirnya dengan suka rela beranjak dari posisi nyamannya sebelum kemudian membantu yang lebih tua berdiri.
“Maem soto apa bubur nih, kita jadinya?”
“Naspad.”
“Nggak ada di pilihan, cantikku.”
Eray ikut tertawa, kedua matanya menyipit, hidungnya sedikit mengkerut, dan gummy smile yang buat Ryoutaa tergila-gila itu ikut menampakkan diri.
“Soto kalau gitu,” yang lebih tua memutuskan. Kakinya beranjak menuju lemari, mencari outfit yang pantas dibawa keluar.
Sedang asik memilah-milah pakaian, sepasang lengan kuat melingkari pinggangnya.
“Eray, I love you.”
Eray merona, “Yot~”
Ryoutaa terkekeh di belakangnya, “You just need to know that I love you, I'm proud of you, and it's hurts me to seeing you cry. Aku nggak tahu apa yang mereka bilang, and kamu kelihatan nggak mau membicarakannya lagi, but,” yang lebih muda membalikkan tubuhnya, buat mereka bertatapan.
“Apa yang mereka katakan itu nggak benar, mereka nggak benar-benar tahu kamu, kata-kata jahat yang mereka utarakan itu mungkin dilandasi oleh rasa iri. Sayang, we know we can't control what people think about us, tapi kita bisa kontrol apa yang hendak kita dengar.”
Eray terjebak dalam lautan merah muda tersebut, “Tapi kalau kamu terluka dengan apa yang mereka bilang, let me know. Mari berbagi luka itu, mari kita sembuhkan luka itu bersama. Jangan kamu takut membebani aku atau semacamnya, aku bakal selalu ada buat kamu.”
Ah, lagi, lagi dan lagi. Eray dibuat jatuh cinta lagi. Jatuh cinta pada pria yang sama, yang memberinya sayang dan nyaman. Pria yang sama, yang akan mendengarkannya, yang menemaninya.
Senyum Eray kembali merekah, “I love you.”
Ryoutaa terkekeh kecil, “I love you more, my dear sparkling."
