Work Text:
Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika pintu apartemen terbuka, menampilkan sosok tinggi besar yang dibalut jaket kulit gelap. Bima baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Di tangannya, sebuah kantung plastik berisi berbagai makanan ringan bergoyang pelan — amunisi yang sengaja ia beli untuk menemaninya menjalani tugas panjang sepanjang malam tadi.
Unit apartemen itu hening. Lampu-lampu memang masih menyala, tetapi tidak ada tanda kehidupan dari semua sudut rumah yang bisa dijangkau oleh matanya. Hanya suara detak jam dan dengung lemari es yang terdengar semakin nyaring di tengah sunyinya malam. Meski begitu, pandangan Bima segera jatuh pada semangkuk ikan kuah kuning di atas meja makan yang terbungkus plastic wrap dengan rapi.
Ah, pengertian sekali pasangannya ini memang.
Padahal sore tadi pria yang lebih tua satu tahun darinya itu mengeluh tidak enak badan. Namun ia masih sempat menyiapkan makan malam untuk Bima yang pulang kelewat larut. Senyum tipis terukir di bibirnya.
Bima segera mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum kembali dan menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Matanya berbinar menatap hidangan di hadapannya. Dengan semangat, ia mengambil sepiring nasi hangat dan menyendok sepotong ikan yang entah bagaimana terlihat seperti sedang menggodanya.
Makan malamnya kali ini sepi, tapi Bima tidak keberatan. Biasanya ia akan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, bergabung dengan sang terkasih menuju alam mimpi. Tapi demi menghargai makanan yang disiapkan dengan penuh perhatian, bahkan saat pembuatnya sedang sakit, ia rela menunda istirahatnya sejenak.
Tidak butuh waktu lama sampai piring dan mangkuk di atas meja bersih tanpa sisa. Bima menepuk perutnya pelan — kekenyangan. Tubuh besarnya bersandar ke belakang, sedangkan jemarinya menggulir layar ponsel, mencari berita atau hal-hal menarik yang ia lewatkan selama bekerja tadi. Sekadar menemani waktu hingga rasa kenyang mereda, sebelum akhirnya menyusul pasangannya ke alam mimpi.
Beberapa waktu berlalu begitu saja. Rasa kantuk yang sempat tertunda mulai menyerang. Bima melirik jam di sudut layar ponselnya.
02.57.
Yah pantas saja. Sudah cukup untuk hari ini.
Bima menguap lebar. Tangan besarnya dengan cekatan membawa piring, mangkuk, dan gelas yang dipakainya tadi ke tempat cuci piring. Membersihkan sisa-sisa makan malamnya agar esok pagi mereka bisa menikmati pagi yang lebih santai.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu dibereskan, Bima mematikan lampu dapur dan melangkah menuju kamar. Yang ia inginkan sekarang hanya kasur empuk dan tubuh Arjuna dalam pelukannya. Setelah bekerja dalam waktu yang panjang, rasanya tidak ada tempat yang lebih nyaman selain sisi ranjang yang ditempati pasangannya.
Langkahnya terhenti di ambang pintu. Maniknya langsung terpaku ke ranjang yang kosong — Arjuna tidak terlihat dimana pun. Bahkan seprai dan selimut di sisi yang biasa ditempati pria itu masih terlihat terlalu rapi, seolah memang belum pernah disentuh sama sekali malam ini. Hanya cahaya bulan dari luar jendela yang menerobos masuk, menerangi sebagian ruangan.
“Mas Juna?”
Keningnya berkerut. Mencoba menyusuri setiap sudut ruangan dengan matanya — memasang telinganya baik-baik, barangkali pria bermanik kelabu itu sedang pergi ke kamar mandi. Tapi alih-alih suara gemericik air, Bima menangkap suara batuk samar dari ruangan di sebelah — ruang kerja Arjuna.
Matanya memicing curiga. Ia bisa menangkap garis cahaya tipis yang keluar dari bawah pintu ruangan itu. Bima mendekat tanpa suara. Tangannya terangkat, mendorong pintu sedikit lebih lebar. Dan pemandangan pertama yang menyambutnya adalah sosok Arjuna yang masih duduk di depan laptopnya yang menyala terang. Rambut hitamnya tampak kusut. Keringat membasahi pelipisnya meski AC di ruangan itu menyala dingin. Di samping laptopnya, termometer digital dan sebungkus obat yang masih utuh tergeletak begitu saja.
Pria itu belum menyadari kehadirannya. Masih sibuk menarikan jemarinya di atas keyboard, sesekali terbatuk kecil dan menarik ingus. Bima memejamkan matanya selama satu detik penuh. Kepalanya mendadak pening. Ketika matanya kembali membuka, tatapan tajam langsung ia layangkan pada pria di hadapannya.
“Mas Juna.”
Arjuna tersentak kecil. Kepalanya menoleh cepat ke ambang pintu — aksi yang sedikit ia sesali karena sekarang rasanya seperti dunia berputar di sekelilingnya. Butuh waktu sekian detik sebelum ia menjawab dengan suara sengau.
“Udah makan, Bim?”
“Udah.”
“Oh,” Arjuna kembali menyedot ingusnya. Tatapannya kembali ke arah layar laptop. Jemari lentiknya kembali bergerak di atas keyboard. “Oke deh, bagus. Gih tidur.”
Hening kembali menyelimuti keduanya. Hanya suara ketikan keyboard yang mengisi ruangan sempit itu.
Bima masih berdiri di tempatnya. Sedangkan Arjuna — entah karena terlalu fokus atau memang sengaja mengabaikannya — terus menatap layar laptop tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.
Satu menit berlalu.
Dua menit.
Masih tidak ada tanda-tanda pria itu berniat beranjak. Urat di pelipis Bima berkedut.
“Mas.” Bima memanggil, yang hanya dijawab dengan dehaman singkat dari si surai hitam. Si manik ungu menghembuskan napasnya pelan. “Ngapain?”
“Kerja…?” Arjuna mengernyit, seolah itu adalah pertanyaan paling aneh yang ia dengar malam ini. Netranya kembali menatap Bima yang masih setia berdiri di ambang pintu. “Kenapa deh?”
Kalau ini salah satu komik yang biasa dibacanya, Bima yakin saat ini sudah ada empat urat berbentuk siku yang bermunculan di dahinya. Tangannya ia lipat di depan dada, mengulas senyum semanis mungkin.
“Mas.” Arjuna bersin sekali, sebelum melayangkan tatapan tanya ke arahnya. “Mas liat jam.”
Arjuna melirik sekilas ke pojok layar laptopnya.
“Jam tiga.”
“Terus?”
“Ya… jam tiga…?”
Senyum di wajah si surai ungu tidak berubah sedikit pun. Tangannya menunjuk ke arah benda pipih kecil di samping laptop, menyuruh yang lebih tua untuk mengalihkan pandangannya lagi.
“Coba deh itu termometernya dikempit di ketek, terus liat berapa angka yang keluar di situ.”
Arjuna mengerjap, lalu melirik termometer yang tergeletak mengenaskan di samping laptopnya. Oh. Ia tahu sekarang kemana arah pembicaraan ini.
“Udah tadi…”
“Berapa?”
“38,4.”
“Nah.”
“Nah.”
Habis sudah kesabaran Bima. Kakinya mengambil langkah lebar, mendekat ke arah si surai hitam. Dengan satu gerakan cepat, tangannya menutup laptop di atas meja. Mengundang satu pekikan tertahan dari si empunya.
“Bim!”
“Apa?” Bima mendelik tajam, membuat Arjuna menelan lagi sederet protes yang hendak ia layangkan. Wajahnya semakin pucat. “Mau protes? Protes coba sini. Aku dengerin.”
Arjuna meneguk ludahnya. Bima berdiri menjulang di depannya dengan kedua tangan bertumpu di meja. Manik ungunya tajam menusuk, membuat Arjuna yang biasanya paling lihai berdebat kehilangan keberaniannya mendadak.
“Kerjaanku belum selesai…” Ia mencicit. Kalimat yang sukses membuat amarah si surai ungu mencapai puncaknya.
“Kerjaan terus diurusin, badan sendiri dibiarin kayak apaan tau.”
“Bim-“
“Nggak. Diem. Giliran aku yang ngomong.”
Arjuna kembali mengatupkan bibirnya. Nada suara Bima tidak tinggi, justru terdengar tenang. Dan Arjuna tahu dirinya yang telah memicu apapun yang berada di balik ketenangan itu.
“Siapa ya, yang tadi sore bilang nggak enak badan?” Manik ungunya meneliti setiap perubahan di wajah yang lebih tua. Melirik anak rambut yang terlihat lepek, menempel di dahi karena basah keringat. “Siapa yang tadi ngeluh kepalanya sakit?”
“…Aku.”
“Nah, itu tau. Terus sekarang ngapain coba?”
“Bim, ini kerjaan penting-”
“Emang ada kerjaan Mas yang nggak penting?” Bima memotong cepat. Ia mengusap wajahnya kasar, emosi mulai tampak di wajahnya yang tampak lelah. “Mas Juna tuh kalau sakit selalu gini.”
“Nggak.”
“Iya.” Bima mendesis tajam. Tangannya menunjuk termometer, obat, dan laptop di hadapannya. “Demam hampir 39 derajat. Obat nggak diminum. Jam tiga masih nongkrong di depan laptop. Apa namanya kalo bukan ngeyel?”
Arjuna hanya terdiam. Sekarang kepalanya mulai terasa berputar — efek tubuh yang dipaksakan dan omelan Bima yang mulai mengular.
“Nanti kalau tumbang siapa coba yang repot? Kalau demamnya naik siapa yang begadang? Nanti kalau harus ke rumah sakit siapa yang ngurus? Aku juga kan?”
Bima menatap pria di hadapannya datar. Sudah tubuh Arjuna jauh lebih kecil darinya, sekarang pria itu terlihat lebih kecil lagi dalam keadaan mengenaskan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau tidak ditegaskan sekarang, Bima yakin Arjuna tidak akan pernah mengerti. Ia menarik napas panjang.
“Mas tuh kalau jagain orang lain rajin banget. Aku bersin sekali saja langsung disuruh minum obat, disuruh tidur, disuruh makan.” Bima bisa mendengar Arjuna kembali menyedot ingus — atau sedang terisak? Tapi tidak ada sedikit pun niatnya untuk berhenti. “Giliran badan sendiri yang minta istirahat malah pura-pura nggak denger.”
Arjuna terdiam. Kepalanya menunduk, menatap nanar ke arah jemari yang bertaut di pangkuannya. Bima tertawa pendek. Kesal.
“Aku nggak masalah kalau harus jagain Mas pas sakit. Sumpah, nggak masalah. Tapi yang bikin aku kesel tuh Mas sendiri yang terus maksa badan Mas sampai kayak gini.”
Tubuh Arjuna mulai bergetar pelan. Entah karena demamnya yang semakin tinggi, atau karena setiap kata yang keluar dari mulut Bima terasa seperti hantaman yang telak mengenai sasaran.
Manik ungu Bima menangkap setiap detail kecil dari pria di hadapannya. Pertahanannya pun runtuh. Pria besar itu berjalan memutari meja, menghampiri kekasihnya yang masih duduk terdiam di kursinya.
“Mas, aku tuh cuma khawatir.” Tangan besarnya terangkat, menangkup pipi yang terasa membakar di bawah sentuhannya. “Aku nggak mau liat Mas Juna tumbang, cuma bisa tiduran aja. Apalagi kalo sampe harus total bed rest. Aku ngelarang tuh karena sayang sama Mas Juna, bukan karena mau ngekang.”
“Maaf.” Arjuna menggumam lirih. Suaranya jauh lebih serak dibanding yang seharusnya. Matanya terasa panas.
“Sekarang aku tanya deh.” Bima mengusap mata Arjuna yang mulai berair. “Kalo misalnya aku yang sakit, terus Mas Juna liat aku masih maksa kerja jam tiga pagi. Mas bakal marah nggak?”
Si surai hitam mengangguk pelan. Masih tidak berani mengangkat kepalanya. Bima terkekeh.
“Nah. Mas Juna aja bakal marah kan? Berarti wajar kan sekarang aku marah karena Mas ngeyel?” Ia menyapu anak rambut yang menempel di dahi yang lebih tua. Tidak ada lagi bantahan dari pria di hadapannya.
“Mas Juna udah makan belum?” Kali ini Bima bertanya lembut.
Bukannya menjawab, Arjuna langsung mengalungkan kedua tangannya ke belakang leher si surai ungu. Menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher kesukaannya. Tak lama, Bima bisa mendengar suara isakan dari sosok di dekapannya. Membuatnya kalang kabut.
“Lah, kok malah nangis? Aku cuma nanya loh?” Tangannya bergerak ke punggung sempit Arjuna, menggambar lingkaran — berusaha menenangkan. Di saat yang sama, tangannya yang lain mengambil termometer — menyelipkan benda pipih itu ke ketiak pasangannya. Menunggu sampai terdengar bunyi bip pendek sebelum mengamati angka yang muncul di layarnya.
38,7.
“Naik lagi.” Ia menggumam pelan. Mengusap tengkuk Arjuna yang terasa semakin panas. “Jadi udah makan apa belum, Mas?”
Di pelukannya, Arjuna menggeleng pelan. Masih dengan sesenggukan yang menemani napasnya.
“Kenapa belum makan? Kok bisa nyiapin makan buat aku tapi yang masak malah nggak makan?”
“Pait.”
“Terus obatnya?”
“Nanti.”
Jawaban itu kembali mengundang helaan napas dari yang lebih muda. Ia mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit ruangan pasrah. Sabar. Ia harus sabar.
Kadang Bima merasa Arjuna adalah manusia paling pintar yang pernah ia kenal. Di waktu lain, pria itu mampu membuatnya mempertanyakan bagaimana seseorang bisa hidup sampai usia dewasa dengan kemampuan menjaga diri yang nyaris nol.
“Mas.” Bima memanggil pelan. Arjuna hanya mengusapkan wajahnya di ceruk leher sebagai jawaban.
“Aku sayang banget sama Mas, tapi kadang aku pengen banget ngegulung mas pake karpet terus aku simpen di kamar biar nggak bikin masalah.”
Isakan Arjuna berubah menjadi tawa kecil yang tersendat. Bima tersenyum tipis. Syukurlah. Setidaknya yang satu ini masih diajak bercanda.
“Oke. Sekarang berdiri dulu.”
Arjuna justru mengeratkan pelukannya. Menggeleng keras.
“Nggak mau. Pusing.”
“Ya udah aku gendong.”
Tanpa aba-aba Bima mengangkat tubuh ringkih itu. Arjuna tidak protes, justru melingkarkan kakinya di pinggang si surai ungu. Sekarang Bima terlihat seperti sedang menggendong seekor koala yang enggan dilepas.
Bima meraih obat yang tergeletak begitu saja di meja, sebelum melangkahkan kakinya kembali ke meja makan. Ia duduk di kursi, masih dengan Arjuna dalam pangkuannya. Ia mengobrak-abrik lagi kantung plastik berisi jajanan yang tadi dibawanya pulang, mengambil sebungkus roti dari dalamnya.
“Aku kira Mas udah makan, jadi tadi lauknya udah aku abisin. Makan roti dulu ya, biar ada yang ngganjel perut sebelum minum obat.” Ia menyodorkan sepotong roti langsung ke depan mulut Arjuna. Tapi bukannya membuka mulut, Arjuna malah memalingkan wajahnya. Kembali bersembunyi di perpotongan lehernya.
“Nggak mau.”
“Mas.”
“Pait.”
“Itu roti cokelat.”
“Tetep pait.”
“Wah hebat. Jadi cenayang ya sekarang?”
Sarkas Bima hanya dibalas dengusan keras dari Arjuna. Masih keras kepala menolak makan. Lagi-lagi Bima harus mengingatkan dirinya untuk tetap sabar.
“Makanlah sedikit Mas. Biar bisa minum obat terus tidur gitu… ya? Dikit aja. Kecil kok ini rotinya.” Bima memundurkan tubuh Arjuna sedikit, cukup untuk melihat wajahnya yang terlihat bengap karena tangis dan demam. Manik kelabunya itu bahkan terlihat sayu dan tidak fokus.
Bima kembali menyodorkan roti di tangannya. “Dikit aja Mas.”
Arjuna menggeleng.
“Kenapa?”
“Capek.”
“Ngunyah juga capek?”
Arjuna mengangguk. Bima menutup wajahnya dengan satu tangan, tidak habis pikir.
“Ini pertama kalinya aku denger ada orang males ngunyah.”
“Aku.”
“Iya aku tau itu Mas Juna.” Bima menghela napas — entah untuk ke berapa kalinya. “Mas makan tiga gigitan aja.”
“Dua.”
Bima menaikkan alisnya. “Kok nego?”
Arjuna terdiam beberapa detik. “Satu setengah.”
Kali ini tawa Bima terdengar menggelegar di unit apartemen itu. Tidak habis pikir bercampur gemas. Kalau bukan karena tubuh kecil di depannya ini sedang terbakar demam, Bima sudah sedari tadi menghujani wajah itu dengan ciuman kecil sampai Arjuna meminta ampun.
“Nggak ya, tiga. Habis itu minum obat terus tidur.” Arjuna mendesah panjang seperti seseorang yang baru saja dipaksa menandatangani kontrak yang merugikan hidupnya.
“Ya udah.”
Bima menggeleng geli. Dengan sabar, ia menyobek sedikit roti itu menjadi potongan yang lebih kecil, lalu menyodorkannya ke depan bibir Arjuna.
Dengan enggan, Arjuna membuka mulut. Mengunyah potongan roti itu dengan lambat. Sangat lambat. Saking lambatnya Bima sempat curiga kalau pria itu tertidur sambil mengunyah.
“Mas.” Panggilan yang hanya dibalas dehaman oleh si surai hitam. “Ditelen.”
Arjuna mendengus pelan, tapi tetap menelan makanannya. Baru selesai menelan, Bima sudah menyodorkan potongan kedua. Lagi-lagi Arjuna mendesah. Gigitan kedua dan ketiga tidak jauh berbeda. Kelopak mata Arjuna turun naik melawan kantuk dan demam, sementara kepalanya terus bersandar berat di bahu Bima.
Begitu gigitan ketiga berhasil masuk, Bima menyodorkan segelas air dan obat. Arjuna menatap obat itu dengan penuh permusuhan. Ia mengeluh pelan, tetapi tetap mengambil obat dan memasukkannya ke mulut. Segelas air segera menyusul.
Bima baru bisa bernapas lega ketika obat itu benar-benar tertelan. Arjuna kembali menyandarkan kepalanya di bahu Bima. Si surai ungu kembali mengusap punggung sempitnya.
“Anak baik.”
“Jangan ngomong gitu.”
“Kenapa?”
“Aku umur 25.”
“Tapi kelakuannya kayak anak TK yang kabur kalau disuruh minum obat.”
Arjuna mendengus. Inginnya sih memberikan pukulan kecil sebagai balasan dari ejekan itu, tapi tubuhnya terlampau lemas untuk sekedar mengangkat tangannya.
Keduanya tetap di posisi tersebut selama beberapa lama. Efek lelah yang sedari tadi ditahan Arjuna tampaknya mulai mengambil alih. Tubuhnya semakin berat. Kepalanya jatuh semakin dalam, sementara napasnya mulai terdengar panjang dan lambat.
“Ngantuk?”
Arjuna mengangguk tanpa membuka matanya.
“Pusing?”
Lagi-lagi ia hanya mengangguk.
“Makanya tidur.”
Tidak ada jawaban. Ketika Bima menundukkan kepalanya, rupanya Arjuna sudah memejamkan mata sepenuhnya. Tertidur.
Bima menatap wajah sembap itu selama beberapa saat. Pipi yang memerah karena demam. Bulu mata yang bergetar pelan setiap kali bernapas. Manusia yang beberapa saat lalu bisa membuat darahnya naik sampai ke ubun-ubun, sekarang justru membuatnya ingin melindungi tubuh kecil itu apapun risikonya.
Kecupan kecil ia bubuhkan di dahi si surai hitam.
“Nanti pagi kalo belum sembuh kita ke dokter.”
Gumamannya tidak mendapat jawaban. Si pemilik tubuh sudah tertidur pulas di pelukannya.
Bima menghela napas panjang sebelum akhirnya berdiri. Dengan hati-hati ia mengangkat Arjuna yang masih terlelap, membawanya menuju kamar.
Malam sudah hampir berakhir. Dan untuk pertama kalinya sejak pulang tadi, Bima akhirnya merasa tenang.
Setidaknya sekarang si manusia paling keras kepala yang ia cintai itu sudah berhenti bekerja dan mulai beristirahat.
