Actions

Work Header

Last Tempo

Summary:

Ao'nung mengabadikan kenangan melalui kameranya dan neteyam menciptakan kenangan melalui musiknya. Mereka bersama membangun kehidupan yang selalu mereka impikan, ditemani rumah di tepi laut, keluarga yang menyayangi mereka, dan masa depan yang perlahan mulai terbentuk, dengan hari pernikahan yang semakin dekat, semuanya terasa sempurna.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Ruangan itu dipenuhi oleh cahaya keemasan, yang jatuh tepat pada neteyam di tengah panggung. Grand piano Berwarna hitam berdiri megah di depannya, ribuan kursi di auditorium terisi oleh orang-orang yang tak berhenti menatapnya. 

Neteyam menarik nafas dengan pelan kemudian jarinya mulai bergerak, nada pertama memenuhi satu ruangan, lembut, indah dan begitu hidup sehingga orang-orang yang mendengarnya terdiam. 

Setiap nada terasa seperti sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata seolah setiap tuts piano yang ditekan oleh neteyam menyimpan rasa yang cukup besar untuk dikatakan. 

Di ujung auditorium yang gelap, aonung berdiri disana dengan kameranya, aonung memotret neteyam saat jarinya berada di tuts piano, menutup mata dan ketika rambutnya terkena cahaya panggung, sehingga terlihat seperti diselimuti cahaya keemasan.

Klik. 

Klik. 

Klik. 

Aonung tersenyum kecil saat melihat hasilnya di dalam kamera, neteyam terlihat bersinar disana, seperti orang yang sudah ditakdirkan untuk dicintai oleh semua orang. 

Beberapa detik setelah neteyam menyelesaikan nada yang dia ciptakan sendiri, neteyam melihat ke arah auditorium, terasa sunyi hingga akhirnya tepukan tangan di dalam auditorium meledak, orang-orang berdiri menatap neteyam dengan kagum, mereka juga bersorak keras untuk neteyam. 

Neteyam tersenyum kecil kemudian berdiri dan melangkah menjauhi grand piano menuju bagian depan panggung, cahaya lampu mengikuti setiap langkahnya. 

Ketika neteyam sampai di tengah panggung, neteyam membungkukkan badannya dengan sopan ke arah penonton yang masih terus bertepuk tangan untuknya. 

Neteyam mengangkat kepalanya pelan dan mulai mencari seseorang diantara lautan manusia yang ada di auditorium, seseorang yang selalu ada disetiap pertunjukannya. 

Aonung. 

Matanya menyapu lautan manusia yang ada di ruangan itu, sampai akhirnya berhenti pada sosok tinggi di sana, kamera tergantung di lehernya dan sudah bersiap ingin memotret, begitu mata mereka bertemu, sudut bibir neteyam mulai terangkat sedikit lebar, dan tepat di saat itu juga—

Klik. 

Aonung melihat hasilnya dan tersenyum, neteyam yang menatap lurus ke arahnya dibawah cahaya panggung dengan senyuman kecil paling hangat yang pernah aonung lihat. 

Aonung melihat neteyam mulai mundur untuk meninggalkan panggung, dengan cepat dia bergerak menuju ke belakang panggung dengan buket bunga yang ada ditangannya. 

Neteyam perlahan mundur dan meninggalkan panggung, neteyam menuju ke arah belakang panggung dengan perasaan yang sangat bahagia. Dibelakang panggung tidak kalah meriah, semua orang yang bearada disana memberikan tepuk tangan dan beberapa buket bunga dan diterima dengan baik oleh neteyam. 

Disana ada orang tua serta adik-adiknya, mereka menghampiri neteyam dan kemudian memeluknya sambil mengucapkan bahwa mereka sangat bangga dengan neteyam. Neteyam sendiri hanya mengangguk dan tersenyum kemudian memberikan ciuman singkat di pipi sang mama dan papa. 

Neteyam melihat ke arah sekitar, mencari seseorang yang sangat dia sayangi lebih dari siapapun, neteyam menghela nafas ketika dia tidak melihat kekasihnya disana, mungkin aonung masih berada di auditorium, begitu pikir neteyam. 

“Teyam” Neteyam langsung berbalik arah dan melihat kekasihnya disana, tersenyum hangat dengan membawa sebuah buket bunga yang besar. 

Neteyam berlari pelan dan memeluk kekasihnya, aonung membalas pelukannya dan memberikan kecupan singkat di kening neteyam “aku bangga banget sama kamu” 

Mereka berdua berpelukan cukup lama, seolah olah dunia hanya milik mereka berdua. 

“Hey sayang, mama kamu ngeliatin kita” Neteyam melihat wajah aonung dan kemudian melepas pelukannya perlahan dengan wajah yang cemberut, dengan gemas aonung memberikan ciuman singkat di bibir neteyam. 

“ish kamu ini! jangan cium-cium” Aonung tertawa lepas melihat neteyam yang masih dalam keadaan cemberut, dan sedikit memberi jarak dari aonung. 

“Kamu gamau terima bunga dari aku ya? padahal aku metik beberapa tangkai bunga ini dari kebun kita” Neteyam menoleh dengan mata yang berbinar seperti melihat sesuatu yang menarik. 

Neteyam mengambil dan memeluk buket bunga yang diberikan oleh aonung kemudian menghirup aroma bunga yang ada di tangannya “ini benih bunga yang kita tanam dulu?” Neteyam melihat ke arah aonung sambil tertawa kecil, aonung mengangguk sambil tersenyum. 

Aonung membelai pelan rambut neteyam “kamu suka?” neteyam mengangguk semangat dan memeluk erat buket bunga tersebut. Mereka berdua pernah menanam benih bunga tepat di belakang rumah aonung. 

“Aku juga masih punya hadiah, kebetulan juga mama papa dan adik adik kamu ada disini” Neteyam menatap aonung dengan heran, berfikir apa hubungannya orang tua neteyam dengan hadiah yang akan aonung berikan. 

Aonung perlahan berlutut di hadapan neteyam, jantung aonung berdegup kencang, sangat kencang sehingga dirinya sendiri bisa mendengarnya, dengan tangan yang sedikit gemetar, aonung merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana, sebuah kotak berwarna merah kecil. 

Neteyam menatap aonung dengan pandangan dan perasaan yang bingung, neteyam merasa bingung mengapa aonung tiba tiba berlutut di hadapannya, neteyam melihat aonung menarik nafas panjang sebelum membuka kotak kecil berwarna merah tersebut. 

Neteyam terkejut saat melihat isi dari kotak merah tersebut, terlihat sebuah cincin yang berkilau dari dalam sana, neteyam terdiam berusaha mencerna apa yang terjadi saat ini. 

Aonung menatap neteyam dengan lembut “neteyam?” neteyam melihat aonung kembali menarik nafas dengan dalam, kemudian melanjutkan kembali perkataannya “you've been my happiness, my home, and the best thing that has ever happened to me. I can't imagine my future without you in it”

Aonung terdiam kembali, sedikit rasa gugup menyerang aonung kembali, dengan pelan dia melanjutkan perkataannya “i want to wake up beside you every morning, hold your hand through every challenge, and spend the rest of my life loving you”

“Neteyam, will you marry me?” 

Neteyam terdiam, kedua matanya terbelalak lebar, bibirnya sedikit terbuka tapi tidak ada satu kata pun yang berhasil terucap. Air mata mulai menggenang di sudut mata neteyam karena terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya.

Di belakang mereka terlihat neytiri yang menutup bibirnya dengan kedua tangannya, sementara Jake melihat dengan wajah yang terkejut, kiri dan loak pun saling bertatapan seolah olah sedang mencerna apa saja yang sedang terjadi saat ini. 

Neteyam masih terdiam di tempatnya saat ini, berusaha memproses apa yang baru saja terjadi, air matanya telah memenuhi matanya, sehingga membuat pandangannya menjadi kabur. 

Dengan nafas yang tidak stabil, neteyam melirik ke arah orang tuanya terutama sang papa, Jake yang sedari tadi melihat ke arah mereka berdua, hanya memberikan senyuman manis ketika neteyam melihatnya dan kemudian mengangguk pelan, merestui semua keputusan apapun yang akan diambil oleh neteyam. 

Melihat itu membuat dada neteyam terasa sesak, neteyam kembali melihat ke arah aonung yang masih sabar menunggu jawaban dari neteyam meskipun terdapat rasa gugup yang tidak dapat disembunyikan oleh aonung. 

Air matanya akhirnya jatuh membasahi pipinya, neteyam mengangguk berkali kali “aku mau nung, aku mau nikah sama kamu”.

Wajah aonung kembali cerah, senyuman menghiasi wajahnya, dengan tangan yang masih gemetar aonung mengeluarkan cincin tersebut dari dalam kotaknya lalu dengan hati-hati menyelipkan di jari manis neteyam. 

Neteyam melihat cincin yang berada di jari manisnya, neteyam tersenyum dan ketika melihat aonung berdiri neteyam langsung memeluk aonung dengan erat. 

“I love u nung” bisik neteyam di sela-sela isak tangisnya. 

Aonung membalas pelukan tidak kalah eratnya dan menyembunyikan wajahnya di bahu neteyam dan tertawa kecil saat mendengar neteyam menangis “I love u too sayang”

Tepuk tangan langsung pecah diantara mereka, keluarga dan orang-orang yang berada disana bersorak gembira, bahkan beberapa orang meneteskan air mata karena melihat momen yang indah itu. 

Neytiri mengusap sudut matanya yang sudah dipenuhi oleh air mata sedangkan Jake tertawa melihat ke arah anaknya itu sambil menepuk tangan, adik-adiknya memberikan tepukan yang sangat keras dan terlihat loak menangis dengan keras di ujung sana sampai akhirnya neytiri harus menenangkan loak. 

Di tengah-tengah sorakan, tepukan tangan dan ucapan selamat yang mulai terdengar dari beberapa arah, aonung dan neteyam masih berpelukan erat, aura kebahagiaan terpancar jelas dari keduanya. Setelah menjalin hubungan sekitar 5 tahun akhirnya mereka mengambil langkah pertama menuju masa depan yang akan mereka jalani bersama. 

——————————

Pada pagi harinya, neteyam dan aonung terlihat di dalam mobil, menikmati perjalanan yang jauh lebih hangat dari hari biasanya. 

Aonung dan neteyam menghabiskan waktu mereka dengan membicarakan masa depan mereka, tentang rumah yang akan mereka tinggali saat mereka menikah nanti, menyebutkan beberapa tempat yang akan mereka kunjungi serta beberapa hal lainnya yang sudah mereka rancang dan akan dilakukan setelah mereka menikah nanti. 

Aonung mengemudikan mobilnya dengan tenang, salah satu tangannya berada di setir sementara tangan lainnya menggenggam erat tangan neteyam seolah tidak ingin melepaskan walau hanya sebentar. 

Neteyam sesekali tertawa mendengar aonung bercerita tentang masa depan mereka yang akan datang, aonung bercerita dengan semangat dan itu membuat neteyam semakin mencintainya. 

“Kita mau kemana nung? dari tadi ngga sampe sampe ih” Aonung melihat ke arah neteyam sebentar sebelum kembali fokus ke jalan. 

“Kejutan” Neteyam memukul pelan bahu aonung sambil membuat wajahnya seolah sedang marah dan itu membuat aonung tertawa lepas. 

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit sejak neteyam ngambek dan memilih diam akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju, aonung keluar lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil dan mengajak neteyam keluar dari mobil, meskipun neteyam masih kesal tapi dia tetap keluar. 

Dihadapan mereka terdapat sebuah rumah minimalis namun menawan, tepat didepan rumah tersebut terbentang lautan luas yang berkilauan diterpa sinar matahari pagi itu, sementara suara deburan ombak terdengar lembut dari kejauhan. 

Disisi lain rumah itu terdapat sebuah taman yang tidak cukup luas namun masih cukup. Disana terdapat berbagai bunga yang bermekaran dengan warna-warna yang indah kelopak bunga tersebut bergoyang perlahan tertiup oleh angin laut, menambah kesan yang semakin hangat dan manis dari tempat itu. 

Neteyam melihat ke arah aonung dengan tatapan kagum juga bingung, bingung karena dia tidak tau ini rumah siapa. 

“Ini rumah siapa nung? indah banget, semua hal yang aku suka ada disini” Aonung melihat ke arah neteyam yang kembali sibuk melihat ke arah sekitar rumah tersebut. 

“Rumah kita” Neteyam melihat ke arah aonung dengan raut wajah yang kaget. 

“Rumah kita?” Aonung mengangguk pelan kemudian neteyam melanjutkan pertanyaannya “kamu siapin ini semua dari kapan nung? kok aku ngga tau”

Aonung membuat mimik wajah seolah olah sedang berfikir keras dan itu membuat neteyam kesal dan kemudian aonung tertawa lepas “oke-oke aku udah siapin ini sejak 2 tahun yang lalu, kita akan tinggal disini ketika kita sudah menikah”

Air mata neteyam jatuh membasahi pipinya, aonung panik ketika melihat kekasihnya menangis “hei sayang, kenapa?”

Neteyam melihat wajah aonung “kamu siapin ini sendirian? pasti kamu kebingungan” ucapnya disela sela isak tangisnya. 

Aonung menggeleng pelan sambil tersenyum “enggak sayang, semua ini untuk kita” Aonung memeluk erat tubuh neteyam begitupun sebaliknya. 

“Ayo masuk sayangku” Aonung menggenggam erat tangan neteyam dan membawanya masuk kedalam rumah mereka. 

Saat pintu tersebut dibuka, neteyam terpaku melihatnya, semuanya tertata rapi dan semua barang yang neteyam inginkan atau yang neteyam suka ada disana, neteyam melepaskan tangannya dari genggaman aonung kemudian berjalan beberapa langkah, neteyam menyentuh dinding yang dicat dengan warna kesukaannya. 

Aonung menatap neteyam yang masih terdiam sambil melihat melihat keadaan rumah tersebut, sesekali menyentuh dan memeluk barang barang yang diinginkan neteyam. Neteyam melihat ke arah belakang dimana aonung berdiri dengan senyumannya yang terpancar diwajahnya. 

Neteyam menangis dengan keras dan itu membuat aonung tertawa dan menghampiri neteyam sambil memeluknya erat, neteyam mendusel didada aonung sambil sesekali mencubit pelan perut aonung karena aonung menyembunyikan semua ini dari neteyam. 

“Kejutannya belum berakhir sayang” Neteyam melepas pelukannya kemudian menghapus air matanya dengan tangannya, dan kemudian tangan neteyam ditarik menuju tangga. 

Setelah sampai di lantai dua rumah mereka, neteyam kembali dibuat terkejut, di sepanjang lorong terpanjang begitu banyak foto dirinya, ada foto disaat neteyam tersenyum, disaat sedang berada di panggung dan beberapa foto candid lainnya. 

Neteyam berjalan pelan menyusuri lorong tersebut, menatap satu persatu foto dirinya yang terpajang disana, neteyam melihat ke arah aonung dan tersenyum “makasih nung” aonung hanya mengangguk pelan. 

Mereka kemudian melanjutkan perjalannya sampai akhirnya berdiri didepan sebuah pintu yang neteyam yakini itu adalah kamar mereka. Saat pintu dibuka, neteyam kembali terpaku, kamar itu jauh lebih luas dari yang neteyam bayangkan, cahaya matahari masuk dari jendela-jendela besar yang ada disana dan menerangi setiap sudut ruangan. 

Namun yang paling menarik perhatian neteyam adalah sebuah piano yang berdiri megah di ujung kamar, diatas piano tersebur terdapat lembar partitur musik dan disampingnya terdapat beberapa buku kumpulan lagu yang tersusun rapi. 

Perlahan neteyam melangkah untuk mendekati, ujung jarinya menyentuh lembut piano tersebut dengan lembut, seolah memastikan benda dihadapannya benar benar nyata, senyum kecilnya mulai terpancar di wajahnya. 

Neteyam kemudian mengalihkan pandangannya ke area lain dikamarnya, disana terdapat beberapa foto yang tersusun rapi, tidak hanya fotonya sendiri tapi disana juga ada foto mereka berdua yang sedang melakukan beberapa hal. 

Neteyam tanpa sadar berjalan ke arah pintu balkon yang terhubungan langsung dengan kamar mereka, begitu pintu itu dibuka, hembusan angin laut segera menyambutnya. Angin sejuk menerpa kulitnya dengan lembut dan membuat beberapa helai rambut berterbangan ke belakang. 

Disana, lautan luas terbentang sejauh mata memandang, ombak bergerak tenang di bawah cahaya matahari sementara suara deburan ombak terdengar samar dari balkon rumah mereka. 

Neteyam memejamkan matanya perlahan, membiarkan angin memainkan rambutnya sambil memikirkan semua ini terasa seperti mimpi, namun ini adalah kenyataan.

Semua mimpi neteyam diwujudkan oleh kekasihnya, aonung. 

Neteyam kembali masuk kedalam kamar mereka, dan melihat aonung terduduk diatas kasur mereka, neteyam mendekati aonung dan menangkup pipinya dengan pelan, neteyam memberikan ciuman lembut dan tangan aonung berada di pinggang neteyam. 

Neteyam melepaskan ciumannya dan menatap aonung sebelum keduanya menyatukan dahi mereka “makasih nung, makasih udah mau mewujudkan mimpi-mimpi aku” Neteyam membelai pipi aonung dengan lembut. 

Neteyam melangkah mundur kemudian duduk di samping aonung, neteyam bersandar di bahu aonung, dan memainkan jari-jari aonung. 

“Kamu mau tau sesuatu ga?” aonung menatap neteyam dengan lembut. 

“Apa?” neteyam menatap kembali aonung, bertanya tanya apakah ada sesuatu lagi yang akan mengejutkan neteyam. 

“Aku buat kamar ini luas, karena ketika kita punya anak nanti, aku mau main sama mereka disini, menari-nari dengan anak-anak sedangkan kamu memainkan piano kamu di sana” aonung mengatakan itu sambil tertawa, membayangkan betapa manisnya keluarga kecil mereka di masa depan. 

“Astaga nung, kamu sampai memikirkan ke arah sana?” ucap neteyam yang kaget karena tingkah manis aonung. 

Keduanya tertawa setelah aonung mengatakan beberapa hal yang akan merdeka dapati dan mereka lakukan di masa depan. 

Dan hari itu mereka habiskan di ‘rumah mereka’ dan juga bermain di pantai sambil mengumpulkan beberapa kerang yang ada disana, sesekali neteyam menyirami aonung dengan air laut dan berakhir aonung mengejar neteyam sambil membawa air laut yang dibawanya menggunakan botol. 

————————

Tiga bulan telah berlalu hari dimana aonung berlutut di hadapan neteyam dan memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya, semenjak saat itu kehidupan mereka terasa semakin indah, Hari-hari yang mereka lewati penuh dengan canda dan tawa. 

Mereka menghabiskan waktu untuk memilih dekorasi, mencicipi berbagai menu untuk resepsi, hingga berdebat kecil mengenai hal-hal kecil yang pada akhirnya selalu berakhir dengan tawa. 

Semenjak pertunangan mereka bulan lalu, teman-teman serta keluarga ikut membantu mempersiapkan hari besar mereka berdua, terkadang mereka akan mencari tau yang terbaik untuk memeriahkan pernikahan mereka berdua. 

Bagi aonung dan neteyam, semua itu terasa seperti mimpi yang perlahan menjadi kenyataan, rumah yang mereka impinkan kini telah berdiri, cincin pertunangan yang melingkar di jari mereka menjadi pengingat bahwa sebentar lagi mereka akan menjalani babak baru dalam hidup mereka. 

Dan yang paling membahagiakan adalah, mereka tidak perlu menunggu lama lagi, karena tinggal 7 hari lagi mereka berdua akan menglangsung pernikahan. 

Neteyam sering sekali tersenyum sendiri mengingat dia akan dinikahi oleh pria yang dia cintai selama ini, begitu pun dengan aonung dia selalu memberitahu ke semua orang bahwa dia akan menikahi kekasihnya yang paling dia cintai. 

Hari itu, neteyam dan aonung menghabiskan waktu untuk fitting baju yang akan mereka kenakan pada hari pernikahan mereka berdua yang akan di adakan minggu depan, dan mereka ingin semuanya sempurna. 

Beruntungnya proses fitting berjalan jauh lebih lancar dari yang mereka bayangkan, tidak ada yang perlu diubah terlalu banyak, tidak ada masalah yang berat, dan untuk pertama kalinya hari itu mereka bisa merasakan bernafas lega di tengah-tengah padatnya persiapan pernikahan mereka. 

“Lihat” aonung tersenyum sambil merapikan kerah kemejanya “udah aku bilang, aku paling tampan di dunia ini”

Neteyam memutar bola matanya “pede banget sih kamu”

“Harus pede, dan kamu pasti bangga punya suami setampan aku” neteyam tertawa mendengar ucapan aonung sambil mengangguk pelan. 

Dan setelah selesai, mereka berdua memutuskan untuk pulang, namun saat mereka baru saja keluar dari butik, neteyam menghentikan langkahnya dan itu membuat aonung bingung. 

“Ada apa sayang?” tanya aonung. 

Neteyam terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya berbicara “aku mau pergi sebentar, kamu tunggu disini ya”

Aonung menoleh ke arah neteyam “mau kemana?”

Neteyam tersenyum jahil “rahasia”

“Rahasia apa sayang” Aonung merasakan ada yang tidak beres dengan neteyam. 

“Pokonya rahasia”

“Teyam sayang”

“Nung, please”

“Fine, tapi aku ikut”

“Ngga boleh"

”Kenapa?”

“Karena ini untuk kamu” 

Aonung mengerutkan dahinya “Hadiah untuk aku?” tebaknya “kalau hadiah aku ikut aja” aonung melanjutkan perkataannya. 

“Kalau kamu ikut nanti kamu jadi tau dong hadiahnya, nanti namanya bukan suprise” 

Aonung menghela nafas kemudian memgangguk pelan mengiyakan permintaan neteyam. 

“Jangan lama teyam”

“Ngga lama nung, percaya deh” 

“Pinky promise?” aonung mengulurkan jari kelingkingnya. 

Neteyam tertawa melihat tingkah calon suaminya, neteyam menyakitkan jari kelingkingnya dengan milik aonung “pinky promise”

Aonung membiarkan neteyam pergi sendirian mencari ‘hadiah' katanya, aonung melihat punggung neteyam yang mulai hilang dibalik kerumunan, dan aonung duduk dikursi yang ada didekat butik tersebut. 

40 menit berlalu, ini sudah terlalu lama. Aonung mencoba menghubungi neteyam beberapa kali namun tidak ada jawaban, aonung mulai khawatir dan memutuskan untuk mencari neteyam, aonung mencari di beberapa toko terdekat namun neteyam tidak kunjung terlihat. 

Setelah melihat-lihat ke beberapa toko, aonung akhirnya melihat sebuah kerumunan yang rame, aonung sedikit penasaran apa yang terjadi, dia perlahan mendekati kerumunan tersebut, dia melihat seseorang menghubungi polisi dan juga ambulan ‘ah kecelakaan' pikir aonung. 

Aonung mendekat secara perlahan, sesekali bertanya kenapa seseorang yang berada disana, dan dia mendapatkan jawabannya ‘tadi anak ini di tabrak oleh mobil yang melaju kencang, di duga supir mobil tersebut dalam ke adaan mabuk'. 

Aonung hendak pergi dari sana sebelum dia melihat tangan korban tabrak lari itu, jantungnya berhenti saat melihat cincin yang di pakai oleh korban itu. 

“Itu cincin neteyam”

Aonung memaksa masuk ke dalam kerumunan dan pada akhirnya ketika dia benar benar berada didalam dia melihat kekasihnya, dunianya seakan berhenti berputar, tubuhnya membeku, nafasnya tertahan dan matanya terbelalak lebar karena disana tepat di hadapannya terbaring seseorang yang sangat dia kenal. 

Seseorang yang baru beberapa saat lalu fitting baju untuk pernikahan mereka. 

Seseorang yang akan menjadi bagian hidupnya 7 hari lagi.

Seseorang yang mengatakan dia akan kembali dengan cepat. 

Seseorang yang dia cintai. 

Neteyam. 

Tubuh neteyam terbaring kaku di atas aspal yang dingin, darah mengalir di sekitarnya, menodai pakaian yang dikenakannya dan membasahi jalan yang ada di bawah tubuhnya, wajahnya yang selalu memancarkan senyuman kini tampak pucat dan tak bergerak. 

Untuk sesaat, suara kerumunan itu mendadak menghilang, dia tidak mendengar suara apapun, suara orang-orang, suara sirine yang dilihat hanya neteyam yang terdiam di bawah sana. 

Aonung menjatuhkan tubuhnya di samping neteyam, dengan tangan yang gemetar dia meraih tubuh kekasihnya dan menariknya ke dalam pelukannya. 

“Teyam sayang” 

“Teyam, ini aku”

Diam, tidak ada jawaban sama sekali

Air mata aonung jatuh perlahan “hey sayang, jangan bercanda” tangannya mengusap pipi neteyam dengan lembut

“Sayang bangun” isaknya semakin keras

“Kita nikah 7 hari lagi sayang, ayo bangun” namun masih belum ada jawaban atau pun pergerakan. 

Aonung terdiam dengan air mata yang terus menerus membasahi pipinya, tangannya terus memeluk neteyam dengan lembut, sampai akhirnya dia mendengar suara roda tandu yang bergerak cepat di atas aspal. 

Petugas medis mendekati mereka sambil membawa tandu, mereka berbicara satu sama lain namun aonung tidak mengerti satu kata pun, dunia di sekitarnya terasa jauh. 

Terlalu samar. 

Yang bisa dia lakukan adalah hanya menatap tubuh neteyam yang perlahan dipindahkan ke atas tandu. 

Tubuh yang beberapa jam lalu masih ada di pelukan hangatnya. 

Tubuh yang harusnya sedang sibuk mengurus pernikahan bersamanya. 

Aonung hanya terdiam menatap tandu itu membawa neteyam menuju ambulans, aonung tidak sanggup berdiri bahkan untuk bernafas saja dia tidak sanggup. 

Hingga seseorang berjongkok disampingnya, seorang polisi “nak?” tidak ada jawaban, polisi tersebut memandang aonung dengan iba dan perlahan membantu aonung untuk berdiri. 

“Ayo nak” 

Kaki aonung terasa lemas, jika bukan karena pegangan pria tersebut mungkin saja dia sudah jatuh kembali ke aspal. 

“Kamu harus ikut ke rumah sakit” aonung tidak berbicara apapun, dia hanya membiarkan dirinya dituntun untuk jalan, langkah demi langkah, seolah tubuhnya bergerak sendiri tanpa jiwanya. 

Saat sampai di dekat ambulans, pintu belakang masih terbuka, aonung bisa melihat tubuh neteyam disana tubuh yang dipenuhi dengan alat-alat medis, melihatnya membuat dada aonung terasa sesak. 

Polisi tersebut membantu aonung untuk masuk ke dalam ambulans dan kemudian pintu ditutup dengan rapat. Saat pintu tersebut ditutup suara dunia luar ikut menghilang. 

Yang tersisa hanya suara mesin ambulans dan suara yang berasa dari alat-alat medis. Aonung duduk disamping tandu dengan tangan yang gemetar, perlahan dia meraih tangan neteyam, tangan yang biasa menggenggam tangannya dengan hangat, namun kini tangannya terasa dingin. 

“Teyam”

“Kamu udah janji ngga akan pergi lama”

Suara isakannya pecah dan air matanya terus turun membasahi pipinya, aonung berharap neteyam menjawab perkataannya namun yang terdengar kosong. 

Setibanya dirumah sakit, aonung menunggu diluar sedangkan neteyam masih diperiksa di IGD, aonung dengan cepat mengabari orang tua mereka agar segera kerumah sakit, aonung terduduk lemas di depan IGD. 

Disana aonung ditemani oleh polisi, aonung hanya terdiam tidak sanggup berbicara bahkan bernafas saja terasa susah.

15 menit kemudian, orang tua mereka datang, bukan hanya orang tua mereka, disana ada tsireya, rotxo, loak dan kiri, mereka langsung menanyakan keadaan neteyam namun aonung hanya terdiam. 

Polisi menjelaskan kronologi yang telah dialami oleh neteyam, disana neytiri menangis mendengar semuanya, ronal duduk disamping aonung sambil memeluk aonung. 

Aonung berdiri didepan pintu, dia merasa pemeriksaan ini begitu lama, dia takut neteyam kenapa napa namun rotxo dan loak langsung kembali menuntunnya untuk duduk. 

Tidak berapa lama dokter keluar, wajahnya terlihat seperti mengatakan bahwa neteyam tidak selamat. 

“Orang tua pasien?” Dokter membuka pembicaraan saat baru keluar dari ruangan tersebut. 

“Saya papa nya dok, anak saya bagaimana?” Jake maju selangkah. 

“Benturan yang dialami anak bapak menyebabkan cedera fatal pada leher dan kepala anak bapak, tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan anak bapak, kami minta maaf” Dokter tersebut menjelaskan bahwa mereka tidak bisa menyelamatkan neteyam lagi. 

Neytiri yang mendengar anaknya tidak dapat diselamatkan lagi jatuh pingsan, jake terduduk semua orang terdiam, aonung berdiri. 

“JANGAN BOHONG DOK!” Aonung berteriak ke arah dokter kemudian melanjutkan kalimatnya “saya sebentar lagi nikah sama neteyam, ngga mungkin neteyam pergi ninggalin saya”

“Txo, lihat kan neteyam itu suka bercanda, dia pasti lagi ketawain kita dari dalem”

“Aonung jangan gitu”

“Abang” Tsireya menggelengkan kepalanya sambil memegang lengan aonung. 

“Dek, kamu tau kan kalau teyam ga mungkin ninggalin abang” Isak tangis aonung mulai terdengar, aonung menarik rambutnya dengan kuat sesekali memukuli kepalanya. 

Jake berdiri menghampiri aonung, memeluk aonung “kita semua harus ikhlas aonung, om dan yang lain juga merasa kehilangan”

“Om, seminggu lagi” suara aonung melemah

“Om paham, hanya saja mungkin ini memang takdirnya”

Saat tubuh neteyam yang sudah tertutup oleh kain putih dibawa keluar, aonung membuka kain tersebut, melihat wajah neteyam yang manis namun terlihat sangat pucat. 

“Teyam, kamu kan udah janji nggak akan pergi, kenapa kamu ninggalin aku sayang” Aonung membelai pipi dingin neteyam “sekarang bagaimana caranya aku melanjutkan hidup tanpa kamu?” Aonung berharap dia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. 

Aonung memberikan ciuman singkat di kening neteyam, ciuman terakhirnya. Kemudian aonung mundur sesaat membiarkan orang tua serta adik dari kekasihnya melihat neteyam untuk terakhir kalinya. 

Dan untuk pertama kalinya, aonung merasa tidak pantas untuk tetap hidup ketika orang yang paling dicintainya telah pergi. 

———————

Tonowari dan jake akan membuat pelaku penabrakan itu menyesal dan tidak akan pernah bisa bebas, bahkan jake berani mengeluarkan uang yang banyak agar pelaku dapat dihukum seberat beratnya.

‘Nyawa dibalas dengan nyawa'

Setelah pemakaman neteyam selesai, satu persatu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman, langit sore tampak mendung seolah ikut berduka atas kepergian seseorang yang begitu dicintai. 

Aonung memutuskan untuk pulang dan beristirahat, bukan pulang ke rumah orang tuanya tapi pulang ke rumah mereka. 

Rumah yang seharusnya mereka tempati ketika mereka menikah. 

Saat mobil aonung sampai dan berhenti didepan rumah, aonung hanya terdiam selama beberapa saat, rumah yang dulu terasa hangat kini tampak menyakitkan di matanya. Perlahan aonung keluar dari mobil dan mulai berjalan menuju pintu masuk. 

Begitu pintu dibuka, dadanya langsung terasa sesak, jaket milik neteyam masih tergantung ditempatnya bahkan cangkir yang kemarin neteyam gunakan masih ada di atas meja seolah pemiliknya akan kembali kapan saja, seolah neteyam hanya keluar sebentar. 

Aonung menaiki anak tangga satu persatu, merasakan aroma tubuh neteyam yang masih tertinggal, menyentuh beberapa bagian yang biasa neteyam sentuh untuk merasakan kehadiran neteyam. 

Aonung berjalan melewati lorong rumah mereka yang berada di pantai dua, menatap foto-foto neteyam yang terpajang rapi, aonung kemudian mengambil salah satu foto neteyam dan membawanya ke kamar mereka. 

Aonung memeluk bingkai foto neteyam dengan erat di dadanya, begitu erat sampai jemarinya memutih. Disana terdapat potret neteyam yang sedang tersenyum kecil di depan piano kesayangannya, mata emasnya yang selalu memantulkan cahaya hangat. 

Senyuman hangat yang selalu terukir di wajah neteyam membuat aonung selalu diam-diam mengangkat kameranya dan mengabadikan setiap pergerakan kekasihnya. 

Namun semuanya hilang, neteyam meninggalkannya, aonung memeluk bingkai foto tersebut semakin dekat ke dada seolah-olah jika dia memeluknya dengan erat, neteyam bisa kembali ke dalam pelukannya, tapi nyatanya tidak ada siapa-siapa selain dirinya. 

Tubuh aonung perlahan jatuh berlutut di lantai kamar mereka, kamar yang cat temboknya adalah warna favorit neteyam, kamar yang selalu terdengar bunyi nada indah, kamar yang seharusnya ada suara tawa neteyam, suara jemarinya yang memainkan melodi random dan pelukan hangat itu kini menghilang, piano yang berada di sudut ruangan kini diam membisu. 

“Teyam, sayang please…” tangisan aonung pecah begitu keras sampai tenggorokannya terasa sakit, nafasnya tersendat sendat dan tubuhnya gemetar hebat. 

Aonung terus memanggil nama kekasihnya, berteriak memanggilnya, bahunya bergetar dan melirik ke arah pintu, seolah berharap neteyam akan muncul dari balik pintu tersebut dan memeluknya sambil tertawa kecil dan mengatakan “ini cuma mimpi buruk kamu saja sayangku”

Tapi nyatanya, tidak ada siapa siapa disana. Hingga akhirnya tangisan aonung perlahan berhenti dan berubah menjadi sesegukan menyakitkan, dan akhirnya aonung sadar bahwa kekasihnya yang selalu dia peluk kini telah pergi untuk selamanya, meninggalkan semua kenangan dan janji mereka untuk bersama selamanya. 

———————

 

Satu tahun kemudian ~

Satu tahun semenjak neteyam pergi, semuanya terasa berbeda, seolah waktu berhenti pada hari kecelakaan saat itu. 

Aonung masih sering menangis dan menyalahkan dirinya sendiri, tubuhnya menjadi kurus dan tidak terawat. Namun terkadang keluarganya atau keluarga neteyam akan datang melihat keadaan aonung, meskipun begitu tidak ada perubahan yang dapat membuat dirinya keluar dari rumah itu. 

Ronal selalu mengisi kulkas aonung setiap bulan dengan makanan kesukaan aonung, terkadang membantu memandikan aonung, menggosok badannya begitu pula tonowari, terkadang dia merapikan rambut aonung yang mulai berantakan. 

Tsireya yang selalu datang membawa beberapa buah yang disukai oleh aonung, terkadang memotongnya menjadi kecil dan menyuapi aonung dengan pelan seolah dia paham bahwa abangnya saat ini tidak bisa dipaksa. 

Rotxo dan loak datang kerumahnya untuk mengajak aonung untuk berburu di laut, meskipun begitu aonung hanya menggelengkan kepalanya dan kembali ke kamarnya. 

Kiri dan tuk terkadang datang untuk memberikan beberapa barang barang neteyam yang diminta oleh aonung, tuk memeluk aonung dan mengatakan untuk baik baik saja, aonung hanya tersenyum menanggapinya. 

Piano neteyam masih berada di tempatnya, foto-foto mereka masih bergantung dengan rapi di dinding, bahkan beberapa barang neteyam tidak pernah aonung pindahkan, selama satu tahun aonung hampir tidak pernah meninggalkan rumah itu, aonung hanya keluar untuk menghampiri malam neteyam. 

Hingga suatu hari, untuk pertama kalinya dalam setahun, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu, bukan untuk dirinya, bukan untuk masa depannya melainkan untuk neteyam.

Sebuah pameran fotografi. 

Teman-teman serta keluarga aonung membantu persiapan pameran ini dengan baik sehingga hasilnya menjadi sangat sempurna, ruangan itu dipenuhi oleh puluhan foto, namun tidak ada pemandangan alam, tidak ada model, tidak ada objek lain hanya ada satu orang. 

Neteyam. 

Potret neteyam yang sedang tertawa, neteyam yang sedang bermain piano, neteyam yang tertidur, neteyam yang sedang berada diatas panggung, neteyam yang memandang ke arah laut sambil tersenyum kecil. 

Di Bawah setiap foto neteyam terdapat tanggal pengambilannya, seolah aonung sedang menceritakan kisah hidup seseorang melalui kameranya, kisah seseorang yang terlalu cepat pergi. Lalu di foto terakhir, foto yang bingkainya lebih besar daripada yang lain, terdapat sebuah foto neteyam yang sedang tersenyum ke arah kamera, senyum yang terasa hangat hingga terasa hidup, dan di bawahnya terdapat satu kalimat. 

My fiancé. 

My greatest love. 

Pameran itu berjalan dengan lancar sesuai dengan ekspektasi aonung, dia senang dan bangga karena dapat memperkenalkan kekasihnya ke semua orang, meskipun raganya tidak ada disini. 

 

———————

 

Aonung datang kembali ke makam neteyam dengan senyuman yang merekah, aonung membawa beberapa jenis bunga yang paling disukai oleh neteyam, menghias makan neteyam dengan bunga yang dibawanya. 

“Hai sayang” aonung mengusap pelan batu nisan yang ada didepannya. 

Neteyam te Suli Tsyeyk'itan. 

Aonung kemudian bercerita kesehariannya yang tidak seceria dulu, dan juga aonung bercerita tentang pameran fotografi yang aonung buat, aonung bercerita dengan semangat seperti dulu, hanya saja sekarang tidak ada yang merespon semua cerita aonung. 

Aonung menatap dengan dalam batu nisan tersebut, air matanya perlahan jatuh membasahi pipinya “Tunggu aku ya sayang, tunggu aku, kamu pasti kesepian di sana”

Aonung kembali ke rumahnya, aonung menghubungi orang tuanya dan yang lain untuk datang ke rumah aonung, mereka akan membuat pesta kecil kecilan untuk keberhasilan pameran yang aonung buat.

Malam itu di rumahnya kembali dipenuhi oleh suara yang ramai, tawa terdengar dari ruang keluarga, beberapa orang berbincang sambil menikmati makanan yang tersaji diatas meja. Yang lain berdiri diatas balkon untuk menikmati angin laut yang bertiup lembut.

Mereka merayakan keberhasilan pameran fotografi aonung, mereka merayakan langkah kecil yang akhirnya berhasil diambil aonung setelah setahun terpuruk dalam duka.

Namun orang yang menjadi alasan pesta itu justru tidak ikut merayakannya, aonung lebih memilih duduk sendirian di bangku kayu yang berada di depan rumahnya, menghadap ke arah laut dan menghadap ke arah langit malam yang dipenuhi bintang.

Suara tawa dari dalam rumah terdengar samar di telinganya, namun aonung tidak ikut masuk, tidak ikut berbincang dan tidak ikut tertawa, aonung hanya duduk diam, angin laut memainkan rambutnya perlahan.

Aonung menatap cincin yang masih melingkar dijari manisnya, dan terlihat berkilauan samar diterpa cahaya lampu teras, aonung memandang lautan di depannya cukup lama, hingga akhirnya senyum kecil muncul di wajahnya, senyum yang sangat tipis.

"Pamerannya berhasil teyam" gumamnya pelan, kemudian melanjutkan kalimatnya "mereka suka semua foto kamu"

Angin kembali berembus, seolah menjadi satu-satunya jawaban yang ia terima, perlahan aonung memejamkan matanya, membiarkan suara ombak memenuhi pendengarannya dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kenangan seseorang yang sangat aonung cintai. 

Didalam rumah pesta kecil itu masih berlangsung, hingga beberapa saat kemudian tsireya sadar bahwa aonung belum masuk dan masih berada diluar rumah. 

“Aku panggil abang dulu” Ucap tsireya sambil mengambil sepiring makanan, untuk jaga-jaga jika aonung tidak ingin makan malam bersama di dalam. 

Dengan langkah yang ringan, tsireya keluar menuju teras, senyuman di wajahnya tidak pudar sejak tadi. 

“Bang, ayo makan dulu” ucap tsireya dan berdiri disamping aonung

Tidak ada jawaban, aonung masih duduk dibangku dengan posisinya yang sama dan mata yang terpejam, tsireya mengernyitkan dahinya. 

“Bang” tetap tidak ada jawaban, tsireya melanjutkan “jangan bilang abang ketiduran ya disini” 

Tsireya semakin mendekat ke arah aonung, mententu baju aonung dan menggoyangkan sedikit, namun masih tidak ada reaksi, senyum tsireya perlahan memudar. 

“Bang” Kali ini tsireya mengguncangkan bahu aonung lebih kuat namun tetap tidak ada respon, tidak ada gerakan dan tidak ada suara. 

Dan disitulah tsireya menyadari sesuatu, sesuatu yang membuat seluruh darah di tubuhnya membeku. 

Piring yang berada di tangan tsireya terlepas dan jatuh menghantam lantai teras, suara pecahannya membuat orang-orang didalam rumah menoleh, namun tsireya bahkan tidak menyadarinya, air mata mulai memenuhi matanya. 

"Bang" Tsireya terus memanggil, hingga akhirnya suara tangisnya pecah. 

Tangannya bergerak mencari denyut nadi aonung, namun tsireya tidak menemukanya, sama sekali tidak ada.

Tsireya sekarang memahami mengapa senyum aonung malam ini terlihat berbeda, itu adalah senyuman perpisahan. Setelah satu tahun berjuang hidup tanpa neteyam, tubuh aonung akhirnya menyerah, aonung pergi dengan tenang di rumah yang mereka bersama dengan suara ombak yang menemani sisa sisa hidupnya. 

———————

Pemakaman aonung dilaksanakan pada pagi harinya, semua teman, keluarga serta kerabat lainnya merasa terpukul dengan kepergian aonung.

Tsireya berada didalam pelukan loak, merasa sedih karena dia harus kehilangan seseorang yang sudah bersamanya sejak kecil, yang selalu sayang dengan dirinya. 

“Lo, kita kerumah abang boleh ga? aku mau lihat sesuatu yang mungkin menjadi jawabannya kenapa abang pergi untuk selamanya” loak hanya mengangguk pelan dan memeluk erat tsireya. 

Disana terdapat nisan baru. 

Ao'nung Te Tsikau Tonowari'itan 

Dan tepat disebelah, ada nama yang sangat berarti bagi aonung.

Neteyam te Suli Tsyeyk'itan.

Tsireya dan loak kembali ke rumah aonung, kemudian masuk kedalam kamarnya dan tsireya begitu terkejut dengan isinya, semua kenangan aonung dan neteyam tersimpan rapi di dalam kamar ini, tsireya kemudian memulai mencari sesuatu. 

Loak membantunya memeriksa beberapa laci yang ada disana, dan pergerakannya berhenti ketika dia mendengar tsireya menemukan sesuatu. 

Ditangan tsireya terdapat amplop coklat yang berisikan surat dari rumah sakit. 

Disana tertulis bahwa aonung mengalami penurunan berat badan drastis, malnutrisi, insomnia, kelelahan fisik dan tekanan psikologis berat akibat duka yang berlangsung lama pemeriksaan fisik juga menunjukan adanya gangguan pada fungsi jantung yang diperburuk oleh kondisi aonung yang terus menerus turun. 

Disana juga dokter mengatakan bahwa aonung harus menjalani perawatan intensif dan apabila tidak dilakukan maka akan menimbulkan komplikasi serius yang mengancam jiwa termasuk gagal jantung dan henti jantung mendadak. 

Tsireya menangis ketika tau semua yang dilalui oleh aonung tidak mudah, aonung menolak semua perawatan, tsireya menangis keras dipelukan loak membayangkan betapa menyakitkannya aonung melewati ini sendirian. 

Laut akan terus berdebur di depan rumah mereka, angin akan terus berhembus melewati balkon tempat mereka pernah berbagi mimpi, dan meskipun waktu perlahan menghapus jejak kehadiran mereka dari dunia, cinta yang mereka tinggalkan akan tetap hidup, tenang dan abadi seperti lautan yang tak pernah berhenti memeluk daratan. 

Tamat ✨

 

 

 

 

Notes:

Terima kasih sudah mau meluangkan waktu membaca cerita ini sampai akhir, aku harap kisah aonung dan neteyam disini bisa meninggalkan kesan di hati kalian, meskipun mungkin tidak berakhir seperti yang kalian harapkan.

Maaf jika masih ada typo, kesalahan dalam penulisan atau bagian yang kurang berkenan selama membaca.