Chapter Text
Semua tulang Shinyu rasanya sudah remuk dan tidak bisa lagi menopang badan. Pekan ujian memang selalu seperti ini, tumpukan tugas menggunung, lembaran materi yang perlu dikaji ulang, ditambah dia harus menyusun proposal tugas akhirnya. Kalau itu saja sudah cukup membuat Shinyu sakit kepala, dua minggu ini dia masih terus beradaptasi dengan adanya makhluk kecil berwarna kelabu bergaris hitam yang sekarang menempati pojok kamarnya.
Yoje.
Seekor hamster jenis Winter White yang dia pelihara—oh, bukan—yang dipaksa untuk dia pelihara oleh Jaehyun dan kekasihnya, Sungho. Semuanya berawal dari Sungho yang memutuskan untuk memelihara hewan pengerat itu karena alasan yang sangat tidak masuk akal. Katanya, “masa’ mahasiswa kedokteran hewan tapi gak punya hewan peliharaan?”
Kemudian, dengan bekal ilmu medisnya yang entah diimplementasikan dengan benar atau tidak, makhluk yang awalnya hanya sepasang itu mengalami lonjakan kelahiran yang luar biasa di rumah Sungho.
“Satu aja deh, Nyu. Please…” bujuk Sungho saat itu dengan wajah memelas.
Shinyu tidak pernah mengiyakan. Dia abaikan pesan-pesan singkat dari Sungho yang berisi foto-foto hamster, berharap dia takluk akan kelucuan mereka. Juga dia menulikan telinganya dari rayuan Jaehyun. Namun, benteng pertahanannya runtuh tepat di hari kesepuluh, saat Jaehyun berjanji akan membelikan makan siang Shinyu selama tiga bulan penuh. Siapa yang bisa menolak makan siang gratis di tengah gempuran krisis keuangan mahasiswa tahun terakhir?
Shinyu akhirnya datang ke rumah Sungho pada suatu sore berbekal ilmu dari artikel internet dan video youtube tentang cara memelihara hamster yang benar. Dia sempat bengong di depan kandang besar yang riuh oleh hewan mungil yang berlarian tanpa arah. Sungho memperkenalkan dengan menyebut nama mereka satu persatu yang tentu tidak ada satupun yang masih diingatnya. Kecuali satu, hamster yang badannya lebih kecil daripada saudaranya yang lain. Satu ekor itu hanya diam di pojok, menatapnya dengan mata hitam bulat yang tampak jenaka. Shinyu merasa yang satu itu punya raut muka paling "baik" di antara yang lain.
Hari itu, dengan rentetan dos and don’ts dari Sungho, dia membawa pulang si hamster-bermuka-baik. Sembari menenteng pet carrier melewati lorong indekosnya, Shinyu mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ini keputusan yang tepat. Lagipula, tidak ada salahnya punya teman di kamar yang sunyi ini. Paling tidak, dia punya satu nyawa yang setiap hari akan menunggunya pulang.
Shinyu menghela napas, menatap layar laptop yang masih menampilkan halaman yang sama sejak dua jam lalu. Ujiannya tersisa satu hari lagi, tapi tugas akhirnya masih belum ada kemajuan yang berarti. Dia meraih ponsel yang tergeletak di samping laptop. Niatnya hanya istirahat lima menit sebelum kembali bergulat dengan subbab latar belakang yang macet total. Jempolnya secara refleks membuka aplikasi media sosial berharap menemukan video motivasi atau setidaknya video lucu yang bisa memberinya sedikit energi.
Namun, algoritma seolah sedang ingin bercanda dengannya.
Video pertama yang muncul adalah seorang gadis menangis dengan latar musik sedih, menceritakan bagaimana hamsternya mati mendadak hanya karena kaget mendengar suara bersin yang terlalu keras. Shinyu mengerutkan kening, namun jempolnya tetap lanjut menggeser layar. Video kedua lebih parah, ada foto mahluk kecil itu mati terjepit di mainannya sendiri. Lalu video ketiga, keempat, dan seterusnya seolah menjadi rentetan film horor bagi pemilik hamster baru. Ada yang mati karena kedinginan, bahkan ada yang bercerita hamsternya mati karena meledak.
“Meledak??” Shinyu mendadak tegak dari duduknya. Matanya yang merah karena kurang tidur kini melebar, menatap layar ponsel dengan ngeri. Ia perlahan menoleh ke arah kandang akrilik, menatap Yoje yang sedang berlari di roda putarnya tanpa beban.
“Yoje, dengerin ya…” Shinyu mengeluarkan Yoje dari dalam kandang. Sekarang mereka berdua bertatapan, Yoje duduk di atas bantal di pangkuannya.
“Kamu jangan mati konyol. Kalo jalan dan main sambil lihat-lihat. Jangan makan kebanyakan. Jangan jantungan cuma gara-gara suara vakum. Yuy udah beliin kamu pelet paling mahal, pasir mandi juga yang paling mahal, udah ganti pasir main kamu seminggu sekali. Jadi tolong setidaknya hidup yang lama ya? Oke?”
Shinyu mengulurkan jari kelingkingnya, mengajak berjanji. Yoje tidak bereaksi sama sekali.
Malam itu, sebelum tidur, Shinyu berdoa lebih panjang dari biasanya, doa khusus yang dia rapalkan untuk keselamatan nyawa seekor hamster seberat 23 gram.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, atau setidaknya Shinyu sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Yoje di hidupnya. Yoje pun seolah sudah menerima Shinyu sebagai pemilik barunya dengan cara yang sangat manis.
Setiap kali Shinyu hanya bisa menatap layar laptop dengan mata kosong, Yoje akan berdiri tegak dengan dua kaki belakangnya sambil menatap Shinyu lurus-lurus dari balik tembok bening kandang. Seperti dia sedang memastikan bahwa pemiliknya masih baik-baik saja dan belum kehilangan kewarasan sepenuhnya.
Yoje juga jarang menggunakan roda putarnya jika Shinyu sedang belajar dengan serius. Alih-alih berlari berisik, dia lebih sering duduk diam di lantai kandang yang paling dekat dengan posisi Shinyu duduk. Matanya seakan memperhatikan tiap gerak-gerik Shinyu, dari cara Shinyu membolak-balik halaman buku hingga saat Shinyu mengacak rambutnya frustrasi. Kadang, Shinyu merasa seperti sedang diawasi.
Kebiasaan berbicara sendiri pun mulai jadi rutinitas baru bagi Shinyu. Kamar yang dulu seringnya sunyi kini diisi oleh suara Shinyu yang menceritakan betapa menyebalkannya dosen pengampu ujiannya atau keluhan tentang harga kopi susu yang naik.
"Tau gak, Yo? Yuy tadi hampir telat gara-gara kunci mobil nyelip," ceritanya suatu sore sambil membersihkan pasir toilet Yoje. Shinyu sudah hafal jadwal Yoje. Dia tau kapan si kecil itu mau makan sayur segar, kapan dia akan tidur di balik rumah-rumahan kayu, sampai jam-jam di mana Yoje akan mulai berisik minta keluar kandang.
Satu-satunya hal yang tidak pernah Shinyu pertanyakan adalah tatapan Yoje yang kadang terasa terlalu hidup untuk seekor hamster. Shinyu memilih untuk tidak memikirkannya terlalu jauh.
Bruk!
Itu suara buku jatuh, tapi siapa yang peduli dengan buku jatuh di Kamis pagi yang hujan ini?
Srek.. srek.. bruk!
Shinyu mengerang, matanya masih tertutup. "Yoje... jangan berisik..." gumamnya parau.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu otaknya mulai berfungsi dengan benar. Logika sederhananya berputar, seekor hamster tidak mungkin bisa menggeser tumpukan buku.
Shinyu membuka mata sepenuhnya. Jantungnya nyaris berhenti berdetak saat melihat sosok di depan keranjang baju kotor. Seseorang sedang berjongkok di sana. Orang asing itu membelakanginya, memperlihatkan punggung yang tidak tertutup satu pun helai kain. Setelah berhasil menarik sebuah kaos dari tumpukan baju kotor, orang itu memakainya dengan sangat ceroboh. Kepalanya sempat tersangkut di lubang lengan sebelum akhirnya berhasil menyembul keluar dari lubang leher yang benar.
"HAH?" Shinyu langsung terduduk tegak.
“Lo siapa, anjing?!” Suara Shinyu pecah, setengah berteriak namun tertahan karena sisa kewarasan mengingatkannya pada penjaga kos yang galak.
Tamu tak diundang itu tersentak. Dia menoleh, matanya berkilat ketakutan. Rambutnya berantakan, mencuat ke atas menyerupai bentuk telinga mungil di pucuk kepala.
"M-maling ya lo?!" bisik Shinyu dengan nada mengancam, sambil meraih botol minum stainless-nya sebagai senjata.
"Keluar gak?! Gue laporin polisi ya!"
Orang asing itu tidak pergi. Dia malah memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Hidungnya tampak kembang-kempis, seperti sedang mengendus sesuatu di udara.
"Yuy..." orang itu bersuara. Suaranya serak dan agak cadel, seolah dia baru pertama kali menggunakan pita suaranya untuk membentuk kata-kata.
Shinyu mematung. Botol di tangannya nyaris terlepas.
“KENAPA LO MANGGIL GUE PAKE NAMA ITU?” Akhirnya, teriakan itu meledak juga dari mulut Shinyu. Persetan jika bapak kos akan mengusirnya karena dianggap memasukkan orang cabul ke dalam kamar. Shinyu hanya ingin melindungi dirinya sendiri.
Yuy. Itu panggilan masa kecil yang hanya digunakan oleh keluarga dekatnya. Nama keramat yang ia gunakan untuk menyebut dirinya sendiri hanya saat berada di rumah. Tidak ada seorang pun di perantauan ini yang tahu panggilan itu.
"Yuy.." ulangnya lagi, lebih jelas kali ini. Dia merangkak mendekat ke arah kasur Shinyu dengan gerakan canggung.
“JANGAN DEKET-DEKET BRENGSEKK” Shinyu mengibaskan botol minumnya secara acak ke udara. Ia meraba-raba sprei dengan tangan satunya, namun telepon genggamnya entah terselip di mana di saat genting seperti ini.
Laki-laki asing itu berhenti. Ia kini duduk bersimpuh di lantai, tepat di depan kasur Shinyu.
“Yuy,” katanya pelan sambil menunjuk Shinyu.
“Oje,” lanjutnya, sambil menunjuk dirinya sendiri.
Shinyu masih mengacungkan botol minumnya dengan tangan gemetar dan napas yang berantakan. Orang itu mengulang kata yang sama dan gerakan yang sama beberapa kali. Shinyu berusaha mencerna maksudnya.
“Yuy,” ulangnya dengan gerakan yang masih sama.
“Oje,” kali ini tangannya tidak menunjuk dirinya, tapi kotak akrilik di pojok kamar.
Shinyu menoleh. Kandang itu kosong. Tidak terlihat gumpalan bulu kelabu di atas pasir, di dalam roda putar, atau di sudut mana pun. Pintu depannya tampak patah, serbuk kayu dan pelet makanan berserakan di lantai seolah-olah sesuatu telah meledak di dalamnya.
Mata Shinyu membelalak, “LO APAIN YOJE?? BALIKIN HAMSTER GUE SEKARANG!!”
Penyusup itu kaget, memundurkan badannya dengan gerakan panik. Ia terus-menerus menyebut “Oje” sambil bergantian menunjuk dirinya sendiri dan kandang hamster. Shinyu ikut bergantian melihat antara kandang yang berantakan dan orang asing di hadapannya.
“Gak mungkin..” gumam Shinyu, ada skenario kemungkinan aneh yang terlintas di kepalanya.
“Oke tunggu…” Shinyu mengacungkan satu jari telunjuk. “Apa makanan terakhir yang gue kasih ke Yoje tadi malem?”
Sosok itu tidak langsung menjawab. Dia celingukan sebentar lalu merangkak menuju kandang. Tangannya meraba-raba sampai menemukan sisa wortel kecil, camilan rutin yang selalu Shinyu berikan setiap malam.
Shinyu membeku.
Sebenarnya juga, sedari tadi Shinyu tidak melihat orang itu memiliki sorot mata mengancam. Alih-alih tatapan maling yang tertangkap basah, matanya justru jernih dan penuh harap. Tidak ada hawa jahat dari seorang penyusup. Sebaliknya, dia terlihat sangat bersemangat, seperti balita yang sedang gigih meyakinkan orang tuanya.
"Yoje...?" bisik Shinyu, suaranya melemah. Genggamannya pada botol mulai melonggar, meski belum sepenuhnya ia turunkan.
Sosok di hadapannya mengangguk kencang. Sebuah senyuman lebar merekah di wajahnya, memperlihatkan dua gigi depan yang tampak sedikit menonjol. "Oje! Oje!" serunya riang.
"Engga, engga... ini gak masuk akal," gumam Shinyu pada dirinya sendiri. "Gue pasti halusinasi gara-gara kurang tidur. Gue pasti pingsan pas ngerjain skripsi sialan itu terus sekarang gue lagi mimpi buruk."
Shinyu mencoba menampar pipinya keras-keras.
Sakit.
Sosok yang mengaku sebagai hamsternya itu kembali bergerak, kali ini tangannya meraba-raba perutnya sendiri. Ia menoleh ke arah meja, tempat biasanya stoples makanan Yoje berada, lalu kembali menatap Shinyu dengan binar penuh harap, "Yuy... makan?"
Shinyu lemas. Ia menjatuhkan botol minumnya ke lantai hingga berdebam pelan. Dunianya serasa berputar terbalik.
Dia memang pernah meminta agar Yoje tidak mati konyol, tapi siapa sangka akan dikabulkan dengan cara yang paling tidak masuk akal dalam sejarah hidup manusia. Hamsternya tidak mati, tapi juga tidak lagi berukuran setelapak tangan.
"Gue harus gimana, anjing..." rintih Shinyu sambil menutup wajah dengan bantal, mencoba menghapus kenyataan absurd yang ada di depan mata.
