Actions

Work Header

𝑺𝒊𝒅𝒆 𝑺𝒕𝒐𝒓𝒚: 𝑪𝒊𝒏𝒕𝒂 𝑻𝒂𝒎𝒂𝒔 𝒅𝒂𝒏 𝑻𝒂𝒓𝒂 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑴𝒆𝒏𝒕𝒂𝒓𝒊

Summary:

Side story dari 'Dua Arka Satu Nabstala '

Arjuna sedang membongkar barang-barang mendiang seniornya, tiga bulan setelah keduanya pergi dan menemukan dua surat yang tersembunyi diantara berkas-berkas peninggalan mereka.

Notes:

Mungkin agak spoiler dari cerita yang 'Dua Arka Satu Nabastala'

Maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan atau kemiripan nama dalam cerita
Please leave a suggestion, criticism, kudos, or just a comment

Enjoy the story~
(⁠人⁠ ⁠•͈⁠ᴗ⁠•͈⁠)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Arjuna tak menyangka bahwa dirinya akan kembali ke ruangan Lucius dan Onyxis setelah kematian Lucius empat bulan yang lalu, diikuti Onyxis yang mengundurkan diri beberapa hari setelah kematian sosok yang dianggapnya sebagai adik sendiri.

Dia selalu menghindari kamar keduanya sejak saat itu, hatinya tak sanggup untuk melihat benda-benda yang akan mengingatkan nya pada kedua senior yang telah Ia anggap sebagai keluarga-nya.

Arjuna masih tak rela dengan kematian Lucius dan menghilangnya Onyxis, terlalu banyak hal-hal janggal yang Ia sadari. Seperti, kenapa Lucius, yang notabenenya sangat waspada dan kemampuan cenayang nya tinggi, memilih misi beresiko tinggi tanpa izin resmi dari para atasan? Mengapa Onyxis tampak gelisah dan tertekan ketika dia berpamitan dengannya? Mengapa tiba-tiba data Lucius dan Onyxis menghilang dari server? Bersamaan dengan itu, kenapa tiba-tiba Q=RAVVA yang katanya selalu bersembunyi dibalik layar itu, mulai menunjukkan diri?

'Ini terlalu mencurigakan,' Arjuna menghela nafas lelah sambil membuka pintu kamar mantan senior nya itu.

Udara yang sedikit berdebu tapi membawa wangi khas parfum mantan penghuninya, melewati sang secret agent dan membuat nafas si empu tertahan sejenak. Arjuna mengatur nafasnya kembali sebelum memasuki ruangan tak berpenghuni itu dan mencoba mencari petunjuk yang mungkin bisa membantunya memecahkan misteri janggal kedua seniornya.

Ketika sang Mentari membongkar lemari penuh berkas-berkas laporan dan salinan data arsip, dua amplop yang sedikit menguning dengan segel lilin diatasnya, terjatuh ke lantai dan menangkap perhatiannya.

 

'Surat?'

Dirinya meletakkan tumpukan kertas ditangannya ke lantai dan membungkuk untuk mengambil kedua surat itu. Surat pertama memiliki pola bunga lily pada segel lilin putih, sementara surat kedua memiliki pola iris pada lilin hitam.

 

Arjuna memandangi kedua surat itu sejenak dan menghela nafas yang tanpa sadar ia tahan.

'Semoga ada petunjuknya.'

Ia pun membuka surat pertama yang sepertinya dari Lucius.

 

My Dearest Junior, Arkana

Aku tak tahu apa surat ini akan pernah sampai di tanganmu, tapi jika kau membaca ini, aku akan sangat bersyukur.

Arkana, juniorku tersayang, disini aku akan memberimu beberapa rahasia. Aku percaya kau bisa menjaganya dengan baik, karena kau adalah Arkana, juniorku tersayang.

Pertama, baik aku maupun Onyxis bukanlah warga Jagat Maya dan disini hanya untuk mengumpulkan informasi tentang dalang dibalik kematian Thundy.

Kedua, benar, tak pernah sekalipun terbersit satupun pikiran untuk menetap di Jagat Maya.

 

Sampai Kau datang.

Awalnya pun, kupikir kau hanya akan bertahan sebentar seperti agen-agen lain yang berada dibawah pengawasanku, berusaha sebaik mungkin menjauhi baik diriku maupun Onyxis.

Huh, siapa menyangka bahwa 'Matahari' kecil itu mampu menarik hati kami, si 'Bintang Beku' dan 'Kegelapan Malam'?

Kau tak tahu bagaimana sinar kecil nan hangat mu itu dapat meraih hati kami berdua, membuat kami jatuh hati padamu. Menurutmu, mengapa kami tetap berada di sisimu sepanjang waktu di agensi?

 

Arjuna sedikit gemetar membaca surat yang agak lapuk itu. Surat mendiang Lucius, senior yang sudah ia anggap sebagai keluarga nya sendiri, yang ternyata juga menganggap dirinya sebagai keluarga, dengan takdir kejam yang mengambil Tara dari Mentari-nya.

 

Jika prediksi ku tepat, maka kau seharusnya sudah menemukan soal Q=RAVVA. Yah, dalang meninggalnya Thundy sempat memakai jasa mereka. Tapi sayang, aku tidak berada di posisi yang menguntungkan.

Keberadaan ku bocor meski hanya sekedar informasi bahwa aku berada di Jagat Maya. Oleh karena itu, aku berusaha untuk mengundurkan diri.

Tapi, seperti yang kamu tahu, agensi tidak akan membiarkan agen dengan kualitas terbaik pergi begitu saja. Dan itulah alasan aku memilih misi itu, aku tahu aku akan gagal. Alasan lain mengapa aku memilih kematian... Karena mereka mengancam menggunakan dirimu.

 

Tubuh Arjuna membeku membaca paragraf itu. Jadi alasan Lucius mengambil misi tingkat tinggi bukan karena sembrono, tapi melindungi dirinya dari ancaman para petinggi dan musuhnya sendiri?

 

Arkana, Matahari kecilku sayang, tolong maafkan senior mu ini. Aku sudah gagal berkali-kali, kehilangan banyak orang yang kucintai, sudah terlalu banyak darah yang membanjiri tubuh ini. Biarkan aku egois untuk kali ini saja, kumohon...

Aku harap, jika kau bertemu dengan ku lagi, kita bisa hidup di dunia yang lebih baik pada kita yang ternoda oleh darah.

 

P.S. Kau sudah mencapai apa yang para senior dan junior yang berada dibawah pengawasanku tidak dapat capai. You're already perfect in the way you are, Arjuna Arkana, my little Sun. Aku akan menantikan pertemuan kita.

P.S.S. Jika Onyxis juga keluar agensi, maafkan kami, karena ini menyangkut hidupmu juga.

 

~Lucius Solaria☆

 

 

Tanpa Arjuna sadari, air mata menetes tanpa izinnya, jatuh ke surat dengan tulisan tangan khas si mendiang senior. Ia menyeka air matanya dan mengambil surat yang satunya lagi. Berbeda dengan surat Lucius, surat Onyxis terdiri dari dua lembar kertas.

 

 

To Arjuna Arkana, Our Little Sun

 

'Heh,' Arjuna terkekeh kecil membaca panggilan kesayangan dari seniornya itu.

 

Hey Jun, kalo kamu buka surat yang ini, berarti kamu udah baca surat nya Luce, bukan?

Haha, maaf, aku tidak punya banyak hal untuk dikatakan. Kau sudah paham garis besarnya dari Lucius. Jangan tanya bagaimana aku tahu isi suratnya, aku sudah lama mengenalnya dan menganggap dirinya sebagai adik sendiri, I know exactly what he'll write.

Tapi, kami tidak bohong. Tujuan awal kami hanya sekedar mengumpulkan informasi dari Jagat Maya, siapa sangka takdir yang selalu kami benci, malah membawamu kedalam kehidupan kami ini?

Aku minta maaf karena aku meninggalkanmu di agensi dan menghilang tanpa jejak begitu saja. Aku perlu kembali sesegera mungkin sebelum keberadaan ku juga diketahui.

 

Juna sayang, Mas akan ngasih tau, nama asli ku bukan Onyxis. Jadi, mungkin, kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Tapi untuk saat ini, hentikan pencarian mu, atau nyawa mu akan terancam juga. Dan aku akan menjelaskan apa yang Lucius tidak bisa jelaskan di suratnya, jadi bakar lembar kedua surat ini setelah kau selesai membaca.

 

 

Arjuna mengerutkan keningnya begitu membaca kalimat terakhir di lembar pertama surat Onyxis dan membuka lembar kedua.

 

 

Pertama, kami berdua dari negara lain, lebih tepatnya Rosfellis. Negara kami sangat tertutup, mengingat Rosfellis telah lama mengisolasi diri, dan para keluarga pendiri Rosfellis hanya memilih beberapa negara untuk menjalin hubungan bisnis dan politik, Jagat Maya salah satunya. 
Jika kau mau tahu lebih banyak detail, saranku adalah menjadi agent setingkat Luce maupun aku, karena hubungan dengan Rosfellis dirahasiakan rapat-rapat sehingga hanya orang-orang tertentu yang mengetahui hal ini.

Kedua, Hati-hati dengan orang-orang di agensi. Dalang meninggalnya Thundy meletakkan beberapa bidak nya disana, alasan kami berdua sesegera mungkin menghapus jejak. Apapun yang terjadi, anggaplah aku ataupun Luce hanyalah sekedar senior mu seperti agen-agen senior lain. Ini demi keselamatanmu sendiri.

Ketiga, Aku masih hidup, tapi anggaplah Onyxis telah tiada karena aku sudah meninggalkan identitas itu tepat saat aku mengundurkan diri. Dan kemungkinan besar aku sudah kembali ke Rosfellis, oleh karena itu, hentikan segala upaya pencarian mu. Resikonya terlalu tinggi baik untukmu dan untukku karena 'Mereka' bisa mengetahui jejak ku kembali ke Rosfellis.

Terakhir, jika kau benar-benar sudah mengetahui tentang Q=RAVVA, meski hanya sedikit, aku meninggalkan sedikit data dari arsip yang ku-urus dahulu. Jangan mengejek ku, Juna, Aku masih seorang Arsiparis yang memegang teguh prinsip dan ego-nya. Tapi untuk kali in? Kamu adalah pengecualian.

Cari flashdisk yang ku tinggalkan di brankas ruang arsip, kodenya ada di kertas ini, lihatlah menggunakan panas api. Ingat itu, dan segera bakar lembar yang ini, surat yang lain dan dari Luce, simpan lah baik-baik.

Aku berharap bisa bertemu denganmu lagi, Little Sun. Jaga dirimu baik-baik.

 

~Onyxis Sidian

 

Arjuna menyeka air mata yang nyaris menetes dari manik abu-nya setelah membaca surat itu. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya setelah mengetahui kejanggalan yang menggangu pikirannya selalu ini.

Dengan segera, Arjuna merapikan tumpukan kertas-kertas yang dibongkar nya tadi dan menyimpan kedua surat itu kedalam sakunya, lalu segera keluar dan pergi menuju ruang arsip.

 

 

⛧°. ⋆༺☾𖤓༻⋆. °⛧

 

Arjuna mencapai ruang arsip dengan terengah-engah karena berlari. Sambil berusaha mengatur nafasnya, dia diam-diam membuka pintu ruang arsip dan menguncinya dari dalam.

Dia mencari-cari keseluruh ruangan, berusaha menemukan brankas yang dimaksud diantara banyaknya tumpukan arsip-arsip data dan brankas hingga akhirnya menemukan brankas yang dimaksud di laci meja kerja sang Arsiparis.


'Lihat dengan api... Apa maksudnya dengan panasnya?' Arjuna menoleh kearah perapian yang anehnya, ada didalam ruang arsip berisikan benda-benda yang mudah terbakar.

Dengan hati-hati, Ia mendekatkan kertas kedua dari surat Onyxis ke dekat perapian. Perlahan-lahan, tulisan tersembunyi itu muncul oleh penglihatan mata.

 

'GR4D14NS'

 

Begitu kode brankas itu muncul, Arjuna segera melemparkan kertas itu ke perapian, terbakar hingga menjadi abu yang tak bisa dikembalikan lagi bentuk asalnya.

Ia dengan hati-hati mengetik kode brankas kecil itu hingga akhirnya berbunyi, 'Ping!' dan derit halus terdengar dari pintu brankas yang terbuka. Disana, terletak flashdisk hitam, selembar notes dan sebuah pin mawar merah.

Arjuna tertegun sejenak sebelum dengan segera mengambil semua benda itu dan menutup pintu brankas itu dengan halus, lalu dengan segera meninggalkan ruang arsip itu tanpa jejak sedikitpun.

 

 

 

 

⋆⭒˚.⋆ 🌙 ⋆⭒˚.⋆

 

 

"Bagaimana?"

"Tak ada jejak lain, Tuan. Pewaris keluarga Solaria telah dinyatakan gugur empat bulan yang lalu dalam misinya."

"Apa kau benar-benar yakin?"

"Sangat yakin, Tuan."

"... Hmph, baguslah kalau begitu."

"Kalo boleh bertanya, kenapa Anda sangat khawatir dengan Pewaris keluarga Solaria? Padahal selain Pewaris keluarga Keindra terdahulu, yang telah disingkirkan, Dia tidak sehebat itu?"

"Kau berpikir begitu?"

"... Sejujurnya, iya, Tuan."

"Itu artinya dia berhasil menipumu."

"Pardon?"

"Apa kau percaya cenayang?"

"... Tidak, Tuan."

"Aku pun tidak. Tapi Dia punya hal semacam itu, yang bisa memprediksi masa depan."

"Apa itu benar adanya, Tuan?"

"Percayalah, dengan hilangnya anak Solaria itu, rencana kita akan semakin mudah dibandingkan sebelumnya. Tapi, tetap selidiki apakah ada jejak yang terlewat!"

"Your wish is my command, My Lord."

 

 

 

 

~𝕋𝕠 𝕓𝕖 𝕔𝕠𝕟𝕥𝕚𝕟𝕦𝕖𝕕~

Notes:

Tara (तारा) berarti "bintang"
Tamas (तमस्) bermakna "kegelapan/gelapnya malam"

Ini notesnya di drive ya?
Author masih belum tahu cara import gambar disini (⁠•⁠ ⁠▽⁠ ⁠•⁠;⁠)

https://drive.google.com/file/d/1Cjq6RDKeMKOtVUhUa7yA-uu6_yRKxiqX/view?usp=sharing

Maaf kalo banyak penulisan kata yang kurang pas atau tatanan nya agak nggak nyaman buat dibaca (⁠´⁠-⁠﹏⁠-⁠`⁠;⁠)

Thank you for reading (⁠ ⁠◜⁠‿⁠◝⁠ ⁠)⁠♡

Series this work belongs to: