Chapter Text
Jagat Maya International Academy… sekolah ini adalah salah satu dari banyak cabang perpanjangan tangan dari sekolah-sekolah prestisius di bawah naungan Hope’s Peak Academy. Dari banyak yang mendaftar, hanya sedikit yang terpilih menjadi murid di sekolah ini. Alasannya adalah yang bisa masuk ke sekolah ini adalah mereka yang memiliki talenta yang sangat luar biasa di salah satu bidang, entah itu olahraga, ilmu pengetahuan, bahkan dunia hiburan. Salah satunya adalah aku.
Namaku Nakula Nalendra. Talenta yang mereka pilihkan untukku adalah Ultimate Private Detective. Sejak dulu, aku memang berkecimpung membantu kepolisian untuk memecahkan kasus-kasus dengan tingkat kesulitan tinggi untuk diselesaikan. Aku masuk ke sekolah ini bersama dengan kakak kembarku, Sadewa Sagara, sang Ultimate Bartender. Kakakku terpilih karena berawal dari hobinya meracik minuman seperti mocktail ketika ia masih kecil. Lalu ia latih sampai ia mampu menciptakan minumannya sendiri dengan campuran bahan-bahan yang tepat, mulai dari mocktail sampai cocktail. Ia bahkan membuka barnya sendiri yang ia beri nama Diantara Bar.
Kami sampai di sekolah itu bersamaan. Kebetulan, Sadewa bisa mengendarai motor dengan baik. Namun, keanehan pun muncul ketika kaki kami sudah melangkah melewati gerbang Jagat Maya International Academy. Tiba-tiba, kepala kami berdua menjadi pusing. Aku bingung apa yang terjadi. Sadewa terlebih dahulu pingsan sebelum mataku juga ikut memberat dan jatuh pingsan.
~???~
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku menutup mataku. Ketika aku sudah membuka mata, sekarang aku berada di sebuah kamar tidur. Aku langsung bangkit dari kasur dan melihat sekelilingku. Aku langsung menyadari bahwa lemari di dalam kamar ini isinya semua pakaianku lengkap. Apa mungkin aku sedang disekap? Di mana Sadewa? Aku langsung keluar sekejap dan mempercepat langkah kakiku, melakukan investigasi kecil-kecilan mengenai tempat penyekapanku. Ketika aku jalan, aku tak sengaja bertabrakan dengan sosok yang aku cari-cari. “Sadewa? Kupikir kamu pergi menghilang.” Kataku sembari bernafas lega.
Aku mendengar helaan nafas lega juga dari kakakku sendiri. “Iya, saya juga lega ternyata kamu tidak apa-apa,” Kata Sadewa. Ia mengelus belakang lehernya sendiri. “Saya sendiri bingung kenapa kita tiba-tiba saja terbangun di tempat ini. Saya tadi sudah periksa di hall area sekitar kamar ini dan tidak ada jalan keluar dari tempat ini,” sambungnya.
Lalu, sesuatu terbesit di pikiranku. “Dewa, coba lihat,” aku menunjuk ke beberapa pintu kamar yang terlihat di lorong itu. Aku langsung menghitung dari kiri ke kanan. “Ada 16 kamar. Berarti bukan hanya kita berdua di sini. Kita coba cari di sekitar dalam gedung ini. Siapa tahu kita menemukan petunjuk.” Untung saja ideku diterima Sadewa. Kita berdua langsung meninggalkan lorong. Di dekat lorong, aku melihat ada UKS. Mungkin… ada petunjuk yang bisa membantu kita.
Saat kami baru saja hendak masuk dan Sadewa mengucap “Permisi” ketika melangkahkan kakinya ke dalam UKS itu, kami dikejutkan dengan suara teriakan kaget yang sontak membuat kami juga ikutan kaget. “Astaghfirullah aladzim! Teriakannya kayak Banshee!” Celetukku yang langsung disambut oleh cubitan di bibirku oleh Sadewa.
“Mulutmu, kocak.”
“M-Maafkan aku. A-aku tidak bermaksud membuat kalian t-takut,” kata orang itu sambil membungkuk tanda meminta maaf. Badannya gemetar ketakutan. Kalau menurut analisaku, sepertinya orang ini pemalu. “T-Tadi aku s-sedang melihat stok obat-obatan di UKS i-ini. Stok obatnya l-lengkap semua,” sambungnya sambil membuat gestur dengan kedua telunjuknya yang saling bertemu.
“Tujuan kami ke sini juga mau cek obat-obatan,” kataku.
“Oh iya, kamu ini siapa?” Tanya Sadewa yang terlihat penasaran. Aku rasa ia ingin basa-basi sebentar, sembari mengumpulkan informasi mengenai orang-orang yang mungkin disekap seperti kita.
“Namaku M-Mikan Tsumiki. Talentaku a-adalah U-Ultimate Nurse.” Jawab orang itu. Oh… sekarang aku paham kenapa pakaiannya seperti orang medis. Hanya saja, aku penasaran kenapa banyak sekali perban dan plester di sekujur badannya, bahkan ada perban yang menutupi seluruh kaki kanannya dan tangan kirinya dari pergelangan tangan hingga sikunya.
“Loh, talentmu iku Ultimate Nurse, nanging nopo asto kiwomu mbok blebet tekane sikut, lan lampahan tengenmu diblebet sakabehane ngono? Wes ngono akeh plestere mbarang (Loh, talentmu itu Ultimate Nurse, tapi kenapa tangan kirimu diperban sampai ke siku, terus kaki kananmu hampir semuanya diperban? Mana banyak plesternya pula)” aku langsung bertanya tanpa memfilter kembali perkataanku. Aku benar kan? Jadi kenapa aku malah dijitak Sadewa?
“Ngomongnya dijaga,” sahutnya singkat. Huft, menyebalkan. Kenyataannya kan yang begitu. Tapi, di satu sisi, ada benarnya juga. Aku jadi terkesan nirempati pada Mikan kalau aku berbicara seperti tadi. “Maafkan adik kembar saya ya, Mikan. Kebetulan dia orangnya memang suka asbun. Saya harap kamu tidak tersinggung ya.”
Mikan masih memainkan kedua telunjuknya dengan membuatnya saling bertemu, lalu menjauhkannya, lalu bertemu lagi. Ah… gestur orang yang memiliki sifat timid. Seharusnya aku tidak bicara seperti itu tadi. “Eh, kita berdua ini gak jahat kok. Sorry kalau aku ngomong terlalu frontal seperti tadi ya,” ucapku sambil berusaha menenangkan Mikan yang terlihat seperti mau menangis.
“U-Uhm… tidak apa-apa. A-Aku memang sudah t-terbiasa d-diejek seperti i-itu…” sahut Mikan dengan terbata-bata, seperti menahan perasaan tidak enak. Aduuuh, aku jadi merasa tidak enak. Aku semakin menunjukkan perasaan bersalah. Mungkin kalau aku sudah berteman dengannya lebih dekat, ada kalanya aku harus bertanya mengenai masa lampaunya.
“Ya sudah. Sebaiknya kita tinggalkan UKS dulu untuk sementara waktu. Saya yakin, Mikan sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Kami izin pamit dulu ya,” Sadewa langsung menarik tanganku setelah Mikan melambaikan tangannya dengan pelan. Kami mulai melanjutkan investigasi kami mengenai tempat ini. Sejauh ini, kami hanya mendapatkan informasi bahwa gedung ini punya 16 kamar tidur terpisah dan ruang unit kesehatan. Tepat setelah berkeliling selama 15 menit, kami menemukan ruang olahraga. Saat kami buka, bentuknya seperti ring tinju. Mungkin lebih tepatnya, ruang ini adalah personalized boxing ring. Saat kami masuk, kami melihat ada dua orang sedang sparring tinju mereka. Suara langkah kaki kami terdengar oleh mereka dan mereka langsung menoleh, menghadap ke arah kami.
“Oh, orang baru?” Tanya salah satu dari mereka. Aku memperhatikan secara seksama dan kedua orang ini sepertinya sama seperti Sadewa dan aku. Mereka kembar identik, kecuali warna rambutnya. “Aku Tiffany Baroa,” lanjutnya. Lalu ia menunjuk kembarannya yang menjadi partner sparringnya, “dia Felista Baroa.”
“Kita berdua adalah Ultimate Boxer,” Felista mengepalkan tangannya sambil mengangguk. Aku hanya penasaran siapa kakaknya dan siapa adiknya di antara Baroa kembar ini. Tiffany dan Felista warna rambutnya sama-sama coklat, tapi Felista warna rambutnya jauh lebih gelap ketimbang Tiffany. Tapi, yang lebih penting adalah kenapa mereka berdua bisa memiliki talenta yang sama.
“Lalu, siapa kalian berdua?” Tiffany langsung menunjuk ke arah kami berdua.
“Oh, nama saya Sadewa Sagara, Ultimate Bartender. Dia adik kembarku, Nakula Nalendra, Ultimate Private Detective,” Sadewa memperkenalkan diri kami berdua. Kami malah mendapat sambutan tidak ramah dari mereka berdua, keduanya memberikan seringai mengejek.
“Oh, kembar juga? Penasaran sejago apa kalian berdua di sekolah ini. Ya, kami sih tidak akan mengajak match tinju, tapi dengan talenta kalian berdua itu, aku tak yakin bisa bertahan lama,” Tiffany pun mengibaskan rambut panjangnya itu. Hidih, si kembar iki ora nduwe sopan santun (si kembar ini tidak punya sopan santun).
“Dew, ayo kita pergi saja. Aku emoh ngentekne wektu rembugan karo wong-wong sombong lan ora ngerti tata krama koyo wong-wong kuwi (Aku gak mau buang-buang waktu berinteraksi dengan orang-orang sombong dan gak tahu tata krama seperti mereka),” ucapku sambil meninggalkan ruangan itu dengan jengkel. Sadewa hanya mengangkat bahunya dan meninggalkan ruang itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kami melanjutkan investigasi kami dan akhirnya kami sampai di ruang kafetaria. Di sana, ada 5 orang yang sedang berbincang-bincang, tapi dari kelima orang itu, aku sangat mengenali salah satunya.
“Yotaaaa!” Aku langsung berlari dan melambaikan tanganku.
“Loh Nakul, ndek kene juga (di sini juga),” ucap Ryoutaa atau yang akrab dipanggil Yota olehku. Dia nampak terkejut melihatku disini. Kami berteman akrab sudah cukup lama. Aku juga lumayan terkejut melihatnya disini.
“Kenalke, iki kembaranku, Sadewa Sagara (Kenalkan, ini kembaranku, Sadewa Sagara),” aku memperkenalkan Sadewa padanya.
“Salam kenal Sadewa, aku Ryoutaa, temannya Nakula. Ultimate Animator Lalu, mereka teman-temanku yang sudah seperti saudara buatku,” Ryoutaa berbalik dan mulai mengenalkan teman-temannya. “Iki, sing paling tua jenenge Eray Ryuki (Ini yang paling tua namanya Eray Ryuki). Ultimate Mixing Engineer” Ryoutaa menunjuk pria setinggi 181cm dengan surai coklat dan ungu di ujungnya.
“Hai, panggil saja Eray” ucapnya ramah.
“Panggil dia mbah Eray Syukri saja” seorang- seekor…? Entahlah… dia adalah manusia dengan dua telinga manusia dan dua telinga kucing yang langsung menimpali dengan candaan. Dia menjulurkan lidahnya meledek Eray, sang kakak tertua dalam grup mereka.
“Tidak kuberi uang jajan lagi kamu, cil,” ucap Eray menimpali sang adik kecil yang dipanggil Alacil itu dengan nada bercanda, namun pria kucing bersurai kuning itu langsung merengek panik. Ternyata begitu mudah percaya pada candaan Eray.
Ryoutaa menunjuk pria kucing itu. “Dia Alarich Alberich, Ultimate Human-Cat hybrid. Yang paling kecil diantara kami. Panggil saja Alacil. ”
“Oke, Alacil,” ucap Sadewa mencoba nama panggilan itu.
“Dibacanya A-LA-RIKH ya, bukan ALACIL! Kuning…” jawab Al sedikit nyolot.
“Kamu juga kuning,” jawab Sadewa santai.
“Malassss” ucap Alarich.
Dua pria kuning ini sepertinya sudah ada memiliki kedekatan dengan cara mereka sendiri.
“Nah, yang ini Agata Seven, biasa dipanggil Asep atau Pacut alias papa curut. Soalnya dia selalu bawa curut kemana-mana sudah kayak bawa anaknya,” ucap Ryoutaa menunjuk pria keren bersurai ungu-merah yang sama tingginya dengan Eray. Tak ketinggalan seekor tupai lucu diatas kepalanya.
“Ngawur, Nutkin itu tupai, bukan curut,” ucap Agata sembari tertawa seolah baru saja mendengar lawakan, receh sekali tingkat jokesnya.
“Asep ini kakak kedua karena dia gak mau mengalah, jadi aku yg diposisi kakak ketiga. Dia ini Ultimate Hunter” lanjut Ryoutaa.
“Dan yang ini, SouRizu, koncho kenthel-ku (teman kental/sahabat), kakak keempat. Ultimate Japanese Literature Teacher,” ucap Ryoutaa menunjuk pria yang terlihat mengantuk dengan surai putih keunguan dengan warna ungu di salah satu ujung rambut depannya. Pria yang dipanggil Rizu itu menunduk sopan.
“Salam kenal, rek. Jenengku SouRizu. “rek” adalah sapaan akrab seperti bro. Namaku SouRizu” ucapnya dengan suara yang terdengar sangat meneduhkan.
Setelah berbicara dengan kawan lama beserta grupnya, aku dan Sadewa melanjutkan investigasi kami. Akhirnya, kami menemukan ruang incinerator. Di dalam sana, ada seorang wanita yang otot lengannya cukup terbentuk untuk wanita muda sepertinya.
Ia langsung membalikkan tubuhnya dan dilihat dari wajahnya, wanita ini sepertinya datang dari wilayah Eropa. Wajahnya memiliki freckles yang menghiasi area dekat kedua tulang pipi dan daerah hidungnya dan rambutnya merah menyala menghiasi kepalanya. “Oh, aku baru melihat kalian di sini. Sepertinya kalian orang baru ya?” Tanyanya sambil memegang kunci inggris di tangannya.
“Memangnya kamu sendiri bukan orang baru?” Tanyaku langsung.
“Betul. Berarti total orang yang sudah kutemui hari ini ada 4.” Sahutnya. Ia terlihat masih asik melihat sekitar ruang pembakaran ini. “Hmm… untuk ruang incinerator yang terkesan terbengkalai ini ternyata tidak perlu banyak perbaikan ya,” sambungnya sambil menepukkan telunjuknya ke pipinya sendiri.
“Oh iya, kamu sendiri siapa?” Tanya Sadewa sambil memiringkan kepalanya. Wanita itu terkejut. Mungkin saking terlalu asik, ia sampai lupa perkenalan diri.
“Benar juga, aku sampai lupa!” Ia langsung berkacak pinggang dengan kedua tangan di pinggangnya. “Perkenalkan namaku Abella dan aku adalah Ultimate Mechanic,” katanya memperkenalkan diri. Lalu ia menjulurkan tangan kanannya pada kami. “Kamu?”
“Oh, namaku Nakula Nalendra. Aku adalah Ultimate Private Detective. Ini kakak kembarku, Sadewa Sagara. Dia Ultimate Bartender,” aku langsung menyambut tangan Abella dengan menyodorkan tangan kananku dan bersalaman dengannya.
“Ngomong-ngomong, kamu sudah ketemu siapa aja?” Tanya Sadewa sambil masih memperhatikan ruang pembakaran dengan seksama.
“Baru kalian berdua dan si kembar Baroa. Kalian sudah ketemu mereka belum?” Tanya Abella. Wajahku secara spontan langsung menunjukkan ekspresi kesal. “Oke, aku asumsikan kalian sudah ketemu.”
“Kebetulan tadi kami bertemu mereka di ruang personalized ring. Hanya masuk sebentar saja dan impresi kami soal mereka lumayan buruk. Mungkin mereka akan membully seseorang nantinya,” jelas Sadewa. Kelihatan sekali wajahnya menunjukkan rasa khawatir dan aku tahu siapa yang ia khawatirkan.
“Dew, kamu khawatir sama Mikan?”
“Sort of. She is very timid. Most of bullies target someone that is very vulnerable,” Sadewa melipatkan kedua tangannya sambil menghela nafas berat. “Itu hanya common sense dari pengalaman yang pernah saya lihat, Nakula.”
“Jangan khawatir,” Abella mengacungkan jempolnya, “Mikan akan aman kok bersamaku. Walaupun aku perempuan, tapi bukan berarti aku rela direndahkan hanya karena gender. Aku tidak peduli mau kau laki-laki atau perempuan, tapi kalau kau menindas orang lain, aku buat kunci inggris ini melayang ke wajah mereka. Lihat saja.”
Aku hanya menghela nafas lega. Setidaknya, ada orang yang bisa kupercaya menjadi kawan di tempat ini. “Oh, kalau begitu, kami pamit dulu ya. Aku dan Sadewa mau investigasi tempat ini lebih lanjut.” Kami berdua melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan kami dengan Abella.
Setelah 15 menit investigasi, kami sudah di perpustakaan. Di dalam, kami melihat seseorang dengan telinga serigala. Kami berdua pun langsung mendatanginya.
“Hai,” sapaku.
Pria- atau wanita…? Aku tidak bisa menebak gendernya dengan jelas. Dia tersenyum cerah.
“Hai juga,” jawabnya. Baiklah, bahkan dari suaranya tidak bisa kutebak dia ini pria atau wanita.
“Kau juga orang baru disini?” Tanyaku.
Dia mengangguk, “Aku Gema Gathika. Ultimate Human-Wolf Hybrid. Kalian juga orang baru?” Dia bertanya balik.
“Benar, aku Nakula Nalendra, Ultimate detective dan disebelahku saudara kembarku, Sadewa Sagara, Ultimate Bartender” jawabku.
Belum sempat kami mengobrol banyak sesuatu berlari cepat dan menabrakku, membuatku jatuh terjungkal. Tanganku meraih sesuatu yang menabrakku dan mengangkatnya keatas. Berbulu. Tunggu, bulu? Aku mendongak sedikit lalu terduduk dan menatap mata hijau hewan berbulu itu putih hijau itu. Seekor rubah kecil.
Sadewa dan Gema menatap khawatir namun juga gemas pada hewan lucu ditanganku.
Tap tap tap tap
Seseorang berlari kearah kami sambil terengah-engah.
“Maaf, maaf. Rubah peliharaanku melarikan diri dan membuat masalah pada kalian” ucapnya sambil membungkuk, kelelahan mengejar rubah miliknya sepertinya.
“Nakal banget kamu Kiko! Jatah treats-mu aku kurangi kalau kabur lagi!” Pria bersurai coklat-hijau itu memarahi rubah peliharaannya tepat setelah aku mengembalikan rubah lucu itu ke pelukan pria itu.
“Udah, jangan dimarahi, kasihan” bela Gema, sepertinya manusia serigala ini lemah dengan hal yang imut.
Pria bersurai coklat itu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. “Maaf, aku sampai lupa memperkenalkan diri. Aku Tris Fushimi, Ultimate Shrine-Idol. Kiko adalah rubah yang dirawat keluargaku yang berasal dari kuil” ucapnya.
“Aku Nakula Nalendra, Ultimate Private Detective dan di sebelahku ini Sadewa Sagara, Ultimate Bartender. Lalu- “
“Aku Gema Gathika, Ultimate Alpha- ekhem maksudku Human-wolf Hybrid. Salam kenal,” Gema melanjutkan, memperkenalkan dirinya secara mandiri.
Pembicaraan kami pun tidak berlangsung lama karena aku dan Sadewa harus melanjutkan investigasi. Kami berdua pamit kepada Gema dan Tris dan keluar dari perpustakaan. Cukup lama kami berjalan, sekitar 20 menit untuk mengelilingi area ini, sampai kami melihat ada Greenhouse yang tidak jauh dari tempat kami berdiri.
“Kita ke sana saja. Saya rasa ini ruangan terakhir di tempat ini sementara waktu,” Ucap Sadewa sambil menunjuk ke arah greenhouse itu. Benar juga sih, soalnya tidak ada tempat lagi sejauh ini. Kami pun memasuki greenhouse… dan kami disambut dengan pemandangan tidak mengenakkan.
“Sudah kukatakan, tempat ini bukan milikmu seorang. Memangnya kau sudah punya izin apa bisa berkata seperti itu?” tanya seorang pria dengan rambut ungu panjangnya. Aku melihat ia memiliki prayer beads yang ia selalu pegang di tangannya.
“Hmph! Tentu saja punya! Kan gedung ini dulu yang membeli itu keluarga Rochefort dan aku adalah sang pewaris tunggalnya!” balas seorang perempuan dengan rambut pirang dengan nada angkuh. Eugh… sudah cukup kenapa sih dengan orang-orang sombong di sekitar sini? Sudah cukup aku ketemu si Kembar Baroa tadi!
Aku malah bingung kenapa Sadewa malah menatap wanita berambut coklat dengan kursi roda yang sekarang berada di tengah mereka. Aku melihat ke arah wanita itu dan dia hanya memiringkan kepala. Kami pun akhirnya mendatangi mereka.
“Hey, hey, sudah cukup. Orang sekarang sedang pusing mencari jalan keluar, kalian malah ribut-ribut di sini,” Sadewa pun memisahkan dua orang yang beradu argumen tadi, sementara aku langsung mendekat ke wanita yang duduk di kursi roda itu.
“Kamu gapapa kan?” tanyaku.
“Oh, aku gapapa kok. Hanya saja aku tertarik melihat keributan kecil di antara mereka berdua ini. Lucu saja tidak ada ujungnya,” sahut wanita itu sambil tertawa. Setelah menenangkan kondisi, pria berambut ungu tadi langsung menarik kursi roda tempat wanita berambut coklat itu duduk.
“Siapa kalian dan apa urusan kalian kemari?” tanya pria itu.
“Santai saja. Kami bukan orang berbahaya kok. Nama saya Sadewa Sagara, Ultimate Bartender. Ini adik kembarku, Nakula Nalendra, Ultimate Private Detective,” Sadewa langsung memperkenalkan diri kami untuk membuktikan kalau kami bukan orang berbahaya. Pria berambut ungu itu menghela nafasnya.
“Nahyuta Sahdmadhi… Ultimate Prosecutor,” katanya sambil menutup matanya. Sang wanita yang duduk di kursi roda itu malah melambaikan tangannya pada kami.
“Aku Olivia Haas. Talentaku Ultimate Botanist. Salam kenal dan aku harap kita bisa berteman baik,” katanya.
Aku langsung spontan menunjuk wanita rambut pirang yang satu-satunya belum memperkenalkan diri. “Kowe sopo? (Kamu siapa?)” ujarku. Respon wanita itu bukan lah sesuatu yang aku inginkan.
“Hah? Kamu? Kamu gak tahu siapa aku? Aku ini Emilie de Rochefort! Aku lah sang Ultimate Affiliate Progeny!” ucapnya dengan angkuh.
Aku langsung menunjukkan wajah tidak nyaman. “Dew, ini kita bisa cabut gak sih? Gak nyaman kelamaan di sini,” celetukku. Sadewa malah facepalm.
“Ya gak bisa lah, kocak. Pintu keluar aja kita belum ketemu,” sahutnya. Tak lama kemudian, terdengar lah bunyi microphone dari jauh.
BGM: None
“Mic test… mic test… test… 1 2 3… ok, micnya aman! Kepada seluruh siswa, kalian diminta berkumpul sekarang di greenhouse. Tidak boleh ada yang terlambat, atau kalian kena akibatnya!”
Karena panggilan mendadak dari speaker itu, aku dan Sadewa tak jadi pergi. Satu-persatu, orang-orang yang tadi kami temui memasuki greenhouse. Ryoutaa dan groupnya yang dinamakan Versa, datang menghampiri ku dan Sadewa. Yang lainnya juga menyusul masuk ke greenhouse. Aku bisa melihat bibir Eray hendak bergerak, sepertinya ingin bertanya. Namun terhenti karena tiba-tiba lampu dimatikan. Dalam keadaan remang-remang ini, suara langkah kaki pendek dan cepat mendekat. Pintu greenhouse terbuka lebar, menampakkan sosok beruang kecil berwarna hitam-putih, dengan seringai mengerikan dan mata merah menyala.
“Maskot?” Tanya Ryoutaa.
“TIDAK SOPAN!” oh tidak- beruangnya marah. Lalu ia berdehem. “PUPUPU~ Halo anak-anak manis. Aku adalah kepala sekolah kalian di akademi ini. Akulah satu-satunya dewa di dunia baru ini, MONOKUMA!” ucap beruang itu memperkenalkan diri. Semua orang di sana kebingungan. Sejak kapan kepala sekolah bentuknya beruang seperti ini?
“Kepala sekolah? Apa yang kau inginkan dari kami? Kenapa mengurung kami?” Tanyaku.
“Pertanyaan bagus. Mulai sekarang kehidupan sekolah damai kalian berakhir! Jika ingin keluar dari Jagat Maya International Academy, hanya ada satu aturan mutlak yang harus kalian patuhi! Bunuhlah teman sekelas kalian tanpa ketahuan dan kalian lulus, UPUPUPU!” jawab Monokuma disertai tawa aneh namun mengerikan miliknya.
Jantungku mendadak berhenti saat mendengar itu. Saling bunuh? Kami harus saling bunuh agar bisa keluar dari sini? Aku bertatapan dengan Sadewa dengan panik dan khawatir. Kami harus saling bunuh... aku tidak mau membunuh orang lain, apalagi saudara kembarku sendiri.
“Tidak mungkin kami membunuh teman kami sendiri!” Protes Eray, mewakili hati dan pikiran kami semua.
“Tentu saja mungkin~ Dan memang harus dilakukan jika kalian ingin keluar hidup-hidup. Jadi~ pertajamlah senjata kalian dan mari kita mulai kehidupan pembunuhan di Academy ini. PUPUPUPU~” Tepat di depan mataku, Monokuma berjoget kegirangan setelah memberikan pengumumannya.
"Kurang ajar-" Sebelum Emilie bertindak lebih jauh, Abella menggenggam tangannya sebelum sesuatu tidak mengenakkan terjadi. Monokuma lalu menggerakkan cakarnya, selayaknya bilang "a-a-aaa~!" dengan gestur itu.
"Kalian tidak boleh melukai kepala sekolah atau kalian akan merasakan akibatnya. Coba kalian periksa kantong kalian dan baca apapun isinya di dalam." Karena ucapan Monokuma tadi, aku langsung meronggoh kantong celanaku dan ternyata ada mini tab di dalam. Saat kunyalakan, rupanya tab itu berisi data diriku.
Nama: Nakula Nalendra
Talent: Ultimate Private Detective
Tinggi Badan: 182 Cm
Tanggal Ulangtahun: 12 Desember
Kesukaan: Langit (apalagi biru), hujan, musik, es krim, es latte less sugar, kerja, cuaca dingin, meme, game
Hal yang dibenci: Ular, cuaca panas, dikagetin
Aku masih memperhatikan tab kecil itu dan ternyata ada icon lain bertuliskan "regulation" di sebelah data diriku. Aku melihat Nahyuta langsung mengangkat tangannya. "Monokuma, apa ikon bertuliskan "regulasi" ini?" Tanyanya. Monokuma langsung bertepuktangan merespon pertanyaan Nahyuta itu.
"Cermat sekali, tuan jaksa! Aku kaget detektif kita bisa tidak menyadarinya upupu~" beruang sialan itu mengejekku barusan, tapi aku tidak boleh meresponnya dengan amarah.
"Mohon maaf, Monokuma. Aku sebenarnya sudah menyadarinya. Hanya saja, kebetulan Nahyuta lebih awal bertanya," sahutku.
"Baiklah, karena aku baik hati, jadi kalian boleh tekan ikon itu dan membacanya baik-baik." Kami semua langsung menekan ikon itu dan ternyata isinya adalah regulasi death game ini.
- Para siswa hanya diperkenankan tinggal di dalam sekolah. Meninggalkan sekolah adalah hal yang sangat dilarang.
- "Night time" dimulai dari jam 10 malam sampai jam 7 pagi. Beberapa lokasi tidak bisa diakses di malam hari, jadi mohon diingat.
- Tidur di area selain di kamar asrama sangat dilarang dan dianggap tidur di kelas. Jika ketahuan, siswa itu akan dihukum.
- Dengan batasan minimal, kalian bisa mengelilingi sekolah.
- Kekerasan kepada Kepala Sekolah Monokuma sangat dilarang, termasuk merusak kamera CCTV.
- Siapapun siswa yang membunuh sesamanya dan ditemukan sebagai "Blackened" akan dianggap lulus.
- Peraturan sekolah tambahan akan diumumkan jika ada terjadi perubahan.
"Jadi ini peraturan sekolah kita? Benar-benar harus membunuh orang lain demi lulus?" Tanya Gema sambil memastikan. Monokuma hanya menjentikkan jarinya.
"Iyap. Jadi aku harap, kalian jangan coba-coba untuk kabur ya. Percuma juga. Kalau masih keras kepala, aku akan hukum di tempat." Monokuma mengeluarkan cakar-cakarnya sebagai bentuk ancaman. Ada yang bergindik ngeri dan ada yang kesal mendengar berita itu. Tapi, Mikan langsung mengangkat tangannya entah untuk apa.
"M-Monokuma benar. S-Sebelum pertemuan ini, a-aku bertemu Abella d-dan kita memeriksa s-semua pintu," katanya terbata-bata, disusul anggukan dari Abella.
"Iya, tadi aku juga berusaha mendobrak pintu dan memutar semua tuas akses keluar yang bisa kami temui dan hasilnya nihil," sambung Abella mengkonfirmasi. Aku menegak ludahku sendiri. Monokuma benar-benar mendesain permainan maut ini untuk kami. Lalu, beruang itu menunjukkan cakarnya dengan marah kepada Mikan dan Abella, membuat mereka terkejut, bahkan takut.
"Heh! Berani-beraninya-" sebelum ia melakukan ocehan lebih lanjut, aku langsung mendehem sambil berusaha mengumpulkan ketenanganku.
"Monokuma, aturan yang barusan kau kasih kan benar-benar sangat baru diberitahu, sementara kejadian Mikan dan Abella mengecek jalan keluar mungkin sudah terjadi sebelum pengumuman kita berkumpul di sini," aku tidak tahu apakah aku mengambil keputusan yang salah, tapi aku melihat Monokuma menurunkan cakarnya dan dia menunjukkan gestur bete. Kurasa aku berhasil?
"Sialan... kata-katamu tadi benar juga. Kalian berdua beruntung karena kejadiannya sebelum pengumuman ini, tapi kalau masih terjadi lagi, kalian tak segan-segan kuhabisi!" beruang itu langsung keluar dari greenhouse.
Semua orang di sana menjadi panik dan bingung. Apa yang harus dilakukan...?
"Dew, kita harus bagaimana?" Tanyaku. Ini bahkan lebih sulit dari kasus yang biasa kukerjakan di Azure Office.
"Entahlah... tapi yang pasti, saat ini kita tidak boleh langsung percaya teman. Insting survivor kita harus mulai bergerak sekarang. Apapun yang kita temui, semoga menjadi titik balik untuk kita semua keluar dari sini." Jawab Sadewa dengan suara tenang, namun menyimpan kekesalan atas apa yang terjadi. Aku melihat satu per satu orang mulai meninggalkan greenhouse. Dengan ini, kehidupan damai kami berganti dengan situasi hidup atau mati...
Survivor count: 16
Nakula
Sadewa
Eray
Agata
Ryoutaa
SouRizu
Alarich
Mikan
Abella
Olivia
Gema
Tris
Tiffany
Nahyuta
Emilie
Felista
