Work Text:
‘Ah, Sa-Young sepertinya akan terlihat cocok dengan pakaian ini.’ Adalah pemikiran seorang Cha Eui-Jae ketika ia hendak menjemput Park Ha-Eun dari sekolahnya dan melintasi sebuah etalase toko pakaian. Ia menemukan pakaian yang terpajang disebuah manekin tepat dibalik jendela kaca yang cukup besar. Sebuah Wool Trench Coat berwarna Ivory dan vest dengan warna senada telah menyita perhatian dirinya. Kekasih mudanya, Sa-Young memang jarang memiliki variasi pakaian berwarna cerah karena bisa terlihat dari koleksi pakaiannya yang hampir semua berwarna gelap, tetapi entah mengapa ketika membayangkan Lee Sa-Young dengan coat panjang dan vest yang dilihatnya ini, ia merasa bahwa itu akan cocok bila dipakai oleh kekasih mudanya. Mengingat bahwa Sa-Young bahkan pernah menjadi model, ia pikir bahkan memakai t-shirt polos saja sudah memberikan vibe model di panggung runway fashion week.
Cha Eui-Jae tahu bahwa tempat tersebut adalah toko pakaian yang cukup mahal tetapi memiliki bahan yang sangat nyaman untuk digunakan. Kenapa ia bisa mengetahuinya? Jawabannya mudah karena Lee Sa-Young pernah memberikan salah satu pakaian dari tempat ini untuknya, oleh sebab itu ia tahu sebagaimana nyamannya bahan dari toko pakaian tersebut. Cha Eui-Jae berhenti sejenak untuk melihat lebih dekat display pakaian yang menarik perhatiannya. Ia menghela nafas ketika melihat harga yang tertera, dirinya dimasa lalu sebagai J tidak pernah sekalipun memikirkan nominal won yang harus dikeluarkannya karena uang yang dimilikinya sangat melimpah, tetapi ia sebagai seorang Cha Eui-Jae? Tentunya ia harus menyisihkan uang bila ingin membelikan pakaian itu pada Sa-Young.
Tidak lama ia kembali berjalan menuju sekolah sambil berpikir untuk mengurangi pengeluaran miliknya.
‘Bila aku menghemat pengeluaran cemilan sepertinya bisa... apa lebih baik mengalihkan dana untuk membeli hoodie baru setelah membeli coat dan vest nanti, hmmm... Bagaimana kalau aku dan Sayoung mengurangi stock cond-‘ pemikirannya buyar ketika tiba-tiba menyadari apa yang baru saja ia pikirkan di siang hari seperti itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa ia dan Sa-Young selalu melakukannya secara marathon, bahkan lupa menggunakan pelindung sehingga sepertinya percuma juga untuk menyetoknya.
‘Cha Eui-Jae, bisa-bisanya kau berpikir hal yang melanggar asusila di siang hari seperti ini!’ Tangannya reflek menutup setengah wajahnya yang mulai memanas karena menahan rasa malu akan pikiran liarnya. Semenjak ia melakukannya bersama Sa-Young, ia tidak dapat mengelak bagaimana ia menyukai aktifitas bersama kekasih mudanya itu. Ia lemah dengan segala afeksi dan kasih sayang yang diberikan Sa-Young untuknya.
Ia cepat-cepat mengalihkan pikirannya dan segera melihat sekeliling tempat ia berjalan. Siang yang cukup terik, namun ia cukup menyukai berjalan seperti ini, dalam suasana yang tenang tanpa perlu memikirkan bagaimana ia harus memberantas monster yang keluar dari rift. Semenjak kekuatan hunter perlahan menghilang, eksistensi dungeon juga ikut lenyap. Mungkin ini adalah dunia dimana akhirnya ia bisa beristirahat dengan tenang, dunia dimana ia tidak perlu menjadi hunter hingga akhir riwayat hidupnya. Meski ia masih harus menunggu beberapa tahun kedepan sampai kekuatannya benar-benar hilang.
Kembali pada menjemput keponakannya, Eui-Jae hanya dapat keluar tepat ketika tempat makan hangover soup miliknya dalam jeda istirahat. Meskipun kekuatan hunter mulai perlahan menghilang, tetapi tempat makan yang ia buka beberapa bulan silam masih tetap menjadi spot bagi para hunter yang sudah menjadi pelanggan setianya. Setelah akhirnya ia memutuskan untuk membelikan pakaian tersebut untuk Lee Sa-Young, Cha Eui-Jae akhirnya mulai menyisihkan pengeluaran miliknya, hingga akhirnya beberapa bulan berlalu dan uang tersebut terkumpul hingga ia bisa membelinya.
.
.
.
Siang itu Lee Sa-Young sedang merebahkan dirinya di sofa, di rumah tempat dimana ia dan Cha Eui-Jae tinggal bersama. Hari ini adalah hari dimana ia memutuskan untuk libur setelah diminta untuk membantu mengurus permasalahan pengalihan guild menjadi organisasi yang bekerja untuk menyesuaikan para hunter yang akan kembali pada kehidupan layaknya orang biasa sebelum mereka bangkit menadi hunter. Beberapa kali bahkan Jung-Bin memintanya untuk menangkap beberapa hunter yang memutuskan untuk menjadi kriminal karena guncangan perubahan pada lifestyle mereka.
Meskipun Sa-Young tidak kekurangan uang, tetapi mendapat uang jajan tambahan cukup membuat dirinya tidak di cap sebagai NEET ketika berdiam di rumahnya dan Eui-Jae. Lagipula Cha Eui-Jae tidak perlu khawatir bila Sa-Young ingin membelikan barang mahal untuknya, atau sekedar membeli selusin hoodie yang selalu dipakai kekasihnya itu, karena akhirnya ia memiliki alasan bahwa ia sudah bekerja dan ingin membelikan barang untuk hyung kesukaannya. Beberapa pekan lalu Sa-Young pernah berkata pada Eui-Jae ‘Hyung, uangku adalah uang hyung juga, kita bisa hidup sampai tua nanti, bila hyung pensiun muda, tidak usah khawatir dengan kebutuhan sehari-hari.’ Namun Cha Eui-Jae malah menyentil dahinya, berkata bahwa orang muda harus giat bekerja selagi masih bisa dan tentunya tidak ada tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti, tidak salah bila mereka harus memiliki tabungan banyak.
Kembali dari proyeksi ingatannya, telinga Sa-Young tiba-tiba mendengar pintu rumah mereka yang terbuka. Ia yakin bahwa itu bukan maling atau orang yang mencoba untuk membobol rumah karena pintu yang dilengkapi dengan sistem sama sekali tidak bereaksi, itu tandanya 80% Eui-Jae pulang. Ia segera bangkit dari sofa dan berjalan ke depan, matanya melebar ketika ia menemukan Cha Eui-Jae berdiri sambil melepas sepatu miliknya.
“Hyung?” Lee Sa-Young memiringkan kepalanya, ia tidak mendapat kabar apapun bahwa Eui-Jae akan pulang siang ini. “Apa ada yang tertinggal? Apa ada yang terjadi? Kau tidak apa-apa? Apa hyung sakit sampai harus pulang lebih awal?” Pertanyaaan demi pertanyaan mulai keluar dari mulut Sa-Young, ia segera mengangkat tangannya dan memegang kedua sisi pipi Eui-Jae lalu mendekatkan dahinya hingga dahi keduanya bersentuhan, ia mencoba untuk mengecek suhu tubuh Cha Eui-Jae namun tidak ada hal janggal. Ia khawatir sesuatu terjadi pada Eui-Jae, karena ia tahu betapa berdedikasinya Eui-Jae pada pekerjaannya, ia tentu tidak akan pulang di siang hari bila tidak ada hal mendesak.
“Sa-Young ah, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Ia tersenyum, menimpa tangan Sa-Young yang memegang pipinya dengan lembut.
“Kalau begitu kenapa pulang secepat ini, hyung? Apa sesuatu terjadi pada grandma atau Ha-Eun?”
Cha Eui-Jae menggelengkan kepalanya perlahan. “Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu.”
Sa-Young terdiam sejenak, memproses apa yang baru dikatakan Eui-Jae. “Untukku?”
Sebuah anggukan terlihat dengan jelas. Eui-Jae lalu menurunkan tangan Sa-Young yang memegang sisian pipinya, ia mundur selangkah dan mengambil sebuah tas kertas yang sempat luput dari perhatian Lee Sa-Young karena rasa khawatirnya pada Eui-Jae yang pulang terlalu dini.
Sa-Young mengedipkan matanya cepat, lalu ekspresi gelisah terlihat jelas tidak lama kemudian. “Hyung, apa aku melupakan sesuatu? Hari apa ini? Apa aku melewatkan hari penting kita berdua? Aku yakin ini bukan hari anniversary kita, atau ada hari lain yang luput dari ingatanku? Apa hari ini hari pertama kita berpelukan?”
Eui-Jae menatap Lee Sa-Young dengan tatapan campur aduk seolah tidak percaya dengan apa yang pemuda didepannya ini katakan. Yang benar saja, kenapa hari pertama berpelukan harus diingat juga? Memangnya itu hal yang wajar untuk diingat? Apa zaman sudah berganti selama ia didalam rift hingga pasangan harus mengingat detail seperti itu?
Eui-Jae menghela nafas. “Tidak perlu memberikan hadiah hanya pada moment khusus, bukan?” Ia lalu menyerahkan tas kertas itu pada Sa-Young. “Aku pikir ini sangat cocok bila kau memakainya.”
Lee Sa-Young menerima tas kertas yang disodorkan oleh Cha Eui-Jae lalu mengintip didalamnya. “Pakaian?”
Eui-Jae mengangguk, masih memalingkan wajahnya dari Sa-Young karena menahan rasa malu dari jawaban yang baru dikatakannya. Tatapan Sa-Young melembut, ia meletakkan kertas tas disamping kakinya lalu segera memeluk Eui-Jae erat. “Bagaimana ini, Hyung? Kau sangat memanjakanku, I’m falling in love with you again and again.”
“It’s given, isn’t it? To loving my only success this deeply.”
Lee Sa-Young tersenyum lebar kemudian menghujani Eui-Jae dengan banyak ciuman singkat dipipi kiri dan kanan-nya, Eui-Jae tertawa geli karena tindakan pemuda didepannya ini yang langsung menghujaninya dengan banyak afeksi untuknya, sebelum akhirnya ia meletakkan kepalanya di bahu Eui-Jae, memiringkan kepalanya agar dapat melihat ekspresi kekasihnya yang masih tersenyum karena menerima banyak kecupan darinya. “Tunggu aku, Hyung. Aku akan segera berganti pakaian.”
.
.
.
Social Media yang jarang dibuka oleh Lee Sa-Young kini kembali ramai, moment terakhir pada saat akun-nya booming adalah ketika ia mem-posting saat ia dan Eui-Jae pergi ke Aquarium bersama. Saat ini, akun Sa-Young kembali diperbincangkan oleh banyak orang karena unggahan barunya beberapa belas menit lalu.
Hashtag ootd tertampang jelas di halaman depan foto tersebut, dimana ia memakai Ivory Wool Trench Coat dengan lapisan ivory vest dan Turtle Neck berwarna hitam didalamnya. Dalam foto tersebut terlihat jelas pemandangan malam yang dihiasi oleh lampu dari luar jendela dan sebuah dinning table.Dalam sekali melihat orang-orang dapat menyimpulkan Sa-Young sedang berada di suatu tempat yang romantis dan sedang menikmati hidangan malam bersama seseorang. 2 set makanan, 3 desserts dan 2 minuman terpotret dengan jelas. Lee Sa-Young menunjukkan beberapa slide foto dalam posting-an miliknya, mulai dari potret dirinya seorang diri dengan pakaian yang digunakan olehnya, close-up menu makanan yang dipilih olehnya sebagai makan malam, suasana sekitar tempat makan, lampu-lampu yang tersebar bagaikan bintang yang terlihat dari lantai atas tempat makan, dan juga foto terakhirnya yang menunjukkan ia sedang menggenggam tangan seseorang diatas meja.
