Work Text:
Ohyul menatap kosong televisi. Dirinya sudah bebersih, sepulang dari kampus dia langsung mandi dan mengganti bajunya dengan kaos polos dan celana pendek. Lalu terduduk malas di sofa kontrakan. Menatap tanpa fokus pada iklan minyak goreng. Dirinya sampai tak ingat, tontonan apa yang sedang tayang.
Ohyul masih sendiri di kontrakan. Ketiga orang lainnya masih ada kegiatan. Yang artinya, ia memiliki beberapa waktu untuk melamun tanpa gangguan.
Kontrakan yang sedang ia tempati milik teman ibunya, namanya Bu Tuti. Katanya sih, teman arisan. Awalnya hanya ia tempati bersama kekasihnya, Ryul. Lalu anak dari teman ibu Ryul bilang ia butuh tempat untuk anaknya belajar mandiri sebelum masuk universitas.
Masuklah Woojin, siswa kelas tiga yang sedang sangat fokus dengan program belajarnya. Bu Tuti pernah bertanya, ada sisa tiga kamar kalian mau mencari penyewa lagi atau bagaimana? Karena kalau tidak, Bu Tuti bisa menolak jika ada permintaan. Keputusan balik kepada mereka bertiga, karena biaya kontrakan pada akhirnya dibagi pada penyewa.
Ketiganya berdiskusi, mereka masih bisa menerima satu lagi penyewa. Selang beberapa bulan, teman arisan ibu Ohyul, yang merupakan tetangga rumah Ohyul, mengatakan ingin menitipkan anaknya di kontrakan bersama Ohyul. Karena katanya teman ibu Ohyul, akan sering bolak-balik luar negeri. Takut anaknya akan kesepian, ia menitipkan anaknya bersama Ohyul dan anak kontrakan lainnya.
Ohyul mengenalnya, bahkan saat anak itu masih lebih kecil dari Ohyul. Namanya Louis, sekarang kelas satu SMA. Tak jarang dulu Ohyul bermain dengan anak itu, sebelum sibuk dengan dunia perkuliahannya. Hanya saat luang ia bermain dengan Louis.
Masuknya Louis menjadi penutup permintaan penyewa baru di kontrakan Bu Tuti. Total ada empat kamar yang digunakan. Dua kamar lainnya digunakan untuk gudang dan satunya dibiarkan terisi layaknya kamar biasa. Digunakan jika ada teman atau saudara keempatnya ada yang mau menginap.
Sekarang sudah berjalan lima bulan sejak Louis masuk ke kontrakan ini. Keempatnya menjadi terbiasa dengan kehadiran satu sama lain walau saat bertemu rasanya tidak pas kalau tidak adu mulut. Entah siapa pasti ada kesempatan untuk diributkan.
Ohyul mengerjap ketika mendengar pintu depan terbuka lalu tertutup kembali. Menandakan ada yang pulang. Ia tidak menoleh untuk mencari tahu. Karena merasakan kehadiran orang tersebut mendekat padanya. Yang sekarang terjawab ada Woojin, meletakkan tasnya di lantai kemudian bergabung duduk di sofa bersama Ohyul. Menjatuhkan tubuhnya pada Ohyul. Menghela napas panjang, ketika kepalanya menyentuh bahu Ohyul.
“Mandi nggak? Badannya kotor itu, jangan nempel-nempel dululah.” Ohyul mengedikkan bahunya. Mencoba menyingkirkan Woojin dari bahunya.
“Bentar,” Woojin memejamkan matanya, “bentar aja, nyawa gue kalau nggak napas bentar rasanya lima detik kemudian mau lepas. Seotak gue juga mau lepas.”
Ohyul mendengus, “lima menit.”
“Iya … habis itu gue mandi.” Woojin berkata lirih.
Ohyul menggelengkan kepalanya pelan. Yah, memasuki kelas 3 memang membawa beban di kepala kemana pun orang tersebut pergi. Ia maklum, karena ia pernah berada di posisi Woojin. Agak kasian sebenarnya melihat Woojin pulang selalu dalam keadaan nyawa tinggal setengah. Setengahnya habis dihantam keadaan.
Lima menit berlalu, tanpa diingatkan kembali anak itu bangkit dari duduknya. Memasuki kamar, dan keluar kembali untuk mandi. Lima belas menit kemudian datang dengan rambut panjang yang terurai―sebelumnya dicepol, Woojin terbiasa mengikat cepol rambutnya jika ke sekolah―setengah basah. Mata anak itu sudah hampir menutup. Kembali menjatuhkan badannya pada Ohyul. Menjadikan bahu Ohyul bantal.
Beberapa bulan tinggal bersama Woojin, Ohyul tidak mengira anak ini bisa sesuka itu dengan kontak fisik. Woojin dipikiran Ohyul adalah anak yang cuek dan badung; badung disini lebih ke suka iseng menjahili orang sekitarnya. Biasanya, anak cowok yang seperti ini akan menolak kontak fisik. Tapi Woojin tidak. Ia, menurut pengamatan Ohyul, jika sudah dekat dan percaya orang tersebut akan dengan sendirinya memulai kontak fisik. Seperti sekarang.
Ohyul tak keberatan. Melihat Woojin yang mulai manja saat lelah seperti ini, menjadi hiburan untuknya. Terlihat lucu.
“Udah makan belum? Makan dulu sana. Tadi gue bikin nasi goreng buat kalian kalau belum makan.” Ohyul mengedikkan bahu pelan.
“ … habis tidur, deh. Nyawa gue tinggal lima persen.” Ujar Woojin berbisik. Tangannya kini merangkul lengan Ohyul.
Mendengar napas anak itu teratur, Ohyul menduga pasti sudah tidur. Ohyul beralih mengganti channel televisi ke platform streaming. Memutuskan untuk fokus menonton series yang belum diselesaikannya. Dirinya belum mengantuk, mungkin kalau sudah mengantuk akan bergabung bersama Woojin untuk tidur.
Saat series yang dilihatnya sudah mencapai pertengahan episode, muncul suara langkah pelan. Tidak berisik. Begitu teratur. Sosok tinggi Louis masuk ke penglihatannya. Masih memanggul tas di satu bahu, ia meletakkan kresek putih di meja depan televisi. “Bang,” anak itu menyapanya. Dan berlalu masuk ke kamar. Lima menit kemudian keluar dengan baju santai. Duduk di lantai dekat kaki Ohyul.
“Dia kenapa?” Louis mengedikkan dagunya kearah Woojin. Tangannya sibuk membuka plastik putih. Mengeluarkan ayam krispi yang dipotong kecil-kecil sebanyak tiga kotak ukuran besar, dan gyoza empat kotak.
“Pingsan,” Ohyul menjawab sambil melihat makanan yang dikeluarkan Louis. Tidak menganggapi secara heboh seolah melihat Louis membawa pulang makanan dengan porsi banyak adalah hal biasa. Toh ujungnya masuk ke perut mereka semua.
Louis mengangguk. Menyodorkan ayam krispi yang juga ia makan pada Ohyul, “mau nggak?”
Ohyul menggeleng, “nanti aja. Kalau Woojin udah bangun.”
Louis kembali mengangguk paham. Masih mengunyah, ia beranjak ke dapur. Mengambil air, dan beralih ke pintu kulkas, untuk mendapatkan es batu. Ia mendorong tuas es batu di pintu luar kulkas, menghasilkan lima kotak es masuk ke gelasnya. Menyesap sedikit, yang membuatnya seketika bisa bernapas lega setelah selesai menjalani hari.
Belum Louis berjalan kembali ke sofa, pintu depan terbuka. Disusul langkah ribut disertai senandung yang entah Louis tidak menangkap lagu apa. Sepertinya lagu yang biasa Ryul putar di Minggu pagi, kalau tidak salah lagu yang berasal dari era 90an.
“Sepi banget kontrakan, lagi pada mau rewang apa gimana?” celetuk Ryul.
Louis memutar bola matanya, kosa kata asing masuk ke telinganya. Yang pasti bukan pertanyaan serius. Karena mulut Ryul suka sekali asal bunyi. “Biasanya juga gini.”
“Ah, yang benar bocil?”
Louis kembali memutar bola matanya.
Ryul berjalan menuju ruang tengah. Saat melihat Ohyul dia berniat memeluknya, sudah siap dengan kedua tangan yang direntangkan. Namun terhenti begitu melihat, bocah kecil berambut panjang yang kini sudah memeluk lengan Ohyul. Tertidur nyenyak.
Ohyul sontak meletakkan telunjuknya di bibir. Mengisyaratkan untuk diam. Walau tahu wajah kekasihnya berubah malas, karena kesempatannya untuk berpelukan kali ini hilang. “Mandi dulu aja … “ katanya lirih.
Ryul mengangguk. Berlalu dengan wajah kesal. Hidungnya beberapa kali membesar, menghembuskan napas.
Louis menatap heran. Ia kemudian kembali ke duduknya sembari membawa air dingin yang tadi diambil. Kembali sibuk dengan makanannya.
Entah mungkin karena bau makanan yang dikunyah Louis mengeluarkan aroma sedap, cuping hidung Woojin bergerak. Mengendus udara dengan cepat, seolah lapar. Ia membuka mata. Melirik Louis yang duduk menyamping. “Ndut, mau ayam … “ tangannya menggapai-gapai ayam krispi.
Louis mengedikkan dagunya pada ayam di depannya, “ambil.”
“Tusukin satu please, satu aja … “
Louis mendengus. Mengambil tusukan, dan menusuk satu ayam. Menyerahkannya pada Ohyul; karena Woojin tidak mau bangkit mengambilnya. Yang disalurkan Ohyul pada Woojin.
“Makasih,” Woojin memakannya. “Hmmmm,” bergumam pada rasa enak yang menghantam indra pengecapnya. Ia turun, duduk bersila membelakangi Ohyul. Siap melahap makanan di yang pikirnya, dibeli oleh Louis. “Minta.”
“Iya ambil,” balas Louis.
Ohyul menatap keduanya. Terutama Woojin. Melihat anak itu yang masih lambat dalam mengunyah makanan, lalu teringat sesuatu. “Jin, lo belum makan, kan? Makan dulu sana. Kalau habis ini lo tidur, sampai besok pasti nggak makan.”
“Iya ya?” kemudian anak itu berjalan menuju dapur, “Bang, nasi goreng lo gue makan.”
“Makan aja. Bawa kesini sekalian aja, Jin. Biar habis.”
Sebuah kaki melangkah dari belakang sofa. Menginjak sofa perlahan, lalu dijadikan tumpuan untuk kaki satunya yang akan naik. Berdirilah Ryul yang sudah berganti pakaian. Mukanya segar karena air yang sebelumnya ia basuh ke wajah. Menghasilkan akar-akar rambut yang basah, bergabung satu-sama lain, turun ke bagian wajah. Ia duduk, memeluk Ohyul sebentar dan mencium cepat pipinya. Melepaskan pelukan, memusatkan fokusnya pada makanan di meja. “Waw, spektakuler. Ndut, lo habis ngemall apa gimana?”
“Tadi nemenin Kya cari buku di Gramedia. Yaudah gue jajan sekalian.”
Ryul mengangguk.
Dari arah dapur, Woojin membawa semangkuk besar berisi nasi goreng. Pada alas mangkuk, ada 2 piring yang dibawa. Empat sendok tertancap sempurna serupa lilin di atas nasi goreng. Ia meletakkan perlahan di samping makanan yang Louis bawa. “Piringnya gue cuman ngambil dua. Ambil sendiri kalau mau ikut makan, kalau nggak gantian aja.”
Ryul menjulurkan kepalanya, melihat nasi goreng lengkap dengan kacang polong dan suwiran ayam tertangkap matanya. Ia tahu siapa yang membuatnya. Terlihat dari lengkapnya pugasan nasi goreng ada sayur dan protein pasti pacarnya yang membuat. Bau gurih nasi goreng mampir ke hidungnya. Walau terlihat nasi goreng tersebut sudah dingin. “Gue mau deh,” selanjutnya ia turun untuk mengambil nasi.
Ohyul ikut berdiri. Tapi untuk mengambil satu kotak gyoza. “Adek minta.”
“Iya,” Louis mengangguk.
Ohyul membawanya ke sofa. Duduk bersila sembari memangku kotak gyoza. Ia mencoba satu tanpa saus, “emmmm, buset.”
Louis sontak menoleh, “kenapa?”
“Pecah di mulut gue, Adek. Enak benar.”
“Iyakan.”
Woojin ikut mengambil gyoza. Memakannya dengan nasi. Dan mengangguk setuju pada pendapat Ohyul.
“Tadi siang Bu Tuti kesini, nawarin sesuatu ke kita sambil bawa egg tart.” Ohyul memulai pembicaraan di antara keempatnya.
“Apaan, Yang?” Ryul mengambil gyoza di pangkuan Ohyul dengan sendoknya.
“Mau renovasi nggak, katanya bagus kalau mau nambah saung di belakang, sekalian ganti cat. Soalnya kek kusem gitu keliatannya.”
Ketiganya serentak menatap warna cat dinding kontrakan mereka. Warna cream lembut tertangkap mata. Lama sebelum Woojin memutuskan pandangannya terlebih dahulu. Kerutan tampak di dahinya.
“Nggak kusem ah, Bang. Ini kalau siang emang kelihatan pucet.” Kata Woojin.
“Tapi kalau malam, mantulin cahaya sampai ke kamarnya Ohyul,” timpal Ryul. “Alias masih bagus dah.”
“Adek?” tanya Ohyul pada Louis.
“Nggak kusem, Bang. Masih jelas kelihatan krem, dan belum pudar warnanya. Tapi kalau soal saung, kenapa tiba-tiba saung?”
“Emmmmm,” Ohyul mencoba mengingat pembicaraannya dengan Bu Tuti, “katanya kalau misal keluarga kita datang barengan biar lega, ada lebih banyak ruang. Jadi nggak numpuk di satu tempat. Which is di depan tv ini.”
Kontrakan mereka memang tidak ada ruang tamu betulan, yang terdiri dari sofa dan berhadapan satu sama lain, dimana orang yang singgah fokus pada percakapan mereka. Hanya ada ruang keluarga, karena ada televisi yang tersedia, mari sebut dengan ruang keluarga. Walau tak ada ruang tamu, ruang keluarga diantara kamar-kamar bujangan itu berukuran besar. Karena berada diantara kamar keempatnya, ukuran besar ini menyambung pada pojok ruangan yang difungsikan sebagai pojok baca. Ada meja panjang dan 3 kursi kayu yang berjejer. Ada single sofa di dekat dinding. Belum ruang makan yang menyambung langsung ke dapur, karena tidak ada sekat antara dapur dan ruang makan membuat kedua ruangan itu terlihat besar.
“Tapi kata gue mah,” Ohyul menggaruk kepalanya yang tak gatal, “keluarga kita kalau datang seringnya ke kamar kita. Kalau mau makan atau ngobrol juga biasanya nyebar, kan?”
Memang benar, jika salah satu keluarga datang atau dua keluarga datang secara bersamaan, seringnya masuk ke kamar langsung. Kalau membutuhkan ruang untuk makan, atau mengobrol dengan keluarga satu sama lain, ruang yang digunakan di luar seperti ruang tamu dan pojok baca cukup. Masih ada juga atap yang menyediakan tempat duduk disertai atap yang rimbun oleh tanaman rambat. Jarang keluarga mereka yang menetap sampai satu hari penuh atau bahkan menginap jadi ruang yang digunakan cenderung cukup.
“Cukup, dah. Kalau mau outdoor juga ada rooftop, kan?” Ryul mengangguk-ngangguk.
“Nah, iya. Jadi kayaknya nggak perlu di renovasi nggak apa-apa deh, Bang.”
“Louis?”
“Sama, nggak perlu-perlu banget ada saung.”
“Oke,” Ohyul mengangguk, “gue sampein nanti, ke Bu Tuti.”
“Yang, nanti tolong bilang ke Bu Tuti, kalau ada saung takutnya nanti jadi sarang,” celetuk Ryul.
Louis mengernyit, “sarang apaan? Nggak ada burung di sekitar sini.”
“Sarangnya ini, si bocah bangor satu ini.” Ryul mengetuk pelan kepala Woojin dengan jemari panjangnya. “Semester akhir buat dia jadi suka ngelamun dimana aja. Belum nanti di saung mau malem gitu, apa nggak kesurupan ini anak?”
“Ah, iya, iya. Alasan yang bagus. Gue note dulu di hp.” Ohyul mengeluarkan ponselnya.
Woojin memutar bola matanya, “yang waras aja kenapa sih, kalau ngomong? Mana ada gue kesurupan.”
“Lah, benar nggak lo sering ngelamun?”
“Iya benar, tapi―”
“Nah itu, sarang setan.”
“Serah, lah.”
