Work Text:
Woojin sedang berbaring di kasurnya ketika Ohyul masuk dengan bau segar setelah mandi. Ia tak memerhatikan yang lebih tua, karena Ohyul tak mengatakan apapun. Ia baru merasa aneh ketika Ohyul ikut bergabung berbaring di kasur bersamanya. Bukan untuk mengajak bercakap-cakap, tapi tidur memunggungi Woojin dengan memeluk guling.
Woojin duduk. Menatap heran Ohyul. Tidak biasanya Sang Kakak, bersikap diam dan terlihat tak mau diajak bicara. Hanya satu penyebabnya, marah karena pacar.
“Bang?” Woojin mencoba mengajak bicara Sang Kakak yang terlihat mengukung dirinya dengan keheningan.
“Hm?” Ohyul tak berbalik.
“Habis dari kampus?”
“Heem.”
“Sama Bang Ryul?”
“Nggak, ketemu aja.”
“Terus Bang Ryul mana?”
“Nggak tahu.”
Kan. Benar sedang marahan. Seingatnya jika mereka bertemu di kampus, walau tidak sefakultas, Ohyul akan menjelaskan panjang lebar mengapa ia tidak pulang dengan Ryul. Entah pacarnya memiliki kegiatan di klubnya, atau mengerjakan tugas dengan pasukan anehnya. Ohyul akan menjelaskan sejelas mungkin.
Woojin mengangguk-ngangguk, “emang Bang Ryul udah sembuh?”
“Nggak tahu, nggak peduli gue.”
Nah, kan.
Pasti ini berkaitan dengan Ryul yang keras kepala memaksakan badannya, walau belum sehat betul. Biasanya, walau hanya demam ringan Ryul bisa bersikap manja pada Ohyul. Namun, jika pada situasi yang berkaitan dengan hobi, sakit tipespun Ryul tak peduli.
Ah, jika sudah begitu, kontrakan milik Bu Tuti akan berada pada situasi tegang. Tegang karena Ohyul yang marah, dan Ryul yang tak berani mendekat jika pemuda itu tak mau di dekati. Ohyul hanya mau di dekati kedua adik tak sedarahnya. Seperti saat ini, pemuda itu sibuk terdiam dengan mengubur mukanya di guling milik Woojin. Jika saat ini Woojin tak ada, dan hanya ada Louis, maka pemuda itu akan di kamar bersama Louis. Intinya Ohyul mencari pelarian kenyamanan selain pacarnya sendiri.
Setahunya, kemarin Ryul demam. Bahkan suhu tubuhnya sempat di 38 derajat. Menurun ketika diberi obat penurun demam oleh Ohyul. Pagi ini ia masih sempat melihat Ohyul bolak-balik mengecek dahi pacarnya. Bahkan berniat mengantar Ryul ke kampus, walau Ohyul tak ada jadwal kelas pagi.
Pikirnya Ryul akan langsung pulang jika kelas selesai. Namun yang ia temukan Ohyul yang pulang, dengan wajah merengut. Ia ingat Ryul akan pergi mendaki di daerah luar Pulau Jawa dengan organisasi pecinta alam di kampus. Ia tidak tahu, mungkin hari ini ada pertemuan tentang hal tersebut.
Woojin menghela napas. Kalau sampai keduanya bertengkar, yang akan ia pukul Ryul. Serius. Memang kakaknya satu itu menakutkan, tapi kalau ada pertengkaran pasti Ohyul yang benar. Dia, akan selalu, dipihak Ohyul.
Ia kembali memainkan ponsel dengan berbaring menghadap Ohyul. Dirasakannnya Ohyul mulai menjauhkan wajahnya dari guling. Ia berguling menghadap Woojin. Woojin menatap Ohyul. “Kenapa? Udah nggak marah?”
Ohyul mencebik, “bego ah, Ryul. Dikhawatirin malah marah.”
“Marah gimana?”
Ceritanya, sore tadi sehabis matkul terakhir Ohyul di jam tiga sore, Ohyul menghampiri ruangan organisasi pencinta alam kampus. Yang notabenenya organisasi terdapat Ryul di dalamnya. Niatnya hanya akan mengobrol sebentar dan mengecek suhu badan Ryul. Berakhir percakapan tersebut membuatnya emosi memuncak hingga ubun-ubun.
Awalnya ia menunggu Ryul di bangku luar. Ia sudah bilang di aplikasi obrolan, akan mengecek Ryul sebentar. Yang disambut riang oleh Ryul, karena ingat lelaki itu masih sakit yang berarti sifat manja pada Ohyul masih ada.
Ketika Ohyul sibuk mengayunkan kakinya, ia mendapati pacarnya sudah duduk di sebelahnya. Menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Ohyul. Kemudian mengangkat kepalanya ketika Ohyul menoleh padanya.
Raut wajah Ohyul berkerut khawatir, ia mengangkat tangannya. Membandingkan suhu tubuh Ryul di dahi dengan dahinya sendiri. Bibirnya terlihat terlipat ke dalam. “Masih agak anget, lho. Lo nggak mau pulang bareng gue aja?”
Ryul menggeleng pelan, “nggak ah, Yang. Gue mau diskusi buat besok ke Gunung Dempo.” Kemudian mata pria itu menutup lumayan lama, kerutan pada dahinya muncul.
Ohyul memijat kerutan yang muncul. Ia tahu jika sudah berkerut dahi Ryul artinya pusing yang didera belum sepenuhnya hilang. Prediksinya, jika sekarang diforsir besok pemuda itu masih sakit. “Udah, pulang bareng gue aja. Lo aja masih keliyengan gini.”
Ryul menggeleng pelan, menolak diajak pulang bersama.
“Ayo,” Ohyul yang khawatir tidak menerima penolakan dari Ryul. Ia berdiri.
“Nggak! Ohyul.”
Ohyul tersentak. Menatap terkejut Ryul. Kaget pada hal yang baru saja terjadi.
Ryul juga terkejut, ia tidak menyangka akan mengeluarkan penolakan dengan bernada keras. Lebih terkejut melihat Ohyul kaget. Rasa bersalah merayapi dirinya. Ia menoleh kearah pintu ruangan Mapala, melihat Haerin dan Jihoon keluar dari pintu ruangan. Ikut kaget menatap Ryul.
“Ah … “ Ryul menyugar rambutnya, “gue kayaknya harus masuk lagi.” Kembali masuk ke ruangan tanpa mengatakan apa-apa pasca mengejutkan Ohyul.
Ohyul menatap tak percaya pacarnya yang hilang masuk ke dalam ruangan. Ia menghela napas kasar. Merasa marah karena kekhawatirannya tak berarti. Kemudia berjalan pada Jihoon dan Haerin yang masih terdiam di depan pintu. “Gue minta tolong titip ini ya ke Ryul,” menyodorkan susu bergambar beruang putih, “makasih ya.”
“Eh iya, Yul.”
Selanjutnya pulang menuju kontrakan.
Begitulah cerita tersebut terjadi.
Woojin mengangguk memangku dagunya dengan satu tangan, duduk bersila menghadap Ohyul yang terbaring di sampingnya. Ia mengerutkan dahi. Menggaruk pelan dagunya. “Eng, kurang ajar juga ya. Kalau sakit bisa kemasukan orang lain gitu, kah?”
Ohyul memutar bola matanya. Ia berbaring sembari bersedekap. Bibirnya sedari awal bercerita mencebik. “Gue mau disini, nggak tahu sampai kapan.”
Woojin menghela napas. Itu artinya Abangnya satu ini akan menjajah kasurnya entah sampai kapan. Karena ia tahu, kalau Ohyul kembali ke kamarnya, Ohyul siap menerima permintaan maaf Ryul yang sudah siap berdiri meminta maaf di depan pintu kamar Ohyul. “Serahlah, yang penting jangan ribut di kamar gue. Atau gue lapor Bu Tuti.”
Dari pintu depan terdengar dari kamar Woojin yang terbuka pintunya, suara langkah kaki masuk. Sebelum mereka menebak, orang tersebut mengetuk pintu. Yang ternyata pintu kamar Ohyul yang tertutup. Kemudian, “Yul … gue … maaf. Gue … tadi nggak sengaja bentak lo. Bukan nggak sengaja sih … gimana ya jelasinnya …”
Ohyul mendengus. Ia menghadap dinding. Memejamkan mata. “Kalau dia kesini bilang gue baru aja tidur,” katanya pelan.
Woojin menatap langit-langit kamarnya. Mengambil napas dan menghembuskannya. Mungkin drama Cina yang sering lewat di Toktok akan terjadi sebentar lagi.
Langkah kaki terdengar mendekat ke kamar Woojin. Langkah kaki tersebut terseret. Seolah tak ada tenaga yang tersisa dari pemilik kaki. “Cil,” panggil Ryul masuk ke kamar Woojin pelan. Rambutnya berantakan, matanya sayu dengan jejak kemerahan di bagian putih. Belum bibir yang pucat. Sudah pasti, belum sembuh. Ryul mengerjap menatap Woojin, kemudian melebarkan matanya ketika menangkap badan Ohyul di sebelah adiknya. “Oh?”
“Baru tidur dia,” jelas Woojin tanpa diminta.
Bahu Ryul turun. Lesu. “Yaudah, deh.” Kemudian ia berbalik untuk keluar dari Woojin. Sekejap berhenti dan kembali menghadap Woojin, “masih marah ya?”
Woojin melirik Ohyul, “emm, tadi datang kesini bete, sih.”
Ryul membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Menimbang apa yang mau diucapkan. “Udah cerita?”
Woojin mengangguk.
Ryul mengusap wajahnya kasar. “Ah, brengsek gue.”
Woojin menatapnya datar. Bingung harus bersikap bagaimana pada persoalan sepasang kekasih ini. Ia tidak ahli dalam berkata bijak, takutnya ketika ia membuka mulut, malah kalimat memicu amarah yang keluar. “Istirahat aja dulu Bang. Masih sakitkan?”
Ryul mengangguk, berjalan menuju kamarnya.
Itu adalah awal dari rangkaian selama 2 hari Ohyul menghindari Ryul. Entah saat mau pergi keluar, saat ingin ke kamar mandi, saat bermain dengan kedua adiknya di ruang tamu, saat berpapasan di kampus, dimanapun. Ohyul akan melengos duluan. Sampai Anxin, teman organisasinya mengira mereka sudah putus.
Kini hari ketiga, Ohyul berdiri menatap pintu kamarnya. Ia mengira-ngira apakah kekasihnya itu ada di depan. Tapi melirik di bawah celah pintu, tak ada bayangan di depannya. Artinya taka da Ryul di depan. Ia membuka pintu pelan. Perutnya kelaparan, terpaksa ia harus menuju dapur untuk mendapatkan makanan. Sebelum melangkah ke dapur, ia menemukan choco pie homemade kesukannya ada di meja depan televisi. Tanpa pikir panjang, ia bergegas meraih choco pie itu dengan senyum lebar. Wajah menggemaskan terpasang saat memastikan choco pie tersebut dari toko roti kesukaannya.
Ia tak menaruh curiga, karena perutnya yang menjerit lebih penting dari dugaan apapun. Padahal yang hapal kesukaannya hanya satu orang, yang sudah dua hari ini ia hindari. Dugaan tersebut tak terbesit di pikiran Ohyul, yang dipenuhi keinginan untuk makan.
“Hooooo, beneran dari Moochew. Nyam,” Ohyul masih membolak balikkan choco pie yang masih di dalam kemasan.
Sebelum Ohyul membuka kemasan. Dari arah bersebrangan dengan kamar Ohyul, pintu kamar terbuka. Milik Ryul. Ohyul refleks menoleh mendengar suara pintu. Membeku ketika menatap Ryul menatapnya sendu. Kembali teringat dirinya dan Ryul masih dalam mode dingin.
Ohyul cepat-cepat mengembalikan choco pie tersebut, setelah otaknya memberikan infromasi secepat kilat. Ia menyadari, yang membeli Ryul. Ia buru-buru kembali menuju kamarnya.
Sebelum ia meraih gagang pintu, tangannya dicekal. Tidak menyakiti, hanya memastikan Ohyul tak melepasnya. Kehangatan yang sebenarnya dua hari ini ia rindukan melingkupi tangannya. Ia menunduk menatap genggaman tersebut.
“Dengerin gue dulu, please?” Ryul menatapnya sedih.
Ohyul mengehela napas. Berdiri terdiam tanpa melihat Ryul. Ia membuang wajahnya ke samping.
Ryul tersenyum, jika Ohyul tak menolak genggamannya, berarti ia mau mendengarkan. Ia bawa perlahan pacarnya ke sofa depan televisi. Di depan choco pie kesukaan Ohyul.
Keduanya duduk dengan Ryul menghadap sepenuhnya pada Ohyul. Ia genggam tangan Ohyul dengan kedua tangannya. Ingin mencium tangan tersebut, tapi teringat Ohyul tak suka segala bentuk afeksi ketika marah. Ia menahan diri. Mendongak, ia menatap Ohyul yang memfokuskan diri pada layar televisi.
“Gue … minta maaf. Kemarin waktu lo ke Mapala, khawatir sama gue, gue malah bentak lo.” Ryul menghelap napas. Menatap sendu Ohyul yang belum mau melihatnya, “gue tidak mau membenarkan apapun, termasuk gue yang lagi sakit. Maaf gue nggak fokus sama keadaan gue, dan malah jadi emosi waktu itu. Maaf, banget, Yang, maaf.”
Ohyul meliriknya. Belum mau bersuara. Sejujurnya ia kesal namun tak terlalu sakit hati. Ia mungkin sudah mulai memaafkan Ryul karena melihat usaha lelaki itu selama dua hari ini. Ohyul menggigit bibirnya. “Harusnya lo minta maaf sama badan lo. Diforsir pas lagi sakit. Untung nggak parah,” kata Ohyul ketus.
Ryul menegakkan badannya, mengelus puncak kepalanya, “maaf ya badan udah di forsir, besok-besok semoga lebih peduli sama lo lagi.”
Ohyul melirik cepat ketika Ryul mengusap kepalanya sendiri. Ingin melihat. Karena ... lucu?
Ryul meraih tangannya kembali, Ohyul cepat-cepat mengembalikan fokusnya pada televisi.
“Maaf ya, sayangnya Ryul,” Ryul menepuk pelan punggung tangan Ohyul, “gara-gara badan nggak sehat dan malah di forsir, jadi gagal fokus sama kesehatan. Dan gagal jaga emosi kemarin.”
Raut wajah Ohyul mengendur. Ia menggigit bibir. Sudah luluh akan perkataan Ryu. Ia melirik perlahan pada Ryul yang sedari tadi menatapnya. Ohyul mengerjap. “Jangan diulangin lagi … “ katanya pelan.
“Siap! Pacarnya Ohyul siap jaga kesehatan!” katanya dengan senyum tipis. “Di … maafin?”
“Iya, dimaafin.”
Ryul tersenyum lebar. Ia buru-buru mengambil choco pie yang dibelinya. Membukanya, dan menyodorkannya pada Ohyul. “Nih, kayaknya tadi laper.”
“Makasih … “ mata Ohyul masih menatap layar televisi.
Ryul merapatkan tubuhnya pada Ohyul, ia menepuk lengannya yang ditruh di sandaran sofa, “sini sandaran.”
Ohyul menggeleng. Telinganya sudah merah karena malu. Pasalnya ketika mereka bertengkar―pada kasus ini Ohyul yang marah―otomatis mereka tidak akan melakukan skinship. Dan saat proses berbaikan, membuatnya malu sendiri untuk melakukan hal tersebut. Ohyul hanya terduduk sembari makan choco pie yang digenggamnya.
Ryul mengulum senyum. Dia hafal kebiasaan pacarnya. Kembali dia merapatkan badannya pada Ohyul,”kalau gitu, gue boleh peluk nggak?” maka dari itu ia yang inisiatif.
Ohyul mengangguk.
Perlahan tangan Ryul melingkari pinggang kekasihnya. Ia bawa tubuhnya untuk melingkupi tubuh Ohyul. Ia cium bahu Ohyul, berulang kali mencium aroma yang dirindukannya selama―dua hampir tiga hari ini. Sungguh ia merindukan Ohyul. Ia tersenyum, ketika perlahan badan Ohyul bertumpu padanya.
Suara dehaman terdengar. Keduanya menoleh. Ryul menolak melepaskan pelukan, hanya menatap datar wajah Louis yang tertangkap matanya.
“Anu … maaf ganggu kalian … “
Wajah Ohyul memerah malu.
Louis tersenyum canggung, “tadi Bu Tuti ngasih ini pas gue lewat depan rumah beliau.” Memperlihatkan rendang di dalam wadah kotak plastik lumayan besar. “Hehe … “ mengakhiri dengan tawa, entah mentertawakan apa.
Woojin muncul dibalik badan jangkung Louis. Bersandar di dinding dan bersedekap. Wajah kantuknya terpasang. “Tadi sebenarnya kita udah sampai kontrakan pas Abang, maaf-maafan. Tapi nggak enak buat lewat, jadi kita nunggu di depan pintu.”
Ohyul yang mendengar kalimat Woojin, semakin memerah wajahnya.
Pintu kontrakan mereka tidak langsung tertangkap mata jika seseorang ada di depan ruang keluarga. Harus berbelok dulu yang dibatasi langsung oleh dinding kamar Louis, dan bersebrangan dengan ruang makan dan dapur.
“Sama … “
Semua mata memandang Louis yang bersuara.
“Boleh nggak, minta choco pienya? Heheh … “
