Actions

Work Header

Closure

Summary:

Tiga tahun sudah berlalu dan sebentar lagi masa kelulusan akan tiba. Namun hingga detik ini progres cinta Nakamura selalu jalan di tempat. Mungkin ini yang terbaik untuknya dan untuk Hirose.

Mungkin sudah waktunya dia melepaskan dan melupakan cintanya pada Hirose.

Notes:

Kisah dimana tiga tahun sudah berlalu. Masa SMA Nakamura dihabiskan hanya untuk jatuh cinta pada Hirose tanpa ada keberanian mengungkapkannya. Kini mereka sudah mau lulus dan dia masih jalan di tempat.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Tinggal menunggu hari menuju hari wisuda. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat hingga tanpa dia sadari dia sudah kelas tiga dan sebentar lagi wisuda. Padahal rasanya baru kemarin dia masuk ke sekolah ini menjadi anak baru dan jatuh cinta pada laki-laki imut itu.

 

Seusai mengikuti gladi bersih upacara wisuda, dia memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Begitu keluar dari gedung sekolah matahari sudah berada di ujung barat menampakkan sinar kejinggannya. Bunga sakura yang bermekaran bergoyang di tiup angin. Nakamura mendongakkan kepalanya lalu menatap langit jingga itu sejenak sebelum akhirnya menghela napasnya.

 

Di sekitarnya dia mendengar suara teman-temannya saling mengucapkan perpisahan sebelum mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Nakamura juga sesekali membalas salam mereka dengan anggukan kecil kepalanya. 

 

“Oi, Nakamura-kun!” suara seseorang yang sangat dikenalinya memanggil namanya dari belakang sambil menepuk bahunya agak keras. “Sudah mau pulang aja nih?”

 

Nakamura tertegun sejenak ketika melihat laki-laki imut itu kini berdiri di sebelahnya. Namun selang beberapa detik dia langsung mengubah ekspresinya menjadi datar lagi lalu mengangguk kecil. 

 

“Hirose-kun memangnya nggak mau pulang?”

 

Hirose menggeleng cepat. “Aku mau makan bareng Takeuchi dan Mukai, juga teman-teman yang lainnya. Kamu mau ikut bareng kami nggak?”

 

Mendengar ajakan itu membuat Nakamura berpikir sejenak. Sebenarnya tidak ada salahnya dia ikut makan-makan bersama mereka apalagi diajak langsung oleh Hirose begini. Lagipula sebentar lagi mereka akan berpisah setelah upacara wisuda selesai sehingga waktu-waktu seperti inilah adalah kesempatan terakhirnya bersama dengan Hirose.

 

“Boleh deh.”

 

“Yeaay!” seru Hirose girang. Tiba-tiba dia mendekap tubuh Nakamura dari samping dengan agak keras. “Kalau begitu kita ke sananya bareng-bareng yuk!”

 

Setelah berbicara begitu Hirose segera berderap mendahului Nakamura yang masih mematung di tempat. Jantungnya berdebar-debar keras dan mendadak dunia berhenti berputar. Dia memandang laki-laki imut itu berjingkrak-jingkrak di depannya dengan gembira.

 

Senyum kecil merekah di wajahnya yang tadi melongo itu. Tidak seperti dirinya yang dulu ketika masih kelas satu, kini dia bisa mengendalikan perasaannya dengan lebih baik dan tidak meledak secara dadakan. Namun di balik pengendalian itu dia merasa inilah yang terbaik yang bisa dia lakukan untuk hati kecilnya.





 

 

 

Sepanjang perjalanan menuju cafe tempat mereka bertemu Hirose berceloteh banyak hal. Dia sudah seperti boneka mainan anak-anak yang bisa berbicara kalau tombol power-nya tidak dimatikan. Ada saja hal yang bisa dia bicarakan bahkan dari hal sepele seperti seekor kucing yang baru saja mereka temui beberapa menit lalu. 

 

Nakamura yang berjalan di sebelahnya malah tidak banyak bersuara. Sesekali dia mengangguk-anggukkan kepalanya dan membalas seadanya ketika Hirose menanyakan pendapatnya akan suatu hal. 

 

Sepanjang jalan sore itu Nakamura tak bisa melepas pandangannya dari sosok imut itu. Meskipun waktu sudah berjalan tiga tahun lamanya tapi penampilan Hirose tidak ada perubahan drastis sama sekali. Rambut coklatnya masih sama seperti dulu, senyuman manisnya masih membuat hati Nakamura berdesir hebat, dan mata bulat coklatnya itu masih berbinar-binar tatkala Hirose berbicara sesuatu yang dia sukai. Yang membuatnya tampak sedikit berbeda adalah tinggi badannya. Tinggi mereka tidak berbeda jauh seperti dulu lagi. Entah Nakamura yang tidak bertumbuh cepat atau Hirose yang tumbuhnya terlalu cepat. Namun kini mereka hampir sepantaran. Kalau kata ibunya Nakamura hormon anak laki-laki di usia mereka membuat pertumbuhan mereka menjadi lebih cepat.

 

“Nggak terasa ya sebentar lagi kita lulus.” kata Hirose dengan nada suara yang berbeda dari beberapa menit lalu. Tatapannya mendadak menyendu dan pandangannya mengarah ke depan. “Rasanya baru kemarin deh aku mendaftar di sekolah kita.”

 

“Hm. Aku pun demikian.” kata Nakamura membalas.

 

“Nakamura-kun rencananya mau lanjut ke universitas apa nih?” 

 

“Um… belum tahu sih. Inginnya ke University of Tokyo tapi kalau memungkinkan.”

 

“Woah! University of Tokyo? Bukankah masuk ke sana itu susah ya?” 

 

“Iya. Makanya kalau memungkinkan saja.” kata Nakamura. Kemudian dia diam sejenak hendak ikut bertanya hal sama kepada Hirose. “Kalau kamu mau lanjut kemana?”

 

“Belum tahu juga. Mungkin aku akan masuk universitas yang sama dengan kakakku dulu.” 

 

“Ah, begitu ya.”

 

Setelah itu tidak ada yang berbincang-bincang di antara keduanya. Mereka sedang asik memandangi lingkungan sekitar mereka. Entah mengapa pemandangan hari ini terlihat sangat indah. Padahal tempat ini dan jalan ini sering mereka lewati setiap harinya. Namun untuk hari ini terasa seperti ada yang berbeda.

 

Nakamura diam-diam menggigit bibirnya. Jantungnya berdebar cepat lagi. Inilah waktu yang tepat, batinnya.

 

Meskipun hatinya berkata begitu nyatanya dia masih tidak punya keberanian mengungkapkan isi hatinya kepada laki-laki imut itu. Padahal saat ini mereka sedang berduaan saja dan tidak banyak orang di sekitar mereka. Suasananya pun terasa romantis untuk menyatakan perasaannya. Namun lagi-lagi Nakamura bertindak layaknya seorang pengecut seperti biasanya.

 

Bagaimana kalau dia tidak menyukaiku juga? Bagaimana kalau dia bukanlah orang yang menyukai sesama jenis seperti aku?

 

Kalimat terakhir itu rasanya seperti tidak mungkin. Nyatanya Hirose selama ini bertindak seperti orang yang suka kepada guru laki-lakinya sendiri. Bagaimana laki-laki imut itu suka menyergap Otogiri-sensei ketika berpapasan di koridor, atau bagaimana dia memandang gurunya itu dengan kedua mata besarnya yang berbinar cukup lama. Tidak mungkin Hirose bukan tipe orang yang tidak menyukai sesama jenis.

 

Tapi melihat ke tiga tahun lalu ketika Hirose berpacaran dengan Hana membuat Nakamura tersadar bahwa bisa jadi Hirose bukanlah tipe yang menyukai sesama jenis. Karena hal itu Nakamura menduga apa yang dilakukan Hirose selama ini kepada Otogiri-sensei kemungkinan hanya sebatas kekagumannya terhadap pria itu. 

 

Dia memandang lagi Hirose dengan lamat-lamat. Menimbang-nimbang haruskah dia menyatakan perasaannya saat ini mumpung ini adalah momen terakhir mereka berduaan seperti ini sebelum keduanya benar-benar berpisah.

 

“Oh? Itu… Otogiri-sensei?!” 

 

Suara nyaring Hirose membuyarkan lamunan Nakamura. Dia langsung mengikuti arah telunjuk tangan Hirose dan melihat pria tinggi dengan rambut hitam berdiri di depan sebuah minimarket sambil menghisap sebatang rokok. Sedetik kemudian Hirose sudah berlari menghampiri guru mereka dengan girang dan meninggalkan Nakamura yang kini malah berdiri mematung di tempatnya.

 

Kakinya rasanya susah digerakkan. Dia hanya bisa berdiri terbengong di sana melihat interaksi antara Hirose dan Otogiri-sensei. Hirose terlihat sangat gembira melihat guru kesayangannya itu lagi. Melihat itu semua membuat dada Nakamura seperti diikat kencang dengan sebuah tali besar.

 

Keduanya berbincang selama beberapa saat. Hirose tampak mengatakan beberapa hal kepada gurunya itu sebelum akhirnya dia menyadari keberadaan Nakamura dan melambaikan tangannya kepada Nakamura. 

 

“Sensei akan ikut makan-makan bersama kita!” ucapnya dengan riang.



Lagi-lagi Nakamura membuang-buang kesempatan yang ada. Kini dia harus menelan pil pahit karena harus menjadi orang ketiga di antara Hirose dan Otogiri-sensei. Mereka berdua tampak berbicara banyak sekali hal. Dan Nakamura hanya bisa mendengarkan mereka tanpa membalas satu pun percakapan mereka.

 

Mungkin sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyatakan perasaanku padanya. 

 

Nakamura melirik ke arah keduanya dengan tatapan nanar. Jika dulu dia akan meledak-ledak di dalam hatinya dan merasa kesal melihat kedekatan keduanya, kini Nakamura hanya bisa menerima dengan pasrah. Mungkin saja perasaannya ditakdirkan untuk dikubur dalam-dalam selamanya. Mungkin saja memang dia akan menjadi pengecut dan pecundang selamanya.




 

 

 

 

Ketika mereka bertiga sampai di cafe tempat mereka dan teman-temannya bertemu, Hirose langsung berlari masuk ke dalam. Di pojok ruangan sudah tertata meja-meja yang dijejer menjadi sebuah meja panjang. Teman-teman mereka sudah berkumpul di sana. Ada Mukai dan Takeuchi yang beradu argumen tentang siapa aktris cewek paling cantik saat ini, lalu ada Kawamura yang mengobrol dengan Masako dan Hamaoka, dan mengejutkannya ada senior mereka yang sudah lulus duluan yaitu Reiko dan Tamura hadir di sana. 

 

“Loh, senpai juga datang ke sini?” kata Hirose terkejut melihat seniornya datang ke acara makan-makan mereka.

 

“Memangnya nggak boleh ya? Kita kan alumni di sini.” kata Reiko. Lalu dia melirik ke arah Nakamura yang baru saja masuk ke dalam cafe. “Wah wah! Zombie berseragam sekolah juga datang ya?”

 

Nakamura hanya membalas sapaan itu dengan tatapan datar. Meskipun tiga tahun sudah berlalu tapi panggilan ‘Zombie berseragam sekolah’ dari Reiko tetap melekat padanya.

 

“Dia mau promosi kampusnya soalnya.” kata Tamura dengan nada menyindir. “Nanti kalau kalian daftar ke kampusnya Reiko, kalian bakal disuruh gabung ke klub horornya lagi loh.”

 

“Hei! Siapa bilang begitu hah?!” pekik Reiko tidak terima.

 

“Sudah mengaku saja kamu ke sini mau promosi klub baru kamu kan di kampus?” 

 

“Memangnya kamu ke sini juga nggak mau promosi klub film-mu itu lagi hah? Bilang saja kamu datang ke sini mau cari mangsa lagi kan buat aktor di klub akal-akalanmu itu.”

 

“Hei! Setidaknya klubku itu sah ya! Nggak kayak klub akal-akalanmu itu!”

 

Mereka berdua kembali adu mulut seperti dulu. Padahal keduanya sudah berbeda kampus tapi setiap bertemu pasti berdebat lagi seperti ini.

 

Mereka semua pun menduduki tempat masing-masing di sekeliling meja. Tidak lama setelahnya riuh gelak tawa dan sahutan terdengar dari meja mereka. Meja mereka menjadi yang paling berisik di cafe itu mengalahkan suara dari speaker yang memperdengarkan lagu-lagu dengan suara nyaring.

 

Di antara kegembiraan itu Nakamura hanya duduk diam di ujung meja. Pandangannya tertunduk ke arah gelas minumannya yang masih penuh. Sesekali dia melirik ke arah teman-temannya. Reiko dan Tamura masih berdebat, Takeuchi kini sedang berdiskusi siapa artis paling top dengan Hamaoka dan Masako, dan Hirose sedang berbincang riang dengan Otogiri-sensei. Dari mereka semua pandangannya justru paling intens mengarah kepada lelaki berambut coklat muda itu. Bagaimana Hirose masih tampak manis meskipun tiga tahun sudah berlalu. Paras pemuda itu justru semakin memukau dengan sedikit perubahan di area rahangnya yang mulai menegas akibat masa pubertas. Bahkan hingga detik ini Nakamura masih dibuat jatuh cinta kepada sosok yang tak pernah berani dia raih itu.

 

Merasakan seseorang juga menatapnya intens, lantas dia menolehkan pandangannya ke arah ujung meja lainnya. Seketika pandangannya bertemu dengan Kawamura yang ternyata juga sedang memandangnya dengan intens. Mereka bertatapan selama beberapa saat sebelum akhirnya Kawamura mengangguk singkat dengan senyuman kecil.

 

Di antara semua orang di sini hanyalah Kawamura yang tahu masalah Nakamura dan perasaannya. Mengingat beberapa bulan lalu Kawamura mendadak menyatakan perasaannya dan mengungkapkan sebuah hal yang membuat Nakamura terkejut bukan main.

 

 

 

 

 

 

 

“Nakamura-san…”

 

Kepala gadis itu tertunduk dengan bergetar. Kedua tangannya memilin-milin roknya dengan gemetar juga. Kacamata bulatnya pun sedikit berembun akibat dia bernapas terlalu cepat.

 

“Um… Kawamura-san? Ada yang ingin kamu bicarakan?”

 

Keadaan atap sekolah siang itu sangat sunyi. Tadi ketika jam istirahat pertama Kawamura tiba-tiba mendatangi mejanya dan memintanya bertemu di atap sekolah. Nakamura yang sedang mengerjakan soal latihan pun dibuat bingung karena gadis itu tiba-tiba saja menghampirinya lebih dulu.

 

“A-a-aku… aku… aku mau bilang…” kata Kawamura dengan nada gemetar. Nakamura yang berdiri di hadapannya menatapnya heran sekaligus sedikit khawatir. “...k-kalau aku… a-aku…”

 

Dengan sabar Nakamura menunggu Kawamura melanjutkan ucapannya. Wajah gadis berkacamata itu mulai menjadi merah seperti kepiting rebus. 

 

Dengan sebuah tarikan napas yang dalam Kawamura mengatakannya dengan suara lantang. “A-Aku menyukaimu, Nakamura-san!”

 

Setelah berkata demikian tidak ada satu pun yang bersuara di antara keduanya. Hanya tiupan angin kencang di atas atap dan suara gemerisik dedaunan dari pohon-pohon di bawah sana. 

 

Kawamura memberanikan diri mengangkat pandangannya dan menatap Nakamura. Lelaki berambut hitam itu justru malah terbengong. Wajahnya tampak terkejut sedikit namun dia tidak bereaksi apa-apa lagi selain itu. 

 

“K-Kawamura…?” kata Nakamura akhirnya. “Kamu… suka sama aku?”

 

Kawamura mengangguk kikuk. “Um… maaf, Nakamura-san. A-Aku menyukaimu. Sejak kita kelas satu malah.”

 

“Hah…?”

 

“S-Sejak kamu memuji gambarku hari itu. Ketika kita keluar dari kelas seni, kamu menghampiriku dan meminta gambar Hirose-san yang aku buat. K-Kamu bilang… kamu suka gambarku dan ingin menjadi penggemarku.” Kawamura menjelaskannya dengan suara sedikit bergetar. Namun dia tidak akan gentar mengatakannya kepada Nakamura karena dia sudah bertekad memberitahu lelaki ini hari ini. 

 

“...lalu kamu bilang ingin digambarkan bersama dengan Hirose dalam sebuah komik. Sejak itu… kamu selalu bilang kamu adalah penggemar terberatku. Aku… aku… aku merasa sangat dihargai.”

 

Beberapa menit setelahnya tidak ada yang bersuara lagi. Kini Kawamura merasa beban di hatinya sudah mulai terasa ringan. Namun masih ada satu masalah yang belum dia sampaikan kepada lelaki yang sudah dia sukai sejak mereka kelas satu sampai kelas tiga ini.

 

Kepala lelaki berambut hitam itu tertunduk. Sejujurnya jantungnya berdebar-debar karena ini pertama kalinya dia mendapatkan pernyataan cinta dari seseorang. Namun debarannya bukanlah debaran yang membuatnya gembira. Dia hanya merasa terkejut karena ini pengalaman pertamanya. 

 

Di waktu yang tidak tepat seperti ini malah terlintas wajah Hirose di benaknya. Dia malah membayangkan orang yang menyatakan perasaan di depannya ini adalah Hirose sendiri. Kalau Hirose yang menyatakan perasaan kepada Nakamura, mungkin saja Nakamura bakal langsung pingsan di tempat. 

 

“A-anu… maaf, Kawamura-san. Anu… Aku tidak bisa–”

 

“T-Tidak apa-apa. A-Aku tahu kok.”

 

Seketika pandangan Nakamura terangkat. Kawamura menatapnya dengan tatapan hangat dan senyuman kecil. Wajahnya tidak terlihat sedih karena barusan mendapat penolakan. 

 

“A-Apa…?”

 

“Aku tahu kok.”

 

Mendengar itu membuat Nakamura semakin melongo. Mendadak jantungnya berdetak kencang tidak karuan dan keringat dingin mengalir di punggungnya.

 

“Aku tahu kamu nggak bisa membalas perasaanku, Nakamura-san.” katanya dengan suara lebih tenang. “Karena kamu… kamu sudah menyukai orang lain kan?”

 

Kedua mata Nakamura membulat. 

 

“Dan aku tahu siapa yang Nakamura-san sukai.” kata Kawamura lagi. Kali ini dia tersenyum sedikit lebih lebar namun pandangannya sedikit menyendu.

 

“S-Sebenarnya… a-aku ingin menyatakan perasaanku padamu karena… karena aku hanya ingin kamu tahu bahwa a-aku… aku pernah menyukaimu. Namun bukan hanya itu. A-Aku… aku ingin memotivasi Nakamura-san agar… agar melakukan hal yang sama sepertiku kepada orang yang Nakamura-san sukai.”

 

Nakamura tak mampu berucap apa-apa. Dia tidak menyangka ada orang lain yang menyadarinya. Dia pikir dia sudah cukup baik dalam menahan diri dan emosinya. Rasanya dia ingin terbenam saja ke dalam bumi karena ada orang lain yang tahu perasaannya kepada Hirose.

 

Kawamura menundukkan kepalanya. Namun senyuman kecil itu tak pernah luntur dari wajahnya. “Lagipula aku sudah mengantisipasi ini sejak kemarin-kemarin. A-Aku… tidak mengharap balasan apapun darimu, Nakamura-san. Karena aku tahu tak pernah ada tempat buatku di hatimu. Tapi…”

 

Kawamura mengangkat pandangannya lagi. Sepasang mata mereka bertemu dan Nakamura bisa melihat kejujuran yang tulus dari gadis itu.

 

“...tapi setidaknya aku bisa melepaskan perasaanku ini kepadamu, Nakamura-san. Sebelum kita berpisah nanti setelah lulus.” katanya dengan tulus. “A-Aku juga berharap Nakamura-san bisa melakukan apa yang aku lakukan kepada Hirose-san.”

 

Kedua matanya makin membelalak lebar. Mulutnya menganga tanpa dia sadari dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

 

“K-Kamu… tahu?”

 

Kini Kawamura bisa tersenyum lebar hingga kedua matanya menjadi seperti bulan sabit. “Tentu saja.” tukasnya dengan nada riang. “Sebenarnya aku baru menyadarinya ketika kita sekelas lagi saat ini. Dari dulu Nakamura-san selalu ingin dibuatkan gambar tentang keseharianmu dengan Hirose-san. Awalnya aku tidak menaruh curiga apa-apa. Namun semakin sering kamu meminta dan ketika kita sekelas lagi, aku menyadari satu hal. Bahwa Nakamura-san menyukai Hirose-san dan…”

 

Kawamura menggantungkan kalimatnya. Dia memandang Nakamura dengan tatapan nanar. Merasa mereka berdua berada di nasib yang sama.

 

“...posisimu sama sepertiku. Kita menyukai orang yang tidak bisa membalas perasaan kita.” kata Kawamura dengan nada sendu. Dia menghela napasnya, lalu menoleh ke arah cakrawala. “Aku mengerti sekali perasaanmu, Nakamura-san. Oleh karena itu…” 

 

Dia memandang Nakamura lagi. Namun kali ini seperti ada keyakinan yang mendalam untuk lelaki itu. “...aku berharap Nakamura-san bisa melakukan seperti apa yang aku lakukan sekarang padamu kepada Hirose-san. Mumpung masih ada kesempatan. Sebelum kita lulus dan berpisah.”

 

Mereka bertatapan cukup lama. Gadis itu sudah tidak gemetar lagi seperti tadi. Dia berdiri dengan tegak dan pandangan yang intens kepada Nakamura.

 

“Aku hanya tidak ingin Nakamura-san menyesalinya ketika kita sudah lulus.”




 

 

 

 

Ucapan gadis itu beberapa bulan lalu masih terngiang-ngiang di kepala Nakamura. Ia sangat mengapresiasi keberanian Kawamura dalam mengungkapkan perasaannya kepada Nakamura meskipun gadis itu seakan-akan ingin pingsan di tempat saat itu juga. 

 

Jika boleh jujur, Nakamura ingin sekali melakukan apa yang seperti Kawamura lakukan waktu itu. Tapi setelah dipikir-pikir kembali ada sebuah perbedaan besar di sini antara dirinya dan Kawamura. Bahwa Kawamura pasti mendapatkan keberanian itu dari dua sahabatnya yaitu Masako dan Hamaoka. Mereka berdua pasti terus mendorong Kawamura agar gadis itu berani menyatakan perasaannya kepada Nakamura dan akan selalu mendukungnya.

 

Namun tidak dengan Nakamura yang selama ini selalu sendirian. Dia tidak punya sahabat seperti Masako dan Hamaoka, atau pun Taekuchi dan Mukai. Selama ini pedoman cintanya hanya berasal dari sebuah komik BL kesayangannya. Dia tidak pernah cerita kepada siapa pun tentang perasaannya kepada Hirose, termasuk ibu dan adiknya sendiri. 

 

Dia memandang keluar jendela cafe dan ternyata keadaan di luar sudah berubah menjadi gelap. Lampu-lampu jalanan sudah menyala. Tidak terasa dia sudah duduk di sini tanpa banyak bicara selama dua jam lamanya.

 

Dari arah ujung meja sana terdengar suara gelak tawa Hirose. Sepertinya dia baru saja mendengar sebuah lelucon aneh dari Mukai atau mungkin dari Otogiri-sensei. Suara tawanya yang nyaring itu masih membuat candu di telinga Nakamura. Cengiran menggemaskan di wajahnya itu masih membuat jantung Nakamura berdebar tidak karuan sampai saat ini. Lalu bagaimana mata bulatnya itu membentuk bulan sabit saat dia tersenyum lebar dan tertawa.

 

Nakamura sendiri tidak bisa memprediksi sampai kapan dia akan begini terus. Apakah selamanya dia akan terus dihantui oleh sosok Hirose sampai tua nanti. Atau kah ketika mereka berpisah nanti Nakamura bisa move on dari semua perasaan ini.

 

Dia memanglah pengecut dan pecundang kecil yang tidak tahu diri. Sudah tahu dirinya adalah sosok lelaki kuper, culun, dan pemalu tapi masih berani-beraninya memiliki perasaan kepada sosok bersinar dan semenawan Hirose. Bagaikan pungguk merindukan bulan. Dia hanya bisa merana di bawah sinar bulan yang bersinar terang tanpa berani mengulurkan tangannya ke atas guna menyentuh cahayanya.

 

“Loh, Nakamura-kun mau kemana?” tanya Mukai ketika melihat Nakamura membereskan barang-barangnya dan berdiri dari kursinya.

 

“Ah, itu… a-aku lupa kalau ada kursus ujian masuk universitas.” katanya dengan kikuk. Tanpa dia sadari jari-jarinya menggenggam pegangan tasnya dengan erat. “Kalau begitu aku pamit duluan ya.”

 

“Oh, Oke!”

 

“Wah, sudah mulai berambisi masuk universitas ya? Semangat, Nakamura-kun! Jangan lupa daftar ke kampusku ya!” sahut Reiko.

 

“Jangan mau, Nakamura-kun! Nanti kamu dipaksa masuk klub dia lagi loh!” sahut Tamura juga. “Kamu daftar ke kampusku saja–”

 

“Hei hei hei! Kamu juga mau membujuk dia agar masuk klubmu kan?!” Reiko menyahut balik kepada Tamura.

 

Kedua senior itu pun kembali bertengkar. Nakamura yang melihatnya hanya bisa meringis setiap kali mendengar suara melengking mereka berdua.

 

“Kalau begitu hati-hati di jalan ya, Nakamura-kun! Semangat belajarnya!” seru Hirose sambil mengangkat kepalan tangannya ke udara.

 

Mendengar itu membuat jantung Nakamura berhenti berdetak. Dia mematung di tempat selama beberapa detik dengan tatapan tak lepas dari Hirose. Merasa dirinya menjadi seperti manekin dadakan, seketika dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian menganggukkan kepalanya kepada semua temannya di sana dan berderap keluar cafe.

 

Dia terus berjalan menjauhi cafe menuju angin malam yang menusuk kulitnya. Tangannya masih menggenggam pegangan tasnya dengan kuat. 

 

Apa yang dia katakan sebelum keluar itu tidak benar. Dia bahkan belum mendaftar kursus apa pun hingga hari ini. Dia berkata begitu agar dia punya alasan untuk pergi dari sana. Semakin lama dia duduk di sana dan memandangi Hirose yang tidak bisa dia raih, semakin membuat dadanya sesak. 

 

Air mata menggenang di pelupuk matanya, mengaburkan pandangannya dari jalanan gelap di depannya. Setelah sekitar satu kilometer dia berjalan kakinya pun tak sanggup lagi bergerak. Dia mematung di sebuah perempatan jalan yang sunyi. Bahunya bergetar menahan suara yang ingin keluar dari mulutnya. Mati-matian dia berusaha untuk tidak menumpahkan air yang ingin mengalir keluar dari kedua matanya.

 

Dia sudah bertekad sejak semester dua ini untuk melupakan Hirose. Dia sadar dengan sifat pemalu dan cupunya itu dia tidak akan mampu mendapatkan Hirose. 

 

Tangannya mengusap kasar kedua matanya. Lengan bajunya sampai basah oleh air mata dan ingusnya. Dia pun mendongak dan memandang langit malam yang cerah itu. Bulan bersinar terang di atas sana sendirian. Rasanya Nakamura ingin mengulurkan tangannya dan meraih bulan itu ke dalam dekapannya.

 

“Aku hanya tidak ingin Nakamura-san menyesalinya ketika kita sudah lulus.”

 

Kata-kata itu kembali melintas di benaknya. Perkataan Kawamura yang terdengar tulus itu ada benarnya. Tapi dia bukanlah Kawamura. Dia tidak punya siapa-siapa untuk membagi perasaannya.

 

Suara helaan napas berat keluar dari mulutnya. Kepulan asap putih menguar dari napasnya yang memburu. Air matanya sudah berhenti keluar dan dia mencoba mengontrol dirinya menjadi lebih tenang selagi mengamati bulan di atas sana.

 

Kamu terlalu indah untuk aku raih bagaikan bulan, namun juga terlalu bersinar untuk aku dekap bagaikan matahari.

 

Aku… aku bukanlah bintang atau pun asteroid yang bergerak mendekati bulan dan matahari sepertimu. Aku hanya sekumpulan debu di luar angkasa yang hanya bisa mengelilingimu tanpa ada kemampuan untuk mendekat.

 

Dia menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk tersenyum. 

 

Mungkin… ini yang terbaik untukmu dan aku.





 

 

 

Akhirnya upacara wisuda yang sudah ditunggu-tunggu pun telah berakhir. Suasana aula sekolah dipenuhi oleh sorakan dari para siswa dan orang tua yang datang. Beberapa di antaranya menangis bahagia karena akhirnya berhasil melalui masa berat ketika sekolah, ada pula yang berfoto-foto dengan teman-temannya, dan sebagainya. 

 

Selain mendapat ucapan selamat dari orang tuanya (dan adiknya yang sejujurnya malas sekali untuk datang), Nakamura juga mendapat selamat dari beberapa teman yang dia kenal selama di sekolah. Sebuket karangan bunga besar dia dekap di tangannya dengan wajah merona. Ibunya bersikeras membawakan dia buket bunga itu sebagai tradisi kelulusan. 

 

Matanya bergerak ke arah kerumunan orang di aula itu mencari-cari sosok berkepala coklat muda. Dia bahkan sampai berjinjit agar memudahkannya mencari sosok tersebut. 

 

Agak jauh di depannya dia melihat Hirose dikerumuni oleh beberapa orang. Di sana dia melihat kakaknya Hirose juga datang dan dia memeluk adik kesayangannya itu dengan erat. Dengan wajah merona dia berusaha membalas pelukan kakaknya itu sambil tertawa kecil. 

 

Nakamura melihat pemandangan itu dari jauh dengan hati berdesir. Rasanya dia ingin berlari ke sana dan ikut merengkuh sosok manis itu ke dalam dekapannya. Tapi keberaniannya tidak pernah lebih tebal daripada selembar tisu. Jadi dia hanya bisa memandangi itu semua dengan tatapan merana.

 

“Kamu kalau mau menyapa temanmu, cepat sana. Aku sudah keburu lapar.” gerutu Kana di sampingnya. 

 

“Kana.” kata sang ibu menegur anak bungsunya itu.

 

Kana mendesah kesal. “Apa sih, Ma.”

 

Sang ibu menyentuh bahu Nakamura dengan lembut. Dia menganggukkan kepalanya kepada Nakamura agar lelaki itu segera pergi ke tempat teman-temannya.

 

“Pergilah. Sapa teman-temanmu mumpung masih ada kesempatan.”

 

Nakamura menatap ibunya selama beberapa saat. Sang ibu tersenyum kepada putra sulungnya itu dan mengangguk lagi. Dia tahu bahwa putranya itu sedang gugup.

 

Akhirnya bermodal keberanian seadanya dia berjalan pelan ke arah Hirose. 

 

Hanya ucapan perpisahan untuk terakhir kalinya.

 

Suara bising di sekitarnya seperti teredam. Setiap langkah yang dia ambil membuat jantungnya berdebar makin cepat.

 

Aku tahu kesempatanku sudah habis. 

 

Di sana Hirose tergelak bersama Mukai dan Takeuchi. Suara tawanya seperti menggema di telinga Nakamura semakin dia berjalan mendekatinya.

 

Setelah ini kita akan menempuh jalan hidup kita masing-masing. Aku harus pergi ke Tokyo untuk belajar. Mungkin juga Hirose akan pergi ke suatu tempat untuk meraih mimpinya. 

 

Langkahnya terhenti ketika dia berdiri tidak jauh dari Hirose. Laki-laki imut itu masih dikerumuni oleh teman-temannya. Nakamura hanya berdiri di sana tanpa berani menyahut. Tatapannya tidak lepas sama sekali dari Hirose.

 

Terima kasih. Terima kasih sudah menjadi bunga yang bermekaran di hatiku dan menjadi kupu-kupu yang selalu menggelitik perutku selama tiga tahun ini. 

 

Merasa ada yang menatapnya dengan intens, Hirose pun menoleh. Dia melihat Nakamura berdiri tak jauh darinya dengan kedua mata terpaku padanya. Mereka saling bertatapan cukup lama.

 

Aku harap kamu bahagia di suatu tempat nanti. Aku juga berharap diriku bisa berbahagia tanpamu nantinya.

 

Hirose mengatakan sesuatu kepada teman-temannya sebelum akhirnya dia berjalan mendekati Nakamura. Mereka berhadap-hadapan tanpa mengatakan apa-apa untuk beberapa saat. Rasanya lidah Nakamura terlalu kelu untuk berucap sesuatu.

 

Jika takdir merestui, aku harap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti dalam keadaan yang jauh lebih baik. Dengan diriku yang lebih baik dari hari ini.

 

“Selamat ya, Hirose-kun.” satu kalimat itu meluncur dari mulut Nakamura, diiringi dengan senyuman hangatnya. 

 

Hirose mengangguk antusias. Dia juga membalas senyuman itu dengan senyuman mataharinya.

 

“Hehe… selamat juga buat Nakamura-kun!”

 

Nakamura menelan ludah dengan susah payah. Tangannya tanpa dia sadari mengepal kuat di sisi tubuhnya. Matanya seperti bergetar memandang laki-laki imut di depannya itu.

 

“A-Ada… Ada yang ingin aku katakan… padamu, Hirose-kun.” ucapnya dengan nada bergetar. 

 

Hirose menatapnya dengan kedua mata besarnya itu lamat-lamat. 

 

“Aku… aku…” katanya dengan susah payah. 

 

Mungkin cukup sampai di sini aku mengharapkanmu menjadi milikku.

 

“Aku… aku mau mengucapkan terima kasih… karena kamu sudah mau menjadi temanku selama tiga tahun ini.”

 

Nakamura berusaha mati-matian menatap mata bulat coklat itu tanpa ada air mata yang keluar. Tatapan mata yang polos itu seakan menembus seluruh pertahanan diri Nakamura. Tubuhnya agak bergetar karena harus menahan emosi yang bergejolak.

 

“Aku… aku senang bisa menjadi temannya Hirose-kun.”

 

Setelah mengucapkan itu tidak ada yang berbicara di antara keduanya. Hirose masih menatapnya dengan tatapan polos itu sebelum akhirnya dia menyengir.

 

“Aku juga senang bisa menjadi temannya Nakamura-kun!” sahutnya dengan riang. “Aku harap kita bisa selalu menjadi teman selamanya.”

 

“Um… iya.”

 

“Kita memang sudah lulus sekarang tapi pertemanan kita jangan berakhir begitu saja, oke?”

 

Nakamura mengangguk lemah. 

 

“Aku juga mau bilang makasih sudah menjadi temanku selama ini.” kata Hirose tulus. “Nakamura Okuto adalah salah satu teman terbaikku di sini!”

 

Kedua matanya membelalak mendengar itu. Hirose berkata itu seolah-olah itu tidak akan mempengaruhi ritme jantung Nakamura yang tidak karuan. 

 

Dia menggigit bibirnya hingga rasanya darah mengalir keluar. Tidak, dia tidak boleh membiarkan setitik air mata jatuh di saat seperti ini.

 

Dari arah belakang dia mendengar suara teriakan Kana kepadanya. Ketika dia menoleh ke belakang, adiknya itu tampak bersedekap dengan wajah memberengut. Ibunya di sebelahnya menepuk bahu anak perempuannya itu dengan keras.

 

“M-Maaf, Hirose-kun. Sepertinya aku harus segera pergi.”

 

“Ah, begitu ya? Kalau begitu sampaikan salamku kepada Paman dan Bibi ya!”

 

Nakamura menganggukkan kepalanya.

 

Setelah itu dengan tubuh yang terasa berat dia berbalik. Dia menengok ke belakang untuk terakhir kalinya, lalu melambaikan tangannya kepada Hirose. Hirose pun membalas lambaian tangannya dengan senyuman manis khasnya.

 

Selamat tinggal, Hirose. 

 

Terima kasih sudah mau menjadi temanku selama ini. 

 

 

 

 

 

 

 







-TAMAT-

Notes:

Cuap cuap penulis!

Terima kasih sudah mampir membaca! Ini fanfic pertamaku untuk anime ini. Sebenarnya aku ambil plot ini berdasar dari versi manganya. Tapi bisa juga dibaca dari versi anime-nya untuk episode 12.

Aku ingin menuliskan "What If" untuk kisah mereka di masa depan itu nantinya gimana. Sejujurnya sepanjang nonton tuh aku kayak kasihan mulu sama Nakamura karena dia penakut banget. Rasanya ingin memberikan keadilan buat Nakamura agar dia punya masa depan yang lebih baik huhuu...

Semoga suka dengan ceritanya! Maaf kalau ada typo, ketidakcocokan nama atau panggilan, latar, dan sebagainya.