Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of jupiter & aries
Stats:
Published:
2026-06-17
Words:
1,647
Chapters:
1/1
Kudos:
23
Hits:
245

kelu

Summary:

Aries sengaja mendiamkan Jupiter.

Work Text:

Aries sengaja mendiamkan Jupiter.

Jupiter masih berada di kamar Aries, duduk di lantai. Dia meluruskan kaki, dan mendengar suara Aries berbincang dengan teman-temannya. Begitu jelas sekali; suara dan tawanya yang sengaja dikeraskan, sementara Jupiter di sini, di kamarnya.

Jupiter berdiri, dan keluar dari kamar itu. Teman-teman Aries—Priska dan Bina—tersenyum sopan padanya, Aries menoleh. Jupiter memaksakan senyum padanya, dan mengacak rambut Aries asal-asalan.

"Aku pulang, ya, Aries." katanya.

"Iya." jawab Aries pendek, kemudian dia berpaling ke teman-temannya lagi.

Ada rasa perih di dada Jupiter melihatnya. Apa yang dia harapkan? Aries meraih tangannya dan memohon agar Jupiter tidak pergi? Aries yang menarik Jupiter kembali ke kamarnya, menguncinya agar tidak ada yang mengganggu mereka berduaan?

Tapi Aries melanjutkan perbincangan dengan Priska dan Bina, maka Jupiter pergi.


Pesan-pesan Jupiter tidak dibalas.

Jupiter menghela napas; mencoba menelepon Aries pasti akan diabaikan.

Jupiter membuka laptop, tapi dia hanya membiarkan laptop itu terus menyala sembari dia mengumpulkan niat untuk mengerjakan tugas akhirnya sembari melihat-lihat konten video sepersekian detik. Agaknya cukup lama dia menghabiskan waktu dengan menonton drama Cina yang membuat dia terus penasaran — apa yang terjadi dengan wanita yang diceraikan oleh suaminya yang CEO? — karena saat dia mendongak, laptop-nya sudah mati.

Jupiter mencari kabel charger di meja. Tidak ketemu. Dia merogoh tas. Tidak juga ketemu. Jupiter mencoba mengingat-ingat kapan dia terakhir kali meng-charge laptop.

Ah. Di kontrakan Aries. Kalau dia tidak salah ingat, Aries meminjam charger-nya untuk sementara, karena malas mengambil punyanya.

Jupiter menghela napas. Ah, pesannya saja tadi tidak dibaca… apa dia besok harus kembali ke sana? Mereka perlu berbicara, tentang sikap Aries yang mendadak dingin, atau—

Bagaimana jika Jupiter ke sana… sekarang?

Tanpa dia sempat ragu atas pikiran itu, Jupiter sudah mengantongi dompet, ponsel, kunci motor, dan laptop dia masukkan ke dalam tas. Biarlah jika Aries tidak mau menemuinya, dia bisa bermalam di lab untuk mengerjakan tugas akhirnya.

Perjalanannya tidak macet, karena hari sudah malam dan lewat jam pulang kantor. Namun Jupiter banyak berpikir; dalam hubungan mereka yang sudah berjalan beberapa bulan ini tidak selalu mulus, pasti ada pertengkaran yang terjadi. Dan, Aries tidak pernah mau mengalah, bahkan dalam perdebatan kecil sekalipun.

Perubahan sikapnya yang dingin juga pasti karena ada sesuatu… tapi apa?

Jupiter mencoba menahan rasa jengkelnya; mereka bukan anak kecil yang ngambek karena tidak bisa berbagi mainan. Dia ingin Aries bersikap dewasa, untuk sekali ini.


Namun, tetap saja, Aries masih mendiamkannya.

Dia memberikan charger Jupiter tanpa berkata apapun. Jupiter menggumamkan terima kasihnya, dan Aries hanya mengangguk, kemudian duduk menghadap laptop, tanpa mengindahkan Jupiter.

"Aries." panggil Jupiter.

Aries menoleh.

"Kamu kenapa, sih?"

"Gak kenapa-napa."

"Bohong." tukas Jupiter. "Kamu dari tadi ngediemin aku, pasti ada apa-apa."

Aries tidak menjawab, dan kembali menghadap laptop.

"Tuh, kan." kata Jupiter. "Kata kamu gak ada apa-apa, tapi ngomongin ini gak mau."

"Ya memang gak ada apa-apa." jawab Aries. "Aku capek."

"Ya aku juga capek." kata Jupiter. Dia menghampiri Aries, dan memutar kursinya hingga menghadap Jupiter. "Bilang, Aries, ada apa? Tadi siang pas aku ke sini, kamu cuekin aku. Chat aku gak dibalas. Kenapa?"

Aries memalingkan muka, dan mengerucutkan bibir. Jupiter menghela napas; pembicaraan ini tidak akan berakhir seperti yang diinginkannya.

Maka Jupiter hanya bergumam, "Terserah lah." Dan berlalu.


Jupiter terbangun karena ada pekikan tertahan. Dia membuka mata, dan melihat Nanda berdiri di pintu.

"Jupi! Ngagetin aja!"

"Elo yang ngagetin." gumam Jupiter. Dia duduk, dan menggeliatkan tubuh untuk meregangkan otot yang pegal sehabis tidur semalaman di lantai yang keras.

"Lo… nginep?" tanya Nanda.

"Ya."

"Lo… gak di tempat Aries?"

Jupiter mendelik.

"Ah… lagi berantem ternyata…"

Jupiter menghiraukan Nanda. Dia keluar lab untuk ke kamar mandi. Air dingin membasuh wajahnya, menyegarkan pikirannya sejenak. Saat dia kembali, dia memutuskan untuk menceritakan senuanya ke Nanda.

"Gue gak ngerti gue salahnya di mana, Nan." ujar Jupiter.

"Lo dari dulu memang gak pernah nyadar punya salah."

"Maksud lo apa?"

"Maksud gue adalah, lo terlalu sombong dan tinggi hati. Coba agak napak, dikit."

Jupiter memutar mata.

"Atau… atau nih, ya, ini dugaan gue aja, Jupi…"

"Apa?"

"Aries ada… cemburu gak, sama orang?"

"Cemburu?" Jupiter menaikkan alis. "Gak, deh."

"Beneran? Soalnya, kayaknya… kalo bukan karena omongan lo yang sering gak dipikir itu, mungkin dia ada cemburu."

"Tapi cemburu sama siapa?"

"Ya gak tahu… lo apa lagi ada deket sama orang lain?"

"Gak, lah!"

"Ya siapa tahu…"

"Cemburu…" gumam Jupiter.

"Iya, kayak lo cemburu sama Galih." Nanda tertawa.

"Heh."

"Saking cemburunya, lo sampai mendukung Aries ngontrak sama teman-temannya itu." Nanda terbahak.


Jupiter masih belum menghubungi Aries, dan Aries—tentu saja—tidak ada itikad baik berbaikan.

Hari ini Aries ada jadwal praktikum di lab Jupiter, tapi bukan giliran Jupiter untuk berjaga di sif itu. Dia memilih mendekam di ruang asisten, dengan headphone, musik terdengar di telinga, tapi otaknya masih berputar-putar memikirkan omongan Nanda.

Cemburu? Aries cemburu? Ini konyol. Aries tidak punya alasan untuk cemburu, karena kedekatan Jupiter dengan teman-temannya memiliki batasan. Bahkan dengan Nanda.

Jupiter mendengar praktikum berakhir, dan Nanda memasuki ruang asisten.

"Beres?" tanya Jupiter.

Nanda mengangguk. "Aries ada di depan, tuh."

"Oh."

"Dia sama temen-temennya, sih."

Jupiter mengacuhkannya.


Namun saat hari menjelang siang, Aries dan teman-temannya masih ada di lab. Jadwal praktikum sif selanjutnya berlangsung di sore hari.

Mereka duduk di meja dekat pintu. Jupiter melewatinya tanpa memandang Aries, meskipun dia ingin menengok, ingin melihatnya. Ah. Sudahlah.

Dia membeli makan siang di warteg untuk dibungkus. Hampir tanpa sadar, Jupiter menyebutkan dua porsi nasi, masing-masing dengan potongan ayam, dan sayur. Jupiter memandangi kantong plastik berisi dua bungkus nasi. Dia menerima kembalian, dan mengucapkan terima kasih.

Sesampainya di lab, Aries sendirian.

"Mana Priska dan Bina?" tanya Jupiter.

Dia kira, Aries akan mengacuhkannya. Dia tidak menyangka Aries akan menjawab, "Ada kelas."

"Udah makan?"

Aries mengangguk; mukanya masih tampak acuh. Namun, perutnya berbunyi, Wajahnya memerah, dan Jupiter menunduk untuk menyembunyikan senyum. Dia menaruh satu bungkus nasi di hadapan Aries.

"Nih." katanya. Jupiter ke ruang asisten untuk mengambil sendok bersih, dan menaruhnya di samping nasi bungkus. "Habisin makannya."

Jupiter baru akan kembali ke ruang asisten, saat Aries memanggilnya lirih, "Kak…"

Jupiter berbalik. "Ya?"

Aries menggelengkan kepala. "Gak, gak jadi…"

Hati Jupiter dibuat terenyuh juga; dia tidak bisa berlama-lama marah pada Aries. "Aku di dalam, ya, kalo butuh apa-apa."

Aries mengangguk. "Iya."

Tidak butuh waktu lama bagi Aries untuk menyusulnya. Aries tidak terbiasa makan sendiri. Menurut dia, aneh jika tidak ada teman mengobrol. Namun seringnya, jika makanannya enak sekali, atau Aries sudah sangat lapar, mereka tidak akan mengobrol.

"Kak…"

Jupiter menarik kursi di sebelahnya. "Duduk sini."

Mereka makan dalam diam; meskipun kali ini, bukan karena mereka terlalu lapar atau makanannya enak, tapi karena satu pertanyaan yang belum terjawab.

Setelah makan, Jupiter membereskan bekas makanannya. Dia berpaling ke Aries. "Udah beres?"

Aries mengangguk. Jupiter juga membereskan bekas makanan Aries. Dia membuang sampah dan mencuci sendok.

Aries masih berada di ruang asisten.

Jupiter kembali duduk di sampingnya, dan memutar menghadap Aries.

"Aries." panggilnya. "Sekarang, aku tanya lagi, kamu kenapa?"

Aries masih tidak menjawab.

Mungkin karena perutnya sekarang sudah kenyang, otak Jupiter bisa bekerja dengan lancar. Dia mencoba bercanda, "Aku mau minta maaf kalo aku ada salah, tapi nanti kamu marah lagi, gak tahu aku salahnya apa."

Aries tersenyum. Jupiter membalasnya.

"Gitu dong, senyum." ujar Jupiter. "Masa tadi aku cerita ke Nanda, katanya, kamu cemburu. Memang iya?"

Senyum Aries pudar.

Jupiter menatapnya.

"Cemburu? Aries, bener? Kamu cemburu sama siapa?"

Aries menggelengkan kepala, dan menutup mata dengan kedua lengan. Dia mengerang sembari menyandarkan kepala ke kursi.

"Aries…" Jupiter menarik tangan Aries.

Aries menghela napas, dan menyebutkan satu nama yang membuat Jupiter mengangkat alis.

"Dia?" tanya Jupiter. "Tapi dia, kan… praktikan aku…"

"Ya aku juga dulu praktikan Kakak…"

"Terus? Kan aku juga ada praktikan lain selain dia…?" Jupiter mengernyitkan kening, malah tambah kebingungan.

Aries mencondongkan badan dan menumpu kedua siku di meja, tangannya bertangkupan untuk menutup mulut. Jupiter menunggu Aries melanjutkan.

"Pokoknya, aku gak suka kalo dia deket-deket Kakak… meskipun cuma untuk asistensi aja." kata Aries. "Feeling aku aneh ke dia… kayaknya dia suka Kakak, deh."

"Tapi, kan… aku sukanya sama kamu…?"

Aries tertawa kecil. "Ya gitu, deh… tapi Kakak gak nyadar! Makanya aku kesel."

"Bentar, bentar…" Jupiter mengangkat tangan. "Jadi, kamu cemburu karena praktikan aku sepertinya suka aku? Terus kamu marah sama aku karena aku gak sadar? Ya memang gak sadar…"

Aries memukul bahu Jupiter pelan.

"Maksud aku, aku kan ke dia ya sama aja kayak ke praktikan lain—kecuali kamu, ya, kamu kasus khusus—jadi… aku beneran gak sadar sikap dia kayak gimana ke aku…" lanjut Jupiter. "Terus, gimana… dong? Dia ada jadwal asistensi lagi, hari ini…"

"Terserah…" Aries bersedekap.

"Ya udah, kamu temenin aku aja, ya? Mau, ya? Biar kamu bisa lihat aku dan dia gak ada apa-apa…"

"iya."

"Oke, bagus." Jupiter mengacungkan jempol. "Tapi aku terharu, lho…"

"… Hah?"

"Iya, kamu ternyata bisa cemburu, ya… Kamu beneran sayang sama aku, ya, Aries?"

Aries mencubit lengan Jupiter, dan Jupiter tertawa puas, meskipun lengannya sakit. "Kakak juga cemburu sama Kak Galih!"

"Itu, sih semua orang juga tahu." tukas Jupiter. Dia mengusap rambut Aries. "Bener kok, Aries, aku sukanya sama kamu aja."

Aries mengangguk, dan Jupiter bisa melihat kelegaan terpancar di wajahnya. Jupiter membuka lengannya. "Peluk?"

Aries melihat ke sekeliling. "Kita lagi di lab…"

"Tapi aku kangen…" kata Jupiter memelas, sengaja memanyunkan bibir untuk menarik simpati pacar kecilnya ini.

Aries menghela napas, dan yang tidak disangka Jupiter… Aries berdiri untuk duduk di pangkuan Jupiter… dan memeluknya.

Jupiter mengerjapkan mata, dan melingkarkan lengannya di pinggang Aries.

Ini—

"Ehm."

Aries melompat berdiri, menjauh dari Jupiter. Jupiter juga memundurkan kursi.

Nanda berdiri di pintu. "Sori, ganggu, tapi… gue mau persiapan praktikum?"

Wajah Aries merah padam, dan dia mengangguk-angguk sambil melangkah keluar dari ruang asisten.

Nanda berpaling ke Jupiter. "Udah baikan, nih?'

"Begitulah." balas Jupiter, namun dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


Di dalam kamar Aries yang tertutup dan terkunci, Aries kembali duduk di pangkuan Jupiter. Jupiter menahan napas; karena Aries begitu dekat, dan hangat.

"Aku berat…?" bisik Aries.

Jupiter menggelengkan kepala. "Gak." Begitu pas; begitu cocok; begitu tepat dalam dekapan Jupiter. Jupiter mendongak, dan Aries mengusap rambut Jupiter. Jupiter tersenyum, dan mengecup bibir Aries.

Series this work belongs to: