Chapter Text
"MICHAAAAAAEEELL!! SEMANGAT!! AYO CETAK GOL!!"
Suara familiar yang terdengar saat Kaiser memasuki stadion membuat langkahnya sempat terhenti sejenak.
Ia menoleh untuk menemukan sosok berambut magenta dengan mata bulat yang irisnya berwarna senada. Lelaki itu berdiri di tribun dan menjulangnya dengan lantang.
Michael, jarang sekali fansnya menyebut Kaiser dengan sebutan itu ketika menyorakkan namanya di tribun. Hanya satu orang yang cukup unik dan bersemangat yang akan menjelajah seperti itu.
Dari samping Kaiser bisa mendengar Gesner dan Grim yang cekikikan ketika mendengar penggemarnya menyebut nama Kaiser.
“Lihat, hari ini dia pasti akan mencetak hattrick setelah mendapat dukungan dari penggemar nomor satunya itu.”
"Ah Gesner jangan berkata seperti itu. Kaiser tidak suka loh penggemarnya yang berisik itu. Kalaupun dia mencetak gol itu pasti karena dirinya sendiri," Grim berkata sambil terkekeh geli dan langsung berhenti ketika Kaiser melirik tajam ke arahnya.
Sementara itu Ness yang menyorakkan nama Kaiser di tribun bersama dengan penggemar lainnya sempat mengingat mematung ketika Kaiser melirik ke arahnya. Meski hanya sekilas tapi jantung Ness terasa berdetak kencang.
"D-dia melihat ke arahku? Micha melihatku?!!" dengan nada tidak percaya Ness bertanya.
Perasaan senang menghampiri Ness seketika. Pasalnya selama ia menjadi penggemar Kaiser, tidak pernah terpikirkan sebelumnya kalau Kaiser akan menyadari kehadirannya.
Dan sekarang, entah Ness berhalusinasi atau tidak tapi dia melihat Kaiser melirik ke meskipun terjadi dengan tajam.
•••
Peluit dibunyikan dan pertandingan yang dimainkan tim Bastard Munchen pun di mulai.
Ness terus mencatat nama Michael di tempat penonton. Menyoraki nama itu tanpa kenal lelah karena ia percaya teriakannya bisa menjadi penyemangat ajaib untuk Kaiser agar mencetak gol.
Baru sepuluh menit pertandingan berjalan, Kaiser sudah berlari dengan bola di bawah kakinya, hasil dari umpan Grim yang menakjubkan. Pria dengan julukan kaisar pilihan Tuhan itu bersiap untuk melakukan tembakan jarak jauh ketika dua bek lawan dan menghadangnya.
Namun dua orang bek lawan itu bahkan tidak bisa mengalahkan kecepatan dari tendangan Kaiser impact miliknya, hingga tidak butuh waktu lama suara teriakan fans karena gol yang diciptakan Kaiser pun terdengar.
Tidak terkecuali Ness yang ikut berbaur dengan sangat gembira sampai melompat lompat dari tempatnya duduk.
“GOOOOOL!!MICHAEL KAMU YANG TERBAIK!!” Ness berteriak dengan suara yang dipenuhi euforia kegembiraan.
Kaiser berlari ke samping lapangan untuk melakukan selebrasi setelah golnya itu. Tanpa sadar mata biru pria berambut pirang itu mencari keberadaan seseorang.
Sudut menarik tertarik samar ketika melihat penggemar uniknya dengan rambut magenta itu melompat kegirangan dengan sorakan bahagia ketika melihatnya mencetak gol.
Jantung Kaiser berdetak dengan perasaan senang dan bangga ketika melihatnya.
Ini baru satu gol yang dibuatnya, bagaimana jika ia mencetak tiga gol seperti yang dikatakan Grim? Apa yang akan dilakukan pria berambut magenta? Apakah dia akan terlihat lebih senang lagi?
Mungkin ia harus dicoba.
••••
Pertandingan berakhir dengan skor 5-0, Bastad tentu saja memenangkan pertandingan itu dengan Kaiser yang tanpa diduga mencetak empat gol sekaligus dalam waktu 80 menit bermain.
Ini pencapaian gol terbanyak yang diciptakannya dalam satu pertandingan di musim ini. Ness sebagai penggemar setianya sejak awal tentu saja merasa senang, ia merayakan kemenangan Kaiser dengan gembira, berteriak dan berkali-kali menyebut nama Michael untuk menyemangati ketika pertandingan hingga suaranya hampir habis.
Sekarang Ness mendorong pergi ke luar, tujuannya selain pulang adalah untuk melihat Kaiser bersama tim Bastard lainnya yang kemungkinan nantinya akan menemui sedikit penggemar sebelum pergi dengan bus mereka.
Tapi tiba-tiba saja ia dihadang oleh beberapa orang wanita muda yang menatap tidak suka ke pengemudi.
“Ada apa ya?” Ness bertanya bingung.
Tiga orang wanita muda itu saling tatap sebelum akhirnya salah satunya berbicara, menjawab kebingungan yang terlihat di raut wajah Ness.
"Langsung saja, kami ingin kamu berhenti melakukan itu pada Kaiser kami. Kamu benar benar terlihat menjijikan tahu? Seperti paparazi, mengikuti kemanapun Kaiser pergi dan mengenalnya."
Salah satu gadis itu berkata dengan berani kepada Ness yang mematung dengan terkejut.
"Jujur saja Kaiser sendiri juga pasti tidak nyaman dengan kehadiran kamu. Bisakah kamu jadi penggemar yang normal saja? Tidak perlu mengikuti kemanapun dia latihan dan kehangatan namanya terus-menerus seperti orang yang haus perhatian."
"Jangan diam saja! Respon ucapan kami!" Gadis itu membentak Ness ketika Ness hanya terdiam sambil menatap ke arah mereka.
Raut kebingungan langsung hilang dari wajah Ness. Pria itu menampilkan gadis ketiga yang melabraknya dengan menantang kemudian.
“Tidak mau.” jawabnya tanpa takut Ness menjawab, "Kenapa aku harus menuruti keinginan kalian? Aku datang dengan uangku sendiri, dan aku hanya ingin mendukung Michael. Lagipula Michael tidak pernah berkata kalau dia terganggu dengan kehadiranku. Jadi kenapa aku harus berhenti kalau aku masih bisa menyemangatinya?!"
Ness sebenarnya tidak bermaksud mengatakan sekasar itu, apalagi yang diajak bicaranya ini adalah wanita. Tapi dia tidak suka dengan ucapan para gadis itu yang seolah-olah dia mengganggu Kaiser. Padahal Ness hanya ingin mendukung Kaiser saja, ya meskipun ia akui kalau ia agak berlebihan.
“Kau!!” Salah satu gadis terlihat akan maju untuk memukul Ness karena kesal dengan ucapan memprovokasi yang dilontarkan Ness, tapi dua teman yang lain langsung menghentikan.
"Sudahlah kita pergi saja. Percuma bicara dengan orang gila yang mengerikan seperti pria ini. Semoga saja Kaiser kita angkat bicara soal ini dan menyatakan ketidaknyamannya." Mengatakan itu sambil menatap Ness seolah ia adalah kotoran sebelum pergi meninggalkan Ness sendirian.
Ness menghela napas setelah kepergian mereka.
“Menghambat aku untuk melihat Michael sajaa.” sini dengan denusan pelan sebelum melanjutkan langkahnya ke tempat tujuan awal.
••••
Seperti biasa, selalu ada konferensi pers setelah pertandingan. Kali ini bintang utama Bajingan itulah yang menjadi sasaran wartawan untuk ditanyain.
Raut wajah Kaiser ketika kamera menyorotnya langsung berubah. Ia memasang senyum palsu yang selalu menjadi andalannya saat akan berhadapan dengan wartawan.
"Kaiser, seperti biasa ya, kamu tampil dengan menakjubkan. Mencetak empat gol sekaligus. Bagaimana cara menyebarkan soal pertandingan ini?"
“Yah, lawan kami bermain baik tapi itu tidak bisa menghentikan ku untuk mencetak gol,” senyum miring percaya diri disertai dengan bahu yang sombong acuh tak acuh.
Wartawan itu tertawa mendengar respon Kaiser. Kali ini mereka mencoba melayangkan pertanyaan yang lebih menarik lagi dan kebetulan menjadi perbincangan di media sosial.
"Oh ya, penggemarmu yang sering tertarik pada Michael Michael itu— dia menonton juga kan hari ini? Apakah itu alasan kamu jadi bersemangat mencetak gol?"
Senyum percaya diri Kaiser sempat mengulang untuk beberapa saat. Seketika ia teringat ucapan Grim soal penggemar nomer satu (katanya) itu. Hal itu membuat Kaiser sangat jengkel.
"Tidak. Tentu saja bukan karena dia. Aku bermain hebat karena itu adalah aku." jawab Kaiser
"Apakah kamu merasa terganggu saat itu? Maksudku— kamu tahu kan kalau penggemar itu sering kali datang bahkan ke tempat latihan hanya untuk menyemangati kamu?"
Pada wartawan yang hadir terlihat sangat menunggu menunggu jawaban dari Kaiser ketika si bintang utama itu memikirkan cukup lama untuk sebuah pertanyaan yang belakangan menjadi perbincangan di antara para penggemar.
Kaiser menghela napas. Ia masih teringat perasaan kesalnya karena Grim dan rekan satu tim lainnya selalu mengolok-olok ia soal penggemar berambut magenta itu.
“Dia berada di sekitarmu seperti kamu adalah pacarnya yang lari dari tanggung jawab, Kaiser.” celetuk Gesner saat itu di ruang ganti yang langsung mendapat respon tawa dari rekan setim lainnya.
Dengan pemikiran itu saja Kaiser sudah merasa semakin kesal dan tidak nyaman.
“Tentu saja. Lagi pula siapa yang nyaman kalau terus diikuti seperti itu?”
Jawaban itu direkam bahkan tanpa Kaiser sadari kalau orang yang dimaksudkan Kaiser juga mendengar dengan jelas semuanya.
Tubuh Ness mematung. Mata tanpa bisa dicegah mulai berkaca kaca. Perkataan Kaiser seperti tusukan pedang tak kasat mata yang menusuk tepat ke jantungnya yang sebelumnya masih berdetak dengan perasaan penuh cinta untuk Kaiser.
'Mi-michael, dia merasa terganggu dengan kehadiranku?'
