Work Text:
“Jadi sebelum nyanyi tuh, bisa kardio dulu, karena kan butuh pemanasan otot muscle—”
“Kita nyanyi pakai otot muscle, ya. Bahasa Inggris seratus.”
“Shut up!”
Galak.
Masih ngedumel, Nakula kembali alihkan perhatiannya pada para viewers. Pria bersurai biru langit itu tengah streaming malam ini, membuka sesi tanya-jawab kecil-kecilan perihal tekhnik vokal yang patut dielukan. Namun, kesibukan itu tidak menghentikan Sadewa dari mencari perhatian kekasihnya. Bukan karena satu maupun hal lain, namun memang pada dasarnya si pemancing handal suka iseng. Mancing perkara, mungkin.
“Napas gimana, kak?”
“Ya kau napas pakai hidung! Pakai apa lagi!?”
Sadewa tertawa tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Pasalnya, ia tahu bahwa Nakula dengan segala omelannya tidak pernah benar-benar marah kepadanya. Buktinya, yang lebih muda tidak ada usaha sedikitpun untuk beranjak dari pangkuan kakaknya. Bahkan ketika lengan yang melingkar di sekitar pinggangnya turut mengerat, dengan wajah lelaki di belakangnya dibenamkan pada punggungnya dalam usaha abal-abal meredam tawa, Nakula tidak sekalipun bergeming.
Gemas.
Puas tertawa, Sadewa kembali sandarkan kepalanya pada pundak Nakula, ikut mengintip layar komputer di depan mereka. Live chat terlihat riuh, turut meminta Nakula untuk bungkam saja si Kuning. Nakula tidak menanggapi, terlalu sibuk dengan menjawab pertanyaan yang kerap dilontarkan dengan serius. Professional streamer, terlintas dalam benak si kuning. Terkekeh geli dengan pikirnya sendiri, Sadewa lantas kembali membenamkan wajahnya, kali ini pada ceruk leher si yang lebih muda. Si biru hanya memiringkan kepalanya, memberi ruang untuk sang kakak ndusel. Hal itu mengakibatkan Live2D si biru pada layar turut memiringkan kepala. Keduanya tidak ada yang peduli.
Menarik napas lamat-lamat, Sadewa memenuhi indranya dengan bau melati; parfum yang kerap digunakan pria di pangkuannya. Rumahnya. Rindu sekali rasanya. Sudah terlalu lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama (baca: dua hari), diculik oleh kesibukan masing-masing (baca: speedrun P5R). Pria bersurai hitam-highlight-kuning itu memejamkan matanya, menikmati celotehan Nakula yang masih sibuk streaming. Sesekali, ia menimpali, turut menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada Nakula. Pun, sebenarnya, ia lebih senang mengomentari perkataan kekasihnya sendiri, semata-mata hanya ingin membuat si biru manyun.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat sedikit ketika Nakula mengakhiri stream-nya. Ia mendesah pelan, letih langsung menyambar sepersekian detik setelah tombol end stream ditekan. Tubuhnya ia biarkan jatuh, menyandar sepenuhnya pada kekasihnya yang dengan sigap mengeratkan pelukan agar si biru tak merosot dari pangkuannya.
“Otsukula, Cantik. Capek?”
Pertanyaan tersebut disusul dengan belaian lembut pada rambutnya, menyisir biru itu dengan telaten. Alih-alih langsung menjawab, Nakula menghela napas panjang, bibirnya kembali dimajukan. “Capeeeek,” rengeknya manja. Sadewa tersenyum hangat sebelum bergerak untuk megubah posisi mereka berdua. Ia memutarbalik pria di pangkuannya untuk duduk menghadap dirinya, masih dalam rengkuhan. Sang empu surai biru reflek mengalungkan lengannya di sekitar leher sang kekasih. Bukan karena takut jatuh, Sadewa tidak akan pernah membiarkannya jatuh, namun karena memang sudah sepatutnya ia bertengger di sana.
Sadewa terkekeh, memajukan sedikit kepalanya untuk menghujami air muka sang terkasih dengan kecupan-kecupan kecil. Yang dikecup hanya memejamkan matanya, tertawa geli atas perlakuan yang lain. “Dewa, ih, ngapain sih?” kedua tangannya ia kerahkan untuk menghentikan serangan kecupan tersebut, menangkup pipi pria di bawahnya. Si surai kuning hanya menyengir, jenaka. “Ya pengen aja,” senyuman yang lebih tua melembut, menatap lamat-lamat sang empu hati miliknya.
“Aku kangen.”
Mendengar hal itu, Nakula menghela napas ringan, senyuman lembut itu tercermin pada ranumnya. “Kau tuh, setiap hari kan udah sama aku,” tiada maksud jahat dalam kalimat itu, terlontar dengan ringan, menyampaikan apa yang sebenarnya. Sadewa, hapal mati dengan kekasihnya yang kerap kali berkata tidak sesuai dengan isi hatinya, hanya mendengus kecil. “Emang kau gak kangen aku juga?”
Alih-alih menjawab, Nakula dekatkan wajah keduanya. Matanya terpejam saat ia mempertemukan kedua belah bibir mereka, tangannya masih menangkup pipi sang kekasih. Ciuman tersebut tidak tergesa, menikmati hadirnya satu sama lain. Pagutan mereka berlangsung selama satu, dua menit, sebelum terpaksa berpisah ‘tuk raup udara. Nakula setengah ingin merutuk dirinya yang terlahir sebagai manusia biasa, masih membutuhkan pasokan oksigen. Berlebihan.
Seolah-olah membaca pikirannya, tawa geli kembali menguar dari si surai kuning, berniat untuk kembali bubuhi wajah yang lebih muda dengan serangan kecupan ringan. Namun hal itu terhenti kala suara menggelegar datang dari perut yang lebih muda, mencari perhatian kedua insan yang terlalu sibuk berpacaran itu. Keduanya tertegun, berusaha untuk mencerna apa yang baru saja mereka dengar, sebelum tawa lepas memenuhi ruangan kecil di rumah mereka itu.
“Nah, kan. Ghosting makan malam lagi deh kau.”
“Ya kau! Aku lagi stream, malah kakean polah!”
Pukulan ringan mendarat pada pundak yang lebih tua, tiada maksud untuk menyakiti. Alih-alih menghindar, Sadewa mengeratkan pelukannya pada sang langit kehidupannya, curi kecup sekali lagi. “Hehe, maaf,” bohong. Mendengar itu, Nakula mendengus lagi, entah untuk keberapa kalinya malam itu. “Maaf, maaf. Nanti juga diulang lagi,” sedikit manyun. “Oh, jelas.”
Pukulan lainnya, tidak seringan sebelumnya. Tiada penyesalan dalam diri Sadewa, terbukti dari tawanya yang kembali menggelegar. Hobinya adalah membuat si adik sakit kepala. Pun, sebaliknya; Ia juga kerap dibuat pusing oleh kelakuan yang lebih muda. Meninggikan tekanan darah satu sama lain mungkin memang cara mereka berdua bilang cinta dalam diam.
“Mau makan malam apa, Sayang?” Puas menggoda yang lebih muda, Sadewa bertanya sembari sedikit melonggarkan rengkuhannya, berikan pilihan bilamana Nakula ingin turun dari pangkuannya. “Bebas, deh. Pesan aja gimana? Udah jam segini juga, kau capek nanti kalau masak malam-malam gini,” Nakula, mengambil pilihan itu, beranjak dari pangkuan sang kakak untuk regangkan tubuhnya; tulang-tulangnya menjerit, pegal banget, buset.
Sadewa turut beranjak, ikut regangkan tubuhnya juga. Sama aja jomponya. Tapi setidaknya, ia sudah puas memangku kekasihnya semalaman. “Boleh. Ayam gepuk, ya?”
“Gas. Aku mau ke toilet dulu, nanti aku susul ke dapur,” Nakula, sudah selesai biarkan tulangnya berdecit ria, mendaratkan kecupan kecil pada pipi Sadewa. “Makasih, Mas.”
Nakula balikkan badannya dengan terburu-buru, hendak mengacir untuk melaksanakan panggilan alam. Namun, Sadewa dapat melihat ujung telinganya yang memerah dari belakang. Ia pasti sudah menggoda sang pacar habis-habisan jika dirinya sendiri tidak terlalu sibuk bengong. Mas, katanya. Hati si Mas jumpalitan sedikit, disentuhnya pipi tempat Nakula daratkan senyumnya tadi. Seperti orang gila (memang, tergila-gila pada sang kekasih), Sadewa cekikikan sendiri, semburat merah turut menghiasi wajahnya.
“Alah, gemes amat, siaaaal.”
