Work Text:
Jihoon tak gentar untuk terus mengikis jarak antara dirinya dan kediaman sang kekasih sedikit demi sedikit meski langkahnya terseok-seok. Sesekali berhenti di tempat guna enyahkan rasa pusing dan kantuk yang menggerogoti. Hal itu terjadi karena aktivitas bernama tidur yang selalu menjadi sahabatnya di kala malam datang mulai ia anggap sebagai musuh tak berwujud sejak tiga hari lalu. Pikiran tentang cintanya yang bernama Hanjin usai pertengkaran mereka itu terus menginvasi setiap sudut otak Jihoon tanpa kenal lelah, membuatnya tak kuasa memejamkan mata lama-lama sebelum kata maaf terlontarkan secara langsung.
Udara dingin malam itu merengkuh tubuhnya sangat erat, membuat Jihoon menarik resleting jaketnya hingga mencapai leher. Sebuah buket bunga berisi rangkaian lily dan pikok berwarna putih ia cengkeram menggunakan tangan kanannya. Ia ingat bahwa Hanjin pernah memberikan buket yang isinya sama persis kala lelaki itu mengais pengampunan karena membatalkan kencan mereka tepat satu jam sebelum yang dijanjikan.
Tangan kiri miliknya yang bebas ia gunakan untuk mengetuk pintu kayu minimalis di hadapan. Alih-alih Hanjin alias pemilik rumah, yang menyambutnya dari balik pintu tersebut justru Youngjae, penghuni rumah sebelah yang terkadang juga ia temui di kantor meski ruang kerja pria itu berjarak satu lantai di bawahnya.
Ekspresi terkejut berusaha disembunyikan oleh Youngjae, namun sayangnya tetap tertangkap basah oleh kedua mata sayu milik Jihoon yang mulai kehilangan cahayanya.
"Di mana Hanjin?" Tanya Jihoon dengan suara parau.
Belum sempat Youngjae menjawab, suara lembut Hanjin terdengar menggema dari dalam rumah. "Who's there, Kak?"
Suara yang Jihoon rindukan itu kembali dapat ia dengar menyapa telinga, membuat jantungnya berdetak kencang seiring dengan bunyi derap langkah kaki yang semakin nyaring, menandakan bahwa Hanjin mulai mendekat.
Kepala Hanjin menyembul dari balik bahu Youngjae dihiasi raut wajah bingung saat melihat kehadiran Jihoon. Rambutnya yang sebelumnya disemir oranye kemerahan kini berganti menjadi biru langit.
"Siapa ya?" Lelaki berambut biru itu bertanya, masih mempertahankan ekspresi wajahnya yang memancarkan kebingungan.
Kedua tungkai Jihoon semakin terasa lemas seakan ia bisa jatuh kapan saja setelah mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Hanjin. Keresahan mulai melanda hatinya yang gelisah, rentetan kemungkinan terburuk merayap perlahan memasuki kepala. Ketika ia hendak membalas, Youngjae lebih dulu menyela perkataannya.
"He's lost, salah rumah. Kamu masak duluan aja ya, aku anterin dia dulu."
Hanjin mengangguk tanpa curiga. Kemudian, ia kembali berderap masuk ke dalam rumah guna melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda. Meninggalkan Jihoon dan ribuan tanya tanya yang bersarang di benaknya.
"Sorry, I know it's confusing. Let me show you this." Ucap Youngjae sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menggulir layar selama beberapa detik sebelum akhirnya ditunjukkan kepada lelaki di hadapan.
Ia menatap lekat-lekat layar ponsel yang menampilkan foto berisi sebuah kartu berwarna coklat muda dihiasi beberapa kalimat yang terpatri di atasnya.
Dear Mr. Choi
Hanjin has had Han Jihoon erased from his memory. Please never mention their relationship to him again.
Air mata yang menggenang di pelupuk mata Jihoon mulai luruh sesaat setelah ia membaca tulisan di kartu tersebut. Seluruh energi yang tersisa di tubuhnya ia kerahkan agar tetap bernapas meski tersendat-sendat. Lelaki itu merasa ia kehilangan kendali atas raganya sendiri, bahkan tak sanggup untuk sekadar mengangkat tangan guna menyeka air mata yang terus mengalir menelusuri lekuk pipinya. Buket bunga yang sedari tadi dipegang pun berhasil lolos dari jari-jarinya tanpa disadari.
Prosedur menghapus ingatan yang iklannya selalu Jihoon temukan di sepanjang jalan menuju stasiun setiap berangkat bekerja itu ternyata telah merenggut ingatan sang kekasih akan kehadirannya. Setiap kenangan yang mereka lalui bersama kini hanya bisa diingat oleh dirinya seorang. Hal itu membuat amarah terperangkap di balik kedua matanya, melepas paksa tatapan sayu dan lelah yang tadi terpasang. Malam itu bagaikan mimpi paling buruk yang pernah ada, sungguh tak sudi ia biarkan tinggal di pikirannya untuk alasan apa pun.
Jihoon menelan saliva, berusaha meredam kegugupannya di kala alat yang berbentuk seperti tempurung kelapa yang dibelah dua itu dipasangkan di atas kepalanya. Benda itu mempunyai beberapa kabel berwarna putih, disambungkan ke sebuah mesin persegi panjang di sebelah kanannya. Ia hanya bisa terbaring kaku di atas kasur tanpa ada sepatah kata pun yang keluar, sudah terlalu letih menanggung segala luka tak kasat mata.
Kamar Jihoon seolah disulap menjadi ruangan aneh tak dikenal dalam semalam. Seorang dokter berpakaian serba putih mengambil sesuatu dari kantong plastik hitam besar berisi barang-barang yang berkaitan dengan Hanjin. Dikeluarkan olehnya satu bingkai berisi bunga kering. Tiga bunga matahari yang dikelilingi banyak shasta daisy sebagai pengisi kekosongan di dalam bingkai. Empat tahun lalu, Jihoon membelinya sebagai bunga segar di toko milik Hanjin guna merayakan hari kelahiran. Sengaja ia keringkan agar tetap hadir menjadi saksi bisu perjalanan hubungannya sejak awal bertemu.
"Ada yang bisa dibantu?" Seorang lelaki berambut hijau zaitun menghampiri Jihoon, sepertinya merupakan pemilik toko bunga yang ia singgahi.
"Bunga buat ulang tahun diri sendiri bagusnya apa, ya? Saya bingung karena belum pernah beli bunga," Jihoon terkekeh kecil sehabis bertanya. Menertawakan ketidaktahuannya mengenai hal-hal romantis seperti ini.
Yang ditanya tampak berpikir sejenak. Jihoon tanpa sadar memperhatikan dengan mata berbinar, tak menyangka kalau rambut hijau dapat membingkai apik wajah kecil yang cantik itu. Ia mengenakan kaus V-neck lengan panjang berwarna putih, memperlihatkan dua tahi lalat di bagian bawah leher jenjangnya. Apron hitam terpasang rapi pada pinggang rampingnya.
Jihoon terkesima selama beberapa saat. Tubuhnya terasa begitu ringan hingga ia nyaris percaya bahwa kedua kakinya tak lagi menapak bumi, melainkan melayang bebas di udara.
"What about three sunflowers? Artinya i love you. Biasanya dikasih ke pasangan, tapi bisa juga ke diri sendiri sebagai tanda self-love. Dan buat secondary-nya mungkin bisa shasta daisy karena melambangkan awal yang baru, cocok buat ulang tahun."
Jihoon mengangguk setuju, merespons lebih cepat dari dugaan. "Iya boleh, thank you."
"Sama-sama. My name is Hanjin by the way, kalau kamu?" Ia bertanya tanpa melirik lawan bicaranya. Kedua tangan si pemilik toko itu mulai sibuk mengambil bunga yang akan dirangkai.
"Jihoon. Han Jihoon. Nice to meet you, Hanjin."
It was nice to know you, Hanjin. I really meant it.
Bingkai itu menyingkir, digantikan oleh sebuah foto polaroid yang menampilkan Jihoon dan Hanjin tengah saling merangkul. Keduanya tersenyum malu lantaran harus pergi berkencan mengenakan kaus lengan pendek berwarna putih bertuliskan 'I love my boyfriend' disertai foto masing-masing di bagian tengahnya. Hari itu merupakan perayaan satu tahun hubungan mereka.
Hanjin tak kuasa menahan tawa setelah kamera polaroid yang dipegang sang adik berhasil memotret dirinya dan Jihoon. Ia tak menyangka Jihoon benar-benar datang menyusul ke rumah orang tuanya membawa dua buah kaus itu. Kaus aneh yang anehnya cocok dikenakan Hanjin, kendati rambutnya yang diwarnai merah ceri memberikan kesan kontras.
Ayah dan ibu Hanjin terkekeh pelan. Kakak perempuan dan dua adiknya terus bersiul sahut-sahutan, sungguh menjengkelkan tetapi juga lucu. Memancing tawa si rambut merah terdengar lebih kencang. Mengabaikan tatapan Jihoon yang mengaguminya tanpa kata.
Dalam hati, Jihoon aminkan setiap doa yang mampir di kepalanya. Doa agar mereka selalu bersama di setiap suka dan duka. Doa agar mereka senantiasa menyisihkan benang kebahagiaan milik masing-masing untuk menjahit ketenangan yang siap dikenakan oleh satu sama lain kala gundah gulana mengambil tempat paling besar di hati.
"Are you sure we're going on a date like this?" Hanjin bertanya, tetapi wajahnya seakan berharap mendapat gelengan dari kekasihnya.
"Why not?"
Seringai nakal terpasang di wajah Jihoon. Kemudian menarik pergelangan si cantik berambut merah di sebelahnya untuk ia bawa masuk ke dalam mobil. Tangan kirinya bergerak melambai penuh semangat kepada keluarga Hanjin. Kegembiraan pun terbit bagi mereka yang ikut bersukacita menyaksikannya.
Please let me keep this memory. Just this one.
Foto polaroid diambil kembali, sang dokter kini memperlihatkan satu buah cangkir putih bercorak kuning keemasan pemberian Hanjin. Ada retakan kecil di bagian bawahnya. Ketakutan mulai menjalar dari hati ke setiap sel otak Jihoon ketika memori tentang malam itu terbesit di benaknya.
"I don't really think we're matched now, Jihoon"
Gerakan mengaduk kopi di cangkir sontak terhenti saat telinga Jihoon menangkap kalimat yang keluar dari mulut kekasihnya.
"Listen. I know we're both busy with our own work, but I still have time to call you. Sedangkan kamu? Not even once." Lanjut Hanjin yang entah sejak kapan tengah berjalan mondar-mandir di sekitar dapur apartemen milik Jihoon sebagai upaya mengusir kekalutan yang menghantui.
"Aku cuma nggak mau ganggu kamu." Jawab Jihoon seraya menutup setoples gula usai mengambil isinya satu sendok teh.
Langkah teratur lelaki itu tertahan, menoleh ke arah lawan bicaranya dengan kening yang mengerut. "And do you think I called you just to bother?"
"Bukan begitu maksudnya, Hanjin. Maaf."
"Aku nggak butuh kata maaf, I'm really tired. It's already our third fight this month!" Hanjin menangkup wajah menggunakan kedua telapak tangannya yang basah. Kelenjar keringatnya terstimulasi secara berlebihan oleh saraf setiap kali kecemasan datang menghampiri, membuat telapaknya seolah habis direndam di dalam air.
"Are you villainizing me?" Jihoon menyugar rambutnya guna meluapkan frustrasi sebelum menyesap secangkir kopi di tangan.
"I am not villainizing you! Don't you realize that you always fall asleep setiap nonton film yang aku suka? Kamu tuh sering lupa sama ceritaku yang bikin aku harus nyeritain ulang berkali-kali. Have you ever tried to find out the meaning of each flower I gave you? Kamu nggak akan tau kalau aku nggak bilang, kamu nggak pernah berusaha buat cari tau. Do you even pay attention to me?"
Suara Hanjin terdengar goyah di akhir kalimat akibat tenggorokannya yang tercekat. Rasa sesak menyeruak masuk ke dadanya. Lelaki berambut oranye kemerahan itu menarik napas dalam-dalam.
"But, do you even remember anything about me? Minggu lalu waktu ke tempat nasi goreng langganan kita, aku sengaja suruh kamu pesen karena biasanya selalu aku. Dan yang dateng malah dua piring yang isinya sama persis, kamu bahkan nggak inget kalau aku nggak pernah pesen nasi goreng udang like you always do. I'm allergic to shrimp, and you still forgot about it even though I've told you so many times!" Jihoon membalas dengan nada yang tak kalah tinggi.
Cangkir putih di tangan lantas beradu dengan piring kecil yang menjadi pasangannya ketika diletakkan begitu keras oleh sang empunya. Segaris retakan kecil timbul di bagian bawahnya. Kopi hitam pekat yang masih sedikit panas pun tumpah mengenai ibu jari milik Jihoon.
"We're only going to hurt each other even more kalau begini terus," ujar Hanjin. Suaranya pelan dan lemah, hampir terdengar seperti bisikan.
Keheningan mulai menyergap. Hanya ada bunyi dentingan jarum jam dan suara embusan napas mereka yang bersahutan. Hanjin pun beranjak dari tempatnya berdiri, berangsur menjauh dari sang kekasih meski diliputi keraguan yang membungkus hatinya rapat-rapat.
"I promise I'll be better, Hanjin. We'll be better."
Perkataan Jihoon membuatnya berhenti sejenak.
"I'm too scared to promise you anything," jawab Hanjin tanpa menoleh ke belakang. Dilanjutkannya langkah yang tadi sempat dijeda, pergi begitu saja tanpa kata selamat tinggal.
Seharusnya Jihoon tak tinggal diam ketika melihat Hanjin semakin menjauh darinya. Seharusnya Jihoon menarik lelaki itu kembali ke pelukannya. Seharusnya mereka mengecup pipi satu sama lain yang basah karena air mata, seperti yang biasa keduanya lakukan usai bertengkar.
I can erase you from my mind, but getting you out of my heart is another story.
Cangkir tersebut disingkirkan dari pandangannya. Kemudian kembali berganti menjadi berbagai macam barang lain yang membuat bulir-bulir air mata Jihoon terus keluar tanpa ampun. Membasahi pipinya, mengalir masuk ke telinganya. Tak ada yang mampu ia lakukan selain menangis, bagai anak kecil yang hilang terhimpit di tengah padatnya lautan manusia.
Sampai akhirnya tiba pada barang terakhir, peta ingatan Jihoon tentang Hanjin telah sempurna. Dokter itu bertanya sekali lagi apakah ia betul-betul bersedia menghapus segala jejak eksistensi Hanjin dari otaknya.
Jihoon menghela napas berat. Ia takut melupakan. Namun juga tak sanggup bertahan. Seolah ada ribuan belati yang siap menggores setiap inci kulitnya dan menusuk setiap bagian tubuhnya jika ia memilih merengkuh segala kenangan itu seorang diri. Maka ia pun mengangguk kecil sebagai jawaban.
Tak lama, seorang teknisi yang sejak tadi berdiri di samping mesin persegi panjang itu mulai menekan beberapa tombol sambil sesekali berdiskusi bersama sang dokter. Kemudian, entah mengapa rasa kantuk menyerang Jihoon tanpa bisa ia lawan.
Lelaki itu tertidur lelap. Sangat lelap. Dan di esok hari ketika ia bangun, semua kenangan tentang Hanjin akan lenyap tak bersisa.
"Excuse me, do I know you?"
Jihoon dikagetkan oleh suara seorang lelaki yang tiba-tiba saja muncul di sampingnya saat ia sedang mengagumi jajaran bunga yang dipajang di depan toko.
"Kayaknya kita pernah ketemu deh," lanjut orang tak dikenal itu.
Kedua netra milik Jihoon menelitinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Really? But I don't think so."
"Kamu yang waktu itu salah rumah dan dibantu Kak Youngjae, kan?"
"Are we thinking about the same Youngjae yang bulan depan mau nikah sama that one actor named Shin Junghwan? He's also one of my coworkers."
Lelaki berambut biru langit itu mengangguk semangat, disusul oleh tawanya yang mengalun merdu.
"Tapi serius kamu nggak inget?" Ia bertanya lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Jihoon semakin memaksa otaknya untuk mengingat. Tetapi tak membuahkan hasil apa pun. Lagipula, mustahil mengingat hal yang ia rasa memang tak pernah terjadi dalam hidupnya.
"Saya nggak pernah ketemu dia selain di sekitaran kantor sih, and there's no way I got lost around here."
Kerutan timbul di kening si pemilik toko. "Let's just forget about it, mungkin saya salah orang. Anyway, What can I help you?"
"Today's my birthday, saya bingung harus beli bunga apa buat diri sendiri."
"Happy birthday! What's your name?"
"Jihoon. Han Jihoon. Kalau kamu?"
"Hanjin."
Jihoon mengulurkan tangan mengajak bersalaman, yang untungnya disambut baik oleh si rambut biru.
"Okay, Jihoon. I think you should buy three sunflowers, artinya i love you. Romantic, isn't it? Biasanya dikasih ke pasangan, tapi bisa juga ke diri sendiri sebagai tanda self-love. Dan buat secondary-nya aku saranin shasta daisy karena melambangkan awal yang baru, cocok buat ulang tahun." Lanjut Hanjin setelah berpikir sejenak. Tungkainya melangkah masuk ke dalam toko. Disusul Jihoon yang mengekor di belakang.
"That sounds good. Tolong ya, Hanjin." Lelaki itu tersenyum. Matanya melengkung perlahan dengan cara yang paling indah, terpatri sempurna di wajahnya.
Sang pemilik toko tadinya tengah bergerak cekatan mengambil semua yang dibutuhkan, namun ia sontak membeku selama beberapa detik. Terpesona melihat senyuman Jihoon yang menurutnya lebih cerah dari matahari pagi itu. Ia bertanya-tanya apakah lelaki di hadapannya sempat menjelma sebagai bunga matahari di kehidupan sebelumnya. Menari bahagia dengan kelopak kuning yang dirayu angin, memberi kehangatan bagi siapa saja yang melihatnya.
Berusaha mengalihkan perhatian, satu per satu bunga pun ia susun menggunakan teknik spiral. Jemarinya secara lincah menyilang setiap batang bunga dengan penuh cinta hingga membentuk rangkaian yang kokoh dan seimbang. Diambilnya gunting yang tergeletak di meja guna memotong sisa-sisa batang agar panjangnya merata. Kemudian melilitkan selotip bening di bagian tengah secara teliti, siap menggantikan peran jemari Hanjin yang sejak tadi sibuk menahan.
Tak butuh waktu lama bagi Hanjin untuk menyerahkan buket tersebut ke tangan si pembeli setelah dibalut rapi menggunakan kertas pembungkus. Lelaki yang berulang tahun itu pun mengeluarkan uang tunai sebagai alat pembayaran setelah diberi tahu total harganya.
Jihoon keluar dari sana ditemani kegembiraan yang meluap. Ia merapikan posisi tas kerjanya yang tersampir di pundak. Netranya berbinar menatap buket bunga yang terlihat sangat pas di genggaman. Diam-diam dirinya sedikit berharap agar selalu punya alasan untuk mengunjungi toko bunga itu di lain hari. Entah membeli bunga, ataupun hanya bertukar sapa dengan sang pemilik.
