Work Text:
GOR Universitas Nawasena masih dipenuhi sorak-sorai ketika lampu panggung perlahan meredup.
Yudistira berdiri di tengah sorotan cahaya lampu panggung dengan gitar yang masih tergantung di bahunya. Keringat membasahi pelipisnya setelah hampir dua jam tampil tanpa henti. Namun, senyum lebar yang menghiasi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Sorak penonton menggema memenuhi ruangan, bercampur dengan tepuk tangan dan teriakan yang saling bersahutan.
Dari bangku penonton, Arjuna memperhatikan semua itu dalam diam. Jujur saja, ia sudah berkali-kali menyaksikan Yudistira tampil. Di acara festival sekolah, pensi, hingga lomba band antar kota… ia selalu hadir di sana untuk menyaksikan.
Bahkan, saat pemuda itu nekat tampil di acara perpisahan SMP mereka bertahun-tahun lalu dengan kemampuan bermain gitar yang alakadarnya, Arjuna juga berdiri di sana menyaksikan sepak terjang pemuda itu. Meski pun demikian, setiap kali melihatnya tampil berdiri di atas panggung, perasaan yang sama selalu muncul.
Kagum.
Yudistira itu selalu terlihat berbeda ketika berada di bawah warna-warni sorotan lampu panggung.
Rambut hitamnya yang sedikit berantakan tampak berkilau diterpa cahaya, sementara helai rambut hijau di sisi kiri wajahnya nampak semakin mencolok. Mata zamrudnya terlihat hidup, memantulkan cahaya lampu panggung dengan cara yang begitu berwarna dan menyilaukan. Ditambah lagi senyum khas yang selalu muncul ketika ia memainkan musik yang disukainya, senyum ringan yang penuh kebebasan dan kebahagiaan.
Arjuna tidak heran mengapa banyak orang menyukainya. Sulit untuk tidak menyukai seseorang seperti Yudistira.
Ketika konser resmi berakhir, kerumunan mahasiswa langsung bergerak mendekati area belakang panggung, tak terkecuali Arjuna. Tangannya secara refleks merapikan kertas pembungkus buket bunga yang sedari tadi ia peluk di dada.
Awalnya ia memang berniat memberikan ini secara langsung seraya memberi ucapan selamat mungkin. Ia tahu seberapa keras latihan yang sang sahabat jalani untuk penampilan hari ini. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sekelompok mahasiswa sudah lebih dulu mengerubungi Yudistira.
Pemuda manis itu dapat melihat teman-teman band dan fakultasnya mengerumuni Yudistira dengan antusias. Tawa mereka pun terdengar riuh bahkan dari kejauhan. Pemuda itu berdiri di tengah kerumunan dengan wajah yang masih memerah setelah tampil. Seseorang nampak merangkul pundaknya, yang lain menepuk-nepuk kepalanya, dan beberapa orang bahkan berebut mengajaknya berfoto.
Untuk sesaat, Arjuna merasa dirinya agak asing, berdiri di sana sendirian tanpa ada kawan yang menemani. Perasaan itu muncul begitu saja tanpa bisa ia cegah. Ia merasa keduanya seakan berdiri di dunia yang berbeda sejak memasuki jenjang perguruan tinggi ini.
Yudistira selalu tampak begitu mudah menemukan tempatnya di mana pun ia berada. Pemuda itu mengenal banyak orang, disukai banyak orang, dan menjalani hari-harinya dengan ringan seolah dunia memang diciptakan untuk menyambutnya dengan ramah.
Sementara itu, Arjuna justru menghabiskan sebagian besar waktunya berpindah dari ruang kelas ke ruang rapat, dari latihan debat ke persiapan kompetisi berikutnya. Hari-harinya dipenuhi tenggat waktu, tumpukan berkas, dan target-target yang tidak pernah berhenti bertambah.
Mereka masih sering bertemu, masih mengobrol hampir setiap hari, bahkan masih saling menghubungi untuk hal-hal remeh seperti dulu. Namun sore ini, saat melihat Yudistira berdiri di tengah kerumunan dengan senyum yang begitu cerah dan tawa yang begitu lepas, Arjuna mendadak merasa seperti seorang penonton yang sedang mengamati kehidupan sahabatnya dari kejauhan.
Bukan karena Yudistira berubah atau menjauhinya, melainkan karena untuk pertama kalinya ia menyadari betapa luas dunia yang dimiliki pemuda itu dan betapa kecil serta sempit dunianya sendiri terasa jika dibandingkan.
"Permisi, Mas."
Suara seseorang membuatnya tersadar dari lamunannya.
Salah satu anggota staf band kampus kebetulan melintas di dekatnya sambil membawa beberapa peralatan yang baru saja dibereskan dari belakang panggung. Melihat kesempatan itu, Arjuna segera melangkah mendekat. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram gagang buket bunga yang sedari tadi ia peluk di dada sebelum akhirnya menyodorkannya ke arah mahasiswa tersebut.
"Um, maaf... tapi apa bisa titip ini buat Yudistira?"
Staf itu tampak sedikit terkejut, tetapi tetap menerima buket tersebut dengan ramah. Pandangannya bergantian berpindah dari bunga-bunga yang tersusun rapi itu menuju wajah Arjuna.
"Oh, kenapa gak kasih sendiri, Kak?"
Pertanyaan sederhana itu entah mengapa membuat senyumnya seakan membeku.
Arjuna hanya bisa terdiam membisu. Tatapannya secara refleks beralih ke arah kerumunan yang masih mengelilingi Yudistira di kejauhan.
Pemuda itu tengah tertawa lepas menanggapi sesuatu yang dikatakan salah seorang temannya, sementara beberapa orang lain sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel. Cahaya lampu panggung yang belum sepenuhnya dipadamkan masih jatuh menyinari dirinya, membuat sosok itu terlihat begitu mencolok di antara lautan orang-orang yang mengelilinginya.
Ia bisa saja menghampiri pemuda itu seperti biasanya. Bagaimanapun, mereka sudah saling mengenal selama kurang lebih sepuluh tahun. Tidak ada alasan baginya untuk merasa sungkan. Namun anehnya, kedua kakinya justru terasa berat untuk melangkah mendekat.
"Gak ada alasan khusus sih, Kak. Tolong itu diserahkan ke Yudistira, ya. Terimakasih."
Pada akhirnya hanya itu jawaban yang keluar. Suaranya pun terdengar jauh lebih pelan daripada yang ia kira. Staf di hadapannya tampak ingin bertanya lebih lanjut, tetapi urung untuk melakukannya. Ia hanya mengangguk kecil sebelum membawa buket tersebut pergi.
Untuk beberapa saat, Arjuna tetap berdiri di tempatnya, memandangi punggung orang itu yang semakin menjauh. Isi kepalanya mulai berisik dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri. Jika memang hanya ingin mengucapkan selamat, lalu mengapa ia tidak bisa melakukannya secara langsung?
Mengapa ia justru memilih bersembunyi di balik perantara?
Mengapa ia merasa begitu canggung hanya untuk berjalan beberapa langkah menuju sahabatnya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya tanpa jawaban yang jelas, sampai akhirnya ia memilih mengabaikannya dan berjalan balik menuju pintu keluar GOR. Arjuna menyadari bahwa sebuah perasaan asing, samar, dan sulit dijelaskan kini telah tumbuh di sudut hatinya tanpa permisi. Namun, biarlah hal tersebut tetap menjadi tanda tanya untuk sementara waktu.
Ketika akhirnya melangkah keluar dari GOR, Arjuna langsung disambut oleh udara lembap yang membawa aroma petrichor yang khas. Entah sejak kapan, langit di atas komplek kampusnya telah berubah kelabu. Awan-awan tebal menggantung rendah di atas bangunan kampus seolah menutupi seluruh cakrawala, sementara rintik hujan turun perlahan membasahi jalanan yang mulai lengang.
Pemuda manis itu akhirnya berhenti di bawah kanopi pintu masuk dan menghela napas panjang. Saat mencoba meraih sesuatu di dalam tas jinjingnya, ia juga menyadari satu fakta yang cukup menyebalkan lainnya.
Ia lupa membawa payung.
"Sial banget gue hari ini, ya ampun..."
Gumamannya tenggelam di antara suara derai hujan yang turun semakin deras. Dengan kedua tangan terselip ke dalam saku mantel, ia memilih menunggu sambil bersandar pada salah satu tiang penyangga. Sepasang kelereng kelabu miliknya mengikuti tetesan air yang jatuh berkejaran dari tepian atap sebelum pecah menjadi riak-riak kecil di atas aspal. Hujan memang selalu memiliki cara aneh untuk membuat pikirannya mengembara jauh ke angkasa dan malam itu pun tidak berbeda. Tanpa sadar, ingatannya melayang jauh ke belakang.
Saat itu mereka masih anak-anak…
Arjuna masih bisa mengingat samar-samar kejadian kala itu. Ia ingat bagaimana dirinya yang masih kecil berdiri kebingungan di bawah halte tua dekat sekolah dasarnya ketika hujan turun secara tiba-tiba. Ia lupa membawa payung, sementara jalanan di depannya berubah menjadi lautan air yang membuatnya enggan melangkah pulang. Lalu di tengah guyuran hujan itu, muncul seorang bocah laki-laki dengan cengiran lebar yang memegang payung berwarna kuning terang.
Bocah itu berhenti tepat di depannya lalu tanpa basa-basi berkata, "Rumah kamu ke arah sana juga, kan? Bareng aja, yuk!"
Iya, bocah itu Yudistira Yogendra.
Tidak ada perkenalan yang dramatis di antara keduanya. Namun sejak hari itu, Yudistira seolah terus hadir dalam hidupnya. Mungkin karena itu jugalah Arjuna selalu menyukai hujan. Karena setiap kali mendengar suara rintiknya, kenangan pertama yang muncul di benaknya selalu berkaitan dengan bocah kecil dan payung kuningnya yang mencolok itu.
Senyum kecil tanpa sadar terbit di sudut bibirnya.
Namun, waktu terus berjalan. Hujan yang sudah turun mengguyur bumi sejak sejam yang lalu belum kunjung reda padahal langit sudah semakin gelap. Lampu-lampu di area sekitar GOR mulai dipadamkan satu per satu seiring berlalunya waktu. Riuh mahasiswa yang tadi memenuhi kawasan itu juga telah lama menghilang. Kini yang tersisa hanyalah suara hujan, deru angin malam, dan cahaya kekuningan dari beberapa lampu taman yang masih menyala di kejauhan. Arjuna pun melirik layar ponselnya.
Hampir pukul delapan malam.
"Ini hujan niat banget ya, gue lihat-lihat."
Ia mendecak pelan. Menunggu lebih lama jelas bukan pilihan yang bijak. Kosnya memang tidak terlalu jauh dari kampus, tetapi tetap cukup merepotkan jika harus ditempuh dengan berjalan kaki di tengah hujan deras seperti ini. Setelah mempertimbangkan selama beberapa menit, akhirnya ia menghela napas pasrah.
"Ya udahlah. Basah-basahan dikit juga nggak bakal mati."
Begitu selesai bergumam, ia segera melangkah maju hendak menerobos tirai hujan di hadapannya. Tepat saat itulah sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
Arjuna membeku. Seluruh bulu kuduknya berdiri seketika. Dalam kondisi GOR yang hampir kosong dan pencahayaan yang mulai redup seperti ini, otaknya langsung melompat pada kemungkinan paling tidak masuk akal.
Refleks, pemuda itu menoleh dengan cepat.
"ASTAGA—"
Kalimat berikutnya terhenti sebelum sempat keluar karena di hadapannya berdiri seseorang yang sangat ia kenal. Sosok familiar itu berdiri tepat di belakangnya lengkap dengan cengiran jahil khas miliknya. Beberapa helai rambutnya tampak lembap akibat terkena tempias hujan, sementara sepasang mata zamrud yang khas itu kini menyipit menahan tawa.
Yudistira!
Dan Si Tengil itu terlihat sedang berusaha keras untuk tidak tertawa.
"Ekspresi kamu itu lho Jun, lucu banget tahu gak?"
Arjuna langsung menghembuskan napas panjang sambil mencibir kesal.
"Lu tau gak sih kalau jantung gue hampir copot?"
"Nah, itu tandanya berarti jantung kamu masih sehat."
Mendengar nada jawaban yang serampangan itu, Arjuna langsung memutar bola matanya jengah. Tindakan yang justru membuat Yudistira semakin sulit menahan senyumnya. Setelah beberapa saat, ekspresi kesal di wajah pemuda itu perlahan berubah menjadi ekspresi bingung.
"Bukannya lu harusnya ada rencana party sama anak-anak band?"
Yudistira pun hanya meresponnya dengan mengangkat bahu santai.
"Tadinya iya, tapi gak dulu deh.”
"Lha kenapa gak dulu? Ada acara lain?"
Alih-alih menjawab langsung pertanyaannya, Yudistira justru menatapnya beberapa detik lebih lama. Hal tersebut jujur saja cukup membuatnya salah tingkah. Pemuda itu cukup lama memandanginya sebelum senyum tipis perlahan muncul di wajah kelewat cantiknya. Ia pun menjawab dengan nada ringan, "Iya, kamu acaranya. Masa aku membiarkan cowok canteng jalan sendirian di malam hujan begini?"
Arjuna pun merasa wajahnya langsung memanas.
"Canteng apaan sih? Cantengan? Gak jelas lu!"
"Cantik dan ganteng lah. Kayak kamu."
"Ah elah, kocak lu!"
Yudistira tertawa pelan ketika melihat sahabatnya makin salting hingga seluruh wajahnya memerah. Pemuda itu sungguh mengingatkannya pada warna kepiting rebus, yang juga menjadi panggilan sayangnya untuk Arjuna. Kala tawanya sudah mereda, sorot jahil di mata zamrud itu perlahan melunak menjadi sesuatu yang jauh lebih hangat.
"Aku serius," Kali ini suaranya terdengar lebih rendah. “Gak mungkin aku tega ninggalin kamu pulang sendiri pas hujan begini."
Oh, jangan lupakan tatapan pemuda itu. Tatapan yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan dan pikirannya berantakan dengan cara yang memalukan. Ia hanya mampu berdoa dalam hati supaya Tuhan memberikannya kekuatan dan ketabahan karena Arjuna rasanya ingin melarikan diri dari sana sekarang juga.
Belum sempat Arjuna melanjutkan pergulatan batinnya, Yudistira sudah kembali membuka mulutnya.
"Oh iya," Yudistira berbicara sambil berjalan ke sampingnya. "Kenapa tadi buketnya gak dikasih langsung?"
Tentu saja Arjuna yang baru saja berusaha menenangkan dirinya langsung merasa tersedak oleh pertanyaan itu.
"..."
"Gak mau jawab?"
"..."
"Jun?"
Pemuda manis itu hanya bisa membuka mulut lalu menutupnya lagi, begitu seterusnya.
Aneh sekali.
Padahal tadi ia sudah mencoba memikirkan jawabannya berkali-kali. Namun sekarang ketika harus menjelaskannya kepada orang yang bersangkutan secara langsung, ia justru tidak tahu harus berkata apa. Jika dipikir-pikir lagi pun, ia sendiri tidak benar-benar memahami alasan di balik tindakannya saat itu. Semakin ia berusaha mencari jawaban, semakin bingung dirinya dibuat.
Melihat ekspresi Arjuna yang berubah antara panik, bingung, dan malu dalam satu waktu, Yudistira hanya melempar senyum kecil lalu menggeleng maklum.
"Yaudah. Gak usah terlalu dipikirkan. Makasih ya untuk bunganya, Juna. Aku suka."
Ia lantas membuka payung hitam yang sedari tadi dibawanya. Kanopi lebar itu langsung terbentang di atas kepala mereka, memutus suara rintik hujan yang jatuh dari langit. Tanpa banyak bicara, Yudistira mengulurkan tangannya dan menarik lembut lengan Arjuna.
"Ayo pulang."
Kali ini, Arjuna tidak membantah. Mereka pun mulai berjalan berdampingan menyusuri jalan kampus yang telah basah oleh guyuran hujan. Lampu taman memantulkan cahaya keemasan di atas genangan air yang tersebar di sepanjang trotoar. Angin malam turut meriuhkan suasana dengan membawa aroma tanah basah yang menenangkan.
Sesekali Yudistira bercerita tentang kekacauan yang terjadi di balik panggung konser, sedangkan Arjuna menanggapinya dengan komentar-komentar sarkastik yang selalu berhasil mengundang gelak tawa pemuda itu. Percakapan mereka mengalir begitu saja, ringan dan akrab seperti yang selalu terjadi selama bertahun-tahun mereka bersama.
Di tengah rinai hujan yang terus berlomba untuk mencapai pangkuan bumi, Arjuna mendadak menyadari satu hal. Ia mulai berpikir, barangkali hujan memang selalu menjadi kenangan manis baginya. Karena sejak awal, tatkala hujan turun dan menjebak raganya, Yudistira ada di sana.
Perjalanan menuju kos Arjuna tidak terasa terlalu lama.
Entah karena hujan yang perlahan mereda atau karena percakapan mereka yang tidak pernah benar-benar putus, langkah demi langkah terasa berlalu begitu saja hingga akhirnya bangunan kos tiga lantai yang sudah sangat familiar bagi keduanya muncul di ujung jalan. Lampu teras yang berwarna kekuningan memantul lembut di atas jalanan yang masih basah, sementara suara hujan yang jatuh di atas payung dan pepohonan menjadi musik latar bagi perjalanan pulang mereka.
Begitu sampai di depan pintu kamar, Arjuna segera merogoh saku mantelnya untuk mencari kunci sambil berbocara, "Yudis…"
"Hm?"
"Gue rasa lu nginep sini aja malam ini, deh."
Yudis yang sedang berdiri bersandar pada dinding koridor langsung menoleh.
"Lah, kenapa?"
"Hujannya masih belum berhenti gitu," Pemuda itu bergerak untuk membuka pintu kamarnya sebelum melanjutkan dengan nada yang membujuk, "Terus juga kalau lu sekarang maksa balik, malah muter jauh. Lagian vespa lu malah ditinggal di parkiran FEB. Gimana, sih?"
"Ya kan GOR ke kos kamu lebih deket daripada ngambil vespa-ku dulu. Udahlah, aku jalan dikit juga gak masalah."
Arjuna giliran menatap pemuda itu dengan tatapan super datar yang cukup membuatnya menelan ludah.
"Nanti kalau lu sakit, gimana kocak? Lagian lu kayak pertama kali nginep sini aja. Udah males ya sama gue?"
“Ya, gak gitu juga, Juna…”
Karena memang tidak menemukan alasan yang cukup kuat untuk membantah, pada akhirnya Yudistira hanya mampu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Iya, baiklah Yang Mulia Arjuna Arkuna. Aku nginep deh."
Melihat respon dramatis tersebut, Arjuna hanya mampu mendengus pelan sebelum melepas sepatunya dan mendorong bahu pemuda itu untuk masuk ke dalam kamar.
Ruangan yang mereka masuki tidak terlalu besar, tetapi terasa nyaman dan rapi. Rak buku memenuhi salah satu sisi dinding, sebagian besar berisi buku-buku hukum dengan sampul tebal yang terlihat cukup mengintimidasi. Di atas meja belajar, beberapa berkas dan catatan masih tersusun rapi di samping laptop yang masih tertutup. Aroma khas teh melati dan bunga mawar langsung menyambut mereka begitu pintu tertutup.
Begitu meletakkan tasnya, Arjuna seolah langsung beralih ke mode yang sangat familiar bagi Yudistira.
Mode cerewet.
"Nih, handuk," Sebuah handuk bersih tiba-tiba mendarat di pelukannya. "Lu mandi dulu sana!"
Yudistira yang bahkan belum sempat duduk hanya bisa berkedip.
"Lah, kamu dulu lah ini. Kok malah aku?"
"Lu gak lihat setengah badan lu udah basah semua gitu? Lagian sok ngide payungnya dikasihin ke gue nyaris semuanya."
"Tapi kamu juga kehujanan itu..."
"Gue masih mending, ya. Udah sana! Makin lama lu debat, makin lama juga gue begini!"
Yudistira mengamati ujung rambut hitam sang pemuda manis yang masih tampak lembap, lantas membuka mulut hendak membalas. Namun, ia merasa logika pemuda itu mematahkan segala bentuk argumentasi yang kini tersusun di otaknya.
Melihat ekspresi pasrah yang akhirnya muncul di wajah sahabatnya, Arjuna sendiri tampak cukup puas.
"Nah, gitu dong dari tadi."
Pemuda itu segera berjalan menuju meja di pojok ruangan yang berperan sebagai pantry sambil melepas mantel dan jam tangannya.
"Gue bikin minuman hangat sama pesen makan malam dulu, ya."
Yudistira hanya bisa menggeleng pelan sambil berjalan ke arah kamar mandi, tak ingin membuang banyak waktu lagi. Sepuluh tahun berteman ternyata masih belum cukup untuk membuatnya menang dalam perdebatan dengan Arjuna.
Sementara pemuda bermata zamrud itu akhirnya masuk ke kamar mandi, Arjuna kini sibuk mengisi ketel listrik dengan air sebelum menyalakannya. Suara gemericik air dan dengungan pelan alat pemanas segera memenuhi ruangan yang semula sunyi. Ponselnya tergeletak di atas meja pantry kecil sambil menampilkan aplikasi pemesanan makanan yang sedang ia buka. Setelah beberapa menit menimbang pilihan, ia akhirnya memesan dua porsi nasi goreng dan camilan tambahan yang menurutnya pasti akan disukai sang sahabat.
Begitu semua urusan itu selesai, pikirannya langsung beralih ke hal lain, yakni baju ganti Yudis.
Dengan langkah santai, pemuda manis itu membuka salah satu laci lemari dan mengeluarkan beberapa potong pakaian yang sangat ia hafal. Sebagian kecil dari tumpukan pakaian yang terdapat di sana bukan miliknya, melainkan milik pemuda yang kini tengah menghuni kamar mandi miliknya. Diambilnya sebuah kaos hitam kebesaran, celana training abu-abu, dan sebuah hoodie kalau-kalau nanti Yudistira membutuhkannya.
Pemandangan itu mungkin akan terasa aneh bagi orang lain, tetapi tidak bagi mereka berdua. Selama tahun pertama kuliah, ketika semuanya masih terasa asing dan membutuhkan banyak sekali adaptasi, mereka sering menginap di tempat satu sama lain. Sebagian barang pribadi mereka pun perlahan berpindah tempat tanpa pernah benar-benar kembali ke pemiliknya.
Awalnya hanya sikat gigi cadangan, lalu charger, kemudian baju. Sampai akhirnya masing-masing kamar menyimpan cukup banyak barang milik satu sama lain. Anehnya, Arjuna baru menyadari betapa tak biasanya hal itu sekarang. Kehadiran Yudistira memang seolah begitu menyatu dalam kesehariannya hingga keberadaan barang-barang tersebut di kosnya sama sekali tidak terasa janggal.
Ia menggeleng kecil untuk mengenyahkan pikirannya yang semakin liar tersebut, sebelum membawa setumpuk pakaian itu ke dekat pintu kamar mandi.
"Dis..."
Suara gemericik air di balik pintu berhenti sesaat.
"Apa?"
"Baju lu gue taruh di meja."
"Oke."
"Jangan keluar pakai handuk doang kayak kemarin. Awas aja lu!"
Hening selama dua detik, lalu terdengar suara tawa dari balik pintu. Arjuna hanya mampu memutar bola matanya, sudah terlampau hafal dengan kelakuan pemuda cantik itu.
"Dasar."
Ia pun meninggalkan pintu kamar mandi sebelum Yudistira sempat melontarkan komentar yang menyebalkan. Kembali ke area mini pantry, pemuda itu mengambil dua cangkir dari rak penyimpanan lalu mulai menyeduh teh dengan air yang sudah mendidih. Ia lantas mengiris dan mememarkan jahe yang tersimpan di rak penyimpanan miliknya sebelum memasukkannya ke dalam seduhan teh tadi diikuti dengan madu dan serai.
Aroma khas teh hijau dengan sedikit sensasi pedas segera memenuhi udara ketika uap tipis mulai mengepul dari permukaan kedua cangkir tersebut. Arjuna berdiri sejenak di depan meja pantry sambil mengaduk perlahan minuman itu dengan sendok kecil. Suara dentingan logam yang beradu dengan dinding cangkir terdengar pelan di tengah keheningan kamar yang hanya ditemani oleh bunyi hujan di luar jendela serta gemericik air dari kamar mandi.
Pandangannya tanpa sadar beralih ke arah kaca jendela yang mulai dipenuhi titik-titik air. Di balik sana, malam telah sepenuhnya turun. Nyala lampu berpendar samar dari balik tirai hujan, menciptakan pemandangan yang terlihat tenang sekaligus sendu. Arjuna meregangkan tubuhnya sejenak sebelum membawa kedua cangkir itu ke atas meja. Jemarinya masih merasakan hangat dari keramik yang baru saja disentuh, perlahan mengusir dingin yang sejak tadi menempel di tubuhnya akibat berjalan di tengah hujan.
Cukup lama pemuda manis itu melamun sambil menyesap wedang hangatnya, hingga ia hampir tidak menyadari bahwa suara gemericik air dari kamar mandi telah berhenti. Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Yudistira keluar sambil mengusap rambutnya yang masih setengah basah dengan handuk kecil.
Kaos hitam kebesaran yang tadi disiapkan Arjuna terlihat sedikit longgar di tubuhnya, sementara beberapa helai rambut hitam dengan beberapa helai hijau khasnya jatuh berantakan menutupi dahi. Uap hangat dari kamar mandi masih mengikuti langkahnya ketika pemuda itu berjalan menuju meja dan langsung meraih cangkir yang belum tersentuh.
"Hmm," Yudistira mengeluarkan suara puas setelah menyesap minuman hangat tersebut. "Enak."
Arjuna yang mendengar pujian tersebut sontak menampilkan senyum penuh kesombongannya.
"Hmph, ya iyalah. Siapa dulu yang buat!"
"Kayaknya kamu cocok buka warung wedang jahe deh, Jun."
"Nah, gitu. Puji gue terus!"
"Alah, malas. Besar kepala kamu, ya."
Tawa ringan keduanya pun mengisi ruangan yang sejak tadi diliputi keheningan. Melihat rona wajah Yudistira yang sudah kembali segar dan tidak lagi nampak kedinginan, Arjuna pun akhirnya beranjak untuk mengambil pakaian ganti miliknya sendiri sebelum berjalan menuju kamar mandi.
"Gue mandi dulu, ya. Makan duluan aja kalau udah lapar, Dis."
"Siap, Bos~"
Jika Yudistira adalah orang yang bisa selesai mandi dalam hitungan menit, maka Arjuna adalah kebalikannya.
Selain karena ia memang suka berdiam lebih lama di bawah guyuran air hangat ketika cuaca dingin, rutinitas malamnya juga memang cukup panjang. Setelah mandi, masih ada rangkaian pembersih wajah, toner, serum, pelembap, dan berbagai produk lain yang selalu membuat Yudistira geleng-geleng kepala setiap kali melihatnya. Anehnya, pemuda cantik itu suka sekali mengamatinya saat melakukan rutinitas tersebut.
Yudistira juga senang sekali melempar berbagai godaan berbalut pujian setiap kali melihat rutinitas malamnya dan seperti biasa, Arjuna selalu memilih untuk mengabaikannya. Ia terlalu malu untuk mengakui kalau setiap godaan dan pujian yang diberikan pemuda itu menimbulkan efek tertentu pada dirinya. Di saat yang bersamaan, ia juga tahu pemuda itu hanya suka memancing reaksi tersebut darinya yang katanya sih lucu dan menghibur. Memikirkannya saja sudah cukup untuk membuat Arjuna ingin mencubit sayang pemuda itu.
Malam itu pun rutinitasnya tidak berbeda.
Ketika akhirnya ia selesai dan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit lembap, suasana kamar sudah berubah jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Hujan masih turun di luar jendela, menyisakan suara rintik lembut yang sesekali menghantam kaca. Lampu kamar nampak dengan hangat menerangi ruangan dengan cahaya temaram yang nyaman.
Di atas sofa yang berada tidak jauh dari meja makan, Yudistira nampak sudah terkapar tanpa perlawanan. Melihat itu, Arjuna tak kuasa menahan tawa kecil yang lolos dari bibirnya. Ada rasa geli sekaligus kilat maklum dalam tatapannya, seolah pemandangan semacam ini adalah sesuatu yang sudah ia prekdisikan. Dari posisinya berdiri, ia juga dapat melihat bungkus nasi goreng milik pemuda itu sudah kosong bersih tanpa sisa. Bungkusan berisi camilan yang tadi ia pesan juga sudah terbuka dan berkurang hampir setengahnya.
Syukurlah, setidaknya pemuda itu sempat makan terlebih dahulu sebelum menyerah pada rasa kantuknya.
Yudistira memang seperti itu. Kalau sudah lelah, ia bisa tertidur di mana saja. Pernah sekali pemuda itu tertidur di ruang sekretariat UKM dan baru ditemukan beberapa jam kemudian oleh penjaga gedung yang hendak mengunci ruangan. Sorot mata Arjuna tanpa sadar melembut, sementara ia langkahkan kakinya ke arah lemari. Dari dalam sana, ia mengambil selimut tebal berwarna abu-abu yang biasa ia gunakan saat cuaca dingin. Langkahnya ia buat sepelan mungkin saat mendekati sofa, enggan mengganggu damainya lelap sang sahabat.
Yudistira nampak masih tertidur pulas. Dadanya naik turun perlahan mengikuti ritme napas yang teratur. Dengan hati-hati, Arjuna membentangkan selimut itu lalu menyelimutinya hingga rapat. Pemuda itu bergeming sedikit ketika kain hangat menyentuh tubuhnya, tetapi kemudia kembali melanjutkan tidurnya dengan tenang.
Arjuna awalnya berniat beranjak dari sana setelah memastikan kalau Yudisrira sudah nyaman, namun untuk suatu alasan yang masih sulit ia pahami, langkahnya justru terpaku di tempat. Sepasang kelereng sewarna langit kelabu miliknya jatuh pada wajah yang sedang tertidur tersebut.
Ia dapat melihat guratan lelah terukir jelas di wajah Yudistira Di balik senyum, tawa, dan sikap santainya selama ini, Arjuna tahu betul bahwa pemuda cantik itu pasti merasa kelelahan. Mulai dari band kampus, kuliah, sampai lingkaran pertemanan yang tiada habisnya itu, menangani semua itu tentu saja membutuhkan energi ekstra. Oleh karena itu, kala Arjuna melihat wajah damai yang akhirnya muncul di wajah sahabatnya, ia hanya bisa merasakan lega yang begitu luar biasa.
Senyum kecil tanpa sadar kembali terbit di bibirnya.
"Akhirnya, istirahat juga ya kamu..."
Gumamannya terdengar sangat pelan. Tanpa pemuda itu sadari, ia telah mengulurkan tangannya ke arah Yudistira. Ujung jari telunjuknya menyentuh pelan ujung hidung pemuda itu. Sebuah sentuhan ringan yang nyaris tidak terasa pun jatuh di ujung hidung bangir tersebut. Tindakan sederhana itu sontak membuat dirinya sendiri merasa geli dan hangat di saat yang bersamaan. Arjuna lantas terkikik geli seakan mentertawakan kekonyolannya sendiri.
"Selamat malam, Yudistira," Suaranya begitu lembut hingga hampir tenggelam oleh suara hujan. "Semoga mimpimu indah."
Setelah itu, ia akhirnya berbalik dan mendudukkan dirinya di depan meja untuk menghabiskan makan malamnya sendiri.
Yang tidak ia sadari adalah beberapa detik setelah sosoknya membelakangi sofa, sepasang mata zamrud perlahan terbuka. Yudistira menatap punggung Arjuna yang kini sedang sibuk membuka kotak makanannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tatapannya masih sedikit buram karena kantuk, tetapi cukup jelas untuk menangkap senyum kecil yang belum sepenuhnya hilang dari wajah manis pemuda itu ketika ia menoleh ke samping sejenak.
Sudut bibir pemuda itu pun ikut terangkat tipis.
Bagaimanapun juga, Sang Nada sesungguhnya telah terjaga sejak jemari hangat Sang Mentari mendarat begitu lembut di ujung hidungnya.
Ia sengaja membiarkan pemuda itu melakukan apapun yang ingin dia lakukan karena ia adalah Arjuna Arkana seorang.
TBC.
