Actions

Work Header

We, of Shared Midnights

Summary:

Selama ini selalu ada "aku" dan "kamu".
Tanpa disadari, "aku" dan "kamu" perlahan berubah menjadi "kita".

[ Ada kehangatan yang tak pernah benar-benar diberi nama. Tersaji dalam semangkuk mie hangat, terselip di sela tawa yang pecah saat bermain, lalu berakhir pada tepukan lembut yang mengantar seseorang dalam lelapnya. ]

WE adalah kumpulan potongan-potongan kecil dari perjalanan Yudistira dan Arjuna menuju hal tersebut.

Notes:

Late entry untuk Notesun Fluff Week kemarin. Maaf sangat terlambat, ya TT

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Malam akhir pekan biasanya menjadi waktu melepas penat bagi Yudistira.

Setelah satu minggu penuh diisi oleh jadwal kuliah, latihan band, rapat organisasi, serta berbagai kegiatan lainnya, malam seperti ini biasanya ia habiskan di depan laptop bersama teman-teman sesama streamer yang sudah dikenalnya sejak lama. 

Lampu utama apartemennya sengaja dimatikan, menyisakan cahaya hangat dari lampu meja di sudut ruangan dan sorot monitor yang memantul lembut pada wajahnya. Hamparan lampu kota berkelap-kelip di bawah langit malam yang cerah, sementara pendingin ruangan berdengung pelan mengisi keheningan.

Namun berbeda dari biasanya, malam ini ia tidak berniat membuka POV siaran.

Tubuhnya masih menyimpan sisa kelelahan dari rangkaian kegiatan band kampus beberapa hari terakhir. Mulai dari latihan tambahan, gladi bersih, hingga konser yang berlangsung hampir seharian penuh membuat energinya terasa terkuras habis. Karena itulah ketika panggilan grup dari Bima, Nakula, dan Sadewa masuk ke perangkatnya, Yudistira sempat berpikir untuk menolak.

Sayangnya, ketiga manusia itu tidak mengenal kata menyerah.

"Ayo lah, Yud." Suara Bima terdengar paling berisik dari headset. "Kita kurang satu orang. Mainnya paling juga cuma bentaran."

Yudistira terkekeh sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa di belakangnya.

"Yakin? Biasanya juga bilang 'cuma satu match' tapi terus berakhir enam jam."

"Ya nanti kan kamu bisa quit duluan kalau udah beneran mau istirahat."

Nakula terdengar menyahut dengan nada yang cukup memelas. Pada akhirnya, seperti yang sudah bisa ditebak, Yudistira tetap bergabung. Meski demikian, ia bersikeras tidak membuka stream malam itu. Ia hanya bermain santai bersama teman-temannya saja tanpa perlu memikirkan interaksi dengan penonton.

Tak lama kemudian, keempatnya sudah terhubung dalam satu lobby permainan R.E.P.O.

Layar monitor menampilkan lorong-lorong gelap yang nyaris tidak diterangi cahaya apa pun. Sosok karakter mereka bergerak hati-hati di antara ruangan tua yang dipenuhi barang-barang berharga sekaligus berbagai makhluk mengerikan yang siap menerkam kapan saja.

"Kula, lu jangan lari ke arah kita, kocak!"

"Itu bukan aku yang lari!"

"Lah terus siapa yang bawa monster ke sini?!"

"TANYA SADEW!"

"KENAPA JADI SAYA?!"

“Hehe..”

Suara kepanikan langsung memenuhi kanal suara mereka. Yudistira sampai harus menahan tawa ketika melihat Bima menjatuhkan vas antik yang baru saja mereka temukan karena terlalu panik dikejar monster. Suara pecahan kaca menggema, lalu disusul jeritan panjang.

"MATI GUEEE!"

"Tolong, tolong, tolong—"

"Skill issue."

Komentar Yudistira yang terdengar santai justru memancing gelombang protes baru dari ketiganya. Tawa pun kembali memenuhi ruangan apartemen yang semula tenang. Ia baru saja hendak membantu Sadewa memindahkan barang ke kereta ketika sebuah suara lain terdengar dari luar permainan.

Tok. Tok. Tok.

Pemuda itu lantas mengernyitkan dahinya heran. Awalnya, ia mengira suara itu hanya berasal dari tetangga apartemen sebelah. Namun beberapa detik kemudian, ketukan itu kembali terdengar lebih jelas.

Tok. Tok. Tok.

Pemuda itu melirik jam di sudut monitor yang menunjukkan waktu hampir tengah malam.

Siapa yang datang malam-malam begini?

"Eh bentar, guys…" Yudistira melepas sebelah headsetnya. "Ada yang ngetuk pintu."

"Awas, hantu Bang!"

"Eh iya, malam-malam gini, lho. Hati-hati, Dis!"

"Alah, paling juga ayangnya."

“IHIRRR HAHAHAHAH!”

Ujaran santai dan penuh godaan yang dilontarkan Sadewa dan yang lainnya tentu saja membuatnya mendengus geli. Meski begitu, ia tetap berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu apartemen.

Dengan santai, pemuda itu melangkah ke arah pintu apartemennya. Rambut hitamnya nampak sedikit berantakan karena terlalu lama memakai headset. Kaos hitam longgar yang dikenakannya terlihat kusut, sementara wajahnya masih menyisakan gurat senyum akibat keseruan yang baru saja terjadi di dalam permainan.

Sesaat setelah pintu terbuka, sepasang mata zamrud itu melebar tatkala benar-benar menangkap sosok Arjuna.  Pemuda itu tampak jauh berbeda dari biasanya. Kemeja yang dikenakannya tampak cukup berantakan, kerahnya terbuka lebih lebar dengan lengan baju yang sudah tergulung asal. Tas selempang masih tersampir di bahunya, sedangkan kacamata yang biasanya selalu terpasang sempurna kini sedikit melorot di batang hidungnya.

Yang paling mencolok adalah ekspresinya, pemuda itu tampak begitu lelah. Ada bayangan keletihan yang jelas tergambar di wajah manisnya. Mata kelabu itu tampak redup, seakan pemiliknya sudah menghabiskan seluruh energi yang dimiliki sepanjang hari hanya untuk tetap berfungsi seperti manusia normal.

Tanpa banyak bertanya, Yudistira segera menyingkir dari ambang pintu lalu meraih pergelangan tangan Arjuna dengan lembut. Pemuda itu lantas membimbing sosok itu untuk masuk ke dalam apartemennya. Pintu pun ia tutup menggunakan kakinya yang leluasa.  Sedangkan itu, pemuda berkacamata itu hanya membiarkan dirinya dituntun begitu saja tanpa protes sedikit pun. 

Hal tersebut saja sudah cukup menjadi pertanda betapa lelahnya dirinya. Biasanya, Arjuna akan mengomel terlebih dahulu, entah karena Yudistira menariknya terlalu cepat atau karena ia merasa diperlakukan seperti anak kecil. Pokoknya, ada saja protes dari pemuda manis itu. Namun malam ini, ia hanya berjalan menurut dengan langkah lambat sambil sesekali mengusap matanya sendiri.

Begitu tiba di ruang tengah, Arjuna langsung ambruk ke atas sofa bak puppet yang benangnya telah terputus. Tas selempang yang sejak tadi bergantung di bahunya terlepas begitu saja dan jatuh di sampingnya. Kepalanya bersandar pada sandaran sofa dengan mata terpejam, sementara napas panjang yang keluar dari bibirnya terdengar seperti bentuk kelegaan terbesar yang akhirnya berhasil ia dapatkan.

Pemandangan itu membuat Yudistira berhenti sejenak. Sorot mata zamrudnya perlahan melembut saat memperhatikan sosok yang terbaring di hadapannya. Rambut hitam yang jatuh di sisi wajah Arjuna tampak sedikit berantakan. Bukan hanya rambutnya, penampilannya secara keseluruhan memang terkesan berantakan, kontras dengan citra rapi dan elegan yang biasanya selalu melekat padanya. 

Sensasi hangat selalu menjalar ke seluruh dadanya setiap kali ia melihat sisi seperti ini dari seorang Arjuna Arkana. Sisi yang jarang diperlihatkan kepada orang lain. Sisi yang hanya muncul ketika segala tuntutan, ambisi, dan beban yang dipikul pemuda itu akhirnya ia biarkan runtuh untuk sementara waktu. Semua itu hanya ia tunjukkan kepada orang yang sangat ia percayai.

Seperti dirinya.

Dengan langkah pelan, Yudistira berbalik menuju kamarnya. Tidak lama kemudian ia kembali membawa selimut tebal berwarna hijau yang menjadi favorit Arjuna. Kain tebal itu dibentangkannya perlahan sebelum diselimutkan ke tubuh pemuda itu hingga rapat, menutupi bahu hingga kaki pemuda tersebut.

Arjuna bergumam pelan saat kehangatan selimut menyentuh tubuhnya. Alis yang sejak tadi berkerut samar perlahan mengendur dan bahunya juga terlihat jauh lebih rileks dibanding beberapa menit lalu. Bahkan tanpa membuka mata, ia refleks menarik ujung selimut itu sedikit lebih dekat ke tubuhnya.

Melihat hal tersebut, senyum Yudistira semakin melebar. Ia kemudian duduk di tepi sofa, mencondongkan tubuh sedikit ke depan sambil memperhatikan wajah lelah yang kini tampak jauh lebih tenang itu.

"Sudah makan belum, cantik?"

"Belum..."

Jawaban itu keluar dalam gumaman lirih yang nyaris tak terdengar, bercampur dengan helaan napas panjang dan mata yang bahkan tidak benar-benar terbuka. Arjuna hanya menggelung tubuhnya sedikit lebih dalam ke balik selimut, seolah seluruh kesadarannya kini bergantung pada kain hangat yang membungkusnya. 

Pemandangan tersebut membuat Yudistira terkekeh pelan. Pemuda itu kini benar-benar nampak seperti anak kecil yang kehabisan tenaga setelah bermain seharian.

"Ya udah. Tunggu sebentar."

Dengan hati-hati ia bangkit dari tepi sofa lalu melangkah menuju dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah apartemennya. Begitu pintu kulkas dibuka, hawa dingin langsung menyambut wajahnya. Namun, isi di dalamnya jauh dari kata mengesankan. Hanya beberapa botol minuman, sekantong sawi yang mulai layu, beberapa butir telur, sebungkus kornet kalengan yang masih tersisa setengah, serta berbagai bumbu instan yang entah sejak kapan memenuhi rak pintu kulkas.

Yudistira terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menertawakan dirinya sendiri.

"Ya ampun... sedih banget isi kulkasku."

Untung saja masih ada sebungkus mie instan di dalam lemari penyimpanan. Memang bukan makanan paling bergizi di dunia, tetapi mengingat waktu sudah hampir tengah malam dan dirinya juga bukan seseorang yang pandai memasak, pilihan itu terasa paling masuk akal. Lagi pula, ia masih bisa membuatnya sedikit lebih layak disantap.

Beberapa menit kemudian, panci kecil di atas kompor mulai mengeluarkan uap tipis. Air mendidih bergolak pelan ketika mie dimasukkan ke dalamnya, disusul irisan sawi hijau yang memberi sedikit warna dan telur yang dipecahkan perlahan hingga kuningnya tetap utuh. Tak lupa, kornet dimasukkan paling akhir, menguarkan aroma gurih begitu bersentuhan dengan campuran yang sudah lebih dulu masuk sebelumnya. 

Sesekali Yudistira mengaduk masakannya dengan garpu sambil bersenandung pelan mengikuti lagu yang masih terngiang dari konser band kampus beberapa hari lalu.  Tidak butuh waktu lama sampai aroma khas mie instan yang berpadu dengan bawang, kornet, dan kaldu hangat mulai memenuhi seluruh apartemen.

Aroma itu rupanya berhasil menggugah sang putri tidur yang beberapa saat sebelumnya begitu enggan untuk membuka sepasang netranya. Suara langkah yang terdengar dari arah ruang tengah, membuat Yudistira menoleh sekilas.

Arjuna muncul dari balik lorong apartemen dengan langkah gontai. Ia masih terbungkus rapat oleh selimut hijau hingga kepalanya saja yang menyembul keluar. Mata kelabunya masih setengah terpejam dengan paras ayu yang masih menyisakan kantuk yang kentara. Kombinasi semua itu membuat keseluruhan penampilannya tampak jauh lebih lembut daripada biasanya.

Tanpa mengatakan apa pun, pemuda itu berjalan mendekat hingga berdiri tepat di samping Yudistira hanya untuk mendusal.

Ya, mendusal.

Tak pelak hal itu membuat Yudistira menghentikan kegiatan memasaknya. Sudut bibirnya perlahan terangkat, menahan tawa yang nyaris lolos begitu saja dengan tatapan penuh geli.

"Kamu ngapain malah berdiri di sini?"

Arjuna hanya menggeleng pelan tanpa mengangkat kepalanya.

"Mau nemenin."

Jawabannya terdengar begitu lirih dan berat oleh kantuk lagi-lagi membuat Yudistira gagal menahan senyum.

"Temenin dari sofa aja juga bisa, kali."

"Gak mau. Maunya di sini…”

"Astaga, siapa suruh sih kamu lucu banget…"

Tanpa sadar, tangan pemuda itu terangkat untuk mengusap pelan rambut Arjuna sebelum kembali fokus mengaduk mie di dalam panci. Sesekali ia melirik ke samping, memastikan pemuda itu tidak sampai tertidur sambil berdiri.

Beberapa detik kemudian, sesuatu berhasil menarik perhatian Arjuna sepenuhnya. Sepasang mata kelabu yang semula masih sayu perlahan membesar ketika menangkap isi panci di atas kompor.

"Ada kornet?"

Kalau beberapa saat lalu Arjuna terlihat seperti orang yang hanya memiliki sisa satu persen baterai, kini sorot matanya mendadak hidup kembali. Tatapan itu terpaku lurus pada potongan-potongan kornet yang tengah bercampur dengan mi, bahkan kantuk di wajahnya seolah menguap begitu saja.

Yudistira hanya dapat meliriknya singkat seraya mendengus geli.

"Langsung melek kamu, ya?"

Anggukan penuh antusiasme dari sang sahabat tak ayal membuat pemuda itu akhirnya menyerah pada rasa gemas yang memenuhi dadanya. Setelah memastikan hidangan sudah matang, ia pun mematikan kompor dan menunjuk kursi di meja makan dengan dagunya.

"Sana duduk yang manis. Tunggu aku pindahin ke mangkuk bentar."

Arjuna sendiri terlihat menurut tanpa protes. Masih berselimut seperti burrito berjalan, ia melangkah menuju meja makan dengan langkah terburu-buru, membuat Yudistira kembali melayangkan senyum terhibur sambil memperingatkan pemuda itu untuk berhati-hati supaya tidak terjatuh.

Beberapa menit kemudian, semangkuk mie kornet hangat akhirnya mendarat di atas meja makan. Kuahnya masih mengepulkan uap tipis yang membawa aroma gurih. Di atasnya, sebutir telur setengah matang bersemayam, membuat hidangan sederhana itu terlihat jauh lebih menggugah selera. Yudistira pun mendorong mangkuk itu perlahan ke hadapan Arjuna.

"Selamat menikmati, Tuan Putri. Makannya pelan-pelan, gak usah buru-buru."

Pemuda dengan netra sewarna batu zamrud itu bahkan bisa melihat bagaimana kantuk yang tadi masih menggantung di wajah Arjuna perlahan digantikan oleh antusiasme yang nyaris kekanak-kanakan. Tanpa membuang waktu, pemuda itu segera meraih sendok dan garpunya, mengaduk perlahan isi mangkuk sebelum mengangkat suapan pertama.

Namun, gerakannya mendadak terhenti dengan kening berkerut pelan.

“Lu gak makan, Dis?"

"Aku tadi udah makan sama anak-anak."

"Bener?"

Arjuna masih menatapnya beberapa detik, seakan sedang berusaha memastikan bahwa jawaban tersebut bukan sekadar alasan agar dirinya mau menghabiskan makanan itu sendirian. Yang bersangkutan tentu menangkap keraguan tersebut.

"Beneran. Suwer. Aku gak bohong. Masa aku bohong sama kesayanganku."

Barulah setelah mendengar kalimat itu, ekspresi Arjuna sedikit melunak.

"Ya udah, makasih ya gue udah dimasakin."

Pemuda itu pun akhirnya mulai makan dengan tenang. Suapan pertama langsung membuat kedua matanya sedikit membesar.

"Hmm..."

Arjuna mengunyah perlahan, lalu kembali mengambil suapan berikutnya tanpa banyak bicara. Wajahnya yang semula masih dipenuhi sisa kelelahan kini tampak jauh lebih hidup. Kedua pipinya yang memang sedikit berisi perlahan menggembung setiap kali mengunyah, sementara sorot mata kelabunya memancarkan kepuasan yang tidak pernah gagal membuat Yudistira tersenyum.

Alih-alih kembali ke laptop atau melanjutkan permainan yang masih menunggunya, Yudistira justru tetap berdiri di tempat. Senang rasanya melihat Arjuna begitu menikmati masakannya, yang menurutnya gak seberapa itu, dengan begitu lahap. Barangkali memang sesederhana itu ya untuk bahagia. Selama orang yang ia sayangi bahagia, rasa lelahnya sendiri seakan ikut berkurang sedikit demi sedikit.

Arjuna yang sejak tadi terlalu fokus menghabiskan isi mangkuk sama sekali tidak menyadari tatapan tersebut. Sampai beberapa saat kemudian, ketika mangkuk itu hampir kosong, ia secara refleks mendongak untuk mengambil napas sejenak. Tatapannya pun sontak bersiborok dengan pemuda yang masih setia berdiri di seberangnya.

"..."

"..."

Tubuh pemuda manis itu seketika membeku dan wajahnya pun perlahan memerah. Dengan sedikit tergagap, ia membuka suara, "K-kenapa lihat-lihat?"

“Gak apa-apa? Emang kenapa?”

"Terus kenapa dari tadi merhatiin gue makan?"

Pertanyaan itu tentu membuat senyum Yudistira kembali mengembang.

"Lucu soalnya. Pipi kamu tembem, kelihatan penuh gitu. Games pengen cubit…”

"APA SI—"

Kalimat protes Arjuna terputus begitu saja ketika tangannya yang mendadak salah koordinasi tidak sengaja menyenggol sendok yang baru saja ia letakkan di bibir mangkuk.

Clek.

Sendok itu terlepas dari jemarinya. Kuah yang tersisa memercik pelan, meninggalkan noda kecil di bagian depan kemeja putih yang masih dikenakannya. Ia pun langsung menunduk dengan wajah setengah panik setengah terkejut.

"Aduh, Yudis… Maaf banget, ini gue—"

"Hei, santai. Itu dilap dulu…"

Yudistira mengambil beberapa lembar tisu dan menyodorkannya kepada Arjuna.

"Tapi..."

"Udah sana. Ganti baju dulu, ya. Bajuku yang di lemari masih banyak kan buat kamu?"

"Terus ini gimana?"

"Baju kotornya langsung masukin mesin cuci aja sekalian."

"Yudis—"

"Aku beresin yang di sini. Kamu sana ganti baju dan mandi sekalian kalau perlu. Kamu tadi ke sini langsung dari kampus, kan?"

Arjuna menggigit pelan bibir bawahnya. Ekspresi bersalah masih begitu jelas tergambar di wajahnya. Rasanya tidak enak melihat Yudistira yang sudah repot-repot memasakkan makan malam kini masih harus membereskan kekacauan kecil yang ia buat.

"Aku bisa bantu, Dis..."

"Gak usah, beneran cuma dikit kok ini."

Melihat Yudistira yang sudah bersikeras seperti itu, Arjuna akhirnya tidak punya banyak pilihan selain menurut. Dengan langkah pelan, ia bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju kamar pemuda itu, sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa sang sahabat benar-benar tidak keberatan.

Beberapa menit kemudian, pemuda manis itu keluar kembali dengan kaos hitam kebesaran milik Yudistira yang menggantung longgar di tubuhnya. Lengan bajunya sedikit menutupi telapak tangan, sementara aroma bersih sabun menguar samar dari tubuhnya. Kemeja kotornya juga sudah dimasukkan ke dalam mesin cuci sesuai permintaan sang sahabat.

Ia pun melangkah kembali menuju ruang tengah. Dari sana, ia masih bisa melihat sosok Yudistira yang sibuk berdiri di dapur, mencuci mangkuk dan peralatan masak dengan gerakan yang santai sambil sesekali bersenandung pelan mengikuti lagu yang entah hanya ia sendiri yang tahu.

Arjuna sempat berniat menghampiri, namun akhirnya ia urungkan niat itu. Ia tahu benar bahwa pemuda itu akan kembali bersikeras menyuruhnya beristirahat. Karena itu, tanpa ingin mengganggu, ia memilih kembali ke sofa tempatnya tadi berbaring. Tubuhnya kembali tenggelam di antara bantalan empuk dan selimut hijau yang entah sejak kapan sudah kembali berada di sana. 

Dari sana, ia diam-diam membiarkan pandangannya tertuju pada punggung Yudistira yang sibuk membereskan dapur. Tak tahu mengapa, melihat sosok itu bergerak di bawah cahaya lampu apartemen yang hangat sudah cukup membuat rasa lelah yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan mencair sedikit demi sedikit.

Tidak membutuhkan waktu lama hingga suara gemericik air dari arah dapur akhirnya berhenti. Beberapa detik kemudian, pemuda itu muncul kembali dari arah dapur dengan langkah santai. Kedua lengannya ia renggangkan tinggi ke atas kepala sambil menghembuskan napas lega setelah berhasil menuntaskan sesi pekerjaannya.

Sepasang mata zamrud itu kemudian jatuh pada sosok Arjuna yang kembali meringkuk di atas sofa, kali ini mengenakan kaos hitam kebesaran miliknya. 

Ukuran baju yang memang jauh lebih besar membuat tubuh pemuda itu tampak tenggelam di balik kain tersebut. Ujung lengannya bahkan menjuntai menutupi sebagian telapak tangan, sementara rambut hitamnya yang masih sedikit lembap jatuh berantakan membingkai wajah manis dengan beauty mark di bawah mata kanannya. Selimut hijau itu masih membungkus tubuhnya hingga sebatas pinggang, membuat keseluruhan penampilannya terlihat begitu nyaman sekaligus... menggemaskan.

Yudistira bahkan harus berhenti melangkah selama beberapa detik karena pemandangan itu.

Lucu banget.

Kalimat itu hanya bergema di dalam kepalanya, meski senyum kecil yang perlahan muncul di wajahnya sudah cukup membocorkan isi pikirannya.

"Oh iya, aku tadi lagi mabar sama anak-anak."

Arjuna yang sedari tadi hanya memandangi langit-langit apartemen menoleh ke arah Yudistira yang kini tengah berjalan menghampirinya.

"Tadi sempat AFK untuk bukain pintu buat kamu."

Yudistira pun menunjuk ke arah laptop di hadapannya. Layar monitornya masih menyala memperlihatkan layar R.E.P.O. lengkap dengan tulisan Disconnected yang sedari tadi ia abaikan.

"Mau ikut?"

"Aku? Ikut main game horror itu?"

"Iya."

Pemuda itu tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menggeleng kecil.

"Gak dulu deh, takut malah jadi beban."

Yudistira langsung menyeringai jahil dan dengan sengaja menarik nada bicaranya di akhir kalimat.

"Ohhh, takut ya?"

Seketika Arjuna langsung menoleh. Sepasang mata kelabunya yang tadi masih tampak menerawang kini terfokus kepada sosok pemuda di depannya sambil memincing tajam.

"Lu bilang apa tadi?"

Yudistira pun mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi polos yang dibuat-buat.

"Ya gak tahu, kok tanya saya?"

"Gue denger ya, kocak! Siapa yang takut?!"

“Halah, paling nanti ketemu hantu juga jerit…”

"YUDIS!!!"

Pada akhirnya, sang tersangka tidak sanggup lagi menahan tawa gelinya. Tak pelak hal itu membuat Arjuna Arjuna mendengus kesal sambil menyingkirkan selimut dari tubuhnya.

"Ya udah, gue ikut main. Kalau kalah gara-gara gue, jangan nyalahin lho ya."

"Nah, gitu dong. Gak bakal aku salahin kok, Jun. Kalah mah kalah aja."

Dengan sedikit gumaman yang terdengar seperti rangkaian protes, Arjuna akhirnya meraih tasnya yang sejak tadi tergeletak di samping sofa. Dari dalam sana, ia mengeluarkan laptop berwarna abu-abu yang sudah menemaninya sejak awal kuliah. Jemarinya bergerak lincah menyalakan perangkat tersebut, sementara Yudistira kembali duduk di depan laptopnya sendiri untuk masuk ke dalam permainan.

Tidak butuh waktu lama hingga keduanya berhasil bergabung kembali ke dalam lobby yang sama. Begitu ikon karakter Yudistira muncul di layar, suara-suara riuh langsung memenuhi headset yang baru saja ia kenakan.

“WOI YUDIS!!!”

“ANJIR AKHIRNYA BALIK JUGA!”

“LAMA BANGET LU!”

“KITA UDAH NUNGGU SATU ABAD, NIH!”

Yudistira sontak langsung meringis sambil menjauhkan sedikit headset dari telinganya.

"Iya, iya. Maaf. Tadi kan bukain pintu bentar."

Nakula langsung mendengus dari seberang sambungan suara.

"Ya ampun, bukain pintu doang nyaris satu jam? Siapa yang dateng, sih?"

Belum sempat pemuda cantik itu menjawab, daftar pemain di lobby bertambah satu.

Arjuna has joined the lobby.

...

Hening.

Suara yang sedari tadi memenuhi kanal percakapan mendadak lenyap seolah seluruh mikrofon dipencet mute secara bersamaan.

"Lah, malah kicep semua…"

Tidak ada jawaban, sampai akhirnya Sadewa berdehem pelan.

"Ehem, Dis…?"

"Yo?"

"Itu beneran Arjuna?"

"Iya, kenapa?"

Sadewa pun menarik napas panjang.

"As in Arjuna Arkana?"

Yudistira menoleh ke arah sofa, mendapati Arjuna yang masih sibuk mengatur keybind tanpa menyadari kekacauan yang sedang terjadi di kanal suara.

"Iyalah, siapa lagi? Keberatan kah aku ajak dia main?"

Kali ini yang menjawab justru Bima.

"Ya, gak masalah sih, Dis. Cuman sungkan aja…"

Nakula juga ikut menyahut.

"Ya gimana gak sungkan, tah. Lha wong mapres kamu ajak main sama kita yang gak genah gini."

Gelak tawa Yudistira yang cukup keras membuat Arjuna yang baru selesai memasang headset tampak mengernyit bingung.

"Lu kenapa, dah?"

Sebelum suasana kembali canggung, Sadewa yang memang sudah cukup akrab dengan Arjuna segera mengambil alih dan menyapa pemuda manis itu dengan santai.

"Halo, Juna. Welcome, welcome. Kita udah nunggu Yudis hampir satu abad sejak selesai run tadi. Jadi, maaf kalau pada ribut."

Yang disapa hanya mampu tersenyum sungkan dan meminta maaf.

"Maaf ya, tadi Yudistira malah sibuk ngurus gue dulu. Padahal udah gue bilang gak usah."

“Apasih, ay? Kayak sama siapa aja?”

Sadewa sendiri hanya dapat terkekeh mendengar perdebatan dua orang itu.

"Oalah, pantes."

Pertukaran obrolan itu membuat tawa di kanal suara kembali pecah. Perlahan suasana yang sempat kikuk mulai mencair, berganti menjadi obrolan ringan yang dipenuhi candaan khas tongkrongan mereka.

Tidak lama kemudian, permainan pun dimulai. Sebagai pemain baru, Arjuna memang sempat mendengarkan penjelasan singkat dari Yudistira mengenai cara kerja permainan. Mereka harus mengumpulkan barang-barang berharga menggunakan capit mekanis, membawanya ke kereta tanpa merusaknya, lalu menghindari monster-monster yang berkeliaran di dalam gedung gelap.

Terdengar mudah memang. Setidaknya, sampai Arjuna mulai bermain.

"Pelan-pelan, Jun. Barangnya rapuh."

Yudistira mengingatkan sambil membawa sebuah vas antik menuju troli.

"Iyaaa, tahu."

Baru dua langkah setelah Yudistira memperingatkan demikian, tapi—

PRAK!

Jam saku di tangan Arjuna sudah menghantam kusen pintu, sehingga nilainya langsung turun drastis.

"..."

"..."

Lalu, terdengarlah suara Bima yang menggelegar bersahutan dengan suara tertawa Nakula dan Sadewa sebagai latar belakang.

"Buset. Santai, bang!"

Hehe…”

Sang tersangka justru hanya tertawa-tawa untuk menutupi salah tingkahnya. Belum selesai rasa malunya reda, beberapa menit kemudian ia tanpa sengaja kembali menjatuhkan piala dari lantai.

BRAK!

"ASTAGA!"

"JUNAAAAA!!!"

"ITU MAHAL WOY!"

Seluruh kanal suara kembali dipenuhi teriakan bercampur tawa. Yudistira yang sedari tadi berusaha tetap tenang akhirnya menghembuskan napas panjang, namun sepasang netra zamrudnya dipenuhi kilat geli.

"Udah, kamu ke sini dulu, Jun…"

Arjuna sendiri di tengah segala kebingungannya hanya mampu menurut dan menghampiri karakter pemuda itu di dalam game.

"Pencet Q coba."

"Buat apa?"

"Pencet aja."

Meski masih dipenuhi tanda tanya, Arjuna akhirnya menekan tombol tersebut. Dalam sekejap, karakter kecilnya menyusut menjadi versi mungil. Sebelum sempat bertanya lagi, capit mekanis milik Yudistira tiba-tiba menjepit tubuh karakter pemuda manis itu, membuatnya terangkat ke udara dan bergelantungan tanpa daya di ujung capit.

"Kamu nih ya, bandel bin ngeyel! Susah banget dibilanginnya!”

Yudistira tertawa kecil sambil mengayun-ayunkan karakter Arjuna ke kanan dan kiri seperti sedang menghukum anak kecil yang baru saja membuat onar.

"Kalau dibilang pelan-pelan, ya pelan-pelan. Jangan malah dibanting. Barang itu dicari buat dijual, bukan buat dites ketahanannya!"

Arjuna yang melihat karakternya diperlakukan demikian justru tidak bisa berhenti tertawa. Suara tawanya memenuhi headset, begitu ringan dan lepas, membuat tiga orang lain di kanal suara ikut terbahak melihat bagaimana mahasiswa hukum yang terkenal berwibawa di kampus kini sedang "diceramahi" sambil digantung di udara oleh sahabatnya sendiri.

Tanpa terasa, waktu berlalu jauh lebih cepat daripada yang mereka sadari. Satu run berganti menjadi run berikutnya. Tawa, teriakan panik, dan suara saling menyalahkan ketika salah satu dari mereka memancing monster terus memenuhi ruang tamu apartemen kecil itu. 

Beberapa kali Yudistira harus menyelamatkan karakter Arjuna yang nyaris diterkam karena terlalu sibuk mengamati benda-benda di sekitar. Di lain waktu, justru Arjuna yang tanpa sengaja menjadi penyelamat ketika sebuah pintu berhasil ia tutup tepat sebelum monster berhasil mengejar rombongan mereka.

Meski pada akhirnya jumlah barang pecah akibat ulah Arjuna masih jauh lebih banyak daripada kontribusinya terhadap kuota tim.

"Jun, demi apa..." Suara Nakula terdengar putus-putus karena terlalu banyak tertawa. "Ini pertama kalinya gue lihat orang sukses speedrun bikin rugi."

Arjuna tentu saja langsung memprotes dengan wajah yang sudah memerah entah untuk keberapa kalinya malam itu.

"Gue udah mendingan, ya!"

"Iya." Sadewa menyahut cepat. "Kalau tadi pecah lima barang, sekarang cuma tiga."

"ITU NAMANYA PROGRESS! KOCAK KALIAN!"

Seketika satu kanal suara kembali dipenuhi gelak tawa. Rasa canggung yang sempat muncul di awal permainan telah lama menghilang, digantikan keakraban seolah sang pemuda manis memang sudah menjadi bagian dari kelompok kecil itu sejak awal.

Yudistira yang duduk di sampingnya tidak banyak ikut bercanda. Sesekali ia hanya menimpali obrolan teman-temannya, namun lebih sering diam-diam memperhatikan sosok di sebelahnya. Sudah beberapa kali ia menangkap Arjuna menguap kecil.

Pemuda itu berusaha menutupinya dengan punggung tangan, lalu kembali memegang mouse seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, datangnya kantuk memang sulit untuk ditahan apalagi dicegah. Kelopak mata kelabunya mulai terasa semakin berat, gerakannya pun tidak lagi secekatan satu jam yang lalu.

Yudistira melirik jam di sudut monitor.

03.07

Pantas saja.

Bahkan dirinya sendiri mulai merasakan lelah, apalagi Arjuna yang sejak pagi sudah berkutat dengan kesibukannya hingga baru sempat makan tengah malam beberapa jam yang lalu.

Baru saja ia hendak membuka mulut untuk menyuruh pemuda itu beristirahat, namun keduluan dengan sebuah beban hangat yang perlahan menyandar di bahunya.

Pemuda itu pun menoleh dengan cepat. Arjuna rupanya sudah nyaris tertidur dalam keadaan setengah sadar. Kepalanya bersandar penuh pada lengan Yudistira, sementara kedua matanya terpejam rapat. Napasnya terdengar panjang dan teratur, seakan tubuhnya akhirnya memutuskan menyerah setelah dipaksa terus terjaga sepanjang hari.

Senyum kecil tanpa sadar terbit di wajah cantik Yudistira.

Dasar, nyerah juga akhirnya.

Ia pun menekan tombol push-to-talk.

"Guys."

“Yo?”/ “Gimana, Yud?”/ “Apaaa?”

"Aku cabut duluan, yak."

"Lha, kenapa?"

Pemuda itu kembali melirik sekilas pada sosok yang kini sepenuhnya bersandar padanya.

"Ini Juna udah ketiduran"

Suara "ooh" panjang pun terdengar, diikuti tawa penuh pengertian.

"Oalahhhh…"

“Pantes suara ngomelnya udah gak kedengeran haha..”

“Udah capek itu pasti. Lagian anak teladan diajak main game begadang.”

Yudistira mau tak mau terkekeh pelan mendengar komentar spot on teman-temannya.

"Ya udah, aku duluan ya. Night, everyone!"

"Night!"

Satu per satu suara dalam kanal percakapan menghilang hingga akhirnya apartemen itu kembali dipenuhi keheningan. Yudistira melepaskan headsetnya, lalu mematikan laptop miliknya dan milik Arjuna satu per satu. Cahaya monitor yang sejak tadi menjadi sumber penerangan utama perlahan padam, menyisakan lampu di pojok ruangan yang memancarkan warna keemasan lembut dan membuat suasana apartemen terasa jauh lebih hangat.

Barulah setelah semuanya selesai, fokusnya kembali kepada sosok Arjuna. Dengan gerakan yang begitu hati-hati, Yudistira menyelipkan satu tangan ke belakang bahu pemuda itu, sedangkan tangan lainnya menopang kepalanya. Perlahan ia membimbing tubuh tinggi nan ramping tersebut hingga berbaring menyamping di atas sofa, membiarkan kepala Arjuna jatuh pelan di atas pangkuannya.

Arjuna sendiri hanya bergumam lirih, lalu kembali tenggelam dalam tidurnya.

Yudistira menarik selimut hijau di kaki pemuda itu lebih tinggi hingga menutupi bahunya, memastikan tidak ada celah bagi udara dingin untuk menyusup masuk. Setelah semuanya terasa cukup rapi, telapak tangannya mulai menepuk-nepuk pelan lengan kurus yang berada di balik selimut. Ritmenya lambat dan menenangkan, seperti seseorang yang sedang menidurkan anak kecil.

"Kamu tuh..."

Suara Yudistira terdengar begitu pelan hingga nyaris larut bersama bunyi dengungan pendingin AC dalam ruangan.

"... Kalau udah capek bilang. Gak usah maksain diri."

Seakan mendengar suara itu, Arjuna mengerutkan hidungnya pelan. Beberapa detik kemudian, ia bergerak semakin mendekat ke arah Yudistira tanpa membuka matanya. Kepalanya bergeser sedikit dari pangkuan Yudistira, lalu mendusal pelan ke arah perut pemuda itu untuk mencari posisi yang menurutnya paling nyaman.

Sontak Yudistira membeku sepersekian detik, kemudian hanya bisa terkekeh kecil melihat tingkah laku si manis.

"Manja banget kamu, ya…"

Namun, ia sama sekali tidak ada niat untuk menghentikan tingkah tersebut. Sebaliknya, ia justru menggeser tubuhnya sedikit untuk menemukan posisi nyaman agar dapat terus membiarkan sang pemuda manis untuk tertidur di pangkuannya.  Dengan satu tangan yang masih menepuk pelan punggung pemuda itu, Yudistira kemudian menggunakan tangan lainnya untuk menarik tuas di sisi sofa. Perlahan, bagian penyangga kaki terangkat keluar hingga sofa itu berubah menjadi tempat rebahan yang jauh lebih panjang dan nyaman.

Pemuda cantik itu pun meluruskan kedua kakinya, lantas menyandarkan punggung pada sandaran sofa dengan posisi yang lebih rileks. Kini pangkuannya tidak lagi menggantung canggung, membuat tubuh Arjuna tetap berbaring nyaman tanpa membuat kakinya cepat pegal.

Ia menunduk sekali lagi. Rambut hitam Arjuna yang sedikit berantakan menutupi sebagian dahinya. Napasnya kini terdengar semakin teratur, sedangkan jemarinya yang sejak tadi menggenggam ujung selimut perlahan mengendur. 

Sepertinya, tidur pemuda itu benar-benar telah nyenyak.

Yudistira mengusap pelan rambut itu ke belakang telinga. Lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, telapak tangannya kembali menepuk-nepuk lembut punggung Arjuna dalam irama yang perlahan semakin lambat.

Di luar, hujan kembali turun membasahi bumi. Butir demi butir tetesan air langit mengetuk kaca jendela apartemen, mengiringi malam yang semakin larut dengan simfoni yang menenangkan. Dalam ruangan kecil yang dipenuhi kehangatan lampu temaram itu, dua insan yang telah saling mengenal selama hampir separuh hidup mereka akhirnya sama-sama terlelap ke dalam mimpi.

Notes:

I hope you enjoy it!

Series this work belongs to: