Work Text:
Entah batang Sampoerna Mild keberapa yang sudah Sungchan isap hari ini. Pikirannya benar-benar tak karuan semenjak ia melihat Instagram story Bina—si mantan kekasih sekaligus primadona kampus itu— yang ia unggah di fitur close friend. Sebenarnya itu bukan jenis unggahan yang terlalu bagaimana, hanya sebuah foto mirror selfie yang memperlihatkan Bina sedang dipeluk erat dari belakang oleh seorang lelaki. Sialnya, wajah lelaki itu ditutupi stiker bibir berukuran besar hingga membuat Sungchan mati penasaran, tak mampu menebak siapa sebenarnya sosok pacar baru sang mantan. Kini, Sungchan kembali menghela napasnya berat sembari membuka kotak rokoknya yang tergeletak di atas meja warkop.
“Lah, kok abis, su?” Sungchan menatap Eunseok dengan pandangan curiga yang kentara. “Lu isep punya gua, Seok?”
“Lah, kagak lah. Gua kan make Terea,” sahut Eunseok santai, membela diri sembari menunjuk perangkat IQOS miliknya.
Kini mata Sungchan beralih, menatap Sohee yang entah mengapa tiba-tiba terlihat salah tingkah di tempat duduknya. Merasa ada yang tidak beres, Sungchan langsung menembak, “Lu ya yang ngambil?”
Sohee yang tiba-tiba tertangkap basah menyembunyikan sisa tiga batang rokok Sungchan hanya bisa menatap kakak tingkatnya itu dengan pandangan malas.
“Sadar bang, lu udah mau habis dua bungkus, bego,” umpat Sohee mengingatkan.
Sungchan hanya mendecak kesal mendengar gerutu temannya. Tanpa ambil pusing, ia merogoh kantong sakunya lalu mengambil satu bungkus rokok baru yang masih tersegel rapi, kemudian meletakkannya begitu saja di atas meja dengan ketukan keras. Sohee yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya heran, sedangkan Eunseok langsung tertawa lebar melihat keputusasaan temannya.
“Yah, orang masih ada stok dia tuh, Hee,” ejek Eunseok pada Sohee.
Sohee mengusap wajahnya kasar, merasa jengah dengan keras kepala kakak tingkatnya. Dengan gerakan cepat, ia langsung merebut bungkus rokok baru milik Sungchan sebelum sempat ia buka.
“Ah anjing, ngapain sih lu?” protes Sungchan tak terima.
“Udahlah, Bang, jangan banyak-banyak, jing,” omel Sohee.
“Lah, kok lu tiba-tiba jadi peduli sama kesehatan gua?” tanya Sungchan heran, menaikkan sebelah alisnya.
“Gua sih bodo amat ya sama kesehatan lu, yang jadi masalah nih lu kalau sehari habis tiga bungkus, akhir bulan lu pasti minjem duit gua lagi. Gua nggak mau, anjing!” semprot Sohee telak.
Sungchan memutar bola matanya malas, namun dalam hati ia membenarkan ucapan Sohee. Benar juga sih apa kata adik tingkatnya itu, isi dompetnya bisa cepat terkuras habis sebelum uang jajan akan masuk ke rekeningnya dalam waktu berikutnya. Tapi di sisi lain, ia benar-benar butuh alternatif cepat untuk melepaskan penat dan mengenyahkan pikiran berat yang terus berputar-putar di kepalanya.
“Lagian, timbang si Bina nge-post sama cowok barunya di close friend doang, cok. Mana ditutup juga muka cowoknya,” timpal Sohee lagi, mencoba mencairkan suasana.
Eunseok mengangguk setuju dari seberang meja. “Teori gua ya, kalau udah mah ditaruh di cf terus mukanya ditutup begitu, dia sebenarnya kagak mau publish cowoknya itu. Paling muka aslinya jelek, Chan,” tambah Eunseok memprovokasi.
“Bodo amat, anjing! Mau jelek apa kagak, tetep aja dia udah punya cowok baru, bangsat. Masa baru dua bulan putus doang gua udah ada yang gantiin? Padahal wong tulus loh gua nih, Hee,” keluh Sungchan berapi-api, masih tidak terima dengan kenyataan pahit tersebut.
“Ah, asu. Lu juga makanya cari cewek baru juga lah, Bang, ribet amat,” sahut Sohee enteng.
“Ogah gua punya cewek baru, anjing! Orang gua maunya Bina!” seru Sungchan egois.
“Tolol dah,” ujar Eunseok ketus.
Eunseok yang sebenarnya pada awalnya tidak terlalu peduli dengan urusan asmara temannya, kini ikut merasa geram. Ia jengkel mendengar alasan Sungchan yang makin hari makin tidak masuk akal tiap kali mereka mencoba membantu cowok itu untuk melupakan Bina. Masalahnya, hanya nama Bina yang terus-terusan dibawa dan diratapi Sungchan setiap kali mereka sedang berkumpul di tongkrongan, dan hal itu sukses membuat Sohee dan Eunseok merasa kesal sekaligus jenuh yang teramat sangat.
“Gini aja deh, Bang. Kalau lu bisa move on, sumpah gua janji akun lu bakal gua jokiin sampai Immo pas season depan,” tawar Sohee memberikan iming-iming.
“Lah, kalau itu mah sendiri gua juga bisa,” balas Sungchan meremehkan.
Sohee terdiam sebentar, merutuki kebodohannya sendiri karena baru ingat kalau Sungchan juga tergolong jago dalam bermain Mobile Legends. Tidak jarang temannya itu bisa menembus tier Immortal di tiap season tanpa bantuan siapapun.
“Kalau lu move on, gua beliin rokok lu sebulan penuh,” tawar Sohee lagi, tidak mau menyerah.
“Halah, paling juga lu beliinnya Geboy. Ogah gua, ogah,” tolak Sungchan mentah-mentah.
Kini Sohee menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa benar-benar pasrah menghadapi kedegilan Sungchan. Ia melirik Eunseok yang sedang asyik mengisap IQOS-nya sembari menatap layar ponsel, mencari bala bantuan. “Bantuin gua, Bang,” pinta Sohee frustrasi.
Asap putih tipis mengepul keluar dari mulut Eunseok sebelum ia menyahut, “Bantu apaan, co?”
“Biar ini orang mau move on, anjing. Pikirin caranya,” desak Sohee.
Kini Eunseok terlihat mulai berpikir serius. Bahkan perangkat IQOS-nya sengaja ia taruh di atas meja agar ia dapat berkonsentrasi dengan lebih baik. Matanya mulai menyapu ke arah luar warkop, memerhatikan lalu lalang orang. Detik berikutnya, pandangan Eunseok tak sengaja menangkap sosok seseorang yang menggunakan kacamata tebal dengan bingkai hitam. Dengan ingatan yang tajam, ia langsung mengenali kalau itu adalah Tony, si adik tingkat cupu yang kerap dijadikan bahan candaan di tongkrongan mereka.
“Dahlah, lu sama dia aja tuh,” ujar Eunseok asal, menunjuk ke arah luar menggunakan dagunya.
Sungchan pun refleks mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Eunseok. Di sana, si anak cupu bernama Tony itu terlihat sedang melangkah masuk ke dalam warkop dengan gelagat malu-malu sembari memeluk erat tas laptop dan sebuah amplop file berukuran besar yang diduga berisi laporan praktikum. Tak sengaja, manik mata mereka berdua bertemu di udara. Menyadari dirinya diperhatikan, Tony langsung menunduk pelan dengan canggung sembari melempar senyum tipis yang amat pemalu.
Sungchan yang melihat respon itu hanya bisa menyengir aneh, merasa heran bukan main. Kok malah senyum sama gua, anjing? Emang dia kenal sama gua ya? batin Sungchan kebingungan. Sungchan memang tidak begitu memperbarui informasinya dengan gosip-gosip terkini di tongkrongan, sebab ia terlalu sibuk meratapi dan membahas perihal Bina tiap kali pantatnya menyentuh kursi warkop ini.
“Itu siapa, anjing?” tanya Sungchan ketus.
“Dongo dah, si Tony itu. Anak yang lu komdis-in pas MPD kemarin, Bang,” sahut Eunseok gemas.
Tony? Sungchan mencoba menggali kembali memori di kepalanya, mengingat-ingat sosok Tony yang dimaksud oleh Eunseok. Setelah beberapa saat, ia akhirnya teringat bahwa anak itu adalah si Tony-Tony itu yang sering meminta izin jam malam saat ospek jurusan kemarin dengan alasan ingin belajar di luar kost.
“Lu kalau ngomong mikir dulu, Seok,” ketus Sungchan sembari melempar bungkus rokok kosong tepat ke arah wajah Eunseok yang saat ini sedang tertawa puas menikmati kekesalan temannya.
“Eh, tapi beneran, Bang,” sela Sohee tiba-tiba dengan raut wajah yang mendadak berubah serius. “Sumpah ini ya, gua janji. Lu kalau bisa bikin dia jadi pacar lu, terus pas lagi sama lu dia bisa jadi glow up gitu, satu bulan penuh gua modalin Samil.”
Sungchan mengernyitkan dahinya bingung bercampur heran mendengar ucapan random dari Sohee. “Lah, ngapa jadi gua, cuk? Ogah banget.”
“Eh, si Tony tuh sebenarnya nggak jelek-jelek amat, Bang. Gua kemarin sama Bang Eunseok habis ngomongin dia juga,” Sohee melirik Eunseok sesaat sebelum melanjutkan penjelasannya, dan Eunseok pun tampak mengangguk setuju dengan arah pembicaraan tersebut.
“Dia tuh aslinya lumayan anjir kalau lu perhatiin bener-bener. Hidungnya mancung, bentuk bibirnya juga bagus, kulitnya putih bersih, terus badannya tinggi juga. Coba deh, Bang. Menurut gua dia bisa tuh dijadiin saingannya Kak Bina kalau dandanan sama gayanya bener,” hasut Sohee panjang lebar.
Sungchan yang mendengar analisis sepihak itu makin menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. “Gila lu, mana mungkinlah bisa ngalahin speknya Bina.”
“Eh, dengerin Sohee dulu, Chan. Sumpah, gua nggak bohong,” timpal Eunseok ikut memanasi.
Sungchan menyesap sisa kopi Liong-nya sembari tetap bersikeras pada pendiriannya. “Gak ada ya, anjing. Bina udah yang paling mantap ah menurut gua, gak ada tandingannya.”
“Bang, coba dulu dah, sumpah,” bujuk Sohee lagi.
“Gila lu pada, kagak lah. Malas banget gua,” tolak Sungchan mutlak.
“Chan,” kini giliran Eunseok yang menatap Sungchan dengan pandangan yang teramat serius. “Gua top-upin diamond ML lu lima ratus ribu kalau lu pacarin dia selama tiga bulan aja. Gimana?”
“Apa-apaan sih, anjing? Kok lu pada jadi hobi taruhan aneh begini dah?” Sungchan mulai merasa terpojok sekaligus terganggu.
“Bang, sumpah anjing! Kata gua dia bisa banget cok bikin Kak Bina cemburu kalau dianya udah berubah jadi cakep. Nah, kalau Kak Bina udah cemburu dan ngerasa tersaingin, lu tahu sendiri kan watak mantan lu itu gimana? Gak lama, dia pasti bakal ngerengek minta balikan sama lu, cok,” papar Sohee memberikan strategi yang terdengar masuk akal.
Sungchan terdiam, mendecak kesal karena dalam hati kecilnya ia terpaksa mengakui kalau omongan Sohee ada benarnya juga. Watak Bina memang gengsian dan tidak suka tersaingi. Duh, tapi masa gua harus pacarin si cupu itu sih? Kini Sungchan terlihat mulai berpikir keras, menimbang segala konsekuensi yang ada di kepalanya.
Melihat Sungchan yang mulai goyah, Eunseok langsung menaikkan taruhannya. “Gua tambahin deh sekarang taruhannya jadi satu juta kalau misal lu juga bisa bikin si Bina sampai minta balikan dengan cara lu macarin si Tony.”
Wah, gila. Tawaran yang benar-benar menggiurkan bagi kantong mahasiswa semester tua seperti dirinya. Kini Sungchan memejamkan matanya sebentar sembari mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja warkop. Sebenarnya tantangan ini terasa menarik dan menantang, meskipun peluangnya fifty-fifty. Ah, tapi masa bodohlah, toh kalaupun rencana ini gagal di tengah jalan, ia tidak akan merasa rugi apa-apa. Nothing to lose, pikirnya.
“Yaudah, deal.”
Kini Eunseok dan Sohee langsung tersenyum lebar mendengarnya. Dengan penuh kemenangan, Eunseok segera menyalami tangan Sungchan, yang kemudian disusul oleh Sohee sebagai tanda bahwa kesepakatan taruhan gila mereka resmi disetujui bersama.
“Oke, setuju ya? Asik, mantap,” seru Sohee girang.
“Dah, mumpung orangnya ada, langsung lu tawarin anter pulang aja sekarang, Chan,” desak Eunseok.
“Gila lu, masa langsung sekarang?” protes Sungchan ragu.
“Cepet, anjir! Itu dia udah mau bayar ke kasir,” Sohee menyenggol lengan Sungchan dengan heboh.
Sungchan melirik ke arah yang ditunjuk oleh Sohee. Di sana, si anak cupu itu memang sedang berdiri diam, menunggu temannya yang penampilannya tidak sebegitu cupu seperti Tony untuk menyelesaikan pembayaran di meja kasir warkop.
“Haduh, entaran aja lah, anjing. Masa langsung gas sekarang? Aneh banget,” keluh Sungchan enggan.
“Chan, cepet asu, mumpung timing-nya lagi bagus banget ini!”
“Cepet bego, keburu dia pulang duluan nanti!” Eunseok dan Sohee kompak mendorong-dorong tubuh tegap Sungchan agar segera berdiri dari kursinya.
“Ah, kontol lu semua,” umpat Sungchan pasrah.
Kini dengan langkah kaki yang sengaja dibuat lunglai dan malas, Sungchan berjalan menghampiri area meja kasir warkop. Ia kemudian mengambil posisi berdiri tepat di belakang tubuh Tony yang tampaknya masih fokus menunggu temannya menyelesaikan urusan pembayaran di sana. Teman Tony yang tak lama kemudian menyadari presensi intimidatif dari Sungchan yang berdiri tegap di belakang mereka, langsung menyenggol siku Tony dengan cepat untuk memberikan kode.
“Tony, itu ada kating kamu,” bisiknya.
Tony sontak menoleh, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati sosok Sungchan—kakak tingkat yang terkenal dingin sekaligus komdis galak saat MPD kemarin—berdiri dalam jarak yang sangat dekat di belakangnya.
“Eh, halo Kak Sungchan...” Tony menyapa terbata-bata sembari mengangguk kecil, senyum malu-malu terukir di wajahnya yang mendadak bersemu merah.
Sementara itu, Sungchan hanya diam bergeming. Matanya bergerak skeptis, memerhatikan penampilan Tony dari atas sampai bawah tanpa sensor. Kemeja lengan panjang berwarna kuning pastel kedodoran yang panjangnya bahkan menutup pantat, dipadukan dengan celana jeans longgar berwarna biru cerah yang tampak norak di mata Sungchan, lalu disempurnakan dengan sepatu flatshoes kain berwarna merah menyala. Sungchan seketika merasa kepalanya pening bukan main. Yang bener aja si Sohee nyuruh gua nge-glow up-in orang yang bentukan fashion-nya aja sekacau ini? batinnya menjerit frustrasi.
Tony yang merasa ditatap seintens itu dalam waktu yang lama langsung menundukkan kepala, meremat amplop file lapraknya dengan gugup demi menyembunyikan rasa salah tingkah sekaligus takut. “Ke-kenapa ya, Kak?” tanya Tony cicit.
Dengan berat hati dan demi taruhan dari duo keparat di mejanya tadi, Sungchan menghela napas pendek lalu menjawab ketus, “Lu habis ini pulang sama gua.”
Tony membelalakkan matanya di balik kacamata tebalnya, benar-benar terkejut dengan ucapan Sungchan yang mendadak tanpa angin tanpa hujan. “Eh— Kak? A–aku pulang sa–”
“Dia nggak ada tumpangan pulang sih, Kak. Pas banget,” potong teman Tony dengan nada kompor yang langsung dihadiahi pelototan maut dari Tony.
“Kak, a–aku bisa pulang send–”
“Gua tunggu di motor. Entar kalau udah beres, langsung ke parkiran,” potong Sungchan final. Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari si adik tingkat, ia langsung berbalik badan dan berjalan lebar menuju area parkiran warkop.
“KAK! aku bisa pulang sendiri, Kak! Kak? Kak Sungchan...!” Tony berusaha memanggil, namun punggung tegap katingnya itu sudah terlanjur menjauh.
Tony langsung berbalik menghadap temannya dengan wajah cemberut bercampur kesal. “Ih, kamu apa-apaan sih? Kenapa malah dibilang nggak ada tumpangan? Kan aku bisa bareng kamu!” omel Tony sambil menghentakkan kakinya pelan.
Temannya hanya tertawa lepas tanpa rasa bersalah sama sekali sembari menerima uang kembalian dari kasir. “Hahaha, ya maaf. Males juga gua sebenarnya nganterin lu pulang sore-sore gini, Ton. Arah kosan lu kan macetnya minta ampun kalau jam pulang. Lagian rejeki itu, lumayan bisa pulang bareng kating ganteng.”
Tony hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal, merutuki nasibnya sore ini yang mendadak harus berurusan dengan komdis galak seperti Sungchan. Namun di sisi lain, dadanya berdegup dua kali lebih cepat.
Setelah urusan bayar-membayar beres, Tony berjalan dengan langkah super pelan dan malu-malu menyambangi area parkiran. Dari kejauhan, ia bisa melihat Sungchan yang sedang bersandar di motor besarnya. Begitu menyadari presensi Tony yang berjalan mendekat, Sungchan langsung mengantongi ponselnya ke dalam saku celana. Bukannya langsung naik ke atas motor, Sungchan justru menyodorkan helm yang sejak tadi ia pegang ke arah Tony. Helm miliknya sendiri, yang berarti Sungchan rela berkendara tanpa pelindung kepala demi dirinya.
Tony membeku sesaat, menatap helm di tangan Sungchan dengan pandangan tidak percaya. Rasanya ratusan kupu-kupu terbang langsung naik ke dadanya, membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan.
“Naik,” ucap Sungchan singkat dan dingin, memecah lamunan Tony yang masih bengong seperti orang bodoh.
“Eh, i-iya, Kak.” Tony dengan kikuk menerima helm tersebut, memakainya dengan terburu-buru hingga posisinya sedikit miring, lalu naik ke jok belakang motor Sungchan dengan posisi duduk yang teramat kaku, memberi jarak sejauh mungkin agar tubuh mereka tidak saling bersentuhan.
Setelah memastikan Tony sudah mendarat di jok belakang, Sungchan menyalakan mesin motornya yang menderu keras. “Kos lu di mana?” tanyanya setengah berteriak di sela bising suara knalpot.
“Di Griya Kencana, Kak! Masuk gang samping Indomaret yang sebelah barber itu, terus nanti lurus aja sampai ketemu pagar hitam yang ada pohon jambunya di depan—”
“Oke.” Sungchan langsung memotong komando panjang lebar dari Tony dengan satu kata dingin, lalu menarik tuas gasnya dalam-dalam, membelah jalanan sore yang mulai padat.
Sepanjang perjalanan, atmosfer di antara mereka terasa begitu hening. Tidak ada obrolan sama sekali. Sungchan fokus menembus kemacetan dengan raut wajah masam karena masih kepikiran perkara Bina, sementara Tony di belakangnya sibuk menahan napas dan salah tingkah sendiri setiap kali motor menukik tajam, membuat aroma parfum maskulin milik Sungchan menguar dan menusuk indra penciumannya.
Tak butuh waktu lama bagi motor besar Sungchan untuk sampai di depan gerbang kosan yang dimaksud. Begitu motor berhenti sempurna, Tony segera turun dari jok dengan gerakan canggung. Ia melepaskan helm dari kepalanya, lalu menyodorkannya kembali pada Sungchan dengan kedua tangan sembari menunduk sopan.
“Makasih banyak ya, Kak Sungchan, udah mau repot-repot anterin aku pulang...” tutur Tony tulus dengan senyuman manisnya yang khas.
Sungchan tidak membalas ucapan terima kasih itu. Ia hanya menerima kembali helmnya dengan wajah datar tanpa ekspresi, membuat Tony mengulum bibirnya pelan, mengira kalau katingnya ini mungkin sedang dalam mood yang buruk. Mengira urusan mereka sudah selesai, Tony berbalik dan mulai melangkah kecil memasuki gerbang kosannya.
“A-aku masuk ya, Kak. Makasih sekali lagi!”
Baru saja Tony melangkah sekitar tiga meter, suara berat Sungchan kembali menginterupsi keheningan sore itu.
“Tony!”
Tony refleks menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
“Eh, beneran nama lu Tony, kan?” tanya Sungchan memastikan, menatap Tony dari atas motornya dengan sebelah alis yang terangkat.
Tony mengangguk pelan dengan wajah yang kembali merona merah. “I-iya, Kak. Bener, nama aku Tony. Kenapa ya, Kak?”
Sungchan terdiam sejenak. Matanya memicing, tampak menimbang-nimbang sesuatu di dalam kepalanya sebelum akhirnya ia memantapkan niat demi taruhan gila bersama Sohee dan Eunseok.
“Nanti malam temenin gua makan. Jam 7 malam gua jemput.”
Setelah menjatuhkan kalimat yang sukses membuat dunia Tony serasa runtuh akibat serangan jantung mendadak, Sungchan langsung memakai kembali helmnya, menurunkan kaca penutup wajah, lalu menarik gas motornya dalam-dalam—meninggalkan pekarangan kos Tony yang masih berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka karena terlalu syok.
—
Entah sudah berapa kali Tony mematut diri di depan cermin usang yang menempel di pintu lemarinya. Sejak pukul enam sore tadi, atensinya sama sekali tidak bisa dialihkan dari bayangan dirinya sendiri. Maklum saja, malam ini pukul tujuh nanti, ia mendapat undangan mendadak untuk menemani kakak tingkat tampan sekaligus salah satu yang paling ditakuti di jurusannya untuk makan malam bersama. Sudah tak terhitung berapa kali Tony berganti pakaian karena rasa tidak percaya diri yang membumbung tinggi.
Awalnya, ia memilih kemeja pastel berwarna merah muda yang menjadi baju favoritnya, namun setelah dipikir-pikir, ia merasa pakaian itu terlalu formal jika hanya digunakan untuk sekadar makan malam di luar. Tony kemudian menggantinya dengan kaus lengan pendek putih bermodel oversize, namun lagi-lagi ia merasa penampilannya terlalu santai dan kurang pantas untuk bersanding di dekat sang kating. Setelah melakukan eliminasi beberapa kali, pilihan akhirnya jatuh pada sebuah sweater rajut berwarna hitam yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana santai bermotif kotak-kotak kecil berwarna abu-abu. Nah, gini aja deh, nggak jelek-jelek amat, batinnya menenangkan diri.
Kini, pandangan Tony beralih menatap deretan koleksi kacamata yang tertata di atas meja belajarnya. Ia memiliki beberapa kacamata dengan warna bingkai yang berbeda; ada yang berwarna merah menyala, hitam pekat, dan juga bening transparan. Tony berdeham panjang sembari menimang-nimang kacamata mana yang sekiranya paling cocok untuk ia kenakan malam ini. Semua bingkai dicobanya satu per satu di depan cermin, namun keputusannya jatuh pada bingkai berwarna merah. Pikirannya sederhana: karena pakaian yang ia kenakan malam ini sudah terlampau gelap dan monoton, sepertinya akan sangat bagus jika kacamata merahnya menjadi main point dari penampilannya malam ini. Tony kemudian merapikan sedikit poni depannya dengan terburu-buru begitu menyadari jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh kurang dua menit. Ia benar-benar tidak ingin membuat Sungchan menunggunya terlalu lama.
Setelah memastikan penampilannya tidak ada yang kurang, Tony bergegas melangkah lebar menuruni anak tangga kosnya, lalu duduk manis di kursi tunggu yang terletak di lantai dasar. Sepuluh menit berlalu dengan cepat, berganti menjadi dua puluh menit, hingga tak terasa tiga puluh menit sudah terlampaui begitu saja. Jam digital di ponsel Tony kini telah menunjukkan pukul setengah delapan lewat, namun tanda-tanda kedatangan kating yang berjanji akan menjemputnya itu sama sekali belum terlihat.
Sebenarnya, sejak tadi jempol Tony sudah gemetar di dalam ruang obrolan pribadinya dengan Sungchan. Ia berkali-kali mengetikkan pesan, namun berakhir dengan buru-buru menghapusnya kembali karena tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menekan tombol kirim. “Aku udah di bawah ya, Kak,” ketiknya pertama kali, lalu dihapus. “Kabarin ya, Kak, kalau sudah berangkat,” Tony menggelengkan kepalanya kuat-kuat lalu kembali menghapus deretan kata itu. “Kakak di mana ya?” Pada akhirnya, Tony menyerah total dan menghapus seluruh konsep pesan yang hendak ia kirimkan.
Ia menghela napas panjang yang terdengar teramat berat, lalu memilih untuk meringkuk di atas kursi tunggu sembari memeluk lututnya sendiri. Apa tadi Kak Sungchan cuma bohong ya? Lagipula, ngapain juga cowok sekeren Kak Sungchan tiba-tiba ngajak aku makan malam? Kayaknya nggak mungkin banget, deh, batin Tony miris. Merasa harapannya telah pupus, Tony mengangkat tubuhnya dari kursi. Ia memutuskan untuk menyerah dan berniat kembali saja ke kamarnya di lantai atas. Namun, tepat saat tubuhnya berbalik ke arah dalam lorong kos, suara raungan mesin motor besar yang teramat familiar mendadak menyeruak memecah keheningan malam. Tony tersentak. Saat ia menoleh ke arah gerbang, sosok Sungchan yang mengendarai motor besarnya baru saja berhenti tepat di depan pagar kost sembari memencet klakson dua kali sebagai tanda kehadiran.
Melihat pemandangan itu, raut wajah Tony yang semula lesu seketika berubah menjadi benderang dipenuhi rasa girang. Ia bahkan hampir saja menjerit kecil dan meloncat kegirangan di tempat jika saja ia tidak segera tersadar bahwa Sungchan tengah memperhatikannya dari balik kaca helm yang gelap. Dengan langkah yang diusahakan seanggun mungkin, Tony menghampiri Sungchan yang tetap bergeming di atas jok motornya tanpa ada niatan untuk turun.
“Maaf lama, gua nyari helm dulu tadi,” ucap Sungchan datar, menyodorkan sebuah helm cadangan yang berada di genggaman tangannya kepada Tony.
“Nggak apa-apa kok, Kak! Makasih banyak ya, Kak...” sahut Tony dengan nada suara yang sedikit meninggi akibat rasa gugup dan senang yang bercampur aduk.
Tony kemudian menerima helm tersebut dan mencoba memakainya, meski tangannya yang gemetar membuat posisi helm itu berakhir miring di kepalanya. Setelah memastikan Tony duduk dengan aman di jok belakang, Sungchan tanpa membuang waktu langsung menarik tuas gasnya dalam-dalam, membelah jalanan malam menuju tempat makan yang sudah ia rencanakan.
Sebenarnya, Sungchan sengaja mengulur waktu dan melama-lamakan kedatangannya untuk menjemput Tony. Di dalam benaknya, ia berharap si adik tingkat cupu itu akan merasa lelah menunggu dan memilih untuk menyerah lebih dulu, sehingga ia memiliki alasan logis untuk membatalkan taruhan konyol ini. Namun apa boleh buat, dugaannya meleset total karena nyatanya Tony masih setia menantinya di lantai dasar dengan sabar. Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di sebuah tempat makan semi warkop yang sengaja dipilih oleh Sungchan karena letaknya yang tersembunyi dan terkenal sepi pengunjung. Benar saja dugaannya, malam ini hanya ada satu meja pelanggan yang terisi di sudut ruangan.
Tony segera turun dari boncengan, disusul oleh Sungchan yang mengikutinya dari belakang setelah melepas helmnya. Kini, setelah pandangan Sungchan tidak lagi terhalang oleh visor helm yang gelap, ia baru benar-benar menyadari bagaimana penampilan Tony di bawah temaram lampu jalanan. Sebenarnya, pilihan sweater hitam dan celana santai abu-abu yang dikenakan anak itu tidak bisa dikatakan buruk. Namun, apa sebenarnya yang ada di dalam jalan pikiran Tony ketika ia memutuskan untuk mengenakan kacamata dengan bingkai merah menyala yang super mencolok itu? Sungchan memijat pelipisnya perlahan. Untung saja suasana warkop ini sedang sepi dan hari sudah beranjak malam, sehingga Sungchan bisa sedikit bernapas lega seraya berharap tidak ada anak-anak kampus lain yang melihatnya sedang membawa teman kencan dengan selera fashion seaneh ini.
Sungchan melangkah tegap memasuki area dalam tempat makan, lalu berdeham kecil ketika netranya membaca deretan menu yang tertempel di meja kasir. “Magelangan sama Liong aja satu, Mas,” ucapnya cepat pada pelayan warkop, lalu menutup kembali buku menu di hadapannya. Ia kemudian menoleh ke arah Tony yang masih berdiri canggung di sampingnya. “Lu pilih sendiri apa yang mau lu makan. Gua duduk duluan di sana,” titah Sungchan sembari menunjuk sebuah meja yang berada di pojok paling ujung dan paling gelap. Sekali lagi, ia benar-benar ingin mengamankan diri agar tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya malam ini.
Tony mengangguk patuh lalu mulai membolak-balik lembar menu dengan saksama. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama karena kebingungan, ia akhirnya menentukan pilihan. “Aku mau indomie rebus pakai telur setengah matang ya, Mas. Minumnya es milo saja,” ucapnya sopan kepada pelayan toko.
Usai memesan, Tony berjalan pelan menghampiri Sungchan yang rupanya sudah sibuk memainkan ponselnya di meja pojok. Dengan gerakan yang teramat malu-malu, Tony mendudukkan dirinya di kursi yang berseberangan langsung dengan sang kating ganteng. Selama Sungchan asyik tenggelam dengan dunianya sendiri di balik layar ponsel, Tony memanfaatkan kesempatan itu untuk memperhatikan wajah katingnya tanpa berkedip. Di mata Tony, Sungchan terlihat berlipat-lipat jauh lebih tampan malam ini, terlebih dengan balutan jaket kulit hitam yang membungkus tubuh tegapnya serta ripped jeans berwarna biru pudar yang memberikan kesan maskulin.
Ini adalah kali pertama bagi Tony memiliki keberanian sebesar ini untuk menatap wajah Sungchan dari jarak yang sedekat ini setelah sekian lama hanya bisa memandangnya dari jauh saat kegiatan MPD. Netra Tony bergerak mengagumi setiap inci pahatan wajah katingnya yang tampak begitu sempurna seperti sengaja diukir dengan baik oleh Tuhan. Matanya yang tajam namun indah, hidungnya yang bangir mencuat sempurna, serta kulit wajahnya yang terlihat sangat bersih dan terawat, benar-benar berbeda jauh jika dibandingkan dengan tipe abang-abangan tongkrongan warkop pada umumnya. Pandangan Tony kemudian turun, terpaku pada bentuk bibir Sungchan yang—
“Lihat apa lu?” tegur Sungchan tiba-tiba dengan suara beratnya yang menginterupsi keheningan.
Tony tersentak hebat, bagaikan tertangkap basah sedang melakukan tindak kriminal. Ia refleks mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah yang mendadak memanas hebat. “Eh... maaf, Kak,” cicitnya merasa bersalah.
Sungchan memutar bola matanya malas melihat tingkah kikuk adik tingkatnya itu. Ia kemudian menaruh ponselnya di atas meja dengan ketukan pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap lekat-lekat tubuh Tony dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dalam hati, Sungchan masih tidak habis pikir kenapa dirinya bisa sampai sefrustrasi ini hingga mengiyakan taruhan gila yang diajukan oleh Sohee dan Eunseok sore tadi.
“Lu tuh emang dandanannya begini terus ya tiap hari?” tanya Sungchan tiba-tiba, membuka obrolan dengan nada interogasi.
Tony mengernyitkan dahinya, merasa agak bingung sekaligus gugup. “Be-begini apanya ya, Kak?”
“Baju lu. Ya... kalau baju lu yang sekarang sih sebenarnya masih mendingan daripada yang tadi siang. Tapi kacamata lu itu, tuh. Norak,” kritik Sungchan tanpa saringan, menunjuk tepat ke arah bingkai merah yang bertengger di hidung Tony.
Tony semakin mengernyit bingung, merasa terkejut dengan kritik pedas yang dilayangkan Sungchan secara tiba-tiba pada selera estetikanya. “Hah? Gimana maksudnya, Kak?”
“Next time ganti kacamata lu itu. Nggak ada yang modelnya normalan dikit apa?” ketus Sungchan lagi.
Tony yang mendengar penuturan itu langsung merasa tidak enak hati dan diserang rasa tidak percaya diri yang luar biasa. Tanpa berpikir panjang, ia segera melepas kacamata berbingkai merah itu dari wajahnya dengan gerakan terburu-buru. “I-iya, Kak... ini aku lepas aja kalau kakak nggak suka...” ucapnya pelan.
Namun, keputusan impulsif itu justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Detik setelah kacamata itu terlepas, dunia di sekitar Tony seketika berubah menjadi buram dan tidak fokus akibat minus mata yang dideritanya cukup parah. Bahkan untuk melihat detail wajah Sungchan yang berada tepat di hadapannya pun kini terlihat sangat samar dan tidak jelas. Di seberang meja, Sungchan hanya mendengus pelan lalu kembali meraih ponselnya untuk melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda, mengabaikan fakta bahwa Tony kini sedang kebingungan di tempat duduknya. Aduh, sekarang aku harus ngapain dong? Mau main hp aja layarnya burem banget kayaknya, ratap Tony dalam hati, meratapi nasibnya yang malang.
Beruntung bagi Tony, keheningan yang canggung itu tidak berlangsung terlalu lama karena pesanan makanan mereka akhirnya datang dan disajikan di atas meja. Namun, kemalangan tampaknya belum mau beranjak dari sisi Tony. Mengingat ia tidak mengenakan kacamatanya, menyantap makanan kini menjadi sebuah tantangan yang teramat sulit. Sungchan sendiri sudah mulai melahap magelangannya dengan lahap tanpa memedulikan sekitar, sedangkan Tony masih harus bersusah payah menyipitkan matanya sedemikian rupa, mendekatkan wajahnya ke arah mangkuk demi memisahkan potongan sayuran dari untaian mi instan rebusnya.
Sungchan yang tak sengaja mendongak dan menyaksikan pemandangan menggelikan itu hanya bisa menyengir kecil, merasa geli sekaligus heran dengan tingkah keras kepala anak di hadapannya. “Ada-ada aja dah nih anak,” gumamnya pelan. “Pake dulu aja itu kacamatanya, daripada lu makan sambil merem begitu,” titah Sungchan akhirnya.
Tony mengangguk cepat dengan perasaan lega yang tak membendung. Ia segera memakai kembali kacamata merahnya, lalu dengan cekatan menyingkirkan sayur-sayuran dari mi rebusnya. Setelah berhasil melaluinya, Tony menarik napas lega lalu mulai menyantap mi instannya dengan tenang. Karena porsi makan Sungchan yang besar dan cepat, makanan di piring katingnya itu sudah habis lebih dulu dalam waktu singkat. Kini, Sungchan tampak menyesap Liong-nya perlahan sembari menyandarkan tubuh, mengamati lumat demi lumat bagaimana Tony menikmati makanannya dengan kunyahan yang kecil dan rapi.
Merasa atmosfernya sudah tepat untuk memulai rencana taruhannya, Sungchan mengetuk meja sekali untuk menarik perhatian, lalu melontarkan satu kalimat tanpa beban dengan nada suara yang teramat santai.
“Lu jadi pacar gua ya.”
“UHUK!”
Tony sontak tersedak kuah mi instan yang baru saja masuk ke tenggorokannya, terbatuk-batuk hebat mendengar pernyataan yang teramat tiba-tiba dari bibir Sungchan. Gelas es Milo milik Tony yang berada agak jauh di sudut meja segera digeser oleh Sungchan mendekat ke hadapan sang adik tingkat agar anak itu bisa segera minum. Dengan wajah yang sudah memerah padam akibat tersedak sekaligus syok, Tony buru-buru menyambar gelasnya dan meminum es Milonya dengan tegukan besar untuk meredakan rasa perih di tenggorokannya.
“Eh, makanya hati-hati kalau makan tuh,” ucap Sungchan mengingatkan, nadanya masih terdengar flat tanpa rasa berdosa sedikit pun setelah menjatuhkan bom atom pada perasaan Tony.
Setelah batuknya berangsur-angsur mereda dan napasnya kembali teratur, Tony mengangkat kepalanya dengan perlahan, menatap lurus ke arah Sungchan dengan tatapan yang sepenuhnya dipenuhi oleh rasa bingung dan tidak percaya. “A-apa tadi, Kak? Jadi pacar Kakak?” tanya Tony mengonfirmasi ulang, meyakinkan pendengarannya sendiri apakah ia sedang berhalusinasi atau tidak.
Sungchan menganggukkan kepalanya sekali dengan mantap. “Iya. Kenapa? Lu mau nolak gua?”
Tony refleks menggelengkan kepalanya dengan cepat. “E-enggak gitu, Kak, tapi... tapi kan kita baru banget ketemu dan kenal? Maksudnya, kita belum sedekat itu...”
“Ya terus?” potong Sungchan enteng, menaikkan sebelah alisnya seolah hal tersebut bukanlah sebuah masalah yang besar.
“Kak...?” Tony menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Sungchan, berusaha keras mencari secercah kebohongan atau candaan di sana demi memahami apa sebenarnya maksud tersembunyi dari katingnya yang tiba-tiba mengajaknya berpacaran tanpa ada proses pendekatan sama sekali. “Kakak serius?”
“Ya iyalah, emang muka gua kelihatan kayak lagi bercanda?” sahut Sungchan defensif.
Tony masih terdiam seribu bahasa, otaknya berputar keras mencoba mencerna rentetan kejadian gila yang menimpanya malam ini. Menjadi pacar seorang Sungchan? Hal itu benar-benar terdengar seperti sebuah kegilaan yang tak masuk akal di dunianya. Ya, jujur saja jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tentu saja menginginkannya, tapi bukankah caranya tidak semestinya seperti ini? Apa memang gaya berpacaran anak zaman sekarang secepat dan se-ekstrem ini? Tony yang baru pertama kali seumur hidupnya ditembak oleh seseorang hanya bisa mengernyitkan dahinya kebingungan.
“Karena nggak ada penolakan dari lu, jadi gua anggap kita sekarang resmi pacaran ya,” putus Sungchan sepihak tanpa mau memberikan ruang bagi Tony untuk bernegosiasi. Ia kemudian melirik jam digital yang tertera di layar ponselnya. “Tanggal 18 Februari 2026, jam 8 malam lewat 36 menit. Catat ya, Tony.”
Tony hanya bisa melongo dengan mulut yang setengah menganga mendengar pernyataan mutlak dari Sungchan. Seleranya untuk melanjutkan sisa mi instannya kini menguap begitu saja tanpa bekas. Baru saja Tony membuka mulutnya, bersiap untuk menanyakan lebih lanjut mengenai kejelasan status kilat mereka, namun Sungchan sudah terlanjur bangkit berdiri dari kursi makannya.
“Gua nyebat bentar di depan, lu habisin aja dulu itu makanannya,” ucap Sungchan santai sembari merogoh saku jaket kulitnya untuk mengambil sebungkus rokok.
Dengan langkah lebar, Sungchan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Tony sendirian di meja pojok yang masih terpaku dalam kebingungan yang teramat sangat. Tony menatap punggung tegap yang kini menjauh itu dengan benak yang dipenuhi oleh ratusan pertanyaan yang berputar-putar tanpa jawaban. Ini sebenarnya maksudnya apa sih? Aku... beneran jadi pacar Kak Sungchan sekarang? Kenapa tiba-tiba banget? Dan kenapa... harus aku?
—
Perjalanan pulang malam itu terasa berkali-kali lipat lebih sunyi dan canggung jika dibandingkan dengan saat mereka berangkat tadi. Atmosfer di antara keduanya terasa begitu pekat, terlebih setelah pernyataan sepihak dari Sungchan di warkop tadi yang menyatakan bahwa mulai detik ini mereka telah resmi berpacaran.
Sepanjang jalan, embusan angin malam yang menerpa wajah tidak mampu mengenyahkan rasa berkecamuk di dalam dada Tony. Hal ini masih sangat tidak masuk akal di dalam kepala kecilnya. Bagaimana bisa seorang kating ganteng yang terkenal galak dan dingin tiba-tiba menembaknya tanpa ada angin tanpa ada hujan? Namun apa boleh buat, sifat asli Tony yang terlampau polos dan tidak enakan membuatnya tidak memiliki kekuatan ataupun keberanian yang cukup untuk melayangkan penolakan pada Sungchan.
Tak terasa, motor besar Sungchan kembali membelah gang sempit dan berhenti tepat di depan gerbang kosan milik Tony. Begitu mesin motor sedikit mereda, Tony segera turun dari jok belakang dengan gerakan yang teramat canggung. Ia melepaskan helm dari kepalanya, lalu menyodorkannya kembali kepada Sungchan sembari memaksakan sebuah senyuman tipis.
“Makasih banyak ya, Kak Sungchan... ini helmnya,” ucap Tony pelan, memecah keheningan di antara mereka.
Setelah helm berpindah tangan, keduanya sempat terdiam beberapa saat, terjebak dalam aksi diam-diaman yang canggung di bawah temaram lampu jalanan. Sungchan menatap Tony datar, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam kepalanya, sebelum akhirnya ia yang bersuara duluan untuk memutus jarak.
“Soal yang di warkop tadi... jadiin rahasia di antara kita berdua aja, ya,” ujar Sungchan dengan nada perintah yang mutlak.
Lagi-lagi, tanpa memberikan kesempatan bagi Tony untuk merespon atau sekadar bertanya mengapa hubungannya harus disembunyikan, Sungchan dengan cepat langsung menyalakan kembali mesin motornya yang menderu keras. Ia memutar gasnya dalam-dalam dan melesat pergi begitu saja dari hadapan kosan, meninggalkan kepulan asap tipis serta Tony yang lagi-lagi dibuat kebingungan setengah mati di tempatnya berdiri. Tony hanya bisa menghela napas panjang sembari memeluk erat tubuhnya sendiri, mencoba mencerna keanehan sikap pacar barunya itu.
Begitu sampai di dalam kamarnya yang bernuansa sepi, Tony langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk tanpa sempat mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Jiwa mudanya yang masih sangat lugu dan belum pernah merasakan indahnya jalinan asmara seketika merasa terbebani sekaligus penasaran. Dengan dahi yang mengernyit serius, Tony meraih ponselnya lalu mulai berselancar di mesin pencarian internet. Ia mengetikkan kata kunci dengan jemari yang gemetar, mencari tahu bagaimana sebenarnya cara menjadi seorang pacar yang baik, serta bagaimana gaya berpacaran anak zaman sekarang yang ideal. Ia membaca artikel demi artikel, mencatat beberapa tips dalam benaknya agar ia tidak memalukan saat bersanding dengan Sungchan kelak.
Tepat di saat ia sedang asyik mendalami artikel-artikel tersebut, sebuah notifikasi mendadak muncul di bagian atas layar ponselnya. Jantung Tony seketika mencelos berdegup kencang saat mendapati nama Kak Sungchan tertera di sana. Dengan perasaan yang membumbung tinggi dipenuhi rasa kegirangan, Tony buru-buru membuka ruang obrolan mereka, mengira kalau katingnya itu mungkin akan mengirimkan pesan manis selayaknya orang yang baru jadian.
Namun nyatanya, ekspektasi Tony harus berbenturan dengan realita. Sungchan dengan gaya dinginnya yang khas hanya melayangkan pertanyaan singkat tanpa basa-basi.
“besok kelas kelar jam berapa?”
Tony sempat tertegun sesaat melihat ketikan singkat itu. Namun, mengingat dirinya baru saja membaca tips-tips di internet tentang bagaimana cara menjadi pacar yang manis dan perhatian, Tony pun memutuskan untuk membalasnya dengan gaya yang imut demi menyenangkan hati sang kekasih.
“Aku besok selesai jam 2 siang, Kak Sungchan >_<” tulis Tony, lengkap dengan emotikon lucu di ujung kalimatnya.
Tak butuh waktu lama bagi pesan tersebut untuk mendapatkan balasan. Namun, rasa antusias Tony kembali mengempis tatkala melihat respon yang dikirimkan oleh Sungchan.
“ok”
Hanya dua huruf, lengkap dengan tanda titik yang tegas. Tony mengerjapkan matanya bingung, menatap layar ponselnya dengan helaan napas pendek. Namun, ia mencoba berpikiran positif dan memaklumi. Ia berpikir bahwa mungkin memang seperti inilah gaya bertukar pesan seorang Sungchan—singkat, padat, dan tidak suka bertele-tele. Mencoba memberanikan diri untuk memperpanjang obrolan, Tony kembali mengetikkan pesan baru.
“Kakak udah sampai kos?" tanya Tony perhatian.
Pesan itu tidak langsung dibalas. Ada jeda beberapa menit yang cukup membuat Tony kembali didera rasa gugup, sebelum akhirnya sebuah balasan singkat kembali masuk ke dalam ponselnya.
“udah”
Tony lagi-lagi dibuat bingung sekaligus mengulum bibirnya pelan. Kini ia benar-benar menyadari dan membatin dalam hati kalau Kak Sungchan ini tampaknya memang bertipe sangat dingin, bahkan ketika status mereka sudah berubah menjadi sepasang kekasih sekalipun. Enggan menyerah untuk menunjukkan perhatiannya sebagai pacar yang baik, Tony kembali mengetikkan kalimat penutup yang manis.
“Oke deh, Kak Sungchan jangan tidur lama-lama yaa, good night ^_^”
Tony menunggu selama beberapa saat, memperhatikan ruang obrolan mereka dengan penuh harap. Namun, alih-alih mendapatkan balasan kata-kata hangat atau sekadar ucapan selamat tidur, pesan manisnya itu ternyata hanya berakhir dibaca alias di-read saja oleh Sungchan tanpa ada niatan untuk dibalas.
Tony menghela napasnya yang kesekian kali untuk malam ini. Karena ia tidak ingin ambil pusing dan enggan merusak suasana hatinya yang masih dipenuhi sisa-sisa rasa senang karena baru saja jadian, ia memutuskan untuk menyudahi aktivitasnya. Tony meletakkan ponselnya di atas meja belajar, lalu beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk segera tidur, mengabaikan fakta bahwa hubungan asmaranya yang baru ini terasa berjalan dengan sangat tidak biasa.
Sementara itu, Sungchan yang sebenarnya saat ini masih berada di warkop untuk menemui Sohee dan Eunseok kembali menghela napasnya berat setelah membaca pesan terakhir dari Tony. Meskipun misinya untuk menembak si adik tingkat cupu itu sudah berhasil ia tuntaskan dalam waktu kilat, namun bagian tersulit dari taruhan ini baru saja dimulai. Mengubah total gaya berpakaian Tony yang super ajaib itu? Sungchan rasa hal tersebut akan menjadi tantangan yang sedikit sulit dan menguras sisa-sisa kesabarannya.
“Ah, gak aci lu mah, masa langsung udah jadian aja?” protes Sohee tak terima sembari merengut kesal karena kalah cepat dari taktik Sungchan.
“Lah, gua mah jago, Hee. Jangan lu raguin pesona gua,” ujar Sungchan dengan nada sombong, mencoba menutupi fakta bahwa ia baru saja melakukan penembakan paling tidak romantis sepanjang sejarah.
“Tapi belom beres perjanjian kita ya, inget. Perjanjiannya itu tiga bulan pacaran, terus lu bikin glow up, dan yang paling penting, Chan, si Bina juga harus sampai minta balikan sama lu. Kalau tiga itu gagal, kagak jadi deal-dealan kita tadi, Chan,” Eunseok mengingatkan dengan detail sembari mengetuk-ngetuk meja warkop, tak mau kalah begitu saja.
Ah, benar juga. Tujuan utama dari semua kegilaan ini adalah Bina. Sungchan refleks mengarahkan jemarinya untuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Menimbang kembali penampakan kemeja kuning pastel kedodoran dan kacamata merah menyala milik Tony tadi, Sungchan mendadak merasa sepertinya misi ini akan lebih besar peluangnya untuk gagal dibanding berhasil.
Namun, otaknya yang cerdas tidak mau menyerah begitu saja. Ia langsung memutar otak, mencari ide untuk dengan cepat membenarkan cara berpakaian si cupu itu agar tidak memalukan saat mereka jalan bersama. Tanpa membuang waktu, Sungchan kembali membuka ponselnya dan mengetikkan satu pesan singkat yang berisi perintah mutlak untuk Tony sebelum kembali mengantongi benda pipih tersebut.
Usai mengirim pesan, Sungchan kembali melanjutkan obrolannya bersama Sohee dan Eunseok yang sempat tertunda. Ia mulai menceritakan secara detail apa saja kejadian absurd yang baru terjadi antara dirinya dengan Tony selama di warkop semi-sepi tadi. Terlebih mengenai masalah pilihan kacamata berbingkai merah merona yang sangat mencolok itu. Sungchan merasa ia benar-benar harus menceritakan bagian itu pada kedua temannya. Menurut analisis Sungchan, selera fashion anak itu benar-benar sudah tidak tertolong lagi kalau saja ia tidak menegurnya dengan kalimat ketus di tempat makan tadi. Mendengar cerita Sungchan, tawa Eunseok dan Sohee seketika pecah, memenuhi sudut warkop malam itu.
Sementara di tempat lain, Tony yang sudah selesai membersihkan badannya di kamar mandi tampak melangkah pelan mendekati tempat tidur. Sebelum mematikan lampu utama kamarnya dan menggantinya dengan lampu tidur yang temaram, netranya tak sengaja menangkap layar ponselnya yang mendadak menyala, menampilkan sebuah notifikasi baru dari Kak Sungchan.
Dengan gerakan cepat, Tony segera meraih ponselnya lalu membaca deretan kalimat singkat yang tertera di sana.
“gua jemput lu beres kelas besok.”
Awalnya, secercah rasa senang kembali membuncah di dalam dada Tony karena perhatian tak terduga itu. Namun, mengingat bagaimana katingnya itu datang terlambat sampai tiga puluh menit lebih saat menjemputnya makan malam tadi, Tony seketika memicingkan matanya curiga di depan layar ponsel. Kali ini, apakah benar Kak Sungchan akan menepati janjinya untuk menjemput tepat waktu, atau ia harus kembali berakhir merana menunggu di parkiran?
Setelah menimang-nimang kalimat yang pas agar tidak terdengar lancang, Tony akhirnya mengetikkan balasan dengan jemari kecilnya. “Oke Kak Sungchan, nanti aku tunggu di dekat parkiran ya. Jangan telat kayak tadi lagi boleh gak ya?” tulis Tony, mencoba menyelipkan sedikit protesan halus di ujung kalimatnya.
Di seberang sana, Sungchan yang melihat pop-up pesan masuk langsung membaca chat tersebut sesaat setelah dikirimkan. Tanpa butuh waktu lama, sebuah balasan singkat kembali masuk ke ponsel Tony.
“aman”
Tony mengernyitkan dahinya dalam-dalam setelah membaca balasan itu. Aman? Maksudnya aman tuh gimana sih? Beneran gak bakal telat atau gimana? tanya Tony pada dirinya sendiri. Karena merasa tidak akan mendapatkan jawaban yang lebih spesifik dari kekasihnya yang super irit kata itu, Tony pun menggelengkan kepalanya pelan lalu memilih untuk menaruh ponselnya kembali ke atas meja nakas.
Rasa kantuk yang teramat berat kini sudah mulai menyerang kesadarannya. Setelah mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang memancarkan pendar kuning hangat, Tony segera menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kasur empuk. Sebelum benar-benar memejamkan mata, ia menggunakan sisa-sisa kesadarannya untuk sedikit meninjau ulang rentetan kejadian luar biasa yang baru saja ia alami hari ini. Mengingat semua itu, ekspresi wajah Tony berubah-ubah dengan lucunya; kadang ia tersenyum geli menahan salah tingkah, namun sedetik kemudian ia akan cemberut kesal mengingat sikap dingin katingnya.
Ah, tapi matanya sudah terlalu berat untuk memikirkan semua kerumitan itu sekarang. Tony akhirnya menarik selimut tebalnya hingga sebatas dada, memposisikan dirinya senyaman mungkin, lalu bergegas membiarkan jiwanya tenggelam dan menjemput alam mimpi. Di dalam hati kecilnya yang paling dalam, ia menyelipkan satu doa sederhana sebelum terlelap; semoga hari esok yang akan ia lalui bersama status barunya sebagai pacar Kak Sungchan akan berjalan dengan jauh lebih baik dari hari ini.
