Actions

Work Header

a date?

Summary:

Semalam mereka resmi menjadi sepasang kekasih, tetapi siang ini Sungchan justru mengarang kebohongan demi menutupi status mereka di depan orang lain. Bagi Tony yang terbiasa menyerah pada keadaan, ia memilih diam. Namun, saat malam tiba dan rasa sesak itu makin tak terbendung, Tony memutuskan untuk mengambil satu tindakan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya pada sang kating.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Biasanya Tony akan langsung berjalan pulang ke kostnya yang terletak sangat dekat dari kampus. Jika tidak, ia akan menetap hingga malam di perpustakaan kampus, entah untuk mengerjakan tugas atau sekadar membaca materi kuliah keesokan harinya hingga matahari terbenam. Namun, hari ini akan berbeda dari biasanya.

Setelah kelas usai, Tony segera berjalan menuju parkiran fakultasnya sambil memegang erat tali dari tas ransel yang menempel erat di punggungnya. Jujur saja ia merasa gugup karena hari ini ia akan bertemu Sungchan lagi dengan status baru mereka sebagai sepasang kekasih.

Langkah kakinya sengaja diperlambat saat melewati koridor gedung, mencoba menata detak jantungnya yang sudah berantakan semenjak dosen mengucapkan salam penutup kelas. Di dalam kepalanya, Tony sudah bersiap-siap untuk skenario terburuk: menunggu sendirian di parkiran selama tiga puluh menit atau bahkan satu jam seperti malam kemarin.

Namun, begitu netranya menangkap pemandangan di area depan gedung fakultas, langkah kaki Tony seketika terhenti total. Matanya membelak sempurna di balik kacamata tebalnya.

Di sana, tepat di bawah rindangnya pohon, sosok tegap Sungchan sudah duduk tegap di atas motor besarnya. Kakinya yang panjang menapak santai di aspal, dan jaket kulit hitamnya tampak berkilau diterpa cahaya matahari siang. Lelaki itu sedang sibuk mengisap sebatang rokoknya sembari sesekali melirik jam tangan. Sungchan benar-benar tidak telat. Ia bahkan sudah stand-by sebelum kelas Tony benar-benar usai.

Rasa hangat menjalar ke seluruh dada Tony, membuat senyum manisnya langsung terbit tanpa bisa ditahan. Dengan langkah kecil yang terburu-buru, ia menghampiri sang kating.

"Kak Sungchan..." sapa Tony pelan begitu sampai di samping motor. Ia meremas tali ranselnya lebih erat untuk menutupi rasa gugup. "Kakak... udah selesai kelasnya dari tadi?"

Sungchan mengembuskan asap rokoknya ke samping sebelum menoleh datar ke arah Tony. Dengan gerakan santai, ia mematikan puntung rokoknya dengan menginjaknya asal.

"Masih ada, cabut gua," jawab Sungchan enteng tanpa beban, seolah bolos kuliah adalah hal paling biasa di dunia.

Tony seketika melongo. "Hah? Bolos, Kak? Kenapa?"

Sungchan tak menjawa, alih-alih ia malah menyodorkan helm cadangan ke arah dada Tony, memotong rentetan pertanyaan si adik tingkat yang pastinya bakal panjang lebar. "Takut ketahuan dosen gua kalau lama disini. Buruan naik."

Tony pun mengangguk cepat dan segera memakai helmnya. Ia buru-buru naik ke atas motor besar Sungchan. Namun, karena kurang hati-hati, badannya sempat terhuyung ke samping dan hampir saja terjatuh jika saja tangan besar Sungchan tidak bergerak cepat menahan punggungnya yang tertutup ransel besar.

“Hati-hati,” gumam Sungchan dengan suara beratnya, menahan bobot tubuh Tony hingga posisi duduk adik tingkatnya itu benar-benar seimbang di jok belakang. Rematan tangan Sungchan di ransel Tony terasa begitu kokoh, sukses membuat Tony malu hingga wajahnya memanas hebat.

Setelah memastikan Tony aman, Sungchan perlahan melepaskan tangannya dan kembali memegang stang motor. "Pegangan yang kenceng," titah Sungchan.

Tony yang masih syok karena hampir jatuh—dan karena jantungnya berdegup terlalu kencang akibat sentuhan mendadak tadi—hanya bisa mengangguk patuh di belakang punggung lebar Sungchan.

"I-iya, Kak..." cicit Tony.

Meskipun ragu dan takut dikira lancang, Tony akhirnya memberanikan diri untuk mencengkeram ujung jaket kulit hitam Sungchan dengan kedua tangan kecilnya. Detik berikutnya, Sungchan langsung mengoper gigi dan menarik tuas gasnya dalam-dalam, membuat motor besar itu melesat membelah area kampus.

Siang itu cuaca terasa sejuk. Awan-awan besar berserak di langit, menyembunyikan terik mentari dan menyisakan angin segar yang menerpa wajah mereka sepanjang jalan. Tony awalnya mengira mereka akan langsung menuju ke kostnya, namun dugaannya meleset ketika motor Sungchan justru melewati belokan arah gerbang kost begitu saja.

Tony yang kebingungan langsung sedikit memajukan tubuhnya. "Loh, Kak? Kost aku kelewatan, Kak!" serunya di sela deru angin.

Sungchan tidak menjawab. Ia tetap fokus menatap jalanan di depannya, membuat Tony akhirnya pasrah dan diam, memilih pasrah ke mana pun katingnya itu akan membawanya pergi. Rasa bingungnya baru terjawab saat motor besar itu berbelok memasuki area parkir sebuah mall terdekat.

Tony menatap area sekitar dengan canggung. "Kenapa kesini, Kak?" tanya Tony pelan.

Sungchan melepas helmnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan jemari tangan, lalu menatap Tony datar dari atas sampai bawah.

"Beli baju," jawab Sungchan pendek sembari mengantongi kunci motornya.

"Hah? Baju buat siapa, Kak?"

"Buat lu," ketus Sungchan sembari mulai melangkah lebar mendahului Tony masuk ke dalam pusat pembelanjaan. "Gua mau lu ganti baju lu kalau lagi jalan sama gua. Pilih satu atau dua baju yang normalan dikit.”

“Tapi, Kak–”

“Buruan, gak usah banyak nanya."

Tony yang mendengar perintah mutlak itu langsung melongo di tempat. Dadanya mendadak bergemuruh hebat; antara merasa tersinggung karena seleranya dikatai tidak normal, tapi di sisi lain, ada letupan manis yang asing karena ini pertama kalinya ada orang yang membawanya pergi khusus untuk membelikan pakaian. Dengan langkah buru-buru, ia segera menyusul langkah lebar Sungchan yang sudah berjalan jauh di depannya.

Sesampainya di dalam toko pakaian, Sungchan langsung mengambil kendali. Matanya sibuk memilah deretan baju di gantungan, sampai jemarinya berhenti di sebuah kemeja dengan model yang pas di badan. Sungchan mengambil kemeja itu, lalu berbalik mendekati Tony yang sebenarnya sedang sibuk melihat-lihat kemeja lain—di tangan Tony sendiri sudah tersampir satu kemeja kelewat longgar pilihannya.

Tanpa aba-aba, tangan besar Sungchan memposisikan kemeja pilihannya tepat di depan dada Tony, mengukur ukurannya langsung di tubuh sang adik tingkat. Jarak mereka yang mendadak terkikis sedekat ini sukses membuat Tony menahan napasnya.

"Nah, oke nih kayaknya. Daripada lu pakai kemeja gombrong kayak gitu mulu," gumam Sungchan puas. Tanpa banyak bicara, ia langsung melempar kemeja itu ke pelukan Tony. Tony yang bingung hanya bisa membuat raut wajah heran tanpa berani bertanya, lalu kembali mengekor di belakang Sungchan.

Sungchan kembali berjalan menyusuri rak baju. Netranya kemudian menangkap beberapa potong baju bermodel manis lainnya. Melihat model pakaian tersebut, otak Sungchan otomatis langsung teringat pada Bina. Itu adalah jenis baju yang sangat sering dipakai oleh mantannya. Mengingat memori tentang Bina, Sungchan tanpa sadar tersenyum kecil sendirian di depan rak baju. Ia mengambil baju yang mirip selera Bina itu, lalu kembali menghampiri Tony.

"Cobain yang ini juga," titah Sungchan sembari menyerahkannya. Tony yang tidak enak hati hanya bisa mengangguk-angguk patuh dengan tangan yang makin penuh.

Belum selesai sampai di sana, pandangan Sungchan beralih pada sebuah manekin yang mengenakan dress lucu selutut. Senyuman tipis kembali terukir di wajahnya saat membayangkan betapa gemasnya Bina jika memakai gaun itu. Dengan sisa-sisa senyum yang masih tertinggal di bibirnya, Sungchan mencopot baju sejenis dari gantungan dan menyodorkannya pada Tony. "Coba yang ini sekalian."

Tony akhirnya pasrah dan melangkah masuk ke dalam fitting room membawa tumpukan baju tersebut. Baju pertama yang dicoba Tony adalah pakaian pilihannya sendiri—sebuah kemeja longgar yang super besar berwarna hijau botol. Begitu Tony membuka tirai ganti dan keluar, Sungchan yang menunggu di luar langsung menggelengkan kepalanya mantap dengan dahi berkerut. Gila ya ni anak, baju apa karung? Gede banget, batin Sungchan habis pikir.

"Ganti. Coba baju yang gua pilih pertama tadi," perintah Sungchan mutlak.

Tony kembali masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, tirai perlahan terbuka. Tony melangkah keluar dengan amat canggung. Kemeja pilihan Sungchan itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk dada dan pinggangnya yang ramping. Karena merasa terlalu ketat dan malu, kedua tangan kecil Tony refleks menyilang di depan dadanya membentuk huruf X, berusaha menyembunyikan siluet tubuhnya yang tercetak jelas.

Sungchan seketika terdiam. Matanya terpaku, menatap lekat-lekat dari atas sampai bawah penampilan baru adik tingkatnya itu. Setelah beberapa detik mengamati dalam keheningan, Sungchan akhirnya mengangguk puas. "Nah, ini loh, Tony. Bagus begini."

Melihat perubahan drastis itu, rasa penasaran di dalam diri Sungchan mendadak membumbung tinggi. Ia jadi makin penasaran, bagaimana jadinya kalau anak cupu ini memakai baju manis yang modelnya mirip dengan biasa dipakai Bina?

"Sekarang pakai yang kedua," suruh Sungchan lagi, menunjuk baju yang mirip selera Bina tadi.
Dengan berat hati dan perasaan makin malu, Tony kembali masuk ke bilik ganti. Baju pilihan kedua ini adalah kaus ketat bermodel potongan lengan yang pendek dan agak crop, sedikit mengekspos bagian perut bawahnya jika ia bergerak. Saat keluar dari bilik, Tony lagi-lagi langsung menyilangkan tangannya, panik menutupi bagian-bagian kulitnya yang terbuka.

Kali ini, tatapan mata Sungchan mengunci tubuh Tony jauh lebih lama dari sebelumnya. Di dalam kepala Sungchan, bayangan Bina mendadak tumpang tindih dengan sosok Tony yang berdiri di depannya. Walaupun tubuh Tony lebih tinggi daripada mantannya, namun entah bagaimana, proporsi tubuh mereka berdua terasa agak mirip dan pas.

Sungchan berdeham pelan untuk mengusir lamunannya, lalu menyodorkan pakaian terakhir yang ada di gantungan. "Sekarang, ganti pakai dress yang itu."

Tony menerima gaun itu, lalu kembali menutup tirai bilik ganti dengan perlahan. Saat dress selutut itu sudah melekat pas di tubuhnya, Tony sempat ragu untuk berbalik menghadap cermin panjang di dalam fitting room. Namun, begitu ia memberanikan diri untuk melihat pantulan dirinya, sepasang matanya berkedar terang.

Kali ini, bajunya tidak begitu mengekspos kulit atau membuat lekuk tubuhnya tercetak intim seperti pakaian-pakaian ketat sebelumnya. Gaun itu jatuh dengan begitu pas dan manis, memberikan siluet yang lembut pada tubuh tingginya.

Selama ini, Tony sama sekali tidak pernah memedulikan soal penampilan—ia hanya memakai apa saja yang nyaman dan longgar di tubuhnya tanpa memikirkan estetika. Namun hari ini, melihat dirinya sendiri dalam balutan gaun pilihan Sungchan, sebuah perasaan baru yang asing sekaligus menyenangkan mendadak membuncah di dalam dadanya. Ia merasa... manis.

Tony berdiri cukup lama di depan cermin, mematut dirinya dari berbagai sudut sembari mengulum senyuman lebar yang tak bisa ditahan. Ada secercah rasa percaya diri yang mendadak mekar di hatinya. Setelah menata helai rambutnya sejenak dan menarik napas dalam-dalam untuk meredakan debaran di dada, Tony perlahan membuka tirai ganti. Langkah kakinya kali ini terasa lebih ringan, penuh dengan letupan harap agar Sungchan juga bisa menyukai penampilannya yang sekarang—sama seperti rasa suka yang sedang ia rasakan saat ini.

Begitu keluar dari fitting room, ekspektasi Tony seketika kosong. Sungchan tidak berada tepat di depannya seperti tadi. Harapan manis yang sempat membumbung tinggi di dalam dada Tony sedetik lalu langsung mengempis, digantikan oleh rasa bingung yang mendadak menyergap.

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun sosok tegap sang kating benar-benar tidak ada di sekitar area tunggu. Dengan langkah-langkah kecil yang terasa canggung dalam balutan gaun selututnya, Tony mulai berjalan menyusuri toko, mencari di antara sela-sela gantungan baju yang berjejer rapat. Langkah kaki Tony baru benar-benar terhenti total ketika netranya menangkap presensi Sungchan yang ternyata berada di dekat area kasir.

Langkah Tony mendadak terhenti total. Sungchan sedang tidak sendirian. Lelaki itu tengah asik mengobrol dengan seorang perempuan berambut panjang yang penampilannya sangat modis dan cantik luar biasa. Tony langsung mengenali wajah perempuan itu. Bina. Perempuan yang sering digosipkan oleh teman-teman kampusnya sebagai primadona tak tersentuh—si cantik yang sempurna dalam segala aspek.

Tony terpaku di tempatnya dari jarak jauh. Dadanya mendadak terasa mencelos, ada rasa nyeri kecil yang aneh merayap di hatinya saat melihat bagaimana wajah Sungchan siang itu. Lelaki yang biasanya selalu memasang wajah datar, dingin, dan irit kata itu, kini tengah memamerkan senyuman yang teramat lebar dan lepas di hadapan Bina. Oh... ternyata Kak Sungchan bisa senyum selebar itu juga ya kalau sama orang lain? batin Tony miris.

Mencoba menepis rasa sesak yang tiba-tiba datang, Tony memberanikan diri untuk melangkah menghampiri mereka. "K-Kak Sungchan..."

Panggilan pelan itu sukses membuat Sungchan dan Bina menoleh serempak. Begitu berbalik, atensi Sungchan langsung tertumpu penuh pada sosok Tony. Detik itu juga, napas Sungchan sempat tercekat. Matanya bergerak skeptis, meneliti Tony dari atas sampai bawah tanpa berkedip. Sialan. Isengnya berujung bumerang. Dress yang awalnya ia pikir hanya akan cocok di tubuh Bina, ternyata justru terlihat berkali-kali lipat lebih indah saat melekat di tubuh tinggi, kurus, dan berkulit putih bersih milik Tony. Tinggi badannya membuat dress ini menjadi tinggal sepaha saja, menampilkan kulit putih bersihnya yang selama ini selalu tertutup celana panjang.

Si cupu ini... ternyata lumayan juga kalau dandanannya benar.

Melihat Sungchan yang mendadak terdiam dengan pandangan intens, Bina menyengir tipis lalu menyenggol lengan Sungchan. "Ini siapa, Chan?" tanya Bina penasaran.

Pertanyaan itu seketika membuat Sungchan tersentak dan gelagapan setengah mati. Panik karena tidak ingin rahasia taruhannya terbongkar, otaknya langsung berputar liar mencari kebohongan paling logis. "Eh—ini? Ini... ini adeknya Eunseok. Iya, adek sepupunya Eunseok! Lagi disuruh Eunseok nemenin dia jalan hari ini," jawab Sungchan terbata-bata dengan nada suara yang agak tinggi karena gugup.

Dahi Bina mengernyit, wajahnya tampak makin bingung. "Lho? Eunseok-nya mana? Kok malah kamu aja yang nemenin?"

"Eunseok di toilet! Iya, tadi dia ke toilet bentar makanya aku jagain dulu adeknya," sahut Sungchan cepat-cepat menyambung kebohongannya.

Tony yang berdiri di samping mereka hanya bisa mengerjapkan matanya bingung. Dadanya berdenyut sakit. Statusnya sebagai pacar resmi yang baru berumur semalam, kini mendadak bergeser menjadi "adik sepupu Eunseok" dalam sekejap mata. Namun, lagi-lagi karena sifatnya yang tidak enakan, Tony hanya memilih diam dan mengulum bibirnya rapat-ratap, enggan menyela ataupun membongkar kebenaran di depan perempuan cantik itu.

Kini Bina beralih menatap Tony penuh minat, Ia melempar senyum manis yang teramat ramah lalu mengulurkan tangannya hangat untuk mengajak berkenalan. "Halo, aku Bina. Kamu manis banget deh, apalagi dress yang kamu pakai itu cocok banget di kamu," puji Bina tulus.

Mendapat pujian tak terduga dari primadona kampus yang se-sempurna Bina, Tony seketika salah tingkah. Wajahnya merona merah padam. Dengan gerakan canggung, ia buru-buru membalas jabat tangan tersebut. “A-aku Tony, Kak,” cicitnya pelan, mengenalkan diri dengan nada super gugup.

“Lucu deh, kamu. Nanti kita ngobrol lagi, ya,” ujar Bina ramah.

Ia kemudian meraih paper bag belanjanya yang tergeletak di atas meja kasir, lalu mengintip isinya sekilas. Setelah memastikan semuanya lengkap, Bina pun berpamitan karena urusan belanjanya sudah selesai. "Duluan ya, Chan, Tony. Salam buat Eunseok!" ucapnya manis, sebelum akhirnya melangkah pergi dan hilang di balik pintu keluar toko.

Kepergian Bina seketika menyisakan atmosfer pekat yang mendadak berubah menjadi sangat canggung di antara mereka berdua. Sungchan beberapa kali melirik kecil ke arah Tony yang kini kembali menunduk dalam, menatapi ujung sepatunya sendiri. Gengsinya yang setinggi langit membuat Sungchan enggan—atau lebih tepatnya tidak tahu cara—meminta maaf atas kebohongan spontannya yang baru saja mencoret status hubungan mereka.

Untuk memutus keheningan yang mencekik itu, Sungchan akhirnya bersuara dengan nada ketus yang dipaksakan. "Ambil baju yang tadi lu coba, biar sekalian gua bayar ke kasir. Sekalian ganti baju lu juga, biar yang lu pake sekarang langsung gua bayar."

Tony hanya mengangguk patuh, lalu berbalik berjalan ke arah fitting room dengan langkah lesu. Di balik tirai pembatas, ia menghela napas panjang yang terasa berat. Huft... gagal deh bikin Kak Sungchan muji baju aku, batinnya kecewa, menatapi gaun manis yang kini harus ia lepas kembali tanpa sempat mendengar satu pun kata pujian dari sang kekasih.

Akhirnya, tiga potong baju pilihan Sungchan tadi resmi berpindah tangan ke dalam kantung belanjaan setelah dibayar. Saat melangkah keluar dari toko dengan menenteng paper bag, Tony memberanikan diri untuk mencicit pelan dengan suara super kecil. "Makasih banyak ya, Kak Sungchan..."

Sungchan yang sebenarnya masih disergap rasa salah tingkah—entah karena syok bertemu Bina atau karena hatinya sedikit berdesir melihat Tony yang tampak sangat manis dengan gaunnya tadi—malah sengaja mengabaikan ucapan terima kasih tersebut. Ia membuang muka ke arah lain, lalu berujar asal demi mengalihkan atensi. "Makan yoookk, laper gua."

Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari yang lebih muda, Sungchan langsung membalikkan badan dan melangkah pergi begitu saja dengan buru-buru. Tony yang lagi-lagi dibuat bingung karena ucapan terima kasihnya diabaikan hanya bisa menghela napas pendek, sebelum akhirnya kembali berlari kecil demi mengejar langkah kaki lebar Sungchan di depannya.

Akhirnya mereka berdua sampai di restoran pilihan Sungchan. Sekali lagi, sesuai dengan tabiatnya yang penuh rahasia, Sungchan sengaja memilih restoran ramen yang berada di pojokan lantai paling atas mall dan kondisinya sangat sepi pengunjung.

Suasana di meja makan terasa begitu hening, hanya ditemani suara dentingan sumpit yang beradu dengan mangkuk. Sebenarnya, sejak tadi isi kepala Tony sudah seperti benang kusut. Ia dipenuhi ratusan pertanyaan yang menuntut jawaban. Siapa sebenarnya perempuan cantik tadi di mata Sungchan? Kenapa Sungchan harus berbohong dan mengakuinya sebagai adik sepupu Eunseok? Dan kenapa... Sungchan bisa kelihatan sebahagia itu saat mengobrol dengannya?

Namun, Tony sadar diri. Ia tidak memiliki keberanian yang cukup untuk merusak suasana atau menuntut penjelasan lebih dari kating yang baru semalam menjadi pacarnya ini. Ia mengaduk mi di mangkuknya dengan pandangan sayu. Di sela keheningan itu, sebuah gumaman pelan meluncur begitu saja dari bibirnya.

"Kak Bina cantik banget ya..."

Sungchan yang mendengar nama mantannya tiba-tiba disebut langsung terdiam. Gerakan mengunyahnya sempat berhenti selama beberapa detik. Namun, karena mengira ia mungkin hanya salah dengar, Sungchan memilih mengabaikannya dan kembali lanjut mengunyah dengan wajah sedatar mungkin.

Melihat tidak ada respons negatif, Tony mendongak perlahan lalu melanjutkan kalimatnya dengan tatapan polos. "Kak Sungchan juga ganteng."

Uhuk!

Mendengar pujian yang teramat tiba-tiba itu, Sungchan langsung tersedak makanannya sendiri. Ia buru-buru menyambar gelas minumannya dan meneguknya cepat. Dengan dahi yang berkerut dalam dan wajah agak memerah, Sungchan menaruh gelasnya dengan kasar lalu menatap Tony dengan pandangan skeptis.

“Hah? Maksud lu?”

Tony meremas jemarinya di bawah meja, namun ia tetap memaksakan diri untuk tersenyum tipis menatap wajah sang kekasih. "Itu... maksud aku, kalau Kak Sungchan senyum lebar kayak tadi pas lagi ngobrol sama Kak Bina... Kak Sungchan jadi kelihatan jauh lebih ganteng."

Deg.

Kalimat jujur dari Tony sukses menghantam telak ulu hati Sungchan. Dadanya mendadak berdesir aneh. Sungchan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan senyuman tipis—hanya sebuah cengiran sangat kecil yang hampir tak kentara—yang refleks terukir di sudut bibirnya. Ia berdeham berat beberapa kali, mencoba menetralkan suasana dan melanjutkan menghabiskan isi mangkuknya.

Sungchan tidak tahu saja, di seberang meja, hati Tony sebenarnya sedang layu dan galau setengah mati. Memang benar, Tony merasa senang karena hari ini Sungchan mengajaknya jalan dan membelikannya baju baru. Namun di sisi lain, kenyataan itu justru memicu rasa mindernya. Berarti... selama ini selera bajuku sejelek dan seaneh itu ya di mata Kak Sungchan sampai dia repot-repot beliin aku baju yang 'normal'?

Ditambah lagi, bayangan senyum lebar Sungchan untuk Bina terus berputar di otaknya. Dada Tony terasa sesak dan nyeri setiap kali mengingatnya. Selama berinteraksi dengannya, Sungchan tidak pernah sekalipun tersenyum se-lepas dan sehangat itu. Sungchan selalu ketus, galak, dan memasang wajah datar. Fakta menyakitkan itu membuat Tony sadar, bahwa ada jarak tak kasatmata yang teramat jauh di antara mereka berdua.

Suasana yang makin mendung di dalam hati Tony akhirnya membuat nafsu makannya menguap tuntas. Rasa minder dan sesak yang sedari tadi ditahannya sendirian kini sudah mencapai batas. Daripada terus tenggelam dalam kecanggungan dan pikiran negatif, Tony memilih untuk menyudahi hari ini.

Tony menunduk, menatapi mangkuk minya yang baru tersentuh beberapa suap. Rasa lapar yang tadi sempat ia rasakan kini menguap entah ke mana, digantikan oleh rasa hambar yang mendominasi lidahnya. Tony menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk bersuara.

"Kak Sungchan..." panggil Tony lirih.

Sungchan menoleh, kembali memasang wajah datarnya. "Apa?"

"Aku... aku udah kenyang," dusta Tony pelan sembari merapikan letak sumpitnya di atas meja. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, berusaha agar suaranya tidak terdengar bergetar. "Boleh... pulang aja sekarang? Badanku agak capek, Kak."

Sungchan sempat terdiam beberapa detik, matanya meneliti wajah Tony yang tampak sedikit lebih sayu dari biasanya. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak menggelitik dada Sungchan melihat perubahan raut wajah si adik tingkat, namun sekali lagi, ego dan gengsinya menolak untuk bertanya lebih jauh.

"Yaudah, ayo," sahut Sungchan pendek. Ia langsung berdiri, meraih dompetnya untuk membayar makanan, lalu menyambar kantung belanjaan berisi baju-baju baru Tony tanpa banyak bicara.

Tony hanya bisa mengekor pasrah di belakang punggung tegap itu saat mereka berjalan menuju parkiran. Angin yang berembus di luar mall terasa menusuk kulit, sedingin atmosfer di antara mereka berdua yang kini kembali berjalan beriringan tanpa ada satu pun kata yang terucap.

Perjalanan pulang di atas motor besar itu terasa jauh lebih hening dibanding saat mereka berangkat tadi. Deru angin malam yang dingin menerpa tubuh mereka, namun Tony tidak lagi berani mencengkeram ujung jaket kulit Sungchan seerat sebelumnya. Ia hanya memegang kain jaket itu dengan dua jari, sengaja menjaga jarak aman agar tubuhnya tidak terlalu menempel pada punggung tegap sang kating. Pikirannya masih melayang jauh, memikirkan Bina dan senyuman Sungchan yang terasa begitu mahal untuknya.

Di depan, Sungchan sebenarnya menyadari keheningan yang tidak biasa ini. Sensasi rematan erat di ujung jaketnya yang tadi siang sempat membuatnya risih, kini mendadak hilang dan berganti menjadi tarikan super samar yang nyaris tak terasa.

Penasaran, Sungchan sedikit melirik ke kaca spion motornya. Melalui pantulan kaca kecil itu, netranya menangkap wajah Tony yang tertutup helm. Anak itu sedang menunduk dalam dengan bibir yang mengerucut cemberut, menatapi jalanan aspal yang berlari di bawah mereka dengan tatapan sayu yang kelihatan kosong. Ada gurat sedih dan lesu yang tercetak jelas di sana.

Melihat pemandangan itu, dada Sungchan mendadak dirayapi rasa aneh yang tidak familiar. Ni anak kenapa? Gara-gara gua bohong tadi? Atau gara-gara gua galakin pas di toko? batin Sungchan menerka-nerka sendiri, merasa sedikit terganggu karena ekspresi cemberut Tony entah bagaimana membuat hatinya mendadak tidak tenang. Namun karena gengsi, Sungchan memilih tetap diam dan malah menambah kecepatan motornya.

Tak butuh waktu lama, motor besar Sungchan akhirnya berhenti tepat di depan gerbang kost Tony yang sepi. Tony segera turun dari motor, melepas helm cadangan itu dengan hati-hati lalu menyerahkannya kembali kepada Sungchan dengan gerakan super pelan.

"Makasih banyak ya, Kak, udah dianterin pulang... sama makasih juga buat baju-bajunya," ucap Tony tulus sembari membungkukkan badannya sedikit. Ia bersiap untuk berbalik masuk ke dalam gerbang dengan langkah yang masih kelihatan kurang bersemangat.

"Heh, tunggu," panggil Sungchan ketus.

Tony menoleh bingung. Sungchan kemudian menyodorkan paper bag besar berisi tiga potong baju tadi ke arah dada Tony dengan gerakan agak kasar—khas dirinya yang tidak bisa bersikap manis.

"Jangan lupa lu cuci dulu bajunya sebelum dipake," ujar Sungchan datar, matanya menatap lekat ke arah Tony yang menerima bungkusan itu dengan polos. Sungchan berdeham pelan, membuang muka ke arah jalanan sebelum melanjutkan kalimatnya. "Sama... kalau jalan sama gua lagi, pake baju yang itu. Gak usah pake kemeja gombrong lu lagi. Ngerti?"

Mendengar itu, dada Tony kembali berdesir aneh. Meskipun kalimat Sungchan terdengar seperti perintah yang menyebalkan, entah kenapa ada sedikit rasa hangat yang terselip di sana. Setidaknya, Sungchan masih berniat untuk mengajaknya jalan lagi di kemudian hari.

"I-iya, Kak. Ngerti," jawab Tony pelan dengan rona merah tipis yang kembali muncul di pipinya.

"Yaudah, gua balik."

Tanpa menunggu balasan Tony, Sungchan langsung menurunkan kaca helmnya, menarik tuas gas, dan melesat pergi membelah kegelapan malam, meninggalkan Tony yang masih berdiri di depan gerbang sambil memeluk erat paper bag bajunya dengan perasaan campur aduk.

Malam itu, setelah menempuh perjalanan membelah angin malam, Sungchan akhirnya sampai di kostnya. Namun, begitu ia membuka pintu kamar, pemandangan yang menyambutnya justru sosok Sohee yang sudah telentang santai di atas kasurnya sambil asyik bermain ponsel.

"Baru balik lu? Gimana misi bikin si cupu glow up? Berhasil?" tanya Sohee tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

Sungchan hanya mendengus, melempar kunci motornya ke atas meja belajar dengan kasar, lalu mendudukkan diri di lantai bersandar pada sisi kasur. Pikirannya masih mentok pada raut wajah Tony di spion motor tadi.

"Tadi gua ketemu Bina di mall," celetuk Sungchan tiba-tiba.

Mendengar nama sakral itu disebut, Sohee langsung bangkit duduk secepat kilat. Matanya melebar penuh minat. "Hah?! Demi apa lu? Terus gimana? Lu lagi sama Tony, kan? Jangan bilang lu ngenalin si Tony as pacar lu di depan Bina?"

"Ya kagak lah, gila kali lu," sahut Sungchan ketus, mengacak rambutnya frustrasi. "Gua panik, langsung gua bilang aja si Tony itu adek sepupunya Eunseok. Lagi dititip ke gua karena Eunseok-nya lagi di toilet."

Sohee melongo tak percaya, menatap katingnya itu seolah-olah Sungchan baru saja melakukan kebodohan terbesar abad ini. "Terus si Tony gimana responnya?"

"Ya dia diem aja. Nurut-nurut aja pas gua suruh ganti baju, terus pas gua bayar bajunya juga dia bilang makasih. Tapi pas di motor jalan pulang... gua liat dari spion, mukanya cemberut mulu. Lesu banget. Diajak makan juga cuma makan dikit, terus tiba-tiba minta pulang." Sungchan menghela napas berat, menoleh ke arah Sohee. "Dia kenapa ya? Gara-gara gua bohong tadi?"

Sohee langsung menepuk jidatnya sendiri dengan keras, habis pikir dengan kedongkolan sahabat Eunseok yang satu ini.

"Tolol banget lu, Bang." semprot Sohee gemas. "Tu anak pasti sakit hati lah! Lu bayangin aja, lu pacaran baru semalem, terus pas ketemu cewe yang secantik Bina, lu malah nyembunyiin dia pake akal-akalan kalo dia adek sepupu orang. Mana lu kelihatan asik banget lagi ngobrol sama si mantan lu itu. Hati mana yang gak potek, anjir?"

Sungchan terdiam. Bola matanya bergerak gelisah, mencoba mencerna kalimat Sohee yang terasa menampar logikanya. "Sakit hati...?" gumamnya sangsi.

"Mampus lu, kalau dia beneran sakit hati terus besok-besok minta putus gimana? Taruhan lu jadi gagal total, terus lu kalah, terus lu harus bayarin kita-kita makan sebulan. Mau lu?" ancam Sohee sengaja menakut-nakuti.

Mendengar kata 'putus' dan kemungkinan taruhannya gagal, ada sengatan panik yang mendadak menyerang dada Sungchan. Bukan cuma takut kalah taruhan, tapi entah kenapa, membayangkan Tony benar-benar menjauh dan tidak mau lagi mengekor di belakangnya membuat sudut hati Sungchan mendadak terasa tidak siap.

Sungchan langsung menegakkan badannya, wajah datarnya kini digantikan gurat panik yang tidak bisa disembunyikan. "Sialan... terus gua harus gimana sekarang?"

Sohee mengangkat bahunya tanda tak acuh, kembali menyandarkan badannya pada kasur lalu memainkan ponselnya.

“Au, dah. Urusan lu itu mah.”

Sungchan berdecak kesal melihat respons acuh tak acuh Sohee. Ia meremas rambutnya frustasi, menatapi langit-langit kamar kostnya dengan pikiran yang makin simpang siur. Kata 'putus' dari mulut Sohee tadi benar-benar sukses menyalakan alarm bahaya di kepalanya.

"Sialan lu, malah balik main HP," umpat Sungchan sembari melempar bantal kecil tepat ke arah kaki Sohee.

Sohee hanya mengaduh pelan tanpa minat untuk membalas, matanya masih terpaku pada layar. "Ya emang lu mau gua suruh ngapain, Bang? Ngasih bunga? Chat duluan gih, tanya udah tidur apa belum. Turunin dikit lah gengsi lu itu kalau gak mau kalah taruhan."

Sungchan terdiam. Melirik ponselnya yang tergeletak bisu di atas meja. Jemarinya sempat bergerak ingin meraih benda pipih itu, namun ego besarnya lagi-lagi menahan gerak tangannya. Chat duluan? Gila aja, kayanya gak usah sampai segininya deh, batinnya menolak keras.

"Gak usah lebay. Paling besok juga udah biasa lagi tuh anak," gumam Sungchan ketus, mencoba menenangkan dirinya sendiri walau hatinya tetap terasa tidak tenang.

"Yee, dibilangin batu. Liat aja besok di kampus," sahut Sohee malas.

Malam itu berakhir dengan Sungchan yang terus-menerus membolak-balikkan badannya di atas kasur, tidak bisa tidur cepat karena bayangan wajah cemberut Tony di spion motor terus menghantui isi kepalanya. Kini ia menatap layar ponselnya lamat, apa iya harus gua chat buat minta maaf?

Sementara itu, di dalam kamar kostnya yang sunyi, Tony duduk meringkuk di atas tempat tidur dengan memeluk kedua lututnya. Pikirannya masih tertambat pada satu nama yang terus mengusik ketenangannya sejak siang tadi. Bina.

Rasa penasaran yang membakar dada akhirnya membuat Tony memberanikan diri untuk membuka ponsel. Ia membuka ruang obrolan dengan salah satu teman sekampusnya yang terkenal tahu banyak soal gosip.

“Eh, kamu tahu Kak Bina? Dia siapanya Kak Sungchan ya?”

Tidak butuh waktu lama, balasan dari temannya langsung masuk bertubi-tubi.

“lah, lu gak tahu, ton?”

“mereka tuh dulu pacaran dari SMA”

“pas kemaren2 masuk semester ini baru putus”

“padahal cocok banget tau mereka..”

“kenapa emang tiba2 nanya?”

Deg.

Dada Tony rasanya seperti dihantam godam tak kasatmata. Ia refleks menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi menahan luapan emosi yang mendadak mendesak naik ke dadanya. Mantan pacar. Perempuan secantik dan sesempurna itu ternyata adalah masa lalu dari lelaki yang kini berstatus sebagai kekasihnya.

“Oh, enggak apa-apa kok.”

“Cuma nanya aja hehe.

“Makasih ya.”

Setelah menutup obrolan, jemari Tony bergerak gemetar membuka aplikasi Instagram. Ia mengetik nama Bina di kolom pencarian. Begitu profil perempuan itu terbuka, Tony makin dibuat terpaku. Pengikutnya puluhan ribu, dan setiap foto yang diunggah menampilkan visual Bina yang luar biasa menakjubkan.

Tony mulai menggulir layarnya ke bawah, membaca satu per satu pencapaian yang terlihat di sana. Mantan dancer DBL saat SMA, runner-up II Gadis Sampul, pernah menjadi brand ambassador beberapa produk remaja, dan sekarang di kampus pun ia aktif di BEM sekaligus sering menjadi model foto untuk brand-brand lokal. Bina benar-benar berada di kasta yang berbeda jauh dengannya.

Tony menurunkan ponselnya dengan lemas. Ia bangkit berdiri, melangkah lesu ke arah cermin panjang di sudut kamar, lalu menatapi pantulan dirinya sendiri. Di balik kacamata bingkai merahnya yang tebal, rambutnya yang agak berantakan, dan kaus oblongnya yang pudar, Tony merasa sangat kecil.

Dibandingin sama Kak Bina... aku ini gaada apa-apanya? Kenapa Kak Sungchan tiba-tiba mau pacaran sama orang kayak aku?

Netra Tony kemudian beralih menatap paper bag belanjaan yang tergeletak di atas meja. Ia mendekat, lalu mengeluarkan tiga potong baju yang dibelikan Sungchan tadi. Perlahan, Tony kembali mencocokkannya dengan beberapa unggahan foto di profil Instagram Bina.

Detik itu juga, napas Tony tercekat. Model pakaian, potongan kain, hingga warna gaun yang dipilihkan Sungchan siang tadi... semuanya memiliki gaya yang sangat mirip dengan apa yang sering Bina kenakan. Air mata Tony hampir saja luruh saat sebuah pemikiran buruk mendadak melintas di kepalanya.

Apa... Kak Sungchan membelikan baju ini karena dia cuma mau mengubah aku jadi seperti Kak Bina? Apa aku cuma dimanfaatin buat pelampiasan rasa kangennya?

Semuanya mendadak terasa masuk akal di otak polos Tony. Rasa sesak itu kini berubah menjadi gumpalan rasa sakit yang membuat dadanya nyeri bukan main. Merasa kepalanya sudah hampir pecah karena berasumsi, Tony akhirnya memutuskan untuk bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ia menyalakan keran shower, mencoba membasuh tubuhnya dengan air dingin demi menghalau semua pikiran-pikiran buruk yang terus menggerogoti hatinya malam itu.

Air dingin di kamar mandi perlahan berhasil meredakan kepalanya yang sempat mendidih karena berbagai asumsi menyakitkan. Begitu keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian dengan baju tidurnya, Tony merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya gumpalan sesak di dadanya tidak seluar biasa tadi.

Sebelum merebahkan diri di atas kasur untuk tidur, Tony meraih ponselnya di atas meja nakas, berniat menyetel alarm untuk kuliah pagi keesokan harinya. Namun, tepat saat layar ponselnya menyala, sebuah notifikasi pesan menyembul di bagian atas layar.

Dari Kak Sungchan.

“dah tidur apa belom lu?”

Tony terpaku menatapi sebaris kalimat pendek tersebut. Jantungnya sempat memberikan letupan kecil yang refleks, namun sedetik kemudian, bayangan profil Instagram Bina dan tumpukan baju baru di dalam paper bag kembali berputar di otaknya. Pertanyaan Sungchan yang seharusnya mungkin akan membuat Tony kegirangan setengah mati, kini justru terasa hambar dan memicu rasa perih yang samar di ulu hatinya.

Tony menghela napas panjang yang terasa sangat berat dalam kesunyian kamarnya. Ia hanya terdiam, menatap lesu ruang obrolan itu tanpa berniat untuk membukanya, apalagi membalas ketikan sang kating. Enggan membiarkan hatinya kembali diacak-acak oleh ekspektasi dan rasa bingung, Tony akhirnya menekan tombol daya untuk mematikan ponselnya secara total.

Malam ini, untuk pertama kalinya semenjak ia menaruh hati pada katingnya itu, Tony hanya ingin tidur dengan tenang tanpa harus memikirkan nama Sungchan lagi.

Notes:

terima kasih sudah membaca dan menunggu, id warmly welcome u on X @greigejet