Actions

Work Header

you have no idea

Summary:

Bagi Tony, menyukai Sungchan adalah rahasia terbesar yang ia simpan sendiri. Ia sudah cukup bahagia hanya dengan menjadi pengagum rahasia dari jauh, menatap punggung tegap sang kating di tengah riuhnya lapangan tanpa berani berharap lebih.

Bagi Sungchan, saat ia menyanggupi taruhan konyol untuk mendekati Tony si adik tingkat cupu itu, ia mana tahu bahwa Tony ternyata sudah diam-diam menyukainya sejak lama.

Di antara ketulusan Tony yang polos dan permainan Sungchan yang telanjur berjalan, siapakah yang akan paling terluka pada akhirnya?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jika ada yang bertanya sejak kapan Tony mulai menaruh seluruh atensinya pada sosok Sungchan, jawabannya adalah pada hari pertama Masa Pengenalan Departemen sekitar satu tahun lalu.

Hari itu menjadi hari paling buruk sekaligus paling berkesan dalam hidup Tony. Berstatus sebagai mahasiswa baru yang dasarnya sudah pemalu dan canggung, ia justru ditimpa nasib sial bertubi-tubi. Ban motor Gojek yang ditumpanginya tiba-tiba bocor kehabisan angin di tengah kepungan macet jalanan menuju kampus. Alhasil, di hari pertama MPD yang krusial itu, Tony datang terlambat. Dan di dunia ospek, terlambat berarti petaka.

Saat forum evaluasi dimulai pada sore harinya, atmosfer aula berubah mencekam dalam hitungan detik. Semua mahasiswa baru dipaksa duduk tegap, menciptakan keheningan yang mencekik. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Ketegangan langsung memuncak ketika jajaran Komdis mulai menyisir barisan dan menarik beberapa mahasiswa baru yang melakukan pelanggaran ke depan forum.

Dari tempat duduknya, Tony menyaksikan dengan tubuh gemetar bagaimana jalannya interogasi di depan sana. Sesi evaluasi itu benar-benar kejam. Mahasiswa baru yang ditarik pertama kali dipaksa berdiri tegak sementara beberapa Komdis mengelilinginya, bergantian melayangkan konfrontasi dengan suara melengking tinggi. Suasana aula dipenuhi oleh gema bentakan yang saling tumpang-tindih. Setiap kali mahasiswa baru tersebut berusaha membuka mulut untuk menjelaskan kronologi kejadian, kalimatnya langsung dipotong secara agresif.

Melihat mahasiswa di depan sana dikuliti habis-habisan hingga wajahnya pias dan hanya bisa mematung ketakutan, nyali Tony langsung ciut ke tingkat paling rendah. Ia tahu, kesalahannya yang datang terlambat jauh lebih fatal. Ketakutan itu terbukti ketika tak lama berselang, langkah kaki sepatu terdengar mendekat ke arah barisannya, dan sebuah tangan dari Komdis perempuan menarik paksa lengan Tony untuk maju ke depan.

Di depan ratusan pasang mata, Tony kini berada di posisi yang paling ia takuti. Ia langsung dikerumuni dan dimarahi habis-habisan oleh jajaran Komdis lain tanpa henti. Cercaan dan bentakan bersahut-sahut datang dari segala penjuru, menyudutkan keteledorannya tanpa mau memberikan celah sedikit pun bagi Tony untuk membela diri.

Tony, yang belum pernah dibentak sekeras itu seumur hidupnya, hanya bisa menunduk dalam-dalam. Pandangannya buram di balik kacamata tebalnya. Ia meremas ujung kemeja putihnya kuat-kuat, berusaha menahan tubuhnya yang gemetar hebat dan air mata yang sudah mendesak ingin lolos.

"Maaf, Kak... maaf, Kak," cicit Tony berulang kali. Suaranya patah-patah, bergetar parah menahan tangis yang tersendat di tenggorokan.

Begitu bagian interogasi yang melelahkan itu selesai dan ia dipersilakan kembali ke barisan, Tony membungkuk rendah dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Makasih, Kak..."

Tepat setelah kalimat itu lolos dari bibirnya, pertahanannya runtuh. Air matanya langsung menetes perlahan, membasahi pipi. Ia buru-buru menyeka kulit pipinya dengan punggung tangan, bergerak kikuk dan tergesa-gesa karena ingin menyembunyikan tangisnya sebelum duduk kembali di barisan kelompok. Namun, belum sempat ia melangkah, dari sudut matanya yang basah, Tony melihat sesosok tubuh tegap berjalan mantap memotong area tengah aula menuju ke arahnya. Itu adalah Sungchan, Komdis penanggung jawab kelompoknya sendiri.

Sungchan adalah salah satu sosok Komdis yang paling ditakuti, pembawaannya dingin dan tatapannya tajam. Dari apa yang Tony saksikan sebelumnya, jika menghadapi mahasiswa baru yang melakukan kesalahan, Sungchan tidak akan segan menghampiri mereka, berdiri dalam jarak beberapa senti di depan muka, lalu mengintimidasi mereka dengan suara galak yang menggelegar sampai membuat mental yang mendengarnya ciut.

Melihat Sungchan berjalan lurus dengan target yang jelas—dirinya—jantung Tony berdegup dua kali lebih kencang karena ketakutan. Mampus, apa aku mau dimarahin lagi secara individu sama Kak Sungchan kayak yang lain tadi? batinnya panik setengah mati. Rasa takut membuat Tony reflek menegakkan tubuhnya kembali, memasang sikap siap sesempurna mungkin seraya melirik takut-takut dengan sisa air mata yang masih menggenang di balik lensa kacamatanya.

Sungchan menghentikan langkah besarnya tepat di samping Tony. Lelaki tegap itu diam sejenak. Ia sempat menatap wajah sembab Tony sekilas sebelum netranya turun, membaca papan nama karton yang tergantung miring di dada si maba. Alis tebal Sungchan tampak bertaut sedikit saat mengeja tulisan spidol besar di sana: TONY.

"Kalau butuh bantuan, bilang sama temen kelompoknya, Tony. Jangan diem-diem aja," ujar Sungchan tiba-tiba.

Nada suaranya datar, berat, dan rendah, namun sama sekali tidak ada bentakan, urat leher yang tegang, atau emosi meledak-ledak di sana.

Tony seketika mengerjapkan matanya yang basah dengan bingung. Ia kaget karena intonasi suara Sungchan terdengar sangat biasa, bahkan cenderung seperti sedang memberi tahu baik-baik—berbanding terbalik dengan kekejaman Komdis lain yang ia tonton beberapa menit lalu. Namun, rasa kagetnya belum selesai karena Sungchan kemudian melirik wajah bulatnya lagi, lalu bertanya dengan suara yang sedikit berbisik pelan, "Tapi... lu kan cewek, kenapa nama di name tag-nya Tony?"

Mendapat pertanyaan se-acak itu di tengah forum ospek yang menegangkan membuat fokus Tony sempat buyar. Dengan wajah memerah dan sisa air mata yang belum kering, ia menjawab dengan suara mencicit super pelan, "N-nama asli aku sebenarnya Sonia, Kak... tapi kata Mama Papa, dulu pas kecil aku cadel banget kalau sebut nama sendiri. Keluarnya malah 'Tony'. Akhirnya keterusan dipanggil Tony sampai sekarang..."

Sungchan yang mendengar penjelasan polos itu sempat tertegun sesaat. Sudut bibirnya hampir saja tertarik membentuk senyuman, namun ia buru-buru berdeham berat untuk menjaga wibawanya sebagai Komdis. Ia kembali memasang wajah datar, bergumam sangat pelan. "Lain kali jangan telat ya, gua gak tega lu dimarahin segitunya tadi."

Kalimat tak terduga itu sukses membuat Tony terkejut. Rasa syok akibat bentakan tadi mendadak buyar, digantikan oleh rasa bingung dengan sikap baik Komdisnya itu. Dengan gerakan perlahan, Tony akhirnya memberanikan diri untuk mendongak, melirik langsung wajah sang kating dari jarak yang terlampau dekat.

Saat itulah, untuk pertama kalinya, Tony benar-benar mengunci pandangannya pada paras Sungchan tanpa sekat. Di bawah temaram lampu aula, garis rahang Sungchan yang tegas terlihat begitu kokoh. Sepasang mata tajamnya—yang beberapa detik lalu memancarkan amarah yang menakutkan—kini justru meredup, menyisakan tatapan dalam yang sangat memikat. Hidungnya yang bangir, beberapa anak rambut yang basah oleh peluh dan menempel di dahinya, hingga bagaimana bibir tipis itu bergerak datar, semuanya berpadu sempurna.

Tony sempat terpana selama beberapa detik. Sial, katingnya ini ternyata jauh lebih tampan jika dilihat dari jarak sedekat ini, membuat isi kepala Tony mendadak kosong seketika. Jantungnya yang tadi berpacu cepat karena sisa rasa takut, mendadak berubah ritme menjadi debaran asing yang lebih hangat dan menggelitik di dalam dada.

"Udah ya, Tony jangan nangis. Sekarang duduk lagi aja," lanjut Sungchan lagi, nada suaranya kini sudah melunak sepenuhnya, sangat kontras dengan bentakannya tadi.

Tony yang masih setengah terhipnotis hanya bisa mengangguk patuh dengan kaku. Ia menelan ludahnya pelan, lalu kembali mengucapkan terima kasih dengan suara lirih yang hampir habis, sebelum buru-buru membalikkan badan dan duduk kembali ke barisan.

Sambil memegangi dadanya yang mendadak bergemuruh hebat, mata Tony di balik lensa kacamata terus menatapi punggung tegap Sungchan yang mulai berjalan menjauh, kembali ke posisinya di pinggir barisan. Tony menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan rona merah yang kini merambat naik ke pipinya, menyadari bahwa ia baru saja jatuh cinta pada pesona kakak tingkatnya itu.

Ternyata, di balik topeng menyeramkannya sebagai Komdis yang hobi membentak mahasiswa baru lain, Sungchan punya celah lembut yang sangat manis. Dan semenjak hari pertama MPD itulah, lensa kacamata Tony selalu punya satu arah pasti untuk dipandang di tengah ramainya kampus: ke mana pun langkah kaki Sungchan berjalan.

Salah satu kenangan paling mendebarkan yang Tony simpan sendiri adalah malam ketika ia pertama kali ikut acara suporteran fakultas. Hari itu adalah malam sakral, yaitu malam pergantian Jenderal, sebutan untuk capo atau pemimpin suporter mereka. Sebagai mahasiswa baru, ada peraturan tak tertulis bahwa ia harus ikut hadir.

Sebenarnya, Tony sudah merasa tidak nyaman sejak awal. Namun Woni, sahabatnya yang selalu penuh energi, terus meyakinkannya. "Ayo dong, Ton! Sumpah ini tuh seru banget, lu harus ngerasain sekali seumur hidup!" bujuk Woni. Tony yang awalnya sudah menolak keras akhirnya pasrah dan menurut saja.

Ketika tabuhan kosong—ketukan drum tanpa ritme lagu sebagai penanda bahwa acara akan segera dimulai—menggelegar membelah udara malam yang dingin, jantung Tony rasanya hampir mencelos. Suasana di sekitar lapangan mendadak berubah riuh dan bising. Mahasiswa mulai merapat, membuat lautan manusia berkaus merah itu tampak mengintimidasi.

Woni yang tadinya masih berdiri santai bersamanya di pinggiran lapangan, tiba-tiba menggenggam tangan Tony dengan erat. "Ton, pegang tangan gua jangan sampai lepas! Kita harus dapet spot paling depan!"

"Eh? Won, tapi di depan rame banget—"

Kalimat Tony tenggelam dalam riuh sorakan. Tanpa aba-aba, Woni menyeret Tony membelah kerumunan padat mahasiswa yang mulai berisik, bersahut-sahutan dengan suara dentum tabuhan drum di tengah lapangan. Woni dengan lihai menyelip di antara celah-celah pundak kekar para kating, mengajak Tony untuk masuk menembus barisan lingkaran terdalam dan berdiri tepat di barisan paling depan.

Tepat di depan mereka adalah area para koordinator lapangan yang bertugas memimpin gerakan koreo, mengelilingi para pemain alat perkusi berbaju merah yang bersiap memainkan alat yang ditali erat pada stager, panggung besi tinggi di tengah lingkaran mahasiswa. Tony seketika didera rasa takut yang luar biasa. Tempat itu terlalu ramai, sesak, dan di sekelilingnya didominasi oleh cowok-cowok berbadan besar yang siap berteriak lantang. Bau keringat dan asap rokok berbaur menjadi satu di udara. Tony refleks mundur selangkah, berniat melarikan diri ke barisan belakang yang lebih aman. Namun, Woni lagi-lagi menyadari pergerakannya dan menahan pergelangan tangan Tony kuat-kuat.

"Tony, please temenin gua. Percaya sama gua, ini pasti seru banget!" Melihat binar memohon di mata sahabatnya, ditambah fakta bahwa jalan di belakang mereka sudah tertutup rapat oleh barisan mahasiswa lain, Tony akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah tegang yang kaku. Ia merapatkan posisinya di sebelah Woni, mencoba menularkan keberanian sahabatnya itu ke dalam dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, riuh penonton mereda saat dua orang lelaki mulai menaiki tangga stager. Mereka adalah Jenderal lama dan Jenderal baru yang akan segera dilantik malam itu. Ketika bunyi tabuhan kosong berhenti, Jenderal lama mulai memberikan pidato panjang lebar di atas sana, menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada penerusnya. Namun Tony, yang sejak awal tidak berminat dan masih didera rasa takut, sama sekali tidak mendengarkan sepatah kata pun dari atas stager. Ia hanya berdiri memeluk tubuhnya sendiri, menunduk canggung sembari sesekali melirik kecil ke arah sekitar demi mengalihkan rasa gugupnya.

Sampai akhirnya, pandangan Tony terkunci pada deretan pemain alat musik yang berdiri di sekitar bawah stager. Manik matanya melebar di balik lensa kacamata. Di sana, berdiri tegak sosok yang sangat ia kenali. Kak Sungchan.

Awalnya Tony sempat bingung dan belum mengerti apa yang sedang dilakukan katingnya itu di sana yang sembari memegang dua buah stik bass drum berujung bulat berukuran cukup besar. Namun, semua kebingungannya terjawab tuntas ketika lagu pertama suporteran resmi dimulai.

BOOM! BOOM! BOOM!

Begitu komando pertama turun, Sungchan langsung memukul alat musiknya dengan bertenaga. Untuk mempermudah pergerakannya, kedua lengan kaus yang dikenakan Sungchan sengaja digulung tinggi hingga ke pangkal lengan, memamerkan urat-urat tangan dan otot lengannya yang bekerja keras setiap kali menghantam membran drum. Rambut hitamnya yang mulai basah oleh keringat tampak bergerak naik-turun, selaras dengan ritme ketukan konstan yang ia ciptakan.

Sungchan dan teman-teman pemain alat lainnya terlihat begitu lihai dan sangat ahli mengendalikan tempo seisi lapangan. Lagu More than a Feeling by Boston tepat pada detik ke-0:50 seakan berputar di kepala Tony ketika melihat pemandangan itu dari jarak sedekat ini, dada Tony mendadak bergemuruh jauh lebih kencang daripada suara drum snare dan bass di depannya. Wajahnya memerah padam, ada rasa malu dan salah tingkah yang aneh menjalar di sekujur tubuhnya, namun di saat yang sama, ia sadar ia jatuh hati semakin dalam pada sosok di depannya itu.

Saat lagu-lagu suporteran terus mengalir, Tony mulai memberanikan diri mengikuti gerakan koreo yang diperagakan para korlap di depan. Ia menggerakkan tangannya dengan sangat malu-malu dan canggung, berbanding terbalik dengan Woni yang sudah menjelma menjadi supporter garis keras. Sahabatnya itu berteriak lantang dan melompat semangat, bahkan di beberapa lagu, Woni sampai ikut bergoyang heboh bersama para korlap.

Di tengah keriuhan malam yang membakar semangat seisi fakultas itu, Tony justru menemukan dunianya sendiri yang mendadak sunyi. Dunianya malam itu hanya berisi dentuman bass yang ritmis, kepulan asap flare yang mulai menyala di kejauhan, dan satu fokus mutlak yang tak bisa ia alihkan, sosok Sungchan yang tampil begitu memukau di bawah temaram lampu lapangan.

Dua semester Tony habiskan untuk mengagumi Sungchan, si komdis galak yang ternyata berhati baik itu, secara diam-diam. Saking seringnya mencuri pandang dari jauh, Tony sampai hafal diluar kepala semua kebiasaan katingnya itu.

Ia tahu betul tiap Sungchan mendapat jadwal kelas pagi, lelaki itu pasti akan membeli nasi uduk dengan semur telur dan tahu, lengkap dengan gorengan tempe untuk sarapan seusai kelas. Kalau siang, Sungchan lebih memilih makan di kantin fakultas lain yang berkonsep outdoor agar ia bisa bebas merokok setelah makan. Lalu ketika kelas usai di sore hari, Sungchan dan teman-temannya pasti akan nongkrong berisik di area parkiran sebelum pulang sembari menjahili siapa saja yang lewat di sana.

Tak jarang pula Tony mendapati Sungchan dan komplotannya berada di warkop dekat kampus. Sebenarnya, Tony tidak terlalu suka tempat itu karena penuh asap rokok dan selalu ramai. Namun, sahabat dekatnya kerap mengajaknya ke sana untuk membeli makan.

Seperti sore itu, semuanya bermula ketika Woni—sahabat Tony yang berbeda jurusan dengannya—menarik lengan kemeja kuning pastel kedodorannya. Woni mengajak Tony untuk membungkus makan malam sebelum kembali ke kost, agar nanti malam mereka tidak perlu repot-repot keluar lagi. Bagi Tony, warkop memang bukan tempat yang nyaman, namun ia tidak akan komplain jika ternyata saat ke sana, ia justru beruntung bisa bertemu dengan Sungchan.

Ketika sampai di warkop, Tony memeluk erat tas laptop dan sebuah amplop file besar berisi laporan praktikumnya sambil mengekor di belakang Woni. Pikirannya murni hanya ingin menemani sahabatnya itu untuk membungkus nasi telur dadar kornet sebagai makan malamnya nanti, Tony sama sekali tidak memiliki ekspektasi apa pun.

Namun, begitu melangkah masuk ke dalam warkop yang pengap itu, langkah kaki Tony seketika terkunci. Di sudut ruangan, tepat di bawah kepulan asap rokok tipis, ada Sungchan yang sedang duduk bersama Eunseok dan Sohee.

Saking gugupnya Tony, ia refleks menunduk canggung. Namun, tepat saat ia mencoba mengalihkan pandangan, manik mata mereka berdua tak sengaja bertemu di udara. Sungchan sedang menatap ke arah luar, lurus menatapnya. Sadar dirinya diperhatikan oleh sang pujaan hati, Tony spontan memberikan senyuman tipis yang amat malu-malu sebelum buru-buru memalingkan wajah karena salah tingkah setengah mati.

Tony buru-buru mengekor di belakang punggung temannya, mengambil posisi duduk di dekat meja kasir warkop. Sepanjang menunggu temannya memesan, Tony tidak bisa fokus. Dadanya bergemuruh hebat, walaupun sesekali ia tetap mencuri-curi pandang ke arah Sungchan yang sedang menyesap kopinya.

Setelah pesanan temannya selesai dibuat dan mereka bersiap untuk pulang, temannya maju ke meja kasir untuk membayar. Tony berdiri diam di sampingnya, menunggu dengan tenang. Namun, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah intimidatif ketika sebuah presensi tegap yang sangat familiar tiba-tiba berdiri tepat di belakang tubuh mereka.

Temannya yang menyadari hal itu langsung menyenggol siku Tony dengan cepat untuk memberikan kode. “Tony, itu ada kating kamu,” bisiknya pelan.

Tony sontak menoleh, dan dunianya seolah berhenti berputar ketika mendapati sosok Sungchan berdiri dalam jarak yang sangat dekat. Dekat sekali hingga Tony bisa mencium aroma parfum maskulin yang selama setahun ini selalu ia dambakan dari jauh.

“Eh, halo Kak Sungchan...” Tony menyapa terbata-bata sembari mengangguk kecil, wajahnya dipastikan sudah bersemu merah padam.

Sungchan tidak tersenyum. Matanya justru bergerak skeptis, menatap dirinya dari atas sampai bawah dengan pandangan yang sulit diartikan, membuat Tony makin mencicit ketakutan. Tony yang merasa ditatap seintens itu dalam waktu yang lama langsung menundukkan kepala, meremat amplop file lapraknya dengan gugup demi menyembunyikan rasa salah tingkah. Apa Kak Sungchan keganggu ya karena aku senyumin tadi?

“Ke-kenapa ya, Kak?” tanya Tony cicit.

Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari bibir katingnya itu benar-benar menghempas logika Tony.

"Lu habis ini pulang sama gua."

Tony membelalakkan matanya di balik kacamata tebalnya. “Eh— Kak? A–aku pulang sa–”

“Dia nggak ada tumpangan pulang sih, Kak. Pas banget,” potong Woni tanpa saringan, mengompori situasi yang langsung dihadiahi pelototan maut dari Tony.

“Kak, a–aku bisa pulang send–”

“Gua tunggu di motor. Entar kalau udah beres, langsung ke parkiran,” potong Sungchan final, lalu berbalik pergi begitu saja menuju area parkiran.

“KAK! aku bisa pulang sendiri, Kak! Kak? Kak Sungchan...!” Tony berusaha memanggil, namun punggung tegap katingnya itu sudah terlanjur menjauh.

Tony langsung merengut, berbalik menghadap Woni dengan wajah cemberut bercampur kesal setelah Sungchan menjauh. "Ih, kamu apa-apaan sih? Kenapa malah dibilang nggak ada tumpangan? Kan aku bisa bareng kamu!"

Temannya hanya tertawa lepas sembari menerima uang kembalian dari kasir. "Hahaha, ya maaf. Males juga gua sebenarnya nganterin lu sore-sore gini, Ton. Arah kosan lu kan macet jam segini. Lagian rezeki itu, lumayan bisa pulang bareng kating ganteng."

Tony hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal, merutuki nasibnya sore ini yang mendadak harus berurusan dengan komdis galak seperti Sungchan. Namun, ia tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Di balik langkah kakinya yang diseret lesu menuju parkiran, ada seulas senyum kecil yang mati-matian ia tahan agar tidak terbit di bibirnya. Dadanya bergemuruh hebat—bukan lagi karena sisa ketakutan, melainkan karena letupan secuil rasa senang yang tak mampu ia bendung. Tony merapal doa dalam hati agar ia tidak pingsan karena salah tingkah di atas motor Sungchan nanti, tanpa tahu bahwa di masa depan, kejutan-kejutan lain yang jauh lebih besar justru akan kian berdatangan menghantam hidupnya tanpa henti.

Notes:

terima kasih banyak karena sudah membaca dan menunggu, hope it worth the wait. id warmly welcome u on X @greigejet