Work Text:
Sudah seharian ini Sungchan tidak keluar kamar karena kebetulan seluruh kelasnya dilaksanakan secara online. Ia bahkan tidak keluar untuk membeli makan karena siang tadi Eunseok sempat mampir ke kostnya untuk bermain PS bersama, sehingga ia bisa menitip makanan pada temannya itu.
Kini, setelah Eunseok pulang ke rumahnya, Sungchan hanya bisa pasrah. Kamar kostnya mendadak terasa sangat sunyi. Mungkin karena sejak kemarin ia selalu ditemani orang lain—mulai dari pergi ke mall bersama Tony kemarin siang, dilanjut Sohee yang menginap semalaman, hingga Eunseok yang menemaninya main sejak tadi siang. Sebagai seorang extrovert, kesunyian kamar ini benar-benar membuatnya jengah. Sungchan mulai memutar otak, memikirkan kegiatan apa yang bisa ia lakukan untuk menghapus rasa bosannya.
Ia kembali membuka ponsel. Jemarinya bergulir mencari ruang obrolan dengan Tony—yang sebenarnya kontaknya sendiri belum ia simpan sampai sekarang. Pesan yang ia kirim semalam ternyata masih belum dibalas, membuat kegelisahan meruah di dada Sungchan.
Dengan jemari yang bergerak ragu, Sungchan mulai mengetik.
“halo tony”
“lagi apa?”
Sungchan membatin, setidaknya ia harus tahu bagaimana kabar gadis itu sekarang. Ia tidak boleh kalah taruhan hanya karena kecerobohan kecilnya kemarin ketika berada di depan Bina. Lagi pula, status mereka baru sehari jadian secara mendadak. Bukankah wajar jika ada sedikit salah paham di awal hubungan?
Tak disangka, dua centang abu-abu di sana dengan cepat berubah menjadi biru. Di bagian bawah kiri layar, animasi gelembung pesan dengan titik tiga bergerak-gerak menunjukkan bahwa Tony sedang mengetik balasan. Sungchan reflek menahan napasnya, menunggu untaian kalimat yang akan keluar dari seberang sana.
Namun, satu menit berlalu, lalu dua menit berjalan lambat, balasan yang ditunggu tak kunjung tiba. Animasi mengetik itu sempat muncul lalu hilang beberapa kali, seolah si pengirim di seberang sana berulang kali menghapus ketikannya karena ragu.
Sungchan mengernyit bingung. Rasa tidak sabarnya mulai naik ke ubun-ubun sembari terus menatap layar tanpa berkedip. "Dia nih kenapa sih? Lemot banget," gumamnya gemas.
Karena sudah tidak tahan dengan sikap gantung dan lambatnya Tony, Sungchan akhirnya memutuskan untuk melempar satu pesan gertakan.
“kalau ga bales gua samper ya”
Ancaman itu bekerja dengan sangat ajaib. Pesannya langsung berubah status menjadi terbaca detik itu juga, dan animasi mengetik dari seberang sana muncul dengan sangat cepat, seolah si penerima pesan sedang panik setengah mati. Sebuah balasan pendek akhirnya masuk.
“Maaf, Kak. Lagi belajar.”
Kedua alis Sungchan bertaut dalam. Belajar? Bohong ga sih?
“belajar apaan?”
“Besok ada kuis, Kak.”
“sohee aja ga belajar tuh. temenin gua yuk.”
“Sohee beda kelas sama aku. Ga bisa kak, maaf.”
“kenapa ga bisa?”
“Lagi belajar. Udah dulu kak, hpnya mau aku matiin.”
Tepat setelah gelembung pesan terakhir itu masuk, Sungchan langsung bergerak cepat mengetikkan balasan. Namun, gerakannya kalah cepat. Tanda ceklis di bawah pesan terbarunya menunjukkan ceklis satu abu-abu. Gadis itu benar-benar mematikan ponselnya dan memutus obrolan mereka secara sepihak begitu saja.
"Dih? Dimatiin beneran?" gumam Sungchan tak percaya.
Sungchan melempar ponselnya ke atas kasur dengan kasar, mendengus frustrasi sembari mengacak rambutnya sendiri. Rasa bosannya kini sepenuhnya menguap tanpa sisa, tergantikan oleh rasa jengkel yang membakar dada. Rahangnya mengeras rapat. Sepanjang sejarah hidupnya di kampus, belum pernah ada orang yang berani mematikan ponsel di tengah-tengah obrolan bersamanya. Apalagi si cupu Tony yang biasanya selalu membalas pesannya dalam hitungan detik dengan sikap super segan.
Sungchan menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan kasar, mencoba meredam rasa dongkol yang mendidih. Gila tuh anak. Berani-beraninya dia nyuekin gua kayak gini, batinnya kesal.
Alih-alih merasa khawatir tentang alasan asli Tony menghindar, fokus Sungchan malam itu murni tertuju pada harga dirinya yang terluka parah. Dan tentu saja, fakta bahwa taruhan berhadiah besarnya terancam gagal total jika Tony benar-benar menjauh besok pagi.
"Liat aja besok di kampus," desis Sungchan ketus pada kesunyian kamarnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk memejamkan mata dengan perasaan dongkol yang tertahan hingga esok hari.
—
Keesokan harinya benar-benar terasa seperti neraka bagi Tony. Sudah semalam suntuk ia mengorbankan waktu tidurnya untuk terjaga, memelototi materi dan catatan kuliahnya demi mempersiapkan kuis hari ini. Namun sialnya, kesialan memilih untuk menimpanya. Akibat pikirannya yang tidak fokus sejak kemarin lusa, Tony ternyata salah mempelajari bab materi kuis.
Alhasil, saat lembar soal dibagikan, kepalanya langsung pening karena tidak dapat menjawab soal-soal kuis dengan baik. Kini Tony hanya bisa duduk merutuki dirinya sendiri di bangku kantin. Mengapa ia bisa sebodoh itu sampai melewatkan pengumuman penting di grup kelasnya? Benar-benar bukan seperti dirinya yang biasa teliti.
"Lagian, bukannya baca grup yang bener, Ton. Tapi lu salah belajar aja masih bisa ngerjain banyak, coba kalau gua? Bener dua biji aja udah syukur," ujar Woni sambil berusaha menenangkan sembari menepuk-nepuk pundak Tony dengan penuh simpati.
"Lagian kenapa sih? Tumben amat lu gak fokus gitu? Dari kemarin juga lu diem mulu," lanjut Woni heran.
Tony yang sebenarnya masih dilingkupi suasana hati yang buruk hanya bisa menggelengkan kepala lesu, ia tidak punya energi untuk menjelaskan. Untuk meredam pening yang berdenyut di pelipisnya, Tony memilih menyesap susu murni rasa strawberry dingin yang dibelinya tadi lewat sedotan plastik.
"Lagi bete ya? Lagi ada masalah?" desak Woni. Tony menggeleng cepat, mencoba memutus kecurigaan Woni.
Untung saja kuis menyebalkan tadi dilaksanakan di mata kuliah terakhir hari ini, yang berarti ia bebas untuk pulang sekarang. Tanpa buang waktu lagi, Tony segera menyambar tas ransel besarnya dari atas meja kantin.
"Aku mau pulang duluan deh, Won. Aku gak apa-apa, kok. Lagi agak gak enak badan aja," ujar Tony sembari mengulas senyum tipis, mencoba meyakinkan Woni lewat sorot matanya yang lelah bahwa ia benar-benar hanya butuh istirahat.
"Gue anter sampai kos ya?" tawar Woni solutif, bersiap ikut bangkit.
Tony cepat-cepat menggeleng dan menahan tangan Woni. "Gak usah, Woni. Kamu kan mau ada rapat bentar lagi. Lagian aku mau ke toko alat tulis depan dulu, isi binder aku udah habis."
"Beneran gak mau dianter? Kemarin aja lu maksa gua nganter pas lu diajak pulang sama kating lu itu, si Kak Sungchan. Eh, iya! Kak Sungchan sama lu gimana kelanjutannya? Masa cuma tiba-tiba nganter lu pulang doang?" Woni mengerling jahil, menyenggol lengan Tony dengan niat menggoda untuk mengorek informasi lebih dalam.
Mendengar nama Sungchan disebut, suasana hati Tony justru makin merosot tajam, senyum tipis yang ia paksakan kini hilang begitu saja. Bayangan layar dari laman profil Instagram Bina yang ia lihat dua malam lalu kembali melintas di pelupuk matanya, membawa rasa sesak yang menghimpit dada seketika. Tony terdiam sejenak, lalu mengedikkan bahunya malas.
"Apaan sih, Won. Gak ada apa-apa, lah. Aku pulang ya, Won. Takut hujan kalau makin sore. Bye, Won, semangat rapatnya,"
Tony meraih map plastik besar berisi laporan praktikumnya dari atas meja. Seperti biasa, ia memeluk benda tebal itu erat-erat di depan dadanya, menggunakannya sebagai tameng kenyamanan dari dunia luar.
"Tiati, Tony! Nanti kalau diajak pulang bareng sama Kak Sungchan lagi, jangan minta bantuan gua buat kabur ya!" teriak Woni heboh.
Tony yang sudah berjalan beberapa langkah menjauh langsung berbalik badan, menatap Woni dengan mata membelalak jengkel di balik kacamata tebalnya.
"Bener-bener ya, Woni... Teriak-teriak nama Kak Sungchan seenaknya di kantin—"
"Kenapa gua?"
BUG!
Kalimat Tony terputus bersamaan dengan tubuhnya yang menabrak dada bidang seseorang karena berjalan tanpa melihat ke arah depan. Map laporan praktikumnya hampir saja terlepas kalau ia tidak mendekapnya kuat-kuat.
"Eh-eh, sorry—"
Tony mendongak, dan napasnya seketika tercekat saat sepasang mata tajam yang sangat familiar menatapnya.
"K-Kak Sungchan..," Buru-buru ia menunduk sambil bersiap untuk jalan kembali.
“Permisi kak..."
Belum sempat Tony mengambil langkah satupun untuk menjauh, satu tangan besar Sungchan sudah bergerak lebih dulu, menahan pergerakan tubuh Tony yang terhalang oleh map laporan praktikum.
"Mau kemana?" tanya Sungchan.
Tony terpaksa menghentikan langkahnya ketika ia melihat lengan kekar Sungchan menghalangi jalannya, Sungchan pun ikut mencondongkan tubuhnya ke arah Tony menunduk, mencoba mencari celah untuk menatap langsung wajah gadis itu. Tony tidak menjawab, ia hanya diam sambil menggigit pipi dalamnya gugup.
"Kok gak dijawab? Pacar gua mau kemana?"
Deg.
Jantung Tony rasanya akan copot dari tempatnya detik itu juga. Riuh rendah suasana kantin yang tadinya bising mendadak terasa senyap, menyisakan gema kalimat Sungchan yang berputar ulang di kepalanya. Pacar gua katanya?
Wajah Tony seketika memanas hebat, rona merah muda langsung menjalar cepat dari pipi hingga ke ujung telinganya. Dengan susah payah, Tony membuang muka ke arah jajaran stan makanan di samping kanan, namun Sungchan dengan cepat ikut menggeser arah wajahnya demi mengunci pandangan mereka kembali.
"Hey, ditanya loh..." bisik Sungchan lagi. Kali ini nadanya sedikit melembut, namun intensitas tatapannya justru makin mengintimidasi akal sehat Tony.
"Ma-mau pulang, Kak," cicit Tony akhirnya, benar-benar kalah telak di bawah kungkungan pesona sang kating.
Mendengar jawaban itu, tangan Sungchan yang menahannya perlahan turun. Kini ia beralih menjadi berdiri tegak tepat di hadapan Tony, menutup jalan keluar gadis itu sepenuhnya sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dengan gaya santai.
"Gua anter."
"Gak usah, Kak. Aku bisa sendiri," tolak Tony sehalus mungkin, meski tangannya meremas map dengan gugup.
"Gua tahu, tapi gua pengen nganter lu pulang."
"Aku mau ke toko alat tulis dulu, gak usah, Kak." Tony masih mencoba mencari alasan logis untuk menghindar.
"Ya, gua anter kesana juga. Kenapa sih, Tony? Gak suka dianter jemput pacarnya?"
Tony menghembuskan napas pendek. Ia akhirnya memberanikan diri untuk menatap wajah Sungchan yang sedari tadi memang sengaja mengunci pandangannya.
"Bukannya gak suka, Kak. Aku bisa sendiri, kok. Aku gak mau ngerepotin Kakak. Lagipula kos aku kan deket banget."
"Gak ada yang ngerasa direpotin, Tony. Lagian bener tuh kata lu, kos lu kan deket, jadi gua gak ngerasa repot lah,” balas Sungchan dengan senyum tipis yang meremehkan semua alasan Tony.
Tony hanya bisa diam mendengar jawaban mutlak itu. Kakak tingkatnya ini ternyata sangat keras kepala. Bagaimanapun cara Tony menolak, sepertinya tidak akan ada pengecualian yang diterima oleh Sungchan.
"Jadi, gua anter, ya?" tanya Sungchan sekali lagi.
Kini Tony sudah pasrah, ia hanya bisa mengangguk kecil dengan kaku, menerima tawaran yang sebenarnya lebih terdengar seperti paksaan dari Sungchan. Sebaris senyum lebar yang penuh kemenangan langsung tercetak jelas di wajah tampan lelaki itu. Ia lantas menggeser tubuhnya sedikit, mempersilakan Tony untuk berjalan lebih dulu memimpin jalan ke arah parkiran luar.
Sebelum menyusul langkah lambat Tony, Sungchan sempat menolehkan kepalanya ke arah sudut kantin. Di sana, Sohee dan Eunseok ternyata sejak tadi sedang memperhatikan aksinya dengan saksama. Sungchan memberikan kode berupa menunjuk punggung Tony yang menjauh diiringi dengan acungan jempol rendah—sebuah isyarat bahwa misinya berhasil. Sohee dan Eunseok yang melihat itu tersenyum puas sambil bertepuk tangan pura-pura dan membalas acungan jempol sebagai apresiasi.
Aksi Sungchan tadi sebenarnya terjadi berkat komporan kedua temannya beberapa menit lalu. Ketika melihat punggung lesu Tony yang baru masuk ke kantin bersama Woni, Sohee langsung menepuk pundak Sungchan yang masih sibuk melahap makanannya.
“Kusut banget tuh muka si Tony, Bang. Samperin gih,” ujar Sohee.
Mata Sungchan mengikuti arah tunjuk dagu Sohee. Di ujung lain ruangan, Tony baru saja menaruh tas ranselnya di atas meja sebelum berjalan ke arah stan susu murni untuk memesan. Langkahnya terlihat lunglai, wajahnya ditekuk tak bersemangat. Sungchan yang melihat itu hanya mengedikkan bahunya malas, lalu kembali menyuap sisa makanannya.
“Peduli apa gua,” ujar Sungchan santai.
“Belum baikan lu sama dia?” tanya Sohee lagi.
“Belum,” jawab Sungchan acuh tak acuh.
Eunseok yang mendengar itu langsung menggeleng heran. “Dongo lu. Keburu dia makin ngambek, anjir. Kelar dah taruhan lu.”
Sungchan mengacak-acak nasi di atas piring menggunakan sendoknya dengan gusar. “Gua juga bingung, Seok. Chat gua aja gak dibales dari kemarin.”
“Kayak gak pernah diambekin cewek aja lu. Samper lah, Chan. Minta maaf, gih,” desak Eunseok.
“Maaf gimana, anjir? Malas ah gua,” gerutu Sungchan.
Eunseok berdecak, lalu mencondongkan badannya ke hadapan Sungchan, tanda pembicaraannya mulai serius. “Bilang aja kalau kemarin-kemarin lu bohong soalnya lu mau pdkt dulu sama dia, baru setelah itu lu baru mau jujur ke orang-orang.”
Sungchan merengut skeptis. “Mana bakal percaya si Tony, anjing.”
“Bakal percaya dia, pegang omongan gua. Bocah sepolos itu mah gampang,” timpal Eunseok meyakinkan. Sungchan yang masih menimbang-nimbang di dalam hati kini mulai terhasut oleh omongan Eunseok.
“Bener tuh, Bang. Sekalian anter pulang aja, kayaknya tuh bocah udah mau beres,” sahut Sohee yang masih memperhatikan Tony yang baru saja beranjak dari kursinya.
Sungchan mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja sembari menyipitkan mata. Menatap lurus pada punggung Tony, ia akhirnya bangkit berdiri sebelum logikanya berubah pikiran.
“Hadah, ribet banget dah ceweeek,” gerutunya. Bertolak belakang dengan ucapan malasnya, Sungchan mulai berjalan gontai menyusul Tony.
Eunseok yang melihat itu tertawa kecil, sementara Sohee menepuk pelan pinggang Sungchan yang perlahan meninggalkan meja mereka. “Good luck, Bang!” sahut Sohee setengah berbisik dari kejauhan.
Kini, sepanjang koridor menuju area parkiran, langkah besar Sungchan dengan mudah menyetarakan tempo berjalan Tony yang sebenarnya masih enggan untuk menatap wajahnya. Sungchan diam-diam dilingkupi rasa bingung. Di balik wajah datarnya, isi kepala lelaki itu sedang berputar keras, merancang taktik dan memikirkan kata-kata yang pas untuk membujuk Tony sesuai rencana yang baru saja disuntikkan oleh Eunseok tadi.
Ketika sampai di depan motor besarnya, Sungchan berniat untuk mengajak Tony mengobrol sebentar guna mencairkan suasana sebelum mereka jalan pulang. Ia lantas duduk santai menyandar di atas jok motornya sembari memangku helm yang ia pegang.
Di sisi lain, Tony yang memang sedang enggan berinteraksi banyak hanya memilih berdiri agak jauh dari Sungchan. Sepasang manik matanya sibuk mengabsen apa saja yang ada di sekelilingnya asal bukan sosok Sungchan; mulai dari barisan motor yang terparkir rapi, daun-daun kering yang berguguran dari pohon rindang, hingga cone pembatas jalan di sudut parkiran. Apa saja, yang penting bukan menatap wajah Sungchan.
Sungchan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia mendadak bingung sendiri bagaimana cara memecah keheningan di antara mereka.
"Tony," panggil Sungchan pelan, nadanya melunak.
Gadis yang dipanggil sama sekali tidak menoleh ataupun menyahut. Ia masih kukuh membuang muka, pura-pura tertarik memperhatikan hal lain di sekitar parkiran.
"Sini dulu, Tony. Kalau mau naik motor pakai helmnya dulu, yuk," bujuk Sungchan lembut, berharap taktiknya kali ini bisa membuat Tony mau menatap wajahnya.
Namun, di luar dugaan Sungchan, Tony justru langsung menyambar helm dari pangkuannya dengan cepat. Tanpa membuang waktu atau mengeluarkan suara sepatah kata pun, Tony segera memakai helm itu dan menurunkan kaca visor gelapnya dalam sekali sentak. Sebuah gerakan defensif yang menutup akses penuh agar Sungchan tidak bisa mengintip bagaimana ekspresi wajahnya saat ini.
"Ayo berangkat," ujar Tony dari balik helm, suaranya teredam namun terdengar ketus.
Sungchan yang sempat tersentak dengan tingkah ajaib bin mendadak dari Tony itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan. Alih-alih kesal, sudut bibirnya justru tertarik membentuk senyuman tipis. Sungchan tertawa kecil karena menurutnya, aksi mengambek diam-diam Tony ini terasa sangat lucu dan menggemaskan.
"Yaudah, kalau emang udah gak sabar banget mau pulang, mah," ujar Sungchan sengaja membalas dengan nada mengejek yang menyebalkan.
Sungchan segera menaiki motornya, disusul oleh Tony yang ikut naik ke jok belakang tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Motor besar Sungchan pun dengan cepat membelah jalanan, meninggalkan area parkir fakultas yang mulai sepi.
"Mau ke toko alat tulis yang mana?!" tanya Sungchan setengah berteriak, mencoba mengalahkan deru angin dan bisingnya jalanan raya.
"Gak jadi," sahut Tony singkat dari belakang, suaranya teredam kaca helm.
Sungchan tertawa kecil mendengar jawaban ketus gadis itu. Ia mengangguk paham, lalu menambah laju motornya dengan mantap menembus jalanan. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat mereka tiba di depan gerbang kost Tony dalam waktu singkat.
Begitu motor berhenti sempurna dan Tony turun, gadis itu langsung melepas helmnya dan menyerahkannya kembali kepada Sungchan tanpa mau menunggu lama.
"Makasih, Kak," ujarnya pelan, masih tanpa ekspresi.
Tanpa menunggu balasan atau aba-aba apa pun, Tony segera membalikkan badan. Ia melangkah cepat menuju area dalam gerbang kosannya.
"Tony! Sini dulu," panggil Sungchan.
Tony sebenarnya mendengar seruan itu dengan jelas. Namun, karena hatinya masih diselimuti rasa dongkol, ia menganggapnya angin lalu dan memilih untuk terus melangkah tanpa berniat menoleh sedikit pun.
"Tony, hey—Tony!"
Sungchan dengan cepat turun dari motornya. Langkah lebarnya dengan mudah membawa dirinya masuk melewati pagar gerbang kosan Tony. Dari belakang, tangan besarnya langsung menahan pergelangan tangan Tony yang sedang bebas tidak memegang map laporan praktikum.
Genggaman dan tarikan kuat itu membuat Tony terpaksa berbalik badan, hingga netra mereka kembali bertemu. Sadar jarak mereka terlalu dekat, sedetik kemudian Tony langsung menunduk untuk menyembunyikan rona wajahnya, sembari menarik lengannya dengan paksa dari cengkeraman Sungchan.
"Orang kalau dipanggil tuh nengok kali," tegur Sungchan pelan.
Tony menelan ludahnya kasar, mendadak merasa agak bersalah. "Maaf, Ka—"
"Maaf mulu. Kan MPD-nya udah kelar dari lama," potong Sungchan cepat, mencoba mencairkan suasana.
Tony sama sekali tidak merespons. Gadis itu tetap bergeming dengan kepala menunduk dalam, membuat candaan Sungchan barusan menguap begitu saja di udara. Atmosfer di antara mereka malah mendadak berubah menjadi jauh lebih hening dan canggung. Sungchan tampak menarik napas dalam, memutar otak untuk merangkai untaian kalimat yang sudah Eunseok ajarkan di kantin tadi.
"Tony..." Sungchan memanggil nama gadis itu dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan yang tertahan.
Lelaki itu sengaja menjeda kalimatnya selama beberapa detik, menunggu sampai Tony perlahan mendongak. Begitu pasang netra mereka bertemu, Sungchan menatap lurus ke dalam manik mata Tony dengan pandangan yang dalam—kosong dari keangkuhan yang biasanya melekat pada dirinya.
"Gua minta maaf, ya. Dua hari yang lalu di mall, gua emang ngeselin banget. Maaf gua udah bohong tentang status kita." Sungchan menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan seolah ada beban berat yang baru saja ia lepaskan dari dadanya.
Ia mengambil satu langkah kecil mendekat, memperkecil jarak agar Tony bisa mendengar ketulusan fiktif dari suaranya.
"Tapi sebenernya... gua cuma mau kita beneran deket dulu sebelum bilang ke orang-orang kalau kita pacaran. Gua gak mau buru-buru, gua mau jalanin ini perlahan sama lu," lanjut Sungchan, artikulasinya melambat di setiap kata, memastikan kalimat bohong itu terdengar begitu meyakinkan di telinga Tony. "Maafin gua, ya?"
Tony yang sebenarnya sama sekali tidak menyangka jika sosok Sungchan yang arogan akan menurunkan egonya sedalam ini demi meminta maaf, seketika membeku. Kata demi kata yang diucapkan Sungchan dengan tempo lambat itu rasanya merayap masuk, mengetuk hatinya satu per satu. Rasa dongkol yang sejak kemarin lusa menyumbat dadanya mendadak mengikis habis, digantikan oleh debaran asing yang membuat hatinya tersentuh. Karena terlalu kelu untuk menyusun kata, Tony akhirnya hanya bisa mengangguk pelan sambil kembali menunduk sebagai balasan.
"Ngangguk doang? Dimaafin gak nih?" desak Sungchan lagi.
Tony lagi-lagi hanya mengangguk, matanya masih setia menatap ujung sepatunya sendiri.
"Hey, yang ngajak ngobrol tuh di atas sini loh, bukan di bawah," ujar Sungchan lembut, mengisyaratkan Tony untuk menatap wajahnya.
Dengan perlahan, Tony akhirnya mendongak. Ia mencoba menatap wajah Sungchan yang ternyata tersenyum simpul ketika mata mereka kembali bertemu, walaupun sepasang matanya secara refleks sesekali membuang arah pandang karena gugup.
"Jadi, gua dimaafin gak?" tanya Sungchan sekali lagi, memastikan.
"Iya, Kak Sungchan... Tony maafin," cicit Tony akhirnya dengan suara super pelan.
Sebuah senyum lebar seketika tercetak jelas di wajah tampan Sungchan. "Syukurlah," desahnya lega.
Baru saja kalimat itu terlontar, setetes air yang dingin mendadak jatuh tepat di atas tulang pipi Sungchan. Lelaki itu mendongak sekilas, menatap langit sore yang kian menggelap pekat tanda hujan akan segera turun.
"Ya udah, gua pulang dulu ya, Tony. Kayaknya udah mau hujan," pamit Sungchan. "Nanti malam kalau gua chat, dibales ya."
Sebelum Tony sempat menjawab, Sungchan tiba-tiba memajukan tubuh tegapnya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Tony hingga jarak di antara mereka terkikis. Sentakan tak terduga itu sukses membuat Tony refleks mundur satu langkah dengan jantung yang mendadak berdegup lebih kencang.
"Gak enak tahu kalau dikacangin," lanjut Sungchan. Lelaki itu sedikit memajukan bibir bawahnya, pamer ekspresi cemberut sok terluka tepat di hadapan wajah Tony. Nada suaranya yang sengaja dibuat merajuk rendah itu sukses membuat Tony semakin salah tingkah.
Tony langsung membuang mukanya ke arah lain secara acak demi menyembunyikan pipinya yang dipastikan sudah merona merah akibat jarak mereka yang terlampau dekat.
Sungchan menarik kembali tubuhnya ke posisi tegak, lalu tersenyum simpul melihat reaksi dari gadis di depannya. "Oke, gua pulang, ya."
Sungchan berjalan kembali ke arah motor besarnya, menaikinya dengan gerakan tangkas, lalu memasang helmnya kembali.
"Dah, Tony!” Sungchan tersenyum dan melambaikan tangannya sekali, sebelum akhirnya menurunkan kaca visor helmnya yang gelap, lalu menyalakan mesin motor yang langsung menderu hebat membelah keheningan.
Tony yang masih dirayapi rasa malu luar biasa hanya bisa mengangguk pelan sembari menatap kepergian lelaki itu. Tak lama kemudian, motor Sungchan pun melaju cepat, menghilang di balik tikungan jalan.
Begitu sosok itu benar-benar pergi, Tony langsung mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang terasa sangat panas. Rasa malu dan berdebar bercampur menjadi satu di dadanya.
"Aduh, Tony... Kok gampang banget maafinnya sih..." keluhnya pada diri sendiri.
Namun jujur saja, jauh di dalam lubuk hatinya, Tony memang tidak bisa membohongi perasaannya. Kalimat maaf dari Sungchan tadi rasanya berhasil menghapus seluruh gumpalan kecewa yang mengganjal sejak kemarin lusa. Kini, dengan hati yang kembali berbunga-bunga, langkah kaki Tony terasa begitu ringan saat berjalan masuk menuju kamar kostnya.
—
Sore telah berganti malam. Hujan deras yang mengguyur bumi sejak petang tadi kini sudah mereda, meninggalkan aroma tanah basah yang menguar di balik jendela kamar kost Tony. Di atas meja belajar, Tony tengah berkutat dengan tumpukan tugas dan laporan praktikumnya. Meski mata dan tangannya tak berhenti bergerak di atas papan ketik laptop, fokus pikirannya sama sekali tidak ada di sana.
Kepalanya terus-menerus memutar ulang rekaman kejadian sore tadi di kampus.
Bagaimana dada bidang Sungchan menabraknya, bagaimana tangan besar lelaki itu menahan tubuhnya agar tidak kabur, dan yang paling membuat jantungnya mau copot, kalimat santai yang keluar dari bibir katingnya itu di tengah keramaian kantin.
“Pacar gua mau kemana?”
Lalu, kilasan adegan bergeser saat Sungchan nekat menyusulnya masuk ke area gerbang kost. Genggaman kuat di pergelangan tangannya, ucapan maafnya yang terdengar rendah, hingga momen ketika Sungchan memajukan wajah, berbisik tepat di depan mukanya dengan jarak dekat, lalu membuat wajah cemberut yang tidak pernah Tony lihat sebelumnya.
“Gak enak tahu kalau dikacangin.”
"Aaaah, tahu ah!" Tony mengerang frustrasi. Ia menjatuhkan dahinya ke atas meja belajar, mengetuk-ngetukkannya beberapa kali ke permukaan kayu yang dingin. Ia hanya ingin membuang sosok Sungchan dari kepalanya malam ini, atau ia bisa gila karena saat ini isi kepalanya hanya dipenuhi oleh Sungchan, Sungchan, dan Sungchan.
Ting!
Suara notifikasi berdenting nyaring dari ponsel yang tergeletak di samping laptopnya. Tony perlahan mendongakkan kepala, melirik sekilas ke arah layar yang mendadak menyala. Detik itu juga, badannya langsung menegak kaku dan detak jantungnya refleks berpacu cepat saat menangkap sebaris nama yang tertera di sana.
Kak Sungchan.
“besok pagi ada kelas?”
Tony mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menetralkan gugup sebelum meraih ponselnya dan mengetik balasan cepat.
“Gak ada, Kak”
Dua centang biru langsung muncul detik itu juga setelah pesan terkirim. Sungchan benar-benar sedang standby di dalam ruang obrolan mereka.
“yaaaahhh”
Tony mengernyitkan dahi, ibu jarinya bergerak mengetik balasan dengan rasa bingung yang kentara.
“Kenapa ‘yah’, Kak?”
Animasi mengetik di kiri layar muncul dengan cepat, namun kali ini ketikan dari seberang sana terasa sedikit lebih lama dari sebelumnya, membuat Tony setia menatap layar dengan perasaan was-was yang aneh. Sampai akhirnya, sebuah gelembung pesan baru menyembul.
“udah kangeennn :(“
Deg.
Tony refleks membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangan. Matanya membulat sempurna, menatap layar ponsel seolah benda itu baru saja meledak. Dengan gerakan panik, ia melempar kasar ponselnya ke atas meja, menjauhkan benda itu seolah-olah bisa menyengat kulitnya.
Tubuh Tony mendadak kaku. Ia terdiam dengan dada yang kembang kempis, mencoba mencerna apa yang baru saja ia baca. Jujur saja, akal sehatnya menolak percaya. Seorang Sungchan—komdis yang dulu ia takuti, cowok paling arogan yang pernah ia kenal—bisa mengirimkan pesan serandom dan semanis itu padanya?
Belum sempat Tony menenangkan diri, ponselnya kembali berdenting berturut-turut.
“kok dibaca doang sih?”
“kan gua bilang jangan kacangin guaaaa”
“tonnyyyiiii :_____(“
Tony semakin dibuat salah tingkah setengah mati. Panggilan manja itu sukses membuat pipinya memanas hebat hingga ke telinga. Ia meremas ujung kaus tidurnya, berusaha meredam pekikan yang tertahan di tenggorokan. Dengan tangan yang gemetar, ia kembali mengambil ponselnya dan mengetik balasan seadanya demi menutupi kegugupan yang luar biasa.
“Iya, Kak”
Hanya itu yang sanggup otaknya proses. Tony benar-benar bingung harus membalas apa lagi. Tidak mungkin, kan, ia membalas, "Aku juga kangen Kakak" dengan tambahan emotikon lucu? Walaupun kenyataannya, Tony memang merasakan hal yang sama.
“tonyi ga kangen kakak kah?”
Jempol Tony bergerak ragu di atas papan ketik. Perasaannya campur aduk luar biasa. Di satu sisi, hatinya melambung tinggi ke awan, merasa sangat bahagia karena impiannya sejak hari pertama Masa Pengenalan Departemen dulu mendadak jadi kenyataan. Tapi di sisi lain, ia juga mempertanyakan mengapa sikap Sungchan bisa berputar seratus delapan puluh derajat secepat ini. Setelah menimbang-nimbang dengan gugup, Tony akhirnya mengetik balasan yang aman menurutnya.
“Kakak jangan bercanda terus, ih”
Bilang saja Tony naif, karena itu memang benar adanya. Dia terlalu sibuk menata debaran di dadanya, sampai tidak bisa melihat celah dari perubahan sikap Sungchan yang terlalu mendadak dan mencurigakan.
Sementara di seberang sana, suasana kamar kost Sungchan justru jauh dari kata romantis. Suara bising dari game di televisi mendominasi ruangan. Sungchan dan Eunseok tengah fokus menatap layar sambil memegang stik PS masing-masing, sementara Sohee duduk bersila di karpet sambil memegangi ponsel milik Sungchan.
"Anjir, dibalas cuma 'Iya, Kak.' Kaku banget nih anak," celetuk Sohee sambil tertawa puas. Jemarinya dengan lincah kembali mengetikkan balasan alay di layar.
“tonyi ga kangen kakak kah?”
"Hee, lu jangan alay-alay banget ngetiknya, ngeri gua bacanya ntar," sahut Eunseok tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
"Tenang aja, Bang. Gua gak pernah gagal. Cewek tipikal kayak Tony gini pasti langsung salting mampus di kamarnya," balas Sohee pede. Begitu gelembung pesan balasan dari Tony masuk, Sohee langsung terbahak nyaring. "Tuh, kan! Dia bilang ‘Kakak jangan bercanda terus, ih’. Fix, mukanya pasti udah merah sekarang."
Sohee menyenggol kaki Sungchan dengan brutal, memaksa katingnya itu mengalihkan fokusnya sejenak. "Bang, Bang, Bang. Liat HP lu bentar. Nih, gua kelarin biar besok lu tinggal angkut."
Sungchan menoleh, membaca rentetan pesan sandiwara yang diketik Sohee ke nomor Tony. Bukannya merasa bersalah, Sungchan justru mengangguk-angguk dengan senyum puas yang menghias wajah tampannya. Rasa percaya dirinya langsung melambung tinggi karena merasa taruhan ini akan sangat mudah ia menangkan.
"Emang paling mantep lu, Hee," puji Sungchan sambil terkekeh pelan. "Sini HP gua."
Sungchan merebut ponselnya, lalu mengetikkan tiga baris pesan penutup dengan gayanya yang biasa sebelum mengunci layar.
“siapa yang bercanda? gua serius, tony”
“besok siang gua jemput ke kost ya, gak ada penolakan.”
“tidur gih, nice dream”
Sementara di kamarnya sendiri, Tony menatapi pesan penutup itu dengan senyuman yang tidak bisa ditahan lagi. Ia langsung memeluk ponselnya erat-erat di depan dada, menggulingkan tubuhnya ke atas kasur sambil menenggelamkan wajahnya ke bantal untuk meredam pekikan histerisnya.
Malam itu, kamar kost Tony dipenuhi oleh debaran manis yang membuncah. Ia sama sekali tidak tahu bahwa untaian kata yang membuatnya melayang ke awan malam ini hanyalah sebuah lelucon di tengah permainan PS tiga orang pria di seberang sana.
