Work Text:
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat bagi Sungchan dan Tony. Semenjak permohonan maaf Sungchan waktu itu, intensitas pertemuan mereka berdua meningkat drastis. Sudah sebulan penuh Sungchan menghabiskan waktunya untuk mengantar dan menjemput Tony kuliah setiap hari. Bahkan, Sungchan sering mengantarkan Tony hingga tepat di depan pintu kelasnya jika mereka mendapat ruang kelas yang berjarak dekat, sembari membawakan tas ransel milik kekasihnya itu untuk disampirkan di pundak tegapnya sendiri. Tak jarang pula mereka menghabiskan waktu bersama sepulang kuliah atau di akhir pekan, entah untuk sekedar mencari makan, menemani Tony belajar, atau bahkan pergi ke tempat yang jauh dan ramai seperti pusat perbelanjaan.
Pada awalnya, Sungchan melakukan semua perlakuan manis ini murni sebagai taktik formalitas agar Tony tidak menaruh curiga dan tiba-tiba meminta putus. Namun, seiring berjalannya waktu, semua tindakan itu melebur menjadi bagian dari rutinitasnya secara alami. Bahkan, panggilan "aku-kamu" di antara mereka kini mengalir begitu saja dari bibir masing-masing tanpa ada lagi rasa canggung.
Perubahan paling mencolok juga terlihat pada penampilan Tony. Setengah dari isi lemarinya yang usang kini telah lenyap, digantikan oleh pakaian-pakaian baru yang jauh lebih modis. Beberapa di antaranya adalah hadiah yang sering dibelikan Sungchan setiap kali mereka jalan bersama, dan sisanya adalah hasil pembelian Tony sendiri dari aplikasi belanja.
Tidak berhenti di situ, Tony bahkan mulai mendaftarkan diri ke tempat gym dan rutin berolahraga di sela-sela jadwal kuliahnya yang padat. Tubuhnya yang dulu cenderung kurus dan tampak ringkih, perlahan mulai terbentuk lebih proporsional dan bugar.
Namun, di balik penampilannya yang kian membaik dan fisiknya yang makin terawat, ada alasan pilu yang tersembunyi. Tanpa sepengetahuan Sungchan, perubahan itu tidak lahir dari rasa percaya diri. Tony hanya sedang berusaha mengejar bayangan seseorang yang ia tahu tak mungkin bisa ia kalahkan. Sejujurnya, Tony merasa sangat tidak percaya diri jika dibandingkan dengan mantan kekasih Sungchan itu. Setiap kali melihat foto unggahn Bina yang anggun, modis, dan memiliki bentuk tubuh ideal, dada Tony selalu dilingkupi rasa cemas yang hebat.
Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa setara dengan Bina yang cantik dan populer. Namun, Tony selalu mengusahakan yang terbaik dengan menyiksa dirinya lewat olahraga keras dan mengubah cara berpakaiannya. Setidaknya, ia tidak ingin terlihat terlalu jomplang saat berjalan bersanding di sebelah Sungchan.
Hari ini dimulai dengan ritme yang sama manisnya. Sungchan datang menjemput Tony di kosnya, memarkirkan motor besarnya sebentar, menunggu si manis turun dari kamarnya. Namun, ketika melihat Tony muncul tepat di balik gerbang pintu kosnya yang setengah terbuka, mata Sungchan mendadak terkunci. Pria jangkung itu dibuat terpaku ketika untuk pertama kalinya ia melihat wajah Tony tanpa kacamata berbingkai tebalnya. Kini, benda itu telah digantikan oleh sepasang softlens berwarna natural. Tampilan baru tersebut jujur saja membuat Sungchan merasa sangat pangling hingga terdiam membisu selama beberapa saat.
Tony yang menyadari dirinya diperhatikan sebegitu lamanya menjadi salah tingkah dan malu-malu. Ia menggigit bibir bawahnya gugup.
"Jelek ya, Kak, kalau gak pakai kacamata?" cicit Tony ragu.
Lamunan Sungchan buyar. Ia berkedip sekali, lalu buru-buru menguasai ekspresi wajahnya yang sempat mengagumi visual bersih di hadapannya. "Enggak kok, Tony... Cocok, bagus," jawab Sungchan jujur, memberikan seulas senyum tipis yang tulus.
Jawaban singkat itu sukses membuat pipi Tony merona merah muda. Dengan gerakan kikuk karena terlanjur salah tingkah, Tony menerima helm yang disodorkan Sungchan. Tangannya yang sedikit gemetar membuat ia agak kesulitan menyatukan tali helmnya sendiri. Melihat itu, Sungchan mendengus geli, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu mengaitkan helm Tony, membuat jarak wajah mereka sempat terkikis begitu dekat selama beberapa detik. Tony bahkan sampai harus menahan napasnya karena saking tidak kuat menahan debaran di dada.
Tony segera naik ke atas boncengan motor besar sang kating. Sepanjang jalan menuju kampus, kebahagiaan kecil itu membubung tinggi, menari-nari indah di dalam dada Tony, membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum lebar di balik helmnya.
Setibanya mereka di kampus, Sungchan kembali melakukan rutinitas alaminya. Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor gedung fakultas yang mulai ramai. Sungchan dengan santai menyampirkan tas ransel Tony di pundak tegapnya sendiri, mengabaikan beberapa pasang mata mahasiswa lain yang memperhatikan mereka. Berjalan di samping Sungchan dengan perlakuan seistimewa ini selalu berhasil membuat Tony merasa menjadi orang paling beruntung di dunia.
Langkah mereka akhirnya terhenti tepat di depan pintu ruang kuliah Tony. Sebelum menyerahkan tas tersebut, Sungchan menatap Tony sejenak. Pria jangkung itu sedikit menundukkan kepalanya, mengunci pandangan mereka yang kini sejajar.
"Belajar yang bener. Nanti abis kelas langsung ketemu di parkiran ya," ucap Sungchan, nadanya terdengar protektif sekaligus mengingatkan janji mereka untuk menonton film favorit Sungchan yang baru rilis selepas kuliah nanti.
Tony merasakan perutnya seperti digelitik oleh ribuan kupu-kupu yang beterbangan. Senyum manis otomatis terbit di bibirnya yang ranum, membuat matanya yang bulat kini terlihat berbinar indah.
"Iya, Kak Sungchan. Semangat juga ya kelasnya!" balas Tony dengan nada suara yang riang.
Setelah menerima tasnya, Tony berbalik dan melangkah masuk ke dalam kelas dengan perasaan yang melayang-layang. Hari ini baru saja dimulai, namun rasanya hati Tony sudah penuh, tumpah ruah oleh rasa cinta yang semakin menggila untuk kating kesayangannya itu.
Namun, mendung mendadak merenggut kebahagiaan itu di pertengahan jam kuliah. Saat jeda kelas, Tony memutuskan untuk pergi ke toilet. Baru saja ia hendak mendorong pintu, langkah kakinya mendadak lumpuh seketika saat mendengar namanya disebut-sebut oleh beberapa mahasiswi di dalam sana.
"Eh, lu tahu si Tony anak kelas sebelah, kan?"
"Yang gatel banget sama Kak Sungchan itu ya?"
"Pake pelet kali ya dia? Kok bisa bikin Kak Sungchan betah banget sama dia?"
"Iya, heran gua. Padahal kalau dibandingin sama Kak Bina mah jauh banget, mana setara dia."
"Kak Sungchan cuma mainin dia doang kali, ya. Masa merosot banget sih seleranya?"
Deg.
Hati Tony seketika mencelos. Rasanya seperti dihantam benda tumpul besar tepat di dada. Kalimat-kalimat miring yang mengonfirmasi ketakutan terbesarnya selama ini berdengung hebat di kepala, membuat seluruh pasokan udara di parunya terasa menguap. Tony mundur perlahan, mengurungkan niatnya dengan air mata yang mati-matian ia tahan di sudut kelopak matanya. Rasa percaya dirinya yang baru saja mekar di depan gerbang kosan tadi pagi, hancur lebur tak bersisa.
Setelah kelasnya usai, Tony langsung melangkah cepat ke arah parkiran kampus untuk menepati janjinya. Dari kejauhan, netranya menangkap figur jangkung Sungchan yang sudah bersiap di atas motor besarnya. Helm hitam sudah terpasang rapi di kepala sang kating, sementara satu helm lainnya berada di genggaman tangannya, siap untuk diberikan kepada Tony.
Tony menyapa Sungchan hanya dengan anggukan singkat. Ia segera memakai helm tersebut dan naik ke jok belakang dengan gerakan cepat, lalu memilih untuk langsung diam. Padahal biasanya, sepanjang jalan keluar dari gerbang kampus, Sungchan pasti akan mendengarkan rentetan cerita tentang bagaimana menyebalkannya jam praktikum atau dosen Tony hari itu. Namun sore ini, Tony hanya cemberut dan membisu, membiarkan keheningan yang tak biasa merayap di antara mereka sepanjang perjalanan membelah jalanan kota.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di mal yang dituju. Sungchan membelikan dua tiket menonton untuk mereka, lalu menuntun Tony menuju sofa panjang di depan teater sembari menunggu pintu teater dibuka.
Sikap pasif Tony sejak di parkiran fakultas tadi rupanya terus mengusik pikiran Sungchan. Sambil berpura-pura mengecek ponsel, netra Sungchan diam-diam memperhatikan gerak-gerik kekasihnya. Tony tampak membungkukkan badannya ke depan, menumpu kedua siku di atas lutut seraya menangkup wajah manisnya dengan kedua telapak tangan. Tatapannya tertuju pada deretan poster film yang terpajang di dinding lobi, namun sorot matanya kosong dan tampak teramat sedih.
Rasa penasaran Sungchan akhirnya tidak bisa dibendung lagi. Ia menggeser duduknya menjadi lebih dekat, memajukan tubuhnya hingga posisinya kini berhadapan langsung dengan wajah murung Tony.
"Kenapa, Tony? Dari tadi di motor cemberut aja," tanya Sungchan akhirnya, memecah keheningan.
Tony menghela napas panjang yang terdengar begitu berat. Karena tidak sanggup lagi memendam rasa sesak di dadanya sendirian, dengan suara lirih ia akhirnya menceritakan seluruh kejadian yang tidak sengaja ia dengar di toilet kampus tadi.
"Tapi gapapa sih, Kak. Wajar aja orang berpendapat gitu," Tony menutup ceritanya dengan kalimat penenang agar Sungchan tidak perlu berpikir terlalu jauh dengan kondisinya, walau jujur dalam hati kalimat-kalimat tadi masih sangat menusuk hatinya.
Melihat bagaimana rapuhnya Tony saat mengadu tentang gunjingan itu, sudut hati Sungchan didera rasa kasihan. Kelembutan yang jarang ia perlihatkan mendadak muncul begitu saja. Sungchan semakin memajukan tubuhnya, menyejajarkan wajahnya tepat di depan wajah Tony hingga jarak di antara mereka terkikis. Tangan kanannya terulur lembut, jemari panjangnya bergerak mengelus perlahan rambut depan Tony, menyisipkan anak rambut yang berantakan di dahi Tony.
"Gak apa-apa, Tony. Jangan sedih-sedih ya... Mereka kan gak tau apa-apa tentang kita," ucap Sungchan lembut, mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat menenangkan. Telapak tangannya bergerak mundur, mengelus pucuk kepala Tony lembut
Tony seketika terdiam seribu bahasa. Ia memaku pandangannya pada sepasang manik mata Sungchan yang menatapnya begitu lekat dari jarak sedekat ini. Kalimat pembelaan serta belaian lembut di kepalanya sukses membuat seluruh pasokan udara di paru-paru Tony terasa menguap begitu saja. Jantungnya berdegup dengan cepat di dalam dada. Sebelum Tony sempat menguasai diri dari rasa terkejutnya, Sungchan sudah menarik kembali tangannya dan berdiri dari sofa.
"Aku ke depan sebentar ya, mau beli popcorn dulu," ujar Sungchan santai, lalu melangkah pergi meninggalkan sofa depan teater.
Begitu punggung tegap Sungchan menghilang di balik kerumunan antrean konter camilan, barulah pertahanan Tony runtuh sepenuhnya. Ia mendadak salah tingkah sendiri di atas sofa. Kedua tangannya refleks bergerak menutupi seluruh wajahnya yang kini sudah merona merah padam hingga ke ujung telinga. Tony menggigit bibir bawahnya erat-erat, menahan pekikan kesenangan yang hampir lolos dari tenggorokannya, membenamkan wajahnya di antara lutut, tersenyum lebar sendirian dengan perasaan yang melambung tinggi ke langit, merasa menjadi orang paling beruntung karena memiliki kekasih perhatian seperti Sungchan.
Di tengah antrean konter camilan yang mengular, Sungchan berdiri mematung dengan pandangan kosong.
Sejujurnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Sungchan sudah berada di titik pasrah mengenai kelanjutan hubungannya dengan Bina. Di matanya, Bina sudah menjadi sosok yang teramat jauh dan tak tersentuh. Mereka putus secara baik-baik, bukan karena sebuah kesalahan fatal yang bisa Sungchan perbaiki sebagai pembuktian bahwa ia telah berubah menjadi pria yang lebih baik, sehingga ia dapat meminta Bina untuk kembali padanya. Tidak ada celah untuk itu.
Apalagi, Bina tampaknya biasa-biasa saja menanggapi gosip kedekatan dirinya dengan Tony yang pasti sudah sampai ke telinganya. Pergerakan terakhir perempuan itu hanyalah sebatas menanyakan status hubungannya dengan Tony kepada Eunseok, setelah itu tidak ada tindakan apa-apa lagi.
Hal itu perlahan mengubah sesuatu di dalam diri Sungchan. Ia mulai membuka diri terhadap kehadiran Tony. Ia membiarkan apa pun yang akan terjadi di antara mereka mengalir begitu saja. Sungchan mencoba mewujudkan kalimat yang pernah ia ucapkan pada Tony, bahwa ia ingin menjalani hubungan ini perlahan-lahan. Namun, jika ditanya secara jujur, Sungchan pun masih dilingkupi kebingungan. Apakah debaran kecil yang terkadang ia rasakan sekarang murni karena ia memang sudah benar-benar menyukai gadis itu? Sungchan belum tahu jawabannya, dan ia memilih untuk tidak menuntut apapun dari hatinya sekarang.
Setelah membeli satu ember besar popcorn, Sungchan kembali menghampiri Tony dengan sisa-sisa rona merah di pipinya. Tak lama kemudian, pintu teater dibuka dan mereka melangkah masuk ke dalam ruangan teater yang remang-remang.
Di sepanjang dua jam film diputar, kontras di antara keduanya terasa begitu kentara. Tony sama sekali tidak bisa fokus pada layar lebar di depan mereka. Pikirannya masih berputar hebat, sepenuhnya tersita oleh sisa kehangatan elusan tangan Sungchan di pucuk kepalanya tadi. Setiap kali Sungchan bergerak sedikit atau lengan mereka tidak sengaja bersenggolan di sandaran kursi, jantung Tony akan kembali berdegup kencang. Ia terus-menerus salah tingkah sendirian di dalam kegelapan.
Sementara itu, Sungchan justru duduk dengan tenang di sebelahnya, sesekali menyuapkan popcorn ke dalam mulutnya, benar-benar menikmati alur film tanpa tahu bahwa ia baru saja membuat dunia Tony jungkir balik.
Begitu lampu ruangan kembali menyala dan mereka berjalan keluar, Sungchan meregangkan otot-otot lehernya yang kaku. "Aduh, masih laper nih. Kita cari makan, yuk"
Tony yang perutnya masih terasa penuh karena menghabiskan sebagian besar popcorn tadi menggeleng pelan. "Aku masih kenyang banget, Kak. Tapi kalau Kakak mau makan, ayo aku temenin."
Akhirnya, mereka memutuskan untuk turun ke area food court. Karena Tony menolak untuk makan berat, ia hanya melipir sebentar ke sebuah gerai camilan untuk mengambil sebungkus mochi cokelat isi stroberi. Sementara itu, Sungchan mengambil satu tray berisi sushi paket lengkap yang porsinya cukup besar. Lelaki itu juga berniat menambahkan dua botol air mineral nanti saat berada di meja kasir untuk mereka berdua.
Namun, begitu tiba di depan kasir, pandangan Sungchan turun ke arah makanan pilihan Tony. Matanya tertegun kecil saat menatap bungkusan mochi di sana.
"Kamu... suka mochi, Ton?" tanya Sungchan tiba-tiba.
Tony mendongak, mengerjapkan matanya polos. "Suka banget, Kak. Kenapa emangnya, Kak?"
Sungchan tidak menjawab. Ia mendadak terlamun di tempatnya berdiri. Pikirannya tanpa permisi langsung melayang kembali pada sosok Bina. Dada Sungchan berdenyut agak ngilu karena ia teringat betul, setiap kali mereka berdua pergi ke mal ini, Bina juga selalu membeli mochi cokelat persis sama dengan yang dipegang Tony saat ini. Memori lawas itu mendadak berputar tanpa bisa ia cegah.
Melihat Sungchan yang tiba-tiba melamun dengan tatapan kosong, Tony jadi kebingungan. "Kenapa, Kak?"
Sungchan segera sadar dari lamunannya lalu tersenyum simpul. "Gak apa-apa," jawabnya pendek, lalu segera menyelesaikan pembayaran untuk makanan mereka.
Setelah mendapatkan meja kosong, Sungchan berpamitan sebentar kepada Tony untuk membeli air mineral di kasir yang sempat terlupa saat membayar makanan tadi. Tony mengangguk pelan, lalu membiarkan pandangannya mengikuti punggung pria jangkung itu yang perlahan menghilang di balik keramaian food court.
Baru beberapa saat ia duduk sendirian, sebuah suara lembut tiba-tiba menyapanya dari samping.
"Tony?"
Tony spontan menoleh. Begitu menyadari siapa yang berdiri di sebelah mejanya, jantungnya seolah langsung melorot ke perut.
Mengetahui bagaimana posisi Bina di masa lalu Sungchan, Tony seketika didera rasa bersalah. Ia gugup sendiri di kursinya. "Eh... Kak Bina..."
Perempuan itu tersenyum kecil. "Eh, bener kamu. Aku tadi lihat dari jauh, masih ragu kalau itu kamu. Kamu lagi makan?"
"Iya... eh, enggak juga sih. Ini cuma camilan."
Bina mengangguk pelan. Pandangannya tanpa sengaja bergeser ke meja, lalu berhenti pada satu tray sushi berukuran besar yang masih utuh.
Ekspresinya nyaris tidak berubah. Hanya saja, sorot matanya sempat terpaku selama beberapa detik. Sebelah alis Bina terangkat tipis. Otaknya langsung mengingat sebuah kebiasaan lama, itu adalah tray sushi yang selalu dibeli oleh Sungchan setiap kali mereka makan di food court ini. Senyum kecil terukir di bibir Bina, tipis sekali, nyaris tak terlihat.
Menyadari perubahan ekspresi Bina yang terus memandangi makanan di mejanya dengan tatapan ganjil, Tony memberanikan diri untuk bertanya, "Kenapa ya, Kak?"
Bina tersentak kecil, lalu buru-buru mengubah ekspresi wajahnya agar kembali terlihat normal. "Eh—nggak apa-apa kok. Uhm, aku kayaknya harus duluan ya, Tony. Temenku udah nungguin di depan. Bye, Tony!"
Tony hanya bisa memandang kepergian kakak tingkatnya itu dengan kerutan bingung di dahi. Sementara itu, Sungchan baru saja selesai membayar botol minuman di meja kasir dan membalikkan badannya. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti ketika netra tajamnya menangkap siluet Bina yang baru saja melangkah menjauh menuju dekat pintu keluar food court.
Jantung Sungchan berdesir tajam. Dari jarak beberapa meter, ia melihat seorang lelaki menghampiri Bina. Itu Sho, kakak satu tingkat di atas Sungchan yang sangat ia kenali di fakultas. Tepat di depan pandangan mata Sungchan yang mengintai dari kejauhan, Sho tampak mengulurkan tangan dan merangkul posesif pundak Bina, menuntun perempuan itu pergi bersama. Di bawah rangkulan itu, Bina tampak mendongak menatap Sho dan tersenyum sangat bahagia—sebuah senyuman lepas yang sudah lama tidak Sungchan lihat.
Anehnya, Sungchan tidak merasakan amarah yang berapi-api seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Sungchan hanya berdiri mematung di tengah keramaian, merasakan ada sebentuk rasa sesak yang asing dan hampa, sesuatu yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata. Ada rasa kehilangan yang nyata, namun di saat yang sama, ada kepasrahan yang hambar yang menahan dirinya untuk tidak lagi meledak.
Ketika Sungchan kembali ke meja dengan dua botol air mineral di tangannya, atmosfer di sekelilingnya sudah berubah. Kini ia menjadi jauh lebih diam dan irit bicara, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Maaf lama. Ngantri soalnya," ujar Sungchan singkat sembari meletakkan botol minuman itu di atas meja dan kembali duduk di hadapan Tony.
"Nggak apa-apa, Kak. Makasih banyak ya," balas Tony, tersenyum tipis.
Sungchan yang tadi mengeluh kelaparan kini hanya memandangi tray sushinya dengan tatapan kosong, sesekali menyuap tanpa benar-benar menikmati rasanya. Tony yang memiliki intuisi cukup peka langsung menyadari perubahan drastis pada raut wajah katingnya itu. Ia merasa cemas, tidak ingin hari yang menyenangkan ini berakhir dengan menyedihkan.
"Kakak gak apa-apa?" tanya Tony khawatir.
"Gak apa-apa, kok. Tadi agak capek ngantri aja," jawab Sungchan pendek, berusaha mengulas senyum tipis yang sayangnya tidak sampai ke mata.
Tony tahu ada yang salah, namun ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Alih-alih larut dalam keheningan yang canggung, isi kepala Tony berputar mencari cara untuk mengembalikan suasana hati kating di hadapannya.
Tak lama setelah makanan mereka habis, mereka memutuskan untuk beranjak. Saat mereka berjalan beriringan keluar dari food court dan melewati area permainan yang bising penuh lampu warna-warni, Tony mendadak menahan ujung jaket Sungchan, membuat langkah pria jangkung itu terhenti.
"Kak, main bentar yuk? Aku mau coba yang di sebelah sana," ajak Tony dengan binar mata penuh harap, berusaha mengalihkan perhatian Sungchan.
Sungchan sempat menatap Tony sejenak sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Boleh."
Awalnya, Sungchan hanya berdiri lesu di samping Tony yang mencoba peruntungannya di mesin capit boneka. Pikiran Sungchan masih separuh tertinggal di food court tadi. Matanya juga tidak lepas dari ponselnya, memberi kabar terkini kepada grup obrolan yang berisi kedua sahabatnya itu. Namun, melihat bagaimana Tony berulang kali memekik gemas dan mengerucutkan bibirnya setiap kali capitan besi itu gagal mengangkat boneka beruang di dalamnya, fokus Sungchan perlahan-lahan mulai teralih.
"Sini, biar aku yang cobain," ujar Sungchan, perlahan-lahan mulai tertarik. Ia menggeser posisi Tony, lalu mengambil alih kendali mesin.
Setelah dua kali percobaan yang gagal dan memicu tawa renyah dari Tony, ego kompetitif Sungchan mulai terusik. Sifat ketusnya pelan-pelan menguap, digantikan oleh senyuman tipis yang kembali terukir di bibirnya. Pada percobaan ketiga, capitan besi itu bergerak presisi, berhasil mencengkeram erat sebuah boneka beruang berukuran sedang dan menjatuhkannya tepat ke lubang hadiah.
Mereka refleks berseru senang. Sungchan spontan mengangkat kedua tangannya lebar-lebar, mengajak Tony untuk melakukan tos tinggi di antara bisingnya suara mesin permainan. Setelah membungkuk untuk mengambil boneka beruang tersebut dari kompartemen mesin, Sungchan menyerahkannya kepada Tony dengan raut wajah yang tampak lega dan bahagia.
"Nih, Tony. Akhirnya dia mau juga diajak keluar," kelakar Sungchan, memamerkan senyum lebarnya.
"Makasih banyak ya, Kak Sungchan!" seru Tony riang. Ia langsung menatap lamat boneka beruang itu dalam pelukannya, memamerkan senyuman paling tulus dan manis yang pernah Sungchan lihat. Sepasang matanya yang kini tampak berbinar begitu cantik di bawah pendar lampu arcade.
Melihat ekspresi bahagia Tony yang begitu murni di bawah temaramnya lampu area permainan, perasaan Sungchan menghangat secara instan. Ada sebentuk rasa puas yang menyelubungi dadanya karena ia berhasil membuat anak ini kembali tersenyum lebar setelah insiden di toilet kampus tadi siang. Merasa momen ini terlalu berharga untuk dilewatkan, Sungchan refleks merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel.
Cekrek.
Sungchan menurunkan ponselnya, lalu menatap hasil foto candid Tony yang tengah tersenyum lebar memeluk boneka beruang di layar digitalnya. Namun, tepat pada detik itu, dunia Sungchan rasanya seperti mendadak berhenti berputar. Dadanya kembali berdenyut ngilu secara tiba-tiba.
Visual Tony yang tengah memeluk boneka besar di tengah riuhnya area permainan itu seketika memicu kenangan lama terputar di dalam kepalanya. Pikirannya ditarik paksa, dilempar kembali pada memori masa lalu saat ia melakukan hal yang persis sama bersama Bina di tempat ini dulu. Rasa rindu dan sesak yang sempat reda akibat kenyamanan bersama Tony kini kembali berhamburan menghantam kepalanya tanpa ampun.
Bayangan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai dan hancurnya ego akibat melihat Bina bersama Sho tadi mendadak mengaburkan kenyamanan nyata yang baru saja ia rasakan bersama Tony. Senyum di bibir Sungchan perlahan surut, digantikan oleh tatapan mata yang mendadak kosong. Sisa malam itu pun terpaksa berakhir dengan keheningan di sepanjang perjalanan pulang mereka.
Motor hitam itu berhenti tepat di depan pagar kost Tony, seluruh perasaan mengganjal di hati Tony telah menguap begitu saja. Ia turun dari jok belakang sambil memeluk erat boneka beruangnya.
Tony menghadap ke arah Sungchan, lalu melemparkan senyuman yang teramat lebar ke arah Sungchan. "Makasih banyak buat hari ini ya, Kak. Tony happy banget!" serunya tulus. Kalimat pembelaan lembut dari Sungchan di sofa depan teater tadi, serta hadiah boneka ini benar-benar membuat Tony lupa total akan gunjingan kejam yang sempat ia dengar di toilet kampus tadi siang.
Sungchan, yang sebenarnya masih dilingkupi suasana hati yang buruk dan hampa, hanya mampu mengulas seulas senyuman tipis yang dipaksakan.
"Sama-sama, Tony," balasnya datar. Setelah memastikan Tony masuk ke dalam pekarangan kos, Sungchan memutar balik kemudinya dan melaju membelah kegelapan malam.
Namun, Sungchan tidak langsung pulang ke kosnya sendiri. Sebelum berpamitan dengan Tony tadi, jemari panjangnya sudah bergerak di atas layar ponsel, mengirimkan pesan singkat ke grup obrolan bersama Eunseok dan Sohee untuk menanyakan posisi mereka. Begitu mengetahui kedua temannya sedang berada di warkop biasa dekat kampus, Sungchan langsung mengarahkan motornya ke sana.
Sesampainya di warkop, suasana masih cukup ramai. Sungchan mendudukkan diri di hadapan Eunseok dan Sohee yang sedang asyik dengan obrolan mereka. Alih-alih langsung mengikuti obrolan mereka, Sungchan memilih untuk merogoh ponselnya, lalu membuka aplikasi galeri. Matanya terpaku pada foto candid Tony yang tengah memeluk boneka beruang di area arcade tadi.
Melihat foto itu, denyut ngilu di dadanya kembali hadir. Siluet Tony dan boneka besar itu lagi-lagi melemparkan ingatannya pada sosok Bina. Ditopang oleh rasa tidak ingin terlihat kalah setelah melihat Bina dirangkul oleh Sho sore tadi, sebuah ide impulsif mendadak melintas di kepala Sungchan. Dengan jemari yang bergerak cepat didorong oleh ego yang terluka, ia langsung mengunggah foto manis Tony tersebut ke Instagram Story akun pribadinya, lengkap dengan sebuah sematan nama. Sungchan melakukannya dengan satu harapan egois, ia ingin Bina melihatnya. Ia ingin membuktikan pada mantannya itu bahwa ia juga sudah memiliki pengganti yang jauh lebih baik.
Kembali ke warkop, keheningan di meja mereka mendadak pecah. Eunseok yang baru saja meletakkan cangkir kopinya langsung tertegun, menatap layar ponsel dengan kening berkerut dalam setelah melihat pembaruan story milik Sungchan yang baru saja diunggah oleh sahabat di hadapannya. Di sebelahnya, Sohee yang sedang meneguk es teh manis sampai menyemburkan sedikit minumannya. Ia buru-buru meletakkan gelasnya hingga membentur meja kayu warkop dengan bunyi yang cukup keras.
"Maksud lu apa nih, Bang?" Sohee membuka suara. Ia memutar layar ponselnya, memperlihatkan foto Tony yang sedang memeluk boneka beruang di bawah pendar lampu arcade. "Lu kesambet apaan tiba-tiba nge-post si Tony? Pake di-tag segala lagi."
Eunseok ikut meletakkan ponselnya di atas meja, lalu bersandar pada tembok sembari memandangi Sungchan dengan tatapan menelisik yang tajam namun tenang. "Tadi di grup lu bilang lu lemes banget pas liat Bina dirangkul Sho. Gua pikir lu bakal langsung balik ke kos buat bengong atau ga tidur biar mendingan, tapi kenapa sekarang lu malah pamer ginian, Chan? Sengaja biar diliat Bina lu?"
Sungchan tidak langsung menjawab pertanyaan kedua temannya. Ia hanya meraih kotak rokoknya, mengambil sebatang, lalu menyalakan pemantiknya dengan gerakan santai yang terkesan dingin. Setelah menyesap nikotin itu dalam-dalam dan mengembuskan asapnya perlahan ke udara, barulah ia menatap Eunseok dan Sohee dengan sepasang mata yang menyiratkan sifat keras kepalanya.
"Iya, gua emang sengaja, Kenapa?" jawab Sungchan pendek, suaranya terdengar datar tanpa ada riak rasa bersalah.
Sohee spontan mendengus tipis, lalu terkekeh hambar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Malah makin keliatan kalo lu kepanasan abis liat si Bina mesra-mesraan depan lu, Bang."
Eunseok hanya bisa menghela napas berat, memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Sebagai sahabat yang paling paham tabiat Sungchan, ia tidak perlu penjelasan panjang lebar untuk tahu apa yang sedang terjadi di dalam kepala pria jangkung itu. Sungchan sedang terluka egonya. Dan malam ini, Tony yang tidak tahu apa-apa kembali terseret menjadi tameng untuk mempertahankan harga diri sahabatnya itu.
"Gua gak bakal ngelarang lu mau main taktik apapun buat bikin Bina balik ke lu, Chan," ujar Eunseok akhirnya. Nadanya perlahan melunak, menyiratkan kepasrahan seorang sahabat.
"Tapi inget, si Tony gak tahu apa-apa soal semua ini. Jangan sampai gara-gara ego lu, perasaan anak orang malah makin hancur nantinya." Eunseok menatap mata sahabatnya yang terlihat semakin tidak tertarik dengan petuahnya ini, namun Eunseok tetap bersikeras untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kesepakatan kita cuma bikin Bina kepanasan lihat lu sama Tony. Bukan bikin Tony percaya kalau semua ini beneran."
Sungchan kembali menyesap rokoknya dalam-dalam, membiarkan asap pekat mengepul di antara mereka.
"Dari awal kan kita emang udah jadiin dia boneka taruhan doang, Seok." Sungchan memutar batang rokok di sela jarinya.
"Sekarang baru lu kepikiran kasihan?" ujar Sungchan sinis, senyum meremehkan terukir tipis di bibirnya.
Eunseok bungkam seketika. Untuk pertama kalinya malam itu, Eunseok benar-benar tidak bisa membantah. Eunseok sadar dirinya bukanlah orang yang baik. Bahkan, ide taruhan bodoh itu lahir dari kepalanya sendiri. Namun jauh di lubuk hatinya, Eunseok diam-diam merutuki kebodohannya sendiri karena telah mencetuskan ide taruhan gila itu tanpa memikirkannya matang-matang. Setiap kali ia melihat mata berbinar Tony ketika melihat Sungchan, hati Eunseok mencelos. Diam-diam ia merasa kasihan kepada gadis yang ia usulkan menjadi boneka permainan antara dirinya dan teman-temannya.
Dulu, Eunseok benar-benar percaya rencana bodohnya akan berhasil. Ia pikir, memaksa Sungchan membuka lembaran baru bersama seseorang setulus Tony akan membuat sahabatnya perlahan melupakan Bina. Bahkan beberapa minggu terakhir, melihat bagaimana Sungchan mulai terbiasa menjaga, menemani, dan memperlakukan Tony dengan begitu baik, Eunseok sempat yakin semuanya berjalan sesuai harapan.
Ternyata ia salah.
Ego Sungchan jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Selama Bina masih mampu mengguncang hati dan harga dirinya, Tony akan selalu kalah oleh masa lalu yang belum pernah benar-benar selesai.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, suasana yang kontras sedang tercipta di dalam kamar kos Tony yang sepi. Gadis itu baru saja hendak merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur, namun kegiatannya terhenti seketika saat sebuah notifikasi dari aplikasi Instagram memecah keheningan kamar.
Begitu membuka layar ponsel dan melihat namanya ditandai dalam Story milik akun pribadi Sungchan, jantung Tony rasanya hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Detik itu juga, seluruh sisa rasa lelahnya menguap.
Tony salah tingkah setengah mati. Ia langsung memeluk boneka beruang barunya erat-erat sembari berguling-guling di atas kasur, menendang-nendangkan kakinya ke udara dengan perasaan yang melambung begitu tinggi hingga ke langit.
Tony teramat senang, bahkan matanya sampai berkaca-kaca karena rasa haru yang membuncah. Di dalam benak keluguan yang ia punya, ia sama sekali tidak meragukan tindakan Sungchan. Tony meyakini dengan sepenuh hati bahwa keputusan berani Sungchan untuk ‘go public’ malam ini adalah bentuk nyata dari kalimat penenang sang kating di bioskop tadi sore.
Tony yang malang sama sekali tidak tahu fakta yang sebenarnya sedang terjadi di meja warkop saat ini. Bahwa di balik layar ponsel yang menyala itu, ia sama sekali tidak sedang dilindungi. Ia hanya baru saja dijadikan boneka tameng atas ego, rasa tidak sudi kalah, dan sisa rasa cemburu seorang Sungchan.
Kehebohan malam itu nyatanya langsung bergulir cepat. Begitu Story tersebut mengudara selama tiga puluh menit, ruang obrolan Instagram milik Tony langsung dibombardir oleh berbagai reaksi. Di dalam kamar kosnya yang sepi, Tony sampai harus mendudukkan diri karena ponsel di genggamannya tidak berhenti bergetar. Beberapa teman kelas dan praktikumnya langsung mengirimkan pesan bertubi-tubi. Mulai dari mengirimkan reaksi emoji meledek, ada pula yang membalas dengan kalimat seperti, "Ciee, go public nih?" atau "Duh, yang diajak jalan sama kating hits."
Tony hanya bisa membenamkan wajahnya yang semakin memanas di balik bantal. Hatinya membubung tinggi penuh rasa haru. Ia merasa begitu diakui, dihargai, dan dijaga oleh Sungchan dari segala gunjingan miring yang sempat terdengar di toilet kampus tadi siang.
Sementara itu, suasana di meja warkop semakin tidak menyenangkan. Obrolan di warkop malam itu sama sekali tidak berpihak pada Sungchan. Sungchan lagi-lagi membantah apapun yang keluar dari mulut Eunseok dan Sohee, membuat kedua temannya menyuruhnya untuk pulang dan istirahat saja daripada membuat hawa diantara mereka menjadi semakin panas karena perdebatan tak berujung.
Begitu tiba di kamar kosnya sendiri, keheningan malam langsung mencekik Sungchan. Alih-alih membersihkan diri, pria itu langsung melempar jaketnya sembarangan dan mendudukkan diri di tepi kasur, jemari panjangnya bergerak cepat membuka aplikasi Instagram, menatap layar ponsel yang menyala remang-remang di dalam kegelapan kamar.
Ego dan seluruh sisa rasa penasarannya menuntut satu hal, melihat nama akun Bina muncul di daftar penonton. Ia terus melakukan refresh pada layar digital tersebut. Dan benar saja, di antara ratusan akun yang sudah melihat, nama akun Bina akhirnya naik ke permukaan.
Jantung Sungchan mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Ia sempat menahan napas, bersiap untuk kemungkinan terburuk—apakah Bina akan langsung mengirimkan pesan penuh amarah, memaki dirinya karena dianggap terlalu cepat berpaling, atau justru perempuan itu akan memilih mengabaikannya sama sekali?
Namun, kejutan yang sesungguhnya justru datang dalam bentuk yang paling tidak terduga. Sebuah notifikasi kecil menyembul,
Bina menyukai cerita Anda.
Sungchan seketika tertegun, membeku di tempatnya duduk. Sebelah tangannya yang memegang ponsel perlahan melemas. Sebuah tanda like berbentuk hati berwarna merah tersemat manis tepat di samping nama sang mantan kekasih.
Kepala Sungchan mendadak bising oleh banyak pertanyaan yang berputar tanpa kendali, membuat pelipisnya berdenyut pening. Maksud Bina apa?
Jika Bina marah atau cemburu, dia tidak akan mungkin sudi memberikan tanda suka pada foto Tony. Namun, jika Bina memberikan tanda suka, apakah itu artinya perempuan itu tulus mendukung hubungannya dengan Tony? Apakah itu pertanda mutlak bahwa Bina benar-benar sudah bahagia bersama Sho dan menganggap masa lalu mereka telah selesai tanpa sisa? Atau jangan-jangan, itu hanyalah sebuah sindiran halus untuk menunjukkan bahwa Bina sama sekali tidak peduli lagi pada eksistensinya?
Niat awal Sungchan yang ingin memanas-manasi sang mantan kini justru berbalik menjadi senjata makan tuan. Unggahan itu tidak memberinya kepuasan, melainkan menyisakan kebingungan hambar yang mencekik dadanya sendirian di dalam kesunyian kamar.
—
Semenjak malam itu, aksi impulsif Sungchan ternyata memicu masalah yang berbuntut panjang. Tanpa sepengetahuannya, tanda like di malam itu rupanya menjadi awal dari rasa penasaran Bina yang kian menggebu. Perempuan itu menjadi jauh lebih sering mencari tahu tentang hubungan Sungchan dengan Tony. Bina berulang kali mengirim pesan, bahkan beberapa kali sengaja mencegat Eunseok di koridor kampus hanya untuk bertanya.
"Eunseok, Sungchan beneran pacaran sama anak itu?"
Di hari lain, Bina kembali mencegatnya dengan raut wajah sendu. "Sungchan keliatannya bahagia banget ya sekarang, Seok?"
Namun, Eunseok memilih untuk menutup rapat mulutnya. Sebagai sahabat, ia sengaja tidak melaporkan satu pun pergerakan Bina kepada Sungchan. Eunseok tahu betul isi kepala Sungchan sedang tidak berada dalam akal sehatnya, ia tidak ingin menjadi sumbu kompor yang membuat Sungchan semakin bingung dengan dirinya sendiri, atau lebih buruk lagi, kembali menggunakan Tony sebagai tameng ego.
Dua minggu berlalu dalam kedamaian yang menipu. Hingga pada suatu siang, badai yang sebenarnya akhirnya datang.
Sungchan baru saja hendak melangkah masuk ke dalam ruang kuliahnya setelah mengantar Tony ke depan pintu kelas seperti biasa. Namun, tepat di ambang pintu kelas Sungchan, sebuah siluet familiar berdiri menghadang langkahnya. Jantung Sungchan serasa berhenti berdetak sedetik. Tepat di hadapannya, berdiri sosok Bina. Setelah sekian lama hanya bisa menatap dari kejauhan, kini perempuan itu berdiri begitu dekat, menatapnya dengan sepasang mata yang dulu begitu ia puja.
Sungchan mendadak gugup setengah mati. Jemarinya di dalam saku celana meremas pelan jajaran kunci motornya demi menghalau canggung. "Bina?"
"Chan," Bina menyahut pelan. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga berhenti tepat satu langkah di depan Sungchan. "Sore nanti... kita bisa ngobrol sebentar? Ada yang mau aku omongin berdua sama kamu," ucap Bina kemudian.
Tanpa ada keraguan sedikit pun, seolah tubuhnya digerakkan oleh memori lama yang belum usai, Sungchan langsung mengangguk. "Bisa. Ketemu dimana?"
"Di kos aku—" Bina menjeda kalimatnya saat menangkap raut terkejut dan bingung di wajah Sungchan. Perempuan itu buru-buru meluruskan, "Di lounge bawah itu kok, Chan. Bukan di kamar aku."
"Oke," jawab Sungchan final.
Setelah kesepakatan itu dibuat, Sungchan berjalan masuk ke kelas dengan pikiran yang sudah terbang entah ke mana. Hal pertama yang ia lakukan begitu duduk adalah merogoh ponselnya. Dengan perasaan bersalah yang samar, ia mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Tony.
“tony, sore ini aku ada urusan mendadak abis kelas”
“aku gak bisa anter kamu pulang dulu ya”
“kamu pulang naik gojek gak apa-apa, kan?”
Ini adalah pertama kalinya dalam sebulan penuh Sungchan mematikan rutinitas antar-jemput harian mereka. Di seberang sana, Tony yang tidak tahu apa-apa hanya membalas dengan cepat.
“oke kak gapapaa kokk”
“semangat kuliahnya kakakk <3”
Melihat emotikon hati itu, dada Sungchan sempat berdenyut aneh. Namun, rasa penasaran yang teramat besar pada Bina dengan cepat mengubur rasa bersalahnya dalam-dalam.
Sore harinya, atas permintaan Bina, motor besar Sungchan akhirnya terparkir di area kos tempat tinggal perempuan itu.
"Maaf ya, Chan, harus di sini," ujar Bina lirih saat mereka berjalan masuk melewati pintu kaca. "Nanti aku jelasin kenapa aku minta kita ketemu di sini."
Begitu mereka duduk berhadapan di salah satu sofa lounge lobi lantai satu yang sunyi, Bina menatap Sungchan dengan tatapan sendu yang tampak begitu meyakinkan. Sorot matanya yang redup mengunci perhatian Sungchan sepenuhnya.
"Aku minta kita ketemu di sini, karena tempat ini yang paling aman dari Kak Sho, Chan," Bina memulai ceritanya. Suaranya merendah, nyaris berbisik, seolah takut dinding-dinding lobi ikut mendengarkan.
Mendengar nama Sho disebut, fokus Sungchan langsung menajam.
"Aku emang beneran udah deket dan jalan beberapa kali sama Kak Sho selama ini. Tapi... ternyata dia posesif banget, Chan. Dia gak suka kalau aku keliatan masih punya urusan atau sekadar interaksi sama orang dari masa lalu aku, terutama kamu. Makanya, aku gak mau kita keliatan ngobrol di luar. Aku takut dia macem-macem."
Sungchan hanya mengangguk pelan, mencoba mencerna situasi sebelum bertanya langsung pada intinya, "Jadi.. mau ngomong apa, Bina?"
Bina menghela napas panjang, bahunya merosot turun seakan beban yang dipikulnya terlalu berat. "Sebenarnya aku cuma mau bilang kalau aku masih sangat menghargai hubungan kita dulu, Chan. Jujur, diam-diam aku masih sering menyayangkan kenapa kita berdua harus putus walau dengan cara baik-baik kayak kemarin."
Mendengar kalimat itu, Sungchan langsung terpaku di tempatnya.
"Aku- aku masih suka liatin foto lama kita, Chan." Perempuan itu tersenyum hambar.
"Aku masih sering keinget... hal-hal kecil yang dulu biasa kita lakuin, masih suka inget-inget gimana bahagianya kita dulu, yang ternyata... gak bisa aku dapetin di Kak Sho," Bina mendadak menunduk. Jemari tangannya saling bertautan, meremas satu sama lain dengan gelisah hingga buku-buku jarinya memutih.
"Maafin aku, Chan. Aku emang egois banget buat nyelesain hubungan kita dulu padahal kita gak kenapa-kenapa. Aku cuma... aku waktu itu cuma bingung, Chan. Aku bingung kita mau ngapain lagi habis itu, karena hubungan kita rasanya datar banget. Tapi aku baru sadar sekarang, setelah aku sama orang lain..."
Bina menjeda kalimatnya, suaranya bergetar. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Sungchan dengan mata yang mulai digenangi air.
"Rasa datar itu... cuma karena kamu selalu bahagiain aku, Chan. Kamu selalu penuhin semuanya, kamu selalu ada, sampai aku gak tahu rasanya berjuang dan jadi ngerasa semuanya datar-datar aja." Air mata Bina mulai membasahi pipi.
"Aku nyesel, Chan... nyesel ngelepasin kamu gitu aja. Aku.. gak bisa ngelupain kamu."
Kalimat jujur itu seketika memuaskan ego besar Sungchan yang sempat terluka. Dalam hati ia merasa menang atas Sho, ia berhasil membuktikan bahwa eksistensinya tidak tergantikan. Namun, entah mengapa, kemenangan yang selama ini ia bayangkan akan terasa luar biasa itu kini justru terasa hambar saat diraih.
Bina kini memajukan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka di atas sofa. Ia mengulurkan tangan, meraih telapak tangan Sungchan yang bebas lalu menggenggamnya erat, seolah menyalurkan seluruh keputusasaannya.
"Makanya aku kepikiran, Chan…”
Bina menatap lurus ke dalam manik mata Sungchan, mengunci seluruh kesadaran pria itu. "Chan, jujur sama aku. Kamu... sama yang namanya Tony itu... beneran serius? Kamu beneran udah ngelupain aku secepat itu?"
Sungchan bungkam seribu bahasa. Lidahnya mendadak mati rasa, sementara labirin di dalam kepalanya mendadak bising oleh perang batin. Di satu sisi, ia ingin merengkuh harga dirinya dengan mengatakan bahwa dia sangat bahagia bersama Tony. Namun di sisi lain, pertahanan ego Sungchan justru luluh lantak di hadapan sorot mata Bina yang tampak begitu rapuh dan memohon di depannya.
Sungchan tidak kunjung menjawab dan hanya diam mematung dengan tatapan kosong. Keheningan itu diartikan Bina sebagai penolakan.
Dengan gerakan cepat, Bina langsung berdiri dari duduknya sembari menghapus air matanya kasar. "Aku sebenarnya... mau kita balik kayak dulu lagi, Chan. Tapi lihat respon kamu sekarang, kayaknya semuanya udah terlambat. Aku duluan, ya. Makasih, Sungchan."
Saat Bina berbalik dan tumitnya mulai melangkah pergi, dunia di sekitar Sungchan rasanya berputar begitu cepat. Logika pria itu lumpuh total seketika. Di dalam kepalanya yang kalut, bayangan wajah manis Tony yang sedang tersenyum lebar sempat melintas sekilas—mengingatkannya pada sebulan penuh ketulusan tanpa pamrih yang diberikan gadis itu.
Namun, kepuasan ego karena merasa "dimenangkan kembali" oleh masa lalunya langsung menghantam kewarasannya tanpa ampun. 'Kapan lagi gua bisa balikan sama Bina?' Bisikan egois itu menyergapnya, mengalahkan akal sehat.
Sungchan bergerak refleks, digerakkan oleh instingnya yang menolak kekalahan. Jemari panjangnya terjulur cepat, mencengkeram erat pergelangan tangan Bina yang terasa hangat, menahan langkah perempuan itu tepat sebelum menjauh dari sofa.
Sungchan ikut berdiri, menatap Bina lamat-lamat dengan sepasang matanya yang menuntut. Dengan tega mengabaikan seluruh eksistensi Tony yang selama ini merawat lukanya tanpa syarat, Sungchan menyerah kalah pada nafsunya sendiri.
"Jangan pergi, Bina.." ucap Sungchan, suaranya merendah. "Jujur... aku juga masih suka mikirin kamu."
Bina tertegun mendengar pengakuan itu. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung menjatuhkan tubuhnya maju, merengkuh leher Sungchan dan menarik pria jangkung itu ke dalam pelukannya yang teramat erat.
Aroma familiar dari parfum tubuh Bina yang dulu sangat ia hafal langsung merangsek masuk, memenuhi indra penciuman Sungchan.
"Makasih banyak, Sungchan... Makasih banyak udah jujur sama aku…” lirih Bina emosional. Ia semakin mempererat pelukannya, mengelus belakang kepala Sungchan dengan lembut.
“Kita coba lagi ya, Chan.. " bisik Bina tepat di ceruk leher pria itu, mengirimkan embusan napas hangat yang menyapu kulitnya.
Namun, di dalam dekapan erat Bina, Sungchan justru mendadak membeku. Tubuhnya mematung seketika. Kata "kita coba lagi" yang dibisikkan Bina alih-alih memberikan kelegaaan yang ia dambakan, kini justru membuatnya semakin bingung.
Di tengah kehangatan pelukan sang mantan, isi otak Sungchan mendadak berputar dua kali lebih keras. Ada rasa bersalah yang teramat besar, yang datang secara tiba-tiba dan menghantam dadanya dengan telak. Wajah Tony, senyum tulusnya, rona merah di pipinya saat salah tingkah, dan binar matanya yang selalu memandang Sungchan seolah pria itu adalah dunianya, mendadak terbayang begitu jelas dan mengusik nuraninya.
Sungchan baru tersadar, keputusan impulsifnya yang didasari ego besarnya baru saja membawa situasi mereka ke ambang batas yang sangat berbahaya.
