Actions

Work Header

longing before the fall

Summary:

Selama beberapa minggu terakhir, Tony terus meyakinkan dirinya bahwa perubahan sikap Sungchan hanyalah akibat kesibukan yang menumpuk. Maka ketika kesempatan untuk mendampingi si kating itu datang, ia menyambutnya dengan hati yang penuh harapan, berpikir bahwa jarak di antara mereka akhirnya akan perlahan menghilang.

Namun sore itu, Tony baru menyadari bahwa berada di dekat seseorang belum tentu berarti ia masih memiliki tempat di sisinya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Pertemuan di lounge kos hari itu menjadi awal dari sebuah rahasia besar yang dikubur rapat oleh Sungchan. Walaupun dengan ini berarti taruhan sudah dimenangkan oleh Sungchan, baik Eunseok maupun Sohee sama sekali tidak tahu bahwa sahabat mereka telah melangkah terlalu jauh.

Sungchan kembali jatuh pada pesona Bina. Padahal, jika mau jujur pada dirinya sendiri, ia nyaris berhasil membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Tony sepenuhnya. Namun kini, semuanya kembali berantakan. Hampir setiap hari Sungchan dan Bina bertemu secara sembunyi-sembunyi. Pertemuan itu biasanya terjadi di dalam kesunyian kamar kos Sungchan atau di lounge kos Bina yang sepi—taktik aman agar tidak terendus oleh Sho yang posesif.

Di dalam kamar kos mereka hanya duduk berdekatan, mengobrolkan masa lalu atau keluh kesah Bina, sementara kepala perempuan itu bersandar nyaman di bahu lebar Sungchan hingga larut malam sebelum Sungchan mengantarnya pulang. Namun, meskipun Sungchan merasa bahagia karena berhasil memenangkan kembali cinta lamanya, tak dapat Sungchan pungkiri bahwa tiap kali ia menatap bahunya yang baru saja dijadikan sandaran oleh Bina, wajah manis Tony seketika terbayang, menghujam ulu hatinya dengan rasa berdosa.

Situasi semakin rumit karena belakangan ini Sungchan ditarik oleh kesibukan yang luar biasa. Sebagai salah satu atlet andalan di jurusannya, ia harus mempersiapkan diri menghadapi ajang kompetisi olahraga antar-jurusan di fakultasnya. Tidak tanggung-tanggung, Sungchan turun di dua cabang olahraga bola besar sekaligus, futsal dan basket.

Jadwal latihan yang padat itu otomatis memangkas waktu kebersamaannya dengan Tony. Mereka menjadi sangat jarang bertemu. Tony, yang tidak berpikir macam-macam, sama sekali tidak menaruh curiga. Di dalam kepala kecilnya, ia hanya berpikir bahwa Sungchan kelelahan karena harus membagi waktu antara kuliah dan latihan dua cabang olahraga sekaligus. Tony mati-matian menahan egonya, ia tidak mau mengeluh atau merengek minta bertemu hanya karena menurut pada rasa rindunya yang sudah membumbung tinggi.

Hingga pada suatu siang di kantin kampus yang riuh, Tony sedang duduk bersama Woni menyuap makan siangnya. Tiba-tiba, seorang teman sekelasnya—yang notabenenya adalah penanggung jawab olahraga dari himpunan jurusannya—datang menghampiri dengan langkah tergesa-gesa. Raut wajah teman Tony itu tampak sangat kusut dan frustasi.

Tanpa basa-basi, teman kelasnya itu langsung duduk di hadapan Tony dan menangkupkan kedua tangan, memohon dengan sangat.

"Tony, gua mohon banget... lu mau ya gantiin posisi buat jadi manajer futsal jurusan kita? Manajer yang lama mendadak sakit tipes dan ngundurin diri, padahal pertandingan tinggal sebentar lagi. Please, Ton, cuma lu harapan gua…"

Tony seketika tertegun dengan sendok yang masih menggantung di udara. Ia mengerjap-kerjap bingung. "Eh? Tapi... tapi aku gak tahu apa-apa tentang futsal.." Tony refleks menolak secara halus, merasa tidak berkompeten.

Temannya itu menghela napas panjang, hampir menangis saking putus asanya. "Gak perlu paham lapangan, Ton.. Tugas lu cuma nemenin latihan, ngurus berkas pas tanding, sama mastiin kebutuhan anak-anak di pinggir lapangan doang. Ga ‘doang’ sih, tapi please… bantu gua ya?"

Tony baru saja hendak membuka mulut untuk kembali menolak, sampai sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di benaknya.

Futsal? Kak Sungchan kan ikut futsal.

Jantung Tony berdesir pelan. Jika ia menerima tawaran ini, itu artinya ia akan sering berada di lapangan yang sama dengan Sungchan. Ia akhirnya punya alasan yang masuk akal untuk tetap berada di dekat Sungchan. Melihatnya dari jauh pun tidak apa-apa, selama masih bisa menyaksikan pria itu setiap berlatih, rasa rindunya mungkin akan sedikit berkurang.

Sambil meremas ujung kausnya di bawah meja, Tony akhirnya mengulas senyum manis yang tulus, lalu mengangguk pelan.

"Ya udah... kalau emang gaada lagi yang mau, aku mau, deh."

Teman Tony seketika mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih dan menepuk-nepuk bahu Tony dengan penuh rasa syukur, ia langsung bangkit dari kursi kantin. Temannya itu pamit dengan tergesa-gesa untuk segera mengurus kelengkapan berkas pertandingan.

Kepergian temannya meninggalkan Tony yang kini duduk dengan jantung yang berdegup penuh semangat. Rasa gembira langsung menjalar hebat di dadanya, membuat sepasang matanya berbinar terang dengan senyum yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.

"Yah, ini mah elu yang kesenengan, Ton," goda Woni, menyenggol siku Tony pelan sembari menopang dagu, menatap geli ke arah sahabatnya yang mendadak salah tingkah.

"Enggak, kok, Woni... apaan sih..." elak Tony cepat. Pipinya merona merah muda, tangannya sibuk mengaduk es teh manis di depannya demi menutupi rasa gugup.

"Halah, dikira gua gak tahu," cibir Woni sambil terkekeh remeh melihat wajah Tony yang sudah semerah tomat.

Tony tidak membalas lagi. Ia hanya bisa tersenyum-senyum sendiri, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan binar bahagia di matanya. Rasa hangat yang membuncah di dadanya membuat tangan Tony refleks meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kantin.

Dengan jemari yang bergerak cepat dan senyum yang tidak bisa disembunyikan, Tony segera membuka ruang obrolannya dengan Sungchan. Ia mengetikkan pesan dengan penuh binar harapan, mengabarkan berita gembira bahwa ia baru saja bersedia menjadi manajer tim futsal jurusannya. Tony membayangkan bagaimana terkejut dan senangnya Sungchan saat tahu mereka akan sering bertemu di lapangan nanti.

Namun, realitas di seberang sana berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

Di dalam kamar kos Sungchan, Sungchan sedang duduk termenung di tepi ranjang. Ponsel di genggamannya bergetar, menampilkan sebaris pesan antusias dari Tony yang mengambang di layar kunci. Sungchan hanya menatap layar yang menyala remang itu tanpa bergeming, tidak ada niat sedikitpun untuk menggeser tombol unlock. Dadanya mendadak merasa sesak karena perasaan bersalah.

Keadaan Sungchan yang mendadak mematung itu tentu saja terlihat oleh Bina. "Kenapa, Chan? Ada masalah?" Sungchan segera mematikan ponselnya, dan menaruhnya kasar di atas nakas.

"Gak ada apa-apa kok, aman aja. Tadi sampai mana cerita kamu?"

Sungchan kembali menatap wajah Bina yang sedang antusias menceritakan tentang hari-harinya, walau sesekali Sungchan melirik ponselnya yang terdiam diatas nakas dengan perasaan bersalah.

Hari yang dinantikan Tony pun tiba. Sore itu, dengan langkah ringan dan jantung yang berdegup riang, Tony berjalan menuju gedung olahraga kampus. Ia mengenakan kaus santai yang tampak agak kebesaran di tubuhnya, lengkap dengan papan jalan bergandengan pulpen serta dua botol besar air mineral di dalam dekapannya.

Begitu melangkah masuk, aroma karet lapangan dan bising suara sepatu yang berdecit menyambut indra pendengarannya. Di tengah lapangan, beberapa anak tim futsal jurusannya sudah mulai melakukan pemanasan. Sepasang mata bulat Tony dengan cepat mengedar, mencari satu figur jangkung yang menjadi alasan utamanya berada di sini.

Ketemu. Sungchan sedang berdiri di tengah lapangan, sedang menggiring bola dengan kaus latihan yang basah oleh keringat. Di dekatnya, ada Eunseok yang sedang melakukan pemanasan dan Sohee yang sibuk menali sepatu di pinggir lapangan.

Tony mengulas senyum lebar yang sangat manis. Setelah sekian lama jarang berinteraksi, melihat sosok itu dari dekat membuat rasa rindunya membubung tinggi. Dengan langkah cepat, Tony berjalan ke arah bangku cadangan di pinggir lapangan, meletakkan barang-barangnya, lalu melambaikan tangannya berniat memberi kejutan.

"Kak Sungchan!" panggil Tony setengah berseru, matanya berbinar terang.

Sungchan menghentikan kakinya di atas bola. Ia menoleh ke pinggir lapangan. Namun, begitu melihat Tony berdiri di sana dengan senyum lebar, tidak ada binar terkejut atau binar senang di wajah Sungchan. Tatapan mata lelaki itu justru langsung meredup, berubah menjadi dingin, datar, dan penuh dengan kesan terganggu.

Sungchan tidak berjalan mendekat. Ia hanya memberikan anggukan singkat yang terkesan hambar, lalu langsung berbalik memunggungi Tony untuk melanjutkan latihannya.

Sikap dingin yang mendadak itu seketika melunturkan senyum di bibir Tony. Tangan Tony yang menggantung di udara perlahan turun, meremas ujung papan jalannya dengan bingung. Kak Sungchan kenapa? Apa dia kecapekan?

Peristiwa itu tidak luput dari radar Eunseok dan Sohee.

Eunseok yang sedang memutar bahunya seketika terhenti. Matanya beralih cepat dari Tony yang kebingungan ke punggung tegap Sungchan yang menjauh. Rahang Eunseok mengeras. Sebagai sahabat yang tahu bagaimana kacaunya isi kepala Sungchan beberapa waktu lalu, Eunseok langsung menaruh curiga.

Sementara itu, Sohee yang baru selesai mengikat sepatunya langsung mendongak. Ia menatap Tony iba, lalu menoleh ke arah Sungchan dengan tatapan tidak habis pikir. Sohee menyenggol lengan Eunseok pelan, berbisik dengan nada tertahan, "Bang, dia kenapa lagi dah? Kemarin-kemarin kayaknya masih aman aja,”

Eunseok menggeleng pelan, matanya masih menyipit tajam menatap punggung Sungchan. "Au dah. Tapi feeling gua gak enak, Hee. Ini anak pasti ada apa-apa."

Di tengah lapangan, isi kepala Sungchan sebenarnya sedang berputar hebat, namun bukan lagi oleh rasa bersalah seperti hari-hari lalu. Selama dua minggu terakhir, Sungchan tersiksa setengah mati membagi hati. Dia stres menyembunyikan hubungannya dengan Bina, dia pening memikirkan ketulusan Tony, dan dia lelah harus terus-menerus merasa menjadi orang jahat setiap kali melihat pesan manis dari anak itu.

Namun, tepat detik ini, saat melihat Tony menyusulnya ke area latihannya, mental Sungchan justru mencapai titik jenuh. Rasa bersalah yang berlarut-larut itu mendadak bermutasi menjadi rasa defensif yang beracun. Egonya memberontak. Ia muak ditekan oleh rasa berdosa yang ia ciptakan sendiri.

Ah, tai, umpat Sungchan dalam hati sembari menendang bola ke arah gawang dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang menggema di langit-langit gedung.

Peduli setanlah, anjing. Gua capek ngerasa bersalah terus. Lagian dari awal gua deketin dia cuma buat mainan. Dia juga yang gampang banget percaya. Orang gua maunya sama Bina, gua sayangnya sama Bina, bodo amat.

Begitu pemikiran brengsek itu memenangi logikanya, seluruh rasa kasihan Sungchan pada Tony menguap tak bersisa, digantikan oleh sikap apatis yang mutlak. Sungchan memutuskan untuk mati rasa.

Sepanjang dua jam latihan berlangsung, Sungchan benar-benar memperlakukan Tony layaknya orang asing. Saat jeda minum, Tony mencoba mengumpulkan keberaniannya. Tony berjalan mendekat dengan langkah ragu sambil menyodorkan botol air mineral yang sudah ia buka tutupnya.

"Kak Sungchan, minum dulu—"

Sungchan sengaja memiringkan bahunya, melewati Tony begitu saja seolah-olah anak itu hanyalah tiang pembatas lapangan. Pria jangkung itu malah berjalan lurus ke arah pojok lapangan, meraih botol minum besar yang tergeletak di lantai, meneguknya kasar hingga membasahi dagu dan jersinya. Setelah itu, ia langsung melenggang pergi bergabung dengan gerombolan anak-anak lain tanpa memandang Tony sedikit pun.

Sohee yang melihat kejadian itu dari dekat langsung menghentikan kegiatannya meneguk air. Ia menurunkan botol minumnya lambat-lambat, menatap punggung Sungchan dengan dahi berkerut dalam.

"Bang, lu liat sendiri, kan?" bisik Sohee lirih, matanya melirik Tony yang masih berdiri mematung sebelum kembali menatap Sungchan di seberang sana. "Itu orang kenapa sih? Aneh banget, masa kalo capek doang sampai segitunya."

Sohee sempat bergerak hendak berjalan menghampiri Sungchan untuk sekadar menepuk bahunya dan bertanya, namun Eunseok dengan cepat menahan lengan Sohee, menggelengkan kepala memberi isyarat agar menahan diri.

"Gak usah di sini, Hee. Nanti aja, gak enak dilihat yang lain," ujar Eunseok dengan nada suara yang rendah.

Meskipun suaranya terdengar tenang demi menjaga situasi tim, sepasang mata Eunseok terus mengunci punggung Sungchan dengan kilat kecurigaan yang mendalam. Instingnya mencium ada sesuatu yang tidak beres, ada rahasia yang sedang disembunyikan oleh sahabatnya itu.

Tony menunduk pelan, memasang kembali tutup botol yang tadi sudah ia buka. Tangannya gemetar pelan hingga beberapa tetes air tumpah membasahi jemarinya. Ia buru-buru mengusapnya ke celana, lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri, seolah sedang meyakinkan bahwa Sungchan memang hanya terlalu lelah hari ini.

Ditambah lagi, Tony bisa merasakan tatapan penuh tanda tanya dan rasa kasihan dari Eunseok dan Sohee yang tertuju padanya. Rasa malu, bingung, dan sakit hati bercampur menjadi satu. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang, mengaburkan pandangannya. Tony buru-buru menundukkan wajahnya. Ia takut kalau Sungchan melihatnya menangis, pria itu akan merasa terganggu lagi.

Maka untuk pertama kalinya sejak mengenal Sungchan, Tony memilih mundur beberapa langkah. Berdiri sejauh mungkin dari pria yang selama ini selalu ingin ia dekati.

Mungkin Kak Sungchan lagi capek, batinnya lirih, berusaha mati-matian menenangkan hati yang mulai dipenuhi prasangka. Latihannya juga padet banget, pasti kepalanya lagi banyak pikiran. Nanti kalau semuanya udah selesai... mungkin Kak Sungchan bakal balik kaya biasa lagi…

Tony menggenggam botol air mineral itu sedikit lebih erat sebelum akhirnya membalikkan badan dan kembali ke bangku cadangan. Senyum kecil kembali ia paksakan terukir di wajahnya, meski kini terasa jauh lebih rapuh daripada sebelumnya. Dari tempatnya duduk, sepasang mata bulat itu tetap mengikuti setiap pergerakan Sungchan di tengah lapangan. Bukan karena berharap dipanggil, apalagi dihampiri. Tony hanya ingin memastikan kalau pria itu baik-baik saja. Itu saja sudah cukup.

Sisa satu jam latihan futsal sore itu terasa berjalan begitu lambat dan menyiksa. Tony tetap bertahan di bangku cadangan, menyelesaikan tugas mencatat skor latihan dengan jemari yang bergetar. Ia tidak berani lagi mendongak terlalu sering. Setiap kali peluit ditiup, Tony hanya menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri demi menahan air mata yang masih mendesak ingin keluar.

Begitu latihan resmi dibubarkan, Tony tidak sudi menunggu lebih lama lagi. Dengan dada yang sesak bergemuruh, anak itu buru-buru mengemasi papan jalan dan botol minumnya ke dalam tas. Ia melangkah setengah berlari meninggalkan lapangan indoor, berniat keluar gedung olahraga secepat mungkin untuk mencari angin segar.

Namun, begitu tiba di area parkiran luar yang mulai temaram, pertahanan Tony akhirnya runtuh. Langkahnya memelan, lalu terhenti di pinggiran jalan. Di sanalah, air matanya luruh begitu saja menyapu pipinya. Di kepalanya, hanya ada satu pertanyaan yang berputar tanpa jawaban, Kak Sungchan, aku salah apa?

Sementara itu, di dalam ruang ganti, suasana di antara anak-anak tim futsal terasa jauh lebih kasual. Setelah selesai berganti pakaian, beberapa anak mulai berkemas sembari merundingkan agenda wajib setelah latihan.

"Eh, geser ke warkop biasa yuk? Laper banget gua," ajak salah satu anak tim sembari menyampirkan tasnya.

"Gas lah, Gua juga belum makan dari siang," sahut yang lain setuju.

Sohee yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Sungchan yang sedang memakai jaketnya di sudut ruangan. "Bang, lu ikut, kan?"

Sungchan sempat terdiam sedetik, menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Iya, gua ikut."

Mereka akhirnya bergerak bersama menuju warkop yang terletak tidak jauh dari gerbang kampus. Begitu sampai, aroma mi instan dan kopi langsung menyambut mereka. Anak-anak tim langsung mengambil posisi di meja panjang bagian luar, memesan makanan dengan riuh.

Namun, ketegangan yang tertunda di lapangan tadi sore kembali merayap naik saat Sungchan, Eunseok, dan Sohee duduk agak memisah di ujung meja panjang warkop.

Eunseok sejak tadi tidak melepaskan pandangannya dari Sungchan. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok, bersedekap sembari menatap sahabatnya itu dengan tatapan mengintimidasi yang sangat tajam.

"Gua kagak bakal banyak cacicu ya, Chan," Eunseok membuka suara dengan nada rendah, sengaja agar suaranya tidak terdengar oleh anak-anak tim yang lain. "Maksud kelakuan lu tadi ke Tony di lapangan apa?"

Sungchan meneguk es teh manis yang baru saja diantarkan, gerakannya tampak santai seolah tidak terjadi apa-apa. "Nggak ada maksud apa-apa. Gua lagi capek aja."

"Capek?" Sohee menyambar, nadanya terdengar tidak habis pikir walau ia berusaha menahan volumenya. "Bang, lu gak liat muka Tony tadi? Dia kayak orang mau nangis, anjing. Lu kalau emang udah bosen sama Tony, ya omongin baik-baik. Gak usah lu anggep dia kayak sampah lewat depan muka lu."

Sungchan mendengus pelan, seulas senyum tipis yang tampak dipaksakan lolos dari bibirnya. Ia menatap kedua sahabatnya dengan sepasang mata kelam yang defensif. "Ya orang gua mau sama dia cuma karena taruhan itu doang, kan? Gua ngerasa ini udah agak kelewatan. Gua cuma mau pelan-pelan narik diri biar dia juga paham."

Eunseok menyipitkan matanya, rahangnya mengetat. Sebagai orang yang sangat mengenal Sungchan, ia tahu betul kapan temannya ini sedang berbicara jujur dan kapan dia sedang membangun dinding kebohongan. Gelagat Sungchan malam ini terlalu defensif, terlalu dingin, dan terkesan sengaja mengalihkan sesuatu.

"Cuma karena ngerasa kelewatan, atau karena ada hal lain?" Eunseok menembak langsung, nadanya terdengar sangat menyelidik. "Dua minggu ini lu sering langsung ngilang abis kelas. Gua juga jarang liat lu bareng Tony lagi. Lu lagi nyembunyiin sesuatu dari kita? Apa lu mau lepasin Tony gitu aja?"

"Gua gak bakal ngelepasin Tony," potong Sungchan cepat, kali ini dengan nada suara yang lebih tegas dan dingin.

Jawaban itu membuat Eunseok dan Sohee refleks saling berpandangan dengan dahi berkerut.

"Kalau lu gak mau lepasin dia, kenapa lu siksa dia pake kelakuan lu yang kayak tai tadi, Bang? Kasihan anak orang," tuntut Sohee bingung.

Sungchan mengalihkan pandangannya ke arah jalanan malam di luar warkop. Di dalam kepalanya yang rumit, ketamakan Sungchan sedang merajalela. Dia sama sekali tidak punya niat untuk menyudahi hubungannya dengan Tony. Setelah sebulan ini dihujani ketulusan tanpa pamrih oleh anak itu, Sungchan sadar dia sudah ketergantungan. Dia menyukai bagaimana Tony selalu memujanya, dia butuh kehangatan Tony untuk hatinya. Tony adalah zona nyaman yang tidak ingin ia lepas.

Namun, di saat yang sama, Sungchan juga tidak akan pernah sudi membuang kesempatan emas untuk kembali memiliki Bina. Egonya terlalu besar untuk menolak takdir bahwa dialah yang akhirnya dimenangkan kembali oleh sang mantan di atas sofa lounge kosan dua minggu lalu. Sungchan ingin merengkuh Bina sebagai validasi harga dirinya, namun ia juga egois ingin tetap menggenggam ketulusan Tony di saku belakangnya.

Dia ingin keduanya. Dia ingin bermain aman di dalam ruang rahasia yang ia ciptakan sendiri.

"Gua cuma lagi ngerasa hubungan gua sama Tony perlu dikontrol aja biar gak terlalu cepet," alibi Sungchan datar, menentang kembali tatapan tajam Eunseok tanpa berkedip. "Lu berdua jangan too much, ah. Lagian dari awal emang Tony cuma mainan kita-kita, kan?"

Sohee langsung memalingkan wajahnya, mendengus frustrasi mendengarkan jawaban dingin Sungchan yang terasa sangat menutup diri dan angkuh.

Sementara Eunseok, ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari manik mata Sungchan. Rasa kecurigaan di mata Eunseok justru semakin menebal dan menajam. Sungchan boleh saja menggunakan alasan 'taruhan' untuk menutupi boroknya, tapi Eunseok tahu pasti ada rahasia yang jauh lebih besar yang sedang disembunyikan rapat-rapat oleh sahabatnya itu. Dan Eunseok bersumpah, cepat atau lambat, dia akan membongkar permainan seperti apa yang sebenarnya sedang dimainkan oleh Sungchan di belakang mereka semua.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi neraka kecil bagi Sungchan. Sandiwara yang ia mainkan terasa semakin berat dan melelahkan. Fisiknya terkuras habis karena harus membagi waktu antara kuliah, latihan keras dua cabang olahraga, menyembunyikan hubungannya dengan Bina, dan sesekali menjaga formalitas hubungan dengan Tony demi taruhan, lebih tepatnya agar Eunseok dan Sohee tidak semakin menaruh curiga padanya.

Di tengah kondisi Sungchan yang selalu tampak kelelahan dan menjaga jarak, celah itu dimanfaatkan oleh Taesan, salah satu anak tim futsal jurusannya yang diam-diam menaruh hati pada Tony semenjak gadis itu menjabat sebagai manajer timnya. Taesan mulai sering mencari perhatian Tony. Di pinggir lapangan, Taesan sengaja hanya mau meminta air minum atau handuk dari tangan Tony. Di luar jam latihan, Taesan bahkan mulai berani mengirim pesan singkat, menanyakan apakah Tony sudah makan atau menawarkan diri untuk menjemputnya kuliah. Tony yang dasarnya ramah dan menganggap semua orang berniat baik, selalu merespons Taesan dengan kesopanan yang polos.

Hingga suatu sore ketika langit kampus mendadak gelap gulita, menumpahkan hujan deras disertai angin kencang tepat di hari latihan krusial menjelang babak semifinal futsal. Di kamar kosnya, Tony tampak panik. Ia sudah terlambat, namun hujan di luar terlalu sarat risiko jika ia nekat menerobos menggunakan ojek online. Di saat ia sedang kebingungan menatap layar ponsel, sebuah pesan dari Taesan masuk.

“kamu udah di lapangan?”

“hujannya deres banget”

Tony membalas dengan cepat,

“belum sih”

“masih kejebak di kosan”

“deres banget hujannya”

Hanya butuh waktu satu menit bagi Taesan untuk membalas,

“pas banget aku lagi di jalan dekat kosan kamu”

“aku bawa mobil”

“aku jemput sekarang ya”

“daripada kamu telat dan keujanan”

Tony menimbang-nimbang sejenak. Mengingat tanggung jawabnya sebagai manajer yang harus menyiapkan logistik tim sebelum latihan dimulai, Tony akhirnya mengiyakan tawaran itu dengan perasaan lega tanpa curiga sedikit pun.

Hanya butuh beberapa menit sampai mobil SUV hitam milik Taesan berhenti tepat di depan gerbang kos Tony. Begitu melihat lampu hazard mobil tersebut berkedip membelah derasnya hujan, Tony buru-buru mendekap tas logistiknya erat-erat dan berlari kecil menerobos curahan air untuk masuk ke dalam mobil.

Tony segera menutup pintu mobil dengan napas sedikit terengah. Seketika, suara bising badai di luar terisolasi, digantikan oleh suara musik yang terputar dari speaker mobil dan aroma parfum maskulin yang segar khas kabin mobil Taesan.

"Duh, basah banget ya? Sorry ya, San, jadi ngotorin mobil kamu," ucap Tony canggung sambil berusaha mengibaskan sisa tampias air hujan di lengan kausnya.

Taesan terkekeh pelan. Bukannya merasa keberatan, lelaki itu justru langsung meraih sekotak tisu dari dasbor dan menyerahkannya pada Tony. "Santai aja, Tony. Cuma air ini, lap dulu kacamata kamu tuh, berembun banget."

"Ah, iya. Makasih ya, San," cicit Tony, menerima tisu itu lalu menyeka kacamatanya yang berembun.

Taesan memutar setir, membawa mobilnya menuju jalanan kampus yang mulai tergenang. Tangannya yang bebas bergerak mengecilkan volume semburan AC di sisi Tony. "Untung aku chat kamu tadi. Kalau kamu nekat naik ojol pas badai gini, yang ada pas semifinal kamu malah sakit."

Tony tersenyum tipis, merasa sangat terbantu dengan kepekaan Taesan. "Iya, aku sebenernya panik tadi. Mana udah pada spam di grup nanyain bola sama rompi."

"Makanya, lain kali kalau ada apa-apa langsung kabarin aku aja, Tony." sahut Taesan santai namun terdengar begitu tulus. Sepanjang perjalanan, Taesan sengaja menyetel musik dengan volume rendah agar atmosfer di dalam mobil tidak canggung. Ia juga beberapa kali melontarkan candaan ringan yang sukses membuat Tony melupakan rasa paniknya dan mulai tertawa lepas. Perhatian-perhatian kecil dari Taesan terasa begitu mengalir alami, membuat Tony merasa sangat dihargai sebagai seorang teman dan manajer tim.

Perjalanan yang semula terasa menegangkan karena badai, mendadak terasa begitu cepat berlalu. Mobil SUV hitam Taesan akhirnya membelah genangan air terakhir dan memasuki area parkir gedung olahraga.

Tepat pada detik yang sama ketika ban mobil Taesan berhenti berputar di salah satu slot parkir kosong, mesin motor hitam besar milik Sungchan juga baru saja menderu mati tepat di area parkiran yang tak jauh dari sana. Sungchan turun dari motornya dengan kondisi yang basah kuyup terkena tampias hujan, wajahnya ditekuk masam karena mood-nya sedang buruk akibat kelelahan.

Tepat pada detik yang sama ketika ban mobil Taesan berhenti berputar di salah satu slot parkir kosong, mesin motor hitam besar milik Sungchan juga baru saja menderu mati tepat di area parkiran yang tak jauh dari sana. Sungchan turun dari motornya dengan kondisi yang basah kuyup terkena tampias hujan, wajahnya ditekuk masam karena mood-nya sedang buruk akibat kelelahan.

Namun, penglihatan Sungchan mendadak memanas ketika netranya menangkap pintu penumpang mobil Taesan terbuka. Dari sana, muncul figur Tony yang turun dengan kondisi kering dan rapi, disusul oleh Taesan yang tersenyum ramah di sebelahnya.

Entah dari mana datangnya, sebentuk rasa kesal yang membakar langsung menyergap dada Sungchan. Kepalanya mendadak mendidih. Tanpa memedulikan badannya yang dingin karena air hujan, Sungchan melangkah lebar dengan aura mengintimidasi, memotong jalan kedua orang itu, lalu langsung menyambar pergelangan tangan Tony dengan cengkeraman ketat.

Tony tersentak, langkahnya terhenti. Ia mendongak bingung menatap wajah Sungchan yang sudah menggelap dipenuhi emosi. "Eh... Kak Sungchan? Kenapa, Kak? Sakit..." cicit Tony pelan, mencoba melonggarkan cengkraman di tangannya.

"Kamu ngapain berangkat bareng dia?" tanya Sungchan, suaranya renda dan dingin.

Sebelum Tony sempat menjawab, Taesan melangkah maju, dengan berani meletakkan tangannya di atas pundak Tony seolah ingin melindungi. "Gua yang jemput dia, Bang. Soalnya kalau Tony nekat naik ojol pas hujan badai kayak gini, kasihan bisa sakit. Lagian gua gak tega."

Mata Sungchan seketika melirik tajam ke arah jemari Taesan yang bertengger lancang di bahu Tony. Nyala amarah di dadanya berkali-kali lipat semakin membakar egonya. Dengan sentakan kasar, Sungchan menarik lengan Tony hingga tubuh itu terhuyung menjauh dari jangkauan Taesan. Ia langsung memposisikan tubuh bongsornya yang basah tepat di depan Taesan—menghadang pandangan Taesan dari adik tingkatnya.

"Gak usah repot-repot sok pahlawan lu. Urusan Tony biar jadi urusan gua, dia bareng gua juga bisa," desis Sungchan dengan rahang mengeras, menatap Taesan dengan sorot mata yang menusuk.

Taesan yang melihat respons itu hanya mengangkat kedua tangannya santai sambil tersenyum tipis, memprovokasi tanpa berniat memperpanjang adu mulut. Tanpa membuang kata lagi, Sungchan langsung menarik paksa Tony untuk jalan mendahului masuk ke dalam gedung olahraga.

Sepanjang sesi latihan berlangsung, atmosfer di dalam lapangan berubah menjadi semakin mencekik. Entah mengapa, tiap kali Sungchan melihat wajah santai Taesan, rasa kesal di dadanya justru semakin bertumpuk hingga membuatnya frustasi. Sungchan mendadak bermain dengan sangat agresif. Ia berulang kali menggiring bola dengan kasar dan menendangnya ke arah gawang dengan tenaga penuh, seolah sedang meluapkan emosi tidak logis yang sedari tadi mengacaukan isi kepalanya.

Puncaknya terjadi di pertengahan game internal. Taesan saat itu sedang menguasai bola dan menggiringnya di area pertahanan. Dari arah samping, Sungchan datang memburu dengan kecepatan tinggi tanpa berniat mengerem langkahnya sama sekali.

BRAK!

Sungchan melakukan sliding tackle yang terlampau keras, menyengkat kaki Taesan hingga terjatuh menghantam lantai lapangan dengan bunyi benturan yang cukup nyaring. Peluit ditiup berkali-kali, dan latihan seketika dihentikan. Taesan mengerang kesakitan sembari memegangi pergelangan kakinya, membuat beberapa anak tim langsung datang memapahnya menuju bangku cadangan.

Sebagai manajer, Tony tentu saja langsung panik setengah mati. Ia berlari cepat menyergap kotak P3K dan sebungkus kompresan es batu, lalu langsung berlutut di depan Taesan untuk memeriksa kondisinya.

Taesan yang menangkap kekhawatiran besar di mata Tony, diam-diam melihat ini sebagai kesempatan emas. Ia mulai melancarkan aksi aktingnya meringis dengan kerutan wajah berlebihan seolah cedera itu sangat fatal, sengaja menunjukkan raut menderita agar perhatian Tony tetap terkunci penuh pada dirinya.

"Masih sakit banget ya, San? Duh, gimana ya..." tanya Tony dengan suara bergetar dan raut wajah yang hampir menangis karena merasa bersalah atas kondisi anggota timnya. "Nanti beres latihan, aku lanjut obatin lagi ya pas pulang."

Taesan mengulas senyum lemah yang dibuat-buat, lalu mengangguk pelan. "Di kosan aku aja boleh, Ton? Kayaknya kalau di kampus agak ribet, di kosan aku ada obat semprot yang bagus buat ginian."

Tony yang murni merasa bertanggung jawab, tanpa memikirkan implikasi lain, langsung mengangguk patuh tanpa ragu. "Boleh, San. Gak apa-apa, nanti aku temenin ke kosan kamu buat bantu ngobatin."

Di ujung lapangan, Sungchan yang sedang meneguk air mineral langsung meremas botol plastiknya, menatap nanar ke arah mereka berdua yang entah mengapa benar-benar membuatnya kesal.

Sesi latihan sore itu akhirnya berakhir. Anak-anak tim mulai berbenah untuk pulang. Tony merapikan tasnya dengan tangan sedikit gemetar, lalu berjalan menghampiri Sungchan yang sedang berdiri sendirian di dekat pintu keluar parkiran, bersiap untuk pamit.

"Kak Sungchan, aku gak pulang sama kakak dulu ya... Aku mau ke kosan Taesan, soalnya mau bantuin ngobatin kakinya yang keselengkat tadi," ucap Tony pelan, menatap Sungchan.

Detik itu juga, sisa-sisa kesabaran Sungchan habis tak berbekas. Rasa kesal yang sedari tadi membakar dadanya langsung meledak seketika. Sungchan menyambar lengan Tony, menarik anak itu dengan cengkraman kuat yang menuntut ke sudut parkiran yang sepi di balik pilar besar, benar-benar menjauh dari pandangan anak-anak lain.

"Kak, lepas—"

"Kamu tuh sadar gak sih sama apa yang baru aja kamu omongin?!" bentak Sungchan. Suaranya meninggi, memotong kalimat Tony dengan cepat hingga gema suaranya terdengar kentara di area parkir yang sepi itu. Sepasang matanya menatap Tony dengan kilat amarah yang menakutkan.

Tony tersentak, tubuhnya gemetar karena terkejut mendapati bentakan pertama dari Sungchan setelah mereka dekat selama ini. Pelupuk matanya memanas dan memerah, namun ia buru-buru menggigit bibir dalamnya kuat-kuat, mati-matian menahan agar air matanya tidak jatuh di depan Sungchan. "A-aku cuma mau bantu obatin kaki Taesan, Kak... Kan Kak Sungchan yang tadi nyelengkat dia..."

"Gak usah nyari alasan!" potong Sungchan keras, wajahnya memaju, mengurung ruang gerak Tony hingga punggung anak itu membentur pilar di belakangnya. "Aku tahu kamu polos, Tony. Tapi aku tau kamu ga bodoh! Nasihatin orang, sok mau jadi pahlawan, sekarang mau-mauan juga diajak ke kosan cowok?! Gak usah aneh-aneh kamu!"

Napas Sungchan memburu kasar tepat di depan wajah Tony. Sungchan benar-benar dikuasai rasa tidak suka yang luar biasa membayangkan Tony berduaan di kamar kos cowok lain. "Kamu pikir semua orang di dunia ini punya niat baik sama kamu, hah?! Kamu pikir dia beneran cuma mau diobatin? Dia itu mau manfaatin kamu yang gampang dibego-begoin, Tony! Sadar, dong!"

Dada Tony rasanya sesak luar biasa, seperti dihantam batu besar. Kata "bodoh", "dibego-begoin", dan bentakan yang keluar dari mulut pria yang sangat ia sukai itu menancap telak di hatinya. Tony menunduk dalam-dalam, meremas ujung kausnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Bahunya bergetar kaku, seluruh energinya habis dikerahkan hanya untuk menahan isakan agar tidak lolos dari tenggorokannya. Ia menolak menangis di depan Sungchan setelah direndahkan seperti itu.

Sungchan yang melihat Tony hanya diam menunduk mengira anak itu hanya sedang membangkang. Rasa kesal yang tak dipahami, dan egonya yang telanjur mendominasi membuat Sungchan enggan untuk melunak. Ia melepaskan cengkeramannya dari lengan Tony dengan sentakan kasar.

"Pulang bareng aku. Gak ada ke kosan siapa-siapa," ucap Sungchan final dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan, berbalik kasar untuk mengambil motornya.

Begitu Sungchan memunggunginya, pertahanan Tony mulai goyah. Dengan langkah kaku, kepala menunduk, dan dada yang luar biasa nyeri, ia mengikuti Sungchan dari belakang, lalu naik ke atas jok motor besar itu tanpa sepatah kata pun.

Di sepanjang perjalanan pulang, atmosfer di atas motor hitam besar itu terasa begitu mencekik. Jalanan raya yang padat sore itu seolah menjadi latar belakang bisu dari kehancuran hati Tony. Begitu angin jalanan menerpa wajahnya, pertahanan yang ia bangun mati-matian di parkiran tadi runtuh sepenuhnya.

Air mata Tony akhirnya pecah, mengalir deras membasahi pipinya tanpa bisa dibendung lagi.

Tony duduk di ujung paling belakang jok, sengaja memberi jarak sejauh mungkin dengan punggung lebar Sungchan. Ia mencengkeram erat besi motor di belakangnya, sama sekali menolak untuk menyentuh atau bersandar pada pria di depannya. Tony menutup mulutnya rapat-rapat, meredam suara isakannya di balik deru angin dan bisingnya knalpot jalanan. Ia menangis dalam diam, membiarkan air matanya terus bercucuran sepanjang jalan akibat rasa sakit hatinya.

Namun, Sungchan tidak bodoh. Melalui kaca spion, ia bisa melihat pantulan bahu Tony yang sesekali bergetar di belakang sana. Setiap kali motor melewati polisi tidur atau lubang jalan, Tony akan bergerak kaku demi menjaga jarak agar tubuh mereka tidak bergesekan.

Mengetahui hal itu, rasa bersalah yang sempat menguap akibat ego dan amarahnya tadi, mendadak merayap kembali, memenuhi dada Sungchan hingga terasa nyeri. Anjing, gua sekasar itu kah tadi? umpat Sungchan pada dirinya sendiri, merutuki emosinya yang kelewat batas akibat rasa kesal berlebih yang belum ia sadari artinya.

Begitu motor berhenti di depan pagar kosan Tony yang sepi, Tony langsung turun dengan gerakan cepat. Tanpa mengucapkan terima kasih, tanpa menatap, bahkan tanpa berniat mengembalikan helm hitam di kepalanya, Tony berbalik dan melangkah tergesa-gesa hendak masuk ke dalam pagar. Ia hanya ingin bersembunyi di kamarnya dan menangis sepuasnya.

Namun, gerakan refleks Sungchan jauh lebih cepat. Pria jangkung itu langsung mematikan mesin motornya, turun memburu langkah Tony. Jemari panjangnya menahan pergelangan tangan Tony dengan erat namun tidak sekasar di parkiran tadi.

"Tony, aku minta maaf," ucap Sungchan. Suaranya merendah, terdengar begitu dalam dan sarat akan penyesalan yang mendadak menyerangnya.

Tony terpaksa membalikkan badan karena tarikan halus itu. Namun, sepasang matanya yang sudah memerah dan basah oleh air mata menolak untuk menatap wajah Sungchan sama sekali. Ia memilih menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatu mereka.

Melihat Tony yang menolak menatapnya, Sungchan menghela napas berat. Ia melangkah maju satu langkah, mengikis ruang di antara mereka. Kedua tangan Sungchan perlahan bergerak naik, melepas pengait helm di kepala Tony dengan sangat telaten—gestur manis yang selalu berhasil meluluhkan hati Tony selama ini. Setelah helm itu terlepas dan ditaruh di atas jok motor, lalu menangkup lembut kedua sisi rahang Tony, memaksa wajah manis yang sembab itu untuk mendongak menatapnya.

"Hei.." bisik Sungchan lembut, ibu jarinya bergerak perlahan menghapus lelehan air mata di pipi Tony.

Sepasang manik mata bulat Tony yang penuh luka akhirnya bertemu dengan tatapan Sungchan, "Maaf, Tony.. aku minta maaf buat yang di parkiran tadi. Aku beneran gak bermaksud sekasar itu," lirih Sungchan jujur, netranya menatap dalam ke mata Tony, "Aku cuma... aku langsung gak bisa mikir bener pas kamu bilang mau ke kosan cowok. Aku gak suka liat kamu gampang banget diajak ke sana. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, Tony."

Mendengar kalimat pelindung yang posesif namun terdengar begitu tulus dari bibir Sungchan, dada Tony rasanya seperti diremas. Rasa sakit hati akibat bentakan keras tadi mendadak mencair, digantikan oleh rasa hangat yang membingungkan sekaligus membubung tinggi. Tony menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menahan isakan baru yang hampir pecah lagi karena perubahan sikap Sungchan yang mendadak semanis ini.

"Aku tahu aku egois, aku tahu aku emosian," lanjut Sungchan lagi, menurunkan sedikit wajahnya agar sejajar dengan Tony, memastikan anak itu mendengarkan setiap kalimatnya. "Tapi tolong, jangan ngejauh dari aku. Tetep stay di sini, sama aku. Ya?"

Permintaan maaf dan tatapan intens dari Sungchan itu akhirnya berhasil meruntuhkan seluruh benteng pertahanan Tony. Hanya dengan sentuhan lembut dan beberapa kata penyesalan, Tony kembali menyerahkan seluruh hatinya yang rapuh ke tangan Sungchan.

Tony mengangguk pelan sekali, membuat tangan Sungchan yang masih menangkup pipinya ikut bergerak. "I-iya, Kak... Tony gak ke mana-mana," cicit Tony dengan suara serak sisa menangis.

Mendengar jawaban itu, seulas senyum lega yang tipis akhirnya terbit di wajah tampan Sungchan. Ketegangan di antara mereka menguap sepenuhnya, digantikan oleh suasana yang hangat di depan pagar kosan yang temaram.

Sungchan tidak langsung melepaskan tangannya. Ia justru membawa jemarinya untuk merapikan beberapa anak rambut Tony yang berantakan akibat helm tadi, menyelipkannya ke belakang telinga Tony dengan gerakan yang lembut.

"Yaudah, jangan nangis lagi. Jelek kalau matanya bengkak begini," goda Sungchan rendah, kekehan kecil lolos dari bibirnya yang membuat wajah Tony seketika merona merah karena malu.

"Kan Kak Sungchan yang bikin nangis..." protes Tony pelan, memukul pelan dada bidang Sungchan dengan tangannya.

Sungchan menerima pukulan main-main itu tanpa menghindar, lalu tertawa kecil. "Iya, iya, ini salah Kakak. Sebagai gantinya, nanti pas semifinal aku jemput ya? Mau?"

Tony mendongak, matanya yang masih sedikit basah berkedip polos sebelum akhirnya sebuah senyuman manis dan tulus terbit sempurna di belahan bibirnya. "Mau, Kak."

"Pinter. Sekarang masuk, mandi pake air anget terus langsung istirahat. Jangan begadang," titah Sungchan lembut, mengusap puncak kepala Tony sebelum melepaskannya—memberikan perhatian penuh yang benar-benar mengunci seluruh hati Tony malam itu.

Notes:

makasih sudah membaca, id warmly welocome u on X @greigejet