Actions

Work Header

foul play

Summary:

Mencintai Sungchan berarti harus siap menghadapi suasana hatinya yang tidak pernah tertebak; terkadang begitu manis hingga membuat hati Tony melambung tinggi, namun di detik berikutnya bisa berubah dingin seperti orang asing. Pada akhirnya, Tony selalu berakhir sendirian, meringkuk di antara rasa rindu dan diabaikan yang menyiksa.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Permintaan maaf Sungchan di depan kosnya kemarin lusa membuat perasaan Tony jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Bagi Tony yang sempat diperlakukan tidak mengenakan hati beberapa kali oleh Sungchan, permintaan maaf kemarin rasanya bagai pelangi setelah badai hujan yang panjang. Suasana hatinya terasa jauh lebih cerah siang ini, bahkan senyumnya terukir tanpa henti saat ia merapikan peralatan medis dan berkas untuk keperluan pertandingan semifinal futsal sore nanti.

Tepat ketika ia sedang merapikan kerah kaus polonya di depan cermin, sebuah notifikasi pesan masuk dari Sungchan sukses membuat senyum Tony semakin terbit sempurna.

“udah dibawah ya tony”

Hati Tony seketika berbunga-bunga. Dengan langkah riang, ia segera menyampirkan tas ransel logistiknya dan setengah berlari menuruni anak tangga kos. Begitu membuka gerbang, ia mendapati Sungchan sudah menunggunya di atas motor besar hitam miliknya.

Sore itu, Sungchan terlihat berkali-kali lipat lebih menawan. Katingnya itu mengenakan jersi basket hitam tanpa lengan bernomor punggung 23 yang mengekspos bahu tegap serta jalinan otot lengannya yang kokoh.

Mendengar suara pagar terbuka, Sungchan menoleh. Sorot matanya yang biasa terlihat datar mendadak melembut begitu mendapati presensi Tony yang berjalan ke arahnya.

"Lama ya, Kak? Maaf ya, tadi aku ngecek barang-barang dulu di kamar," ucap Tony merasa tidak enak hati.

Sungchan mengulas senyum tipis, lalu meraih helm hitam cadangan yang digantung di spion motor. "Enggak kok, sini pake helm dulu."

Tony melangkah maju satu langkah. Bukannya langsung memberikan helm itu ke tangan Tony, Sungchan justru mencondongkan badannya dan berinisiatif memakaikannya langsung ke kepala sang adik tingkat. Gerakan tangan besar Sungchan begitu telaten saat memasangkan helm, memastikan anak rambut Tony tidak terjepit, lalu mengunci pengaitnya di bawah dagu Tony hingga terdengar bunyi klik.

"Pas? Gak kekencangan, kan?" tanya Sungchan, matanya menatap lekat wajah Tony yang terpaut jarak tipis dari wajahnya sendiri.

Tony mendadak gugup karena jarak mereka yang terlalu dekat. "P-pas kok, Kak. Makasih..."

Sungchan terkekeh pelan melihat wajah Tony yang mulai merona merah. Ia menepuk pelan puncak helm Tony sebelum memosisikan badannya kembali tegak memegang stang motor. "Yaudah, naik. Takut telat, tau sendiri jalanan depan kampus rame banget jam segini."

"Oke, Kak." Tony dengan hati-hati naik ke atas jok belakang motor besar Sungchan.

Di sepanjang jalan menuju gedung olahraga kampus, Tony mati-matian menahan debaran jantungnya yang berpacu tak karuan. Embusan angin sore yang menerpa wajah mereka sama sekali tidak mampu mendinginkan rasa panas yang menjalar di kedua pipi Tony.

Aroma parfum yang bercampur dengan wangi sabun maskulin khas dari tubuh Sungchan menguar begitu pekat, langsung menyergap indra penciuman Tony. Dari posisi duduknya, netra bulat Tony terus terpaku menatap punggung lebar Sungchan yang terbungkus jersi hitam—terlihat begitu tegap dan nyaman untuk disandari.

Di tengah deru angin, Tony diam-diam mulai berandai-andai dalam hati. Gimana, ya, rasanya kalau aku tiba-tiba nyenderin kepala di punggung Kak Sungchan? Meluk pinggangnya tanpa harus takut kalau misal ternyata Kak Sungchan bakal marah... biar kayak orang-orang yang lagi pacaran kalau lagi naik motor…

Namun, buru-buru Tony menepis khayalan manis itu sebelum pipinya makin merona hebat. Setiap kali Sungchan membelah tikungan jalanan kampus, Tony hanya berani mencengkeram erat ujung jersi Sungchan demi menahan keseimbangan tubuhnya, merasakan kebahagiaan yang membuncah di dalam dadanya sepanjang perjalanan.

Begitu motor hitam besar itu terparkir sempurna di area depan gedung olahraga, Tony bergegas turun dari jok belakang. Sembari membetulkan posisi tali tas ransel logistiknya, ia mendongak menatap Sungchan yang tengah melepas helm dengan gerakan kasual yang maskulin.

Sebenarnya, hari ini Tony benar-benar deg-degan setengah mati. Bagaimana tidak? Sungchan yang gila olahraga itu nekat ikut tanding futsal dan basket sekaligus. Sialnya lagi, semifinal futsal dan final basket sama-sama digelar pada hari ini dengan jeda waktu yang sangat singkat. Walaupun tugas Tony sebagai manajer futsal baru dimulai di sesi kedua, ia bersikeras datang lebih awal. Ia tidak mau melewatkan satu detik pun aksi Sungchan di final basket nanti.

"Semangat ya, Kak, buat final basketnya," ucap Tony tulus dengan binar mata yang cerah, memberikan senyuman penyemangat terbaiknya.

Sungchan yang sedang merapikan rambutnya yang sedikit berantakan menoleh. Seulas senyum jahil mendadak terbit di bibirnya. "Nggak mau semangat, ah. Males."

Tony mengerucutkan bibirnya sebal. "Yaudah kalau gitu aku merem aja nanti pas Kakak tanding, ngapain ditonton kalau gak semangat, wle!" ledek Tony Lalu menjulurkan lidahnya tipis.

Melihat tingkah jenaka itu, tangan besar Sungchan bergerak iseng. Tanpa aba-aba, ia menurunkan kaca helm Tony dengan cepat dan menahan telapak tangannya di sana, memblokir pandangan anak itu sepenuhnya. "Oh, mau merem? Beneran? Nih, merem, nih," goda Sungchan.

Tony tertawa kecil, berusaha menepis tangan Sungchan dari kaca helmnya. "Kak Sungchan, awasin tangannya, Kak! Gelap tahu!"

Kekehan kecil akhirnya lolos dari bibir Sungchan saat ia menjauhkan tangannya kembali, memandangi Tony yang menaikkan kaca helmnya sambil merengut sebal. Setelah helm hitam itu ditaruh di atas jok motor, mereka berdua mulai melangkah bersama masuk ke dalam gedung olahraga.

Sepanjang jalan menuju ke dalam gedung olahraga, Sungchan benar-benar tidak bisa diam. Sifat jailnya mendadak kumat. Berulang kali tangan panjangnya bergerak menarik tali ransel logistik yang digendong Tony, sengaja membuat tubuh anak itu terhuyung kaku ke belakang.

"Kak Sungchan! Berat, Kak! Jangan ditarik-tarik!" omel Tony sembari membetulkan posisi ranselnya.

Bukannya berhenti, Sungchan justru tertawa renyah. Setiap kali Tony mulai mengomel panjang lebar, Sungchan hanya akan menjulurkan lidahnya jahil, meledek tanpa dosa. Tidak sampai di sana, sembari berjalan beriringan, Sungchan sengaja menyenggol-nyenggolkan lengannya ke tangan Tony, menabrakkan bahunya dengan sengaja hingga jalur jalan Tony bergeser.

Interaksi kasual dan penuh tawa itu membuat suasana di antara mereka menghangat. Menyaksikan tawa lepas di wajah katingnya itu, hati Tony rasanya melambung tinggi penuh kebahagiaan. Belakangan ini suasana hati Sungchan sering kali tidak tertebak; terkadang baik, terkadang galak, bahkan kemarin lusa tiba-tiba mengamuk karena alasan yang tidak jelas. Melihat Sungchan bisa selepas dan semanis ini sekarang membuat Tony sangat lega. Dalam hati, Tony berdoa dengan tulus, berharap semoga Sungchan bisa bersikap manis seperti ini padanya untuk selamanya.

Jarak mereka begitu dekat saat melangkah di pintu masuk utama lapangan, namun perasaan hangat itu mendadak menguap dalam hitungan satu detik.

Tepat saat langkah mereka melewati pintu masuk utama yang mengarah langsung ke area lapangan dan tribun, netra Sungchan bergerak menyapu deretan penonton di bagian atas. Gerakan kepalanya terkunci pada satu titik. Di tribun atas yang agak lengang, terlihat presensi Bina yang baru saja duduk manis sembari melambaikan tangan ke arahnya.

Seketika itu juga, sorot mata Sungchan berubah total memancarkan kepanikan yang kentara.

Tanpa aba-aba, bahkan tanpa menoleh atau mengucapkan sepatah kata pun pada Tony yang masih tersenyum di sampingnya, Sungchan langsung memperlebar langkah kakinya dengan tergesa-gesa. Ia sengaja menciptakan jarak sejauh mungkin dari Tony, berjalan mendahului dengan cepat seolah-olah ia tidak datang bersama anak itu, seolah-olah Tony adalah orang asing yang tidak sengaja berjalan di sebelahnya.

Tony dibuat bingung hingga langkahnya tertinggal di belakang. Senyum manis di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa sesak yang tiba-tiba kembali mencubit hatinya saat melihat punggung tegap Sungchan menjauh dengan begitu terburu-buru.

Namun Tony buru-buru menepis rasa gundah itu. Area pintu masuk utama sudah semakin padat oleh gelombang penonton yang berdesakan masuk, dan ia tahu ia tidak bisa terus-terusan berdiri mematung di sana. Dengan langkah setengah berlari demi menghindari kerumunan, ia segera berjalan menuju tribun bagian bawah, mencari slot kosong di barisan depan agar tetap dapat menonton aksi Sungchan dari dekat.

Sembari mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang pas di antara riuh sorak penonton, dada Tony rasanya kembali berdenyut perih. Logikanya berputar keras, mempertanyakan sikap Sungchan yang bisa berubah drastis dalam hitungan detik—dari pacar jahil yang penuh tawa, berubah menjadi orang asing yang mendadak dingin dan membuangnya begitu saja ke belakang.

Saat peluit pertandingan dimulai, atmosfer langsung bergemuruh tegang. Namun bagi Tony, dunia seolah menyempit hanya pada sosok nomor punggung 23 itu. Tony dibuat terpaku, napasnya perlahan tercekat hanya dengan melihat bagaimana Sungchan mendominasi lapangan. Cara Sungchan menggiring bola, melompat tinggi melakukan lay-up, hingga memblokir serangan lawan dengan tubuh tegapnya.

Tony menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata bergerak mengikuti kemanapun Sungchan bergerak. Postur tubuh yang tinggi tegap, peluh yang bercucuran membasahi leher, serta sorot mata tajam penuh fokus yang terpancar dari wajah tampan katingnya itu benar-benar membuat Tony tidak bisa berpaling. Pemandangan Sungchan ketika sedang serius bertanding seperti ini membuat auranya berkali-kali lipat lebih menawan, dada Tony berdesir hebat dipenuhi rasa kagum, seketika perasaan bingungnya menguap begitu saja.

Pertandingan berakhir gemilang. Tim basket Sungchan sukses mendapatkan juara pertama setelah tembakan tiga angka Sungchan di detik-detik terakhir mengunci kemenangan. Gedung olahraga pecah oleh sorakan penonton. Dengan mata berbinar penuh rasa bangga dan sayang, Tony langsung beranjak dari tribun, berniat turun ke pinggir lapangan untuk memberikan selamat dan botol air minum yang sudah ia persiapkan khusus untuk pacarnya itu.

Begitu melihat Tony berjalan menuruni tribun ke arahnya dengan senyum lebar, insting panik Sungchan langsung mengambil alih. Dengan sengaja dan terang-terangan, Sungchan langsung memundurkan langkahnya, memalingkan wajah, dan buru-buru mengambil jarak sejauh mungkin dari Tony. Sikap Sungchan yang semakin berubah dingin dan menjaga jarak secara sepihak itu seketika membuat langkah kaki Tony terhenti kaku di tepi lapangan, mengembalikan rasa bingung dan sesak yang mendadak mencubit dadanya.

“Tony! Buruan ambil logistik buat futsal di mobil Taesan, waktunya udah mepet banget nih!”

Seruan lantang dari penanggung jawab olahraga himpunannya mendadak menghalau kabut pikiran Tony. Ia tersentak, buru-buru menoleh dan mengangguk patuh. Dengan sisa-sisa rasa yang masih mengganjal di dada akibat sikap dingin Sungchan barusan, Tony membalikkan badan, melangkah cepat menuju area parkiran untuk menyiapkan logistik pertandingan futsal di sesi kedua.

Begitu sampai di area parkir yang agak lengang, netra Tony langsung menangkap sosok mobil SUV hitam milik Taesan. Sang pemilik kendaraan ternyata sudah berada di sana, berdiri tegap di depan bagasi mobilnya yang terbuka lebar. Taesan siang itu tampak begitu mempesona dengan jersi futsal miliknya, sepasang matanya menyipit ramah begitu menyadari kehadiran Tony.

“Hai, Tony. Apa kabar?” sapa Taesan santai.

Tony refleks tersenyum paksa. Jujur saja, mood-nya saat ini sedang tidak baik akibat ditinggal begitu saja oleh Sungchan tadi. “Hai, San. Baik, kok.”

Meskipun menjawab baik, Tony tidak bisa menyembunyikan gundah di hatinya. Wajah manis itu tetap ditekuk cemberut.

Taesan yang menyadari hal itu langsung terkekeh. “Masa sih? Tapi malah cemberut, tuh. Senyum dulu, dong.”

“San… udah diburu-buruin loh kita,” cicit Tony pelan, mencoba mengalihkan perhatian, fokusnya masih mengambil barang-barang yang mampu ia bawa dari bagasi mobil.

“Senyum duluuu,” tuntut Taesan lagi dengan nada jenaka yang lembut.

“Iya, iyaaa,” pasrah Tony. Ia akhirnya menyerah dan mengulas sebuah senyuman.

Melihat senyum yang akhirnya terbit itu, Taesan yang merasa gemas dan langsung mengulurkan tangannya untuk mengacak pelan rambut Tony sampai sedikit berantakan. “Nah, gitu dong. Yuk, masuk.”

Taesan kemudian berbalik untuk mengangkat sebuah kardus minuman berukuran cukup besar dari dalam bagasi. Tony yang juga sudah memeluk beberapa barang bawaan logistik di dadanya mendadak terdiam di tempat. Ia dirayapi rasa salah tingkah yang aneh akibat perlakuan manis dari Taesan barusan.

Sementara itu, Taesan langsung berjalan mendahului tanpa beban. Namun, setelah melangkah beberapa meter dan menyadari sang manajer tidak mengiringinya, Taesan menghentikan langkah. Ia menoleh ke belakang, lalu tertawa renyah begitu mendapati Tony masih berdiri melamun dengan wajah memerah di dekat bagasi mobilnya.

"Katanya udah diburu-buruin, ayo Tony," goda Taesan sambil terkekeh, memberi isyarat dengan kepalanya agar Tony segera menyusul.

Tony yang sejak tadi terdiam seketika tersadar. Wajahnya memanas karena tertangkap basah melamun, ia pun segera menyusul Taesan dengan lari kecil agar tidak tertinggal lebih jauh lagi.

Dinamika di antara keduanya mengalir begitu saja. Sepanjang jalan bolak-balik dari parkiran ke dalam gedung olahraga, Taesan tidak membiarkan atmosfer di antara mereka menjadi canggung. Lelaki itu sesekali melontarkan lelucon ringan khasnya, membuat Tony yang semula menekuk wajahnya kini mulai terkekeh pelan. Senyum manis Tony perlahan kembali terbit, dan tawa renyah yang lolos dari belahan bibirnya perlahan-lahan menyembuhkan rasa sesak di dadanya akibat perlakuan Sungchan tadi.

Namun, di sudut lain gedung olahraga, sepasang mata milik Sungchan rupanya tidak pernah lepas mengawasi pergerakan mereka.

Sungchan yang masih berdiri di dekat area lapangan seketika mematung. Dadanya mendadak terasa begitu bergemuruh hebat karena perasaan aneh yang masih tidak ia pahami. Melihat bagaimana Tony bisa tertawa lepas—bahkan sampai memukul pelan lengan Taesan karena salah satu guyonan lelaki itu—bener-bener membuat hati Sungchan terasa panas.

Sungchan meremas botol minum di tangannya. Ia ingin sekali melangkah ke sana, menarik Tony menjauh dari Taesan. Namun, kerumunan penonton dan keberadaan Bina yang masih berada tak jauh dari posisinya membuat langkah Sungchan terkunci. Pada akhirnya, sang kating yang baru saja memenangkan piala juara satu itu hanya bisa berdiri kaku di kegelapan, menatap nanar interaksi manis mereka dari kejauhan dengan rahang yang mengeras.

“Cemburu ya, Bang?” goda Sohee tiba-tiba, menyikut pelan pinggang Sungchan sambil melakukan pemanasan stretching kaki di sampingnya.

Sungchan tersentak, ia buru-buru memalingkan wajah ke arah lain, berusaha menyembunyikan guratan panik di wajahnya. “Apaan sih, kagak lah. Ngapain juga gua cemburu,” elaknya dengan nada ketus yang dibuat-buat.

Eunseok yang baru saja keluar dari ruang ganti dengan jersi futsal lengkap, berjalan santai mendekati mereka sambil senyam-senyum. Rupanya, dia sudah memperhatikan arah pandang Sungchan sedari tadi. “Cemburu juga gapapa, Chan,” sahut Eunseok memprovokasi ego Sungchan.

“Gausah ikut-ikut lu!” semprot Sungchan ketus, membuat Eunseok hanya menggidikkan bahu tanpa dosa sambil berlalu ke tengah lapangan untuk melanjutkan pemanasan.

Sementara itu di tepi lapangan, Tony dan Taesan akhirnya selesai memindahkan seluruh logistik tim. Tony masih sibuk membereskan sisa barang di sekitar bench, sedangkan Taesan pamit sebentar untuk mengganti celana di ruang ganti yang langsung diangguki oleh Tony. Beberapa anggota tim futsal lain sudah mulai turun ke lapangan untuk melakukan pemanasan ringan, termasuk Sungchan yang tampak berusaha melampiaskan kekesalannya dengan menggiring bola secara agresif.

Tony berdiri tegak di depan bench, fokus mencatat beberapa daftar perlengkapan di papan jepitnya. Tak berselang lama, Taesan yang sudah selesai dari ruang ganti berjalan kembali. Langkah kakinya sengaja ia bawa untuk menghampiri Tony. Ia menundukkan sedikit badannya, mengikis jarak dengan Tony sebelum mengulas senyum tipis yang hangat.

"Semangat, ya, jagain bench-nya," ucap Taesan lembut.

Tony terkekeh pelan, wajah manisnya sedikit menunduk karena perhatian kecil yang tak terduga itu. Ia kemudian mendongak, membalas tatapan Taesan dari balik lensa kacamatanya. "Masa jagain bench doang disemangatin. Harusnya kamu yang semangat lah, San. Kan kamu yang mau tanding."

Mendengar ucapan polos yang terasa manis dari Tony, insting menggoda Taesan langsung keluar begitu saja. Ia mencondongkan badannya sedikit lebih dekat, menatap lekat-lekat netra Tony dengan binar jenaka.

"Kalau kamunya gak semangat, aku gak bakal semangat juga, Tony."

DAK!

Suara hantaman keras seketika bergema memekakkan telinga di seluruh penjuru lapangan. Sungchan, yang sedari tadi memasang telinganya lebar-lebar ke arah bench dan mendengar jelas kalimat godaan Taesan barusan, langsung menendang bola di bawah kakinya dengan kekuatan penuh. Bola itu melesat kencang, menghantam tembok di ujung lapangan dengan bunyi dentuman yang teramat bising hingga membuat beberapa orang di sekitar lapangan refleks berjengit kaget.

"Anjir! Kaget gua!" Sohee yang sedang meneguk air mineral di pinggir lapangan langsung tersedak, buru-buru mengusap dagunya yang basah sambil menatap ngeri ke arah tembok. "Ntu tembok kalau bisa ngomong udah nangis kali, Bang. Elu mau nendang bola apa mau ngerubuhin ni gedung, sih?"

Eunseok yang sedang membetulkan ikatan tali sepatunya hanya menghela napas panjang. Ia menoleh perlahan, menatap Sungchan dengan pandangan datar, seolah sudah bisa membaca situasi yang sedang terjadi.

Sementara itu di area bench, suasana manis antara Tony dan Taesan lenyap dalam sekejap.

Tony refleks berjengit kaget, bahunya bergidik ngeri mendengar suara hantaman yang begitu keras. Jantungnya mencelos berpacu cepat saat netranya menangkap sosok Sungchan yang kini berdiri mematung di tengah lapangan dengan napas memburu dan rahang yang mengeras rapat. Tatapan tajam milik katingnya itu terarah lurus ke tempatnya berdiri, seolah ingin menguliti siapa pun yang ada di sana. Tony menelan ludahnya susah payah, mendadak merasa ciut dan takut karena ditatap seintimidatif itu.

Taesan yang menyadari perubahan raut wajah Tony langsung menegakkan tubuhnya kembali. Ia sempat melirik ke arah Sungchan yang masih melempar tatapan tajam, lalu beralih menatap Tony yang kini meremas ujung bajunya dengan gugup.

"Kamu gak apa-apa?" bisik Taesan menenangkan. Ia sengaja menggeser posisi berdirinya sedikit ke depan, guna memblokir sebagian pandangan intimidatif Sungchan dari wajah manis Tony.

Tony menelan ludahnya gugup, mencoba mengulas senyum tipis yang dipaksakan. "Nggak apa-apa kok, San. Kaget aja."

"Yaudah, aku ke lapangan, ya," pamit Taesan sembari menepuk pelan pundak Tony sebelum berbalik. "Inget, jagain bench-nya yang bener."

Tak lama setelah dentuman keras bola barusan, peluit wasit terdengar berbunyi, menandakan kedua tim harus segera bersiap. Tim futsal mereka pun langsung berkumpul di pinggir lapangan untuk melakukan briefing kilat sebelum babak pertama dimulai.

Tony yang bertugas sebagai manajer berdiri di luar lingkaran pemain, memeluk papan jepitnya sambil menyimak arahan coach. Namun, di tengah-tengah fokusnya itu, konsentrasi Tony terusik. Pasalnya, sepasang mata milik Taesan yang berada di dalam lingkaran tidak berhenti mencuri pandang ke arahnya. Setiap kali kapten memberikan instruksi, Taesan pasti menyempatkan diri untuk melirik genit ke arah Tony, menaik-turunkan alisnya jahil, lengkap dengan senyum tipis di sudut bibirnya. Diperlakukan seperti itu, Tony tentu saja tidak bisa menahan diri untuk tidak senyam-senyum kecil, membalas tatapan Taesan.

Sungchan yang berdiri tepat di seberang Taesan langsung mendengus kesal secara terang-terangan. Matanya menatap tajam ke arah Taesan yang masih asyik melempar kode pada Tony. Nih orang ngapain sih? Caper banget ke Tony, batin Sungchan emosi, kesal melihat bagaimana dengan mudahnya Taesan membuat fokus Tony teralih secepat itu.

Sohee dan Eunseok yang berdiri berdampingan hanya bisa saling bertukar pandang lalu menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kekanak-kanakan sahabat bongsor mereka.

Setelah arahan selesai, seluruh pemain menyatukan tangan mereka di tengah-tengah lingkaran, menyerukan yel-yel kebanggaan tim dengan lantang sebelum akhirnya bubar untuk mengambil posisi masing-masing di lapangan.

Saat lingkaran pemain itu bubar, Eunseok dengan sengaja melambatkan langkahnya. Ia berjalan beriringan di samping Sungchan, lalu menepuk bahu tegap temannya itu dengan cukup keras untuk menarik kesadarannya kembali.

"Chan," panggil Eunseok dengan nada bicara yang berubah serius, membuat Sungchan menoleh. "Lu boleh gak ngaku cemburu, terserah lu. Tapi gua minta tolong, rasa emosi lu itu lu luapin ke tim lawan aja ya sekarang, jangan ke Taesan."

Eunseok melirik sekilas ke arah Taesan yang sedang melakukan jogging kecil menuju posisinya, lalu kembali menatap mata Sungchan. "Bisa hancur nih futsal kita kalau lu mainnya pakai emosi pribadi. Fokus, Chan."

Begitu mendengar teguran dingin dari Eunseok, Sungchan mendengus kasar sambil memalingkan wajahnya.

“Siapa juga yang cemburu,” bantahnya pelan sembari melesat pergi, mengambil posisinya di depan dengan langkah-langkah lebar yang kentara sekali masih diselimuti sisa kekesalan.

Peluit babak pertama berbunyi nyaring.

Sejak menit pertama, Sungchan bermain seperti kesurupan. Permainannya tidak hanya agresif, tapi juga brutal dan penuh dominasi. Ia menggiring bola dengan kecepatan tinggi, melewati dua pemain lawan sekaligus dengan kasar namun akurat. Setiap kali ia berhasil merebut bola, tatapannya sekilas akan melempar pandangan ke arah bench—memastikan apakah Tony sedang menonton kehebatannya atau tidak.

Namun sial bagi Sungchan, fokus Tony di pinggir lapangan ternyata terbagi dua. Tony memang bertepuk tangan setiap kali tim mereka menyerang, tetapi mata Tony tidak bisa bohong. Ia berkali-kali juga bersorak kencang setiap kali Taesan dengan lincahnya berhasil merebut bola dari lawan, atau saat Taesan dengan gaya kerennya mengoper bola.

Melihat hal itu, darah Sungchan semakin mendidih.

Tensi pertandingan semakin memanas. Tim lawan mulai bermain kasar karena frustrasi menahan gempuran serangan tim Sungchan. Tepat di dekat garis luar lapangan yang dekat dengan posisi bench Tony, Taesan yang sedang menguasai bola tiba-tiba ditekel keras dari belakang oleh pemain lawan hingga tubuhnya terjatuh menyeret lantai lapangan.

BRUK!

"Awh—" Taesan meringis, memegangi pergelangan kakinya yang tampak memerah.

"Taesan!" Tony yang berada paling dekat langsung tersentak kaget. Tanpa pikir panjang, ia langsung meletakkan papan jepitnya di atas kursi dan berlari kecil ke tepi lapangan dengan wajah yang dipenuhi guratan cemas. "San, gapapa? Sakit banget nggak?" tanya Tony panik, matanya bergerak liar memeriksa kondisi kaki Taesan.

Taesan mendongak, masih dengan posisi duduk di lantai lapangan. Melihat wajah panik Tony yang begitu menggemaskan di balik kacamatanya, rasa sakit di kakinya mendadak menguap begitu saja. Lelaki itu malah tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Gapapa, Tony. Cuma sakit dikit, kok. Gak usah se-panik itu," godanya dengan suara rendah, sengaja mengulurkan tangannya ke arah Tony. "Bantuin berdiri, dong."

Tony tentu saja langsung menyambut uluran tangan besar Taesan, menarik tubuh tegap itu untuk kembali berdiri tegak.

Mereka berdua tidak sadar, bahwa beberapa meter di belakang mereka, Sungchan sedang berdiri mematung dengan dada yang kembang kempis menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Menyaksikan bagaimana jemari Tony menangkup tangan Taesan, ditambah dengan pandangan mata cemas yang selama ini hanya ia inginkan untuk dirinya sendiri—benar-benar membuat akal sehat Sungchan putus saat itu juga.

Peluit pelanggaran ditiup wasit. Tim mereka mendapatkan hadiah tendangan bebas yang posisinya lumayan jauh dari gawang lawan.

Sohee yang biasanya mengeksekusi tendangan bebas bersiap mengambil bola, namun tiba-tiba tubuh bongsor Sungchan datang menyalipnya. Sungchan merebut bola dari tangan Sohee dengan kasar, lalu menaruhnya di titik pelanggaran dengan penuh penekanan.

"Gua yang ambil," ucap Sungchan dingin.

Sohee melongo, menatap Eunseok yang berada tak jauh di sampingnya. Eunseok hanya bisa menghela napas panjang sembari memijit pelipisnya yang mendadak pening. Anak ini bener-bener gak bisa dikasih paham, batin Eunseok pasrah.

Sungchan mengambil beberapa langkah mundur. Matanya sama sekali tidak menatap tim lawan ataupun gawang di depannya. Tatapannya melirik tajam ke arah bench, mengunci netra Tony yang rupanya juga sedang menatap ke arahnya dengan pandangan bingung.

Sungchan ingin menunjukkan pada Tony, tanpa perlu banyak bicara, siapa pria yang memegang kendali di lapangan ini. Siapa pria yang seharusnya diperhatikan oleh Tony—bukan cowok lain yang sibuk cari perhatian di sampingnya.

Dengan satu tarikan napas panjang, Sungchan berlari kencang memotong arah bola.

BAMM!!

Sungchan menendang bola tersebut menggunakan punggung kakinya dengan kekuatan penuh. Bola melesat berputar cepat di udara, dan menghantam jaring pojok atas gawang sebelum akhirnya bersarang di dalam.

GOOLL!!

Seluruh isi gedung olahraga seketika pecah oleh sorakan histeris penonton. Itu adalah gol yang sangat tidak masuk akal dari jarak sejauh itu. Teman-teman timnya langsung berlari menghampiri Sungchan untuk merayakan gol tersebut, menepuk bahu dan mengacak rambutnya riuh.

Namun, alih-alih ikut bersorak atau tersenyum puas, Sungchan justru melepaskan diri dari kerumunan teman-temannya. Ia berjalan tegap ke tepi lapangan, sengaja memotong jalur untuk mengambil minum tepat di depan bench tempat Tony berdiri.

Dengan tubuhnya yang masih dibanjiri peluh hangat dan napasnya yang memburu kasar, Sungchan menurunkan sedikit wajahnya saat melewati Tony. Ia tidak berhenti, namun matanya menatap lurus ke dalam manik mata Tony di balik kacamata, lalu melirik Taesan sekilas dengan tatapan meremehkan.

Hanya satu detikan kontak mata, namun tatapan tajam dari Sungchan sukses membuat Tony gelagapan. Tony mematung dengan papan jepit yang didekap erat di dadanya. Sungchan tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun katingnya itu sanggup menyedot habis seluruh pasokan udara di sekitar Tony.

Efek dari intimidasi diam-diam milik Sungchan barusan bener-bener fatal. Di sisa menit pertandingan, fokus Tony runtuh total. Eksistensi Taesan di sampingnya mendadak mengabur, karena kini, sepasang netra Tony bener-bener dikunci mati dan tidak bisa berhenti memperhatikan setiap jengkal tubuh Sungchan yang bergerak di lapangan.

Atmosfer di sekitar Tony mendadak terasa begitu menyengat, membuatnya panas dingin dengan debaran jantung yang semakin cepat. Presensi Sungchan yang begitu besar saat menguasai lapangan benar-benar mengintimidasi akal sehatnya. Cara lelaki itu bergerak tangkas, menyeka keringat di dahinya dengan kasar, hingga tatapan tajam yang sesekali terlempar ke arah tribun membuat Tony tak berkutik. Tony benar-benar dibuat pusing di tepi lapangan, berdiri lemas dengan dada kembang kempis menahan rasa kagum yang semakin meluap-luap.

Peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan akhirnya berbunyi, mengakhiri ketegangan manis yang sedari tadi mendera akal sehat Tony. Tim futsal mereka berhasil keluar sebagai pemenang, berkat performa brutal dan penuh emosi dari Sungchan.

Beberapa pemain di lapangan langsung bertumbangan mencari pasokan oksigen, sedangkan sisanya langsung berjalan gontai menuju bench untuk mencari air minum.

Tony yang posisinya masih lemas, buru-buru memaksakan kesadarannya untuk kembali. Dengan jemari yang masih sedikit bergetar, ia meraih beberapa botol air mineral dingin dan handuk bersih dari dalam kotak logistik.

"Nice game, San," ucap Tony mencoba mengalihkan fokusnya yang berantakan, langsung menyodorkan sebotol air dingin kepada Taesan yang baru saja tiba di bench dengan napas terengah-engah.

Taesan tersenyum lebar, menerima botol itu lalu menepuk-nepuk pundak Tony dengan tangannya yang bebas. "Kan udah dibilang, kalau kamunya semangat, aku pasti juga semangat," Goda Taesan, membuat wajah manis itu kembali merona.

Namun, atmosfer hangat di antara mereka tidak bertahan lama.

Sebuah bayangan besar mendadak mengurung tubuh Tony dari belakang. Aroma mengintimidasi dari peluh hangat, parfum maskulin yang menguar pekat, dan hawa panas tubuh langsung menyergap indra penciuman Tony.

Itu Sungchan.

Lelaki bongsor itu berdiri tepat di belakang Tony. Jersi hitamnya yang basah kuyup menempel di dada bidangnya yang bergerak naik-turun dengan kasar akibat napasnya yang memburu hebat. Tetesan keringat dari ujung rambut hitamnya yang basah jatuh tepat mengenai bahu Tony, mengirimkan sensasi menggelitik yang membuat bulu kuduk Tony meremang seketika.

Tanpa memedulikan keberadaan Taesan di depan mereka, Sungchan langsung mengulurkan tangan kekarnya melewati samping kepala Tony, merampas botol air mineral terakhir yang dipegang Tony dengan gerakan yang teramat posesif.

"Haus," bisik Sungchan singkat dengan suara serak tepat di sebelah rungu Tony, sengaja mengembuskan napas panasnya disana.

Tony seketika mematung, tubuhnya mendadak kaku. Jarak mereka begitu rapat hingga punggung Tony bisa merasakan dengan jelas kehangatan dada bidang Sungchan yang naik-turun di belakangnya.

Sungchan meneguk air mineral itu dengan rakus hingga hampir tandas, membiarkan beberapa tetes air mengalir melewati sudut bibirnya, turun ke dagu, dan membasahi dadanya yang bidang. Setelah selesai, ia menurunkan botolnya. Netra tajam Sungchan melirik lurus ke arah Taesan, menatap cowok itu dengan pandangan dingin yang penuh akan peringatan.

Sungchan kemudian menurunkan tangan besarnya, menepuk-nepuk puncak kepala Tony beberapa kali dengan gerakan pelan yang protektif sebelum menjauhkan tubuhnya.

"Gua ke ruang ganti dulu," pamit Sungchan pada timnya, nadanya kembali datar seolah tidak baru saja melakukan aksi klaim kepemilikan di depan Taesan.

Sungchan berjalan pergi dengan langkah lebar menuju ruang ganti. Otaknya sudah menyusun rencana matang, ia akan bergerak secepat mungkin, mencegat Tony di parkiran begitu anak itu selesai mengurus logistik, lalu membawa pacarnya itu pulang bersamanya tanpa memberi celah bagi siapa pun untuk mendekat lagi.

Namun, skenario di kepala Sungchan buyar total begitu ia baru saja melangkah keluar dari pintu gedung olahraga. Sesosok gadis dengan senyum manis sudah berdiri menghadang jalannya.

"Sungchan! Congrats, ya!" seru Bina riang. Gadis itu maju satu langkah, menatap Sungchan penuh harap. "Kita pulang bareng, yuk. Aku udah lama gak pulang dari kampus malem-malem dianterin kamu."

Sungchan seketika terdiam. Matanya refleks melirik ke arah pintu keluar, mendadak dirayapi kepanikan dan berharap Tony belum keluar sekarang.

"Aku agak buru-buru sebenarnya, Bin—"

"Ayolah, Chan. Sekali ini aja. Mumpung lagi gaada Kak Sho juga,"

"Gak bisa, Bin. Anak-anak kayaknya mau pada langsung makan habis ini,"

"Nanti nyusul aja. Aku juga lagi gak bawa jaket, Chan. Dingin kalau harus pulang naik ojol sendirian," potong Bina sambil memegangi lengannya sendiri yang meremang karena embusan angin.

Melihat Bina yang memohon, Sungchan akhirnya menghela napas pasrah. Rasa sungkannya menang. "Yaudah, yuk. Pakai ini aja," ucap Sungchan seraya melepas jaket miliknya, lalu menyampirkannya ke bahu Bina sebelum melangkah lebar mendahului gadis itu menuju parkiran motor untuk segera mengantarnya pulang agar urusan ini cepat selesai.

Sementara itu, di dalam gedung olahraga, Tony baru saja selesai mengecek ulang seluruh isi kotak P3K dan logistik futsal yang tersisa. Dengan langkah terburu-buru, Tony berjalan keluar gedung olahraga. Matanya bergerak liar menyisir area parkiran, mencari keberadaan motor besar milik Sungchan.

Nihil. Slot parkir yang tadinya diisi oleh motor besar Sungchan kini sudah kosong melompong. Motor Sungchan sudah tidak ada di tempatnya.

Jantung Tony mencelos seketika. Rasa kecewa mendadak merayap naik ke dadanya. Tony buru-buru merengkuh ponselnya dari dalam saku, mengetikkan pesan singkat dengan perasaan cemas.

“kak sungchaannn”

“udah pulang duluan kahh?”

“aku baru selesai ngurus logistik”

Satu menit. Dua menit.

Tony berdiri mematung di pinggir parkiran yang mulai sepi di bawah temaram lampu jalan. Tidak ada balasan sama sekali. Jangankan dibalas, ketiga pesan singkatnya itu bahkan hanya bercentang satu.

Bahu Tony merosot lesu. Di tengah rasa lapar yang mulai menyerang perutnya akibat energi yang terkuras seharian, Tony menundukkan kepala, berniat membuka aplikasi ojek online untuk memesan tumpangan pulang sendiri. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh layar, sebuah lengan mendadak merangkul bahunya dari samping dengan santai.

"Hei. Kok belum pulang?"

Tony tersentak, menoleh dan mendapati wajah tampan Taesan yang sudah berganti pakaian santai, menatapnya dengan binar mata yang hangat.

"Eh, Taesan... Ini, baru mau pesen Gojek," jawab Tony agak canggung, berusaha menyembunyikan gurat kecewa di wajahnya.

Taesan yang peka langsung terkekeh pelan, mempererat sedikit rangkulannya di bahu Tony sebelum melepaskannya. "Gak usah mesen, lah. Udah malem banget nih, ikut makan dulu aja yuk sama yang lain, baru habis itu aku anter kamu balik. Emang kamu ga laper, Tony?"

Mendengar tawaran tulus dari Taesan, ditambah dengan perutnya sendiri yang memang sudah kelaparan, Tony akhirnya mengulas senyum tipis. Setidaknya, bersama Taesan dia tidak perlu berdiri sendirian di parkiran yang mulai sepi ini. "Yaudah deh... kebetulan aku juga laper banget, San."

"Nah, gitu dong. Yuk, ke mobil," ajak Taesan riang.

Sembari berjalan beriringan mengekor di belakang Taesan menuju SUV hitamnya, Tony kembali merengkuh ponselnya. Dengan sisa-sisa perasaan campur aduk, ia mengirimkan satu pesan terakhir untuk memberi tahu sang pacar, agar kating itu tidak mencarinya nanti.

“kak, aku bareng temen aku yaaa”

“kalau sempet kabarin aku ya kakk”

SUV hitam milik Taesan membelah jalanan yang mulai diguyur rintik hujan tipis. Di dalam mobil, alunan musik mengalun tenang, berpadu dengan aroma pengharum yang segar. Taesan sesekali menoleh ke samping, melemparkan obrolan santai tentang jalannya pertandingan futsal tadi, berusaha mencairkan suasana.

Tony hanya merespons ucapan Taesan dengan anggukan pelan atau senyum tipis yang dipaksakan. Alih-alih menikmati obrolan dengan Taesan, benak Tony justru terus-terusan memutar ulang kejadian di gedung olahraga.

Bagaimana cara Sungchan menjailinya di parkiran tadi, serta tatapan posesif yang dilemparkan cowok itu saat di lapangan benar-benar membuat hati Tony berdesir manis sekaligus bingung. Tony menunduk, menatap jemarinya sendiri. Ia mendadak teringat hangatnya telapak tangan Sungchan yang sempat menahan kaca helmnya tadi.

Gimana, ya, rasanya kalau bisa megang tangan Kak Sungchan? batin Tony. Selama status hubungan mereka berjalan, mereka bahkan belum pernah sekalipun berpegangan tangan layaknya orang pacaran sungguhan. Tony diam-diam berkhayal, membayangkan bagaimana rasanya melingkarkan lengan di leher tegap Sungchan, atau bersandar nyaman di dada bidang pacarnya itu yang tampak begitu kokoh. Khayalan manis itu terasa kontras dengan kenyataan bahwa dirinya baru saja ditinggal tanpa kabar.

"Tony? Kamu gapapa? Kok bengong gitu?" suara Taesan mendadak memecah lamunan Tony.

Tony tersentak kaget, buru-buru membenarkan letak kacamatanya yang tidak miring dengan gerakan kikuk. "Eh? Ah, gapapa kok, San! cuma agak capek aja dikit abis beres-beres tadi," kilat Tony terbata-bata, berusaha bersikap biasa saja.

Taesan hanya mengangguk pelan sambil membelokkan setir mobilnya memasuki area parkir sebuah tempat makan semi-outdoor yang cukup populer di dekat kampus.

"Yuk, turun. Makan yang banyak biar gak kecil terus," goda Taesan lembut.

Tony menyeringai kecil lalu mengangguk, melangkah turun dari mobil sembari diam-diam merengkuh kembali ponsel di sakunya. Masih centang satu. Tony menghela napas berat, mencoba menepis rasa cemasnya, lalu berjalan mengekor di belakang Taesan masuk ke dalam rumah makan.

Tempat makan semi-outdoor itu lumayan ramai malam ini, dipenuhi aroma sedap makanan dan riuh rendah suara pengunjung yang sebagian besar adalah mahasiswa. Taesan menuntun Tony menuju salah satu meja panjang.

“Gabung sama mereka gak apa-apa, kan?”

“Gak apa-apa kok, San.”

Saat mereka tiba, beberapa anggota tim futsal ternyata sudah berkumpul di sana. Di salah satu sudut meja panjang, tampak Eunseok dan Sohee duduk berdampingan, menyisakan kursi kosong yang saling berhadapan.

Sebelum mengambil tempat duduk, netra bulat Tony diam-diam bergerak menyisir sepanjang meja panjang tersebut. Ia memperhatikan satu per satu wajah yang ada di sana, berharap dapat menemukan sang pacar yang sejak tadi memenuhi benaknya.

Namun, hasilnya nihil. Sungchan tidak ada di antara mereka. Rasa sesak di dada Tony yang sempat teralihkan kini kembali berdenyut samar, meninggalkan ruang hampa yang mendadak terasa begitu dingin. Dengan helaan napas berat yang disembunyikan, Tony akhirnya pasrah dan mengambil posisi duduk di ujung kiri meja, tepat di hadapan Taesan, sementara Eunseok berhadapan dengan Sohee di sisi kanan mereka.

Baru saja bokong mereka menyentuh kursi, godaan dari anak-anak tongkrongan langsung menyambar.

"Waaah, yang ini berduaan mulu, nih? Bau-bau bentar lagi ada yang mau ngasih PJ," sorak salah seorang anggota tim dari ujung meja, yang seketika memicu ciutan heboh dari yang lain.

"Lengket mulu nih dua dari kemarin-kemarin. Jangan lama-lama, San. Keburu makin banyak yang ngincer," sahut yang lain.

Mendengar godaan yang bertubi-tubi itu, rona merah langsung menjalar di kedua belah pipi Tony. Demi menyembunyikan rasa malunya, ia pura-pura sibuk mengelap meja di hadapannya dengan tisu. Kontras dengan Tony, Taesan justru hanya terkekeh santai menanggapi godaan teman-temannya.

"Jangan digodain, Bang. Udah ada yang punya tuh si Tony," celetuk salah satu anak futsal lain, mencoba menengahi.

Namun, celetukan itu malah disambar oleh yang lain dengan nada cuek khas tongkrongan. "Lah, yang punya aja kagak jelas kemana. Udah, sama si Taesan aja, Tony!"

Kalimat lepas itu seketika menghantam ulu hati Tony. Semburat merah di pipinya mendadak surut, digantikan oleh ekspresi wajah yang langsung berubah datar, menyadari fakta pahit bahwa dirinya memang baru saja ditinggalkan begitu saja oleh Sungchan tanpa kabar di parkiran tadi.

Taesan yang menyadari perubahan pada raut wajah Tony langsung tanggap. Ia tidak ingin suasana hati gadis di hadapannya semakin memburuk.

“Udah pada pesen, ya?” tanya Taesan memotong, sengaja membuka suara dengan nada tinggi untuk mengalihkan fokus obrolan tim ke hal lain.

“Udah, San. Mesen lagi aja buat kalian,” sahut salah satu dari mereka, mengalihkan perhatian dari Tony.

Taesan kemudian berdiri sebentar untuk mengambil kertas pesanan serta lembaran menu dari meja kasir, lalu menyerahkannya langsung ke tangan Tony sebelum ia kembali duduk dengan tenang di kursinya.

Di sudut lain, sepasang mata Eunseok menatap lekat-lekat ke arah Tony, lalu bergulir menatap Taesan yang kini sedang sibuk mengelap sendok dan garpu menggunakan tisu untuk diberikan pada Tony. Sebuah perhatian kecil yang terasa begitu tulus.

Di balik wajah datarnya, Eunseok diam-diam mengulas senyum tipis. Ada rasa puas yang mendadak membuncah di dalam dadanya melihat pemandangan ini. Sebagai sahabat yang tahu betul bagaimana rumit dan melelahkannya hubungan Tony dengan Sungchan, Eunseok sebenarnya merasa lega melihat Tony malam ini pergi berdua dengan Taesan. Baginya, Sungchan si bajingan egois yang tidak tahu diri—bisa-bisanya membiarkan pacar manisnya terlunta-lunta di parkiran gedung olahraga tanpa kabar. Eunseok sudah lama muak melihat Tony yang selalu berakhir mengalah, bersembunyi di bawah bayang-bayang ego Sungchan, dan terus bergantung pada perlakuan tidak pasti temannya itu.

Melihat ada sosok Taesan yang berani mengambil langkah maju dan memperlakukan Tony dengan begitu dihargai secara terbuka, Eunseok merasa ini adalah tamparan yang bagus untuk menyadarkan Sungchan. Menurutnya, Tony berhak mendapatkan yang jauh lebih baik daripada sekadar menjadi mainan ego Sungchan.

"Kamu mau pesen apa? Biar sekalian aku yang nulis," suara Taesan kembali memecah lamunan Tony, mengambil kertas pesanan dari hadapan gadis itu.

"Ah... kayanya aku samain kayak kamu aja deh, San. Bingung mau makan apa," jawab Tony pelan.

"Makan yang banyak, ya, Tony. Capek kan lu tadi jadi manajer futsal," ucap Eunseok tiba-tiba dengan nada yang lebih lembut daripada biasanya.

Tony yang sedang merapikan letak kacamatanya langsung tersentak kaget mendengar perhatian tak biasa dari katingnya itu. Ia segera menggeleng cepat dengan canggung. "Eh, enggak kok, Kak Eunseok. Enggak se-capek itu juga, lagian udah biasa..."

"Iya tuh, capek banget kayaknya," potong Taesan tiba-tiba, ikut membela Tony sembari menatap Tony dengan pandangannya yang teduh. "Tadi pas di mobil aja mukanya udah lesu banget, makanya ini harus dipaksa makan yang banyak biar tenaganya balik lagi, Bang,"

Tony merasakan pipinya kembali menghangat mendapat banyak perhatian. Ia hanya bisa menunduk kecil, menyembunyikan senyum tipisnya sembari memainkan ujung jarinya di atas meja.

Sohee yang baru saja selesai bermain Mobile Legends di ponselnya ikut menyahut heboh. Karena sejak tadi tidak begitu mendengarkan percakapan sensitif di meja, lelaki itu langsung menyeletuk tanpa beban, "Nah, bener tuh kata si Taesan! Lagian mana dah Bang Sungchan? Biasanya dia yang paling ribet nempelin lu habis tanding, kok ini malah ngilang?"

Pertanyaan blak-blakan dari Sohee seketika membuat atmosfer di meja itu kembali mendadak hening selama beberapa detik. Tony merasa dadanya kembali berdenyut perih. Ia teringat ponselnya yang sampai detik ini masih belum menunjukkan tanda-tanda adanya notifikasi masuk dari sang pacar.

Eunseok yang menyadari perubahan raut wajah Tony langsung menginjak kaki Sohee dengan keras di bawah meja, memberi isyarat lewat tatapan mata tajam agar sahabatnya itu diam dan tidak merusak suasana yang sudah mulai membaik.

"Aduh! Apaan sih, Bang? Sakit bego!" ringis kecil Sohee sambil mengusap kakinya yang bertabrakan dengan sepatu Eunseok.

Eunseok sama sekali tidak memedulikan protesan Sohee. Ia justru kembali menatap Tony dengan raut wajah datarnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.

Taesan yang menangkap ketegangan samar itu dengan cerdas langsung mengambil alih perhatian. Ia sengaja menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat ke arah Tony, lalu menunjuk salah satu menu. "Eh, Tony, kamu suka kerang dara gak? Kalau suka, aku pesenin sekalian buat nungguin makanan berat kita dateng. Biasanya agak lama dibuatnya."

Tony mendongak, merasa sangat terbantu dengan inisiatif Taesan yang langsung memotong kecanggungan itu. "Boleh, San. Aku suka, kok," jawab Tony dengan senyum tipis yang kini mulai terasa lebih tulus.

"Oke, siap," sahut Taesan ramah, langsung menuliskan pesanan tambahan mereka ke atas kertas sebelum menyerahkannya pada pelayan yang sedang lewat di dekat meja mereka.

Setelah menunggu, pesanan makanan mereka akhirnya datang. Asap mengepul dari piring-piring panas berisi makanan langsung membangkitkan selera makan. Selama sesi makan malam itu berlangsung, Taesan benar-benar memperlakukan Tony dengan sangat telaten. Lelaki itu tanpa ragu membukakan cangkang kerang yang keras, bahkan menaruh isinya di atas piring Tony.

Eunseok yang memperhatikan interaksi itu diam-diam merasa senang. Di matanya, pemandangan ini jauh lebih sehat ketimbang melihat Tony yang biasanya harus selalu menahan diri demi menjaga perasaan Sungchan di depan umum.

Namun, di sela-sela kunyahannya, fokus Tony lagi-lagi tergelitik. Di bawah meja makan, jemarinya diam-diam kembali meraba saku celananya. Ia mengeluarkan ponselnya sedikit, menunduk untuk mengintip layarnya yang masih gelap gulita.

Tetap tidak ada panggilan. Tetap tidak ada balasan pesan.

Rasa sesak yang sempat terkubur oleh perhatian Taesan perlahan-lahan merayap naik kembali ke tenggorokan Tony, menyisakan rasa hambar pada kerang yang sedang dikunyahnya. Kak Sungchan kemana ya? Sampai kabarin aku bentar aja gak bisa? batin Tony nelangsa, menatap nanar layar ponselnya sebelum kembali memasukkannya ke dalam saku dengan helaan napas berat.

Setelah makan malam selesai, hujan yang semula hanya rintik-rintik tipis mendadak turun dengan sangat deras, membasuh kaca mobil SUV hitam milik Taesan sepanjang perjalanan pulang.

Begitu mobil berhenti tepat di depan gerbang kos Tony, Taesan menoleh, menatap lekat-lekat wajah manis di sampingnya yang tampak sangat kelelahan.

"Udah sampai," ucap Taesan lembut, mengulas senyum tipis yang menenangkan. "Habis ini langsung mandi terus istirahat, ya? Biar besok gak sakit, Tony. Capek banget kan hari ini?"

Tony mengangguk patuh, membalas perhatian itu dengan senyum tipis. "Iya, San. Makasih banyak ya udah diajak makan sama tumpangan pulangnya. Kamu juga hati-hati di jalan, ya."

Sebelum Tony membuka pintu mobil, Taesan tiba-tiba mengulurkan tangannya, mengepalkan jemarinya di depan dada Tony, mengajak gadis itu melakukan fist bump.

"Good job buat hari ini, Ibu Manajer," ucap Taesan dengan binar mata jenaka yang menggemaskan.

Tony sempat mengerjap, sebelum akhirnya terkekeh geli dan membalas kepalan tangan Taesan dengan kepalan tangannya sendiri. "Good job juga, Taesan," balas Tony sambil tersenyum lebar.

Taesan tertawa renyah. "Kabarin kalau mau dijemput lagi buat latihan, ya. Udah sana turun, hujannya makin gede."

“Siap, makasih banyak sekali lagi, San! Dadah!”

“Dah!”

Setelah berpamitan manis, Tony bergegas turun dari mobil dan berlari kecil menembus guyuran hujan deras masuk ke dalam area kosnya. Tepat saat Tony berhasil berteduh di bawah kanopi teras kos, Taesan membunyikan klakson mobilnya sebanyak dua kali sebagai tanda pamit sebelum akhirnya SUV hitam itu perlahan melesat pergi membelah malam.

Selesai membersihkan diri dengan air hangat dan berganti pakaian, Tony merebahkan tubuhnya yang terasa remuk ke atas kasur. Kamar kos yang sepi dan hanya ditemani suara deru hujan di luar jendela mendadak membuat pikirannya melayang bebas.

Ponselnya yang tergeletak di samping bantal diintipnya lagi. Tetap nihil. Tidak ada satu pun notifikasi dari Sungchan. Jangankan telepon, pesan singkatnya pun masih bercentang satu. Rasa diabaikan dan putus asa itu mendadak menghantam dadanya begitu sesak, menimbulkan rasa perih hingga membuatnya perlahan menarik selimut tinggi-tinggi untuk menyembunyikan wajahnya.

Hawa dingin dari hujan deras di luar jendela kamar kos sama sekali tidak mampu meredam gejolak emosi yang mengurung tubuh Tony. Di atas kasur, setelah bermenit-menit menatap nanar layar ponselnya yang tetap sepi dari kabar Sungchan, rasa diabaikan itu bertransformasi menjadi rasa frustrasi yang menyiksa.

Alih-alih merasa tenang setelah pulang, ingatan Tony justru terus-terusan mengulang kejadian di lapangan tadi. Ketika sepasang matanya dibuat tak bisa berkedip melihat betapa hebatnya Sungchan di tengah lapangan, bagaimana lelaki itu sengaja menatapnya tajam dari kejauhan, hingga momen di mana tubuh bongsor katingnya itu mengurung raga Tony dari belakang untuk merebut botol minumnya dari tangannya—semua detail itu masih terasa begitu nyata.

Aroma peluh hangat bercampur parfum maskulin yang pekat, serta bisikan Sungchan tepat di samping rungunya, benar-benar masih tertinggal di kulit Tony. Sensasi intens yang ditinggalkan Sungchan saat menepuk-nepuk kepalanya seolah menandai kepemilikan di depan Taesan, sukses membuat dada Tony berdebar, menenggelamkannya dalam rasa rindu yang dalam sekaligus menyakitkan.

"Kakak..." Tony melenguh parau, menenggelamkan wajahnya yang memerah ke atas bantal.

Dengan sisa tenaga dan air mata yang mulai mengenang di pelupuk mata, Tony memeluk bantal gulingnya erat-erat, seolah mencoba menyalurkan seluruh rasa sesak dan gemuruh di dadanya. Ia semakin mendambakan bagaimana rasanya didekap oleh tubuh tegap Sungchan, dikurung oleh aroma maskulinnya, dan mendapatkan kepastian yang selama ini selalu ia dambakan dari sang kating.

Perhatian terbuka dari Taesan hari ini bahkan tidak mampu menggeser posisi Sungchan sedikit pun di hatinya. Justru, kebaikan Taesan seolah menjadi cermin yang memperjelas betapa kosongnya hubungan yang ia jalani bersama Sungchan sekarang—hubungan yang mengambang tanpa pasti.

Kenyataan bahwa malam ini ia kembali ditinggalkan begitu saja di parkiran tanpa kabar membuat pertahanan Tony runtuh sepenuhnya.

"Kak... Kak Sungchan..." tangis Tony akhirnya pecah.

Suara isakan kecilnya berpadu dengan deru hujan di luar yang kian bising. Air mata Tony mengalir membasahi bantal saat ia meringkuk sendirian di tengah kegelapan kamar kosnya. Ia merasa sangat menyedihkan dan hancur. Di satu sisi hatinya menangis karena merasa diabaikan malam ini, namun di sisi lain, seluruh hati dan pikirannya justru telah sepenuhnya bertekuk lutut—tetap mengemis perhatian dan sangat merindukan sosok kating yang telah membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya.

Notes:

terima kasih sudah menunggu dan membaca, id warmly welcome u on X @greigejet