Work Text:
Sensasi dingin menjalar di udara, partikel es berdenyut di paru-parunya. Sesosok yang familier berdiri di hadapan pandangannya, matanya tajam dan membawa suasana sejuk—memenuhi ruangan yang terisisi dengan kertas-kertas berceceran. Toshirou menolak amatan menuju jendela di sampingnya, menyerah pada pemandangan terbuka dari Soul Society. Dia secara khusus meminta pemandangan langsung ke arah provinsi Junrinan di Distrik 1 Rukongai Barat, yaitu tempat tinggalnya dulu.
Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, bekerja sebagai pemisah dunia shinigami dan masyarakat lainnya. Meskipun begitu, fokus Toshirou menembus antara sela-sela dedaunan, jatuh pada kanak-kanak ceria bermain. Ia menyipitkan mata, tak lama kemudian, gasing-gasing itu tersangkut dimata jendela Toshirou. Rahangnya mengencang, menelan ludah yang ia tidak sadar ada. Sebuah kenangan samar kembali terlintas di benaknya,
Nenek.
Sosok yang berserai toska mendekatinya. Walau ia tidak berani untuk mengusap sang jenius, ia mencoba untuk melembutkan rasa amarah yang jelas terlihat. Mulai dari pensil terbelah dua dalam genggam kirinya, sampai dengan dagunya yang terangkat. Tatapan terhina melalui kaca cukup tajam untuk memotong perisai dihadapan mereka.
Es yang mengelilingi leher lelaki yang menara kaptenya memantulkan sinar matahari, tidak lupa menyinari warga di bawah—menghasilkan bercak-bercak pucat. Tawaan kanak-kanak bervolume lebih kencang dari sebelumnya. Mereka menari dibawah bayangan, mengikuti pelita beracak.
“Mereka terlihat bahagia sekali disana. Bukankah kamu juga berpikir begitu, Kapten?”
“Untuk sementara.”
Cemooh Toshirou, sudah jelas ia tidak berada di dalam akal sehatnya. Hyōrinmaru menghela nafas yang panjang, melepaskan angin dingin menerpa rambut sosok pendek di depannya.
“Menapa kamu tidak bermain dengan mereka saja, tuan muda? Jika itu sangat mengganggumu.”
Kapten kelu mendengar saran sang roh berfisik, dia tidak bermaksud untuk menunjukkan rasa kesal di depannya.
“Aku telah membuang harsa terbesarku sejak menempuh pada tempat ini. Lagipula, aku bukan anak kecil lagi.”
Jawab Toshirou dengan hati yang jelas mengeras. Ia bukan orang yang mudah menyembunyikan emosi, dapat dibilang cukup ekspresif untuk seseorang yang mengaku dirinya dewasa dan serius. Walau itu tidak mengasingkan gambar sosok dinginnya, hal tersebut membuktikan bahwa ia masih tergolong sensitif bagi jangkauan umurnya—Bukan berarti ia akan mengakui hal itu.
Pintu itu terbuka dengan keras membentur engselnya, memperlihatkan letnan yang berjiwa bebas itu. Sebuah siulan lembut namun penuh semangat keluar dari mulutnya saat dia melangkah masuk. Di tangannya tergeletak apa yang tampak seperti ratusan berkas pekerjaan dan pengaduan, jelas kertas-kertas yang perlu Toshirou tanda-tangani.
Rangiku menyelusuri ruangan yang masih berantakan, Kapten satu ini mempunyai kebiasaan akan ketertiban. Jauh berbeda dengan apa yang ditampilkan sekarang.
“Apakah kau jatuh sakit, Kapten Histugaya?”
Tanya Rangiku dengan keprihatinan yang tulus. Dia melangkahi setiap rintangan kertas dengan hati-hati, berjaga-jaga jika ada dokumen penting. Toshirou mengubah amatannya kepada gadis berserai pirang yang membawa lebih banyak lagi pekerjaan tertulis dari sebelumnya.
Pemandangan itu hanya membuat ia bosan. Untungnya bagi Toshirou, Rangiku tahu bagaimana membaca situasi. Jelas bahwa Toshirou sedang kesal karena sesuatu, jadi mengapa tidak menghiburnya? Letnan itu melihat ke luar jendela dan melihat anak-anak bermain di bawah sinar matahari yang berbentuk indah.
“Bagaimana kalau kita mengunjungi anak-anak itu, hm? Pasti itu akan membantu mengalihkan pikiranmu dari pekerjaan. ”
Rangiku memberi kedua lelaki itu senyuman hangat, jelas ia ingin keluar dari ruang kerja ini juga. Hyōrinmaru melirik pada pemiliknya untuk izin, dan Toshirou tentu tidak senang dengan saran itu.
“Apa kau kira aku anak-anak yang tugasnya hanya bermain?” suara itu terdengar nyaris dari sang kapten pendek ini. Rangiku menolak untuk menyerah kepada pemikiran menyedihkan Toshirou,
“Ayolah! Tidak setiap hari kita mengunjungi anak-anak kan? Lagipula bukan salahku kamu mengira kami menganggapmu sebagai anak-anak, Kapten.”
Mata Toshirou sedikit berkedut, ia bisa menjadi gila jika mendengar Rangiku terus menerus mengenai pandangannya tentang dirinya sendiri. Walaupun begitu, pikirannya dipenuhi rasa ingin tahu tentang rencana Rangiku untuk menghindari pekerjaan, ia berpikir tidak apa-apa untuk sesekali memeriksa keadaan warga.
Pria berambut putih ini membersihkan tenggorokannya sebelum membuat keputusan bagi ia sendiri dan zanpakuto-nya.
“Ya sudah jika kamu tidak akan diam mengenai hal ini, Matsumoto. Selagi tidak ada divisi lain yang melihat kita, Kurasa tidak apa-apa. Bawakan mereka semangka.”
Tepukkan tangan terdengar riang dari gadis pirang ini, ia bergegas meletakkan berkas-berkas yang sebelumnya memenuhi tangannya ke lantai, dan berbalik menuju penjual semangka diluar sana. Kapten menggelengkan kepala atas antusiasmenya yang gegabah, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa antusiasmenya sendiri juga gegabah.
“Semoga latihan setahun ini tidak sia-sia, Hyōrinmaru.”
Tutur Toshirou yang sedang mencakar erat sarung zanpakuto-nya yang kosong. Hyōrinmaru hanya mengangguk singkat, posturnya masih tinggi dan menjulang di belakang pemiliknya sebelum menghilang ke udara, mengubah atmosfer menjadi angin dingin sekali lagi.
──── ୨୧ ────
Tawa anak-anak itu terdengar menyenangkan di telinga Rangiku. Tidak butuh waktu lama sampai anak-anak itu berlari menuju kursi pertama dan kedua di divisi ke-10, muka mereka terlihat jelas girang. Gadis pirang itu memberi muka kepada Toshirou, yang mengklarifikasi pernyataan yang tidak terucapkan—sudah kubilang.
Toshirou membuang mukanya, ia tidak suka koreksi jika hal itu menunjukkan bahwa dia salah. Letnan itu mengabaikan kelakuan kaptennya untuk memberi setiap anak bagian dari semangka. Anak-anak tak lama mengabisi hidangan di depannya, cairan merah berlumuran dimulut mereka yang tersenyum.
Pandangan kegembiraan itu dipantau baik oleh Toshirou. Meskipun dia tidak akan mengakuinya, dia menikmati berada di tengah-tengah mereka.
Kedutan terlihat dari sudut matanya, ia mengalihkan pandangannya langsung ke arah anak tersebut. Tubuh gadis kecil itu mungil—sangat kecil, bahkan jika dibandingkan dengan Toshirou. Dia mengingatkannya pada letnan divisi ke-11. Rasa dingin menjalar di sekujur tubuhnya, hanya lengannya yang melingkari tubuhnya untuk menghangatkan diri. Wajahnya cepat memucat, matanya mengamati sekelilingnya seolah-olah dia sedang menjadi mangsa.
Begitu melihat tatapan biru dingin itu, matanya sendiri melebar karena takut. Gumaman kata-kata yang tak terdengar keluar dari mulutnya, memperlihatkan giginya yang gemetar ke udara dingin. Toshirou tidak berpikir dua kali sebelum mundur, cukup jauh agar gadis itu bisa mendapatkan kembali warna kulitnya.
Getaran tubuh gadis kecil itu mereda. Jari-jarinya mencengkeram kayu tempat dia duduk, dengan hati-hati mengatur napasnya. Lelaki beruban itu mengamatinya dari jauh, tatapannya penuh kekhawatiran. Toshirou bisa merasakan penyesalan mendidih di dalam dirinya, ia tahu betul sebaiknya ia tetap di Seireitei.
Rangiku mengagumi lelaki itu dari jauh, matanya dipenuhi kekhawatiran. Dia berdiri di samping kapten, tangannya ragu-ragu untuk menyentuh bahunya demi menghibur. Tidak biasanya bagi mereka berdua untuk tetap diam selama ini.
Toshirou membelakangi kelompok anak-anak itu dan berjalan lebih jauh ke dalam hutan. Letnan divisi 10 tidak berani untuk mengejarnya, ia mengetahui bahwa kapten membutuhkan beberapa menit sendirian. Lagipula, bukan hanya sekali hal seperti ini pernah terjadi.
──── ୨୧ ────
Sementara yang lain berkumpul di sekitar api unggun untuk menghangatkan diri, Toshirou berdiri di depan pintu apotek. Jari-jarinya saling bertautan sebelum dia membenturkan tangannya ke kayu keras yang dingin yang berada di antara dia dan obat-obat. Penghalang itu segera runtuh, memperlihatkan apoteker yang tampak lelah.
Bocah berambut putih itu meraih pergelangan tangan yang lain dan menariknya ke arah lain, tempat ia semula berjalan. Bocah itu gesit dan lincah, pegangannya mantap. Butuh beberapa saat bagi pria yang lebih tua untuk pulih dari tarikan arus, tepat saat mereka tiba di depan rumah kayu itu.
Anak perempuan berserai hitam itu berdiri dengan gelisah, matanya sudah mulai berkaca.
“Tolong bantu kami! Nenek sedang di dalam!”
Tangis gadis kecil itu, ia mengusap air mata yang akan datang pada bahu bocil beruban. Si anak laki-laki yang biasanya tabah itu mengizinkan gadis itu untuk mencurahkan kekhawatirannya kepadanya sekali ini.
Melihat kecemasan anak-anak tersebut, sang apoteker melangkah maju ke dalam rumah. Panggung kayu itu ditinggalkan kedua bocah, membiarkan sang ahli mengambil alih.
Di hadapan mata pria itu terbaring nenek anak-anak tersebut di atas kasur futon tebal, ditutupi selimut berlapis-lapis. Gelas-gelas kosong mengelilingi kepalanya, sehelai kain berlumuran darah muntahan dikepal tangan kanannya. Dia bergerak lemah, menghadap pria itu dengan senyum lembut. Ia menumpuk tangannya pada lantai dingin itu, memaksakan badannya untuk tegak.
Apoteker pun bergegas ke sampingnya, jidat orang tua itu terasa terbakar. Dia dengan cepat mengulurkan tangannya, kemudian membaringkan sang Nenek.
“Sepertinya ini kasus kedinginan, lebih baik ibu beristirahat.”
Saran Apoteker, sekaligus ia meminta izin untuk memeriksa bagian tubuh lainnya. Nenek mengangguk, dan pria itu kembali bekerja. Ia mulai dengan dadanya. Setiap tekanan yang ia beri, berasa sakit yang tajam mengganggu pernapasannya. Paru-parunya tampak menjadi salah satu penyebab masalahnya. Ia melanjutkan introspeksi badan Nenek, tetapi ia hanya bertemu kembali dengan pegangan mendidih.
Udara terasa tipis dan dingin. Pria itu tahu bahwa usia wanita ini membuat tubuhnya lebih lemah, tetapi ada penyebab yang lebih besar. Paru-parunya terasa seperti es yang membeku.
“Aku akan membawakan kantong penghangat. Usahakan jangan banyak bertemu dengan udara ataupun air dingin.”
Usai Apoteker, ia berjalan menujui dapur yang berada di ujung lain rumah kayu itu. Nenek tetap berbaring di atas kasur lipat, ia dapat melihat muka cucunya dari sisi kanan. Mereka berjinjit agar wajah mereka bisa terlihat melalui jendela—Wajah mereka yang amat ketakutan.
Pintu kembali terbuka, kali ini Apoteker terlihat lebih lega. Dia memberi tahu anak-anak bahwa kondisi nenek mereka tidak terlalu mengancam jiwa jika ditangani dengan baik, yaitu dengan selalu menjaga agar nenek tetap hangat.
“Ubah kantong penghangat setiap dua sampai tiga jam, tanyakan padanya apakah sudah terasa dingin.” Tangan Apoteker mengarah pada kantong yang baru saja ia tempatkan di jidat dan perut nenek.
Momo memegang tangan bocah beruban itu dengan erat. Tanpa berbasa basi lebih lanjut, ia bergegas ke sisi Nenek. Mengambil tangannya untuk membelai pipinya. Air mata yang mengering terasa di ujung jarinya.
“Oh Nenek... Semuanya akan baik-baik saja, ya.” Gadis kecil itu mencoba untuk tidak menangis, dan Nenek memegang erat genggam di tangannya.
Bocah berserai putih itu segera bergerak untuk mengikuti, tetapi sebuah cengkeraman yang tidak dikenal menahannya.
