Work Text:
Seoul, 2003.
Bukan pesta dansa besar yang mengundang setiap orang di kota, tetapi cukup mampu membuat suasana aula gedung menjadi ramai. Instrumen musik, dentingan gelas, derap langkah, percakapan para tamu, semuanya bersatu melawan kesunyian malam.
Lantai dansa itu dipenuhi pasangan berpenampilan elegan, pemuda berjas rapi bersama gadis bergaun indah, semuanya menari dengan anggun seolah melayang dibawa oleh iringan musik mewah.
Kandil modern yang tak lagi menopang lilin melainkan bohlam elektronik yang mengeluarkan sinar keemasan membantu menambahkan kesan mewah dalam pesta.
Sinarnya memantul dari gelas kaca yang berisikan anggur mahal di meja para tamu.
Yang di mana menjadi pemandangan menarik bagi Dohoon, alih-alih menonton atau pun bergabung dengan belasan tamu yang berdansa, ia malah termenung dengan mata yang meratapi gelas anggurnya.
Pikirannya terbagi antara kekosongan dan juga nikmatnya rasa anggur yang telah ia teguk itu. Yang paling mendominasi adalah rasa kosong.
"Bahkan di pesta seperti ini kau masih mengutamakan melamun."
Mata Dohoon ikuti pergerakan tiga orang pemuda yang entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul di hadapannya menarik tiga kursi kosong untuk ditempati.
"Aku mengantuk," ujar Dohoon asal. Sedikit banyak memang merasa mengantuk karena sedari tadi tidak melakukan apapun.
"Kenapa tidak ikut berdansa?" tanya Changmin yang suaranya tadi membuat lamunan Dohoon buyar.
Dohoon diam sebentar, sorot matanya menjelajah ruangan luas itu, lalu berhenti pada sekumpulan gadis yang sedang menikmati kue tingkat yang baru saja dipotong pelayan.
Tidak ada binar yang menari di balik hitam matanya, tanda bahwa ia sama sekali tidak tertarik dengan ide mengajak salah satu dari gadis-gadis di sana untuk berdansa.
Dohoon menggeleng pelan untuk jawab pertanyaan Changmin.
"Jawaban normal seorang Dohoon. Kenapa aku berharap lebih ya tadi..." Changmin ikut menggelengkan kepala, menyampaikan kekecewaan.
"Tidak ada yang memaksamu datang ke sini, Dohoon. Kau seharusnya sudah terlelap di kasurmu sekarang," celetuk Junsu menunjuk Dohoon dengan gelas anggurnya.
"Aku hanya ingin jadi bagian dari euforia, setidaknya memastikan diriku ada di foto kenang-kenangan nanti," kata Dohoon.
"Baiklah, tuan yang tidak mau ketinggalan."
Dohoon tersenyum tipis lalu ikut meneguk anggur bersamaan dengan Junsu. Kini ekor matanya melirik ke arah Yunho yang sedari tadi tidak berbicara.
Memang bukan tipikal yang senang basa-basi tetapi setidaknya akan bergabung ke dalam obrolan meskipun responnya kering.
Jadi Dohoon penasaran mengapa pemuda itu tidak bersuara, rupanya mata Yunho sendiri terkunci pada sesuatu yang jauh dari tempat duduk mereka. Yunho yang terlalu fokus itu membuat Dohoon tertarik mencari tahu apa yang menjadi fokus pemuda itu.
"Melihat apa?" tanya Dohoon.
Yunho, tanpa menoleh sedikitpun tahu kalau pernyataan itu ditujukan untuknya. "Jaejoong," jawabnya singkat.
"Oh."
Changmin dan Junsu ikut tertarik mengikuti arah pandangan Yunho, menangkap sosok Jaejoong yang sedang bercengkrama dengan beberapa orang di meja makan yang terletak di ujung ruangan.
"Bukan kah itu Hanjin?" tanya Junsu.
Ketiga pemuda lain ikut mengarahkan pandangan mereka ke pemuda lain yang sedang duduk tak jauh dari Jaejoong, menikmati kue dalam diam sendirian.
"Anak pendiam itu.. siapa yang menemaninya kemari?" tanya Changmin.
"Tampaknya dia sendiri, aku sama sekali belum pernah melihatnya bersama orang lain, sepertinya dia belum punya teman dekat," kata Junsu.
"Ajak saja dia duduk di sini," usul Yunho disambut gelengan kepala oleh Changmin.
"Aku rasa dia akan menolaknya," ujar Changmin yang tidak setuju itu. "Bukankah dia orang yang tertutup?"
"Dia orang yang ramah, Jaejoong pernah mengobrol singkat dengannya," jawab Yunho.
"Berarti ia hanya butuh waktu," kata Changmin menarik kesimpulan dari jawaban Yunho.
Sedangkan Dohoon tidak menimpali pembahasan teman-temannya itu karena matanya telah terkunci pada sumber topik mereka, pikirannya pun ikut terkunci.
Tiba-tiba kantuknya hilang, tatapan tanpa jiwa tadi tergantikan oleh tatapan dalam yang sedikit tajam. Dohoon menemukan sesuatu yang layak dapat perhatiannya di pesta ini selain pantulan cahaya dari gelas Anggur.
Hanjin.
Bukan orang asing untuknya, mungkin sudah ada belasan obrolan singkat yang mereka lakukan berdua. Menurut meteran Dohoon itu sudah banyak, sepertinya menurut meteran Hanjin juga.
Namun memang belasan obrolan itu belum cukup untuk membuat Dohoon percaya diri kalau ia tahu segalanya tentang Hanjin.
Baru ia arungi permukaan lautan Hanjin, dan memang untuk pertama kalinya dalam kehidupan yang monoton ini, Dohoon tertarik menyelam ke dasar laut seseorang.
———
Hanjin baru saja kembali dari toilet dan mendapati ada seseorang lain duduk di sebelah kursinya.
"Kim Dohoon," sapanya kepada orang itu sebelum mendudukkan diri.
Yang disapa langsung tersenyum. "Hanjin yang selalu sendirian," sapanya balik.
Hanjin mendengus sebal, faktanya memang ia sendirian di sini. Ia nekat datang ke pesta tanpa teman, dan sekarang ia hanya bisa jadi penonton kesibukan orang lain.
"Kenapa tidak bersama teman-temanmu?" tanya Hanjin.
"Mereka sibuk kesana-kemari, aku tidak ada energi mengikuti langkah mereka," jawab Dohoon.
Hanjin mengangguk paham lalu tangannya sibuk memainkan sendok kue di hadapannya, tidak jauh berbeda dengan Dohoon yang sedang memutar-mutar gelas anggurnya pelan.
Sedikit banyak Hanjin bertanya-tanya di dalam benak, mengapa Dohoon memilih kursi di sebelahnya di antara banyak kursi di aula luas ini.
Dirinya tidak begitu menyenangkan untuk diajak melepas bosan.
"Mau berdansa?"
"Denganmu?"
"Iya."
Di tengah aula sudah banyak yang berdansa mengikuti alunan musik yang tenang. Pemuda berjas bersama gadis bergaun, gadis bergaun bersama gadis bergaun, dan juga pemuda berjas bersama pemuda berjas.
Hanjin lalu menoleh ke arah Dohoon yang masih menunggu jawaban darinya.
"Aku tidak bisa dansa," ujar Hanjin agak malu.
"Aku yang tuntun," kata Dohoon.
Tangan pemuda itu lalu terulur kepada Hanjin, dan undangannya tak hanya sebatas uluran tangan tetapi juga senyum yang begitu hangat.
Hati Hanjin ikut menghangat dan akhirnya melelehkan ragu di sana. Uluran tangan itu pun diterima.
Mereka bangkit dari kursi lalu melangkah menuju tengah aula, berkumpul dengan yang lain untuk menyatu dalam alunan musik yang kini terdengar manis.
Hanjin meneguk ludah, canggung. Ia tidak berbohong saat bilang tak bisa berdansa, motoriknya tak bisa berteman dengan musik.
Dohoon merasakan canggung itu, ia tersenyum dan mulai menautkan tangannya pada tangan Hanjin, satu lagi bertengger pada pinggang yang tak ia sangka begitu ramping itu.
Kakinya melangkah mengikuti bagaimana musik berjalan, tenang layaknya aliran sungai di musim panas.
"Jangan malu, kau bisa melakukannya."
Dalam tunduknya, Hanjin menggigit bibir pelan. Matanya mengikuti pergerakan kaki Dohoon dan memastikan kakinya sendiri bisa bergerak selaras.
Tiba-tiba dagunya diangkat oleh telunjuk Dohoon, membuat mata mereka saling tatap sekarang.
"Hal yang paling penting saat berdansa itu tatapan mata."
"Aku takut kita terlihat bodoh karena diriku."
Hanjin rasakan pegangan Dohoon pada pinggangnya semakin dalam, ia ditarik mendekat. Dan itu membuat jantung Hanjin memompa semakin cepat.
"Kita punya lantai sendiri, mereka punya lantai sendiri. Tidak akan ada yang masuk ke lantai kita," kata Dohoon. "Jangan anggap musiknya sebagai pengatur, anggap sebagai teman," lanjutnya.
Kata-kata penenang itu memberikan nyaman untuk detak jantung dan hembusan napasnya, begitu juga tatapan mata yang memberikan aman.
Hanjin mengangguk kepada Dohoon, tubuhnya lebih rileks sekarang.
Jiwanya tenggelam pada suasana, berkat tatapan Dohoon yang semakin dalam, tak pernah sedikitpun pemuda itu melirik ke arah lain. Hanjin pun rasanya segan untuk memutus kontak mata mereka.
"Matamu cantik," puji Dohoon tiba-tiba.
"Terima kasih..." ucap Hanjin pelan.
"Seperti mata yang diberkati fortuna untuk memberi keberuntungan kepada siapapun yang menatapnya," lanjut Dohoon.
Kalimat itu langsung membuat Hanjin terkesiap, sebisa mungkin ia menyembunyikan raut terkejut. Jantungnya sudah mencelus.
Namun ia tetap mencoba memberikan senyum kepada Dohoon. "Terima kasih," ucapnya lagi.
Kembali pada tubuh mereka yang tidak berhenti berdansa. Hanjin baru sadar kalau musiknya terasa semakin romantis sekarang. Pasangan di sekitarnya menjadi lebih intim pada satu sama lain.
Dan sepertinya Dohoon juga ikut masuk dalam suasana romantis ini. Wajahnya mendekat pada wajah Hanjin dan tiba-tiba memberikan kecupan kupu-kupu pada bibir merah muda itu.
Mata Hanjin membulat, tentu saja terkejut.
"Ini bagian dari dansanya," ujar Dohoon santai.
Kalau saja Hanjin bisa ikut santai seperti Dohoon, tetapi setelah kecupan itu dadanya langsung dilanda rasa nyeri yang aneh. Yang mengingatkan Hanjin bahwa ia memang dilarang untuk melakukan itu.
Batinnya mulai gelisah.
Namun Dohoon yang terus menari itu menahannya untuk pergi. Hanjin coba abaikan nyeri dan terus menari.
"Besok kedainya buka?" tanya Dohoon.
"Iya," jawab Hanjin.
r&h
"Selamat menikmati~"
Satu cup es krim vanila telah berpindah tangan, Hanjin kembali pada kegiatannya mengelap etalase yang mulai buram karena debu.
Siang ini gelap dan gerimis, tidak banyak yang mau membeli es krim di cuaca kelam. Jadi Hanjin memanfaatkan suasana sepi ini untuk membersihkan setiap sudut kedai kecil itu.
Hanya ada dirinya sendiri, rekan kerjanya pun enggan masuk karena gelapnya cuaca.
"Hanjin yang selalu sendirian."
Hanjin menghela napas lalu menoleh ke asal suara yang sudah familiar di telinganya. "Kim Dohoon..."
Pemuda itu duduk di salah satu kursi pelanggan. "Satu es krim pistachio dengan cone yang paling renyah," pintanya.
Hanjin mengangguk dan berjalan untuk cuci tangan sebelum membuat pesanan Dohoon. Terhitung sejak kedainya dibuka empat jam lalu, Dohoon adalah pelanggan ketiga.
"Bilik fotonya juga sepi, ya?" tanya Hanjin sambil merapikan penampilan es krim yang akan ia sajikan.
"Iya, makanya aku kemari," jawab Dohoon yang memperhatikan kegiatan Hanjin.
Mereka bekerja di area yang sama, di kawasan pasar modern yang jadi tempat orang-orang berbelanja dan mencari hiburan.
Belasan obrolan singkat antara Dohoon dan Hanjin itu terjadi di saat-saat seperti ini, sekedar basa-basi dari dua orang yang saling kenal.
Dan ketika Dohoon bilang ia tertarik untuk mengetahui Hanjin lebih dalam, ia bersungguh-sungguh tentang itu.
Di sini lah dirinya, duduk di kursi yang kemarin-kemarin hanya bisa ia lirik sekilas.
Mumpung masih ada dua rekan kerjanya yang bisa ia andalkan untuk menjaga bilik foto, lagipula jarak antara kedai es krim dan bilik tokonya tidak sampai tujuh belas langkah.
Lalu satu es krim pistachio dengan cone yang paling renyah itu muncul tepat di depan mata Dohoon, dan sang pembuat es krim duduk di hadapannya.
Dohoon tak langsung menerimanya, ia hanya diam menatap Hanjin yang menunggu.
"Nanti es krimnya meleleh," omel Hanjin karena Dohoon tak kunjung mengambil es krim itu dari tangannya.
Alih-alih tangan yang bergerak, kepala Dohoon mulai maju kemudian melahap es krim itu dengan Hanjin yang masih memegangi.
Tidak ada kata-kata yang mampu keluar dari mulut Hanjin, matanya memperhatikan Dohoon dan tangannya tetap setia tidak menjatuhkan es krimnya.
Sempat terlintas di kepala Hanjin untuk menjahili Dohoon dengan mendorong es krim itu ke wajahnya, tetapi ia urungkan.
Dan peran Hanjin sebagai penopang es krim itu ternyata jadi cukup serius, tangannya bergerak menyesuaikan bagaimana kepala Dohoon bergerak. Terlihat seperti robot asisten yang sedang melayani tuannya.
Sampai akhirnya Hanjin agak kesusahan untuk menggerakkan tangan tanpa menumpahkan es krimnya, Dohoon pun menggenggam tangan Hanjin untuk menuntun geraknya.
Dua tangan Dohoon menggenggam tangannya, dua mata Dohoon juga kadang beradu tatap dengannya. Hanjin tidak tahu, tetapi rasanya pipinya memanas sekarang.
Hingga lahapan terakhir, Dohoon tetap menggenggam tangan Hanjin.
Hanjin yang melihat jejak es krim di bibir Dohoon itu langsung mengambil tisu dengan tangan kiri dan menghapus jejak itu, dengan Dohoon yang sama sekali belum melepaskan genggamannya, malah sekarang sambil dielus-elus.
"Aku takut ada cupid di sini memperhatikan kita," celetuk Hanjin.
Dohoon tiba-tiba tersedak dan batuk-batuk membuat Hanjin terkejut.
"Makan pelan-pelan!" omel Hanjin.
"Maaf," ucap Dohoon sambil menetralkan napas sendiri.
Dan dadanya menjadi nyeri, sebuah peringatan bahwa ada sesuatu yang salah dari Dohoon, dari perbuatannya.
Namun Dohoon tetap bersikap normal, walaupun kini telah melepaskan genggamannya pada tangan Hanjin. Ia tetap tersenyum manis kepada pemuda itu.
"Apa yang akan kau lakukan setelah kelulusan?" tanya Dohoon.
"Menjadi pegawai tetap di sini," jawab Hanjin. "Kau sendiri?" tanyanya balik.
"Sama."
"Berarti kita akan semakin sering bertemu."
"Bagaimana kalau kita terjebak pada satu sama lain?"
"Tidak buruk."
Dohoon tertawa kecil mendengar jawaban Hanjin. Menurutnya pun tidak akan seburuk itu, sebenarnya jauh dari kata buruk.
Untuk perasaannya.
Bukan untuk nasibnya.
r&h
Roman
Doanya dalam, menyebut nama penjaga langit berkali-kali. Kepalanya semakin menekan ke lantai, bersujud seperti esok hari ia tak akan melihat dunia lagi.
Kalau pun memang iya, Dohoon harap ia masih diberi kesempatan untuk menyentuh dia yang telah menariknya ke dalam pelanggaran ini.
Di doanya yang putus asa, Dohoon berharap penjaga langit masih sudi untuk merengkuh raga dan jiwa yang telah ia kotori dengan dosa.
Ia pikir tak akan terjerumus dalam apapun hawa nafsu manusia selama menjalani perintah langit ratusan tahun.
Ia tidak sekuat itu.
Pendiriannya lemah, tidak sejalan dengan kepercayaan dirinya. Ia jatuh dalam pelanggaran yang paling berat untuk ditinggalkan.
Hatinya telah mencintai seseorang. Hal yang ia kira paling mudah untuk dihindari, tetapi nyatanya menghampirinya tanpa ia duga.
Dan kini Dohoon tidak bisa lari dari perasaan cintanya begitu saja.
Mengapa konsep cinta harus dibuat seperti ini?
Mengapa ia harus merasakan nyeri di dadanya setiap kali menatap wajah itu?
Menjadi anak cupid tak membuatnya serta merta mengerti bagaimana cinta bekerja. Ia hanya tahu teori, ia hanya tahu untuk menyampaikan konsep cinta kepada manusia lain.
Ketika hal itu ia rasakan sendiri, ia bingung. Dohoon tidak mengerti bagaimana mudahnya kekosongan dalam hati itu diisi oleh seseorang yang datang hanya dengan senyum manis.
Dohoon bangkit dari sujudnya, menatap langit mendung dengan tatapan putus asa.
Sayapnya terbentang, sayap yang kini tak lagi sempurna. Setiap malaikat melanggar aturan langit, sayap mereka akan rontok sedikit demi sedikit.
Ketika pelanggaran mereka berat, sayap mereka akan hilang dan mereka tidak bisa kembali ke langit, menjadi manusia fana yang kelak akan singgah ke neraka untuk hukuman.
Dohoon raba sayap rusaknya perlahan. Pikirannya pun tak lagi murni seperti dirinya puluhan tahun lalu, sebagai laskar yang baru diutus ke bumi.
Hanjin, sosok itu mengisi pikirannya seperti tinta yang ingin menghancurkan putihnya kertas. Dan sekarang kertas itu telah penuh oleh coretan yang mustahil untuk dihapus.
Bagaimana Dohoon akan tidur malam ini mengetahui dirinya akan jadi kertas kotor yang menjadi sampah dan dibuang?
Sialnya, ia tidak pernah menolak tinta itu terus mencoret dirinya.
Seakan-akan Dohoon siap menjadi kertas yang dibuang.
Mungkin iya.
Mungkin rasa patuhnya telah dilengserkan perasaan tak karuan yang lebih bisa membuatnya mengerti tujuan.
———
Haven
Matanya lurus menatap lantai yang baru saja ia pel bersih, Hanjin duduk meringkuk di atas meja riasnya, bersandar pada dinding. Sesekali melirik ke arah cermin, memandangi dirinya sendiri.
Sendu.
Kamarnya tidak hening, radio di samping kasur menemani malamnya.
Namun sayang, tidak sampai ke jiwanya.
Rasa sepi itu tetap merayap dan mencemooh keadaannya sekarang.
Hanjin meringkuk semakin dalam, wajahnya menunduk dan tenggelam di lipatan lengannya. Sendunya mengantarkan kantuk, mata Hanjin terpejam.
Dan sekelebat bayangan wajah muncul tiba-tiba.
Yang saat ini jadi penyebab sendunya.
Dari sekian banyak dosa yang telah Hanjin lakukan semasa tugasnya di bumi, dosa ini rasanya paling mencekik.
Hanjin telah mencuri, berdusta, bahkan membunuh. Semuanya Hanjin lakukan dengan hati yang ringan, bahkan saat tubuhnya terasa sakit akibat hukuman langsung, Hanjin tetap bisa tersenyum.
Karena ia melakukan itu semua untuk memperoleh kebahagiaan manusia. Apapun caranya agar manusia bisa mendapat keberuntungan darinya, meskipun cara itu membuat sayapnya rontok.
Bahkan Hanjin sudah tidak peduli lagi kalau pun ia benar-benar tidak bisa kembali ke langit. Kakinya telah bersahabat dengan tanah bumi yang kasar, ia merelakan langit untuk senyum manusia.
Namun mencintai Dohoon menciptakan nyeri yang berbeda dalam tubuhnya.
Iya, Hanjin telah menumbuhkan rasa cinta kepada pemuda itu.
Bukan sekedar ilalang yang bisa dipatahkan dengan mudah, tetapi pohon besar yang akarnya mencengkram kuat di hatinya. Cengkeraman yang kerap menimbulkan sakit saking kuatnya.
Dan Hanjin memilih untuk tidak menebang pohon itu, walaupun benci rasa nyeri.
Sentuhan sekecil apapun yang diterimanya dari pemuda itu mampu membuat Hanjin lupakan semua sakit yang dirasa.
Kalau pun bekerja sebagai anestesi yang membuat tuannya tak sadar kalau sudah menanggung sakit sampai mati, Hanjin tidak akan lari.
Hanjin tidak mau berhenti.
Mencintai pemuda itu sampai mati.
Hanjin turun dari meja rias, melangkah menuju kasur dengan langkah tidak bergairah.
Radio yang sudah mengoceh dari sore itu diistirahatkan, esok sore harus mengoceh lagi untuk menemani tuannya yang selalu sendirian.
Sekarang Hanjin yang akan istirahat, kedai es krim itu masih membutuhkan perannya esok.
r&h
"Aku tidak melihat mu di bilik foto hari ini."
"Aku sedang tidak enak badan."
"Boleh ku jenguk?"
"..."
"Dohoon?"
"Boleh."
"Baiklah, aku ke sana setelah pulang kerja."
Dalam ruangan sunyi ini, bahkan suara napas yang halus pun terdengar seperti angin kencang. Dan juga suara gemertak gigi dari balik bibir yang mengatup, sedang mencoba berbicara meskipun belum menemukan kalimat tepat untuk jadi pembuka.
Mungkin tak harus berbicara lewat lisan, mungkin ada cara lain untuk menghubungkan isi hati mereka yang rumit itu.
Jarak dikikis, ranum manis bersentuhan tanpa aba-aba yang besar. Singkat namun getarannya melepaskan kupu-kupu dalam tubuh, terbang di antara hamparan bunga cinta yang melambai indah.
"Hanjin."
"Hm?"
Manik mata bertemu dalam suasana yang begitu putih, tak ada warna untuk menggambarkan perasaan apa yang dibawa dalam pertemuan mata ini.
Namun perlahan salah satu dari mereka membiru.
Tatapannya mulai bergetar, napasnya mulai tak tenang. Dohoon memeluk tubuh di hadapannya itu, menyampaikan pasrah terhadap takdir yang akan menemuinya nanti.
Wajahnya tenggelam begitu dalam pada bahu itu. Ingin sekali memaki di hadapan wajah cantiknya, menyalahkan wujud tanpa cela yang telah membangun dosa pada makhluk tak sempurna seperti dirinya.
Dohoon tidak pernah hilang arah, Hanjin tidak membuatnya tersesat. Dohoon sendiri yang mengabaikan setapak miliknya untuk menghampiri Hanjin.
Dohoon tahu arah kembali, ia hanya memilih untuk tidak ke sana.
Hal yang awalnya jadi sesuatu terlarang yang sangat ia hindari sekarang jadi sesuatu yang paling menggodanya.
Dohoon ingin jadi mereka yang durhaka.
"Namaku Roman."
Pengakuan itu disampaikan dengan wajah yang masih terbenam dan mata yang terpejam kuat. Rasa sakit apapun yang akan datang, Dohoon sudah siap menghadapinya.
Namun malah sentuhan hangat yang pertama kali punggungnya rasakan. Itu Hanjin yang membalas pelukannya dan memberi belaian lembut.
Ada damai yang dibawa belaian itu, yang langsung menenangkan detak jantungnya. Dohoon tertegun, ini bukan perasaan normal yang bisa ia dapatkan dari manusia biasa.
"Hai, Roman. Aku Haven."
Rotasi bumi berhenti, atmosfer bumi turun memberikan tekanan pada kepala dan dada Dohoon menciptakan nyeri sesaat setelah mendengar kalimat itu.
Wajahnya terangkat untuk tatap Hanjin yang kini tersenyum padanya.
"Sepertinya aku telah melakukan kesalahan," ujar Hanjin. "Maaf telah membawamu ke dalam dosa ini..."
Angin malam di musim dingin tak pernah terasa menusuk sedalam ini, tetapi redup mata yang pijarkan sendu itu langsung membuat lehernya seakan dirantai kawat tajam.
Sendu itu ciptakan hening berisi luka.
Meneguk ludah rasanya seperti meneguk pahit dunia. Kalau saja bisa membuat keadaan lebih baik.
"Maaf..."
Lirih suaranya menggetarkan napas, dalam suasana hati yang selaras, air mata mulai menitik dari matanya dengan deras.
Dohoon menangkup pipi Hanjin dengan kedua tangannya, kristal berbentuk air itu menyentuh kulitnya. Tangis Hanjin tak bersuara namun tak mengurangi lara.
Hanjin tidak pernah takut dosa, mungkin ia telah jadi malaikat paling dilaknat oleh langit.
Tangisnya saat ini karena fakta bahwa ia telah berbagi dosanya. Ia telah memberi noda kepada bersih, betapa egois dan jahat dirinya.
"Maaf telah mencintaimu," ucap Hanjin, tangannya mengelus tangan Dohoon yang masih berada di pipinya.
Adalah permintaan maaf yang menurut Dohoon tidak layak keluar dari ranum manis itu.
Mungkin mereka tak diberi hak untuk dicintai dan mencintai. Namun tak seharusnya kata maaf berdampingan dengan kata cinta.
"Aku juga pendosa, tarik kata maaf mu," ujar Dohoon.
Hanjin menggeleng. Tangan Dohoon dilepaskan dari pipi lalu jemarinya yang sedikit gemetar mulai membuka kancing kemeja putih itu satu persatu.
Ketika punggungnya sudah tak terhalang kain, sepasang sayap perlahan membentang dari sana.
Yang kini sudah tak berbentuk sayap lagi, melainkan kerangka tanpa bulu. Bergerak lemah di tengah udara, sudah tak mampu membawa tuannya terbang lagi.
"Aku telah jadi anak fortuna yang membawa sial kepada langit."
Anggap Dohoon telah dibuat gila, tetapi tidak sedikitpun matanya melihat keburukan di hadapannya ini. Ia tetap melihat Hanjin sebagai makhluk tanpa cela.
Tangannya memegangi kedua bahu ringkih itu, wajahnya mendekat kepada wajah yang masih menyimpan sendu.
Bibirnya menaruh kasih di sana, di bibir indah yang selalu ia rindukan sentuhannya.
Hanjin diam tidak ikut dalam harmoni yang sedang Dohoon mainkan, dadanya menghangat dan nyeri di saat yang bersamaan.
Hanjin tahu Dohoon juga merasakan hal yang sama sekarang.
"Aku tetap anak cupid yang memasangkan dua hati saling mengasihi."
Pandangannya jadi kabur, air mata kembali terbendung. Hanjin menerjang tubuh Dohoon dengan dekapan erat, ia curahkan tetes demi tetes pada bahu tegap itu.
"Aku tidak pernah suka rasa nyeri, Dohoon," isaknya.
Dohoon mengusap pinggang Hanjin dengan lembut, tidak menghiraukan bagaimana nyeri itu juga mencengkram dadanya. Walaupun rusuknya remuk, ia tetap akan memeluk tubuh itu seumur hidupnya.
"Aku mau menanggung semuanya, Hanjin," balasnya.
Hanjin menggeleng ribut, justru karena ia tidak suka jadi ia tidak mau ada orang lain merasakan hal yang sama. Tugasnya di bumi agar orang mendapatkan keberuntungan dan terhindar dari sakit.
Namun ia malah melakukan yang sebaliknya kepada Dohoon.
Dekapan dilepas, Hanjin mengusap wajahnya untuk hapus jejak air mata. "Kita harus berjauhan, kau masih punya kesempatan untuk dimaafkan."
Kedua alis Dohoon bertaut tak senang mendengar ide itu. "Aku tidak mau," katanya.
"Hidup kita sebagai malaikat itu kekal dan makmur. Kalau kita jadi manusia—"
"Aku bisa mencintaimu secara penuh."
"Roman..."
"Aku mau jatuh bersamamu, Haven."
Hanjin tetap menggeleng, ia menentang tekad Dohoon. Hanjin yakin bentuk paling besar cinta adalah melepaskan, jadi ia ingin Dohoon tetap dapat tempat yang lebih nyaman daripada dirinya.
"Jangan..." lirih Hanjin.
Dohoon menghela napas gusar. Dengan gerakan kasar, ia membuka kaus yang dikenakannya.
Sayap itu terbentang kasar, yang keadaannya tentu lebih baik daripada milik Hanjin meskipun tidak sesempurna saat pertama kali diciptakan.
Namun Hanjin tahu tidak butuh waktu lama lagi untuk sayap Dohoon akan jadi seperti sayapnya.
"Biarkan ini semua rontok untukmu," kata Dohoon sambil menggenggam tangan Hanjin.
Bisa apa Hanjin sekarang? Ruang kecil di tempat terdalam di hatinya menyimpan keegoisan, dan kini ruang itu kian membesar.
Dan ketika bibirnya kembali dikecup dan dicumbu perlahan, Hanjin tidak bisa pikirkan hal lain lagi. Hanya ada keinginan untuk menari di antara kupu-kupu bersama sang roman.
Meskipun dadanya kian nyeri.
Dan Dohoon pun saat ini hanya tahu bagaimana dirinya akan menghangat dalam belaian sang haven.
Begitulah kisah Roman dan Haven. Dua laskar titisan langit yang terjatuh dalam perasaan manis tak terdefinisi, yang mengantarkan mereka ke wilayah yang seharusnya tak mereka hampiri.
Yaitu cinta.
r&h
Dua pasang mata saling menatap tajam, tidak ada pergerakan sama sekali dari keduanya, suasana terlihat agak menegangkan.
Dohoon mencoba memajukan tubuh tanpa gerakan mencolok, ingin semakin memojokkan Hanjin pada sudut ruangan. Sedangkan Hanjin mengontrol napas agar gerakannya tetap tenang.
Dan ketika ia melihat celah untuk lolos, Hanjin langsung meloloskan diri dari terkaman predator liar tanpa baju itu.
"Jangan meremehkan tubuh kecil ini!" seru Hanjin berlari menuju ruang tengah, tak akan membiarkan dirinya tertangkap oleh Dohoon.
Hanjin memekik panik karena langkah Dohoon begitu lebar dan cepat, sirine merah menyala di kepalanya atas perasaan terancam ini.
"Larimu cepat juga," kata Dohoon.
Yang entah sebuah pujian atau sarkas karena saat ini dirinya sudah tinggal tiga langkah untuk meraih Hanjin.
Hanjin yang jadi tidak bisa berpikir jernih akhirnya berlari menuju kamar dan menjatuhkan diri ke atas kasur, tanda bahwa ia telah menyerah.
Pekikan disertai tawa langsung keluar ketika Dohoon datang untuk menerkam.
"Curang! Aku tidak hapal denah apartemen mu!" seru Hanjin mengomel sambil menghentikan tangan Dohoon yang terus menggelitik pinggangnya.
"Saat bermain di apartemen mu juga aku yang menang," balas Dohoon, kini tangannya masuk ke dalam kaus yang Hanjin kenakan.
"Karena apartemen ku sempit!" kata Hanjin masih tidak mau kalah.
"Baiklah, tuan yang tidak mau mengakui kekalahan."
"Dohoon!"
Hanjin menjambak pelan kepala Dohoon yang sedang meniup perutnya yang terekspos dengan kuat, ditiup hingga mengeluarkan bunyi seperti bunyi kentut dari sana. Yang menciptakan sensasi geli untuk Hanjin.
Tangan Dohoon bermain di karet celana dalam Hanjin, menggoda dengan gerakan hendak melepaskan fabrik itu dari tubuh sang tuan.
Tangan Hanjin langsung berpindah dari rambut Dohoon ke tangan Dohoon untuk menghentikan godaan itu.
Pakaian Hanjin saat ini memang hanya kaus pendek dan celana dalam, sedangkan Dohoon hanya memakai celana dari club bolaa favoritnya.
Akhirnya Dohoon berhenti dengan kegiatan menggoda itu karena Hanjin mulai merengek kepadanya, ia pun mensejajarkan wajahnya pada wajah si cantik.
Berawal dari satu kecupan lalu disusul hisapan lembut pada bibir bawah dan bibir atas, lidah mereka pun saling sapa. Setiap gerakan menimbulkan suara decakan basah.
Hanjin memeluk leher Dohoon semakin erat, meminta sang roman untuk mencumbu semakin dalam.
Tidak peduli bulir peluh pada kulit masing-masing, mereka ingin menyatu dalam cumbu.
Jarak menjadi sebuah hal yang tidak dikenali wujudnya. Kulit yang saling bergesekan itu menciptakan fraksi panas yang hinggap di dada, menjadikan napas mereka tak beraturan.
Dan mata terpejam keduanya saling hanyut dalam lenguhan pelan saling bersautan dan dekapan erat tanda tak ingin kehilangan.
Meskipun nyeri itu tidak berhenti hinggap di dalam dada, yang menahan mereka untuk lakukan lebih dari ini.
"Sakit?" tanya Dohoon.
Hanjin mengangguk pelan, jemarinya merapikan helaian rambut yang menutupi kening Dohoon.
"Besok kita akhiri sakit ini, ya?" bisik Dohoon dengan nada lembut.
Kembali Hanjin mengangguk tetapi kali ini dengan senyum hangat. Telapak tangannya menangkup pipi Dohoon, dibelainya sejenak sebelum kembali satukan bibir mereka.
Lalu bibir Dohoon merambat pada leher Hanjin, membubuhkan kecupan paling dalam, menghirup wangi sang haven lebih dalam.
Tangannya kembali masuk ke dalam kaus Hanjin, mengelus indahnya bentuk laskar keberuntungan itu. Sedangkan tangan Hanjin mengelus rambut laskar cintanya dengan begitu sayang.
Mereka tahu akan jadi anak yang paling durhaka terhadap langit, mereka siap menerima hukuman meskipun yang paling sakit.
Dipertemukan kepada satu sama lain pun sudah cukup untuk mereka bawa jadi memori indah, yang akan menutup pedih hukuman itu.
r&h
Cuaca sore itu tidak cukup menyenangkan untuk dinikmati, awan gelap berkumpul dan angin kencang berhembus. Semua orang memilih untuk berada di dalam rumah.
Dan ada dua yang memilih merasakan terpaan angin kencang itu di atas gedung tinggi.
"Sebentar lagi hujan," ujar Dohoon pada Hanjin yang sedang menopang wajah di tembok pembatas atap gedung, memperhatikan pemukiman jauh di bawah sana.
Hanjin menoleh dan mengangguk kecil. Matanya kembali pada pemandangan atap rumah-rumah orang, rasanya penasaran dengan apa yang terjadi di balik rumah-rumah itu.
Pasti sedang ada yang bersenang-senang, ada yang bersedih, ada yang ketakutan. Ada juga yang seperti dirinya saat ini, yang hatinya bergemuruh dan hampa secara bersamaan.
"Kalau kita dipertemukan kembali, apakah perasaan kita akan sama seperti ini?" tanya Hanjin.
"Kalau langit mengizinkan," jawab Dohoon. "Aku mau mencintaimu di setiap kehidupan," lanjutnya.
"Dan meskipun ingatan kita sirna, aku akan tetap bisa merasakan dirimu," tambah Hanjin sambil tersenyum, entah mengapa begitu percaya diri.
Sebenarnya tidak yakin mereka akan terlahir kembali menjadi manusia apalagi dipertemukan lagi pada satu sama lain dengan jalan hidup yang berbeda.
Namun harapan mereka membuka rasa percaya diri itu. Dalam bentuk apapun mereka dilahirkan kelak, akan ada cara untuk hati mereka bersatu.
"Bisa naik sendiri?" tanya Dohoon dibalas anggukan oleh Hanjin.
Meskipun sedikit kesusahan, Hanjin berhasil duduk di tembok penghalang itu dengan usahanya sendiri. Dan kini menunggu Dohoon menyusulnya.
Dohoon sendiri naik dengan mudah, duduk di samping Hanjin lalu menggenggam tangannya. Sekarang jantungnya berdebar tak karuan.
Bersamaan dengan itu, rintik hujan turun satu persatu membasahi kota yang sudah terlihat sepi. Sudah tidak ada terang dari langit lagi, suasananya lumayan suram.
Seperti suasana hati Dohoon dan Hanjin saat ini, tetapi sedang mereka coba hiraukan. Mereka ingin menganggap ini sesuatu yang menyenangkan.
"Aku tidak pernah menyesal mencintaimu," kata Hanjin, suaranya cukup keras agar tidak dikalahkan oleh gemuruh hujan.
"Mencintaimu adalah dosa terbaikku," balas Dohoon dengan suara yang sama kerasnya.
Keduanya sudah begitu basah. Hujan turun begitu deras, jatuh menghantam tanah dan lainnya.
Dan itu yang akan Dohoon dan Hanjin lakukan.
Mereka akan jatuh ke tanah bersama hujan.
Dohoon mempertemukan ranum basahnya dengan ranum basah Hanjin, lalu dengan tangan yang saling menggenggam erat keduanya meninggalkan tempat duduk mereka.
Menjatuhkan diri dari puncak gedung tinggi enam lantai itu.
Mata telah terpejam kuat dan siap untuk menerima rasa sakit saat menghantam tanah di bawah sana.
Namun sebelum sempat mendarat kencang, tubuh keduanya begitu saja lenyap. Bersamaan dengan jejak keberadaan mereka di bumi.
Mereka kembali ke langit sebagai roh baru dan tak akan ada yang mengingat keberadaan mereka selama ini. Mereka akan terlahir kembali sebagai manusia.
r&h
Seoul, 2023.
Tangannya mengusap-usap permukaan ranjang yang sedang ia duduki secara perlahan, ia akan tidur di sini selama beberapa waktu ke depan. Ia harap akan segera terbiasa dengan suasana baru ini.
Meskipun memang rencananya untuk hidup jauh dari kampung halaman, namun tetap tak menyangka hari ini akan benar-benar datang.
Semoga ia bisa bertahan.
Ia yakin orang-orang di sini akan murah hati dan bersedia membantunya sebagai pendatang baru.
Sedang tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampakkan dua pemuda dengan penampilan cukup sederhana namun tetap terlihat modis.
Kedua pemuda itu menatapnya dengan tatapan sedikit terkejut, yang merupakan reaksi normal saat pertama kali bertemu seseorang baru di dalam hunian.
"Halo, salam kenal..." Suaranya sedikit malu-malu tetapi tetap tidak lupa untuk membungkuk hormat kepada dua pemuda itu.
"Oh, hai. Kau yang dari Tiongkok itu, ya?" tanya pemuda yang lebih kecil dan berambut kecoklatan.
"Benar, aku datang dari Tiongkok."
"Perkenalkan namaku Lee Kyungmin"
"Salam kenal, Kyungmin. Mohon bantuan untuk ke depannya."
Yang namanya Kyungmin itu tersenyum dan mengangguk. Lalu perhatian berpindah kepada pemuda di sebelahnya.
Perawakan lebih tinggi dengan rambut hitam legam, wajahnya lebih tegas daripada Kyungmin. Matanya memperhatikan dari atas ke bawah, entah apa yang sedang dicari.
"Namaku Kim Dohoon."
"Hai, Dohoon. Aku Han Zhen, tapi kalian bisa memanggilku Hanjin."
Lalu seperti ada angin dingin yang berhembus pada wajah dua orang itu, yang langsung membuat mereka terpana sejenak karena perasaan merinding yang melanda.
"Baiklah, Hanjin. Kau akan berbagi kamar ini dengan kami berdua," ujar Kyungmin yang tetap santai karena tidak mengalami apa yang dua orang itu rasakan.
Hanjin mengangguk dan perlahan tersenyum, "terima kasih, Kyungmin."
"Aku mandi dulu sebentar," pamit Kyungmin, ia menyimpan tasnya sejenak lalu meninggalkan kamar.
Dohoon yang sedari tadi mematung itu seketika sadar dan langsung menghampiri Kyungmin yang sedang berjalan menuju dapur terlebih dahulu untuk minum air dingin dari kulkas.
Hanjin menatap kepergian dua pemuda tadi dengan perasaan hampa, tidak ada euforia yang singgah di hatinya sehabis berkenalan dengan teman baru.
Sesuatu tentang Dohoon baru saja membuat ruang kosong di dadanya dan sekarang rasanya nyeri. Apa karena tatapannya terlihat tidak enak?
Hanjin termenung. Mungkin ini hanya tentang impresi pertama, mungkin ia hanya deg-degan karena ekspresi dingin dari Dohoon.
Bukan rasa familiar yang tidak seharusnya muncul untuk orang baru, bukan rindu.
Sementara itu di dapur.
"Ternyata itu Hanjin yang sering diceritakan pelatih kita, lebih tampan dari bayanganku. Kalau dia debut pasti akan langsung jadi wajah grup kita. Tapi bahasanya masih terdengar kaku, sepertinya kita harus membantunya agar cepat lancar," kata Kyungmin panjang lebar.
Dan Dohoon sama sekali tidak menyimak apapun perkataan Kyungmin. Sedang dilanda dilema yang datang mendadak.
Mengapa tadi dadanya nyeri saat melihat wajah dan mendengar nama pendatang Tiongkok itu?
Dohoon rasa terlalu lelah berlatih bukan alasan, enam tahun dirinya dengan kegiatan ini tidak pernah sekalipun merasakan hal yang tadi muncul secara tiba-tiba.
"Hyung," panggil Kyungmin melihat Dohoon yang melamun di depan wastafel.
Dohoon langsung tersadar kembali, "iya, kenapa?"
"Kenapa melamun?" tanya Kyungmin.
"Bukan apa-apa," jawab Dohoon. "Menurutmu siapa yang lebih tampan? Aku atau Hanjin?" lanjutnya.
Kyungmin berdecih dengan senyum menahan tawa, tidak menyangka malah ditanya pertanyaan semacam ini. "Ya... tentu saja Dohoon hyung," jawabnya.
Dohoon mengangguk bangga sambil menepuk bahu Kyungmin. "Cepat mandi sana, aku juga mau mandi," titahnya.
"Iya iya..." jawab Kyungmin, botol air dingin yang sudah ia teguk isinya itu ditaruh kembali ke dalam kulkas. Kakinya pun melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Dohoon.
Dan kini Dohoon bergerak kembali ke kamar di mana Hanjin berada.
Perasaannya tak tenang, rasanya ingin mengetahui Hanjin lebih dalam. Rasanya perlu menyelam dalam lautan bernama Hanjin itu.
