Actions

Work Header

The Venom and the Viper's Rewind

Summary:

Dinginnya lantai Shrieking Shack dan taring Nagini adalah hal terakhir yang Severus Snape ingat sebelum kegelapan merenggutnya. Dia mati membawa sejuta penyesalan: gagal melindungi Harry, putra dari Lily, sosok Alpha yang sudah ia anggap seperti kakak perempuannya sendiri dan gagal bersanding dengan Regulus Black, Alpha Dominan yang memegang hatinya.

Namun, takdir memberikan kesempatan kedua. Severus terbangun di tubuh remajanya, kembali ke koridor Hogwarts. Dia tahu bahaya yang menanti, termasuk trauma masa lalu yang hampir menghancurkan batin dan fisiknya. Kali ini, Severus menolak menjadi korban. Jika dunia mengira seorang Submissive Omega ditakdirkan untuk tunduk dan hancur, maka Severus Tobias Snape akan membuktikan betapa mematikannya racun yang tersimpan di balik ketundukan itu.

Notes:

Halo semuanya! Ini adalah fiksi Regulus/Severus pertama saya dengan bumbu Omegaverse dan Time Travel. Di kanon, Severus selalu digambarkan menderita, jadi di sini saya ingin memberinya kekuatan penuh untuk membalas dendam dan melindungi orang-orang yang dia cintai. Peringatan untuk penyebutan trauma fisik masa lalu di bab-bab awal. Selamat membaca!

Chapter 1: Darah, Penyesalan, dan Awal yang Baru

Chapter Text

Rasa sakit itu tidak datang berupa ledakan, melainkan tarikan dingin yang lambat, seperti air es yang merayap masuk ke dalam urat nadi.

Di atas lantai kayu Shrieking Shack yang berdebu dan membusuk, Severus Snape terengah-engah. Setiap embusan napasnya menghasilkan suara serak yang mengerikan, tercampur dengan darah yang menyembur dari robekan lebar di lehernya. Sihir tebasan Lord Voldemort begitu bersih, begitu tak kenal ampun—sebuah eksekusi yang dijatuhkan bukan karena kebencian, melainkan karena kalkulasi dingin seorang monster yang keliru meyakini bahwa kematian Severus akan menyerahkan silsilah kepemilikan Tongkat Elder kepadanya.

Dan kemudian, ada Nagini.

Ular raksasa itu mendesis di sudut remang-remang, taringnya masih meneteskan bisa yang kini tengah membakar jaringan tubuh Severus dari dalam. Racun itu melumpuhkan sarafnya, menghancurkan sisa-sisa sihir penyembuhan yang coba dikerahkan oleh instingnya.

Ah... jadi begini rasanya mati, pikir Severus. Pandangannya yang sehitam malam mulai memudar, tepiannya mengabur menjadi abu-abu yang menjemukan.

Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai penyesalan yang mengamuk di dalam dadanya. Sebagai seorang Submissive Omega, insting alaminya yang paling dasar—yang selama puluhan tahun ini dia tekan, dia kunci, dan dia sembunyikan di balik topeng sinis seorang Master Ramuan—kini berontak dengan jeritan yang memilukan.

Dia telah gagal.

Dia gagal melindungi Harry. Bocah laki-laki berambut berantakan dengan mata hijau yang teramat mirip dengan ibunya. Lily. Pikiran tentang Lily Evans membuat dada Severus semakin sesak. Di dunia yang keras ini, di mana dinamika gender sekunder sering kali menentukan kasta seseorang, Lily adalah seorang Alpha wanita yang luar biasa. Dia kuat, dia protektif, dan yang paling penting, Lily tidak pernah memandang Severus dengan tatapan menjijikkan seperti kebanyakan Alpha lainnya. Lily menganggap Severus sebagai saudaranya, melindunginya di tahun-tahun awal mereka di Hogwarts ketika Severus masih menjadi Omega kecil yang kurus, miskin, dan ketakutan. Lily menyerahkan kepercayaan terbesarnya kepada Severus untuk menjaga putranya—dan sekarang, Severus sekarat di lantai yang kotor, meninggalkan Harry sendirian di tengah medan perang untuk menghadapi takdir sebagai babi pembantaian.

Maafkan aku, Lily... Aku gagal menjadi kakak yang bisa kau andalkan...

Dan di balik bayang-bayang wajah Lily, muncul satu sosok lagi yang membuat sisa-sisa jiwa Severus hancur berkeping-keping.

Regulus.

Regulus Black. Seorang Alpha Dominan yang aroma tubuhnya—paduan antara kayu cedar setelah hujan dan mint yang tajam—pernah menjadi satu-satunya alasan mengapa Severus tidak mengakhiri hidupnya sendiri saat tanda kegelapan pertama kali dicap di lengannya. Regulus adalah rahasia terlarang Severus. Pemuda berambut gelap dengan tatapan mata abu-abu yang melankolis namun tajam, yang tewas sendirian di dalam gua dingin yang dipenuhi Inferi, meminum racun demi menjatuhkan sang Pangeran Kegelapan.

Sebagai seorang Omega, Severus seharusnya mendampingi Alpha-nya. Dia seharusnya menyembuhkan luka Regulus, menenangkannya saat heat dan rut melanda, dan berdiri di sisinya. Namun, kepengecutan, ketakutan, dan kepatuhan butanya pada Voldemort telah membuat Severus memalingkan wajah. Dia membiarkan Regulus tenggelam dalam kegelapan sendirian.

Jika saja aku lebih kuat... Jika saja aku tidak bersembunyi...

Darah berhenti mengalir deras, bertransformasi menjadi aliran lambat yang mengering. Suara pertempuran di luar kastil Hogwarts terdengar samar, seperti gema dari dunia lain. Air mata—bukan air mata biasa, melainkan untaian memori yang keperakan dan berkilau—mengalir dari sudut matanya saat sepasang mata hijau Harry Potter menatapnya untuk terakhir kali.

"Ambil... ini..." bisik Severus, menyerahkan seluruh sisa hidupnya dalam bentuk ingatan kepada putra Lily.

Ketika mata hijau itu menjauh, kegelapan benar-benar menelan Severus Tobias Snape. Jiwanya ditarik ke dalam kehampaan yang sunyi, tempat di mana tidak ada rasa sakit, tidak ada perang, dan tidak ada lagi aroma pheromone yang menindas.

Dia siap untuk diadili. Dia siap untuk membusuk di neraka.

HUK!

Severus tersentak hebat. Paru-parunya mendadak mengembang dengan paksa, menghirup udara dingin dalam volume yang begitu besar hingga dadanya terasa seperti dihantam palu gada. Dia terbatuk-batuk, tubuhnya menekuk ke samping, instingnya langsung memerintahkan tangannya untuk mencengkeram lehernya sendiri.

Dia mencari luka robek. Dia mencari aliran darah yang hangat dan lengket. Dia mencari sisa-sisa racun Nagini yang membakar urat nadinya.

Namun, yang dia rasakan hanyalah kulit yang halus, utuh, dan dingin karena keringat malam.

"Uhuk! Uhuk...!"

Severus memejamkan mata erat-erat, meremas lehernya hingga memerah. Napasnya memburu, tidak teratur. Aroma kepanikan yang pekat—aroma herbal pahit yang hangus—mulai memenuhi udara di sekitarnya. Itu adalah aroma pheromone miliknya sendiri ketika berada dalam kondisi bahaya ekstrem.

"Tenang... tenang, Severus..." bisiknya pada diri sendiri, suaranya terdengar... berbeda. Lebih tinggi, kurang serak, dan tidak memiliki berat dari keputusasaan seorang pria berusia tiga puluh delapan tahun yang telah melalui dua perang besar.

Perlahan, Severus membuka matanya. Pandangannya tidak kabur oleh kabut kematian. Alih-alih langit-langit pondok yang runtuh dan berlubang, dia menatap langit-langit batu berkubah yang sangat dikenalnya. Lengkungan arsitektur Gotik, tirai-tirai tebal berwarna hijau zamrud dan perak, serta gemericik air yang samar dari balik dinding batu.

Ini adalah asrama Slytherin. Asrama bawah tanah Hogwarts.

Severus langsung menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa pusing yang mendera kegiatannya yang tiba-tiba. Dia menatap tangannya. Tangan itu kurus, pucat, dengan noda tinta di jari telunjuknya, namun kulitnya kencang dan bebas dari bekas luka bakar mantra yang dia dapatkan selama tahun-tahunnya sebagai Pelahap Maut. Jubah tidur yang dikenakannya terasa sedikit longgar di tubuhnya yang belum sepenuhnya berkembang.

Dengan tangan gemetar, dia meraih tongkat sihir yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Tongkat kayu hitam sepanjang 13,5 inci. Bukan Tongkat Elder, melainkan tongkat aslinya yang telah menemaninya sejak usia sebelas tahun.

Dia mengayunkan tongkat itu dengan gemetar ke arah kalender sihir yang tergantung di dinding dekat lemari pakaiannya.

Tempus.

Huruf-huruf perak menyala di udara, membentuk formasi angka yang membuat jantung Severus berhenti berdetak sesaat.

17 Mei 1976.

Severus terjatuh kembali ke atas kasurnya, kasur empuk yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak dia rasakan sejak dia menjadi Kepala Sekolah Hogwarts. Pikirannya berputar dengan kecepatan yang menakutkan.

1976. Aku berumur enam belas tahun. Tahun kelima.

Takdir, dengan segala humor gelapnya, telah melemparkannya kembali ke masa lalu. Dia diberikan kesempatan kedua yang selalu dia tangisi di saat-saat terakhirnya. Dia bisa menyelamatkan Lily dari ramalan sialan itu. Dia bisa menghentikan Regulus sebelum pemuda itu mengambil tanda kegelapan.

Namun, kegembiraan yang baru saja mekar di dadanya mendadak layu, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang belakangnya. Rasa takut yang begitu primitif menyerang insting Omega-nya.

Tahun kelima. 1976.

Ini adalah tahun di mana "lelucon" para Marauders mencapai titik paling biadab mereka. Severus memeluk perutnya sendiri secara instingtif, tubuhnya mulai bergetar hebat saat memori traumatis dari garis waktu aslinya membanjiri benaknya seperti air bah.

Di tahun ini, dalam salah satu penyergapan di dekat Danau Hitam setelah ujian OWL, James Potter, Sirius Black, dan Peter Pettigrew—ditonton oleh separuh populasi sekolah—tidak hanya menggantungnya terbalik di udara dan menelanjanginya. Ketika Lily pergi setelah pertengkaran hebat mereka—pertengkaran di mana Severus, dalam kepanikan dan penghinaan total sebagai Omega, meneriakkan kata "Darah Lumpur"—para Alpha Gryffindor itu tidak berhenti.

Mereka membawanya ke tempat terpencil. Sirius Black, dengan senyum arogan dan kebencian murni terhadap kaum Slytherin, melepaskan sihir kutukan pemotong yang dimodifikasi. Sasarannya bukan leher atau dada, melainkan perut bagian bawah Severus. Mereka ingin "memberi pelajaran" pada Omega Slytherin yang berani menatap mata para Alpha Dominan Gryffindor dengan dagu terangkat.

Sihir hitam itu merobek bagian dalam tubuhnya, menghancurkan rahim Omega-nya (submissive womb) hingga hancur berantakan. Madam Pomfrey berhasil menyelamatkan nyawanya, tetapi tidak dengan organ reproduksinya. Sejak hari itu, Severus dinyatakan mandul, cacat, dan setiap bulan dia harus menahan rasa sakit luar biasa seolah-olah perutnya dicabik-cabik dari dalam akibat siklus heat yang rusak. Trauma fisik dan mental itulah yang akhirnya mendorong Severus jatuh sepenuhnya ke pelukan Pelahap Maut, mencari kekuatan untuk membalas dendam.

"Tidak... tidak lagi..." Severus meremas seprai kasurnya hingga kukunya memutih. Napasnya kembali memburu. Keringat dingin membasahi punggungnya.

Kenangan akan rasa sakit saat rahimnya robek, rasa malu saat dipamerkan seperti binatang buruan, dan rasa sepi yang mencekik selama bertahun-tahun... semuanya kembali dengan kekuatan penuh. Dia ketakutan. Jiwa pria dewasa di dalam tubuh remaja ini berteriak untuk melarikan diri, untuk menyembunyikan status Omega-nya di balik ramuan penekan (suppressants) dosis tinggi dan aroma buatan yang hambar, persis seperti yang dia lakukan dulu.

Tapi jika aku melakukan hal yang sama, hasilnya akan sama, sebuah suara dingin di dalam kepalanya menyela.

Severus menarik napas dalam-dalam, menahan aroma herbal pahitnya sendiri, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Dia memejamkan mata, memanggil seluruh kekuatan mental Occlumency yang telah dia asah selama puluhan tahun di bawah tekanan Voldemort. Perlahan tapi pasti, dia membangun kembali dinding-dinding pertahanan di dalam pikirannya. Ketakutan, kepanikan, dan trauma masa lalu dipilah, dikunci di dalam kotak besi paling bawah di istana pikirannya.

Ketika dia membuka matanya kembali, ketakutan itu telah digantikan oleh kilatan hitam yang dingin dan mematikan.

Dia bukan lagi Severus Snape remaja yang naif, miskin, dan rapuh. Dia adalah seorang pria yang telah melihat akhir dari dunia, seorang Master Ramuan yang bisa meracik kematian dalam satu tetes cairan, dan seorang penyihir yang sihir tak-berkatanya (non-verbal magic) bisa memotong malam.

"Kalian mengira Submissive Omega adalah makhluk yang lemah?" bisik Severus pada kegelapan kamar asrama. Suaranya kini terdengar tenang, dipenuhi dengan racun yang siap disemprotkan. "Kalian mengira kami diciptakan hanya untuk tunduk, dihancurkan, dan merangkak di bawah kaki kalian?"

Severus menegakkan punggungnya, duduk tegak di tempat tidur dengan keanggunan yang tidak pernah dimiliki oleh remaja usia enam belas tahun mana pun di abad ini.

"Mulai detik ini... tidak akan ada yang bisa menyentuhku. Tidak Potter, tidak Black, tidak siapa pun. Jika mereka menginginkan perang, aku akan memberi mereka kehancuran."

Pagi hari di bawah tanah Slytherin selalu dimulai dengan hawa dingin yang menusuk. Namun, bagi Severus, hawa dingin ini adalah sekutu.

Dia berdiri di depan cermin besar di kamar mandinya. Menatap pantulan dirinya yang berusia enam belas tahun. Rambut hitamnya yang sebahu tampak agak lepek—kebiasaan lama akibat terlalu lama berada di depan kuali—tetapi matanya berbeda. Mata itu tidak lagi memiliki tatapan gelisah atau defensif dari seorang remaja yang merasa terbuang. Mata hitam itu sedalam sumur tanpa dasar, tenang dan penuh perhitungan.

Severus mengambil sisir, merapikan rambutnya dengan cermat, memastikan wajahnya terlihat jelas. Dia mengenakan kemeja putihnya, mengancingkannya hingga ke leher, lalu memasang dasi hijau-perak Slytherin dengan simpul yang sempurna. Jubah sekolahnya dia rapikan dengan mantra pembersih tingkat tinggi yang baru akan ditemukan sepuluh tahun dari sekarang.

Dan kemudian, dia membuat keputusan paling krusial.

Di masa lalu, Severus selalu meminum ramuan penekan aroma (scent-blockers) secara berlebihan untuk menyembunyikan statusnya sebagai Submissive Omega. Dia takut aroma manis atau lembutnya akan memancing perhatian para Alpha predator atau membuat dirinya terlihat lemah di hadapan sesama Slytherin yang haus kekuasaan.

Hari ini, Severus tidak menyentuh botol penekan itu sama sekali.

Alih-alih menyembunyikannya, Severus memejamkan mata dan fokus pada inti sihir serta kelenjar pheromone di leher dan pergelangan tangannya. Sebagai seorang penyihir dewasa yang kembali ke tubuh muda, kendali sihirnya jauh melampaui apa yang bisa dibayangkan oleh penyihir seusianya. Dia melonggarkan ikatan energinya, membiarkan aroma aslinya keluar bebas.

Aroma seorang Submissive Omega yang matang dan murni mulai menguar. Itu adalah wewangian yang rumit—aroma dasar esensi lily of the valley yang lembut, dibalut dengan kehangatan vanilla dan aroma mint segar yang entah bagaimana melekat di jiwanya karena Regulus. Namun, Severus tidak membiarkan aroma itu menjadi umpan yang manis. Dia menyuntikkan tekanan magis dari sihir hitamnya sendiri ke dalam wewangian tersebut.

Hasilnya adalah aroma yang mematikan. Wangi yang luar biasa memikat, namun di saat yang sama memancarkan aura bahaya yang membuat siapa pun yang menghirupnya secara insting akan merasa terintimidasi, seolah-olah mereka sedang mendekati bunga beracun yang indah namun siap mencabut nyawa.

"Sempurna," desis Severus kecil.

Dia memutar tubuhnya, meraih tas sekolahnya, dan melangkah keluar dari asrama. Jubah hitamnya berkibar megah di belakangnya, menciptakan siluet seperti kelelawar malam yang agung saat dia menyusuri koridor batu menuju Great Hall.

Suasana di Great Hall pagi itu seperti biasanya: penuh dengan kebisingan remaja, dentingan garpu dan piring perak, serta burung-burung hantu yang sesekali terbang melintas membawa surat.

Di meja Gryffindor, James Potter sedang tertawa keras sambil melempar sebutir anggur ke udara, mencoba menangkapnya dengan mulut, sementara Sirius Black duduk di sebelahnya dengan gaya arogan yang khas, menyugar rambut gelapnya yang bergelombang. Aroma Alpha mereka berdua menguar dengan bebas—aroma kayu manis yang membakar dari James dan aroma kulit serta asap rokok yang tajam dari Sirius—menegaskan dominasi mereka atas wilayah Gryffindor.

Di dekat mereka, Lily Evans sedang membaca buku mantra dengan kening berkerut. Sebagai seorang Alpha wanita, kehadiran Lily selalu dihormati; wewangian pinus dan madu miliknya menenangkan, namun memiliki ketegasan yang membuat para Alpha laki-laki berpikir dua kali untuk mengganggunya.

Tiba-tiba, pintu besar Great Hall terbuka.

Keheningan tidak terjadi secara instan, melainkan merambat seperti ombak. Dimulai dari para siswa yang duduk paling dekat dengan pintu, lalu menyebar ke seluruh ruangan hingga dalam waktu kurang dari satu menit, hampir seluruh Great Hall mendadak sunyi senyap.

Severus Snape melangkah masuk.

Perubahan fisiknya mungkin tidak drastis, tetapi cara dia membawa dirinya telah berubah total. Tidak ada lagi langkah kaki yang diseret, tidak ada lagi kepala yang tertunduk, tidak ada lagi tangan yang meremas jubah dengan gugup. Severus berjalan dengan punggung tegak lurus, setiap langkahnya konstan dan berirama, memancarkan keanggunan aristokratis yang biasanya hanya dimiliki oleh murni-darah (pureblood) papan atas.

Namun, yang membuat semua orang—terutama para Alpha dan Beta—terpaku di tempat adalah gelombang pheromone yang dibawanya.

Aroma Submissive Omega yang begitu pekat, begitu murni, dan begitu memikat memenuhi udara. Itu adalah aroma yang seharusnya membuat para Alpha merasa protektif atau bergairah. Namun, bercampur dengan aura sihir Severus yang dingin dan mengancam, wewangian itu justru menekan dada mereka. Beberapa Alpha tahun pertama di meja Hufflepuff dan Ravenclaw secara refleks memegang leher mereka, merasa sesak napas oleh dominasi yang dipancarkan oleh seorang Omega yang seharusnya berada di kasta bawah.

"Demi Merlin... apakah itu Snape?" bisik salah seorang siswa Gryffindor, memecah kesunyian dengan suara gemetar.

James Potter menghentikan tawanya. Anggur yang dilemparnya jatuh ke lantai begitu saja. Matanya menyipit, insting Alpha-nya langsung waspada dan merasa terancam oleh kehadiran baru ini. Di sebelahnya, Sirius Black menatap Severus dengan kerutan dalam di dahinya. Ekspresi mengejek yang biasanya terpasang di wajah tampannya perlahan luntur, digantikan oleh rasa bingung dan terusik yang mendalam. Aroma kulit dan asap miliknya bergolak, mencoba melawan tekanan yang dibawa Severus, namun sia-sia.

Lily Evans mendongak dari bukunya. Mata hijaunya melebar melihat sahabatnya. Sebagai seorang Alpha yang mengenal Severus sejak kecil, dia bisa merasakan perubahan drastis ini. Namun, alih-alih merasa terancam, senyum bangga dan lega perlahan terukir di bibir Lily. Dia tahu Severus selalu menderita karena statusnya, dan melihat pria itu akhirnya berdiri tegak dengan kekuatannya sendiri membuat insting protektif Lily merasa puas.

Severus tidak memandang ke arah meja Gryffindor sedikit pun. Pandangannya lurus, dingin, dan terarah sepenuhnya ke meja Slytherin.

Di sana, duduk Regulus Black.

Pemuda berusia lima belas tahun itu sedang memegang cangkir teh porselennya di dekat bibir ketika Severus masuk. Saat aroma Severus mencapai indra penciumannya, tangan Regulus membeku di udara. Mata abu-abunya yang biasanya tenang dan dingin kini melebar, memancarkan keterkejutan yang murni diikuti oleh kilatan ketertarikan yang begitu intens hingga pupil matanya melebar.

Aroma Alpha Dominan milik Regulus—kayu cedar setelah hujan dan mint—yang biasanya terkendali dengan ketat, tiba-tiba melonjak keluar dari tubuhnya seperti ombak yang pecah di tebing. Aroma itu bergolak liar di udara, merespons secara langsung dan agresif terhadap aroma manis-mematikan milik Severus. Di sekitarnya, beberapa siswa Slytherin bergeser menjauh, tidak tahan dengan tekanan dari dua kekuatan yang saling mengunci di udara.

Severus berjalan menyusuri celah di antara meja-meja, mengabaikan ratusan pasang mata yang menatapnya dengan berbagai kombinasi keterkejutan, ketakutan, dan gairah. Dia melangkah langsung menuju tempat di mana Regulus duduk.

Setiap langkah mendekati Regulus membuat detak jantung Severus berdenyut lebih kencang, namun dia tidak membiarkan topeng ketenangannya retak. Rasa bersalah dari masa depan, bayangan kematian Regulus di gua dingin itu, semuanya dia kunci rapat di balik dinding Occlumency. Yang tersisa di sini, saat ini, adalah tekad untuk tidak melepaskannya lagi.

Severus berhenti tepat di depan Regulus. Perbedaan tinggi badan mereka tidak terlalu kentara karena Severus berdiri tegak, menatap langsung ke dalam manik mata abu-abu sang Alpha Dominan.

"Boleh aku duduk di sini, Black?" tanya Severus.

Suaranya tidak lagi terdengar seperti gumaman rendah yang sinis. Suara itu halus, jernih, mengalir dengan nada bariton yang kaya, namun di balik kelembutan itu ada gema sihir yang begitu kuat hingga tidak menyisakan ruang untuk penolakan.

Regulus menatapnya selama beberapa detik yang terasa abadi. Teh di cangkirnya sudah mendingin, namun fokus pemuda itu tidak beralih sedikit pun dari wajah Severus. Seringai tipis—sebuah senyuman langka yang hanya ditunjukkan Regulus ketika dia menemukan sesuatu yang benar-benar berharga—perlahan muncul di wajah tampannya.

Dia meletakkan cangkir tehnya dengan anggun, lalu menggeser duduknya, menyisakan ruang yang cukup luas di sebelahnya.

"Tentu saja, Snape," jawab Regulus, suaranya rendah, serak oleh gelombang insting Alpha yang menuntut kepemilikan, namun penuh dengan rasa hormat yang mendalam. "Tempat ini selalu terbuka untukmu."

Severus duduk di samping Regulus. Saat jubah mereka bersentuhan, Severus bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh sang Alpha Dominan. Aroma kayu cedar dan mint milik Regulus langsung menyelimutinya bagai mantel pelindung, bercampur dengan aroma lily dan vanilla milik Severus, menciptakan harmoni wewangian yang begitu kuat hingga mengklaim area sekitar mereka sebagai wilayah terlarang bagi siapa pun.

Dari meja Gryffindor, Sirius Black mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kukunya menusuk telapak tangan, melihat adiknya sendiri bersanding begitu serasi dengan Omega yang selalu dia anggap sebagai sampah. Sementara James Potter hanya bisa menatap dengan rahang yang mengeras, menyadari bahwa mangsa yang biasa mereka buru kini telah berubah menjadi predator yang tidak bisa lagi mereka sentuh.

Severus mengambil teko teh, menuangkannya ke dalam cangkir kosong di depannya dengan tangan yang sangat stabil. Ketakutan akan trauma masa lalu, bayangan rahimnya yang robek, dan kepedihan dari kematian... semuanya terbakar habis oleh api baru di dalam dadanya.

Dia telah kembali. Dia memiliki Regulus di sisinya. Dan kali ini, dunia sihir akan berlutut di hadapan seorang Submissive Omega.