Actions

Work Header

Temennya kucingku ternyata mantuku

Summary:

Namanya Neo, kucing putihku yang udah kupelihara sejak dia masih gumpalan bulu keujanan di bawah motor.

Akhir-akhir ini tiba-tiba dia berhenti jadi kucing introvert. Ternyata udah punya temen nongki.

Kirain sih begitu....

Notes:

Written from POV pemiliknya Neo.

Yes it's basically mpreg fiction of cats

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Neo

Chapter Text

Kucingku namanya Neo. Dia cuma kucing pungut tapi bossy dan anak rumahan banget. To be honest, he won't even survive a day in a wild yk.

Tapi entah kenapa, dua hari terakhir ini Neo rewel banget. Seharian muter-muter depan pintu rumah sambil ngeong-ngeong.

Masa minta keluar sih? Biasanya denger suara knalpot aja langsung kabur masuk kamar? 

Neo kembali mengeong kencang saat melihatku lewat dari dapur, gesturnya memintaku untuk segera membuka pintu, memberikan dia kebebasan untuk menyapa dunia luar.

'Yaudah deh sesekali biarin keluar' batinku sambil membuka pintu. Neo langsung loncat keluar meninggalkan rumah.

Yah khawatir dikit sih, tapi dia pasti ga berani jauh-jauh. Makan aja mesti ditemenin, gimana cerita dia mau nyari makan sendiri di luar? 



₊˚⊹♡ ᓚ₍ ^. .^₎

 

Benar terkaanku siang tadi. Neo pulang setelah luntang-lantung entah kemana sampai malam. Datang-datang dia mengeong minta makan, sambil menyundulkan kepalanya pada betisku.  

"Sini meng" panggilku, membuka klip penutup plastik makanan Neo dan menuangkannya pada piring birunya. Neo segera berjalan mendekat, makan dengan lahap. 

Kulihat ekor putihnya yang berhenti bergoyang manja, ini dia abis nyebur got kah? kenapa item-item gini?

Bulu putih tubuhnya juga dipenuhi corak abu-abu pasir jalanan, duh ini sih mesti dimandiin.

"MRRAWWRGHHH" 

"SABARRR siapa suruh pulang-pulang kotor gini" 

Setelah sesi Neo tantrum dimandiin, kukasih dia makan batch 2 berupa sekaleng tuna untuk kucing. Nah gini ini kalau dikasi makan setelah ngambek dia baru mulai anteng dikit.

Saat aku ingin pergi untuk membuang kaleng bekas makanan tadi, Neo kembali menyundulkan kepalanya pada betisku. 

"Makananmu tu lho belom abis" 

Neo mengeong dan meletakkan paw pinknya pada kakiku, setelahnya ia baru kembali memakan tuna pada piring. Biasa sih ini, Neo tidak pernah mau ditinggal. 

"Sok imut banget sii" ujarku sambil mengelus lembut bulu putihnya yang sudah bersih dan memberikan tubuh wangi sabunnya cium cium kecil, Neo mengeong protes. 


༘˚⋆𐙚。⋆𖦹.✧˚

 

Kukira dia akan kapok kalau setiap keluar dan kembali dengan bulu penuh pasir selalu berakhir kumandikan, ternyata tidak.

Sudah hari kedelapan sejak ia bolak balik minta keluar dan sudah tujuh hari berturut-turut dia pulang dalam keadaan penuh debu sehingga berakhir kumandikan.

Hari ini meong meongnya lebih kencang, Neo sampai berdiri loncat-loncat, berusaha membuka pintu

"Kenapa sih Neo? Udah deh rewelnya" 

Seakan mengerti apa yang kubicarakan, dia mengeong lebih kencang. Kubawa langkahku mendekat, ternyata ada suara kucing lain di depan pintu. 

Penasaran, kucubit belakang leher neo sebelum membuka pintu. Saat pintu terbuka, kulihat 3 kucing lain di depan rumah, ketiganya berjejer rapih seakan datang bertamu. 

Satu kucing memiliki berbulu tebal warna coklat legam dengan mata kuning, satu kucing berbulu hitam dengan mata hijau tua ( sejujurnya aku baru tahu ada kucing yang matanya hijau tua), dan satu lagi kucing berbulu hitam kecoklatan dengan bulu yang... unik? Bulunya tidak sepanjang kucing pertama tapi tidak sependek si kucing hitam bahkan ada sedikit bagian pitak di kepalanya, kucing gaya rambut mullet kah ini? warna matanya juga coklat. Kucing jaman sekarang unik-unik ya.

Neo kembali mengeong dan berusaha melepaskan diri. Tak sengaja aku melepaskan cubitan pada belakang lehernya, ia langsung berbaur dengan kucing kucing tersebut 

"Haremnya kah ini?" Pikirku sebelum berdiri dan mengitari keempatnya yang kini asik menjilati bulu satu sama lain

Lah cowo semua? Biasanya kucing cowo ktemu cowo berantem?

"Temen nongki kamu Neo?" tanyaku, berjongkok di belakang Neo. Sementara Neo masih menikmati dijilat-jilat kucing hitam dan kucing berbulu tebal itu, kucing berbulu unik tadi mendekatiku, menyundulkan kepalanya ke tanganku. 

Saat diberikan elusan, dia langsung duduk dan mengangkat kepalanya. Oh ini minta digarukin lehernya kah? pikirku. Kucing unik tersebut langsung mendengkur lembut, gapapa deh, imut. 

Tak lama si kucing berbulu hitam ikut mendekatiku, menyundulkan kepalanya pada si bulu unik, yang dibalas jilatan kecil pada pipi si kucing hitam. Setelahnya ia baru mendekati tanganku, nampaknya juga minta disayang-sayang.

Eh lucu banget jujur

Neo tiba tiba berjalan mendekat, lebih tepatnya melewatiku dan masuk rumah, ketiga kucing lain mengikutinya. Wah udah sok die, tiba tiba jadi ketua geng.

Kutinggal sejenak ke dapur untuk mematikan masakan, Neo sudah merebahkan tubuhnya di pojok ruangan, diikuti ketiga kucing tadi. Sekarang mereka tertidur sambil bertumpuk-tumpuk di pojokan.

Menurutku kucing-kucing ini behave sih, kubicarakan saja lah mereka di dalam rumah asal tidak mengacak-ngacak. 


ᶻ 𝗓 𐰁 .ᐟ

 

Sudah sebulan lebih sejak Neo pertama kali rewel meminta keluar rumah. Kucing-kucing random ini sekarang jadi pengunjung harian juga, untung mereka tidak rewel sama jenis catfood yang kukasih, bisa boncos kalo mereka serewel Neo yang maunya cuma makan cat choize ato royal canin.

Tapi lama lama, tetep boncos sih 

Sebetulnya kucing-kucing ini tidak datang setiap hari, mereka juga tidak makan banyak. Tapi Neo akhir akhir ini sangat rewel, demanding dikasih makan 6-7 Kali sehari. Stok makanan sebulan dia habiskan dalam 2 minggu dan perutnya membesar

"Kayaknya kamu gendutan deh Neo" ucapku sambil menepuk-nepuk perutnya. Neo hanya mengalihkan pandangan, tidak mau menatapku bahkan menggoyangkan ekornya tanda tidak suka. 

"Noh liat ni perut kayak abis nelen melon" ujarku, mengangkat tubuhnya dan meletakkannya seperti berbaring pada pahaku, saat kupegang perutnya yang membulat tersebut, aku baru menyadari suatu hal.

Lah sejak kapan putingnya Neo segede ini? 

Neo mengeong protes dan berusaha melepaskan diri, mungkin ia tidak nyaman dipegang seperti ini. Begitu kulepaskan, dia langsung membalik badan kemudian pergi meninggalkanku. 

"Apa bukan cuma gendutan?" pikirku heran. 


𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟

 

"MRRRAWWRR"

"Kak! Tolong dibantu pegang kaki belakang mengnya!" 

Saat ini aku ada di dokter hewan, memegang bagian tubuh depan Neo yang sedang diterbalikkan seperti manusia rebahan, sementara seorang asisten memegang bagian tubuh Neo yang lain agar Neo bisa di-USG 

Melihat dietnya gagal (karena aku tidak tegak melihat neo mengeong terusmenerus meminta makan) dan perutnya yang tidak kunjung mengempes, aku memutuskan untuk membawanya konsul.

Akhir-akhir ini Neo juga terlihat lebih gelisah, kesulitan bernafas, lemas, dan bolak-balik berusaha menjilati area perut bawahnya. Aku khawatir, takutnya ia mengalami penyakit serius. Aku tidak mau kehilangan kucing putihku yang sudah kurawat sejak ia hanya gumpalan bulu. 

"Neo kenapa ya dok?" Tanyaku akhirnya, sedari tadi dokter hewan belum menyampaikan ada apa selama membaca tampilan abu-putih pada layar.

"Kak ini kucingnya hamil, tapi bayinya banyak jadi susah keluarnya" 

Hah

"Kita observasi dulu satu jam ya, sambil dicoba dibantu dari luar. Kalau tidak bisa apakah tidak apa-apa kalau kita sesar aja kucingnya?" 

"Hah? gimana dok?" Tanyaku bingung 

"Ini kak, liat bulet bulet nih? bayi ini, coba kita itung ada 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7. Makanya susah keluarnya, kucingnya belum pernah lahiran kan?" 

"Eh kucing saya cowo dok" 

"Iya kelihatannya gitu ya, saya juga tadi ngira ini tumor. Tapi coba denger deh kak, ada detak jantungnya, bukan cuma suara aliran darah" jawab dokter hewan tersebut sambil meningkatkan volume suara USG, membuatku bisa mendengar suara denyut jantung yang begitu cepat. 

"Bagaimana kak? Apakah tidak apa-apa kalau disesar misalnya kita gagal menginduksi bayinya keluar?" 

Aduh dilema, perlu makan indomie berapa bulan ya. 

"Gapapa deh dok, tapi kira kira abis berapa juta ya" ringisku kecil 

Dokter tersebut terseyum miring, mungkin mengerti kekhawatiranku. "Kalau pemulihannya cepat, harganya akan lebih murah. Mohon maaf karena kami juga perlu biaya untuk operasional rawat inapnya" 

"Baik dok..."


≽(◉˕ ◉ ≼マ

 

Melihat kaki kecilnya dipasangi infus membuatku merasa sangat sedih. Neo mengeong lemas, menyundulkan kepalanya pada tanganku yang sedang mengelusnya lembut 

"Cepet sembuh- eh lahiran? yaa :((" 

Neo mengeong, tiba-tiba berhenti menyundulkan kepalanya dan beralih duduk sambil menjilati perut besarnya. Walau tak lama, ia kembali ke posisi tiduran menyamping. Dapat kudengar nafasnya yang terengah, aduh aku takut kucingku mati. 

"Dok! Ini kayaknya Neo gakuat deh!" 

"Waduh iya juga, kalau gitu kita bawa ke ruang operasi sekarang ya" 

Beberapa asisten dipanggil masuk ke ruangan, Neo diangkat ke atas... troli besi? dan dibawa pergi. 

"Tunggu di depan ya kak, akan kami informasikan segera kalau sudah selesai" 

Aku hanya mengangguk, bakal lama ya? Mungkin abis ini pulang dulu ngambil laptop buat kerja, pasti bakal agak boncos sih, tapi gapapa lah buat kucingku ini.

⊹ ࣪ ˖⏱ ୭˚. ᵎ

 

Ternyata tidak begitu lama. Baru terhitung sekitar dua puluh menit sejak aku pulang dan kembali lagi ke klinik hewan ini, namaku sudah dipanggil. Aku berjalan mendekati asisten yang memanggilku, mengikutinya yang mengajakku masuk untuk melihat Neo dan anak-anaknya. 

Dalam sebuah kandang hewan besar, Neo dan anak-anaknya diletakkan di atas helai-helai selimut lembut. Kulihat anak-anaknya yang memiliki warna-warni dominan putih-gelap, cuma satu yang sekilas memiliki bulu putih seperti Neo, itupun warna ekornya ada coklat-coklatnya. 

"Ini boleh dipegang?" 

"Mungkin kalau induknya mau tidak apa-apa, coba saja dulu. Tapi anaknya jangan dipegang ya kak, nanti induknya tidak kenal" 

Perlahan kumasukkan tangan lewat pintu kandang, mengelus pucuk kepala Neo perlahan. Kasian dia melet-melet dengan nafas yang berat, pasti capek.

"Kak ini nanti kucingnya masih kami infus ya, kayaknya dehidrasi soalnya tadi cukup lama berdarahnya" 

"Aa- iya gapapa, makasih ya" 

Kulihat Neo mulai menyundulkan kepalanya ke tanganku, walaupun tidak lama karena dia kembali meletakkan kepalanya pada helai selimut, sesekali menjilati anaknya yang berada di dekat mukanya. 

Aduh nambah deh pengeluaran ngurus anak-anak kucing, padahal kemaren udah sengaja melihara kucing jantan biar ga nambah lagi 

"Gapapa deh, sehat-sehat ya Neo" ujarku pasrah, semoga setelah ini gaji UMR itu bisa berubah jadi dua digit buat mengurus cucu cucu baruku. 

 

♫⋆。♪ ₊˚♬ ゚.

 

Neo emang anak baik. Tidak sampai dua hari, dia sudah diperbolehkan pulang. Setidaknya membantu meringankan hatiku yang sudah khawatir tidak bisa membayar prosedur dan perawatannya selama di klinik. 

Selama perjalanan pulang aku sedikit khawatir, pastinya karena Neo dan 7 anaknya dipaksa harus bertumpuk di dalam carrier kecil. Untungnya Neo tidak banyak rewel, walaupun setiap guncangan membuat anak-anaknya mengeong kecil, membuatku ingin segera sampai rumah. 

"Sorry sorry, sebentar ya..." 

Akhirnya sampai juga kita di rumah. Setelah memarkirkan motor, carrier langsung kubawa turun, dan kubuka di kamar. 

"Tunggu sebentar ya" 

Sebetulnya aku sama sekali tidak punya kandang ataupun tempat yang proper untuk mengurus kucing. Disinilah kreativitasku diuji, aku harus bisa mengubah kardus lama menjadi tempat yang nyaman bagi mereka.



𖡼.𖤣𖥧 𖠿 𖡼.𖤣𖥧


Setelah mendapatkan kardus yang cukup besar, aku memasukkan baju-baju bekas ke dalamnya. 

Kubawa kardus tersebut ke kamar, hanya untuk tidak menemukan Neo dan anak-anaknya di dalam carrier

"Neo kamu kemana?" Aku langsung mencari ke semua sudut, mulai dari kolong kasur sampai ke luar jendela walaupun jendelaku tertutup rapat. 

Kubuka lemari, baru sadar kalau pintunya yang tidak tertutup sempurna ini memungkinkan badan ramping Neo membawa anak-anaknya masuk. 

"NEOO JANGAN DIMASUKIN LEMARI! Kamu juga baru selese operasi udah tengil aja loncat-loncat! Turun!" 

Neo terperanjat kaget, tapi bukan kucingku kalau setiap disalahin mau nurut. 

Neo mengeong lemah, pura-pura lemas saat kuangkat tubuhnya dari  lemari section kedua tersebut. 

"Masih sakit?" 

Dia hanya menjawab dengan kembali mengeong lemah, aku jadi tidak tega. 

"Yaudah deh, tapi aku alasin dulu kali ya biar mama ga marah..." Jawabku pasrah, mungkin aku harus merelakan beberapa bajuku untuk berakhir bau kucing.


/ᐠ. 。.ᐟ\ᵐᵉᵒʷˎˊ˗


"Tania, buang sampahhh" 

"Iyaa maaahh" 

Kubuka pintu dengan  dua kresek kantung hitam besar di tangan. Tamu pertama yang kutemui adalah kucing bulu tebal warna coklat legam dengan mata kuningnya yang menatapku. 

"Mau apa kamu? Neo lagi sakit" Ucapku sambil menutup pintu, berusaha mengusirnya. 

Setelah membuang sampah, kulihat dua kucing lainnya. Kali ini bukan hanya si kucing coklat yang menunggu di depan rumah, tetapi juga si kucing hitam dan kucing yang bulunya unik tersebut. 

"Mau apa kalian? pulang hush hush" Ujarku sambil menghalangi mereka untuk masuk rumah. "Curiga aku kalian ya yang ngehamilin Neo" 

Ketiga kucing itu serempak mengeong bersahut-sahutan, tetapi pintu sudah aku tutup. Bodoamat lah. 

Aku kembali pergi ke dapur, membantu mamah.

 

^. .^₎⟆

 

"MASUK DARIMANA KALIAN HAHHH!?!?" 

Kedua kucing tersebut terlonjak kaget, bahkan si kucing hitam langsung jatoh dari lemari tempat Neo dan anak-anaknya berada. 1, 2, 3, nah lengkap. 

"Keluar semua!" ujarku mengangkat sapu lidi, menyepaknya ke lantai sampai mereka bertiga lari ngibrit ke depan dan kubukakan pintu. 

"Ganggu ketenangan banget sih huft!" 

Aku kembali ke kamar, menengok ke arah Neo dan anak-anaknya di dalam lemari, memberikannya elusan lembut. 

"Kenapa sih mereka insisting banget ketemu kamu?" 

Neo hanya mengeong lembut, gemas aku jadinya. 

Tiba-tiba suara berat makhluk berbulu terjatuh terdengar, kutengok ke samping, si kucing berbulu hitam baru saja mendarat turun dari jendela, diikuti si kucing berbulu coklat. 

"KELUAR KALIAN!" 

 

⤷ ゛ 𝓕𝒊𝓷  ˎˊ˗