Actions

Work Header

to wish you can understand her better

Summary:

A cliche misunderstand story of Scara and his childhood friend

Notes:

so this is basically the very first Fics i wrote myself and at first it's only meant for my school assigntment. and fun fact, believe me or not it's also the one which won me a national writing competition. nevertheless,hope you guys enjoy it!!!

Work Text:

Memang betul kata orang, Hari apes tidak ada di dalam kalender. Aku berlari terengah-engah sembari sesekali mencuri pandang pada ponsel ku, sudah hampir pukul tujuh kurang dua puluh menit sedangkan aku masih beberapa puluh, tidak. Ratusan Langkah dari sekolah. Keringat dingin membasahi dahi ku membayangkan hukuman apa yang akan diberikan oleh satpam terkiller se BSD City, Pak Narji. Eughh, mendengar Namanya saja sudah cukup bikin perut terasa mulas.

Long story short, Aku pun tiba di depan gerbang Harapan Kita School tepat pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aneh,gerbang masih terbuka walau sudah lewat lima menit dari waktu masuk, aku masuk sembari was-was akan sekitar dan benar saja.

Langkah kaki yang tidak asing terdengar dari belakang disertai koran yang dipukul pelan kearah telapak tangan. Aku membeku ditempat sadar bahwa tamat lah sudah riwayat ku hari itu, aku perlahan memutar kepala ku ke sumber suara dan seperti yang diharapkan,atau malah sayangnya, Berdiri pria kisaran awal empat puluhan lengkap dengan seragam satpam yang template dan kumis khasnya yang terkenal seantero Harapan Kita School. Aku menyeringai lemah sembari tertawa tipis berlagak seperti maling yang tertangkap basah ditengah aksinya, “ehehe bapak, kumisnya makin rapih aja nih diliat-liat.” Kata ku dengan nada pasrah.

Alis pak narji makin mengkerut dan matanya yang melotot seakan-akan melihat jauh kedalam jiwa ku membuatku tidak berdaya, kaki ku terasa lemas dan meski sembari tersenyum tipis aku dalam sunyi menerima “takdir” yang hendak menimpaku. “Jelena Oktaviani, Betul?.” Tanyanya dengan tegas, aku menelan ludah dan mengangguk perlahan mengiyakan panggilannya. “h-hadir pak.” Jawabku dengan lemas.

Dan entah mengapa, mungkin tertolong oleh predikatku sebagai murid teladan beliau hanya menghela nafas dan mengarahkan tangannya yang menggenggam buku yang dilipat kearah lapangan. “kamu, dihukum hormat bendera sampai istirahat pertama, oke?.” Bincangnya dengan tegas.

“s-siap pak.” Jawabku dengan gugup, syukurlah beliau tidak mengeluarkan skill ultimatenya pada hari ini.

Aku berjalan perlahan kearah lapangan yang di tunjuk oleh pak narji, sepanjang jalan aku bergumam sendiri dalam pikiranku. Bisa-bisanya murid teladan terbaik tiada tara best of the best ketauan telat, INI MUKA MAU DITARO DIMANA?!.

Langkah ku terhenti beberapa Langkah dari lapangan, disana aku melihat sosok yang tidak asing. Rambut ubur-ubur berwarna indigo, eyeliner merah yang samar-samar terlihat dari jauh, tidak salah lagi.

“SHANKARA KUNI KELANA!” teriakku dengan seluruh nafas sembari berlari kearah pria bersurai indigo tersebut dengan kedua tangan terangkat penuh kegembiraan.

Teriakanku ternyata cukup untuk membuat beberapa murid disana menengok kearahku keheranan, dan tentu, pemuda yang biasa kupanggil rara atau scara. Scara berdecak lidah melihat kelakuan sahabat kandungnya sendiri, jika itu bukan Jelena atau yang biasa dia panggil Leena sudah pasti ditempeleng olehnya.

Murid-murid yang lain berusaha menahan tawanya dari tingkah laku kami berdua dan banyak yang gagal menahan tawanya walau Sebagian hanya menggelengkan kepalanya dengan keheranan sebelum tatapan tajam scara seolah menertibtan mereka.

“Shit men, kok lu bisa-bisanya telat sih.” Tanyaku sambal menyundul bahunya

Scara mendecak lagi sembari menyeringai khas dirinya “minimal jadi orang tuh ngaca.” Jawabnya dengan singkat

“lah, gue mah udah cakep, ngapain ngaca lagi.” Celetuk ku sembari menjulurkan lidah mengejeknya.

Sontoloyo, nih bocah ngapa tiba-tiba jadi tengil?.

“serah lu deh, lagian tumbenan lu telat sekolah. Gue tebak pasti lu ngedrakor lagi kan?.” Tanyanya dengan nada mengejek.

“pfftt, sorry ye, gue lagi gak mood ngedrakor semalem.” Tepis ku. “gue sibuk ngurus coffeshop gue semalem, pulang-pulang setengah satu langsung tepar.” Sambungku sambal menghela nafas berat

Memang sih leena ini punya usaha coffeshop yang lumayan rame sejagat ASK—Anak Sekolah Kere. Dimana lagi coba coffeshop yang jualan paket Vanilla latte plus dua biji pain au raisins Cuma tiga puluh lima ribu, terus juga vibesnya yang cozy-cozy gitu ditambah juga WiFi yang kenceng gokil dijamin mythic glory cuman seupil. Lah ngapa jadi promosi ya?.

Scara menghela nafasnya sembari terkekeh-kekeh “iya deh iya, Ibu owner pasti sibuk banget ngurus warkopnya yang kebanjiran bocah sekolah kismin buat mabar di kafe nya.”

“Sontoloyo, lu juga ye. Dateng pesen air mineral terus ngegas Battlefield ampe kafe mau tutup.” Balas ku sambal menginjak sepatunya Rara.

Scara tertawa menghadapi reaksi sahabatnya itu, ekspresi wajahnya hanya berubah menjadi makin tengil tiap respon yang diberikan oleh Leena.

“pfftt ya maap, tau sendiri lah WiFi rumah gue lemotnya kaya apa.” Balasnya

“yeuu,, basi alesan lo.” Jawab ku

Kami saling bertukar tawa dan ejekan paling tidak sebelum kepala kami disabet dari belakang oleh pak narji yang ternyata mengawasi kami berdua dari tadi.

“jangan ribut!, mau saya tambah hukumannya hah?!” Ucapnya dengan nada tegas khas Pak narji lengkap,  alisnya yang seolah hendak lepas dari dahinya akibat terlalu sering dikerutkan dan mata melototnya yang bahkan cukup untuk membubarkan anak-anak tawuran sekalipun.

Aku dan Scara meringis kesakitan sambil mengusap area bekas landasan buku IPA yang digulung oleh pak Narji, Meski begitu kami berdua mengangguk sambal tertawa kecil menertawakan kekonyolan pagi ini.

“siap pak.” Jawab kami serentak. Pak Narji yang masih melototi kami dari tadi yang bahkan kami pun belum mellihatnya berkedip sama sekali.

Waktu berlalu dan bel tanda pulang sudah berbunyi, dan sewajarnya anak sekolahan semua menyambut dengan gembira bel pulang itu tidak terkecuali diriku yang masih sibuk dengan alur novel yang sedang ku tulis. Teman-teman sekelasku perlahan menghilang satu persatu menyisakanku dan beberapa circle perempuan yang pada akhirnya pergi meninggalkanku seorang diri, Aku memang berniat menghabiskan waktu lebih lama disekolah karena aku merasa lebih termotivasi untuk menyelesaikan novelku, paling tidak itu yang kupikirkan.

Mataku tertuju pada layar Ipad ku dengan sembari sesekali mencuri pandang kearah jendela, Sinar oranye mulai merasuki ruangan kelas dan samar-samar masih terdengar suara anak-anak sekolah yang masih bermain disekitar area sekolahan. Tiba-tiba,pintu kelasku berderit sebelum sosok yang kukenal masuk kedalam kelas menghampiriku, Rambut Indigonya terhembus pelan bersamaan dengan wajahnya yang menatap kearahku.

“Anteng bener nongkrong dikelas, mentang mentang WiFi nya lebih kenceng daripada di kafe lo itu.” Ucapnya dengan nada yang tengil. Ia menghampiriku dan berdiri tepat didepan mejaku, matanya tertuju pada layar Ipad ku dan sembari menahan seringainya yang hendak memenuhi bibirnya itu. “But religion play such a big role here yeah?, Ibu aja marah apalagi tuhan...” Ia membaca potongan tulisanku dan entah kesambet apa dia melebih-lebihkan nada ucapannya dan tentu tidak lupa ditambah dengan ketengilan khas dari seorang Scara.

Aku menatapnya dengan sedikit kesal dan sembari menggulingkan mataku kepadanya. “Please jangan di puitisin gitu deh. Lu gak mungkin ketularan Kazuha si anak sastra itu kan?.” Balasku dengan nada tak tertarik

Si pemilik surai indigo tersebut kembali menyeringai sembari menggelengkan kepalanya “pfftt, mana mungkin gue ketularan tuh anak.” Ucapnya.

“lah, kan lu berdua satu circle, pasti lama-lama nular dong”

“lagian, itu circle gak ada nama lain apa?, gaya amat Namanya six riz gitu.” Tambah ku

Si mata indigo hanya tertawa kecil mendengar jawaban sahabatnya itu, ia menarik bangku yang berada di meja sebelah leena dan duduk disana sembari menghela nafas.

“Au ah, yang namain bang Aether sama Heizou bukan gua ini.” Ucapnya dengan santai dan agak meremehkan.

Mendengar nama heizou sontak membuatku nyaris tertawa lepas.

“pffttt, heizou yang cangcutnya dimaling itu bukan?.”

Mendengar  temannya itu sontak membuat Scara tertawa terbahak-bahak, ia menggelengkan kepalanya heran akan keasbunan Leena.

“lah, gue kira cuman geng-gengan gue aja yang tau.” Jawabnya sembari mencoba mengatur nafasnya.

“justru, kan gue follow twitter lu pada.” Sambungku dengan senyum menyeringai.

“iya juga ya, dia kan follow akun kita-kita di twitter.” Pikir scara.

Jari ku berhenti berlari diatas layar Ipad ku bersamaan dengan punggungku yang bersandar lebih nyaman kearah bangku ku, aku menengok perlahan kearah pria berambut indigo tersebut dan menatapnya dimata.

“btw, tumben amat lu nyamperin gue, jangan bilang lu kangen sama sohib lu yang drop dead gorgeous ini.” Ucapku dengan nada mengejek dan sedikit menyombongkan diri sendiri.

Mendengar ucapan tersebut scara hanya tertawa kecil sambil memutar matanya. “lah,cepet juga ketauannya.” Ucapnya bersamaan dengan sudut bibirnya yang naik sebelah.

“canda elah, gue mau ngajak lu night ride lagi kek biasa.” Tambahnya dengan santai

“night ride? Lagi? Tumben.” Balasku dengan keheranan karena sejujurnya belum lama ini kami terakhir night ride.

“eummm boleh deh, tapi agak maleman dikit ngga apa apa ya. Gue ada les Bahasa jerman dulu soalnya.” Aku membalasnya sambil merapikan ipad ku.

“santai aja kali, kayak lagi sama siapa aja.” Celetuknya. seperti biasa, scara selalu punya cara untuk menjadi sedikit tengil Ketika sedang bersamaku.

“ngomong lagi gue jamin ini ipad terbang ke mulut lo.” Ancam ku sambil memegang ipad berlagak ingin melemparnya, lidahku menjulur keluar dengan niat mengejek dirinya.

Tawa scara sekali lagi terdengar melihat reaksi dari kawan lamanya itu. “iya iya maaf, lagian lo keliatannya demen banget digituin.” Godanya.

Aku yang sudah kewalahan dengan tingkahnya hanya bisa menghela nafas dalam-dalam, tanganku yang menggenggam ipad turun perlahan. Aku ambil tasku dan memasukkannya kedalam sana bersamaan dengan semua perlengkapanku yang ada dimeja itu.

“serah lo deh.” Gumamku dengan sedikit kesal, aku berdiri dan memasukkan bangku yang barusan aku duduki kedalam meja. Mataku sekali lagi menatap wajahnya. “lo mau nginep disini apa gimana?.” Tanyaku dengan nada sarkas.

Mengetahui maksudnya scara hanya tertawa kecil sembari mengangguk pelan dan perlahan berdiri. “iya iya, kayak lagi ngomong ke anak kecil aja.” Balasnya dengan penuh candaan.

“emang, lama juga lo sadarnya.” Celetukku masih dengan nada sarkas namun ada sedikit nada bercanda didalamnya.

Scara tidak menjawab lebih lanjut dan hanya tersenyum tipis, sorot matanya terpaku pada wajahku yang sedikit tersinari oleh sinar oranye yang masih menyinari ruang kelas ini. Perlahan ia menjulurkan tangannya kearahku seketika mataku melirik kearahnya. Senyum tipis terbentuk diujung bibirku dan aku menggelengkan kepalaku padanya.

“lo itu bener-bener ye.” Hina ku sambil tertawa kecil, tanpa perlu disuruh pun aku menggapai tangannya yang menunggu untuk dihinggapi itu. Aku genggam dengan erat tangannya, kulitnya yang lumayan lembut untuk sebuah tangan cowok bertemu dengan tanganku lagi. Aku mengangguk padanya tanda siap untuk melakukan perjalanan bersama diakhir hari yang Panjang ini, dia hanya tersenyum dan mengangguk balik sebelum akhirnya ia memutar badannya itu dan menapakkan kakinya perlahan menuntunku bersamanya.

***

Waktu kian berlalu, matahari kini sudah Kembali ke dalam tidurnya. Dunia sudah gelap dengan sinar rembulan dan lampu jalan yang meneranginya. Dari kejauhan terdengar raungan mesin yang makin mendekat setiap detik, kereta kuda besi tersebut melaju membelah dinginnya angin malam BSD City.

Scara dengan lihai mengendalikan Mercedes-AMG one berwarna Graphit Grau nya, dengan cekatan ia menyalip setiap mobil yang menghalangi jalannya namun tetap menjaga kecepatan mobilnya agar stabil tidak terlalu rendah untuk disebut kebut-kebutan.

Aku tertawa meski jantungku berdetak tak beraturan akibat adrenalin yang diberikan oleh skill mengemudinya scara. Aku melirik kesamping dan yang kulihat hanyalah wajah percaya diri Scara, sungguh hebat memang pemuda ini tetap santai meski sedang memacu mobil kesayangannya itu dijalan BSD yang sepi nan dingin.

“Gila!, lo nyetir udah kayak kesetanan tau nggak!.” Ucapku dengan semangat sambil tertawa tipis.

“heh, kaya gak pernah liat gue nyetir aja.” Celetuk Scara yang tampak tak terpengaruh oleh akselerasi yang terjadi didalam mobilnya itu.

Sebelum Scara sempat melanjutkan ucapannya matanya terpaku pada sebuah restoran cepat saji sebut saja inisialnya McDonald’s, tanpa memperingatiku sedikitpun ia Kembali menginjak pedal gas mobilnya menghentakkan ku Kembali ke kursi mobilnya itu.

Jujur, dari semua yang pernah jadi driver gue cuman si scara yang paling bisa bikin mulut gue komat-kamit gak jelas diikuti oleh keinginan mendalam yang sangat amat untuk mentempelengnya.

Long story short kami pun sampai, nafasku sudah seperti orang habis marathon 1000km dan tanganku yang daritadi mengepal sudah putih pucat senada dengan muka ku.

Scara yang sedang memandu mobilnya pada jalur drive thru melirik padaku, seringai mengejek muncul diwajahnya.

“pucet amat muka lo, habis liat setan ya.” Ujarnya sambil menjulurkan lidahnya

Tak disangka,ucapannya ternyata mampu mengembalikan wajahku yang tadinya pucat jadi normal Kembali, tentu karena malu habis dikatain.

“apaan banget sih?!, mana ada muka gue pucet?!.” Balasku dengan cemberut yang mulai tampak diwajahku.

scara tertawa tipis dengan seringai mengejek masih ada di wajahnya, meski tampak keingingan untuk mengatai ku lebih lanjut tapi sepertinya dia memilih untuk menahannya untuk lain waktu.

Giliran kami pun tiba, jendela yang berada disamping kananku turun perlahan dan scara hanya mengangguk dengan santai seolah memberikanku kebebasan untuk memesan apapun. Aku tersenyum tipis dan mengangguk pelan membalas isyaratnya, aku putar kepalaku ke arah mesin pemesanan drive thru sambil mendekatkan sedikit dengan harapan suaraku terdengar lebih jelas.

Empat triple cheeseburger, dua bigmac, dua kentang ukuran large, dua cola large, dua mcnuggets yang masing-masing isi 9 nugget. Ya.. memang itu yang selalu kami pesan tiap kami lagi night ride bareng. Tanpa merasa bersalah ataupun merasa berlebihan aku Kembali ke tempat dudukku dan menghela nafas sambil melirik kearah scara sambil berseringai tipis.

Scara yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala sambil ia memandu mobilnya lagi menelusuri jalur drive thru. Satu tangan masuk ke kantung celananya mengambil dompetnya dan melemparnya tepat ke pangkuanku, aku tersentak kaget tapi segera menenangkan diriku.

Senyum seringai tipis masih tampak pada bibir ranum pemuda bersurai indigo itu, akupun hanya tersenyum balik sambil menggapai dompetnya yang masih terdampar di pangkuanku. Saat ia menghentikan mobilnya tepat di tempat pembayarannya aku merogoh dompetnya dan mengambil kartu debitnya, sang kasir mengambil kartunya dan memasukkannya ke payment terminal nya dan saat dimintai pin aku mencondongkan badanku ke arah counter kasirnya dan mengetik pinnya. Pin yang sangat biasa jujur, hanya tanggal ultah scara.

Singkat cerita, debit Kembali ketanganku dan pesanan kami pun sudah jadi. Dari semua alternatif tempat parkir scara malah memilih parkiran MCD… entah apa yang dipikirkan pemuda itu hingga memilih parkiran MCD, kata gue mah mending dine in tapi outdoor aja daripada diluar!.

Menghebuskan nafas kasar aku memijat dahiku keheranan akan kelakuannya. “dari semua tempat lu serius milih di parkiran?.”

“lho, biarin aja sih. Lagian enakan dimobil ini kan daripada di dalem. Lebih Private sama Intimate gitu.” Ujarnya sambil cengengesan.

Hampir saja ku sumpel mulutnya itu pake big mac sebiji sehabis mendengar responnya yang obok obok, eh, out of the box itu.

“ngomong lagi gue sumpel mulut lo pake ni big mac.” Ancamku sambil menjulurkan lidah

Scara tertawa lepas menikmati betul senda-gurau diantara dua jiwa ini, sikutnya ia taruh di panel kontrol jendela dengan telapaknya yang menahan pipinya. Matanya tertuju padaku,lekukan tipis di ujung bibirnya dan ekspresinya yang santai dan sedikit jenaka.

“ampun deh. sorry ya, mein prinzessin”

Tawaku lepas tak terkendali mendengar panggilannya, princess? Serius?!. Panglima tempur bunda dan jendral bintang lima papih kayak gini dipanggil princess.

“dummkopf, sekalinya ngomong Bahasa lain langsung ngawur ni anak. Pantes remed Bahasa mulu.” Sarkas ku.

“seenggaknya effort lah, kasian ngeliat lo ngga ada yang nemenin belajar jerman” balasnya.

***

Detik demi detik berlalu, sunyi malam yang tenang hanya diganggu oleh suara mobil yang lalu Lalang disekitar kami dan alunan lagu niki Lowkey membersamai kami. Sederhana memang tapi penuh makna. Anjayy!

Saat aku sibuk mengunyah big mac ponselnya scara berbunyi, ia yang juga tengah menyantap big mac nya berhenti sejenak untuk mengambil ponselnya dari kantongnya dan entah apa yang ia baca tapi raut wajahnya berubah menjadi sedikit kesal dan..sedih?

“leena, kayaknya night ride kita sampe sini dulu. Lumine udah ngechat gue.” Ucapnya dengan berat hati.

Lho, tumben si lumine ngechat scara jam segini. Ah kali aja kangen toh lumine pacarnya dia ini.

“oh.. yaudah.” Balasku dengan santai

Entah mengapa suasana seketika berubah jadi agak awkward, Scara yang biasanya banyak omong tiba-tiba diam seribu Bahasa setelah aku balas ucapannya.

Tanpa bicara sepatah katapun scara menarik rem tangan dan menginjakkan kakinya pada pedal gas mobilnya perlahan membawa kami Kembali pada jalanan BSD yang dingin dan sepi ini. Aku yang dari tadi merhatiin si scara daritadin ngerasa aneh sama gelagak nya itu, jarang-jarang lho si scara diem-dieman gini. Takut banget si rara kesurupan setan kredit mobil.

“ra, lo napa dah? Diem mulu dari tadi.” Tanya ku

Dianya diem aja.. anjirlah kata gue, beneran kesurupan kali ni anak.

“ra, oi!. Denger gue ngga sih?!” tambahku sambil naikin suara sedikit.

Akhirnya, si rambut ubur-ubur itu celinguk kearahku. Alhamdulillah…kirain anak orang beneran kesurupan, bisa berabe urusannya nanti.

“kuping gue masih aman kok.”

Dan bener aja, ekspresinya kayak bukan scara yang gue kenal. Tumben banget ini anak masang wajah menyesal dan murung utamanya pas lagi berduaan sama gue.

“lo ngapa dah murung-murung gitu, lu gak kesurupan kan?.” Tanyaku penasaran.

Scara tertawa kecil tapi tampak jelas tawanya ia paksakan agar tidak menambah ke-awkward an.

“wah banget itu kata keluar dari mulut lo, padahal ngakunya gak percaya yang gituan.”

Jir, sekalinya ngomong langsung nyatir ni anak

“ya.. kan siapa tau, kali aja lo kesurupan setan kredit mobil.”

Tawa scara yang tadinya ditahan-tahan lepas juga akhirnya, kepalanya ia geleng-gelengkan terhibur dan geli sama ucapanku.

“kurang ajar juga lo lama-lama, gini-gini hadiah papih i yang baik hati bin dermawan itu.”

Baguslah, seenggaknya si scara udah ngga terlalu keliatan murung kayak tadi.

***

Long story short mobil kami pun sampai di kediamanku, aku menarik handle pintu mobilnya dan mendorongnya keluar memakai sikut ku karena tanganku penuh sama bungkusan burger yang belum sempat dimakan. Dermawan sekali pemuda itu untuk memberikan sisa dari jamuan malam kami untuk ku.

Scara yang merenggangkan badannya menengok kearahku, ia melepaskan nafas kasar dan sorot matanya hampa. Dan lagi, ekspresinya dipenuhi oleh penyesalan dan kebimbangan walau nampaknya ia berusaha menyembunyikannya.

“perlu gue bantu bawa ngga?.” Tanya nya.

“gak usah, gue bisa sendiri kok. Lagian lo udah ribet-ribet ini nganterin gue pulang.” Celetuk ku.

Scara tertawa tipis sambil ia Kembali menghembuskan nafas kasarnya.

“kayak lagi sama siapa aja sih.” Balasnya. Ujung bibirnya melengkung dan tatapannya sekarang terpaku padaku, sekilas aku ngeh jika dibalik tatapan kasual dan acuh tak acuhnya itu seolah dia sedang memohon dalam diam padaku. Entah apa maksudnya tapi ra!, lo itu udah punya cewek jadi please prioritasin dia daripada gue, gue ngertiin kok.

Scara Kembali merenggangkan tangan dan punggungnya, satu tangan ia taruh di setir dan satunya lagi ia taruh di pangkuannya. “btw, gue pamit dulu ye. Dah ditungguin lumine soalnya.” Sambungnya. Entah mengapa ia merasakan pahit di lidahnya saat mengucapkannya kepadaku.

Aku tertawa ringan sambil mengibas-ngibas tanganku seolah tidak terlalu ambil pusing soal itu. Aku mengangguk pelan sambil perlahan menutup pintu mobilnya. “hati-hati, calon bini lo nungguin tuh.” Celetukku sambil menahan pintu mobilnya separuh tertutup yang walau ujung-ujungnya aku tutup juga.

Aku perlahan mundur beberapa Langkah dari mobilnya dan disaat bersamaan dia mulai menggeber mobilnya, kaca jendela perlahan turun memperlihatkan scara yang masih menatap kearah jendela sedari tadi.

“tch, masih calon ini, santai aja kali.” Ujarnya sambil menjulurkan lidahnya.

Ia Kembali menggeberkan knalpot mobilnya, satu tangan ia gerakkan untuk menarik rem tangan sebelum ia Kembali menatapku. Tangannya yang tadi menggapai rem tangan ia angkat sekedar cukup untuk terlihat olehku, ia lambaikan tangannya perlahan dan disaat bersamaan kakinya menginjak pedal gas meluncurkan mobilnya kedepan. Kejadiannya begitu cepat…bahkan aku tidak sempat membalas lambaiannya itu.

Tch, si rara itu emang seneng banget ngusilin gue. Bahkan gak ngasih gue kesempatan buat membalas lambaiannya itu. Tapi ya yasudahlah, semoga ia sampai ke apartemen lumine dengan aman dan lancar. Jarang-jarang orang macem dia bisa menggaet orang yang macem lumine, entah wanita kurang beruntung mana yang bisa jatuh cinta dengan orang se sontoloyo dia. Ini gue kapan masuk kerumahnya coba kalo mikir gini mulu.

Aku pun berjalan perlahan dan menempelkan jempol ke alat pemindai sidik jari yang terpasang dipintu masuk rumahku atau mungkin sebuah ruko yang kusebut rumah. Seketika pintunya terbuka dan aku mendorongnya cukup untuk aku lewati dan ku tutup kembali sambil menguncinya dari dalam. Ahhh, pemandangan familiar yang selalu menyembuhkanku tiap aku kehilangan semangat. Lantai pertama yang bukan lagi sebuah ruang usaha, melainkan ruang tamu luas dengan konsep open space. Dindingnya dicat putih hangat, Sebuah karpet tebal warna krem membentang di tengah, lengkap dengan meja kayu rendah yang penuh tumpukan buku yang belum sempat ku baca. Dan sebuah meja biliar yang berdiri tak jauh dari sana melengkapi variasi hiburan yang ada disini.

Di sisi kanan, terdapat rak tinggi berisi piringan hitam, novel, dan beberapa kamera analog yang disusun asal tapi tetap estetik. Sebuah speaker berdiri di dekat tangga besi hitam yang mengarah ke lantai dua, seringkali memutar lagu-lagu lama dengan volume yang cukup untuk mengisi ruang tanpa mengganggu percakapan.

Sudut paling ujung berubah menjadi sebuah bar dengan countertop kayu solid, mesin kopi profesional, dan kulkas kecil berisi soda serta bahan makanan seadanya. Tempat itu jelas dirancang bukan sekadar untuk hidup, tapi untuk berkumpul. Untuk tawa yang terlalu keras, diskusi absurd tengah malam, dan cerita-cerita yang tak pernah selesai.

Aku menapakkan kakiku pada anak tangga yang perlahan membawaku satu lantai keatas, disanalah persemayamanku berada. Kontras dengan lantai satu yang lebih mirip sebuah Bar daripada ruang tamu, di sini semuanya lebih santai dan personal. Area dapur berada di arah kanan tak jauh dari tangga yang ku naiki lengkap dengan wastafel yang cukup besar. Lalu tak jauh darisana terdapat pintu yang langsung menuju ke sebuah tempat dimana aku bisa melepas kontak dari dunia luar. Gagang pintu ku putar sebelum aku masuk kedalam dunia dibaliknya menghabiskan sisa malam tanpa gangguan sedikitpun.

Long story short, setelah serangkaian perjalanan mulai dari jalan kaki ke naik transum hingga jalan kaki lagi aku pun tiba disekolah. Aneh, biasanya scara sudah dating duluan dan menghampiriku entah untuk sekedar menyapa atau menjadi yang pertama untuk mengejekku pada hari itu. Tapi hari ini bahkan hawa-hawa kehadirannya pun tidak dapat kurasakan.

Namun, tepat saat aku hendak menapakkan kakiku pada tangga aku sekelibat menangkap penampakan sosok yang familiar lewat di Lorong. Warna rambut dan modelnya yang hanya ada satu orang yang punya diseluruh sekolah ini, yap betul, rara.

Aku turun satu anak tangga sambil menengadah sedikit dan betul saja, scara disana sedang berjalan santai menuju kelasnya.

“RARA!!.”

shit, Gue kelepasan. Tapi kayanya gak ngaruh juga sih..

meski teriakanku menggema di Lorong itu tapi ia hanya berhenti sejenak dan lanjut berjalan. Heran banget sama ini orang, padahal semalem masih nyaut pas diajak ngobrol.

Dan kejadian pagi itu terus kepikiran bahkan sampai aku bengong pas pelajaran, guru yang lagi jelasin materi notice aku lagi jatuh dipikiranku sendiri sampai ia menegurku. Aku yang terkejut segera menenangkan diriku lagi, aku hanya tertawa tipis sambil beralasan kurang tidur semalam..yaa walau tidak sepenuhnya salah sih, tapi tetep faktor utamanya gegara si scara tiba-tiba aneh gini.

Tak terasa waktu sudah sore saja, suasana kelas masih sama seperti terakhir kalinya aku pulang telat hingga kena usir oleh pak Narji. Dan satu hal lain yang masih sama adalah novelku yang masih kutulis hingga detik ini. Aku merenggangkan badanku yang sedang dalam posisi rileks dikursi ku, aku celingak-celinguk ke segala arah dan sesuai dugaan hanya ada aku sendiri disana. Aku yang sedikit jenuh bangkit dari kursi ku dan berjalan kearah jendela kelas tepat disampingku. Sinar oranye itu lagi- hah, scara?.

Dari jendela tampak jelas pemuda rambut ubur-ubur itu menatap kearah kelasku,entah apa maksudnya tapi belum sempat aku overthinking lebih lanjut ia membalikkan badannya dan pergi dari lapangan sekolah. Tanganku mengepal bersamaan dengan nafas frustasi yang terhembus dari mulut ku. Aneh banget nih anak hari ini, udah mah chat gue gak dibales dan sekalinya dibales seadanya banget, nyuekin gue dari pagi ,sampe segala melototin kelas gue? Ngapain coba.

***

Dan yap, gue terus kepikiran bahkan sampe pulang sekalipun. Bahkan hampir kelewatan shuttle bus. Sampai di rumah pun gue udah ngga mood buat ngapa-ngapain bahkan buat nyentuh ponsel atau ipad saja sudah ngga selera. Ya iyalah, siapa coba yang ngga bad mood dicuekin sama bestie nya.

Kegundahan ku tidak berlangsung lama berkat telfon yang masuk ke ponselku, aku terdiam sejenak sebelum menggapai ponselku dan melihat siapa yang berani menelpon selarut ini. Mataku sedikit melebar saat aku melihat nama penelpon. Furina. Gila, tiba-tiba banget si pemilik agensi palais mermonia nelpon gue selarut ini.

“Halo~”

Sapaannya memang khas seorang Furina.

“leena, lo lagi dirumah ngga?. Kalo iya gue boleh mampir dulu bentar?.”

Mampir?

“Buat ngasih cek sama nongkrong, boleh kan~?.”

Oalah..

Dan selang waktu kemudian raungan mobil terdengar dari depan rumahku, aku mengintip dari jendela kamarku hanya untuk mendapati mclaren 750s berwarna biru sudah terparkir di halaman depan. Aku melempar diriku dari Kasur dan berlari turun ke arah pintu depan, aku putar kunci ke arah samping dan memutar gagang pintu menyambut kehadiran Wanita berambut putih keabuan itu.

“Hii leena, Sorry banget ganggu waktunya.”

“dih, ngga apa-apa kok.Tapi tumben banget dateng jam segini.”

Furina hanya tertawa kecil sambil melangkah masuk kedalam hunianku, kepalaku mengikuti tiap langkahnya sambil menghela nafas kecil dan tanganku mendorong pintu yang sedang kupegang hingga tertutup rapat.

“kan gue udah bilang tadi, Sebagai investor terbesar agensi gue lo berhak dapet Sebagian dari profit agensi gue.” Jawabnya dengan penuh percaya diri.

Ia menyenderkan badannya pada meja billiard yang berada tepat ditengah ruangan, tangannya menggapai stiknya dan memegangnya. Lalu,satu tangan merogoh tasnya dan menaruh selembar kertas diatas meja biliar. Aku yang penasaran mendekat dan saat melihatnya sontak membuatku tercengang.

“anjir!, ini serius!?.”

Siapa yang ngga kaget coba, dateng-dateng ngasih cek 10 juta.

Melihat ekspresi kagetku Furina tertawa lepas,satu tangan menutupi mulutnya yang terbuka akibat tawanya dan tangan satunya ia taruh dipinggi meja biliar untuk menyangga badannya.

“Serius gue mah, kalo gak mau sini buat gue aja.” Ejeknya.

“Eh jangan!.”

Dengan sigap aku menggapai selembar kertas itu.

“Oh iya, BTW mau disuguhin apa nih. Katanya mau nongkrong juga kan.”

“Ah untung lo ingetin~, mojito aja udah.”

Matanya melirik kearah belakang dimana tempat itu memang dibuat seperti sebuah bar. Ia melangkahkan kakinya kesana dan aku pun mengikutinya.

Tanpa disuruh dua kali aku pun segera membuat pesanannya, tanganku dengan lihai memasukkan daun mint dan gula kedalam gelas sebelum diayak kasar, perasan lemon membasahi daun mint yang sudah terkoyak dan tercampur dengan gula sebelum batu es mengisi gelas dan air soda yang mengisi setiap celah kosong diantara balok-balok es itu.

Aku pun menaruh gelas tersebut diatas meja bar yang mana Furina telah menunggu di sisi lain berlawanan dariku. Terlihat bibirnya yang melengkung saat tangannya menyentuh gelas yang sudah berkeringat itu, dan saat ia mengambil tegukan singkat ia mengangguk penuh semangat dibarengi dengan wajahnya yang lebih berkilau dari sebelumnya.

“Wajar sih lo buka usaha coffe shop.” Pujinya.

Ia Kembali mengambil tegukan kecil dari gelasnya sebelum ia taruh disampingnya.

“btw, lo lagi ada Problem ya sama temen lo ya?.”

Anjir, tau darimana gue lagi ada masalah sama scara?

“Gue liat di Twitter lo kaya lagi ada masalah gitu.”

Oh iya.. Gue lupa dia follow Akun privat gue.

Aku pun hanya menghela nafas sambil menyenderkan tanganku pada meja didepanku itu, mataku berlarian diatas papan kayu yang menahan sikut ku, paling tidak saat aku mulai menghembuskan nafas kasar.

“Ngga tau ya, dia tiba-tiba kayak nyuekin gue gitu. Padahal malemnya masih biasa aja.”

Furina mendengarkan dengan seksama, sekejap Wanita yang terkenal selalu percaya diri dan ekspresif mengkerutkan alisnya.

“Hah, kenapa dah?. Lo ngga ngapa-ngapain dia kan?”

“Ngga lah!. Temen sendiri masa diapa-apain.”

Sunyi.

“coba ceritain kronologinya, siapa tau gue bisa bantu.”

Oh Furina. Lo ngga tau betapa berharganya kalimat barusan buat gue.

Aku pun menghela nafas kasar lagi sembari mempersiapkan diri untuk menceritakan kenapa bisa sampai seperti ini. Long story short cerita ku pun berakhir dan furina hanya mengangguk pelan sambil Kembali meneguk minumannya.

“oke. i get it.”

“Mungkin cara lo pas ngebales dia waktu izin buat ketemu sama pacarnya?.”

Masuk akal sih, tapi masak ekspresi gue malah diartiin gue cemburu atau sedih sih.

“bisa jadi sih, tapi apa mungkin dia salah nangkep respon gue?.” Tanyaku penasaran.

“Ya kan ngga ada yang tau, bisa jadi dia takut ngecewain lo makanya sampe salah nangkep gitu.”

Makin diomongin malah makin masuk akal…

Aku menghembuskan nafas berat sambil sedikit merenggangkan badanku, bahu ku terangkat seolah mengatakan aku tidak tahu.

“Kok malah makin masuk akal ya?.” Gumamku.

“yo ndak tau,kok tanya saya.” Balasnya sambil tertawa tipis.

Ia pun menghabiskan minumannya yang tinggal beberapa teguk dalam satu kali tegukan dan menaruh gelasnya disamping lenganku.

“btw, gue pamit dulu ya. Lo besok masih masuk sekolah ini kan?.”

Aku yang dari tadi bengong sedikit tersentak saat gelasnya menghantam papan kayu dengan pelan. Tak terasa ada sedikit lengkungan di ujung bibirku saat ia perlahan turun dari bangkunya.

“iya sih, gue masih masuk besok. BTW makasih ya udah mampir kesini. Jarang-jarang ada artis mampir ke rumah gue.” Celetuk ku

Furina hanya tertawa kecil dan entah, ia merogoh tasnya lagi dan kali ini ia menaruh selembar 50 ribu dimeja tempat ia menaruh gelasnya.

ANJIR kata gue, ini orang kesambet apaan sampe jadi dermawan kayak gini.

“lo itu emang penuh kejutan ya,rina.” Desis ku. Walau aku berkata gitu tanganku mengambil lembaran uang tersebut dan menaruhnya digenggamanku.

Senyum furina melebar melihat ekspresi dan gelagatku, ia mengibaskan rambutnya sambil berjalan perlahan kearah pintu depan. “anggep aja terima kasih udah mau nampung gue disini.”

Aku berjalan mendahuluinya dan sampai duluan di samping pintu. Tanganku meraih gagang pintunya dan menariknya hingga terbuka penuh. Furina yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum geli karena tingkah laku ku. Ia berjalan melewati ku dan meraih kunci mobilnya. Ia membuka pintu mobilnya dan sesaat ia hendak masuk kedalam ia berhenti sejenak, kepalanya ia putar kearahku dan tampak jelas senyum lebar terpampang diwajahnya. Satu tangan ia angkat dan lambaikan kearahku sebelum akhirnya ia masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesinnya.

Perlahan ia memundurkan mobilnya dan ia pun menurunkan jendela kursinya. “duluan ya len!.” Teriaknya dari dalam sebelum melajukan mobilnya meninggalkan kediamanku. Aku pun hanya menghela nafas lagi-lagi tak diberi kesempatan untuk membalas perpisahan. Tak ambil pusing aku tutup pintu depan dan menguncinya sembari didalam benakku tengah sibuk mempersiapkan apa yang akan terjadi esok hari.

***

Scara’s POV

Lumine—Pacarnya Scara—mengirimnya pesan agar berhati-hati saat berkendara dan Scara membalasnya sewajarnya dua insan yang sedang menjalani sebuah hubungan. Tak terasa beberapa menit berlalu setelah ia meninggalkan kediaman Leena, namun entah apa yang terjadi irisan di hatinya hanya bertambah parah bersamaan dengan dadanya yang terasa sakit. Tak henti-henti ia mengutuk dirinya sendiri karena memilih untuk mendatangi Lumine daripada menghabiskan sisa malam bersama Leena seperti yang sudah lalu.

Memanfaatkan kondisi jalan yang sepi ia terus memacu mobilnya membelah angin, lampu jalan yang menyinari terasa seperti senter yang sudah mau mati. Tangannya menggenggam setir dengan erat seolah takut kehilangannya dan pikirannya berlarian tak beraturan.

Singkat cerita. Ia sampai pada apartemennya Lumine. Ia memandu mobilnya pada area parkiran dan ketika ia merasa sudah pas segera tangannya menarik rem tangan dan kemudian ia putar kunci mobil seketika mematikan jantung mobilnya. Ia tak langsung beranjak keluar, malah ia menyenderkan punggungnya ke tempat duduknya sambil menghela nafas kasar. Tangannya ia angkat mengusap dahi sekaligus rambut indigo yang sedikit mendahului alisnya. Tatapannya kosong sambil ia tenggelam dalam pikirannya bak banjir yang menghanyutkannya, Paling tidak sebelum ponselnya berdering yang mana cukup efektif membuyarkan lamunanya. Ternyata Lumine yang menelponnya, dan ternyata juga sudah 5 pesan ia kirim namun belum sempat ia balas.

Ia menghela nafasnya, jempolnya mengusap layar untuk mengangkat telepon dari sang pujaan hatinya. Terdengar dengan jelas dari intonasinya bahwa ia mengkhawatirkannya, jelas, siapa yang tidak khawatir pesannya tidak di balas apalagi belum dibaca.

“Ra, lo udah dimana sih? Kok chat gue belom lo bales.” Ucapnya dengan nada khawatir. Scara yang mendengarnya ini hanya tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri yang belum bisa memberi seluruh perhatiannya untuk Lumine seorang.

“Gue udah sampe kok, sorry lupa ngabarin.” Balasnya. Lagi, ia sekali lagi tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Helaan nafas Lumine terdengar dari teleponnya, sepertinya perempuan itu tak terlalu memikirkan gelagat cowoknya itu. “Lain kali kabarin gue ya, Deg-degan tau dighosting gitu.” Balasnya sambil sedikit tertawa.

Telpon pun selesai begitu saja. sepertinya Lumine tidak butuh penjelasan lebih lanjut, yang penting Scara sekarang sudah berada disekitar kediamannya. Scara segera memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Ia Kembali membuang nafas berat,tangannya sudah berada di handle pintu siap membukanya kapan saja.

Setelah mengumpulkan keberanian yang cukup ia Tarik handle pintunya diikuti oleh dirinya yang menapakkan kaki pada aspal diluar. Singkat cerita ia pun tiba didepan unit kediamannya. Sejenak ia terdiam sebelum ia menepis segala pikiran tak mengenakkan yang muncul dibenaknya. Toh, Leena ngga terlalu mikirin ini pikirnya. Akhirnya ia memberanikan dirinya untuk mengetuk pintunya perlahan, tuk,tuk,tuk. Suasana seketika sunyi paling tidak sebelum terdengar kunci pintu yang terputar dari baliknya. Perlahan pintunya terbuka mereveal sosok dibaliknya. Perempuan berambut pirang pendek yang tengah memakai sweater putih yang didampingi sebuah rok Panjang berwarna beige. Di ujung bibir Scara sekarang terdapat lekukan yang terlalu jelas untuk dihiraukan, untuk sementara perasaan gusarnya cukup teredam melihat Lumine berada tepat di depan pandangannya.

Menit demi menit berlalu. Didalam unit apartemen Lumine—Scara menyandarkan punggungnya diatas sofa empuk yang terletak tepat ditengah-tengah ruangan dengan Lumine berada tepat disampingnya dan TV yang tengah memutar sebuah Film bergenre Romance-Comedy. Lumine yang duduk disampingnya sadar akan raut wajah cowoknya yang seperti sedang memikirkan banyak hal. Ia mendekatkan tubuhnya bersamaan dengan ekspresi wajahnya yang berubah cemas.

“Ra, Lo ngga apa-apa kan?.”

Jleb. Seketika Scara Kembali dari lamunannya Ketika pujaan hatinya memanggil Namanya. Ia mendongakkan kepalanya kesamping melihat langsung pada tatapannya itu. Sepasang mata kuning yang seolah mencoba masuk kedalam jiwanya namun tampak jelas bahwa ia khawatir akan dirinya.

“Gue—Ngga apa-apa kok.”

Bibir ranum Lumine seketika mengkerut mendengar jawabannya seolah tahu ada yang sedang ia tutup-tutupi.

“Bohong, muka lo kayak yang kenapa-napa gitu padahal.”

“Ngomong aja Ra. Gue bakal dengerin kok.”

Scara terdiam. Batinnya berada berkonflik antara memberi tahunya atau tidak. Untuk beberapa saat pemuda berambut indigo tersebut hanya terdiam sembari menggigit bibir bawahnya. Tangannya mengepal hingga jari-jarinya memucat,dan matanya tak lagi melirik pada pandangan Lumine melainkan ke arah pangkuannya.

Namun melihat Lumine yang daritadi memerhatikannya dengan tatapan khawatir dan sekilas penasaran itu hatinya pun luluh. Ia mengambil nafas dalam-dalam mencoba menenangkan dirinya sendiri. Iapun menghela nafas kasar sebelum akhirnya menceritakan apa yang terjadi hari—bukan, beberapa jam yang lalu.

Beberapa menit berlalu dan ekspresi Lumine malah makin khawatir mendengar ceritanya. Disisi lain Scara merasakan rasa pahit di lidahnya sepanjang ia menceritakan kejadian itu padanya. Rasa perih dihatinya hanya bertambah sedari tadi walau sempat reda waktu dia pertama masuk ke unitnya Lumine.

“Ra. Lo serius?.”

Bahkan pacarnya sendiri tidak percaya apa yang barusan dia dengar.

“Tapi… kalo kata gue sih ini cuman overthinking lo aja. Maksudnya, Lo berdua kan emang udah deket dari lama. Agak ngga mungkin sih dia bakal cemburu sama lo.”

Semoga aja. batinnya.

Tapi masuk akal juga sih omongannya Lumine. Mungkin aja ini cuman overthinkingnya Scara. Toh, Leena juga ngga ngasih tanda-tanda cemburu karena Scara mentingin pacarnya daripada teman masa kecilnya itu.

Kepalanya tambah pusing memikirkannya. Ia merobohkan punggungnya kearah sofa lebih dalam dan sekali lagi, nafas berat Kembali ia hembuskan. “yahh,semoga aja sih cuman pikiran gue aja yang jelek.” Gumam pemilik mata indigo itu. Matanya Kembali menatap kearah layar TV mencoba mencari distraksi dari badai yang tengah terjadi didalam kepalanya.

Lumine pun mengikuti gerakannya. Ia merilekskan punggungnya pada sofa sambil perlahan menutup celah diantaranya dan Scara hingga bahu mereka menempel, ia dekap tangan Scara erat-erat untuk dirinya seolah takut kehilangannya. Dan disaat itu juga ia menyandarkan kepalanya pada bahunya, refleks, scara pun memiringkan kepalanya hinga bersandar diatas kepala si rambut kuning tersebut.

Tak terasa malam semakin larut, Scara pun sudah siap-siap untuk pulang paling tidak sebelum dicegat oleh Lumine yang memberinya bingkisan cemilan. Heh, memang beruntung sorang Scara bisa ketempelan seseorang seperti lumine sebagai pacarnya. Ia menunggu didepan pintu yang terbuka penuh sambil matanya tertuju pada layar ponselnya, tak lama kemudian Lumine pun Kembali dengan sebuah totebag berisi camilan padanya. Senyum manis terpampang jelas pada wajahnya yang ternyata cukup untuk membuat pipi Scara terasa sedikit hangat hanya dari melihatnya. Ia pun menerima bungkusan itu, jarinya tanpa sengaja bersentuhan dengan miliknya dan saat ia menengok kedalam totebag itu ia hanya menghela nafas merasa tergelitik melihat apa yang ada didalamnya.

Tersenyum tipis. “Lo pengin gue diabetes apa gimana Lum?.”

“Ah elah, kan ngga tiap hari ini.” Belanya sambil menyeringai tipis.

“Oh iya, satu lagi. Kalo bisa lo coba ngomong sama Leena ya. Bisa jadi yang gue omongin tadi beneran kejadian.” Ucapnya. kali ini dengan nada lebih serius dan perhatian.

Kalimat barusan menusuk Scara seperti sebuah pisau,tapi ia hanya mengiyakannya. “iya iya, nanti gue coba ngomong sama dia.”

“btw, makasih banget ya Lum. Sampe dibawain oleh-oleh segala.”

“Sama-sama. santai aja sih, tinggal bikin lagi kok, gampang ini.”

Scara pun menapak keluar dari unit apartemen Lumine. Ia melambai padanya yang segera dibalas oleh perempuan itu. Ketika ia sedang menyusuri Lorong ia sempatkan untuk menengok kebelakang, ternyata perempuan itu masih mengintip dari pintu dan nampaknya ia sadar sudah ketahuan olehnya. Ia memberi Kiss bye pada pemuda rambut ubur-ubur itu sebelum menyeret badannya masuk kedalam. Bahkan Scara kehabisan akal untuk mengomentarinya. Singkat cerita ia pun keluar dari apartemen dan berjalan ke arah dimana mobilnya terparki. Sembari menenteng totebag pemberian Lumine ia mengulang percakapan mereka soal Leena. Ngomong langsung ke Leena?, gila juga idenya dia ucapnya dalam benak. Sial, bahkan Lumine pun tidak dapat membantunya sama sekali. Langkahnya terhenti tepat disamping mobilnya, matanya berlarian pada bodynya yang berkilau akibat sorot lampu parkiran. Ia melamun cukup lama sebelum menggelengkan kepalanya, ia mengadah keatas dimana bulan sabit menyinari malam ini,menarik nafas Panjang-panjang ia pun berakhir pada satu kesimpulan yang entah dapat darimana tapi terlintas didalam kepalanya.

“Gue ngga bakal ngomong dulu sama Leena beberapa hari ini.” Ucapnya sambil mengadah keatas. Ia tahu meski kesimpulannya tidak akan menyelesaikan masalah dalam waktu dekat malah berpotensi membuat perkaranya makin runyam tapi paling tidak dia punya waktu untuk mempersiapkan dirinya walaupun,dia sendiri tidak tahu apa yang harus dipersiapkan. Dia pun merogoh kantung celananya dan mengambil kunci mobilnya, ia tekan tombolnya dan membuka pintu yang mengarah ke bangku pengemudi. Totebagnya ia taruh di bangku sampingnya tempat dimana Leena duduk beberapa jam yang lalu. Menepis pikirannya ia Tarik pintu di kirinya itu dan mulai menyalakan mobilnya. Tak berselang lama ia turunkan rem tangan dan sekali lagi berkelana ditengah malam yang sunyi nan dingin itu sendirian.

***

Scara’s POV II

Esoknya ia Kembali bersekolah seperti biasa. Langkahnya santai sambil ia mendengarkan Multo dari Airpodsnya. Yup,memang unik sekali musik yang ia putar pagi ini.

Menit berlalu dan setelah beberapa lagu silih berganti dari Playlistnya—for your information hasil mixing sama Leena—ia sampai didepan gerbang sekolah. Tentu tak mengherankan ia sampai disekolah sepagi buta ini mengingat ada image yang harus dijaga, Seorang siswa unggulan yang sekaliber dengan Leena. Ia pun menapakkan kakinya kedalam dimana ia sempat berpapasan dengan Pak Narji yang baru saja menyeduh kopi. Tangannya melambai pelan sambil menyapanya yang berujung dibalas dengan dongakan dagunya.

 Walaupun begitu bukan hanya dia yang datang sepagi ini, ada beberapa murid lain yang juga datang bersamaan atau malah lebih awal daripada dia, kalua bukan rumahnya yang jauh ya paling para agit yang memang kelewat rajin.

Akhirnya iapun sampai didepan Gedung sekolah kebanggaannya itu yang selalu membuatnya kagum meski sudah berkali-kali melihatnya. Perlahan ia berjalan masuk dan menyusuri Lorong, dari jendela kelas terlihat jelas pemandangan murid-murid yang sedang sibuk dengan kegiatannya. Ada yang sibuk mengobrol, ngerjain pr, baca buku, bahkan sampai yang ekstrem seperti main game di laptop mereka atau melanjutkan tidurnya. Ketenangannya tidak berlangsung lama sebab dari balik Airpodsnya terdengar suara yang seperti teriak padanya. Terkejut bukan main lantaran suaranya cukup keras bahkan mampu menembus Noice Cancellation Airpodsnya, dan yang bikin makin gong lagi adalah suara itu milik Leena. Langkahnya terhenti sejenak karena ia tak menyangka akan berkonfrontasi dengannya secepat ini. Lowkey—NIKI yang tengah berputar tidak membantunya mengendalikan dirinya sendiri. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memucat dan tetap saja ia tak berani untuk menjawab orang yang memanggilnya itu. Dengan berat hati ia Kembali melangkahkan kakinya, bukan apa-apa, ia hanya mengikuti ikrarnya tadi malam—menghindari Leena beberapa hari ini.

Waktu berlalu begitu saja, Lorong sekolah yang tadinya sepi bagaikan kuburan tiba-tiba dipenuhi oleh lautan manusia yang bahkan tidak menunggu bel menyelesaikan nyanyiannya. Yup, waktu yang dinantikan seluruh pelajar yakni istirahat sudah tiba. Dan sewajarnya murid pada umumnya Scara beranjak dari bangkunya menyusuri jalanan yang membawanya pada Kafetaria yang terletak di seberang panggung terbuka yang biasanya suka ada Perform orkestra atau sekedar drama singkat.

Segera ia menggapai ponselnya dan memindai Barcode pada salah satu stan langganannya yang bahkan pemiliknya hafal betul apa saja yang akan ia pesan. Selesai sudah ia berjalan kembali sambil menenteng bungkusan kertas berisi Sausage roll. Dari ujung matanya ia sekelibat menangkap pemandangan murid yang tengah berkumpul di area panggung terbuka itu, penasaran ia pun membanting setir kearah kerumunan itu meninggalkan niatnya untuk mencari tempat yang sepi dimana ia bisa menikmati makanannya tanpa gangguan orang lain.

Langkahnya terhenti tepat diantara lautan murid-murid yang memenuhi area sekitar panggung tersebut, terlihat jelas banyak dari mereka yang dipenuhi rasa penasaran dan antusias akan pertunjukan yang segera berlangsung. Sembari ia menggigit sausage rollnya ia sempatkan mencuri dengar obrolan dari kerumunan disekitarnya. Flash mob, La Vaguelette, muka baru yang bakal perform. Tiba-tiba ia tersedak saat mendengar nama yang membawa penampilan ini. Leena. Ia bahkan menengok kesampingnya untuk memastikan ia tidak salah dengar. Belum sempat ia memprosesnya tiba-tiba dari arah depan terdengar sorakan yang sangat meriah disusul lantunan musik yang naik perlahan seolah berjalan beriringan dengan sosok yang naik ke panggung. Matanya seketika melebar ketika ia mendapati Leena berdiri ditengah panggung, hampir saja sausage rollnya jatuh dari tangannya paling tidak sebelum ia menyusun kembali kesadarannya. Lagian sayang juga uang 19 ribunya yang bakal kebuang sia-sia kalau sausage rollnya jatoh.

Ah, si je pouvais vivre dans l'eau
Le monde serait-il plus beau?
Nous pardonneras-tu, ô chère mère?
L'eau dans son courant fait danser nos vies
Et la cité, elle nourrit
Ainsi que toi, mon doux amour

Lagunya masuk ke bagian instrumental, lirik lagu dan instrumennya sukses membungkam kerumunan terlebih yang menyanyikannya adalah Leena. Scara terperangah melihat Leena yang berdiri dipanggung, benaknya kembali dipenuhi oleh pikiran yang saling bertabrakan, ia menghela nafas kasar sambil menyeringai tipis seolah hendak menyalahkan takdir yang tak mengizinkannya untuk membuat jurang diantaranya dan Leena.

Non, le grand amour ne suffit pas
Seul un adieu fleurira
C'est notre histoire de vie, douce et amère
Moi, je suis et serai toujours là
À voir le monde et sa beauté
Et ça ne changera jamais, jamais

Penampilan berakhir, keheningan segera berubah menjadi sebuah kericuhan. Tepuk tangan yang seolah tak akan berhenti dalam segera memenuhi area itu. Scara yang dari tadi memerhatikan sosok yang berdiri ditengah panggung itu sekilas melihatnya menatap balik kearahnya, dalam benak ia berharap itu hanya imajinasinya saja walau sulit untuk menepisnya.

Long story short, waktu pulang telah tiba. Scara membereskan barang-barangnya sebelum ia beranjak dari bangku meninggalkan kelas yang masih terisi oleh beberapa teman sekelasnya. Ia memasang kembali Airpodsnya dan mulai memutar kembali playlistnya, beberapa murid tampak menyapanya yang ia balas seadanya saja, bukannya sombong atau dingin tapi memang begitu cara dia membalas tegur sapa orang selain Leena dan Lumine. Singkatnya ia pun keluar dari area Lobby sekolah, Angin tipis mengenai wajahnya disusul siulan daun kering yang belum sempat disapu oleh petugas kebersihan. Sinar jingga segera menyinari Netra indigonya, ingin sekali ia langsung pulang namun kalbunya menyuruh ia untuk menetap lebih lama. Ia menghampiri lapangan sekolah yang mana dipakai oleh kelasnya saat mapel penjas, ujung bibirnya naik teringat jelas hal kocak yang terjadi selama jam pelajaran itu. Ia dongakkan dagunya keatas terpana dengan langit yang berwarna oranye lengkap dengan awan yang sepeti sebuah lukisan, belum sempat ia puas mengagumi matanya tertuju pada sebuah jendela yang ia ingat betul merupakan jendela kelasnya Leena. Tangannya mengepal membayangkan jika saja waktu itu dia tidak memilih untuk mengakhiri malam bersama Leena demi Lumine, Huftt, ia menghela nafas kasar menepis pikirannya itu. Ada baiknya berhenti mikirin hal itu lagi dan lagi, benaknya. Segera ia putar badannya dan pergi meninggalkan lapangan itu beserta pikiran yang terus menghantuinya, dan semoga, semoga saja Leena mau memaafkannya jika hari yang ia tunggu tiba.

***

Esoknya Kembali disekolah namun kali ini dengan semangat dan tujuan baru. Setelah semalaman merancang rencana untuk menghadang Scara akhirnya hari yang dinanti dating juga. Tak sabar rasanya ingin menguak segala kesalahpahaman ini bak novel-novel romance.

Long story short. Waktu sekolah telah usai dan sekarang sudah waktunya pulang. Untung saja aku dekat dengan scara bahkan sampai hafal rute mana yang ia pilih untuk keluar dari Gedung sekolah. Perlahan aku menyusuri Lorong yang sepi ini mencari tempat yang sekiranya cocok untuk mencegatnya sebelum ia sempat keluar dari sekolah.

Waktu berlalu dan benar saja. Aku yang sedang bersembunyi di pintu masuk toilet yang tidak jauh dari situ mendengar suara Langkah kaki perlahan mendekat. Tanganku mengepal sembari aku mengatur nafas dan entah mengapa jantungku serasa ingin meledak. Detik terasa sangat lama seolah waktu membeku paling tidak sebelum mataku mendapati pemuda berambut indigo tersebut lewat didepanku, dan sesuai harapan ia tidak menyadari kehadiranku.

Tanpa menunggu lagi aku keluar dari sana dan menaruh tanganku di bahunya, sekejap ia Nampak tersentak dan terdiam membeku ditempat. Di lain sisi jantungku yang dari tadi berdetak kencang malah berdetak lebih kencang hingga samar-samar terdengar oleh telingaku disusul oleh keringat dingin yang membasahi dahiku.

“Scara, kita perlu ngomong.” Ucapku perlahan sambil satu tangan mengepal mencoba menenangkan diri sendiri. Sial, Padahal tadi pas jamkos udah banyak baca AU buat referensi.

Sayangnya Scara masih diam seribu bahasa, entah masih tercengang atau atau sesimpel ingin menghindari kontak bicara denganku. Kesabaranku kian menipis dan setelah satu hembusan nafas yang kasar aku menggapai bahunya yang lain memutarnya ditempat memaksanya untuk menghadapku. Aku dorong dia kearah tembok dimana badannya terjepit diantaraku dan tembok, kedua tanganku yang masing-masing kuletakkan disebelah bahunya seolah tak mengizinkannya lepas dari tangkapanku. Kepalaku sedikit menunduk akibat dari perbedaan tinggi badan kita dan terpampang jelas wajahnya yang seolah tak percaya apa yang barusan terjadi terutama dari seorang Leena.

“Ra, kita perlu ngomong. Oke?.” Aku mengulangi omongan yang sama namun kali ini terasa lebih serius dan juga sedikit mengancam.

Dia tidak langsung menjawab malahan membuang wajahnya kesamping menolak kontak mata denganku. Wajahku terasa makin panas. tanganku menangkap wajahnya memaksanya menatapku. Terlihat jelas retakan di sikapnya yang biasanya acuh tak acuh sekarang tampak tak berdaya dihadapanku.

Akhirnya. Dia mengangguk pelan sambil menelan ludahnya. “o—oke-oke, lo mau ngomong apa?.” Ucapnya dengan gugup.

“Lo kenapa belakangan ini?. Kok kayak ngehindarin gue gitu.” Tanyaku dengan tegas seolah tak memberinya ruang untuk menghindar.

Kesunyian Kembali menyelimuti Lorong ini, tatapan scara terpaku padaku dan mulutnya yang terbuka tapi tak ada sepatah kata pun keluar darinya. Beberapa detik yang lama dan intens kemudian ia akhirnya bersuara, kali ini lebih seperti bergumam daripada berbicara.

“Leena, gue tuh— “ belum sempat ia selesai bicara ia buru-buru menutup mulutnya seolah ragu untuk mengucapkan apa yang ingin dia ucapkan. Tatapannya dipenuhi oleh keraguan,matanya pun tak lagi menatap kearahku seolah ia tak yakin untuk memberi tahuku. Lalu, ia pun menghela nafas berat seolah membuang semua hal yang menghalanginya. Matanya Kembali menatap mataku bersamaan dengan dia yang Kembali menelan ludahnya bersiap untuk meluruskan kesalahpahaman ini.

“Leena, gue ngira lo kecewa waktu gue ngomong mau ke Lumine malam itu daripada ngabisin waktu sama lo kayak biasanya.” Ujarnya dengan pelan.

HAH, INI GUE GAK SALAH DENGER KAN?.

“g-gue takut nyakitin perasaan lu gegara mentingin Lumine daripada lu.”

RA,LO KALO BISA DENGER ISI HATI GUE DIJAMIN NANGIS KEJER LU.

Siapa sangka, ternyata selama ini cuman salah paham doang. Kayak novel romance aja ya kalo dipikir-pikir, tapi kocak juga sih. Kocak plus sebel setengah mampus.

Kepalaku serasa ingin pecah mendengar balasannya itu, ternyata sesederhana itu akar dari masalah ini. Mukaku yang dari tadi merah hanya bertambah merah seperti buah tomat memikirkan perkataannya itu. Tidak habis pikir bisa-bisanya dia kepikiran kayak gitu.

“RA!. COBA KASIH TAU GUE BAGIAN MANA YANG GUE KECEWA SAMA LO?!.” Ucapku setengah teriak. Sumpah, pengen banget gue nabok—eh,nendang ini anak dari bumi ke bulan bolak-balik lima kali. Gak tahan banget plis.

“lagian muka lo kayak yang kecewa gitu. Ya gue nangkepnya lu sakit hati gara-gara gue mentingin Lumine.” Belanya.

TAI, ngomong lagi gue sumpel mulut lo pake big mac juga lama-lama!.

Aku merobohkan tanganku membiarkannya terayun sebelum mengangkapnya untuk membasuh mukaku. Nafas frustasi keluar dari mulutku namun aku sudah tak kuasa untuk meneruskan makianku padanya. Hanya ada kesunyian diantara kami berdua sekarang, tatapanku tak pernah lepas dari wajahnya meski sekarang sudah memberinya sedikit ruang untuk setidaknya bernapas dengan lega.

Setelah satu lagi hembusan nafas aku mulai berbicara, kali ini tidak dengan nada yang ditinggikan. “Ra, sorry ya bikin lo salah paham kayak gini.” Ucapku terbata, entah kenapa permintaan maafku malah terasa canggung.

Scara yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya seolah menolak permintaan maafku. “ngga len, gue yang harusnya minta maaf. Maaf ngga ngomong ke lo dulu.” Ada ketulusan yang tak bisa disembunyikan didalam ucapannya dan raut wajahnya yang sekarang dipenuhi penyesalan dan rasa bersalah.

Tak menggubris ucapannya aku mendekapnya erat-erat,kepalaku mendarat di lekukan lehernya dengan lenganku mengitari pinggangnya dan bertemu di punggungnya. Scara terkejut bukan main tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Perasaannya ibarat sebuah roller coaster alias campur aduk tak karuan, beberapa menit lalu ia tak berdaya kemudian ia luluh dan sakit hati lalu sekarang ia didekap oleh sahabatnya sendiri setelah meminta maaf padanya. Tangannya perlahan ia lingkarkan pada pinggangku membawaku lebih dekat kepadanya sambil ia mengubur wajahnya pada bahuku.

“Puas lo liat gue kayak gini?.” Protesnya, ia berusaha tetap menjadi Scara yang biasa kukenal meski matanya mulai sembab dan isak tangis yang ia coba tutupi ternyata cukup keras untuk terdengar olehku.

Mataku membelalak mendengar isakannya, tak disangka bahkan seorang Scara bisa menangis. Tapi aku hanya tertawa kecil sambil mengusap-usap punggungnya perlahan. ”Yeuu, kan gue dah minta maaf tadi. Apa perlu gue sujud kayang buat ngasih tau seberapa besar permintaan maaf gue ke lu?." Ejekku.

Scara sambil menahan isak tangisnya mencubit pinggangku, tak terlalu keras memang tapi cukup untuk membuatku merintih kesakitan. “wajib. Sama jajanin gue juga dua hari ini.” Ujarnya sambil mengubur wajahnya lebih dalam di bahuku.

Aku merintih kesakitan saat tangannya mencubit pinggangku namun segera tergantikan oleh tawa yang tak terfilter sama sekali. “iya iya, gue kasih lu jajan gratis di kafe gue dua hari ini.”

Perlahan pemilik rambut ubur-ubur itu menarik wajahnya dari bahuku dan mendorong ku perlahan menyudahi dekapan kami. Ada sedikit rasa kecewa tapi tak berlangsung lama dan sekejap aku menangkap ekspresinya yang tulus dengan lengkungan yang tampak jelas di ujung bibirnya. “janji?.” Ucapnya berbarengan dengan senyumnya yang berubah jadi seringaian tipis.

Aku hanya tertawa tipis dan menggulingkan mataku kearahnya. “kalo ngga ngapain gue nawarin ke lo.” Ejek ku

Kami pun tertawa Bersama disana dan entah kenapa sebuah ide terlintas dikepalaku. Aku mulai berseringai kearahnya sembari memberinya kedipan singkat. Belum sempat ia merespon aku berputar arah membelakanginya dan separuh membungkuk, tanganku berada selevel dengan pahaku. Aku menengok kebelakang dan kembali memberinya seringai mengejek. “Just like we used to.”

Scara notice maksud ku dan seketika pipinya memerah tipis, tawanya Kembali mengudara sambil ia menggelengkan kepalanya merasa geli melihat tingkah laku ku. Rasa nostalgia menyelinap di benaknya teringat akan masa-masa indah yang sudah lalu. “Lo itu emang gak punya malu apa gimana ya?.” Sarkasnya

Meski ia mengejekku pada akhirnya ia menuruti kata hatinya. Ia menghampiriku dan loncat ke arah punggungku dan dengan cekatan aku meletakkan tanganku pada pahanya begitupun dia yang melingkarkan tangannya di sekitar leherku. Bagaikan sebuah  ombak yang menghantam tanpa aba-aba rasa nostalgia menerjang kami berdua, sekilas aku terbayang berbagai kenangan entah itu yang pahit maupun manis. Kepalaku menengok kesamping dan sedikit mendongakkan dagu keatas dan dari ujung mataku ia mengangguk balik kearahku menyetujui dalam senyap. Tanpa menunggu lama aku pun melangkahkan kaki kedepan melewati Lorong kosong ini bersama.

Namun tanpa sepengetahuan kami berdua ternyata ada orang lain yang menyaksikannya, belum lama kami meninggalkan TKP si pengamat misterius itu berjalan ke tempat terjadinya kejadian barusan, senyum tipis mulai terbentuk diwajahnya sembari ia menghela nafasnya. Rambut pendek berwarna kuningnya terbelai oleh angin yang entah datang darimana. Ia menatap ke arah aku dan Scara pergi dan senyum tipis yang tampaknya tak akan hilang dari wajahnya dalam waktu dekat.

“Semoga lo bisa lebih ngertiin dia Ra.” Gumamnya.

Saat ia masih terlena tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang.

“Lumine?,disini ternyata. Jangan dibiasain misah-misah gitu.” Ucap pemuda berambut pirang yang sekilas mirip dengannya itu.

“Hehehe maaf bang, Lumine lagi nyari toilet dulu tadi.” Alibinya

Keheranan dengan alasan adiknya tapi dalam sekejap ia menepis pikirannya menganggap tidak terlalu penting, ia pun menjulurkan tangannya kearah perempuan didepannya sambil tersenyum tipis. “yaudah deh. btw Pulang yuk,min, mamah udah masak banyak buat kita tau.” Ucap pemuda itu.

Sambil tersenyum perempuan itu menggapai tangan kakaknya dan bersama mereka berjalan berlawanan dengan arahku dan sesekali ia menengok kebelakang sebelum akhirnya memfokuskan pandangan ke arah depannya.

***