Actions

Work Header

For the Things We Cannot Ignore

Summary:

"Your goal is to come back home," George tells Max before the demonstration. Yet the next afternoon, Max vanishes among hundreds of student demonstrators.

As the city searches for missing student activists, George is left with a promise, an unopened note, and the unbearable uncertainty of whether love can survive in a country that keeps taking people away.

Chapter 1: If One Day

Chapter Text

***

“Kalau kita belajar Hubungan Internasional, banyak para pemikir HI di zaman klasik memercayai bahwa pada dasarnya, dunia ini bergerak dalam sistem internasional yang anarkis.”

It means the absence of a ruler in the international system, no single actor dominates the system.”

Max tersenyum, tangannya terulur untuk mengusap rambut ikal kekasihnya, George. “Pinternya sayangku.”

Max menggeser laptopnya, memusatkan seluruh perhatiannya kepada George yang tengah memijit pelipisnya. Sesi diskusi mereka sore ini nampaknya terasa begitu panas.

“Gini, deh. Gausah jauh-jauh main ke international system dulu. Kita ambil konsep human nature, masih ingat?” Max menopang dagunya dengan telapak tangan. “Apa saja karakter individu yang kemudian sangat memengaruhi perilaku negara?”

George melirik Max yang kini masih betah menatapnya lekat-lekat. “Hungry for power, egois, jahat, penakut?”

Max mengangkat alisnya. “What’s the meaning of penakut here?”

George mengetuk-ngetukkan pulpen nya di atas meja. Ia berusaha menjawab pertanyaan Max dengan yakin, meski masih ada getar di kalimatnya. Sebab baik ia maupun Max tahu betul bahwa hal yang kini mereka diskusikan adalah bagian dari mata kuliah yang menjadi kelemahan George. Sebaliknya, topik ini adalah favorit Max dan materi-materinya sangat dikuasai oleh kekasihnya itu.

“Artinya, manusia itu secara alamiah takut terhadap ancaman yang mungkin atau bahkan belum tentu datang dari pihak lain. Makanya para penguasa ‘tuh berupaya memperkuat capability mereka in order to secure themselves.” Jawab George.

Max tersenyum lebar. Kali ini ia mengelus punggung tangan George, tatapannya senantiasa mengarah lembut kepada kekasihnya.

“Karena merasa insecure terhadap pihak-pihak lain, akhirnya para penguasa berlomba-lomba ningkatin pertahanan wilayah mereka. Tanpa sadar, lambat laun sikap seperti itu memicu peperangan, karena mereka nya malah ‘kuat-kuatan’ senjata.” Kini, Max bangkit dari kursinya. Ia pindah duduk di samping George, meraih bahu kekasihnya untuk dibawanya bersandar ke tubuhnya. 

“Dan yang paling penting adalah bahwa power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Itu yang terjadi di negara kita sekarang, George. Bahwa para penguasa yang harusnya bekerja dengan orientasi melayani rakyat, malah menggunakan privilege mereka untuk merebut semua hak rakyat demi kepentingan mereka sendiri. Kita nggak boleh diam, kan? We should do something.”

“Max…” George berujar lirih. Tangannya sibuk memainkan jemari Max di pangkuannya.

“Iya, Sayang?”

“Aku ‘kan tanya apa rasionalisasi kamu buat tetap ikut aksi besok, bukan malah recall materi semester dua!”

Max tertawa, ia bergerak mengelus kepala George, mengecupnya, menghirup aroma sampo yang selalu menjadi favoritnya. “Ya ini lagi aku jelasin dari awal dulu, biar kamu nggak malah marah-marah tanpa alasan.”

George mendengus, ia menarik tubuhnya dari rangkulan Max, menatap lelaki itu dengan tajam dan bibir maju lima senti. “Jadi, kamu pikir aku ngelarang kamu ikut aksi ‘tuh tanpa alasan?”

Max tersenyum tipis. “Sayang…”

Kekasihnya itu berdecak. “Kamu lihat berita, kan? Mahasiswa di kota-kota lain yang udah turun aksi, banyak dari mereka yang hilang. Hilang, Max. Diculik.”

Hening sejenak. Di kamar kost ukuran 3×4 meter persegi ini, hanya deru napas keduanya yang terdengar, bersahutan dengan hembusan angin AC di sisi ruangan. Genggaman George di tangan Max mengerat. Tatapannya yang semula tajam kian melembut, sarat akan kekhawatiran yang begitu tinggi.

“Aku tahu, George.”

“Dan kamu tetap mau berangkat?”

“Ini tugas kita—”

“Kamu nggak takut buat ninggalin aku?” Intonasi suara George meninggi, ada getar di tiap kata yang barusan diucapkannya.

“Nggak ada yang jamin aksi besok bakal rusuh dan kemasukan provokator kayak yang terjadi di kota-kota lain.” Max masih berusaha memberi pengertian. Namun rupanya, George-nya ini terlalu pintar. Pintar dan begitu khawatir.

“Dan nggak ada yang jamin juga kamu bakal pulang.”

“George, Sayang, don’t say anything like that.”

“Kamu yang bikin aku terpaksa ngomong begini!” Seru George. Pandangannya kini mulai mengabur karena air mata. “Aku khawatir, Max. Kamu nggak paham.”

“Aku paham,” sahutnya, “dan itu wajar.”

Kamar itu kembali lengang, kali ini cukup lama. George mati-matian menahan air mata yang bisa tumpah kapan saja. Sedangkan Max menunduk, helaan napas berat sesekali terdengar samar. 

“Aku nggak yakin kalau aksi besok bakal didengar sama mereka yang duduk leyeh-leyeh di dalam gedung balai kota.”

George mendongak.

Kemudian, Max melanjutkan kalimatnya. “Tapi kalau aku diam aja, Sayang, aku nggak akan pernah maafin diriku sendiri.”

Air mata George mulai menetes membasahi pipinya, ia langsung memeluk kekasihnya erat-erat, lantas mencengkram kaos yang dikenakannya. “Your job is to make yourself safe, and your goal is to come back home safely.”

Max tersenyum tipis dalam pelukannya. Ia kemudian mengangguk, mengelus punggung George dengan lembut. “I promise. I will come back safely, and the second I arrive, I will hug you like this.”

“Kamu nginep di sini.” Ujar George di pelukannya.

Sure.”

“Kamu peluk aku semalaman.”

Max tertawa pelan. “Iya, Sayangku. Kita tidur pelukan, like we always do. Okay?”

Malam itu, George akhirnya tidak sedetikpun membiarkan Max lepas dari pelukannya. Namun diam-diam, saat George sudah terlelap tidur, Max membuka ponsel George. Ia menekan beberapa angka password yang sudah dihafal di luar kepala—tanggal jadian mereka. Kemudian, Max membuka aplikasi notes, mengetikkan sesuatu di sana.

Saat Max hendak beranjak untuk sekadar meletakkan ponsel di nakas, George makin mengeratkan pelukannya. 

Seolah jika ia melepas sedetik saja, Max akan pergi. Seolah George begitu takut Max akan beranjak dari pelukannya. Seolah dirinya begitu takut Max tidak menepati janjinya.

Lantas Max tidak bisa tidur malam itu. Ia menghabiskan sepanjang malam dengan memandang wajah George-nya yang terlihat begitu damai dalam tidurnya.

“George, Sayang,” Max berbisik pelan sekali, tangannya bergerak lembut menyusuri tiap senti wajah kekasihnya. “Besok mungkin bakal jadi pertama kalinya aku sengaja nyakitin kamu.”

***

Sinar matahari perlahan menyelinap masuk melewati sela-sela gorden tipis. Kamar kost ukuran 3×4 meter persegi itu terasa dingin, sebab AC semalaman disetel dengan suhu 18°.

Namun pemilik kamar itu, George, paham betul bahwa dingin yang muncul di kamarnya bukan semata-mata karena suhu AC.

George menatap nanar sisi kasur sebelahnya yang sudah kosong. Rapi. Membuatnya langsung paham bahwa seseorang yang semalaman tidur di sana, seseorang yang semalaman dipeluknya erat-erat—dengan harapan agar ia tetap bangun di pelukannya pagi ini, tetap memutuskan untuk pergi.

Ah, tidak.

Max tidak akan pergi.

Ia hanya menjalankan tugasnya untuk menegakkan demokrasi di negeri ini. Max-nya sedang berjuang menyuarakan hak nya sebagai warga negara.

Dan nanti, Max-nya akan kembali. Kembali memeluknya. Kembali menciumnya. Kembali menjadi dosen pribadinya. Kembali menjadi kekasihnya. Sebab George tahu persis bahwa Max tidak pernah melanggar janjinya.

You will come back safely, Sayang. I know you will.”

To be continued