Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Tuan Muda Centil dan Asistennya
Stats:
Published:
2026-07-08
Words:
5,918
Chapters:
1/1
Comments:
28
Kudos:
98
Bookmarks:
2
Hits:
1,747

Tuan Muda Centil Ikut Mudik

Summary:

Status Keonho boleh aja naik dari asisten jadi pacar, tapi jiwa 'babu' melayani Tuan Muda tetap tidak bisa lepas begitu saja. Buktinya, Kim Juhoon dengan segala kecentilannya nekat ikut mudik ke kampungnya Keonho pas liburan semester. Yuk, ikuti keseruan hubungan mereka yang makin absurd di kampung halamannya Keonho.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"GAK MAAAUU!!! MAUNYA IKUT KEONHOOOO!!!! PAPA JAHAT BANGET GAK PUNYA PERASAAN!!!"

Suara cempreng melengking yang sudah sangat familier di kediaman mewah itu kembali menggema, meruntuhkan ketenangan pagi hari liburan semester. Kim Juhoon, dengan setelan baju santai sutra warna baby blue yang harganya bisa buat beli motor matic seken, sekarang lagi tengkurep dramatis di atas karpet bulu ruang tamu. Kakinya yang putih mulus itu ditendang-tendang ke udara, persis kayak anak TK yang gak dibeliin es krim.

Di sofa depan Juhoon, sang Papa cuma bisa mengurut pangkal hidungnya pelan. Beliau bahkan belum sempat menghabiskan kopi hitamnya, tapi tensi darahnya sudah berasa mau melonjak ke ubun-ubun. Di sebelah Papa, sang Mama cuma bisa senyum-senyum nahan tawa sambil sibuk mengoles selai stroberi ke roti tawar.

"Juhoon, dengerin Papa," ucap sang Papa dengan nada seberat jangkar kapal.

"Keonho sekeluarga itu mau pulang kampung. Mau ngunjungin neneknya di kampung. Kamu ngapain ikut-ikutan? Lagian di sana itu desa, Juhoon. Gak ada mall, gak ada AC, sinyalnya juga susah. Kamu kalo sehari gak dapet sinyal aja udah kaya cacing kepanasan."

Juhoon langsung membalikkan badannya, merubah posisinya jadi duduk bersila dengan bibir yang dimanyunkan sejauh lima senti. Matanya yang bulat sudah berkaca-kaca  sepertinya bakat aktingnya dari tragedi lapangan basket dulu masih terasah dengan baik.

"Ih, Papa ngeremehin aku ya?! Aku sekarang udah tangguh tau! Lagian kan ada Keonho, nanti kalau aku kepanasan tinggal minta dikipasin Keonho!" rengek Juhoon makin menjadi. Dia merangkak mendekati kaki Papanya, lalu memeluk lutut sang bapak dengan erat.

"Pa, please... izinin Juhoon ikut ya? Liburan semester ini panjang banget, satu bulan loh Pa! Kalo aku di rumah sendirian terus Keonho pulkam, aku bisa meriang karena merindukan kasih sayang dan asupan ketampanan pacar aku, Papaaa..."

Beliau sama sekali gak kelihatan kaget mendengar kalimat hiperbola bin ajaib yang meluncur dari mulut anak tunggalnya itu. Alih-alih tersedak kopi hitamnya, Papa justru tetap tenang melipat koran pagi, seolah-olah drama rengekan 'asupan ketampanan Keonho' ini sudah jadi menu sarapan wajib di rumah mereka sejak dua bulan lalu. Beliau sudah benar-benar paham luar dalam kalau anaknya ini memang titisan uler keket stadium akhir kalau sudah menyangkut Keonho.

​Meskipun ketus, sebenarnya dalam hati beliau agak luluh dan lebih banyak pasrah. Papanya melirik ke arah pintu dapur, di mana Bi Sri dan Pak Joko lagi sibuk packing beberapa kardus oleh-oleh dibantu oleh Keonho.

Keonho yang menyadari situasi di ruang depan akhirnya melangkah mendekat. Cowok itu hari ini cuma pakai kaos hitam polos dan celana jins panjang, tapi entah kenapa di mata Juhoon, aura pacarnya itu kayak memancarkan efek glitter yang berkilauan.

"Permisi, Pak, Bu," sapa Keonho dengan sopan, mengangguk kecil.

"Nah, Keonho. Kebetulan kamu di sini," kata Papa Juhoon. "Ini anak curut satu ngerengek mau ikut kamu pulang kampung. Jujur, Om sih terserah kamu sama Bapak Ibu kamu aja. Kalau kira-kira Juhoon cuma bikin susah dan malah manja di sana, tinggalin aja di kampung kamu. Biar suruh makan tempe sama ikan asin tiap hari."

Juhoon langsung mendelik horor ke arah Papanya, lalu buru-buru menatap Keonho dengan tatapan puppy eyes mautnya.

"Keonhooo... bolehin aku ikut ya? Aku janji bakal nurut disana, gak rewel, dan aku gak akan ngerepotin kamu di sana..."

Keonho menatap Juhoon yang masih berlutut di lantai sambil memeluk kaki bapaknya sendiri. Sudut bibir Keonho menahan senyum geli yang luar biasa. Dia berdehem pelan untuk menetralkan suaranya.

"Kalau dari saya pribadi sama Bapak Ibu sih gak keberatan, Pak. Malah Ibu seneng kalau den Juhoon mau main ke rumah mbah. Tapi ya itu... di sana fasilitasnya seadanya, takutnya den Juhoon gak biasa."

"Tuh kan! Keonho aja gak keberatan! Panggil Juhoon aja ih Hoo, jangan pake 'den' lagi, kan udah pacaraann!!!" sela Juhoon dengan nada centilnya yang langsung kembali dalam hitungan detik.

Papa Juhoon menghela napas panjang, sadar kalau dia sudah kalah telak. "Ya sudah. Papa izinin."

"YESS!! MAKASIH BANYAK PAPAA!!" Juhoon hampir melompat kegirangan.

"TAPI," potong Papanya cepat, membuat gerakan Juhoon langsung membeku di udara. Papa menunjuk wajah Juhoon dengan pandangan mengintimidasi.

"Syaratnya satu. Kamu jangan bebanin Keonho selama di sana, jangan dikit-dikit minta dilayanin. Kamu disana itu cuma tamu yang numpang. Kalau Papa denger dari Pak Joko atau Bi Sri kamu rewel minta pulang atau manja-manja gak jelas, Papa potong uang jajan kamu selama tiga bulan. Ngerti?"

Juhoon langsung merosot di kursinya, kepalanya bersandar lemas di meja makan dengan bibir yang mengerucut habis. Ancaman potong uang jajan tiga bulan benar-benar langsung meruntuhkan seluruh jiwa raga Tuan Muda ini.

"Iya iya, ngerti Pa..." sahut Juhoon dengan suara super lemas dan lesu, berasa tidak punya energi lagi bahkan cuma buat membela diri.

Keonho yang melihat itu cuma bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Dalam hati, dia sudah mulai memikirkan bagaimana caranya mengurus satu uler keket kesayangannya ini saat mudik nanti.

 



Perjalanan mudik dimulai pada jam lima subuh. Juhoon yang biasanya baru bangun jam sepuluh siang, kali ini sudah segar bugar di ruang tamu sejak jam empat pagi dengan membawa satu koper rimowa ukuran besar warna rose gold yang isinya didominasi oleh berbagai macam skincare, baju ganti, dan parfum.

"Juhoon, lu itu mau naik bis doang plis, bukan mau fashion show ke Paris," tegur Martin lewat video call yang sengaja Juhoon hubungi subuh-subuh cuma buat pamer kalau dia mau liburan bareng Keonho. Di layar HP, muka Martin masih bengkak khas orang baru bangun tidur.

"Sirik aja lu jomblo! Ini namanya persiapan biar tetep paripurna di depan pacar. Dah ah, gue mau berangkat. Bye Martin, jangan kangen gue ya!" Juhoon langsung mematikan sambungan sepihak, menyisakan Martin yang mungkin lagi menyumpah serapah Juhoon di seberang sana yang sudah menganggu waktu tidurnya.

Singkatnya, mereka berempat, Pak Joko, Bi Sri, Keonho, dan Juhoon sudah duduk manis di dalam bus eksekutif jurusan Jawa Tengah.

Pak Joko dan Bi Sri duduk di barisan depan, sementara Juhoon mendapatkan kursi yang paling dia dambakan yaitu tepat di sebelah Keonho, di barisan tengah dekat jendela.

Bagi Juhoon yang sejak orok ke mana-mana selalu naik mobil pribadi ber-AC atau pesawat kelas bisnis, naik bus antarkota adalah sebuah petualangan yang sangat baru baginya. Matanya sibuk memperhatikan ke luar jendela, lalu beralih memperhatikan pedagang asongan yang sempat naik menawarkan tahu sumedang dan kacang rebus sebelum bus berangkat.

"Ho, itu tahu-nya kok dibungkus pake anyaman bambu gitu? Lucu banget, mau beli dong!" bisik Juhoon heboh, menyenggol lengan Keonho.
Keonho yang lagi membenarkan posisi tas ranselnya di bawah kursi langsung menoleh.

"Itu namanya tahu sumedang. Kamu mau? Bentar, aku panggilin abangnya."

"Mau mau! Sama kacang rebusnya juga Ho!" Setelah bertransaksi, Juhoon dengan senang hati memangku bungkusan tahu hangat itu. Dia mengambil satu tahu, lalu mengarahkan tahu itu ke depan mulut Keonho.

"Aaaa... suapan pertama buat pacar gantengku," ucap Juhoon dengan nada mendayu, matanya berkedip-kedip manja.

Keonho melirik ke depan, memastikan bapak dan ibunya gak nengok ke belakang. Setelah dirasa aman, dia langsung melahap tahu dari tangan Juhoon cepat-cepat. "Makasih ya sayang. Kamu makan juga gih, perjalanannya masih jauh soalnya. Sekitar 8 jam kalau gak macet."

"Hah?! Delapan jam?!!!" Juhoon melotot. "Lama banget? Biasanya aku ke Singapur cuma dua jam naik pesawat, Ho."

"Ya kan ini naik bis, sayang. Beda loh jalur langit sama jalur darat, nanti misal kamu udah capek tidur aja ya," kata Keonho lembut, tangannya bergerak mengusap pucuk kepala Juhoon, membuat cowok mungil itu langsung luluh dan kehilangan mode protesnya. Juhoon menyandarkan kepalanya ke bahu Keonho dengan nyaman, menghirup aroma wangi sabun yang selalu dia suka.

Tiga jam pertama berlalu dengan lancar. Namun, begitu bus mulai memasuki jalur berliku-liku di daerah pegunungan dengan rute yang berkelok tajam, ketahanan fisik 'Tuan Muda Mandiri' mulai diuji.

Wajah Juhoon yang tadinya cerah merona perlahan berubah jadi pucat pasi. Dia berhenti mengunyah tahu dan mulai memegangi perutnya.

"Keonho..." panggil Juhoon lemah, suaranya sudah tidak ada nada centilnya sama sekali. Keonho yang merasakannya langsung menoleh.

"Kenapa? Pusing?"

"Perut aku mual banget... rasanya kayak dikocok pake blender... kepalaku juga muter-muter," gumam Juhoon, matanya merem menahan gejolak di dadanya.

Keonho langsung paham kalau pacarnya ini lagi kena mabok perjalanan. Dengan sigap, Keonho membuka tas ranselnya, mengeluarkan sebotol minyak kayu putih andalan ibunya dan kantong plastik hitam buat berjaga-jaga.

"Sini, senderan ke dada aku aja," perintah Keonho lembut namun tegas. Dia menarik tubuh Juhoon agar bersandar sepenuhnya ke dadanya, lalu tangan kanannya mulai mengoleskan minyak kayu putih ke leher belakang, dada, dan perut Juhoon yang dilapisi kaus tipis. Aroma hangat minyak kayu putih langsung menyeruak, sedikit memberikan rasa rileks pada Juhoon. Bi Sri yang sempat menengok ke belakang langsung memasang muka khawatir.

"Lho, den Juhoon mabok ya? Itu di tas Ibu ada antimo, kasih minum dulu coba nak, den Juhoonnya."

"Iya, Bu. Ini udah Keonho kasih minyak kayu putih dulu," jawab Keonho.

Juhoon yang biasanya gengsi setengah mati, kali ini cuma bisa pasrah menerima suapan cairan saset dari Keonho. Kepalanya disembunyikan di ceruk leher Keonho, tangannya mencengkeram erat kaos Keonho seolah-olah bus yang mereka tumpangi lagi berguncang diterpa badai.

"Sakit banget, Ho... aku gak mau naik bis lagi seumur hidup..." rengek Juhoon pelan, air matanya sampai keluar sedikit di ujung mata karena menahan mual.

Keonho terkekeh pelan, mengusap punggung Juhoon dengan gerakan memutar yang menenangkan.

"Iya, makanya sekarang merem ya? Tidur aja, nanti pas bangun udah sampe kok." Mendengar bisikan berat dan hangat dari Keonho, Juhoon pelan-pelan mulai merasa tenang. Perlahan tapi pasti, efek kantuk dari obat mabuk perjalanan yang sempat dikasih Bi Sri mulai bekerja, membawa Tuan Muda Centil itu terlelap dalam dekapan erat sang pacar di sepanjang sisa jalur pantura.

 


 

Bus akhirnya berhenti di sebuah pertigaan jalan desa yang dikelilingi oleh hamparan sawah hijau sejauh mata memandang. Udara siang hari menyambut mereka dengan embusan angin yang sangat sejuk dan segar, jauh berbeda dengan polusi udara Jakarta yang biasa Juhoon hirup.

Begitu turun dari bus, Juhoon langsung meregangkan badannya yang pegal-pegal. "Wah... gila, udaranya seger banget!" ucap Juhoon dengan mata berbinar, melupakan drama mabok daratnya beberapa jam yang lalu.

"Namanya juga desa, Den. Yuk jalan kaki dikit, rumah Mbah gak jauh kok dari sini," kata Pak Joko sambil memanggul kardus oleh-oleh, sementara Keonho dengan gagah beraninya menggeret koper rose gold milik Juhoon di tangan kanan dan membawa tas ranselnya sendiri di punggung. Juhoon sendiri? Cuma bawa badan dan HP iPhone 17 Pro Max-nya yang digenggam erat oleh tangannya. Benar-benar definisi tidak boleh membebani Keonho yang langsung gagal total sejak menit pertama.

Juhoon seperti lupa akan syarat dari Papanya, karena detik berikutnya mode excited-nya langsung aktif seratus persen. Juhoon jalan paling depan sambil setengah lompat-lompat kecil.

"Keonhooo! Liat deh itu! Itu pohon apa kok buahnya gelantungan gede-gede banget??" seru Juhoon heboh sambil telunjuknya menunjuk-nunjuk heboh ke arah pohon sukun di pinggir jalan.

Belum sempat Keonho menjawab, perhatian Juhoon sudah teralihkan lagi. Dia mendadak berhenti di tepi pembatas sawah, matanya melotot kagum melihat hamparan padi yang bergoyang ditiup angin. "Ih, Hoo! Liat! Itu ada burung pada nangkring di batang padinya! Kok lucu banget sih?!"

"Itu burung pipit, Hoon. Jangan deket-deket banget, nanti kepeleset," sahut Keonho setengah panik, mempercepat langkahnya karena koper rose gold di tangannya agak tersendat di jalanan tanah berkerikil.

Tanpa aba-aba, dia melangkah lebar keluar dari jalanan setapak, berjalan mendekat ke arah pembatas sawah yang berupa gundukan tanah sempit.

"Juhoon, jangan ke situ jalannya licin!" seru Keonho setengah panik. Dia buru-buru mempercepat langkahnya sambil menyeret koper besar Juhoon.

Tapi Juhoon tidak mendengarkan. Dia sudah jongkok di tepi sawah, mencondongkan badannya ke depan dengan mata berbinar-binar. "Keonho, sini deh! Ini air sawahnya jernih banget... terus liat! Ada ikan-ikan kecil warna-warni lagi berenang! Ini namanya ikan apa? Boleh gak aku tangkep terus bawa pulang ke Jakarta?"

Keonho yang akhirnya berhasil menyusul itu langsung menarik pelan kerah kaos belakang Juhoon biar cowok mungil itu tidak terjungkal ke depan. Keonho terkekeh pelan melihat antusiasme Juhoon, lalu membantu menegakkan tubuh mungil itu.

"Itu ikan cetol," tutur Keonho lembut. "Gak usah kepikiran dibawa pulang ya, kasian ntar malah mati ikannya di jalan. Udah yuk berdiri, tapi pelan-pelan aja jalannya. Di sini licin, bahaya kalo kamu kepeleset terus malah nyungsep masuk lumpur."

Juhoon merengut manja tapi tetap berdiri sambil membersihkan ujung celana pendeknya.

"Hah??! ada kerbau juga! Keonho, liat! Itu kerbaunya beneran lagi mandi ya di lumpur?!" Juhoon memekik histeris, melompat heboh sambil menunjuk ke arah kubangan di tengah sawah tempat seekor kerbau besar sedang asyik berendam. Juhoon langsung mengangkat iPhone-nya, menjepret foto kerbau itu dari berbagai angle dengan antusias. "Lucu banget, matanya merem-melek gituuu!"

Pak Joko dan Bi Sri yang berjalan di belakang cuma bisa geleng-geleng kepala sambil terkekeh geli melihat tingkah anak majikannya yang mendadak berubah jadi seperti anak TK yang baru pertama kali dibawa ke kebun binatang. Sementara Keonho, meskipun tangannya pegal membawa koper besar, cuma bisa tersenyum gemas memandangi punggung Juhoon yang masih sibuk menunjuk-nunjuk setiap jengkal kearifan lokal di sepanjang jalan desa.

Setelah puas menjepret kerbau dari berbagai angle, Juhoon akhirnya mau kembali berjalan menyusuri jalanan setapak yang dipinggiri pohon-pohon kelapa dan rumah-rumah warga bergaya joglo. Di sepanjang jalan itu, kehadiran mereka khususnya Juhoon langsung menarik perhatian warga lokal.

Bagaimana tidak? Juhoon yang memakai celana pendek putih di atas lutut, kaos pastel, dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya benar-benar kelihatan sangat kontras dan mencolok di antara suasana pedesaan. Di saat warga lokal memakai caping atau pakaian berladang yang santai, Juhoon justru berdiri tegap di sana dengan memegang iPhone 17 Pro Max-nya, kelihatan persis seperti starboy Jakarta yang tersesat pas mau pergi liburan ke Paris.

"Lho, Pak Joko! Nembe rawuh (baru datang), Pak?" sapa seorang ibu-ibu yang lagi menjemur padi di depan rumahnya.

"Nggih, Bu. Niki nembe kesampeyan mudik (iya bu, ini baru bisa kesampean mudik)." jawab Pak Joko ramah sambil melempar senyum.

Mata si ibu-ibu langsung beralih ke arah Keonho, lalu melotot kagum. "Walah... niki Keonho toh? Pangling aku! Jan... saiki wis gedhe, ganteng men koyo artis TV sing nang Jakarta iku lho!" (Wah, ini Keonho ya? Pangling aku! sekarang udah gede, ganteng banget kaya artis TV yang di Jakarta itu lho!)

Keonho cuma tersenyum sopan dan mengangguk sedikit. "Nggih, Bude. Matur nuwun (makasih)."

Juhoon yang berjalan di sebelah Keonho langsung memasang telinga tajam-tajam. Meskipun dia gak terlalu paham bahasa Jawa halus, tapi kata "ganteng" dan "artis" itu kedengaran jelas banget di kupingnya.

Juhoon langsung bergeser mepet, menyenggol lengan Keonho sengaja sambil berbisik, "Tuh kan, baru nyampe aja udah ada yang terpesona sama kagantengan kamu. Emang pacar aku ini meresahkan ya."

"Udah, jangan mulai centilnya di sini," bisik Keonho pelan, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya akibat godaan Juhoon.

 

Rumah Simbah Keonho ternyata adalah sebuah rumah kayu joglo yang sangat luas dengan halaman depan yang dipenuhi pohon jambu air dan bunga-bunga liar.

Begitu mereka sampai, seorang nenek tua dengan konde rapi langsung keluar dari pintu depan dengan wajah haru. Tragedi peluk-pelukan melepas rindu antara Bi Sri, Pak Joko, dan Simbah pun terjadi.

Juhoon berdiri agak canggung di belakang Keonho. Begitu Simbah melihat Juhoon, matanya berkedip heran. "Lha niki sinten, Sri? Kok kulite resik temen koyo cah wadon?" (Lha ini siapa, Sri? kok kulitnya bersih banget kaya anak cewek?)

Bi Sri langsung tertawa. "Niki den Juhoon, Mbah. Putrane bapak majikan sing teng Jakarta. Badhe nderek liburan teng mriki." (Ini den Juhoon, Mbah. Anaknya bapak majikan yang di Jakarta. Mau ikut liburan di sini.)

Juhoon buru-buru maju, melepas kacamata hitamnya, lalu menyalami tangan Simbah dengan sangat sopan, dia masih ingat ancaman potong uang jajan dari Papanya. "Halo, mbah... nama saya Juhoon. Maaf ya mbah kalau Juhoon ngerepotin main ke sini," ucap Juhoon dengan nada yang dibuat semanis dan selembut mungkin.

Simbah langsung tersenyum lebar, menepuk-nepuk lengan Juhoon sayang. "Walah, gak repot, Le. Malah seneng rumah mbah jadi rame. Wis, ayo ndang mlebu, maem dhisik terus adhus (Udah, ayo cepetan masuk, makan dulu terus mandi)."

Hari pertamanya di desa berjalan dengan sangat unik bagi Juhoon. Menu makan siangnya sangat sederhana, ada sayur lodeh tewel, tahu bacem yang warnanya cokelat pekat, sambal korek, dan ikan asin.

Juhoon yang biasanya makan steak atau sushi, awalnya kelihatan ogah-ogahan pas menatap piringnya. Dia sempat mengerucutkan bibirnya manja sambil mencolek-colek tahu bacem di depannya pakai ujung sendok, seolah-olah makanan di hadapannya itu aneh banget. Dalam hati dia mikir, 'Ya ampun Papa... anakmu yang paling cantik dan gemes ini masa disuruh makan ginian sih?'

"Ayo dimaem, Le. Gak usah sungkan," kata Simbah ramah, tersenyum melihat Juhoon yang cuma memandangi nasi hangatnya.

"I-iya, mbah... makasih," jawab Juhoon agak ragu.

Sambil melirik Keonho yang sudah lahap makan duluan, Juhoon akhirnya menyuap sedikit nasi, secuil tahu bacem, dan potongan ikan asin berselimut sambal korek ke dalam mulutnya dengan gerakan super pelan. Tapi begitu kunyahan pertama mendarat di lidahnya, mata Juhoon langsung melotot lebar dan berbinar-binar. Gila, perpaduan manisnya tahu bacem ketemu asin gurihnya ikan asin dan pedas nampolnya sambal korek ternyata pecah banget di mulut!

"GILA! MBAH! INI IKAN ASIN SAMA TAHUNYA KOK ENAK BANGET???!!" seru Juhoon heboh, hilang sudah mode ogah-ogahan dan gengsinya tadi. Dia langsung menyendok nasi dengan brutal, bahkan sampai nambah porsi dua kali yang sukses membuat Simbah tertawa puas melihat nafsu makan pemuda Jakarta yang mendadak lahap itu.

Keonho yang lagi asyik mengunyah langsung menghentikan gerakan sendoknya. Dia menoleh ke samping, menatap piring Juhoon yang mendadak bersih tanpa sisa, lalu beralih menatap pipi pacarnya yang menggembung penuh mirip tupai kelaperan. Tawa kecil Keonho langsung lolos begitu saja, dia dengan santai mengulurkan tangan untuk mengusap sudut bibir Juhoon yang belepotan kuah sayur lodeh pakai ibu jarinya.

"Tadi keliatannya kaya gak mau makan, eh sekarang malah nambah dua piring," goda Keonho pelan, suaranya terdengar sangat renyah dan penuh sayang. "Makanya, Hoon, jangan liat tampilannya doang. Selera lidah kamu tuh sebenernya merakyat, cuma gengsinya aja yang ketinggian."

"Biarin! Kan emang beneran enak masakannya mbah!" sahut Juhoon membela diri sambil mengunyah cepat, matanya melotot manja ke arah Keonho. "Lagian ini karena makannya ditemenin kamu juga, makanya rasanya jadi makin enak, hehe!"

Keonho cuma menggelengkan kepala gemas. Tanpa aba-aba, dia memindahkan satu potong ikan asin montok dari piringnya sendiri ke atas piring Juhoon yang baru saja diisi nasi tambahan. "Nih, abisin yaa biar makin gemuk."

"Ih! Apaan sih Keonho!!" omel Juhoon sebal dengan bibir mengerucut manja. Tapi meskipun mulutnya protes, tangannya tetap saja bergerak cepat mencowel ikan asin itu lalu melahapnya lagi bersama sesuap besar nasi hangat sampai pipinya menggembung penuh. Keonho cuma ketawa tipis melihat tingkah laku pacarnya, lalu kembali melanjutkan makannya dengan santai.

 

Tantangan sesungguhnya baru dimulai saat waktu mandi tiba. Kamar mandi rumah Simbah terletak di bagian samping luar rumah, beralas semen kasar dengan dinding batako tanpa cat, dan airnya berasal dari sumur timba yang ditampung di bak mandi berbahan batu besar. Suasananya benar-benar sangat asing untuk pemuda yang terbiasa dengan water heater dan bathtub marmer.

"Keonhooo..." panggil Juhoon dari depan pintu kamar mandi. Dia berdiri gelisah sambil memeluk handuk warna pink bulu-bulunya dengan muka super melas. "Ini airnya kok dingin banget kayak es batu sih? Terus... itu ada kodok kecil di pojokan bak mandi, aku takut digigit!"

Keonho yang lagi santai duduk di lincak teras samping cuma bisa menghela napas pendek. Sambil menyunggingkan senyum geli, dia berdiri lalu berjalan mendekati Juhoon yang sudah pasrah di depan pintu kayu ringkih tersebut.

"Kodok gak gigit, Hoon. Dia juga takut liat kamu," sahut Keonho menenangkan, tangannya terulur mengacak rambut Juhoon gemas. "Airnya emang dingin karena langsung dari mata air sumur, seger tau. Udah, buruan mandi, mumpung belum terlalu sore ntar kamu malah masuk angin."

"Gak mau! Temenin di depan pintu! Jangan ke mana-mana ya? Pokoknya awas aja kalo kamu tinggal ke depan! Kalau ada kodoknya loncat, kamu harus langsung masuk selametin aku!" tuntut Juhoon dengan nada manjanya yang kembali kambuh, matanya melotot memperingatkan lengkap dengan bibir yang mengerucut sebal.

"Iya, iya. Aku tungguin di sini, gak bakal ke mana-mana. Udah buruan masuk," kata Keonho pasrah. Dia akhirnya bersandar di tiang kayu dekat pintu kamar mandi, melipat kedua tangannya di dada siap menjadi penjaga pintu pribadi sang pangeran kota.

Begitu pintu kayu itu tertutup rapat, drama mandi sore pun resmi dimulai. Keonho yang berdiri di luar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengarkan berbagai jeritan heboh dan keluhan yang bersahut-sahut di dalam sana, beradu dengan suara kecipak air gayung.

"AKH! HO! DINGIN BANGET GILA!! INI AIR ATAU APA SIH?!" teriak Juhoon dari dalam, suaranya terdengar bergetar hebat.

Byur!

Suara guyuran gayung pertama terdengar, disusul suara napas Juhoon yang memburu menahan dingin. "H-ho... kamu masih di luar, kan?! J-jangan pergi ya! Sumpah ini kaki aku rasanya beku!"

"Iya, masih di sini. Gak ke mana-mana," sahut Keonho agak keras biar kedengaran sampai dalam. "Makanya mandinya cepetan, diguyur langsung badannya biar cepet adaptasi sama airnya."

"Gak bisa langsung diguyur! Badan aku kayak jadi es rasanya!" protes Juhoon lagi, diselingi suara gigi yang saling beratuk saking menggigilnya. "U-udah gitu ini sabun cairnya kok gak mau berbusa banyak sih? Kesel banget! Ih... itu kodoknya nengok ke aku, Hoo! Keonhooo!!! Dia kayak mau loncat!!!"

"Gak bakal loncat, sayang. Dia cuma mau nemenin kamu mandi," goda Keonho sambil terkekeh pelan, sengaja memprovokasi pacar centilnya itu.

"IH KOK KAMU MALAH BERCANDA SIH?! MALAH NGEBELAIN KODOK DARIPADA PACAR SENDIRI! NYEBELIN BANGET!" pekik Juhoon dari dalam, buru-buru menyiram badannya dengan brutal biar bisa cepat-cepat keluar dari sana.

Keonho di luar cuma bisa tertawa tipis, merasa terhibur dengan konser dadakan Juhoon yang sukses memecah keheningan sore di desa itu.

 


 

Hari kedua di desa, suasana mulai memanas, bukan karena cuaca, melainkan karena tingkat cemburu Juhoon yang mendadak melonjak drastis melewati batas atmosfer bumi.

Sore itu, mbah meminta bantuan Keonho untuk membelikan beberapa butir telur, gula pasir, dan kopi di warung klontong milik Simbok Nyami yang terletak di dekat balai desa. Juhoon, tentu saja, gak mau ketinggalan. Dia langsung mengintili Keonho dengan setelan kaos tanpa lengan warna putih dan celana pendek jins, penampilannya benar-benar mencolok.

Begitu mereka berdua sampai di warung, ternyata di sana lagi berkumpul tiga orang gadis desa setempat yang seumuran dengan mereka. Mereka sepertinya lagi asyik ngerujak sambil mengobrol. Begitu melihat Keonho berjalan mendekat, obrolan ketiga cewek itu langsung terhenti seketika. Mata mereka auto tertuju pada sosok tegap Keonho yang cuma pakai kaos oblong hitam santai dengan rambut yang agak acak-acakan karena angin sore.

"Lho... niki Mas Keonho anake Pak Joko toh?" tanya salah satu cewek yang rambutnya dikuncir kuda, namanya Ratih. Matanya berbinar-binar dengan pipi yang mendadak merona merah.
"Nggih," jawab Keonho pendek sambil tersenyum sopan. "Mau beli telur satu kilo, gula pasir setengah kilo, sama kopi hitam sasetan satu renteng, Mbok."

Simbok Nyami yang lagi sibuk menimbang telur langsung menyahut, "Walah Keonho... saiki wis dadi cah kota (anak kota), ganteng temen yo. Iki lho, Ratih ket mau ngomongi kowe terus, takon kapan Keonho mudik, jarene kangen arep dolanan bareng koyo jamane cilik (Walah Keonho... sekarang udah jadi anak kota, ganteng banget ya. Ini lho, Ratih dari tadi ngomongin kamu terus, tanya kapan Keonho mudik, katanya kangen pengen main bareng kaya jaman kecil dulu.)"

Ratih langsung tersenyum malu-malu kucing.

"Ih, Simbok mah... buka kartu aja.Tapi beneran lho Mas Keonho, ntar malem neng lapangan desa kae ana layar tancep, melu nonton njuh? Ntar tak gawake (aku bawain) mendoan anget bikinan mamaku, sekalian nyari tempat duduk di depan."

Juhoon yang berdiri di belakang Keonho langsung memasang muka super sepet. Dadanya mendadak berasa sesak, bukan karena asma kambuh kayak di lapangan basket dulu, tapi karena rasa cemburu yang membakar seluruh jiwa raganya.

'Buset deh... ini cewe kampung gatel banget ya?! Main ngajak nonton layar tancep segala pake umpan mendoan anget! Gak tau apa Keonho itu udah ada pawangnya?! Punya gue ini! syuuh dasar uler betina!!' batin Juhoon berteriak histeris.

Melihat Keonho yang cuma diam sambil tersenyum tipis, yang menurut Juhoon itu senyuman terlalu ramah buat para cewek-cewek disana, Juhoon langsung memutuskan untuk melancarkan aksi super centilnya.

Juhoon tiba-tiba maju selangkah, memotong jarak di antara mereka, lalu dengan gerakan dramatis dia langsung menggelayutkan kedua tangannya ke lengan kekar Keonho. Kepala Juhoon disandarkan ke bahu Keonho, wajahnya sengaja mendongak menatap Keonho dengan kerlingan mata yang super manja dan suara yang sengaja dicempreng-cemprengin biar kedengaran jelas sama ketiga cewek di depan mereka.

"Keonhoo... pusing banget nih kepalaku... mendadak agak lemes karena cuacanya panas banget," keluh Juhoon dengan nada mendayu-dayu. "Pegangin aku dong, Ho... nanti kalau aku pingsan di sini gimana? Kan kamu yang repot harus gendong aku balik ke rumah mbah..."

Ketiga cewek desa itu langsung melongo melihat kelakuan  Juhoon. Mereka saling pandang dengan muka bingung sekaligus syok melihat ada cowok kota yang super mulus mendadak bergelayutan manja di lengan Keonho.

Keonho sendiri sempat kaget dengan serangan mendadak Juhoon. Namun, begitu melihat bibir Juhoon yang maju beberapa senti dengan tatapan mata galak yang ditujukan rahasia ke arah Ratih, Keonho langsung paham kalau pacar tuan mudanya ini lagi cemburu tingkat akut.

Sudut bibir Keonho langsung melengkung membentuk senyuman gemas yang luar biasa. Bukannya melepas cengkeraman Juhoon, Keonho malah sengaja menggeser tangan kirinya untuk merangkul pinggang Juhoon dengan protektif, menahan tubuh mungil itu agar makin menempel rapat ke dadanya.

"Iya, ini aku pegangin. Makanya jangan kebanyakan pecicilan," ucap Keonho dengan suara beratnya yang mendadak melembut seratus persen khusus buat Juhoon. Keonho kembali menatap Simbok Nyami dan ketiga cewek desa yang masih mematung. "Maaf ya Ratih... ntar malem kayaknya saya gak bisa ikut nonton. Soalnya harus jagain kesayangan saya ini. Dia gak bisa ditinggal sendirian, manja banget anaknya kalau di tempat baru."


BOOM!

 

Pernyataan frontal tanpa filter dari Keonho sukses bikin warung kelontong itu mendadak hening seketika. Muka Ratih yang tadinya merah merona karena naksir langsung berubah jadi pias, sementara dua temannya cuma bisa menahan napas kaget. Kata 'kesayangan' yang keluar dari mulut Keonho dengan nada sekasual itu bener-bener meruntuhkan harapan asmara gadis desa sore itu.

Juhoon yang mendengarnya langsung bersorak-sorai gembira dalam hati. Rasa kemenangan mutlak langsung membuncah di dadanya, bikin rasa kesal karena diabaikan tadi menguap begitu saja. 'Rasain tuh! Makanya jangan hobi tebar pesona sama cowok orang!!! Iri kau dek dek.' batin Juhoon jemawa.

Sambil melempar pandangan super sinis tapi penuh kemenangan ke arah Ratih, Juhoon sengaja makin merapatkan badannya. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Keonho, melingkarkan tangannya posesif di pinggang cowok itu, lalu terkekeh centil yang sengaja dibuat agak keras biar kedengaran.

"Tuh, Mbak... denger sendiri kan? Keonho-nya yang gak mau jauh-jauh dari akuuu," sahut Juhoon dengan nada bicara yang dibuat-buat semanja mungkin, sengaja memamerkan senyum paling menyebalkan sedunia. "Aku tuh emang gak bisa ditinggal semenit aja, ntar dia bisa kangen berat. Jadi maaf yaaa, nonton layar tancepnya dicancel dulu buat malem ini. Byeeee."

Setelah menerima bungkusan belanjaan dan membayar, Keonho langsung menuntun Juhoon yang masih bergelayutan manja di lengannya untuk berjalan balik menuju rumah Simbah.
Sepanjang jalan setapak yang sepi, Juhoon melepas gelayutannya tapi bibirnya masih cemberut.

"Hih, lagian kamu juga sih! Kenapa tadi senyum-senyum pas diajakin nonton?! Suka ya mau dikasih mendoan anget?! Apa emang mau tebar pesona aja?!!" ketus Juhoon, melipat kedua tangannya di depan dada sambil berjalan mendahului Keonho dengan hentakan kaki yang sengaja dibuat berisik.

Keonho terkekeh renyah, mempercepat langkahnya untuk menyejajari Juhoon. Dia meraih tangan kanan Juhoon dan langsung menggenggam jari-jari lentiknya.

"Astaga, sayang... kamu masih cemburu? Kan tadi aku udah bilang gak bisa karena mau jagain kamu. Masih kurang jelas ya? Apa aku perlu pinjam toa desa sekalian terus umumin ke satu RT biar makin jelas?" goda Keonho, niatnya cuma mau meledek biar pacar centilnya ini berhenti merengut.

Tapi bukannya makin ngambek atau malu, mata Juhoon malah langsung berbinar-binar cerah. Dia mendadak menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Keonho dengan senyum lebar yang super gemas dan antusias.

"HAAHH, MAUUU KEONHOO!!!! Beneran ya?! Ih, seru banget pasti!" seru Juhoon kegirangan sambil menggoyang-goyangkan tangan Keonho yang menggenggamnya.

"Umuminnya kayak gini, 'Pemberitahuan kepada seluruh warga desa, Keonho ganteng udah ada yang punya! Malem ini gak bisa diganggu karena mau kelonan sama Juhoon kesayangannya yang paling cantik jelita!' Biar cewek-cewek warung tadi pada denger sekalian!"

Keonho langsung menatap Juhoon dengan pandangan takjub sekaligus heran, benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala pacarnya ini yang urat malunya tampaknya sudah putus karena kelewat bucin.

"Tapi tetep aja! Pokoknya selama di sini, kamu gak boleh senyum-senyum sembarangan ke cewe lain! Senyum kamu itu cuma hak milik Kim Juhoon seorang, paham gak?!"
Keonho berhenti melangkah, membuat Juhoon ikut berhenti. Di bawah bayangan pohon kelapa yang melambai ditiup angin sore, Keonho menundukkan kepalanya, menatap dalam-dalam ke manik mata bulat Juhoon yang selalu berhasil membuat pertahanannya runtuh.

"Iya, den Juhoon centil. Paham," bisik Keonho lembut, lalu dengan gerakan cepat yang tidak terduga, dia mengecup singkat pucuk kepala Juhoon yang wangi stroberi. "Udah ah, yuk pulang. Keburu dicariin Ibu nanti."

Juhoon langsung mematung di tempat dengan muka yang sudah merah padam sampai ke telinga. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Sambil memegangi kepalanya yang baru saja dicipok sang pacar, Juhoon buru-buru berlari kecil mengejar Keonho yang sudah berjalan duluan sambil tertawa puas.

 

Malam harinya, suasana desa benar-benar sunyi dan tenang. Hanya terdengar suara jangkrik dan katak sawah yang bersahutan, menciptakan simfoni alam yang menenangkan hati. Setelah makan malam, Pak Joko dan Bi Sri sudah terlelap di kamar dalam karena capek seharian beraktivitas, sementara mbah lagi asyik menonton acara wayang kulit di TV ruang tengah yang suaranya sayup-sayup terdengar sampai luar.

Juhoon dan Keonho memilih untuk duduk berdua di atas lincak bambu yang ada di teras depan rumah. Juhoon malam itu memakai sarung kotak-kotak milik Pak Joko yang dipakaikan asal-asalan di pinggangnya untuk menghalau gigitan nyamuk, dikombinasikan dengan kaos oversized-nya yang biasa.

"Ho... dingin banget ya di sini kalo malem," ucap Juhoon sambil merapatkan tubuhnya ke sebelah Keonho, mencari sumber kehangatan.

Keonho merentangkan tangan kirinya, membiarkan Juhoon bersandar nyaman di dada bidangnya sambil merangkul pundak cowok mungil itu erat. Tangan kanannya sibuk menggerakkan kipas sate dari anyaman bambu untuk mengusir beberapa nyamuk nakal yang mencoba mendekati kulit mulus Juhoon.

"Gimana? Kapok gak mudik ke kampung?" tanya Keonho pelan, suaranya terdengar sangat dalam di tengah keheningan malam.

Juhoon terdiam sejenak, menatap langit malam desa yang sangat bersih tanpa polusi cahaya, menampilkan ribuan bintang yang bertaburan dengan indahnya—pemandangan yang gak akan pernah bisa dia lihat di langit Jakarta.

"Awalnya sih kesel ya karena mual naik bis ditambah ada drama cewek genit di warung tadi sore," gumam Juhoon jujur, membuat Keonho terkekeh pelan. Juhoon memajukan tangannya, memainkan jari-jari tangan Keonho yang besar dan hangat. "Tapi... aku seneng banget tau Ho bisa ikut kesini."

"Seneng kenapa?"

"Seneng karena akhirnya aku bisa tau tempat di mana kamu lahir dan besar sebelum ikut pindah ke Jakarta. Aku bisa liat mbah kamu yang baik banget, bisa ngerasain masakan mbah kamu yang enak, dan yang paling penting..." Juhoon mendongak, menatap rahang tegas Keonho dari dekat dengan tatapan mata yang penuh ketulusan, hilang semua mode centilnya yang biasa. "...aku bisa bareng kamu terus disini, rasanya tenang banget."

Keonho menatap balik manik mata Juhoon. Rasa hangat dan penuh kasih sayang langsung menjalar di dalam dadanya, membuat cengkeramannya di pundak Juhoon semakin mengerat penuh proteksi. Keonho menundukkan kepalanya sedikit, membawa dahi mereka untuk saling bersentuhan di bawah lampu teras yang kuning hangat.

"Makasih juga ya sayang, udah mau turun dari zona nyaman kamu cuma buat ikut aku ke desa sepi kayak gini," bisik Keonho lembut, napasnya berembus hangat di bibir Juhoon.

Juhoon langsung tersenyum lebar banget, hatinya membuncah sampai rasanya mau meledak karena kebahagiaan yang teramat sangat. Tanpa aba-aba lagi, Juhoon memajukan badannya, melingkarkan kedua lengan rampingnya ke leher Keonho, lalu menyembunyikan wajah meronanya di ceruk leher cowok itu, menikmati setiap detik kehangatan cinta mereka di tengah suasana kampung halaman yang bersahaja.

Namun, kedamaian romantis itu mendadak terusik saat angin malam berembus lebih kencang dari biasanya. Suara gemeresik daun-daun pohon bambu di seberang jalan setapak depan rumah terdengar bergesekan liar, menimbulkan suara srek... srek... yang agak horror.

Bersamaan dengan itu, suara jangkrik dan kodok sawah yang tadinya ramai menyanyi langsung senyap seketika. Hening. Benar-benar hening yang mencekam, menyisakan hawa dingin yang mendadak menusuk permukaan kulit sampai ke tulang.

Juhoon yang peka dengan perubahan suhu langsung meremang. Bulu kuduk di lehernya berdiri tegak. Dia perlahan menjauhkan wajahnya dari leher Keonho, matanya bergerak gelisah menatap ke arah kegelapan jalan desa yang tidak terjangkau lampu teras.

"H-ho..." bisik Juhoon, suaranya tiba-tiba bergetar, mode manjanya berganti jadi mode ketakutan. "Kok... mendadak sepi banget ya? Jangkriknya pada ke mana?"

Keonho tidak langsung menjawab. Gerakan tangan kanannya yang mengibas kipas bambu perlahan melambat. Matanya yang tajam menyipit, memandang lurus ke arah rumpun bambu tua di seberang jalan. Sebagai anak yang besar di desa, dia tahu betul arti dari perubahan alam yang mendadak seperti ini. Bau tanah basah dan wangi bunga melati yang menyengat tiba-tiba tercium samar di udara, padahal di sekitar rumah Simbah tidak ada yang menanam pohon melati.

"Bukan apa-apa, angin malem doang," jawab Keonho berusaha tenang, meski suaranya terdengar lebih berat dan waspada. Dia mempererat pelukannya pada pinggang Juhoon, berniat menuntun pacarnya masuk ke dalam. "Yuk, masuk aja. Udah makin malem, ntar kamu masuk angin."

"B-bentar, Ho..." Juhoon menahan lengan Keonho, tubuhnya mendadak kaku. Matanya melotot lebar ke satu titik di balik pohon mangga besar dekat gerbang kayu rumah Simbah. "I-itu... itu apaan gerak-gerak di atas pohon?"

Keonho ikut mengalihkan pandangannya. Di dahan pohon mangga yang gelap, siluet putih kain yang kusam tampak melambai-lambai pelan ditiup angin. Tapi yang membuat darah Juhoon serasa berhenti mengalir adalah suara tawa melengking yang sangat lirih, hampir seperti bisikan dari arah sana.

 

Hihihihi...

 

"KEONHOOO!!!" Juhoon langsung memekik tertahan, nyaris menangis. Dia langsung memeluk tubuh Keonho dengan erat seperti koala, menyembunyikan seluruh wajahnya di dada cowok itu sambil gemetaran hebat. Sarung kotak-kotak Pak Joko yang dipakainya sampai melorot ke lantai teras akibat gerakan paniknya. "Ada setan!! Sumpah itu ada putih-putih!! Mau pulang ke Jakarta sekarang juga, Hooo!! Takut!!! Huhhuhu..."

Keonho yang awalnya sempat menegang, langsung menghela napas lega begitu melihat objek tersebut dengan lebih jelas setelah diterpa angin malam yang kuat. Dia memeluk balik Juhoon yang sudah menangis tanpa air mata di dadanya, mengusap punggung cowok itu dengan gemas.

"Astaga, Juhoon... tenang dulu, itu bukan setan," kata Keonho sambil terkekeh renyah, berusaha menahan tawa agar tidak merusak suasana malam yang mencekam.

"Gak mau liat! Pokoknya itu pasti pocong atau kuntilanak!! Suaranya serem, jelek banget!!!" cerocos Juhoon histeris, kakinya bahkan sudah naik bergelayut di pinggang Keonho, tidak mau menyentuh lantai sama sekali.

"Bukan, sayang. Liat dulu makanya," Keonho menepuk pantat Juhoon pelan, memaksa pacar penakutnya itu untuk menengok. "Itu kain putih lama punya mbah yang tadi sore dicuci Ibu terus dijemur di dahan pohon mangga karena jemuran belakang penuh. Terus suara yang kamu denger tadi Itu suara burung hantu, bukan suara kuntilanak."

Juhoon terdiam. Dengan sangat perlahan dan penuh rasa curiga, dia mengintip dari balik bahu lebar Keonho. Benar saja, saat matanya sudah menyesuaikan dengan kegelapan, kain putih melambai itu ternyata memang kain putih usang yang digantung pakai hanger. Dan di dahan yang lebih tinggi, seekor burung hantu berbulu abu-abu tampak bertengger santai sambil sesekali mengeluarkan suara parau yang mirip tawa lirih.

Wajah Juhoon yang tadinya pias karena ketakutan langsung berubah merah padam menahan malu. Dia langsung melepaskan gelayutan kakinya dan turun dari tubuh Keonho, pura-pura sibuk membetulkan sarungnya yang melorot di lantai sambil mengerucutkan bibirnya super sebal.

"Hih! Lagian Bi Sri ngapain sih jemur kain di pohon malem-malem! Bikin jantungan aja!" omel Juhoon centil, menutupi rasa gengsinya karena sudah terlanjur histeris dan memeluk Keonho seperti koala. "Terus itu burung juga nyebelin banget, suaranya jelek gak ada bagus-bagusnya!!"

Keonho cuma menggelengkan kepala gemas melihat pacar kotanya yang langsung kembali ke mode galak setelah tahu dirinya aman. Dia meraih pinggang Juhoon, menariknya mendekat lagi lalu mengecup pelipisnya sekilas. "Iya, iya, burungnya yang salah. Udah, sekarang masuk kamar yuk, lanjut kelonan di dalem aja sebelum kamu diculik kuntilanak beneran."

"Ih, Keonho! Jangan nakut-nakutin lagi!!!" jerit Juhoon manja, langsung memeluk lengan Keonho erat-erat dan menarik cowok itu setengah berlari masuk ke dalam rumah, mengunci pintu teras rapat-rapat seolah dunia luar penuh dengan setan.

 

Status WA - Juhoon

(5 Menit yang lalu)

"Pemandangan pagi di desa indah banget ya guys, tapi tetep kalah indah sih sama muka pacar aku pas baru bangun tidur hehehe @Keonho. P.s: Buat mbak-mbak di warung kemaren, sorry yach mas gantengnya udah hak paten gue! 🤪💅 #MudikBarengAyang #JombloDilarangIri"

(Viewed by: Martin, Seonghyeon, and 145 others)

 

Notes:

Mana ini bocil minta part 2, bocil minta dilanjut, nich udah aku konsrang konsreng ampe gosong
Jangan minta part 3 4 5 6 7 8 9 10 yach 😤😤😤😤😤 *btw cmiiw klo bahasa jawa nya ada yg salah hehe

Series this work belongs to: