Work Text:
Matahari sore baru saja terbenam di atas rumah megah milik keluarga Kim, meninggalkan rona jingga yang hangat di balik jendela kaca besar. Namun, ketenangan di dalam penthouse dua lantai itu resmi hilang begitu suara roda koper berdecit, disusul jeritan kecil seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang melesat heboh melintasi lantai marmer.
"Kak Konooo! Liat, Sean punya mobil balap yang bisa keluar asapnyaaa!"
Sean, bocah berpipi tembem dengan kaos kuning cerah yang agak kebesaran, melesat tanpa ragu melewati Kim Juhoon, tuan muda pemilik rumah yang berdiri anggun dengan piyama sutra mewahnya hanya demi menubrukkan tubuh mungilnya ke kaki Keonho.
Keonho, yang baru saja selesai menaruh tas-tas besar di pojok ruangan, dengan sigap berlutut. Senyum tipis yang jarang terlihat di wajah tegasnya mendadak terbit. Tangannya yang berurat secara alami terulur untuk menangkap tubuh Sean, mengacak rambut bocah itu dengan sangat telaten. "Wah, keren banget. Kok bisa keluar asapnya gitu, Sean?"
Juhoon yang berdiri dua langkah di belakang mereka langsung menyilangkan tangan di dada. Bibirnya mengerucut sempurna, matanya memicing menatap pemandangan di depannya.
Oh iya untuk informasi tambahan, orang tua Juhoon bersama tante dan pamannya atau orang tua dari Sean sedang pergi berlibur ke Bali untuk reuni keluarga besar sekaligus arisan. Karena Juhoon menolak ikut dengan alasan "Ngapain sih jauh-jauh ke Bali? Lagian aku males ketemu sama sepupu yang lain. Mending di rumah aja dijagain sama Keonho ku yang ganteng," Sean akhirnya dititipkan di rumah Juhoon. Dan karena Pak Joko serta Bi Sri sibuk mengurus area paviliun belakang dan urusan pekerjaan rumah seperti memasak dan membersihkan kediaman, tugas menjaga Sean secara penuh jatuh ke tangan Juhoon dan Keonho.
"Lima detik," gumam Juhoon sengit, melangkah mendekat sambil menghentakkan kakinya yang terbalut sandal bulu putih mahal. "Baru lima detik masuk rumah aku, kamu bahkan gak nyapa sepupu ganteng kamu ini dulu, Sean? dan kenapa kamu malah nempel-nempel ke Keonho??"
Sean menoleh sebentar dari pangkuan Keonho, menjulurkan lidahnya dengan wajah tanpa dosa. "Biarin, soalnya kak Ju galak dan bawel! Beda sama kak Kono yang baik, gak pernah marah-marah,"
Juhoon langsung melotot lebar, dadanya kembang-kempis menahan napas. Tangan kanan Tuan Muda itu melayang ke udara, menunjuk sepupu kecilnya dengan jemari yang gemetaran, antara syok dan emosi.
"Apa?! Kamu bilang apa tadi, bocah?!" pekik Juhoon dengan nada melengking khasnya. "Bawel?! Galak?! Keonho, kamu denger kan apa kata bocah yang gak ada sopan-sopannya ini?!"
Keonho cuma bisa menghela napas pelan. Tangannya refleks menepuk-nepuk punggung Sean agar anak itu tidak makin memprovokasi. Di matanya, pemandangan dua sepupu dengan selisih usia belasan tahun yang sedang adu mulut ini benar-benar lucu atau mungkin terlihat konyol. Ditambah Juhoon seperti merasa tersaingi oleh adik sepupunya sendiri yang bahkan baru belajar mengeja.
"Denger kok, sayang," jawab Keonho tenang, suaranya kelewat datar. "Dan menurut aku, Sean gak sepenuhnya salah kok."
Panggilan lembut yang terucap santai dari bibir Keonho sama sekali tidak mampu mendinginkan suasana, justru malah menjadi minyak yang menyiram kobaran api di dada Juhoon.
"KEONHOOO!!!" Juhoon memekik makin nyaring, matanya makin membelalak. "Kamu kok malah setuju sama dia?! Kamu disini buat ngurusin aku ya, bukan buat ngurusin bocah ngeselin ini! Lepasin gak itu pelukannya, Sean?!"
Bukannya takut, Sean malah makin erat memeluk leher Keonho, menempelkan pipi tembamnya ke bahu Keonho sambil menatap Juhoon dengan mata bulatnya yang polos.
"Gak mau! Kak Kono sekarang punya Sean, wlekk!" celetuk Sean santai, lalu kembali menjulurkan lidahnya. "Kak Juu cari Kak Kono yang lain aja sana! hush hush," Kalimat polos nan telak dari Sean itu sukses meruntuhkan sisa-sisa kesabaran Juhoon. Mana ada Keonho lain di dunia ini, dan bagi Juhoon, Keonho adalah hak milik mutlak yang tidak boleh dibagi dengan siapa pun, termasuk sepupunya sendiri.
"Heh, dasar bocah nakal!" Juhoon menghentakkan kakinya ke lantai, melangkah maju dua langkah berniat menarik baju Sean, tapi Keonho dengan cekatan sedikit memiringkan badannya untuk menghalangi tangan Juhoon. Gerakan refleks Keonho yang pasang badan melindungi Sean langsung membuat pergerakan Juhoon terhenti di udara. Juhoon berdiri kaku dengan mata melotot dan napas memburu. Sumbu emosinya sudah benar-benar di puncak amarah ini siap meledakkan seisi ruangan.
"Sini dulu," bisik Keonho lembut.
Tanpa menurunkan Sean dari gendongannya, Keonho melangkah maju. Tangan kanannya yang bebas langsung merengkuh pinggang Juhoon, menarik tubuh itu merapat ke sisinya. Sebelum Juhoon sempat mengamuk dan menepisnya, Keonho lebih dulu maju dan mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Juhoon, lalu jemarinya bergerak halus mengelus rambut Tuan Muda itu guna meredakan emosinya.
Juhoon mendesis, mencoba memberontak. Tapi elusan tangan Keonho di rambutnya langsung membuat amarah itu lumer seketika.
"Jangan ngamuk-ngamuk terus dong, Hoon," gumam Keonho santai, tepat di samping telinga Juhoon. Keonho miring sikit, mendaratkan kecupan hangat di pelipis Juhoon. "Sean cuma sebentar aja disini. Jarang juga kan Sean main ke rumah kamu? Dan perlu kamu tau, kalo kamu itu tetap prioritas utama aku."
Sentuhan mendadak itu sukses membungkam Juhoon. Amarah meledak-ledak tadi mendadak luluh, berganti dengan rona merah yang menjalar dari pipi sampai ke ujung telinganya. Walau bibirnya masih mengerucut tajam, Juhoon akhirnya nyenderin kepala di bahu Keonho, sementara jemari lentiknya nyengkeram kain kemeja Keonho dengan lumayan kecang.
Sean yang melihat itu cuma bisa memiringkan kepala, terus nyentuh pipi Keonho pakai tangan mungilnya. "Kak Kono, Sean laper..."
Keonho terkekeh halus, membelai puncak kepala Sean sebentar sebelum ngecup puncak kepala Juhoon sekali lagi.
"Nah, karena berantemnya udah selesai," Keonho perlahan menurunkan Sean ke lantai, terus melipat lengan kemejanya santai sampai ke siku sambil menatap Juhoon yang masih cemberut nempel di bahunya. "Aku mau ke dapur dulu ya. Mau masakin makan malam buat kalian berdua, kalian mau makan apa malam ini?"
Juhoon mendengus pelan, tapi genggamannya di kemeja Keonho akhirnya melonggar. Matanya melirik tajam ke arah Sean yang sekarang sibuk celingukan di dekat sofa.
"Aku mau steak! Terus yang dagingnya super empuk pokoknya!" cetus Juhoon cepat, nadanya tetap ditata segengsi mungkin meski pipinya masih ada sisa rona merah.
"Dan buat bocah ini, kasih bubur bayi aja! Biar gak banyak tingkah!"
Sean langsung melotot menatap Juhoon, bibir mungilnya mengerucut tajam tak terima. "Ih! Kak Juuu, Sean bukan bayi! Sean sudah besar, bisa makan daging juga!"
"Kalian ini ya, gak ada habisnya," Keonho terkekeh pelan melihat dua sepupu itu siap-siap menyulut perdebatan babak baru. Tangannya terulur mengacak-acak rambut Juhoon sebentar, membuat Tuan Mudanya berdecak sok jual mahal meski kepalanya malah makin condong menikmati usapan itu, lalu beralih menepuk pelan kepala Sean.
"Oke, oke. Berarti malam ini menunya steak buat Juhoon, dan buat Sean aku bikinin spaghetti sosis gimana? Mau?" tawar Keonho bijak.
Sean langsung melompat kecil kegirangan. "Mau kak Konooo, mauu!!"
"Terserah kamu deh," gumam Juhoon pelan. Tapi saat Keonho hendak melangkah ke arah dapur, jemari Juhoon cepat-cepat menahan ujung kemeja Keonho lagi. Saat Keonho menoleh dengan sebelah alis terangkat, Juhoon malah memalingkan wajahnya. "Aku... ikut ke dapur. Mau ngawasin kamu. Bukan karena mau nempelin kamu terus, ya!"
Keonho cuma tersenyum manis, membiarkan Juhoon mengekor di sampingnya sambil terus memegang kain kemejanya, sementara Sean berlari kecil mendahului mereka ke arah dapur.
Di meja makan kayu jati yang panjang, Sean menolak duduk di kursi khususnya. Bocah itu merengek mau duduk di pangkuan Keonho. Dan Keonho, dengan sifat dasarnya yang sabar banget, langsung menuruti kemauan Sean tanpa keberatan. Keonho dengan telaten menyuapkan spageti sedikit demi sedikit ke mulut Sean, sesekali mengusap saus yang belepotan di sudut bibir bocah itu.
Sementara itu, Juhoon duduk tepat di samping Keonho sambil memegang garpunya kencang-kencang. Dia menusuk-nusuk daging di piringnya sambil natap Keonho dengan mata menuntut.
"Keonho," panggil Juhoon dengan suara paling lembut dan dibuat-buat manis.
"Iya?" sahut Keonho lembut, menahan senyum tipis di bibirnya karena tahu betul nada suara manis buatan itu pasti ada maksud di baliknya.
"Tangan aku lemes banget, soalnya tadi aku sempet angkat koper besar. Terus kayaknya agak terkilir deh." Juhoon menyodorkan tangannya yang mulus tanpa cela ke wajah Keonho, matanya berkedip-kedip penuh permohonan. "Suapin aku juga dong..."
Keonho melirik tangan Juhoon, terus menatap wajah pacarnya yang penuh akting centil. Sebelum Keonho sempat menjawab, Sean udah menyambar duluan.
"Kak Juu bohong! Tadi Sean lihat Kak Ju gampang banget pas angkat koper pake satu tangan," seru Sean dengan mulut masih penuh makanan.
Juhoon mendelik tajam. "Kamu diam ya, Sean! Anak kecil gak boleh ikut campur urusan orang dewasa!"
"Keonhooo..." Juhoon merengek lagi, kali ini makin nempel. Dia menyenderkan kepalanya di bahu Keonho, ngolesin wangi rambutnya di leher sang asisten. Pipinya menempel di leher Keonho sambil berbisik manja. "Liat nih, tangan aku beneran lemes. Suapin dong, Keonho sayang... masa kamu lebih milih perhatian sama Sean dibanding pacar kamu sendiri?"
Keonho narik napas pelan, nahan tawa yang nyaris keluar. Tingkah cemburu Tuan Muda sekaligus pacarnya ini makin makin gak masuk akal, tapi justru itu yang selalu bikin Keonho mengalah.
Tanpa peduli sama protes Sean yang sibuk mengunyah, Keonho pakai pisau milik Juhoon buat memotong sepotong kecil daging steak yang paling empuk, terus ngarahin tepat ke bibir mengerucut Tuan Mudanya.
"Buka mulutnya," gumam Keonho pelan dengan suara berat yang memanjakan. Sebelum suapan masuk, jemari Keonho sempat mengelus pelan pipi Juhoon yang agak merona, membelainya lembut pakai punggung jari sampai Tuan Mudanya makin salah tingkah.
Juhoon menerima suapan itu dengan puas. Dia mengunyah pelan-pelan sambil ngasih tatapan ejekan super menyebalkan ke arah Sean.
Sean yang merasa posisinya terancam langsung majuin badannya di pangkuan Keonho, nyenggol tangan Keonho kencang-kencang. "Kak Kono! Kok malah nyuapin Kak Ju sih?! Kan Sean duluan yang minta disuapin?!"
Juhoon yang gak mau kalah makin merapatkan badan sampai gak ada jarak.
"Iri ya kamu? Makanya jangan coba-coba ngerebut Keonho aku ya. Mau bagaimanapun yang paling disayang Keonho itu tetap aku!" celetuk Juhoon puas, makin memajukan dadanya dengan senyum kemenangan.
"Ihhh dasar Kak Ju jelek! Kak Kono, tolong usir Kak Ju dari sini!" jerit Sean tak terima, langsung memegangi kedua pipi Keonho pakai tangan mungilnya yang masih penuh sisa saus merah.
Sontak, pipi Keonho ketempelan cap tangan saus spageti. Juhoon yang melihat itu bukannya kasihan, malah makin histeris.
"Sean??! Muka pacar aku kok kamu kotorin sih pake saos?!!"
"Biarin! Biar Kak Kono jelek, terus Kak Ju gak mau lagi sama Kak Kono!" celutuk Sean polos tanpa rasa bersalah.
Keonho terkekeh renyah melihat kepolosan Sean dan kehebohan Juhoon. Dengan tenang, Keonho menahan badan Sean agar tidak meluncur jatuh dari pangkuannya. Alih-alih langsung mengambil tisu, Keonho malah memiringkan wajahnya ke arah Juhoon yang masih nempel di bahunya, menyodorkan pipinya yang berlepotan saus dengan raut santai.
"Hoon... pipi aku kotor nih," goda Keonho pelan, menatap langsung ke mata Juhoon. "Tolong lapin dong,"
Juhoon mendesis, "Manja banget harus dilapin... minta sama bocah itu sana yang bikin muka kamu kotor!" Tapi tangannya refleks meraih selembar tisu dapur.
Dengan wajah yang sengaja dibuat cemberut, Juhoon mendekatkan tubuhnya. Namun, alih-alih cuma mengusap asal pakai tisu, gerakan Juhoon mendadak memelan. Jemarinya yang terbungkus tisu mengusap lembut pipi Keonho, telaten membersihkan sisa saus merah di sana. Matanya menatap lekat garis wajah Keonho dari jarak yang dekat sekali.
Tepat saat usapan terakhir selesai, Keonho mendadak menahan pergelangan tangan Juhoon. Sebelum Juhoon sempat menarik tangannya kembali, Keonho mendaratkan satu kecupan hangat dan singkat di telapak tangan Juhoon, pas di balik tisu yang tadi dipakainya.
"Terima kasih, pacar aku yang paling perhatian," bisik Keonho dengan suara berat, senyum tipisnya terkembang sempurna.
Pipi Juhoon langsung memerah padam, jauh lebih merah dari saus spaghetti Sean. Ia membeku seketika, jantungnya serasa melompat keluar dari dada gara-gara perlakuan manis yang mendadak itu. Sensasi hangat dari bibir Keonho yang masih tertinggal di telapak tangannya sukses membuat seluruh kata-kata pedas yang sudah ia siapkan menguap begitu saja.
Berhasil mendapatkan kecupan manis di depan Sean membuat rasa percaya diri Juhoon melambung tinggi. Di sebelah mereka, Sean cuma bisa mendengus nyaring sambil memutar bola matanya malas melihat tingkah Juhoon yang mendadak salah tingkah parah. Juhoon sendiri melirik sepupu kecilnya dengan senyum kemenangan yang amat lebar, merasa telah berhasil mempertahankan takhtanya sebagai prioritas utama Keonho.
Namun, kemenangan Juhoon tak bertahan lama.
Malam harinya saat jam tidur tiba, kekacauan baru bermula. Juhoon yang sudah siap tidur dengan piyama mahalnya serta wewangian lavender yang merebak halus di seluruh sudut kamar mewahnya, mendadak mendapati pintu kamarnya terbuka. Keonho masuk sambil menuntun Sean yang sudah memakai piyama dan memeluk erat guling kecilnya.
"Loh, kenapa Sean dibawa ke sini?" tanya Juhoon curiga, matanya memicing menatap dua sosok di ambang pintu.
"Sean takut tidur sendiri di kamar tamu. Katanya banyak bayangan pohon serem di luar jendela," terang Keonho sabar, membelai pelan rambut halus Sean. "Jadi malam ini dia mau tidur disini bareng kamu."
"HAAHH?? GAK BISA!!" Juhoon menjerit pelan, kedua tangannya terlipat kencang di dada dengan dagu terangkat tinggi. "Keonho, ini kamar aku! Tempat tidur ini cuma buat aku!"
"Kak Juhoon pelit! Kata mama Sean, kita harus saling berbagi!" balas Sean tak kalah nyaring. Tanpa minta izin sedikit pun, Sean langsung berlari dengan kaki-kaki kecilnya dan memanjat kasur empuk Juhoon yang dilapisi seprai bergambar MU. Dengan santainya, Sean merebahkan diri dan menempati posisi tepat di tengah-tengah kasur besar itu.
Juhoon hampir pingsan menyaksikan kelakuan sepupunya yang sama sekali tidak punya sopan santun itu. Dia melangkah lebar-lebar, lalu langsung menarik-narik lengan baju Keonho dengan wajah merajuk parah.
"Keonho, suruh dia balik ke kamar tamu lagi! Atau kamu tidur disini aja sama aku, terus dia suruh tidur di paviliun bareng Pak Joko sama Bi Sri!" sungut Juhoon kencang, matanya menatap Keonho menuntut jawaban yang memuaskan.
"Mana bisa Sean ditaruh di kamar tamu sendirian? Nanti kalau ketakutan lagi gimana?"
"Biarin! Pokoknya aku gak mau tidur berdua doang sama bocah ini! Kalo dia ngompol gimana?!" Juhoon menunjuk Sean yang sedang berguling-guling santai di atas kasurnya.
Sean yang mendengar itu langsung menoleh, menatap Juhoon dengan tatapan sengit. "Sean gak ngompol! Sean sudah besar!!"
Melihat pertengkaran antar sepupu yang tidak ada habisnya ini, Keonho mendesah pelan. Ia melangkah mendekati Juhoon, lalu menepuk pelan bahu kekasihnya untuk mengalihkan perhatian. Keonho sedikit menunduk, menatap mata Juhoon dengan nada suara yang memelan dan hangat.
"Juhoon, cuma tiga hari. Sean masih kecil, kasihan juga kalau tidur sendirian. Kamu kan kakak sepupu yang baik, bukan?"
Juhoon mendongak, menatap mata Keonho dari jarak yang amat dekat.
"T-tapi... kalau dia tidur di sini, kamu juga harus ikut tidur di kamar aku malem ini! Gak boleh balik ke paviliun!"
Keonho menaikkan sebelah alisnya, pura-pura ragu. "Juhoon, aku—"
"Gak mau tau! Kalau kamu balik ke kamar kamu di paviliun, aku bakalan tendang bocah ini keluar sekarang juga!" potong Juhoon tegas. Namun detik berikutnya, nada suaranya memelan drastis, hampir menyatu dengan bisikan manja di leher Keonho. "Lagian sejak kita balik dari kampung kamu kemarin, kita udah lama banget gak tidur berdua sambil pelukan. Aku kan kangen Keonhooo...."
Sean yang memperhatikan mereka berdua dari atas kasur langsung mendengus nyaring. "Ih, Kak Ju manja banget! Nempel-nempel Kak Kono terusss."
"Diem kamu!" cetus Juhoon tanpa memalingkan wajahnya dari Keonho.
Juhoon makin mengikis jarak, menenggelamkan wajahnya di dada Keonho sambil mengeratkan pelukannya di pinggang sang pacar.
"Pokoknya kamu tidur di sini malam ini. Gak ada penolakan," bisik Juhoon manja.
Keonho terkekeh pelan, rasa gemas mengalahkan rasa lelahnya. Tangan besarnya naik, mengelus punggung Juhoon dengan hangat. "Iya, aku bakal tidur di sini."
Sean, yang sudah berbaring telentang sambil memeluk erat guling kecilnya, menguap lebar-lebar hingga matanya berair. Punggung tangan mungilnya naik mengucek mata yang makin berat.
"Kak Kono... Kak Juu... kapan kita bobonya?" bisik Sean lemas, suara seraknya khas anak kecil yang sudah berada di ambang batas rasa kantuk. "Sean udah ngantuk banget... matiin lampunya dong, Kak..."
Juhoon menengok ke arah kasur. Rasa hangat mendadak menjalar pelan di dadanya saat melihat betapa lucunya Sean yang tertidur dengan kedua tangan kecilnya memeluk guling erat-erat, wajah polosnya terlihat sangat menggemaskan dalam balutan kantuk berat. Niat Juhoon untuk menyemburkan omelan mendadak luluh begitu saja.
Keonho tersenyum makin hangat. Tangan besarnya yang tadi mengelus punggung Juhoon kini mengusap lembut rambut Juhoon sekali lagi, memberi kode tenang.
"Iya, ini mau tidur sekarang," sahut Keonho lembut, suaranya sengaja dipelankan.
Juhoon lalu berjalan ke arah saklar untuk mematikan lampu utama kamar, menyisakan pendar lampu tidur temaram yang hangat.
"Udah tuh, lampunya udah dimatiin. Sekarang cepetan bobo, Sean,"
Begitu Juhoon kembali mendekat dan Keonho merebahkan tubuhnya terlebih dahulu di atas kasur, Sean yang sudah hampir terlelap langsung merangkak cepat mendekati Keonho dan memeluk lengan Keonho erat-erat. Tak mau kalah dari sepupunya, Juhoon langsung ikut merebahkan diri dan merapat dari sisi sebaliknya, memeluk pinggang Keonho erat sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang kekasih.
Diapit oleh tuan muda yang posesif dan si kecil Sean yang sudah terlelap pulas, Keonho tersenyum hangat dalam gelap, mengelus rambut keduanya bergantian dengan penuh kasih hingga seisi kamar terlelap dalam damai.
Hari kedua membawa kekacauan baru.
Matahari pagi baru saja naik ketika Sean tiba-tiba muncul di dapur membawa buku resep masakan. Lengkap dengan topi koki cilik yang kegedean, bocah lima tahun itu memohon dengan mata berbinar-binar untuk membuat cupcake cokelat. Dan tentu saja, tidak ada yang sanggup menolak permintaan Sean kalau sudah mengeluarkan jurus mata anak kucingnya, termasuk Keonho.
Keonho, yang pagi itu cuma mengenakan kaus singlet putih tipis yang menjiplak otot dadanya dan apron kain hitam, sibuk menyiapkan bahan-bahan di atas kitchen island.
Juhoon? Dia berdiri agak jauh di sudut dapur, mengenakan kemeja hitam polkadot yang kancing atasnya terbuka, apron berwarna merah maroon, dan sarung tangan plastik sekali pakai.
"Kak Kono, Sean mau coba aduk!" teriak Sean gembira sambil memegang kocokan telur whisk yang ukurannya hampir separuh lengannya. Keonho mengangkat Sean perlahan dan mendudukkannya di atas kursi tinggi di dekatnya.
"Sini, Kakak pegangin mangkuknya, Sean yang aduk ya," ujar Keonho lembut. Tangan besarnya yang hangat melingkari tangan kecil Sean, membimbingnya mengocok adonan.
Juhoon yang memperhatikan dari tepi meja dapur langsung menegakkan tubuhnya. Pemandangan Keonho yang telaten, dengan otot lengannya yang mengencang setiap kali menahan mangkuk adonan yang berat... itu seharusnya pemandangan eksklusif Kim Juhoon! Mengapa bocah lima tahun itu bisa menikmati pelukan dan perhatian Keonho dengan gratis di pagi hari?!
"Keonho." panggil Juhoon nyaring dari ujung meja.
Keonho menoleh, menyapu beberapa helai rambutnya yang turun ke dahi dengan punggung tangannya, sebuah gerakan kasual yang sukses bikin jantung Juhoon melompat.
"Iya, Juhoon?"
"Aku mau ikut ngaduk juga. Siniin mangkuknya ke arah aku,"
Keonho menggeser mangkuk adonan mendekati Juhoon. "Hati-hati ya, adonannya mulai berat—"
Belum sempat Keonho menyelesaikan kalimatnya dan belum sempat Juhoon meraih sendok kayu dengan gaya elegan bak putri kerajaan, Sean yang terlalu bersemangat mendadak menepuk tumpukan tepung terigu di dalam wadah tepat ke arah muka Juhoon.
Pfffsshh!
Awan tepung putih tebal langsung membumbung dan mendarat sempurna di wajah dan kemeja mahal milik Juhoon.
Suasana dapur mendadak hening seketika.
Keonho menahan napas. Dia tahu betul betapa sakralnya kebersihan area wajah bagi seorang Kim Juhoon.
Juhoon perlahan mengusap matanya yang kelilipan karena tepung. Tak lama, suara menggelegar dari Juhoon langsung terdengar nyaring.
"SEAAANNN!!!!"
Sean yang menyadari bahaya tingkat tinggi langsung meluncur turun dari kursi dan bersembunyi di belakang punggung lebar Keonho, memegang pinggang Keonho erat-erat. "Kak Kono, tolongin Sean! Kak Ju berubah jadi monster!"
"Sini kamu bocah nakal!!" Juhoon menerjang maju tanpa peduli apronnya yang bertebaran tepung. Dia memutar meja untuk menangkap Sean, tetapi Keonho dengan refleks cepat merengkuh pinggang Juhoon dari depan, menahan tubuh pacarnya itu hingga menubruk dadanya.
"Sabar, Juhoon. Sean gak sengaja." kata Keonho menenangkan, menahan tubuh Juhoon yang terus berontak di dalam pelukannya.
"Gak sengaja apa?! Muka aku disembur tepung sama dia, Keonho! Dia itu sengaja banget bikin aku marah. Terus dari tadi dia nempel-nempel ke kamu terus. Lepasin aku, aku mau cubit pipinya sampai merah!" seru Juhoon sambil memukuli dada Keonho pelan, napasnya naik-turun karena kesal.
"Iihh Kak Ju marah-marah terus, nanti cepet tua loh!" teriak Sean dari belakang punggung Keonho, makin menyiram bensin ke api.
"Denger kan dia ngomong apa?! Keonho, belain aku gak?!" Juhoon mendongak dengan mata berkaca-kaca, sebagian karena perih terkena debu tepung, sebagian lagi karena benar-benar kesal dan cemburu melihat Keonho terlalu memanjakan dan membela Sean.
Melihat mata berkaca-kaca dan hidung Juhoon yang tersirat warna merah di balik lapisan tepung, pertahanan Keonho runtuh total. Dia mengabaikan Sean di belakangnya, lalu mengangkat tubuh Juhoon dan mendudukkannya di atas meja dapur yang bersih.
Keonho mengambil serbet kain bersih yang dibasahi air, lalu mengusap wajah Juhoon dengan sangat lembut dan hati-hati.
"Udah, jangan nangis. Nanti matanya makin perih," bisik Keonho lembut, membersihkan sisa tepung di pipi, hidung, dan mata Juhoon.
"Sean, ayo minta maaf ke Kak Juhoon sekarang."
Suara Keonho yang mendadak tegas membuat Sean tersentak. Bocah itu pelan-pelan keluar dari belakang Keonho, mendekati meja dapur tempat Juhoon duduk sambil menundukkan kepala.
"Kak Ju... Sean minta maaf ya. Baju sama muka Kak Ju jadi kotor... Sean tadi keasikan main tepung, jangan marah sama Sean ya Kak..."
Juhoon melirik sepupunya yang memasang wajah bersalah sambil memilin ujung bajunya. Rasa gengsi Juhoon sebagai orang dewasa mendadak muncul kembali. Dia mengusap hidungnya yang belepotan, lalu memalingkan wajah sok jual mahal.
"Huh, iya deh dimaafin. Tapi kamu gak boleh minta pangku atau meluk-peluk Keonho lagi! Ngerti gak?!"
Sean menatap Keonho, lalu menatap Juhoon, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Iya... tapi nanti kalau kuenya udah mateng, Sean boleh minta disuapin kuenya sama Kak Kono ya?"
Juhoon mendecak tajam sambil berkacak pinggang. "Gak! Minta suapin sama pak Joko aja sana!"
Keonho cuma bisa menggelengkan kepala, menutup mukanya dengan satu tangan sambil tertawa tanpa suara melihat tingkah kekasihnya yang benar-benar tidak mau kalah dari bocah lima tahun.
Sore harinya, Bi Sri datang membawakan cemilan dan jus buah untuk mereka. Melihat area dapur utama yang agak berantakan dengan sisa-sisa adonan kue dan cipratan tepung di sana sini, ia hanya tersenyum maklum.
"Aduh, Den Juhoon repot ya jagain Sean?" tanya Bi Sri ramah sambil menaruh nampan berisi cookies hangat.
Juhoon yang sedang duduk bersandar manis di sofa sambil membiarkan Keonho memotongkan buah apel untuknya langsung menegakkan tubuh. "Eh, enggak kok Bi, cuma Seannya aja yang agak nakal nempel-nempel ke Keonho terus."
Bi Sri tertawa pelan, melirik anak kandungnya yang hanya diam fokus mengupas apel. "Keonho itu dari kecil memang telaten sama anak kecil, Den. Dulu pas sepupunya masih bayi, Keonho yang suka gendong sampai tertidur. Mungkin itu yang bikin Sean betah dan nempel terus sama Keonho."
Juhoon mendadak terdiam. Dia melirik Keonho dari samping. Bayangan Keonho yang menggendong bayi dengan tangan besarnya yang hangat dan sabar mendadak berputar di kepala Juhoon, membuat dadanya berdesir aneh.
'Keonho bakal jadi ayah yang hebat banget nanti...' batin Juhoon mendadak baper sendiri.
Setelah Bi Sri kembali ke paviliun, Juhoon langsung melompat berlutut di sofa di samping Keonho. Dia merebut pisau buah dari tangan Keonho, menaruhnya di meja, lalu menggenggam kedua telapak tangan besar Keonho.
"Keonho," panggil Juhoon serius.
"Kenapa lagi, Hoon?"
"Kamu lebih suka jagain Sean atau jagain aku?"
Keonho menatap mata jernih Juhoon yang menuntut jawaban mutlak. Rasa gemas yang tertahan sejak kemarin akhirnya membuat Keonho tidak bisa menahan diri lagi. Dia menarik tangan Juhoon hingga tubuh Tuan Muda itu terjerembap ke dalam pelukannya di sofa.
"Pertanyaan konyol," gumam Keonho, mengikis jarak dan mendaratkan ciuman singkat namun dalam tepat di bibir manis Juhoon.
Juhoon terkejut, matanya membelalak sebelum akhirnya terpejam rapat, menikmati lumatan lembut Keonho yang selalu berhasil membuat lututnya lemas. Keonho melepaskan tautan bibir mereka perlahan, menyisakan jarak beberapa sentimeter saja.
"Aku cuma mau jagain kamu seumur hidup aku," bisik Keonho tepat di depan bibir Juhoon.
Wajah Juhoon langsung terbakar merah padam. "Kok kamu bisa gombal sekarang? Diajarin siapa? Martin ya?!"
Keonho terkekeh renyah, mengusap punggung Juhoon yang masih gemetaran karena baper. Namun, momen romantis dan penuh kehangatan itu mendadak hancur berantakan saat suara polos terdengar tepat dari samping sofa.
"Kak Kono! Kak Juu kenapa digigit bibirnya?!" teriak Sean nyaring, menunjuk-nunjuk mereka dengan tangan robotnya. "Kak Kono mau makan Kak Ju ya?"
Rupanya, Sean yang dari tadi sudah duduk telungkup di karpet bawah langsung mendongak dari mainannya. Dari posisinya yang cuma selangkah di bawah sofa, ia menyaksikan seluruh kejadian itu dari awal tanpa terlewat sedetik pun.
Keonho yang terkejut setengah mati langsung tersentak kaget sampai tubuhnya menegak kaku. Tangannya refleks terlepas dari pinggang Juhoon, matanya membelalak lebar, dan wajahnya dalam sekejap merona merah padam hingga ke ujung telinga karena tertangkap basah oleh bocah lima tahun.
"SEAN! BISA GAK KAMU GAK MUNCUL TIBA-TIBA?!" amuk Juhoon histeris sambil melempar bantal sofa ke arah sepupu kecilnya itu.
Hari ketiga merupakan hari terakhir Sean disini.
Mungkin karena kelelahan bermain kemarin, siang hari itu muka Sean mendadak lesu. Bocah lima tahun itu tidak lagi berlarian membawa mobil-mobilannya. Wajahnya agak merah dan matanya sayu.
Keonho dengan sigap mengukur suhu tubuh Sean menggunakan termometer digital, sementara Juhoon duduk di pinggir kasur dengan raut wajah yang mendadak berubah khawatir. Rasa cemburu dan kesalnya pada sepupu kecilnya itu mendadak hilang digantikan rasa cemas.
"Gimana, Keonho? Dia beneran demam?" tanya Juhoon cepat.
"Iya agak panas sedikit, suhunya 37,8 derajat celcius. Mungkin karena kecapekan," jawab Keonho setelah melihat angka di termometer tersebut. Dia kemudian mengambil kompres demam dan menempelkannya di dahi Sean.
Sean yang terbaring lesu memegang tangan Juhoon pelan. "Kak Ju... Sean pusing..."
Hati Juhoon yang dasarnya lembut, meski tertutup sifat gengsi yang tinggi langsung luluh total. Juhoon mengusap kepala Sean lembut, merapikan poni bocah itu. "Tuh, makanya jangan nakal-nakal kemarin, jadi sakit kan."
Juhoon menoleh pada Keonho. "Keonho, tolong ambilin es krim di bawah. Kata mama, kalau demam terus makan yang dingin-dingin bisa bikin mendingan."
"Boleh, tapi habis Sean makan bubur aja ya biar perutnya gak terlalu kosong," Sahut Keonho lembut. Senyum kecil terbit di bibirnya melihat perhatian terselubung sang kekasih. Juhoon boleh saja berpura-pura galak, tapi nyatanya ia paling tak tahan melihat Sean lemas begitu.
"Aku ke dapur sebentar mau buatin buburnya dulu."
"Ya udah, aku ikut ke bawah juga," Juhoon berdiri, hendak mengikuti Keonho, tetapi jemari mungil Sean menahan ujung baju Juhoon.
"Kak Ju... disini aja... temenin Sean..." gumam Sean lirih dengan mata setengah terpejam.
Juhoon menatap Sean, lalu menatap Keonho yang memberikan tatapan 'Lihat kan, dia sebenernya sayang sama kamu'. Juhoon mendesah pasrah, lalu kembali duduk di kasur.
"Iya iya, aku di sini. Udah kamu cepetan tidur biar cepet sembuh."
Keonho tersenyum hangat, mengusap bahu Juhoon pelan sebelum turun ke dapur.
Selama Keonho di dapur, Juhoon benar-benar telaten menjaga Sean. Ia mengambil kompres demam di meja lalu menempelkannya dengan sangat hati-hati di dahi sepupu kecilnya itu. Juhoon kemudian menarik selimut sampai batas dada Sean, lalu menyelipkan boneka beruang kesayanganya tepat di bawah dekapan lengan mungilnya.
Juhoon kemudian duduk berlutut di pinggir kasur, menepuk-nepuk punggung Sean perlahan sambil menyanyikan lagu anak-anak dengan suara pelannya yang merdu, menuntun sepupu kecilnya itu agar cepat tertidur nyenyak.
Ketika Keonho kembali membawa nampan berisi bubur hangat, pemandangan di dalam kamar sukses membuat langkah kaki Keonho terhenti di ambang pintu.
Juhoon sudah berbaring di samping Sean, menyanggah kepalanya dengan satu tangan sambil terus menepuk-nepuk lembut punggung Sean yang sudah tertidur lelap. Rona wajah Juhoon terlihat sangat lembut di bawah pancaran sinar matahari sore dari jendela kamarnya, sama sekali hilang sifat galak dan cemburuannya.
Keonho menaruh nampan di meja samping, lalu melangkah mendekat tanpa suara. Dia duduk di tepi kasur, menatap Juhoon dengan tatapan yang penuh kasih sayang.
"Udah tidur dia," bisik Juhoon pelan, takut membangunkan Sean. "Aku pinter kan jagainnya?"
"Pinter banget," jawab Keonho tulus. Dia mengulurkan tangan, mengusap pipi mulus Juhoon dengan ibu jarinya. "Pacar aku ternyata pinter jagain anak kecil."
Juhoon tersenyum bangga, lalu memajukan wajahnya sedikit, memohon tanpa kata. Keonho yang mengerti langsung merunduk, memberikan kecupan lembut dan lama di dahi Juhoon, merambat turun ke hidung, dan berakhir di bibirnya yang manis.
"Makasih ya sayang, udah mau sabar jagain Sean tiga hari ini," bisik Keonho di atas bibir Juhoon.
Juhoon menarik lengan Keonho, menuntun pacarnya agar ikut merebahkan diri di sisi kasur yang kosong. Kini Sean berbaring aman di tengah-tengah mereka, terlelap pulas memeluk gulingnya sambil diapit hangat oleh Keonho dan Juhoon.
Juhoon mengulurkan tangannya melintasi tubuh kecil Sean, menyusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Keonho di atas perut bocah itu. Ia lalu menatap Keonho dengan pendar mata yang penuh tuntutan manja.
"Tapi setelah Sean pulang, kamu harus full milik aku seminggu penuh!" bisik Juhoon setengah menuntut, mempererat genggaman tangannya. "Gak boleh ada yang ganggu kita sama sekali pokoknya, titik!"
"Siap Den Juhoon," jawab Keonho patuh, sambil mendekap tubuh Juhoon dan Sean sekaligus.
Malam harinya sekitar jam delapan malam, klakson mobil mewah terdengar di depan rumah. Orang tua Juhoon dan orang tua Sean akhirnya tiba membawa segudang oleh-oleh dari liburan mereka.
Sean yang kondisinya sudah membaik setelah minum obat dan tidur siang, langsung berlari gembira menyambut mama papanya di ruang tamu.
"Mama! Sean pinter loh di sini! Dijagain sama Kak Kono sama Kak Juu!" seru Sean heboh.
Mama Sean tertawa bahagia, memeluk anaknya lalu menoleh pada Juhoon dan Keonho yang berdiri berdampingan di dekat tangga. "Aduh, makasih ya Juhoon, Keonho. Sean gak bikin rusuh kan di rumah?"
Juhoon melirik Sean yang sedang memakan cokelat, lalu melirik Keonho yang berdiri tegap di sampingnya sambil memegang jemari Juhoon secara sembunyi-sembunyi di balik lipatan baju mereka.
"Gak kok, tan," jawab Juhoon dengan senyum manis paling anggun yang dia punya. "Sean pinter banget. Tapi lain kali kalau Tante mau liburan... Seannya dititipin di tempat lain aja ya, soalnya Juhoon mau sibuk sama Keonho aja!"
Semua orang di ruang tamu langsung tertawa menganggap ucapan Juhoon sebagai lelucon manis khas anak remaja. Hanya Keonho yang tahu bahwa ucapan pacarnya itu adalah 100% peringatan jujur tanpa rekayasa.
Saat rombongan sepupu dan orang tua mereka sibuk membongkar oleh-oleh di ruang keluarga, Keonho meremas lembut jemari Juhoon yang berada di genggamannya.
Juhoon mendongak, menyunggingkan senyum centil terindahnya ke arah Keonho.
"Akhirnya," bisik Juhoon manja, menyandarkan bahunya ke lengan kokoh Keonho. "Bisa berduaan lagi sama kamu tanpa ada bocah tengil yang hobi nempel-nempel ke kamu!" lanjut Juhoon dengan nada gemas, sengaja melirik sekilas ke arah kerumunan keluarga di ruang keluarga yang masih sibuk membongkar kardus oleh-oleh.
Keonho terkekeh pelan, menunduk sedikit untuk membisikkan kata-kata penenang. "Kam—"
Cup!
Belum sempat Keonho menyelesaikan kalimatnya, Juhoon mendadak mendongak dan mendaratkan kecupan manis nan nyaring tepat di pipi Keonho.
Keonho mendadak membeku. Matanya melebar penuh rasa terkejut, refleks mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang keluarga. Beberapa kerabat dan sepupu Juhoon masih lalu-lalang tak jauh dari sana. Rona merah mendadak menjalar cepat dari leher hingga ke ujung telinga Keonho, membuatnya salah tingkah sampai membenahi posisi lengannya dengan canggung.
"J-Juhoon... banyak orang di depan," bisik Keonho panik setengah mati, suaranya mencicit kaku sambil usahanya menutupi wajahnya yang makin memerah.
Juhoon justru tersenyum puas tanpa dosa, terkekeh gemas melihat asisten pribadi sekaligus kekasihnya yang biasanya selalu tenang kini dibuat mati kutu dan merah padam di tempat.
"Biarin aja! Lagian mereka lagi sibuk, gak bakal ada yang liat," bisik Juhoon manja, lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Keonho dengan senyuman yang mengembang sempurna.
