Actions

Work Header

Tempat Berhenti

Summary:

Arsa akhirnya tidur setelah hampir satu jam melawan kantuk. Dhiya duduk di ruang tengah dengan tubuh lelah, jahitan yang masih sesekali ngilu, dan gengsi yang terlalu keras kepala untuk mengaku bahwa ia hanya ingin dipeluk.

Lalu Shaka pulang.

Malam itu, tidak ada yang perlu diselesaikan jauh-jauh. Tidak ada yang diminta lebih dari yang Dhiya sanggup beri. Hanya pangkuan Ayah, ciuman pelan, dan beberapa menit untuk Ibu berhenti berdiri sendirian.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Arsa baru tidur setelah hampir satu jam melawan kantuk dengan kegigihan yang, menurut Dhiya, pasti diwarisi dari pihak Ayahnya.

Bayi kecil itu sudah menguap sejak mandi sore, sudah berkali-kali mengucek mata dengan tangan mungilnya, sudah menangis kecil setiap kali dotnya lepas, tapi tetap menolak menyerah seperti ada rapat penting yang harus ia hadiri di dunia bayi. Dhiya menggendongnya mondar-mandir dari kamar ke ruang tengah, dari ruang tengah ke dekat jendela, lalu kembali lagi ke kamar, sambil bergumam pelan bahwa Arsa, dengan segala hormat, boleh sangat lucu tetapi tidak perlu seambisius itu dalam urusan begadang.

Shaka pulang saat rumah akhirnya mulai sunyi.

Di meja kecil, gelas Dhiya masih berisi air setengah, tidak tersentuh sejak sore. Di sandaran sofa, ada handuk kecil bekas menyeka gumoh Arsa. Di dekat kaki Dhiya, bantal duduk yang tadi ia pakai sudah jatuh miring, seperti Dhiya bahkan terlalu lelah untuk membetulkan benda yang sebenarnya ia butuhkan. Tapi sunyi itu cukup untuk membuat Shaka menutup pintu dengan lebih hati-hati, melepas sepatu tanpa suara, lalu berhenti di ruang tengah ketika melihat Dhiya duduk di karpet, punggungnya bersandar ke sofa, kepala menengadah, mata setengah kosong menatap langit-langit.

Dhiya tidak menangis.

Justru itu yang membuat Shaka lebih pelan meletakkan tasnya.

“Arsa tidur?” tanya Shaka, suaranya rendah.

Dhiya mengangguk tanpa menoleh. “Akhirnya.”

Shaka berjalan ke wastafel dulu, mencuci tangan seperti rutinitas baru yang tidak pernah ia tawar sejak Arsa lahir. Setelah itu ia masuk kamar sebentar untuk melihat bayi mereka. Arsa tidur miring sedikit, mulutnya terbuka tipis, napasnya kecil dan teratur. Satu tangannya keluar dari selimut, jari-jarinya menggenggam udara seolah masih menyimpan sisa perdebatan dengan kantuk.

Shaka menatapnya beberapa detik, dadanya menghangat dengan cara yang selalu membuatnya hampir takut.

Lalu ia kembali ke ruang tengah.

Dhiya masih di posisi yang sama.

Ia duduk di sofa tepat di belakang Dhiya, tapi belum langsung menyentuh. Matanya turun ke punggung suaminya yang melengkung lelah, ke cara Dhiya duduk sedikit miring karena tubuhnya belum sepenuhnya nyaman, ke satu tangan Dhiya yang sesekali berpindah ke sisi perutnya tanpa sadar lalu turun lagi seolah ia tidak mau ketahuan masih sakit.

Shaka menepuk pahanya pelan.

“Sini.”

Dhiya menoleh sedikit, curiga bahkan dalam keadaan lelah. “Ngapain?”

“Pindah ke sini sebentar.”

Wajah Dhiya berubah dengan sangat kecil. Sedikit malu, sedikit ingin menolak, sedikit ingin sekali menurut tapi gengsinya belum sepenuhnya mati.

“Aku berat.”

Kalimat itu keluar pelan, hampir seperti alasan, hampir seperti permintaan maaf yang tidak ingin ia akui sebagai permintaan maaf.

Shaka tidak langsung bercanda.

Ia hanya membuka kedua tangan, tidak menarik, tidak memaksa. “Aku nggak minta kamu jadi ringan, Dhi. Aku minta kamu berhenti berdiri sendirian sebentar.”

Dhiya menatapnya.

“Kamu yang atur posisinya,” lanjut Shaka, suaranya rendah. “Kalau nggak enak, bilang. Kalau ngilu, kita ganti. Aku cuma nyediain tempat.”

Dhiya diam beberapa detik, lalu memalingkan wajah sedikit. “Kamu ngomongnya kayak iklan sofa.”

“Nggak apa-apa. Malam ini Ayah naik jabatan jadi kursi Ibu.”

Dhiya menatapnya datar, tapi matanya sudah lebih lunak daripada tadi. “Jangan bangga dulu. Kursi juga bisa dikomplain.”

“Siap. Kritik dan saran diterima setelah Ibu duduk.”

Dhiya menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang seolah Shaka baru saja menyuruhnya mengurus administrasi kelurahan. Tapi ia tetap bangun pelan-pelan. Gerakannya tidak secepat dulu; setelah melahirkan, tubuh Dhiya seperti punya aturan baru yang belum sepenuhnya ia hafal. Ada bagian yang mudah lelah. Ada nyeri kecil yang datang tiba-tiba. Ada jahitan yang kadang terasa ngilu kalau ia berdiri terlalu cepat atau duduk dengan posisi salah.

Shaka melihat semuanya.

Maka ketika Dhiya mendekat, ia tidak menariknya buru-buru. Ia menunggu sampai Dhiya sendiri memilih posisi. Dhiya duduk menyamping di pangkuannya, satu kaki masih menjejak karpet, tubuhnya agak kaku, seperti orang yang takut salah menaruh berat badan. Satu tangannya sempat mencari sisi perutnya, refleks kecil yang cepat-cepat ia hentikan, tapi Shaka sudah melihat. Setelah melahirkan, bahkan duduk pun kadang terasa seperti negosiasi: harus pelan, harus miring sedikit, harus tahu bagian mana yang belum siap menerima tekanan.

Tangan Shaka langsung melingkar di pinggangnya, tapi ringan. Menahan, bukan mengunci.

“Duduknya aman?”

Dhiya mengangguk kecil. “Aman. Ngilu dikit, tapi bukan karena ini.”

Shaka langsung melembut. “Mau ganti posisi?”

“Jangan.”

Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Dhiya sendiri sadar. Ia memalingkan wajah, pura-pura sibuk melihat kaus kaki bayi di lantai.

Shaka tidak meledek. Ia hanya mengusap punggung Dhiya pelan, dari tengkuk turun ke tengah punggung, lalu kembali lagi dengan ritme yang sabar. Beberapa kali, telapak tangannya berhenti di bagian yang terasa tegang, menekan sedikit, cukup untuk membuat bahu Dhiya turun perlahan.

Rumah mereka tetap berantakan.

Arsa tetap bisa bangun kapan saja.

Lampu ruang tengah masih terlalu terang untuk disebut romantis.

Tapi Dhiya merasa tubuhnya akhirnya menemukan tempat untuk berhenti.

“Seharian aku digelayutin anakmu,” gumamnya setelah lama diam.

“Anak kita.”

“Kalau rewel, anakmu.”

“Kalau lagi lucu?”

“Anakku.”

Shaka tertawa kecil, suaranya jatuh ke rambut Dhiya. “Adil sekali.”

“Memang.”

“Dia rewel banget?”

Dhiya tidak langsung menjawab. Ia memainkan ujung kaus Shaka dengan jari yang masih lelah. “Nggak rewel banget. Cuma… aku yang capek banget.”

Shaka mencium rambutnya pelan. “Iya.”

“Aku tadi sempat kesel. Dia nangis terus, aku nggak ngerti maunya apa. Aku udah ganti popok, udah susuin, udah gendong, udah diajak jalan. Terus aku kesel. Terus begitu dia tidur, aku lihat mukanya, aku merasa jahat.”

“Dhi.”

“Aku tahu. Kamu pasti bilang aku nggak jahat.”

“Karena kamu memang nggak jahat.”

Dhiya diam, lalu menyembunyikan wajah lebih dalam ke leher Shaka. “Aku kangen kamu.”

Kalimat itu kecil.

Hampir hilang di antara suara AC dan napas rumah.

Tapi Shaka mendengarnya.

Tangannya berhenti sebentar di punggung Dhiya, bukan karena ragu, melainkan karena kalimat itu membuat sesuatu di dadanya patah dengan lembut.

“Aku di sini.”

“Iya. Makanya jangan gerak dulu.”

“Nggak gerak.”

“Jangan sok romantis juga.”

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Napas kamu udah sok romantis.”

Shaka tertawa pelan, lalu memeluknya lebih rapat, tetap hati-hati agar tidak menekan bagian tubuh Dhiya yang masih sensitif. Dhiya menghela napas dan akhirnya benar-benar bersandar. Kepalanya jatuh ke bahu Shaka, kedua tangannya diam di dada suaminya. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak sedang memegang botol, kain, popok, atau tubuh kecil Arsa yang hangat. Tangannya hanya diam. Tubuhnya hanya boleh ada.

Shaka menunduk, mencium pelipisnya.

Sekali.

Lalu pipinya.

Dhiya memejamkan mata, tapi mulutnya masih sempat bekerja. “Jangan geli-geli.”

“Aku cium biasa.”

“Biasa kamu suka ada lanjutannya.”

“Nggak akan lanjut ke mana-mana kalau kamu belum mau.”

Dhiya membuka mata sedikit.

Shaka menatapnya dari jarak dekat, tanpa senyum menggoda. Ada lelah di wajahnya juga—hari kerjanya pasti panjang, revisi klien pasti menyebalkan, jalan pulang pasti macet—tapi malam itu, yang paling jelas dari Shaka adalah cara ia menahan diri. Bukan menahan karena tidak ingin. Dhiya tahu Shaka ingin. Justru karena tahu, tubuhnya terasa lebih hangat oleh fakta bahwa Shaka memilih lembut.

“Aku masih suka ngilu,” kata Dhiya pelan, seolah mengaku dosa.

“Aku tahu.”

“Kadang aku takut kamu…”

“Aku nggak ngitung hari kamu pulih buat minta apa-apa, Dhi.”

Napas Dhiya tertahan sebentar.

Shaka mengusap pipinya dengan ibu jari. “Aku cuma kangen kamu nyaman lagi. Di badan kamu sendiri. Sama aku. Sama rumah ini. Itu aja dulu.”

Dhiya menatapnya terlalu lama, lalu memukul dada Shaka pelan karena tidak tahu harus meletakkan perasaan sebesar itu di mana.

“Jangan bagus-bagus ngomongnya. Aku lagi capek.”

“Maaf.”

“Nggak tulus.”

“Nggak terlalu.”

Nah, itu baru membuat Dhiya bisa tersenyum sedikit.

Shaka membalas senyumnya dengan mencium sudut bibirnya. Ringan sekali. Hampir seperti bertanya.

Dhiya tidak menjauh.

Maka Shaka mencium lagi, sedikit lebih lama.

Tidak ada tergesa-gesa di sana. Tidak ada tangan yang pergi terlalu jauh. Tidak ada tuntutan yang membuat Dhiya harus menjelaskan batas berkali-kali. Shaka hanya memeluknya di pangkuan, satu tangan di punggung, satu tangan di pinggang, sementara bibirnya menyentuh Dhiya dengan sabar—pelipis, pipi, sudut mulut, lalu bibir.

Dhiya yang awalnya kaku mulai melunak.

Ia memiringkan wajah, membalas ciuman itu pelan. Tangannya naik ke tengkuk Shaka, bukan menarik dengan lapar, tapi menahan agar Shaka tetap di sana. Agar hangatnya tidak pergi. Agar malam yang seharian terasa panjang akhirnya punya titik berhenti.

“Mas,” bisiknya di sela ciuman.

“Hm?”

“Kalau Arsa bangun?” tanya Dhiya di sela ciuman, suaranya kecil, tapi kekhawatirannya nyata.

Shaka tidak tertawa. Ia hanya menggeser telapak tangannya sedikit lebih aman di punggung Dhiya. “Kita berhenti. Kita gendong. Kita jadi orang tua lagi.”

Dhiya menatapnya beberapa detik, lalu menambahkan dengan wajah lelah, “Kalau dia pup?”

Shaka memejamkan mata sebentar. “Itu baru kita rundingkan siapa yang lebih kuat mental.”

Dhiya tertawa kecil, lalu langsung menutup mulutnya sendiri karena takut membangunkan bayi.

Shaka ikut tersenyum, menempelkan dahi mereka. “Kangen kamu ketawa.”

“Aku ketawa tiap hari.”

“Ketawa karena Arsa kentut beda sama ketawa karena aku.”

“Jangan saingi bayi.”

“Aku kalah?”

“Telak.”

Shaka pura-pura terluka, tapi Dhiya mencium pipinya duluan sebelum ia sempat membalas. Ciuman itu membuat Shaka diam. Dhiya juga diam setelahnya, seolah baru sadar ia yang memulai.

Lalu ia menunduk, menyembunyikan wajah di bahu Shaka.

“Aku cuma mau ciuman,” katanya pelan. “Nggak lebih.”

Shaka langsung mengangguk, meski Dhiya tidak melihatnya. “Iya.”

“Jangan iya kayak kecewa.”

“Aku nggak kecewa.”

“Bener?”

“Dhi.” Shaka memeluknya lebih erat, suaranya turun jadi sesuatu yang nyaris berbisik. “Kamu mau duduk di pangkuanku begini aja aku udah merasa menang banyak.”

Dhiya terdiam.

Lalu mencubit pinggangnya kecil.

“Gombal.”

“Tapi benar.”

“Jangan besar kepala.”

“Sedang berusaha.”

Dhiya menghela napas, lalu membiarkan dirinya lebih tenggelam di pangkuan Shaka. Ia masih lelah. Jahitannya masih sesekali ngilu. Tubuhnya masih terasa asing di beberapa sudut, seperti rumah yang baru direnovasi dan belum semua lampunya ditemukan saklarnya. Tapi di pangkuan Shaka, dengan tangan suaminya yang sabar di punggung dan bibirnya yang tidak meminta lebih dari yang Dhiya sanggup beri, ia merasa sedikit kembali menjadi dirinya.

Bukan hanya Ibu.

Bukan hanya tubuh yang habis melahirkan.

Bukan hanya orang yang harus selalu bisa.

Ia Dhiya.

Suaminya Shaka.

Ibu Arsa.

Seseorang yang boleh capek, boleh kangen, boleh ingin dicium tanpa harus siap untuk apa-apa setelahnya.

Shaka mencium keningnya. “Mau tidur?”

“Di sini dulu.”

“Pinggangku nanti kebas.”

“Derita Ayah.”

“Siap.”

“Jangan siap-siap amat. Aku jadi mau nangis.”

“Nangis juga boleh.”

“Nggak mau. Nanti kamu panik.”

“Aku panik, tapi tetap peluk.”

Dhiya diam lama.

Lalu, sangat pelan, ia merapatkan wajah ke leher Shaka dan mencium kulit di sana sekali. Bukan nakal. Bukan janji. Hanya ucapan terima kasih yang tidak perlu dibuat besar.

Shaka mengusap punggungnya lagi.

Di kamar, Arsa bergerak kecil, lalu kembali tenang.

Di ruang tengah, lampu masih menyala, mainan masih berantakan, dan kaus kaki bayi masih tergeletak seperti tanda bahwa hidup mereka belum akan rapi dalam waktu dekat.

Tapi malam itu, Dhiya tidak peduli.

Shaka meraih selimut kecil Arsa yang bersih dari ujung sofa, menutupkannya ke kaki Dhiya tanpa mengubah posisi pelukannya. Pinggangnya mungkin akan kebas sebentar lagi, tapi ia tidak bergerak.

Karena untuk beberapa menit, sebelum botol dicuci, sebelum popok berikutnya, sebelum tangis kecil berikutnya memanggil mereka lagi, Shaka menjadi tempat duduk paling aman di dunia.

Dan Dhiya membiarkan dirinya dipangku.

Notes:

ada yang kangen Shaka-Dhiya?

Series this work belongs to: