Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 5 of Shaka-Dhiya's Journey
Stats:
Published:
2026-10-05
Words:
2,918
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
19
Bookmarks:
1
Hits:
210

Sesuatu Di Paris

Summary:

Empat hari di Paris, satu spreadsheet, dan dua puluh ribu langkah yang tidak pernah masuk rencana. Ini bukan cerita tentang menara atau sampanye. Ini tentang dua kursi hijau di pinggir kolam, dan tentang bagaimana momen yang paling terasa seperti bulan madu justru datang ketika mereka tidak melakukan apa-apa.

Notes:

blame the recent nitdo moments and those ridiculously honeymoon-coded photos because apparently dari sana otakku cuma butuh beberapa menit sebelum berpikir: shaka-dhiya. paris. sebelum arsa.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Hari keempat di Paris, Dhiya terbangun dan menemukan suaminya sudah duduk di tepi jendela dengan laptop di pangkuan, menatap sebuah spreadsheet seperti seseorang yang sedang memeriksa gambar kerja sebelum peletakan batu pertama.

Spreadsheet itu sudah ada sejak empat bulan sebelum mereka berangkat. Ada kolom hari, kolom jam, kolom transportasi, dan satu kolom hijau muda berjudul Fleksibel (kalau sempat) yang menurut Dhiya adalah bagian paling jujur dari seluruh dokumen. Dulu ia pernah bilang bahwa itu bentuk cinta paling mengerikan yang pernah ia terima. Shaka menganggapnya pujian dan menambahkan satu kolom lagi.

Semalam, di atas kasur yang sama, Shaka sudah menyebut kata yang paling dibenci kakinya. Dekat. Museum kecil dekat Saint-Germain, toko buku, lalu Luxembourg, dan semuanya bisa dijangkau dengan jalan kaki karena menurut Google Maps jaraknya cuma dua puluh lima menit. Dhiya sempat membantah, panjang lebar, dengan argumen-argumen yang ia tahu akan kalah. Pada akhirnya ia hanya minta croissant dulu sebelum apa pun, dan Shaka, yang tidak pernah mengubah spreadsheet untuk siapa pun, diam-diam memindahkan satu baris ke paling atas. Dhiya melihatnya dari balik bantal dan berpura-pura tidak melihat.

Pagi ini baris itu masih di sana. Mungkin itu sebabnya ia tidak jadi mengomel ketika Shaka menoleh dan berkata mereka hanya akan keluar sebentar untuk sarapan, habis itu santai.

Sarapannya memang santai. Ada sebuah kafe kecil dengan kursi rotan di trotoar, dua cangkir kopi yang uapnya langsung hilang diterpa udara pagi, dan croissant yang digigit Dhiya hati-hati sebelum ia menutup mata dan mendesah seperti orang yang baru dimaafkan semesta. "Ini alasannya kenapa kita menikah," katanya, dan Shaka bertanya apakah alasannya bukan karena dirinya. Dhiya mengunyah sebentar, lalu bilang urutannya masih dievaluasi.

Museum kecil di gang seberang kafe seharusnya hanya lima belas menit, dan Shaka sendiri yang mengatakannya. Tapi di dalamnya ada taman belakang yang harus dilihat dari tiga sudut, ada tangga kayu dengan sambungan yang ingin ia sentuh, dan ada langit-langit abad kesembilan belas yang membuatnya mendongak begitu lama sampai leher Dhiya ikut pegal hanya karena melihatnya. Dhiya mengikuti dari belakang dengan tangan di saku mantel, berdiri di setiap pojok seperti istri pejabat yang dipaksa menemani kunjungan kerja. Sesekali ia mencoba melihat apa yang Shaka lihat, dan sesekali ia berhasil, tapi lebih sering ia hanya melihat Shaka: bagaimana bahunya turun ketika sesuatu terasa benar, bagaimana ia menahan napas di depan garis yang rapi. Hal-hal yang tidak pernah ada di spreadsheet.

Waktu mereka keluar, jam sudah menunjukkan hampir tengah hari dan mantel Dhiya sudah berpindah ke lengan Shaka. Dhiya tidak ingat kapan persisnya, dan Shaka tidak mengatakan apa-apa.

Toko buku muncul setelah itu, dan toko buku tidak pernah hanya toko buku bagi Shaka. Ia berhenti di bawah tangga kayunya, menengadah ke rak dua lantai, lalu mengatakan bahwa sudut baca di pojok itu adalah ruang paling jujur yang pernah ia lihat. Dhiya meninggalkannya di sana dan berkeliling sendiri, lalu pulang dengan satu buku kecil bersampul linen yang ia bawa ke kasir tanpa sempat membaca judulnya. Ketika Shaka mengingatkan bahwa ia tidak bisa membaca bahasa Prancis, Dhiya menjawab bahwa ia bisa membaca sampul, dan itu sudah cukup untuk kebanyakan hal dalam hidup.

Setelah buku datang parfum, yang sama sekali tidak ia rencanakan. Ia hanya berjalan melewati sebuah etalase dengan botol-botol kaca berleher ramping yang menangkap cahaya seperti permen, dan kakinya berbelok sendiri. Katanya lima menit. Shaka, yang menunggu di luar dengan tote bag, paper bag buku, dan mantel yang bukan miliknya, menunggu dua puluh menit sebelum akhirnya masuk dan menemukan suaminya berdiri di tengah toko dengan tiga strip kertas di tangan, menghirup yang satu lalu yang lain dengan wajah seorang hakim yang sedang menimbang vonis.

Dhiya menyodorkan satu strip ke hidung Shaka dan bertanya bau apa itu. Shaka berpikir sebentar dan menjawab bau lilin. "Itu kayu cendana, Mas," kata Dhiya, kecewa. "Kamu nggak punya selera."

"Aku punya kamu," jawab Shaka, ringan sekali, seolah itu bukan kalimat yang bisa membuat orang kehilangan arah.

Dhiya membuka mulut untuk membalas dan tidak menemukan apa-apa. Ia memalingkan wajah, telinganya memerah, dan menggerutu bahwa itu curang. Mereka keluar dari toko itu dengan sebotol parfum yang langsung dititipkan Dhiya ke paper bag baru di tangan Shaka.

Di sinilah, sedikit demi sedikit, Shaka berubah fungsi. Ia membawa tote bag, paper bag buku, paper bag parfum, mantel Dhiya, syal Dhiya, dan tas kecil Dhiya karena Dhiya ingin tangan kosong supaya bisa memotret. Menjelang siang, ia sudah sepenuhnya menjadi penitipan barang berjalan, dan anehnya ia tidak merasa keberatan.

Dhiya baru sadar betapa absurd penampilan Shaka ketika mereka berhenti di depan etalase berikutnya. Ia menurunkan ponsel, memandangi suaminya dari atas sampai bawah—dua tangan penuh barang, mantel tersampir di siku, tote bag menggantung di bahu—lalu tertawa sendiri. “Kamu sekarang kayak porter.”

Shaka menoleh. “Porter?”

“Porter pribadi dengan cincin.” Dhiya mengangkat tangan kirinya sedikit, memperlihatkan cincin kawin di jarinya, lalu sudah kembali mengarahkan kamera ke bangunan di seberang jalan. “Honeymoon jauh-jauh ke Paris, ujung-ujungnya jadi tukang angkut barang.”

Shaka membetulkan pegangan paper bag yang mulai melorot di jarinya. “Porter yang dicintai.”

Ponsel Dhiya turun sepersekian detik. Ia tidak menoleh, hanya pura-pura sibuk mengatur fokus lagi meski objek yang tadi mau dipotret sudah keburu lewat. “Katanya siapa?”

Shaka tidak menjawab. Dari belakang cuma terdengar bunyi paper bag bergesekan ketika ia memindahkan salah satunya ke tangan lain, dan entah kenapa itu malah membuat Dhiya mendecakkan lidah. “Ya dicintai. Ih.”

Tawa Shaka menyusul pelan dari belakangnya. Dhiya akhirnya memotret apa saja yang kebetulan masuk frame, lalu berjalan lebih dulu, telinganya sedikit merah dan langkahnya mendadak lebih cepat dari orang yang sejak tadi mengeluh capek.

Sandwich yang mereka beli dari kios pinggir jalan seharusnya enak, karena antreannya panjang dan orang-orang di antrean itu terlihat tahu apa yang mereka lakukan. Gigitan pertama Dhiya langsung membuat wajahnya berubah; ia mengunyah dengan ekspresi curiga, menelan karena terlanjur, lalu menyodorkan sisanya kepada Shaka tanpa penjelasan. Shaka menerima begitu saja dan menggigit dari sisi yang masih utuh, sementara Dhiya berdiri di sebelahnya menunggu putusan seperti orang yang baru membawa barang bukti.

“Nggak enak, kan?” tanyanya ketika Shaka masih mengunyah. Shaka mengangguk pelan, seperti dokter yang sedang mengonfirmasi diagnosis, lalu berkata, “Agak asam.”

Dhiya mengangkat alis. “Agak?” Shaka melihat sandwich itu sekali lagi sebelum menggigit untuk kedua kalinya. “Masih bisa dimakan.”

“Mas, itu bukan pujian.”

“Aku juga nggak muji,” jawab Shaka, dan Dhiya hanya mendecakkan lidah sebelum mulai berjalan lagi.

Itu salah satu hal yang baru Dhiya pelajari tentang pernikahan: suaminya akan memakan apa pun yang gagal memenuhi ekspektasinya, tanpa membuatnya merasa bersalah karena berekspektasi.

Mereka salah belok dua kali sesudah itu. Yang pertama gara-gara Shaka yang yakin sebuah gang akan tembus ke jalan besar, padahal ujungnya hanya tong sampah dan seekor kucing yang menatap mereka seperti penagih utang. Yang kedua gara-gara Dhiya yang bilang jalan ini lebih cantik, dan memang lebih cantik, hanya saja lebih jauh dua belas menit. Selama itu Dhiya tidak berhenti bicara. Tentang kakinya yang mulai terasa seperti milik orang lain. Tentang dua puluh lima menit versi Shaka yang ternyata berbeda sekali dari dua puluh lima menit versi manusia biasa. Tentang bagaimana ia akan menulis ulasan satu bintang untuk spreadsheet itu. Shaka mendengarkan semuanya sambil membawa semua tas, sesekali berkata hm, sesekali tertawa pelan, dan sesekali menatap langit Paris yang pelan-pelan berubah keemasan dan berpikir bahwa ini aneh.

Aneh bahwa seseorang bisa dikeluhkan sepanjang jalan, dijadikan porter pribadi, dan tetap merasa baru saja diberi sesuatu yang berharga.

Dhiya masuk ke dua toko lagi. Setiap kali ia keluar, ia membawa sesuatu yang kecil dan tidak perlu, dan setiap kali Shaka menerimanya tanpa komentar, menambahkannya ke tumpukan di lengannya. Menjelang pukul tiga, ponsel Shaka mencatat hampir dua puluh ribu langkah, dan tubuh Dhiya, yang selama ini bertahan hanya karena gengsi, akhirnya menyerah.

Ia berhenti di tengah trotoar—tidak dramatis, hanya benar-benar berhenti—dengan satu tangan di pinggang, rambut sedikit berantakan terkena angin dan hidung memerah karena dingin, lalu mengumumkan bahwa ia tidak akan bergerak lagi sebelum mendapat tempat duduk.

Shaka menoleh dan melihat suaminya dengan kombinasi yang selalu membuatnya ingin melakukan apa pun yang diminta: marah sekaligus hampir menangis, dan sangat cantik dengan keduanya.

"Katanya tadi masih kuat," katanya, lebih karena refleks.

"Itu Dhiya tiga kilometer yang lalu."

Shaka tertawa. Dhiya memukul lengannya dengan satu-satunya tangan yang tidak memegang apa-apa, lalu berhenti memukul, karena mereka sudah sampai di sebuah gerbang besi hitam dan di balik gerbang itu suara kota tiba-tiba mengecil.

Jardin du Luxembourg menyambut mereka dengan kerikil halus di bawah sepatu, deretan pohon yang daunnya baru mulai menguning, dan kursi-kursi hijau yang berserakan di sekitar kolam, menghadap air seperti penonton yang sabar. Dhiya melihat dua kursi kosong di pinggir kolam, berjalan ke sana dengan langkah orang yang menemukan oasis, dan menjatuhkan diri ke salah satunya. Ia lalu menggeser kursinya mendekat ke kursi Shaka sampai kaki-kaki besinya bergesekan dengan kerikil dan membuat seseorang di sebelah menoleh.

Shaka menaruh semua tas di dekat kakinya satu per satu, lalu duduk. Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, mereka tidak bergerak.

Di depan mereka ada air yang berkilau terkena matahari sore, dan bebek-bebek yang bergerak malas meninggalkan garis tipis di permukaannya. Seorang anak kecil mengejar kapal mainan dengan tongkat panjang, ibunya tertawa dari kejauhan. Orang-orang Paris membaca koran atau mengobrol pelan seolah hari tidak punya tenggat. Matahari musim gugur masih hangat, tapi anginnya mulai dingin, dan Dhiya menarik napas panjang, melepas sedikit sepatunya di bagian tumit, dan menyandarkan siku di sandaran kursi Shaka.

Shaka membuka bungkus pastry yang mereka beli pagi tadi, lalu tanpa ditanya memberikan bagian dengan cokelat paling banyak ke tangan Dhiya. Dhiya menerimanya, melirik sekilas, dan menggigitnya dengan wajah yang jelas berusaha tidak terharu. Syukurlah, yang ini bukan pasta almond.

Mereka mengomentari bebek lebih lama dari yang masuk akal. Menurut Dhiya, satu yang berenang agak jauh dari kawanan lain terlalu gemuk. Shaka tidak setuju; bukan gemuk, bulunya cuma mengembang. Dhiya menganggap itu pembelaan yang aneh untuk seekor bebek, tapi tidak cukup penting untuk diperdebatkan lebih jauh.

Setelah itu mereka menggosipkan pasangan yang sedang pemotretan prewedding di seberang kolam. Perempuan bergaun putih itu berlari di atas kerikil dengan hak tinggi sementara fotografernya berjalan mundur di depan, dan Dhiya berbisik bahwa ia terlihat cantik sekaligus sengsara. Shaka tidak membantah. Ia hanya melirik sepatu perempuan itu, lalu sepatu Dhiya, dan Dhiya langsung tahu apa yang hampir dikatakannya. Shaka tertawa.

Pembicaraan kemudian bergeser, seperti selalu terjadi pada mereka, ke hal lain yang sama sekali tidak penting: siapa yang salah membaca arah Metro pagi tadi. Perdebatan itu berjalan beberapa menit, tidak menghasilkan apa-apa, lalu mati sendiri.

Lalu, tanpa ada yang memutuskan, percakapan itu melambat. Bukan karena habis. Seperti air kolam setelah angin berhenti.

Shaka menyandarkan kepala ke belakang dan memejamkan mata di bawah cahaya yang sudah miring. Dhiya memperhatikan seekor bebek berenang lurus ke arah matahari, lalu memperhatikan Shaka tanpa sengaja, lalu memperhatikan cincin di jari manis tangan Shaka yang terkulai di pahanya. Cincin itu masih terlalu baru. Belum punya goresan, belum menyatu dengan kulit, masih berkilau sedikit terlalu jujur. Dan seperti yang selalu terjadi, dengan rasa geli yang datang terlambat, Dhiya menyadari sesuatu yang sudah ia ketahui sejak berbulan-bulan lalu. Oh. Itu suamiku.

Ia hampir tertawa, bukan karena lucu, tapi karena tidak tahu harus melakukan apa dengan kenyataan itu. Laki-laki yang sanggup mendongak satu jam untuk melihat langit-langit abad kesembilan belas, yang membawa semua tas tanpa mengeluh, yang memberikan bagian cokelat terbanyak tanpa diminta, adalah suaminya. Ia boleh mengatakannya keras-keras. Ada surat yang membuktikannya.

Sesekali mereka diam, dan diamnya berbeda sekarang. Dulu diam di antara mereka adalah ruang tunggu, menunggu seseorang bicara, menunggu akhir pekan berakhir dan masing-masing pulang ke tempat sendiri. Sekarang diam adalah rumah. Tidak perlu diisi, tidak perlu dijelaskan.

Sampai Shaka tiba-tiba berkata, masih menatap kolam, "Senang?"

Dhiya mengunyah dulu sebelum menjawab. "Apa?"

"Menikah sama aku."

Dhiya menoleh perlahan dan bertanya apakah ia baru menanyakan itu setelah empat hari honeymoon. Shaka tertawa kecil, sedikit malu, dan mengusap tengkuknya. Pertanyaan itu sebenarnya sudah beberapa kali mampir di kepalanya sejak mereka berangkat: di bandara, di pesawat, di kamar hotel pada malam pertama ketika ia mendengar napas Dhiya yang teratur di sampingnya dan tidak bisa tidur. Bukan karena ia ragu pada Dhiya. Hanya saja semuanya masih terasa baru di lidah. Kata suami. Cincin di jari. Nama mereka berdampingan di formulir hotel, resepsionis yang bertanya your husband?, dan sekarang jawabannya benar-benar iya.

Dhiya tidak langsung memberi jawaban romantis. Itu bukan gayanya. Ia tidak menjawab pertanyaan besar dengan kalimat besar, melainkan dengan hal kecil yang entah bagaimana lebih besar dari semua kalimat. Ia mengulurkan tangannya dan berkata, "Pegang."

Shaka menatap tangan itu. "Kenapa?"

"Dingin."

"Kamu sih nggak mau pakai mantel."

"Mas."

"Iya, Kak," kata Shaka, ringan, dengan nada yang jelas disengaja.

Dhiya melotot. Shaka pura-pura tidak melihat, menatap bebek dengan ekspresi sangat polos, dan baru setelah itu menggenggam tangannya. Hangat. Lebih hangat dari yang Dhiya kira. Ia ingin bilang bahwa itu curang, bahwa memakai kata itu untuk menyogoknya adalah tindakan licik. Tapi tangan Shaka sudah terlalu hangat untuk diprotes, jadi yang keluar hanya, "Curang." Shaka bilang ia cuma menjawab. Dhiya tidak membalas lagi. Ia menggeser jarinya, menyelipkannya di antara jari Shaka, dan menatap kolam dengan sangat serius.

Mereka duduk begitu cukup lama, tangan tersembunyi di antara dua kursi, bahu hampir bersentuhan. Tidak ada Menara Eiffel di depan mereka. Tidak ada sampanye, tidak ada foto honeymoon yang sempurna dengan pencahayaan yang diatur dan senyum yang dilatih. Hanya Dhiya yang kakinya pegal, dan Shaka yang diam-diam memijat ruas jarinya dengan ibu jari, pelan, berulang, seolah itu hal paling penting yang bisa ia kerjakan sore itu.

"Mas," kata Dhiya akhirnya, sangat pelan, masih menatap air. "Senang."

Shaka menoleh.

"Jawaban buat yang tadi," lanjut Dhiya. "Aku senang."

Shaka tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengeratkan genggamannya sedikit, dan itu cukup.

Mereka mungkin akan duduk di situ sampai matahari habis kalau saja Shaka tidak melihat perempuan paruh baya yang sejak tadi membaca beberapa kursi dari mereka mulai membereskan barangnya. Ia memperhatikan perempuan itu berdiri, seperti baru teringat bahwa mereka belum punya satu pun foto berdua di taman itu, lalu mengeluarkan ponselnya dan memanggil pelan, “Excuse me.” Dhiya baru sadar apa yang sedang dilakukan suaminya ketika perempuan itu sudah tersenyum dan menerima ponsel dari tangan Shaka.

“Mas, ngapain?” bisiknya. Tangannya langsung naik ke rambut di pelipis, merapikan bagian yang sejak tadi diterbangkan angin.

“Foto.” Shaka duduk kembali, memperhatikan Dhiya yang sekarang sibuk menyisir rambut dengan jari. “Kenapa?”

“Rambut aku jelek.”

Shaka menangkap pergelangan tangannya sebelum ia sempat memperbaiki lebih banyak. “Udah.”

Dhiya menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal. “Udah apanya?”

Shaka cuma menggeleng kecil dan melepaskan tangannya. Perempuan di belakang mereka sudah tertawa, memberi isyarat agar keduanya kembali menghadap kolam, jadi Dhiya terpaksa menurut sambil masih menggerutu pelan bahwa foto itu pasti jelek. Shaka malah menggeser kursinya beberapa senti lebih dekat sampai lengan mereka hampir bersentuhan. Beberapa detik kemudian terdengar suara dari belakang meminta mereka menoleh, dan keduanya berbalik pada saat yang hampir bersamaan; rambut Dhiya masih berantakan, tangan Shaka masih tergeletak di sisi kursi, dan kamera menangkap mereka sebelum salah satu sempat memasang wajah untuk difoto.

Ketika ponsel kembali ke tangan Shaka, Dhiya langsung merapat untuk melihat layar. Hanya perlu dua detik sampai hidungnya mengernyit. “Nah, kan. Rambut aku kayak habis bangun tidur.”

Shaka memperbesar foto dengan dua jari. Entah apa yang dilihatnya, ia memperhatikannya cukup lama sampai Dhiya mulai tidak sabar, lalu berkata, “Bagus.”

“Kamu selalu bilang bagus kalau aku lagi jelek.”

Shaka masih melihat fotonya. “Berarti aku lihatnya beda.”

Dhiya terdiam. Shaka, yang sangat tahu diam semacam itu biasanya cuma jeda sebelum bencana, langsung mengunci layar dan membungkuk mengambil barang-barang mereka. Paper bag buku masuk ke tangan kiri, parfum dikaitkan ke dua jari, mantel Dhiya kembali ke siku, lalu tote bag naik ke bahu dengan gerakan yang sudah terlalu terlatih untuk baru dilakukan satu hari.

“Ayo,” katanya. “Katanya mau crêpe.”

“Jangan ngalihin pembicaraan deh.”

Shaka sudah berdiri. “Mau yang cokelat?”

Dhiya mendongak kepadanya dengan mulut masih terbuka untuk melanjutkan protes. Beberapa detik kemudian ia mendecakkan lidah dan mulai mengenakan sepatunya lagi. “Cokelat-pisang.”

Mereka meninggalkan kursi hijau itu ketika cahaya mulai turun dan lampu-lampu di luar taman satu per satu menyala. Dhiya mengomel sepanjang jalan menuju gerbang—tentang rambutnya, tentang foto yang harusnya dihapus, tentang Shaka yang kalau memegang kamera mendadak kehilangan standar estetika—sementara Shaka berjalan di sampingnya dengan hampir seluruh barang bawaan mereka masih menempel di tubuh. Omelan itu baru berhenti ketika, beberapa menit kemudian, bau mentega panas dan gula dari sebuah kios di seberang jalan sampai kepada mereka.

Dhiya menoleh mengikuti aromanya. “Aku lupa tadi lagi marah soal apa.”

“Foto,” jawab Shaka.

“Oh, iya.” Dhiya terdiam sebentar, masih melihat kios di seberang. “Aku masih marah.”

Shaka cuma bersenandung pendek, dan Dhiya menambahkan beberapa detik kemudian, lebih kepada dirinya sendiri, “Tapi itu crêpe.”

Shaka tersenyum kecil. Ia memindahkan semua kantong ke satu tangan, kemudian meraih tangan Dhiya dengan tangan lainnya ketika lampu penyeberangan berubah hijau. Dhiya membiarkan dirinya ditarik menyeberang, masih sempat menunjuk kios dari kejauhan sambil mengatakan sesuatu tentang tambahan stroberi yang tidak benar-benar didengarkan Shaka.


 

Foto itu tidak pernah dihapus. Bertahun-tahun kemudian, setelah album yang sama dipenuhi ribuan gambar lain—rumah, ulang tahun, perjalanan, makan malam yang lebih sering biasa saja daripada istimewa—foto dari sore di Luxembourg itu tetap tinggal di antara favorit Shaka. Bukan foto mereka berciuman di bawah Menara Eiffel, bukan makan malam mahal, bukan pula balkon hotel yang Dhiya pilih setelah berminggu-minggu membandingkan kamar. Hanya dua laki-laki muda dengan pakaian sedikit kusut setelah hampir dua puluh ribu langkah, duduk di dua kursi hijau menghadap kolam dan menoleh terlambat ke arah kamera. Dhiya belum sempat merapikan rambutnya. Shaka bahkan belum sempat tersenyum dengan benar.

Saat foto itu diambil, keluarga mereka masih muat dalam dua kursi. Belum ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa suatu hari, mereka akan terbiasa mencari kursi ketiga.

 

Notes:

important shaka-dhiya lore that i somehow never mentioned:

DHIYA IS OLDER THAN SHAKA BY ONE YEAR 😭😭😭

so technically shaka can call him kak dhiya.

does he do it regularly? no.
does he weaponize “kak dhiya” whenever he wants to be annoying, spoiled, forgiven, or make his husband flustered?

absolutely.

meanwhile dhiya still calls that younger man “mas” btw. don't ask me. marriage is complicated.

Series this work belongs to: