Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-07-10
Words:
522
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
43
Bookmarks:
2
Hits:
644

a morning worth waiting for

Summary:

a lovely morning after seonghyeon’s busy day, the moment keonho had been waiting for

Work Text:

Samar-samar, suara burung berkicau membangunkannya. Ia mengerjapkan matanya secara perlahan sebelum membukanya. Cahaya matahari pagi menembus tirai yang masih menutupi jendelanya.

Tubuh bagian kirinya terasa lebih hangat. Pinggang bagian atasnya dilingkari oleh sebuah tangan familiar yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Deru napas teratur terasa di area tengkuk lehernya.

Saat menoleh, ia sungguh mengucap terima kasih atas suguhan indah yang terpampang di hadapannya. Wajah itu tampak tenang, napasnya teratur. Di bawah cahaya pagi, rona alami di pipinya membuat Keonho sulit mengalihkan pandangan.

Bulu mata lentiknya sesekali bergerak, seolah sedang bermimpi. Hidung mancungnya bagaikan dipahat oleh seluruh seniman terandal di muka bumi. Kedua pipinya bersemu merah alami, bak kelopak mawar yang baru merekah. Bibirnya yang sedikit merekah membuat Keonho nyaris lupa cara bernapas.

Keonho mengubah posisinya yang sebelumnya terlentang menjadi menghadap sepenuhnya ke wajah yang sedari tadi tak mampu ia alihkan pandangannya. Ia mengusap perlahan bibir Seonghyeon di depannya. Tak dapat ditahan, ia memajukan sedikit wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan.

Tiba-tiba ia berhenti. Ia urung melanjutkan kegiatan utamanya, yakni mengecup bibir merona kekasihnya karena tak ingin mengganggu lelap tidurnya. Ia menjauh beberapa senti sembari tangannya membelai lembut pipinya. Jemarinya bergerak hati-hati, seakan Seonghyeon adalah sesuatu yang paling ingin ia jaga.

“Kok gak jadi?”

Keonho tersentak mendengar suara serak yang memecah fokusnya memandangi sosok sempurna di hadapannya.

“Sayang udah bangun?”

Seonghyeon mengerang pelan sambil memindahkan tangannya, yang sebelumnya melingkari pinggang Keonho ke pipi Keonho. Dengan kelopak mata yang masih tertutup, ia mengelus pipi Keonho lembut dengan ibu jarinya lalu mencubitnya perlahan.

“Ayo cium aku, sayang.”

Dadanya seketika terasa sesak oleh debar yang datang tiba-tiba. Degupnya bertambah kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya langsung dari kedua telinganya. Panas menjalar ke seluruh wajahnya hingga telinganya ikut memerah.

Tanpa aba-aba, Keonho mendekatkan kembali wajahnya dan segera menyesap bibir merah Seonghyeon dengan lembut. Kelopak matanya otomatis tertutup menikmati pagutan bibir hangat yang mendebarkan seluruh tubuhnya.

Setelah dirasa kehabisan napas, ia memundurkan wajahnya dan memandangi Seonghyeon yang pelan-pelan membuka matanya. Seonghyeon tersenyum. Senyumnya begitu indah seperti dapat melemaskan seluruh sendi yang berada pada tubuh Keonho.

“Selamat pagi, sayang.”

Keonho menyisipkan rambut kekasihnya ke balik telinganya dengan gerakan perlahan. Ia kembali menatap sosok di hadapannya dengan tatapan memuja.

“Kemarin tidur jam berapa, jadinya?”

Seonghyeon mengerutkan dahinya pertanda mengingat-ingat aktivitasnya semalam.

“Jam setengah dua.”

Keonho mengerucutkan bibirnya lalu mencubit pelan hidung mancung Seonghyeon. Pertanda gemas dan kesal karena kekasihnya itu terlalu sibuk hingga tidur terlalu larut.

“Kamu sibuk banget sih kemarin. Aku jadinya gak bisa sayang-sayangan, deh.”

Seonghyeon hanya terkekeh mendengarnya sebelum mengecup pipi Keonho. Jemarinya kembali mengusap pipi Keonho sembari memerhatikan tiap inci wajahnya yang begitu menawan. Alis tebalnya semakin menegaskan wajah tampannya. Keonho membalas tatapannya dengan sorot mata yang teduh.

“Maaf ya. Aku kira kemarin kerjaanku bakal sedikit, jadi aku nawarin diri ke sini biar bisa sayang-sayangan sama kamu. Ternyata tiba-tiba ada revisi deck mendadak.”

Senyum Keonho mengembang melihat kekasihnya yang terlihat sangat menyesal.

“Gapapa, sayang. Kalau gitu, berarti hari ini kita sayang-sayangan seharian, ya?”

Seonghyeon tertawa lalu mengecup dahi, kedua pipi, pucuk hidung, lalu bibir Keonho.

“Iya, kita sayang-sayangan seharian, ya.”

Mereka kembali berbaring dalam diam, menikmati hangat pelukan dan sinar matahari pagi yang perlahan memenuhi kamar.