Work Text:
Nekomimi
Disclaimer: Dr. Stone © Riichiro Inagaki & Boichi
[SenGen Week day 1: cotton candy/kemonomimi]
.
.
.
Gen sedang menyesap tehnya ketika pintu apartemennya terbuka secara tiba-tiba. Ia langsung meletakkan cangkirnya di meja dan bangkit menuju pintu.
"Senku-chan sudah pulang?" sambut Gen riang. Sudah tiga hari Senku menginap di lab untuk penelitian pembuatan roketnya.
"Gen~! Aku pulang!" Senku langsung menubruk Gen ketika pemuda yang lebih tua itu mendekat. Seluruh beban tubuhnya ia tumpukan pada Gen yang merasa keberatan.
"Hei, Senku-chan!" Dengan panik, Gen berusaha memapah tubuh Senku yang kehilangan keseimbangan ke arah sofa.
Dengan susah payah Gen mencoba mendudukkan Senku di sofa. Sayangnya pemuda dengan rambut yang melawan gravitasi itu tidak mau melepaskan pelukannya sehingga ia pun ikut terjatuh ke sofa.
"Gen~" Senku kini berbaring di atas Gen, menindih tubuhnya dengan sempurna.
Kepalanya ia sandarkan ke dada Gen dengan nyaman. Sesekali ia tertawa, lalu kembali memanggil-manggil nama Gen dengan nada manja. Membuat yang dipanggil hanya diam kebingungan.
"Senku-chan, kau tak apa? Kau mabuk?" tanya Gen, yang tentu saja tidak dijawab oleh Senku.
Gen menghela napas. Ia hanya bisa pasrah mendapati kekasihnya dalam keadaan seperti ini. Mungkin ia terlampau lelah setelah tiga hari bekerja tanpa henti di lab. Ia menggeser posisinya sedikit agar mereka berdua berbaring dengan lebih nyaman. Satu tangannya bergerak mengusap punggung Senku.
Tiba-tiba Senku mengangkat kepalanya, membuat Gen hampir saja jantungan. Senku membawa wajahnya mendekat ke arah Gen. "Gen, sejak kapan kau punya telinga kucing?"
Gen kembali dibuat bingung. Ia pernah melihat Senku mabuk dan kondisinya tidak separah ini.
"Ah, Gen telingamu lucu sekali~" Tangan Senku mulai bergerak untuk menggapai kepala Gen, berusaha untuk memegang telinga kucing yang tak pernah ada.
"Senku-chan!" Gen berusaha melepaskan Senku yang semakin bertingkah aneh. Namun ia berhenti ketika Senku mulai menciumi wajahnya.
Senku biasanya tak pernah suka skinship tapi malam ini ia malah memulai kontak fisik dan tak mau melepaskannya. Gen sejujurnya masih bingung setengah mati. Namun kapan lagi ia diberi kesempatan bertemu dengan Senku yang manja dan clingy?
Senku menghentikan serangan ciumannya. Ia kembali menatap wajah Gen, kali ini lebih lama. Membuat wajah yang ditatap memerah. "Ada apa, Senku-chan?"
"Telingamu lucu sekali, Gen. Kau pasang dari mana? Implan?" Senku tak memberikan kesempatan Gen untuk menjawab.
Ia malah mencubit pipi Gen dan menariknya. "Kenapa kau lucu sekali~"
"Swenkyu-cwan, lyepwas!" Gen memukul-mukul tangan Senku, menyuruhnya untuk melepaskan cubitan itu. Namun tangan itu tak bergeming sehingga Gen harus menariknya dengan paksa.
Baru saja Gen berhasil lepas dari cubitan Senku, ketika ponselnya mulai berdering. Ia berusaha untuk melepaskan dirinya dari bawah Senku dan berdiri untuk mengangkat telepon.
Di layar ponselnya muncul nama Chrome, partner Senku di lab. "Ada apa, Chrome?"
"Halo, Gen." sapa Chrome. "Um...."
"Katakan saja, Chrome," tuntut Gen. Ia yakin ini pasti berhubungan dengan sikap Senku yang mendadak aneh.
"Ah, um.... Bagaimana aku harus menjelaskannya, ya?"
"Tolong katakan dengan bahasa yang mudah dimengerti."
Gen menghela napas. Punya kekasih seorang saintis ternama terkadang merepotkan karena ia juga jadi harus ikut belajar istilah-istilah aneh agar bisa paham ketika diajak bicara.
"Tabung gas dinitrogen monoksidanya bocor," kata Chrome setelah menimang-nimang kata yang mudah.
Sampai sini Gen mengerti. Tabung gas bocor. Sesuatu yang mungkin saja terjadi. Tapi ia tak tahu gas apa itu. "Lalu?"
"Apa Senku bersikap aneh?" tanya Chrome.
Gen menatap Senku yang terkapar di sofa. Senku masih tertawa-tawa sendiri. "Yaa?"
Chrome menepuk dahinya. "Sepertinya ia menghirupnya."
"Jadi?" Gen masih menuntut penjelasan. Ini masih menjadi sesuatu yang asing baginya.
"Gas itu bisa membuat orang berhalusinasi," lanjut Chrome. "Oke?" Gen mulai khawatir dengan keadaan Senku yang terbaring lemah.
Meski ia kesulitan untuk bangun, Senku masih saja tertawa. "Apa yang harus kulakukan?"
Chrome terdiam, tampak berpikir. "Kurasa biarkan saja begitu. Nanti ia akan sadar sendiri saat efeknya habis."
"Aah, baiklah. Terima kasih, Chrome." Gen lalu menutup telepon tersebut.
Ia kembali menatap Senku. Mengurus Senku yang sedang dalam keadaan seperti ini mungkin saja merepotkan, namun ia malah tersenyum. Ia kembali mengangkat tubuh Senku yang lemas dan memapahnya ke kamar. "Kapan lagi aku bisa melihat Senku-chan dalam kondisi seperti ini."
.
.
.
Selesai
