Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of SenGen Week
Collections:
Sengen Week 2019-2020
Stats:
Published:
2026-07-11
Words:
531
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Bookmarks:
1
Hits:
46

Bintang

Summary:

"Meski tak terlihat, bintang selalu ada di sana."

Notes:

Repost dari twitter. Cerita ini dulu aku tulis buat SenGen Week 2019-2020, terus jadi pengen post di sini juga buat arsip. Maafkan belum bisa nyumbang cerita baru TTmTT

Happy reading! ^^

Work Text:

Bintang

Disclaimer: Dr. Stone © Riichiro Inagaki & Boichi 

[SenGen Week day 2: cellphone/swap]

.

.

.

Gen berjalan keluar kamar mandi dengan langkah yang agak terburu. Rambutnya masih meneteskan buliran air, tubuhnya masih lembab. Satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya hanyalah handuk yang ia lingkarkan di pinggangnya.

Dering ponselnya masih meraung-raung saat ia mendekat. Pada layarnya terpampang nama penelepon, Senku-chan. Tentu saja ia langsung mengangkat telepon tersebut tanpa pikir panjang.

"Halo, Senku-chan. Merindukanku?" ucapnya dengan nada riang yang dibuat-buat. Ia meletakkan kembali ponselnya di meja setelah memasang mode loud speaker.

Rambutnya masih basah, ia tak mau mengambil risiko terkena sengatan listrik akibat adanya kontak tetesan air dengan ponselnya.

Gen mendengar suara kekehan yang khas, sangat jelas meski ia sedang berjalan menjauh untuk meraih handuk kecil di kopernya untuk mengeringkan rambut.

"Kukira kau yang merindukanku," balas Senku dari sebrang sana.

Gen cemberut meski ia tahu Senku tidak bisa melihat ekspresinya lewat telepon. "Kapan aku tidak merindukanmu?" tanyanya retoris.

Suara tawa meluncur dari mulut Senku. "Cobalah lihat keluar."

"Memangnya ada apa?" tanya Gen bingung. Ia menyampirkan handuk kecilnya di bahu lalu mengambil ponselnya. Kakinya membawanya ke jendela besar di sisi lain ruangan dan membuka tirainya.

"Lihat ke langit. Temukan bintang di sana."

Gen semakin bingung.

"Senku-chan ini jadi bodoh atau bagaimana, sih? Bagaimana bisa ada bintang di langit New York yang punya banyak polusi cahaya?"

Senku tertawa lagi. "Meski tak terlihat, bintang selalu ada di sana."

"Lalu? Begitu saja? Kukira Senku-chan ingin memberi kejutan romantis."

"Kau tahu sendiri aku tidak romantis. Romansa itu aneh, tidak logis." Senku memberi jeda sejenak. "Tapi ya aku tidak bisa menolak juga."

Gen tersenyum. Ia ingin tertawa mengejek, namun ia urungkan. Ia bersyukur.

Seorang Senku yang tak pernah tertarik pada apapun selain sains bisa jatuh cinta padanya. Itu sebuah pencapaian besar.

"Kalau kau merindukanku, tatap saja langit. Siapa tahu kita kebetulan menatap bintang yang sama," tambah Senku.

Gen menaikkan satu alisnya, semakin bingung.

"Senku-chan, di Jepang sudah siang kan? Tidak ada bintang siang hari. Lagipula ada apa, sih? Kau kerasukan? Cara bicaramu aneh sejak tadi."

"Mungkin aku mulai terkena sindrom kekurangan asupan Gen. Lagipula, Gen, matahari itu bintang, kalau kaulupa."

"Ya, ya. Lebih baik kau istirahat, Senku-chan. Sepertinya kau terlalu banyak bekerja sampai mulai melantur."

"Hei, memangnya cuma kau saja yang bisa berkata manis?"

"Aku tahu kau bisa. Tapi aku melarangmu. Terdengar menggelikan."

"Baiklah aku akan berhenti."

Keheningan terbit di antara mereka. Keduanya larut dalam kesunyian yang menenangkan, saling mendengarkan suara napas satu sama lain.

"Hei, Gen." Senku merupakan orang pertama yang akhirnya bicara. Namun setelah itu ia kembali terdiam, memberikan jeda yang cukup lama.

Meski Gen tak mengeluarkan jawaban apapun, Senku tahu ia ada di sana. Mendengarkan dan memperhatikan. Menunggu Senku untuk lanjut bicara.

"Cepat pulang," lanjut Senku singkat.

Gen tertawa kecil, "Tanpa kausuruh pun aku akan pulang."

"Kau benar."

"Soal apa?"

"Aku memang merindukanmu." Setelah bicara begitu, Senku langsung berpura-pura batuk, "Ah, sepertinya udaranya mulai tidak bagus. Cepatlah tidur, Gen. Sayang kalau wajah cantikmu cepat berkerut."

"Eh? Senku-chan bilang aku cantik?" ucap Gen gembira.

Senku bersiul, pura-pura tidak mendengar perkataan Gen. Setelah itu sambungan telepon langsung diputus secara sepihak olehnya, meninggalkan Gen yang masih berteriak memanggil namanya.

"Dasar Senku-chan." Gen menatap layar ponselnya yang telah kembali menggelap dengan senyuman.

Selesai 

Series this work belongs to: